Anda di halaman 1dari 13

World J Gastrointest Endosc 2017 February 16; 9(2): 61-69

ISSN 1948-5190 (online)

ARTIKEL ORIGINAL

Metaplasia Intestinal Lambung dikaitkan dengan Displasia Lambung tapi


berkaitan secara terbalik dengan Displasia Oesophagus

Justin M Gomez, Wissam Bleibel, Jeanetta W Frye, Bryan G Sauer, Vanessa M Shami, Andrew Y
Wang, Division of Gastroenterology and Hepatology, University of Virginia, Charlottesville, VA
22908, United States

Abstrak

TUJUAN

Untuk menentukan yang manakah faktor klinis yang mungkin dkaitkan dengan
metaplasia intestinal lambung (IM) pada populasi Amerika Utara.

METODE

Database patologi dan endoskopi pada pada pusat akademi medis yang ditinjau untuk
mengidentifikasi pasien dengan atau tanpa IM Lambung pada biopsi selama penelitian
kohort retrospektif. Demografi pasien, status asuransi dan faktor klinis lain diulas.

HASIL

Empat ratus enam puluh delapan pasien dengan IM lambung (usia rata-rata: 61,0 tahun
14,4 tahun, 55,5% perempuan) dan 171 tanpa IM lambung (usia rata-rata: 48,81 tahun
20,8 tahun, 55,0% perempuan) yang dibandingkan. Gambaran endoskopi gastritis
atrofi dikaitkan dengan temuan IM lambung pada histopatologi (OR = 2,05, P = 0,051).
IM lambung dikaitkan dengan temuan histologi gastritis kronk (OR = 2,56, P <0,001),
ulkus gaster (AAOR = 6,97, P = 0,038), dan kanker gaster (OR = 6,53, P = 0,027).
Temuan histologi Barrets Esophagus (OR = 0,28, P = 0,003) dan displasia esophagus
(OR = 0,11, P = 0,014) yang berkaitan secara terbalik dengan IM lambung. Penggunaan
rokok (OR = 1,73, P = 0,005) dikaitkan dengan IM lambung.

KESIMPULAN
Pasien yang merokok atau memiliki temuan endoskopi gastritis atrofi lebih mungkin
untuk mengalami IM lambung dan harus menjalani biopsi skrining selama
esophagogastroduodenoskopi (EGD). Pasien dengan IM lambung beresiko memiliki
displasia lambung dan kanker, dan dibawah pengamatan EGD dengan biopsi gaster
pada pasien ini mungkin masuk akal.

Kata Kunci: Lambung; metaplasia intestinal; gastritis atrofi; biopsi;


esophagogastroduodenoendoskopi

Petunjuk Inti: Metaplasia intestinal lambung adalah prekursor terhadap


adenokarsinoma gaster. Tidak ada rekomendasi konsensus Amerika Utara sebagaimana
pasien dapat keuntungan dari esophagogastroduodenoendoskopi (EGD) dengan biopsi
untuk skrining atau pengawasan untuk IM lambung. Pasien yang merokok atau
memiliki temuan endoskopi gastritis atrofi ebih mungkin untuk mengalami IM lambung
dan harus menjalani skrining biopsi gaster selama EGD. Pasien IM lambung beresiko
untuk mengalami displasia gaster dan kanker, dan pengawasan EGD dengan biopsi
gaster pada pasien ini mngkin masuk akal.

PENDAHULUAN

Kanker gaster adalah lima besar jenis kanker di seluruh dunia, dengan 952.000 kasus
baru terdiagnosis pada 2012. Dengan 723000 dilaporkan meninggal pada 2012, kanker
gaster adalah penyebab tersering ketiga mortalitas terkait kanker. Insiden tahunan
kanker gaster pada 2013 berdasarkan database SEER adalah 7,5 per 100000 orang
dengan laju kematian tahunan 3,5 kasus per 100000 pada populasi Amerika Serikat.
Prevalensi terendah kanker gaster di negara Barat juga dikaitkan dengan diagnosis
kanker gaster pada stadium lanjut, yang menghasilkan anga bertahan hidup 5 tahun
yang buruk sebanyak 20% di Amerika Serikat. Pasien yang terdiagnosis dengan
karsinoma gaster stadium awal memiliki prognosis angka bertahan hidup 5 tahun lebih
baik mencapai 90%.

