Anda di halaman 1dari 19

8

BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Deskripsi Konseptual

1. Perilaku anti Lingkungan Siswa

Menurut bentovim (1996), Perilaku anti sosial adalah

kegiatan/tindakan agresif, intimidasi dan penghancuran yang

mengakibatkan kerusakan atau penghancuran kualitus hidup orang lain1

Menurut definisi The Crime and Disorder Act of London

Government (1998) Perilaku anti sosial adalah:

Acting in a manner that caused or was likely to cause harassment,

alarm or distress to one or more persons not of the same

household as (the defendant).2

Dalam The Crime and Disorder Act of London Government

mendefinisikan Perilaku anti sosial sebagai perilaku yang menyebabkan

atau mungkin menyebabkan gangguan, kekhawatiran atau kesulitan pada

satu orang atau beberapa orang yang tidak berada dalam satu keluarga

sebagai pelakunya.

1
Arnon Bentovim. Green Backlash: Global Subversion of the Environment Movement, (London and
New York: Routledge, 1996) h.110
2
Home Office Development and Practice Reports, Defining and Measuring anti Social Behaviour,
http://www.homeoffice.gov.uk/rds
9

Disebutkan pula oleh bentovim bahwa perilaku anti sosial dibagi

menjadi 3 yaitu:

a. Street problems include: Yobbish behaviour and intimidating groups

taking over public spaces, Anti-social drinking, Begging, Dealing

and buying drugs in public, Street racers / driving anti socially, Mini

motos

b. Nuisance neighbours include : Noise, Intimidation, Harassment,

Criminal damage, Rowdiness, Animals

c. Environmental Anti-social behaviour includes; Graffiti, Fly tipping,

Littering, Vandalism, Arson, Misuse of fireworks3

Menurut Bentovim, Perilaku antisosial digolongkan menjadi tiga tipe,

yaitu:

a. Dilakukan di jalan

Tindakan antisosial ini dilakukan di jalan, sehingga pada akhirnya

menimbulkan gangguan bagi masyarakat di sekitar atau yang melintasi

jalan tersebut. Misalnya, membuang sampah sembarangan,

melanggar rambu lalu lintas, intimidasi, mabuk, meminta-minta,

pelacuran dan sebagainya.

3
Arnon Bentovim, op. cit.,. h.112
10

b. Dilakukan oleh tetangga

Tetangga yang mengganggu dapat mempengaruhi kehidupan

masyarakat sekitarnya. Mereka dapat merusak kualitas kehidupan

masyarakat di sekitarnya. Misalnya, membunyikan radio dengan

sangat keras sehingga mengganggu tetangga sekitar.

c. Dilakukan terhadap lingkungan sekitar

Tindakan ini berdampak rusaknya lingkungan alam, fasilitas

umum dan benda-benda lain di sekitarnya. Selain mengganggu

keamanan, kenyamanan dan kelancaran kegiatan masyarakat, upaya

perbaikannya memakan biaya yang tidak sedikit. Misalnya, orang yang

mencoret-coret dan merusak telepon umum, bus kota atau bahkan

tembok dan meja kelas. Hal ini mengganggu kepentingan orang-orang

yang mempunyai keperluan untuk menggunakannya.

Menurut Soerjono, Sikap anti sosial dapat terjadi karena berbagai

macam faktor, yaitu :

1 Kekecewaan terhadap sistem sosial yang terdapat dalam

masyarakat.

2 Kegagalan dalam proses sosialisasi yang dialami seseorang.

3 Ketidakmampuan memahami secara penuh sistem nilai dan

norma yang berlaku dalam masyarakat.


