Anda di halaman 1dari 5

Nama : Muhammad Suhaimi

Nim : 1401311577

Semester : lima (V)

Jurusan : komunikasi penyiaran islam

Mata kuliah : sosiologi agama

Dosen : aulia Aziza. S. Ag. M. Si

Soal
1. Dampak positif dan negarit yang di timbulkan oleh globalisasi bagi
kehidupan beraagama?
2. Dampak pluralitas bagi kehidupan sosial?
3. Apa menurut anda dakwah islamiyah pada masyarakat sosial?
Jawab :

1. Dampak negatif dan positif bagi kehidupan beragama

Dampak Positif Globalisasi di Bidang Agama:


a. Dapat mempermudah memperoleh informasi tentangpelajaranAgama
melalui media internet
b. Karna adanya internet kita dapat mendapat informasi penting tentang
pentingnya menjalankan atau beribadah sehingga kita dapat
memperkuat keimanan
c. Dapat meningkatkan pengetahuan dan karna dalam agama islam
sangat menjunjung tinggi orang yang memilki ilmu yang banyak atau
tinggi
d. Karna adanya internet sebagai media jadi dapat mempermudah
penyebaran agama karna banyaknya pengajaran pengajaran tentang
agama yang bertebaran di internet.
Dampak Negatif Globalisasi di Bidang Agama :
a. Krisis identitas muslim akibat adanya globalisasi
b. Menurunnya budi luhur umat islam atau umat muslimin dikalangan
umat yg beragama lain dikarnakan banyaknya umat muslim yang
juga ikut ikutan budaya barat
c. Kurangnya perkembangan potensi dan kreatifitas individu muslim
akibat tidak adanya kemerdekaan dan kebebasan pemikiran di
tengah kaum muslim
d. Sikap kritis yang total terhadap peradaban Barat didukung oleh
kebebasan jiwa dari dominasi ide-ide Barat
e. Ada pergeseran identitas banyak dipengaruhi oleh siaran televisi,
radio, media massa, dan yang mengalami ledakan dahsyat dalam
dasawarsa belakangan ini yaitu internet.

2. Maka tak heran jika muncul sekte-sekte maupun agama baru dalam
kehidupan beragama di indonesia. Contohnya fenomena jamaat
Ahmadiyah yang akhir-akhir ini menjadi isu yang palih hot di kalangan
masyarakat. Sebagian mendukung perkembangan jamaat Ahmadiyah,
dan bagian besar menolak keberadaan dan exsistensi jamaat itu.
Kedua kubu ini mempunyai pendapat-pendapat tersendiri untuk
membenarkan pendapatnya masing-masing. Dari fenomena ini,
sangat jelas bahwa manusia sekarang sepertinya sering berbicara
atas nama HAM (Hak Asasi Manusia), sepertinya HAM menjadi kunci
dan dasar yang paling ampuh dalam mengambil sikap. Seperti halnya
kasus-kasus keagamaan yang lain, kata-kata HAM akan selalu ambil
bagian dalam penyelesaiaan suatu masalah sosial, padahal pada
faktanya tidak semua masalah bisa diatasi dengan atas nama HAM.
Kata HAM sendiri sepertinya juga mengalami kegalauan dalam
definisinya. Ambil contoh, pertama; seperti yang ada di UUD 45,
bahwa setiap warga negara berhak memilih agama dan keyakinan
masing-masing, serta berhak melakukan ibadah menurut keyakinan
masing-masing (agama yang dianut). Dari sudut pandang ini tentunya
UUD ini masih bersifat umum, dalam artian agama yang
dimaksud tidak disebutkan. Namun dalam undang-undang yang lain
agama yang resmi di indonesia yang diakui hanya lima agama yaitu
Islam, Kristen, Khatolik, Hindu dan Budha. Permasalahan timbul ketika
mayoritas umat islam di indonesia menolak keberadaan dan
exsistensi jemaat Ahmadiyah, karena ajaran dan dasar-dasar
agamanya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Jadi
umat islam pada umumnya menganggap jamaat ahmadiyah
sebagai kafir, karena sudah tidak sesuai dengan ajaran agama
islam. Dilain pihak, jemaat Ahmadiyah bersikukuh dengan
keyakinannya bahwa mereka adalah orang islam dan seorang muslim.
Dari perselisihan ini, datanglah pihak ketiga. Yakni yang menurut saya
malah membuat keadaan semakin kacau,dan memperkeruh keadaan.
Dimana mereka berbicara atas nama HAM sebagai senjata yang
sangat ditakuti oleh siapapun. Jemaat Ahmadiyah di lain sisi
mempunyai hak asasi untuk memeluk suatu agama dan menjalankan
kepercayaannya, di sisi lain masyarakat islam di Indonesia juga
mempunyai hak untuk mempertahankan agamanya dari dogma-
dogma dari luar Islam. Hal inilah yang menimbulkan kerancuan dalam
perdebatan panjang antara umat islam indonesia dan
jemaat Ahmadiyah. Sehingga sampai sekarang sepertinya pemerintah
masih kesulitan dalam menentukan sikap untuk mengambil tindakan
tegas dalam permasalahan ini. Dan menurut saya pribadi sebaiknya
jamaat Ahmadiyah ini benar-benar dilarang di Indonesia, karena jika
tidak maka kerusuhan seperti yang akhir-akhir ini terjadi, bisa
terulang dimasa yang akan datang.