Mekanisme yang bertanggung jawab untuk karsinogenesis gaster tidak


sepenuhnya diketahui. Namun, kanker gaster dipikirkan muncul dari kaskade
premalignan yang berpotensi diinisiasi oleh infeksi Helicobacter pylori (H. Pylori).
Pada 1988, Correa pertama kali mendeskripsikan jalur yang mana lesi premalignan
dapat menjadi kanker gaster. Kaskade ini berkembang dari gastritis non atrofi sampai
gastritis atrofi, metaplasia intestinal lambung (IM), displasia gaster, dan akhirnya
karsinoma gaster. IM lambung sejak menjadi mapan sebagai lesi premalignan yang
dikaitkan dengan peningkatan resiko karsinoma gaster. Studi observasional terbesar
pada pasien dengan lesi gaster prekanker pada populasi dunia Barat melibatkan 61707
individu dengan IM lambung dan menemukan insiden tahunan perkembangan menjadi
kanker gaster sebanyak 0,25%.

IM lambung ditandai dengan perubahan dari epitel glandular normal yang


ditemukan di lambung menjadi fenotip usus halus. Patogenesis IM lambung masih
belum jelas tapi diduga melibatkan stimuli lingkungan yang memicu differensiasi sel
punca gaster menjadi fenotip usus. Secara patologis, IM lambung dapat dikenali dengan
adanya epitel kolumnar simpel yang mengandung sel Paneth, sel absorptif, dan sel
goblet. Selain itu, IM lambung dapat diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan gambaran
histologis menjadi komplit (tipe I) dan inkomplit (tipe II atau III). IM lambung komplit
(tipe I) dikenali dengan adanya fenotif mukosa usus halus dengan sel goblet
mengandung sialomusin yang menyelingi diantara sel absorptif dan batas penyikat yang
didefinisikan dengan baik. IM lambung inkomplit (tipe II atau III) ditandai dengan
fenotip mukosa kolon dengan kripte berliku-liku melalui sel kolumnar tinggi
mengandung sulfomusin. Pola IM lambung inkomplit dikaitkan dengan resiko
perkembangan terbesar menjadi kanker gaster. Studi lengkap di Spanyol menemukan
bahwa insiden kanker gaster pada pasien dengan IM inkomplit adalah 16 (18,2%) dari
88 pasien dan 1 (0,96%) dari 104 pasien dengan IM komplit saat diikuti selama rata-rata
12,8 tahun. Namun, pada praktek ahli patologi, bahkan pada kebanyakan institusi
akademik, tidak secara khas membuat perbedaan antara tipe IM lambung. Dua jenis IM
inkomplit berdasarkan kandungan sulfomusin, yang tidak dapat ditentukan oleh
pewarnaan hematoksisilin dan eosin (H dan E) saja. Secara patologis, perbedaan ini
dapat sulit untuk dibuat karena IM lambung komplit dan inkomplit dapat bersamaan,
dan temuan IM lambung dapat sangat fokal bahkan pada spesimen biopsi kecil.

Prevalensi IM lambung pada populasi umum sulit untuk dinilai karena fakta
bahwa dia adalah lesi yang asimptomatis yang hanya dapat ditemukan pada evaluasi
histologi jaringan lambung, khususnya diperoleh dengan esophagogastroduodeno-
endoskopi (EGD). Pada 2010, Sonneberg et al, menerbitkan hasil dari studi retrospektif
dari 78985 pasien yang menjalani EGD dan biopsi gaster di Amerika Serikat dan
menemukan bahwa prevalensi IM lambung adalah 7%. Dalam populasi pasien ini ada
peningkatan berlanjut tergantung usia dalam temuan IM lambung dari usia 0 sampai 90
tahun. Lagi pula, frekuensi IM lambung bervariasi secara geografis, seperti yang
ditunjukkan oleh studi China yang menemukan bahwa IM lambung pada 29,3% dari
1630 pasien dengan infeksi H. Pylori muncul pada EGD skrining.