11

Sedang Berdasarkan sifatnya, antisosial dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a) Tindakan antisosial yang dilakukan dengan sengaja. Tindakan ini di

lakukan secara sadar oleh pelaku, tetapi tetap tida mempertimbangkan

penilaian orang lain terhadap tindakannya tersebut. Misalnya,

vandalisme (tindakan menyunting proyek secara jahat dan

mengganggu) ; grafiti pada tembok rumah orang lain.

b) Tindakan antisosial karena tidak peduli. Tindakan ini dilakukan karena

ketidakpedulian si pelaku terhadap keberadaan masyarakat di

sekitarnya.Misalnya, membuang sampah sembarang tempat;

mengebut ketika berkendara di jalan raya.4

Menurut Berger, sikap antisosial sering dipandang sebagai sikap

dan perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang

lain ataupun masyarakat secara umum di sekitarnya. Suatu tindakan

antisosial termasuk dalam tindakan sosial yang berorientasi pada

keberadaan orang lain atau ditujukan kepada orang lain, meskipun tindakan-

tindakan tersebut memiliki makna subyektif bagi orang-orang yang

melakukannya. Tindakan-tindakan antisosial ini sering mendatangkan

kerugian bagi masyarakat luas, sebab pada dasarnya si pelaku tidak

menyukai keteraturan sosial (social order) yang diinginkan oleh sebagian

besar anggota masyarakat lainnya.5

4
Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) h. 141
5
Kathleen Stassen Berger, The Developing Person Through the Life Span. (New York: Catherine
Woods Publishing, 2005) h.21
12

Menurut Beder (2001), Perilaku Anti-environmental mengacu pada

cara badan dan kelompok konservatif tertentu dalam masyarakat yang

berusaha untuk melawan kebijakan yang dibuat oleh pemerhati

lingkungan, untuk mengarahkan dan mengurangi kepedulian masyarakat

tentang lingkungan, untuk menyerang lingkungan, dan untuk

mempengaruhi para politisi untuk menentang peningkatan peraturan

lingkungan. 6

Salah satu tindakan anti sosial lingkungan yang yang menggejala

di jakarta dapat dilihat seperti mencoret-coret pagar, tembok, jembatan

dan sebagainya. Perilaku tersebut pada dasarnya merupakan hasil

interkasi seseorang dengan lingkungan fisik yaitu berupa persepsinya

dengan objek tersebut. Jika persepsi seseorang terhadap objek berada

pada batas- batas optimal, maka individu dikatakan dalam keadaan

homeostatis yaitu keadaan yang serba seimbang. Keadaan ini biasanya

ingin dipertahankan oleh individu karena menimbulkan perasaan-

perasaan yang menyenangkan. Sebaliknya jika objek dipersepsikan

sebagai diluar batas-batas optimal (terlalu besar, terlalu kuat, kurang

keras, kurang dingin terlalu aneh dan sebagainya. Maka individu itu akan

mengalami stress dalam dirinya.7 lebih lanjut dikatakan bahwa tekanan-

tekanan energi dalam menghadapi objek akan meningkat sehingga orang

6
Sharon Beder, Global Spin: The Corporate Assault on Environmentalism ( Devon: Green Books, 1997)
h.121
7
S.W Sarwono,.Psikologi Lingkungan (Jakarta: Grasindo, 1992) h.48
13

tersebut akan melakukan coping untuk menyesuaikan dirinya atau

menyesuaikan lingkungan pada kondisi dirinya.

Jika seseorang tidak mampu menyesuaikan diri maka akan

melakukan perbuatan penyesuaian diri (Coping behavior) seperti

melarikan diri, membuang objek yang menyebabkan orang tidak mampu

menyesuaikan diri dan sebagainya. Sarwono lebih lanjut menjelaskan

bahwa sebagai hasil dari coping behavior ada dua pertama tingkah laku

Coping itu tidak membawa hasil sebagaimana diharapkan. Gagalnya

tingkah laku coping ini menyebabkan stress berlanjut dan dampaknya

bisa berpengaruh terhadap kondisi individu maupun persepsi individu.

Kemungkinan kedua, tingkah laku coping yang berhasil. Dalam hal ini

terjadi penyesuaian antara diri individu dengan lingkungannya (adaptasi)

atau penyesuaian keadaan lingkungan pada diri individu (adjustment) jika

dampak tingkah laku coping yang berhasil terjadi berulang-ulang maka

kemungkinan terjadi penurunan tingkat kegagalan atau kejenuhan.