3. Ketika kita hidup dan berinteraksi dengan orang lain dari berbagai
negeri dengan budaya yang berlainan, semua mendambakan
kedamaian dan kebahagiaan. Hanya prasangka dan etnosentrismelah
yang membuat orang-orang merasa dan berprilaku seolah-olah
mereka lebih baik daripada orang lain, Al-Qurn memberi petujuk
bahwa dalam melaksanakan dan memelihara persaudaraan Islam
diperlukan sikap terbuka, yaitu sikap sedia mengakui kebenaran
orang lain jika memang ternyata benar dan mengakui kesalahan diri
sendiri jika memang ternyata salah. Hal ini tidak mudah untuk
dilakukan, karena memerlukan tingkat ketulusan dan kejujuran yang
amat sangat tinggi, sehingga tidak merasa benar sendiri.
Pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran serta sistem
penyebaran agama atau yang dalam Islam terkenal dengan
istilah al-dakwah. Pemahaman yang benar terhadap semua
persoalan pada gilirannya akan sangat bermanfaat dalam merespons
problem pluralitas umat dalam berbagai segi yang akhir-akhir ini
sering terkoyak. Menghadapi madu yang beragam tingkat
pendidikan, strata sosial, dan latar belakang budaya, para dai
memerlukan hikmah, sehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang
hati para madu dengan tepat. Oleh karena itu, para dai dituntut
untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan
latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dirasakan sebagai
sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya, Dai dan
muballigh dalam menyampaikan pesan-pesan agama kepada
masyarakat akan berhadapan dengan masyarakat yang majemuk.
Dengan demikian, maka para dai dan muballigh harus mampu
mengakomodir secara keseluruhan sasaran dakwah (madu)
tersebut. Sehingga dalam pelaksanaan dakwah para dai dan
muballigh dituntut memahami obyek dakwah dari berbagai segi.
Umat Islam diperintahkan untuk senantiasa menegaskan bahwa kita
semua, para penganut kitab suci yang berbeda-beda itu, sama-sama
menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan sama-sama juga pasrah
(muslimn) kepada-Nya. Bahkan biarpun sekiranya kita mengetahui
dengan pasti bahwa orang lain menyembah sesuatu obyek sembahan
yang bukan Allah Yang Maha Esa, kita pun tetap dilarang berlaku tidak
sopan terhadap orang itu. Menurut al-Qurn, sikap yang demikian itu
akan membuat mereka berbalik menyerang dan melakukan tindakan
ketidaksopanan yang sama terhadap Allah Yang Maha Esa, sebagai
akibat dari dorongan rasa permusuhan tanpa pengetahuan
yang memadai. Terhadap mereka yang melakukan penyerangan dan
ketidaksopanan pun, pergaulan duniawi yang baik tetap harus dijaga,
Semua bangsa adalah sama dan sejajar dalam ketidaksempurnaan
mereka. Namun, mereka mempunyai kelebihan dari yang lain adalah
semata karena potensi yang dimiliki, ditambah dengan pilihan dan
usaha yang dihadapi masing-masing. maka kemajemukan, pluralitas,
dan perbedaan merupakan sunnah Allah bagi manusia, demikian juga
adanya saling berpasangan. Bagaimana para sabahat nabi dan umat
Islam dari masa ke masa menerapkan prinsip dan nilai Ilahi dalam
menciptakan kehidupan yang damai di tengah-tengah masyarakat
yang berbeda agama, budaya, ras suku dan bangsa. Prinsip hubungan
muslim dengan orang lain dijelaskan Allah swt. dalam al-Quran dan
melalui utusanNya nabi Muhammad saw. di mana harus terjalin atas
dasar nilai persamaan, toleransi, keadilan, kemerdekaan, dan
persaudaraan kemanusiaan (al-ikhwah al-insaniyah). Nilai-nilai
Qurani inilah yang direkomendasikan Islam sebagai landasan utama
bagi hubungan kemanusiaan yang berlatar belakang perbedaan ras,
suku bangsa, agama, bahasa dan budaya.