Panduan yang diajukan oleh European Society of Gastrointestinal Endoscopy


(ESGE) pada 2012 menganjurkan bahwa setidaknya dua biopsi dari antrum (kurvatura
mayor dan minor) dan dua biopsi dari korpus (kurvatura mayor dan minor) dilakukan
untuk penilaian yang adekuat kondisi premalignan gaster.

Pedoman ini menganjurkan bahwa pasien dengan gastritis atrofi luas atau IM
lambung harus ditawarkan pengamatan endoskopi setiap 3 tahun. Mereka juga
menganjurkan bahwa jika infeksi H. Pylori terdiagnosis, kemudian eradikasi harus
ditawarkan untuk menurunkan progresitas menjadi displasia atau karsinoma. Meskipun
data epidemiologi dan molekular menghubungkan IM lambung dan karsinoma gaster,
saat ini tidak ada pedoman konsensus Amerika Utara sebagaimana pasien dapat
keuntungan dari EGD dengan biopsi untuk endoskopi skrining atau pengamatan. Tujuan
dari studi adalah untuk menentukan apakah faktor klinis yang mungkin berkaitan
dengan IM lambung pada populasi Amerika Serikat sehingga untuk mengidentifikasi
potensi indikasi untuk skrining dan/ atau pengamatan dengan menggunakan EGD
dengan biopsi gaster.

BAHAN DAN METODE

Studi ini dilakukan di Universitas Pusat Kesehatan Virginia, rumah sakit perawatan
tersier tunggal yang melakukan prosedur endoskopi pada pasien rawat jalan dan rawat
inap untuk pasien dari rentang area yang luas (termasuk daerah signifikan dari Virginia,
Virginia Barat, dan Tenessee). Studi ini disetujui oleh dewan peninjau kelembagaan.

Database patologi dan endoskopi diulas untuk mengidentifikasi pasien dengan


dan tanpa IM lambung. Pasien yang memiliki IM gaster terkonfirmasi dengan patologi
dari 2005-2011 yang diekstrak dari database patologi terdedikasi. Mengunakan database
endoskopi, pasien kelompok kontrol ditetapkan dengan mengulas 300 pasien yang
menjalaniq EGD dengan biopsi (186 pasien menjalani biopsi gaster) dari maret sampai
juni 2011, dari 171 pasien yang teridentifikasi yang menjalani biopsi gaster anpa IM
lambung. Angka IM lambung pada kelompok kontrol ini adalah 5% dari pasien, yang
telah kita laporkan sebelumnya. Semua endoskopi atas dilakukan oleh ahi endoskopi
gastrointesinal berpengalaman, dan semua diagnosis patologis yang termasuk dalam
studi ini dibuat oleh ahli patologi akademi di lembaga kami. Diagnosis IM lambung
dibuat secara histologis pada slide pewarnaan H dan E. Diagnosis infeksi H. Pylori
dibuat secara histologis menggunakan pewanaan immunohistokimia.

Rekam medis elektronik, mencakup laporan patologi dan endoskopi, diulas dan
informasi tentang demografi pasien, status asuransi, dan faktor resiko potensial untuk
berkembang menjadi IM lambung dan displasia lambung dikumpulkan. Faktor resiko
potensial termasuk riwayat keluarga derajat pertama kanker gaster, adanya infeksi H.
Pylori pada biopsi lambung, dan indikasi kinis pasti untuk endoskopi. Karakteristik
pasien tambahan termasuk faktor sosial seperti riwayat merokok, penggunaan alkohol
(jika dilaporkan dalam setahun terakhir) , dan terapi penekan asam dengan penghambat
pompa proton atau antagonist reseptor H2. Sayangnya, latar belakang etnis tidak
tersedia untuk dianalisis, karena daa dari pasien sebelumnya diperoleh dari8q sistem
rekam medis elektronik yang berbeda yang tidak dipercaya dapat menangkap informasi
ini.

Frekuensi data dirangkum sebagai presentase dan dianalisis dengan regresi


logistik pasti. Variabel kontinyu dirangkum dengan median dan rentang distribusi.
Analisis univariat dan multivariat dilakukan dengan cara regresi logistik pasti untuk
membandingkan hasil pasien antara mereka yang dengan dan tanpa IM gaster. Aturan
keputusan P 0,05 dua sisi ditetapkan sebelumnya sebagai kriteria penolak hipotesis
null, dan konstruksi 95% CI untuk OR berdasarkan metode Mid-P. Pernyataan pasti
prosedur SAS versi 9,2 LOGISTIC dipergunakan untuk melakukan analisis regresi
logistik pasti (SAS Institute Inc., Cary, NC).