Sedang jika yang terjadi adalah dampak kegagalan yang berulang-ulang

maka kewaspadaan akan meningkat8. Namun pada suatu titik akan terjadi

gangguan mental yang lebih serius, seperti keputusasaan, kebosanan.

Dari pendapat diatas dapat juga diterjemahkan bahwa kegagalan yang

terjadi secara terus menerus akan memberikan seseorang ke perilaku anti

sosial lingkungan.
8
S.W Sarwono. Teori-teori Psikologi Sosial.(Jakarta: Raya Grafindo Persada, 1998) h.48,86
14

Manusia selalu berusaha mengorientasikan dirinya baik secara

kognitif maupun secara afektif dengan objek dan ruang di sekitarnya

sehingga manusia berada dalam keseimbangan yang dinamis antara

dirinya dengan lingkungan. Karena itu menurutnya, lingkungan perkotaan

misalnya berhubungan dengan proses pemaknaan dan perilaku manusia.

Karena anak-anak merasa lingkungan perkotaan tidak bermakna positif

dalam menunjang eksistensi mereka, maka aksi corat-coret (grafiti) pada

dinding beton yang polos dan dingin menjadi saksi makna keberadaanya

di tengah lingkungan kota.

Dari beberapa definisi tersebut maka dapat disintesiskan bahwa

perilaku anti sosial lingkungan adalah semua tindakan negatif seseorang

yang secara sengaja mengakibatkan kerusakan atau penghancuran

kualitas hidup orang lain dan lingkungan.

2. Persepsi Interaksi Keluarga

Proses diterimanya rangsang hingga timbulnya pengertian disebut

persepsi. Jadi persepsi merupakan penafsiran stimulus yang telah ada di

dalam otak. Desiderato, mengatakan Persepsi adalah pengalaman

tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan

menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.9 Severin dan Tankard

mendefinisikan persepsi sebagai proses yang kita gunakan untuk

9
Desiderato dalam Jalaludin Rakhmat. Psikologi Komunikasi (Bandung: PT Rosdakarya, 199) h.51
15

mengintepretasikan data-data sensoris yang sampai kepada kita melalui

lima indra kita.10 Berelson dan Steiner (Severin & Tankard, 2007: 84)

persepsi merupakan proses yang kompleks orang memilih,

mengorganisasikan, dan menginteprestasikan respon terhadap suatu

rangsangan ke dalam situasi masyarakat dunia yang penuh arti dan logis.

Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

persepsi merupakan suatu proses kognitif yang kompleks bagaimana

seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-

masukan informasi, pengalaman-pengalaman, dan respon yang ada dan

kemudian menafsirkan dan memberi penilaian untuk menciptakan

keseluruhan gambaran yang berarti melalui lima indra yang dimiliki.

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan

manusia di mana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial

di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Semua yang terjadi

dalam interaksi kelompok berlaku pula bagi interaksi kelompok keluarga,

termasuk pembentukan norma-norma sosial, internalisasi daripada

norma-norma, terbentuknya frame of reference, sense of belongingness

dan lain-lainnya (Ahmadi, 2004: 108).11

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi diartikan dengan

saling berhubungan, yang juga mengandung makna mempengaruhi (Tim

10
Severin, Werner J. & Tankard, James W. Communication Theories: Origins, Methods and Uses in the
Mass Media (5th Edition).( New York: McGraw-Hill International Edition, 2007)h. 84
11
Abu, Ahmadi. Sosiologi Pendidikan.(Jakarta: Rineka Cipta, 2004) h.108
16