HASIL

Pasien dan demografi


Empat ratus enam puluh delapan pasien (usia rata-rata: 61,0 tahun 14,4 tahun, 55,5%
perempuan) dengan IM lambung terdiagnosis pada histopatologi gaster dan 171 pasien
(usia rata-rata: 48,8 tahun 20,8 tahun, 55,0% perempuan) tanpa IM lambung pada
biopsi gaster terlibat dalam penelitian ini. Lihat tabel 1 untuk karakteristik pasien.

Tabel 1. Karakteristik pasien dan keterkaitannya dengan metaplasia intestinal


lambung

Pasien dengan IM lambung yang didiagnosis dengan patologis secara statistik


lebih lebih tua (P< 0,0001). Saat status asuransi dievaluasi, pasien dengan Medicare
secara signifikan lebih mungkin memiliki IM lambung [OR 1,94 (1.20, 3.17), P =
0,047], sedangkan pasien dengan asuransi mandiri kurang mungkin memiliki IM
lambung [OR 0.66 (0.44, 0.99), P = 0.047]. Kami tidak mendeteksi keterkaitan yang
signifikan secara statistik antara riwayat keluarga positif kanker gaster dan IM lambung.
Riwayat penyalahgunaan alkohol baru-baru ini tidak dikaitkan dengan IM lambung;
sedangkan, riwayat merokok secara signifikan dikaitkan dengan IM lambung [OR 1.73
(1.18, 2.55), P = 0.005].

Indikasi endoskopi

Empat ratus delapan belas pasien dengan IM lambung yang terbukti dengan patologi
dan semua 171 kontrol tanpa IM lambung menjalani EGD dengan biopsi lambung.
Diantara indikasi untuk prosedur (tabel 2), Barret esophagus [OR 0.32 (0.12, 0.92), P
<0.034] dikaitkan dengan keterkaitan terbalik dengan IM lambung pada analisis
multivariat. Sedangkan, penurunan berat badan berkaitan dengan kecenderungan
peningkatan frekuensi IM lambung [OR 1.81 (0.95, 3.66), P = 0.073].

Tabel 2. Keterkaitan diantara indikasi dan IM lambung

Temuan endoskopi

Dua temuan endoskopi yang paling sering (tabel 3) pada EGD (sebelum ada konfirmasi
patologis) pada populasi pasien ini adalah gastritis (137/589, 23,3% untuk semua
pasien) dan nodul mukosa gaster (104/589, 17,7%).

Temuan endoskopi massa gaster [OR 8.84 (1.88, ), P = 0.005] dan gastritis
atrofi [OR 2.05 (1.00, 4.58), P = 0.051] dikaitkan secara signifikan temuan IM lambung
pada histopatologi melalui analisis mutivariat. Gambaran endoskopi polip duodenum
[OR 4.21 (0.81, ), P = 0.081] cenderung meningkatkan keterkaitan dengan temuan IM
lambung pada biopsi. Pada analisis multivariat, abnormalitas esophagus berupa massa
esophagus [OR 0.04 (0.01, 0.16), P < 0.001], esophagitis [OR 0,49 (0.26, 0.91), P =
0.023], dan Barrets esophagus [OR 0.56 (0.26, 1.21), P = 0,134] ditemukan berkaitan
secara terbalik dengan temuan IM lambung pada histoptologi.

Tabel 3. Hubungan antara temuan endoskopi (sebelum atau tanpa histopatologi)


dengan IM lambung
Diagnosis histopatologi

Saat semua pasien dengan dan tanpa IM lambung dipertimbangkan, diagnosis histologi
yang paling sering meliputi gastritis kronik (305/639, 47,7%) dan polip gaster (46/639,
7.2%). Diagnosis histologi dan katerkaitannya untuk pasien dengan dan tanpa IM gaster
yang ditemukan pada bedah patologi ditunjukkan dalam tabel 4.

Tabel 4. Ubungan antara hasil biopsi histopatologi dan IM lambung

Pada analisis univariat dan multivariat, pasien dengan IM lambung yang terbukti
dengan biopsi ditemukan memiliki hubungan yang meningkat dengan diikuti diagnosis
histopatologi gaster (odd ratio multivariat dilaporkan): gastritis kronik [OR 6.94 (1.75,
3.76), P < 0.001], ulkus gaster [OR 6.11 (1.47, ), P = 0.015], displasia gaster [OR 6.11
(1.07, 131.57), P = 0.038], kanker gaster [OR 6.53 (1.17, 139.41), P = 0.027], dan
gastritis atrofi metaplastik autoimun [OR 5.64 (1.36, ), P = 0.035]. pasien dengan
infeksi H. Pylori pada patologi gaster juga memiliki keterkaitan yang signifikan dengan
IM gaster [OR 3.07 (1.33, 8.20), P + 0.007].

Pasien dengan IM lambung diemukan memiliki keterkaitan terbalik dengan


duodenitis yang terbukti dengan patologi [OR 0.13 (0.02, 0.65), P = 0.01]. Lagi pula,
IM lambung berkaitan secara terbalik dengan beberapa diagnosis histopatologi termasuk
Barrets esophagus [OR 0.28 (0.12, 0.63), P = 0.003], displasia esophagus [OR 0.11
(0.01, 0.64), P = 0.014], dan esophagitis eosinophilik [OR 0.1 (0.0, 0.74), P = 0.02].

DISKUSI

Meskipun insiden kanker gaster relatif rendah di Amerika Serikat, angka bertahan hidup
5 tahun untuk penyakit ini masih buruk. Pada bagian besar, ini karena neoplasia gaster
seringnya didiagnosis pada stadium lanjut saat endoskopi dan terapi bedah kurang
efektif. Ada kekurangan data relatif mengenai frekuensi dan signifikansi lesi gaster
premalignan pada populasi Amerika Serikat. Perkiraan terbaik prevalensi IM lambung
pada psien yang menjalani EGD dengan biopsi mungkin antara 5%-7%. Dengan
perkiraan 7 juta EGD dilakukan setiap tahun di Amerika Serikat, ini ditunjukkan pada
setidaknya 350000 pasien dengan IM lambung yang dapat didiagnosis dengan selain
dari hanya beberapa biopsi lambung dari prosedur rutin ini.

IM lambung diterima secara luas sebagai lesi premalignan yang dapat


menyebabkan karsinoma gaster. Uemura et al mengikuti 1246 pasien dengan H. Pylori
dan IM lambung rata-rata 7.8 tahun dan menemukan bahwa kanker lambung
berkembang pada 36 pasien dengan resiko relatif 6,4 (2.6, 16.1), P< 0.001. pada studi
sekarang, IM lambung dikaitkan dengan peningkatan enam kali lipat odds ratio temuan
kanker gaster [OR 6.53 (1.17, 139.41), P = 0.027].

Infeksi H. Pylori dikenal sebagai salah satu faktor resiko primer yang
menyebabkan perkembangan gastritis atrofi dan IM lambung, yang mungkin
konsekuensi dari memiliki keadaan inflamasi kronik jangka panjang. Studi kami
menunjukkan keterkaitan signifikan secara statistik antara IM lambung dan infeksi H.
Pylori [OR 3.07 (1.33, 8.19), P = 0.007], seperti yang diharapkan. Beberapa studi
sebelumnya telah mencoba untuk menginduksi regresi IM lambung melalui pengobatan
infeksi H. Pylori dengan hasil yang bervariasi. Metaanalisis baru oleh Wang et al
melibatkan 12 studi dan total 2658 pasien dengan gastritis atrofi dan M lambung.
Mereka menemukan bahwa gastritis atrofi di antrum dapat dikurangi dengan mengobati
infeksi H. Pylori; namun, gastritis atrofi di korpus atau IM lambung tanpa
memperhatikan lokasinya di lambung, gagal untuk ditekan dengan eradikasi H. Pylori.
Observasi ini bahwa setelah IM lambung berkembng yang selanjutnya pengobatan H.
Pylori mungkin tidak efektif mendukung hipotesis bahwa IM lambung mungkin sebuah
titik istirahat dalam jalur karsinogenesis yang menyebabkan kanker gaster.