Penyusun Kamus Pusat Pengembangan Bahasa, 1993: 438).12

Sedangkan keluarga, menurut Ahmadi (2004: 114) adalah satu kesatuan

sosial yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang belum dewasa

(jika ada), dan memiliki sifat-sifat yang sama dengan satuan masyarakat,

yang pada umumnya memiliki tempat tinggal bersama yang disebut

dengan rumah.13

Family interaction is the interpersonal dynamics of the members of

a family in a variety of environments and activities. A family

interaction plan must include the immediate family which includes,

but is not limited to, both parents, legal guardians, Indian custodian,

or others in a parenting role, and siblings.14

Interaksi keluarga adalah sebuah kesempatan untuk menjaga,

membentuk dan meningkatkan hunungan anak dan orang tua. Sebagai

tambahan, interaksi keluarga adalah sebuah kesempatan bagi orang tua

untuk mengevaluasi kapasitas pengasuhan mereka dan memperoleh

pengetahuan dari kebiasaan dan pandangan baru mengenai

pengasuhan.15

12
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1993) h.438
13
Abu, Ahmadi, op.cit.,h.114
14
Wisconsin Departement of children and families,Family Interaction
http://www.dcf.wi.gov/interaction.pdf (diakses 26 juli 2014).h.2
15
Wisconsin Departement of children and families,Family Interaction
http://www.dcf.wisconsin.gov/2006-08attach.pdf (diakses 26 juli 2014).h.1
17

Terjadinya interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling

mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus

dan respons. Adanya interaksi antara anak dengan orang tua, akan

membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak

sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran tertentu

mengenai orang tuanya. Dengan adanya gambaran-gambaran tertentu

tersebut sebagai hasil persepsinya melalui komunikasi, maka akan

terbentuk juga sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak. Bagi orang

tua anak sebagai objek sikap, sebaliknya bagi anak orang tua sebagai

objek sikap. Pada anak akan terbentuk sikap tertentu terhadap orang

tuanya, sebaliknya pada orang tua akan terbentuk sikap tertentu terhadap

anaknya.16

Anak akan memiliki sikap yang berbeda terhadap orang tuanya.

Sebagian anak mempersepsikan orang tuanya adalah segala-galanya.

Sehingga meniru semua perilaku orang tuanya. Namun, sebagian lagi

mempersepsikan orang tuanya sangat kejam, otoriter, dan tidak mau

mengerti dengan kehendak anak. Dari dua sisi sikap yang berbeda

tersebut (positif dan negatif) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap

yang dimiliki oleh para anak akibat dari proses interaksi yang terjadi di

dalam keluarga. Bagi keluarga yang mampu mengadakan komunikasi

16
Cecep Darmawan. Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Moral dan Global.(Bandung: PT Citra
Aditya Bakti, 2007)h.25
18

yang baik kepada anak tentu akan memberikan perhatian dan kasih

sayang kepada anak, sebaliknya bagi orang tua yang super sibuk dan

tidak perduli terhadap perkembangan anak tentu jarang terjadi proses

interaksi atau komunikasi dalam keluarga. Dampaknya, anak yang

dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang tidak komunikatif

kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain,

misalnya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya.

Dari uraian diatas dapat disintesiskan bahwa persepsi interaksi

keluarga adalah penilaian siswa tentang cara pendekatan dan interaksi

orang tua terhadap dirinya dalam lingkungan keluarga

3. Konsep diri

Sepanjang masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak secara

aktif dan terus menerus mengembangkan dan memperbaharui

pemahaman tentang diri (sense of self), yaitu suatu struktur yang

membantu anak mengorganisasi dan memahami tentang siapa dirinya,

yang didasarkan atas pandangan orang lain, pengalamannya sendiri dan

atas dasar penggolongan budaya, seperti gender, ras dan sebagainya

(Desmita, 2008: 180).17 Menurut Matsumoto (2000):

Sense of self is crically important and integral to determining our

own thoughts,feeling, and action, and to how we view the world and

17
Desmita. Psikologi Perkembangan.(Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2008)h.180
19

ourselves and other in that world, including our relationships with

other people, places, thing, and event. In short, our sense of self is

at the core of our being, uncounsciously and automatically

influencing our every thought, action, and feeling, each individual

carries and use these internal attributes to guide his or her thoughts

and actions in different social situations.18

Menurut Seifert dan Hoffnung (1994), dalam Desmita : 2008

pemahaman diri (sense of self) sering disebut juga konsep diri (self

concept), yaitu suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri

sendiri.19 Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah

keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang

diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan

dirinya. Menurut Atwater (1987) ada tiga bentuk konsep diri yaitu

pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana

seseorang melihat dirinya sendiri Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-

cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social

self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya. Hurlock memberikan

pengertian konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang

dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki

18
Ibid.h.180
19
Ibid.h.180
20

individu tentang mereka sendiri yang meliputi karateristik fisik, emosional,

psikologis social, aspirasi dan prestasi.20

Banyak hal yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri

seseorang. Menurut Malcolm & Selve perkembangan konsep diri sangat

dipengaruhi oleh empat faktor yang saling berkaitan, yaitu:

1. Reaksi orang lain (significant other)

Terbentuknya konsep diri membutuhkan waktu yang lama,

pembentukan ini tidak dapat diartikan bahwa adanya reaksi yang

tidak biasa dari seseorang akan dapat mengubah konsep diri.

Konsep diri dipengaruhi oleh bagaimana orang lain memperlakukan

kita.

2. Perbandingan dengan orang Lain

Dalam proses pembentukan konsep diri, individu seringkali

membandingkan dirinya dengan orang lain yang biasanya sebaya

atau hampir sama dengannya.

3. Peran individu

Dalam arti bahwa harapan - harapan dan pengalamannya yang

berkaitan dengan suatu peran akan mempengaruhi pembentukan

konsep dirinya.

20
Hurlock, E.B.Perkembangan Anak Jilid 2.( Jakarta: PT. Erlangga, 1993) h.234
21

4. Identifikasi dengan orang lain

Yang terpenting dan terutama adalah identifikasi dengan orang tua.

Anak yang mengidentifikasi orang tuanya sebagai orang tua yang

hangat dan baik hati, akan merasa bahwa ia juga hangat dan baik

hati seperti orang tuanya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian dari

Bealmer, Bussel, Cunningham, Gideon, Gunderson, & Livingstone

(dalam Fitts, 1971) yang mengatakan bahwa anak yang salah satu

atau kedua orang tuanya memiliki konsep diri positif cenderung akan

memiliki konsep diri yang positif juga. 21

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri

adalah pandangan individu mengenai dirinya meliputi gambaran

mengenai diri dan kepribadian yang diinginkan, yang diperoleh dari

pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik atau Psikologis,

aspek akademik serta aspek sosial.

21
Malcolm, Z. et .all. Mutable Self: a Self Concept for Social Change (Beverly Hills : Sage Publications,
1988) h. 112.
22

B. Penelitian yang Relevan

1 Penelitian yang dilakukan oleh Jason Lase (1997) dalam tesisnya

yang berjudul Pengaruh Lingkungan Keluarga dan sekolah terhadap

Vandalisme Siswa studi pada beberapa Sekolah Menengah Umum

Negeri di daerah khusus Ibukota Jakarta Adapun permasalahan yang

diajukan dalam penelitian ini yaitu sejauh mana perbedaan

vandalisme siswa, jika dibedakan dari berbagai faktor lingkungan

keluarga dan lingkungan sekolah. Tipe penelitian ini adalah

"deskripnif analitis" dalam bentuk disain survai. Agregat unit penelitian

adalah seluruh SMU Negeri di DKI Jaya dan pengambilan sampel

sekolah dilakukan dengan Cara purposive sampling. Kriteria

pemilihan sample sekolah berdasarkan Identifikasi sekolah unggulan

dan sekolah non-unggulan. Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh siswa pria yang duduk di kelas II dan III sebanyak 4.425

orang siswa terdiri dari 1920 siswa kelas II dan 2505 siswa kelas III.

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara proportion stratified

random sampling sebanyak 5% dari jumlah populasi berdasarkan

tabel dari Krejcie Morgan (1985: 193), sehingga didapatkan 354 orang

siswa, yang ditentukan lebih lanjut dengan undian sistematis

(systematic random sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui

angket dengan memakai skala model Likert, rentangan skor 1 sampai


23

dengan 4 serta dilakukan wawancara terstruktur dan observasi di

lapangan.