Studi Belanda besar oleh de Vries et al dari 61707 pasien dengan IM lambung
menemukan bahwa 874 pasien berkembang menjadi kanker gaster diagnosis baru saat
diikuti selama 10 tahun, interval median antara diagnosis IM lambung dan kanker gaster
hanya 0.9 tahun. Data ini diambil pada artian baru saat dibandingkan dengan insiden
Barrets esophagus tahunan yang berkembang menjadi adenokarsinoma, yang angkanya
diperkirakan antara 0.12% dan 0.5%. Secara bertentangan, di Barat, pedoman skrining
dan pengamatan untyk Barrets esophagus telah ditempatkan selama beberapa dekade,
dan mereka dipraktekkan secara luas; sedangkan konsensus multi-lembaga atau multi
nasional pada skrining atau pengamatan untuk IM lambung masih kurang di bangsa
Barat. Pada 2002, Whiting et al menerbitkan studi yang dilakukan di United Kingdom
diuji jika pengamatan endoskopi tahunan dapat mendeteksi kasus baru kanker gaster
pada stadium lebih dini dan masih mungkin disembuhkan. Studi yang mengikuti 1753
pasien selama 10 tahun, dan 14 kasus baru kanker gaster terdiagnosis pada stadium awal
(67% stadium I dan II vs stadium III atau IV; P < 0.05).

Bagian dari kesulitan dalam mencapai pedman Amerika Utara adalah kurangnya
konsensus diantara ahli gastroenterologi yang berpraktek di Amerika Serikat mengenai
penanganan IM lambung. Kelompok kami, dalam konjungsi dengan Universitas
Virginia Pusat untuk Penelitian Survey, melakukan survey dari anggota American
Society for Gastrointestinal Emdoscopy (ASGE) yang menghasilkan 162 responden
endoskopis 85% gastroenterologist, 82% laki-laki, dari 32 negara, 53A% padapraktek
mandiri). Surve ini membuka bahwa saat 56% dari dokter ini mempertimbangkan IM
lambung menjadi esi premalignan, hanya 26% yang tersaring sebagai IM lambung, tapi
42% survey untuk IM lambung (pada waktu interval antara 6 bulan dan 5 tahun).
Pentingnya, 97% responden merasa bahwa pedoman masyarakat untuk penanganan lesi
gaster premalignan yang akan menguntunkan bagi praktek klinis. Hasil ini didukung
ebih lanjut oleh studi dari Vance et al, yang menunjukkan bahwa variablitas dalam
pengetahuan dan pola praktek endoskopist Amerika Serikat terkait dengan pengamatan
metaplasia intestinal lambung.

Pada pedoman ASGE 2006, peran endoskopi dalam pengamatan kondisi


premalignan dari trakus GI atas, dia menyatakan bahwa endoskopi pengamatan untuk
IM lambung belum ditelii secara luas di Amerika Serikat dan oleh karena itu tidak
dianjurkan secara seragam. Namun, pedoman ini tidak merekomendasikan bahwa
pasien beresiko tinggi untuk kanker gaster karena latar belakang etnis atau riwayat
keluarga mendapat manfaat dari pegamatan. Pada studi ini, riwayat keluarga kanker
gaster memiliki peningkatan dikaitkan dengan adanya IM lambung, tapi temuan ini
tidak signifikan, yang dapat terjadi karena kekurangan energi. Pedoman Eropa / ESGE
diterbitkan pada 2012 yang menganjurkan endoskopi pengamatan untuk pasien dengan
gastritis atrofi luas atau IM lambung berdasarkan bukti dari ulasan sistematik kuat dan
studi kohort besar. Mereka melakukan, namun, catat bahwa studi prospektif masa depan
dibutuhkan untuk menilai efektifitas biaya endoskopi pengamatan pada populasi pasien
ini. Pada 2004, Areia et al melakukan analisis ekonomi penggunaan biaya dari perspekif
masyarakat di Portugal menggunakan model Markov dan menemukan bahwa endoskopi
pengamatan setiap 3 tahun untk pasien dengan kondisi gaster premalignan seperti
gastritis atrofi luas atau IM cukup murah. Baru-baru ini, Kim et al menganjurkan bahwa
skrining kanker gaster dengan endoskopi harus dipertimbangkan pada pasien yang
imigran dari daerah yang dikaitkan dengan resiko inggi kanker aster (Asia timur, Rusia,
atau Amerika Selatan) atau yang memiliki riwayat keluarga gastritis atrofi atau
metaplasia intestinal pada endoskopi skrining harus menjalani endoskopi pengamatan
setiap satu sampai dua tahun.