Simpulan yang didapat dari hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa faktor-faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah secara

bersama-sama terbukti mempunyai pengaruh yang bermakna

terhadap vandalisme siswa.

C. Kerangka Teoretik

1. Hubungan antara Persepsi Interaksi Keluarga (X1) dengan

perilaku anti lingkungan siswa (Y)

Menurut F Ivan Nye, Secara fenomenologis, gejala antisosial

remaja tampak dalam masa pubertas. Pada masa tersebut jiwanya

masih dalam keadaan labil sehingga mudah terpengaruh oleh

lingkungan pergaulan yang negatif. Penyebab sikap antisosial anak

tersebut antara lain :1) Lingkungan keluarga yang tidak harmonis 2)

Situasi yang menjemukan dan membosankan. 3) Lingkungan

masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa

mendatang, seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan.22

22
F.Ivan Nye, Family Relationship and delinquent Behavior (London:Chapman & Hall, 1958)h.93
24

2. Hubungan antara Konsep diri (X2) dengan perilaku anti

lingkungan siswa (Y)

Faktor yang mempengaruhi perilaku anti sosial pada remaja

adalah konsep diri yang merupakan pandangan atau keyakinan diri

terhadap keseluruhan diri, baik yang menyangkut kelebihan maupun

kekurangan diri, sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap

keseluruhan perilaku yang ditampilkan.

Mussen dan Congen (1979) menyatakan bahwa konsep diri

terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan inteprestasi

dari lingkungan, penilaian orang lain, atribut, dan tingkah laku dirinya.

Bagimana orang lain memperlakukan individu dan apa yang dikatakan

orang lain tentang individu akan dijadikan acuan untuk menilai dirinya

sendiri.23

Rais (dalam Gunarsa, 1983) mengatakan bahwa remaja yang

didefinisikan sebagai anak dengan penyimpangan sosial biasanya

mempunyai konsep diri lebih negatif dibandingkan dengan anak yang

tidak bermasalah.

23
Paul H. Mussen dan John J. Conger, Child Development and Personality (London: Harper & Row
Publishers, 1979) h. 131
25

3. Hubungan antara Persepsi Interaksi Keluarga (X1) dan Konsep diri

(X2) dengan perilaku anti lingkungan siswa (Y)

Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana terjadi

juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara

sosial. (Hurlock, 1973)24

Banyak penelitian yang dilakukan para ahli menemukan bahwa

remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan

harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan

sosialisasi yang baik dengan lingkungan disekitarnya (Hurlock, 1973)25

Mussen dan Congen (1979) menyatakan bahwa remaja anti

sosial biasanya mempunyai sifat memberontak, ambivalen terhadap

otoritas, mendendam, curiga, implusif dan menunjukan kontrol batin

yang kurang. Sifat - sifat tersebut mendukung perkembangan konsep

diri yang negatif. 26

Rais (dalam Gunarsa, 1983) mengatakan bahwa remaja yang

didefinisikan sebagai anak dengan penyimpangan sosial memiliki

konsep diri lebih negatif dibandingkan dengan anak yang tidak

bermasalah. Dengan demikian remaja yang dibesarkan dalam

keluarga yang kurang harmonis dan memiliki konsep diri negatif

kemungkinan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi

24
Hurlock, E.B, Perkembangan Anak Jilid 2.( Jakarta: PT. Erlangga, 1993) h.230
25
Ibid., h.231
26
Paul H. Mussen dan John J. Conger, op. cit., h.133.
26

remaja dengan sikap anti lingkungan dibandingkan remaja yang

dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri positif.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berpikir serta

memperhatikan komponen-komponen pokok yang lain, disusun

hipotesis seperti dibawah ini :

1) Terdapat Hubungan negatif antara Persepsi Interaksi Keluarga

dengan perilaku anti lingkungan siswa

2) Terdapat Hubungan negatif antara Konsep diri dengan perilaku

anti lingkungan siswa

3) Terdapat Hubungan negatif antara Persepsi Interaksi Keluarga

dan Konsep diri secara bersama-sama dengan perilaku anti

lingkungan siswa