Keterbatasan studi sekarang ini mencakup bahwa dia adalah studi retrospektif
yang dilakukan pada pusat kesehatan akademis tunggal dan bahwa kami tidak memiliki
data lengkap mengenai etnisitas pasien untuk diulas. Data dari 2010 dari United State
Census Bureau tentang Albernarle County, Virginia (dimana Universitas Virginia
berlokasi) melaporkan demografi etnis sebagai berikut: 63,7% Putih, 16,3% Hispanik
atau Latino, 12,6% Hitam atau Afrika Amerika, 4,8% Asia, 0,9% Amerika India atau
Alaska Asli, dan 0,2% Hawai Asli atau Islander Pasifik lain. Seperti, mayoritas pasien
pada penelitian kami adalah Putih, Hispanik, atau Hitam. Meskipun mencakup sejumlah
besar pasien dengan IM lambung,yang masih menjadi sesuatu yang kurang sering
ditemukan di Amerika Serikat, studi kami masih terbatas oleh kurangnya tenaga
statistik.

Dalam studi ini, kami menunjukkan bahwa pasien dengan IM lambung yang
terbukti dengan biopsi secara signifikan lebih mungkin pada perokok dan memiliki
temuan endoskopi gastritis atrofi, yang harus cepat setidaknya biopsi (terutama melalui
endoskopi sistematis untuk memetakan lambung dan dengan biopsi multipel diambil
dari antrum, incisura, kurvatura minor, dan badan lambung) selama EGD untuk
dikonfirmasi gastritis atrofi secara histopatologis dan juga untuk menyaring IM
lambung. Saat IM lambung multifokal, luas, atau inkomplit ditemukan, kami percaya
bahwa endoskopi pengamatan layak, yang mana kami dan lainnya melakukan pada
interval 3 tahun dalam ketiadaannya displasia. Jika area fokal displasia atau kanker
lambung awal ditemukan, kemudian kami menawarkan reseksi mukosa endoskopik atau
diseksi submukosa endoskopik, saat sesuai, selain untuk pengamatan endoskopi yang
lebih sering. Lagi dalam hal ini, data kami menunjukkan bahwa adanya IM lambung
signifikan secara klinis, karena kondisi ini dikaitkan dengan temuan patologi displasia
dan kanker gaster.

Menariknya, studi kami menunjukkan bahwa IM lambung tampak memberi efek


protektif tehadap perkembangan patologi esophagus termasuk esophagitis, Barrets
esophagus, dan displasia esophagus. Etiologi yang paling mungkin untuk hubungan
terbalik antara IM lambung dan patologi esophagus ini adalah berkurangnya sekresi
asam lambung yang ditemukan pada pasien dengan gastritis atrofi dan IM lambung.

Kesimpulannya, kami mengharapkan bahwa data yang ditampilkan dalam studi


ini dapat digunakan sebagai pedoman dan rekomendasi mengenai skrining dan
pengamatan IM lambung dan lesi gaster premalignan pada populasi pasien Amerika
Serikat dikembangkan. Pasien yang merokok atau memiliki temuan endoskopi gastritis
atrofi secara signifikan lebih mungkin juga memiliki IM lambung, dan faktor resiko ini
harus cepat diskrining dengan biopsi gaster selama EGD. Pasien dengan IM lambung
beresiko untuk berkembang menjadi displasia dan kanker lambung, dan program biopsi
pengamatan pada pasien ini layak dilakukan. Sebaliknya, pasien dengan IM lambung
tampak secara signifikan kurang mungkin terdiagnosis dengan Barrets esophagus dan
displasia esophagus.