Anda di halaman 1dari 37

BAB I

STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama. : Nn.A

Nomor CM : 08614204

Umur : 17 Tahun

Alamat : Cisewu

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda

Status Pernikahan : Belum menikah

Status Pekerjaan : Pelajar

Tanggal Masuk : 16 / 03 / 2017

Jam Masuk : 01.05 WIB

Ruangan : Agate Atas

II. Anamnesis
Autoanamnesis, dilakukan tanggal 16 Maret 2017 di ruang Agate Atas.
A. Keluhan Utama :
Pasien dengan keluhan BAB cair (mencret) sejak 3 hari SMRS

B. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan BAB cair (mencret) sejak 3 hari SMRS,
berwarna kuning. Pasien mengeluhkan mencret sebanyak 6x dalam sehari, disertai pusing. Orang
tua pasien mengatakan bahwa berat badan pasien semakin menurun semenjak tahun 2015. Berat
badan turun drastis. Awalnya pasien sering mengkonsumsi makanan seperti manis-manisan dan
seblak. Dan pasien telah diperiksakan di sebuah puskesmas daerah Cisewu dan mengatakan
bahwa pasien mengidap penyakit gula. Batuk dan sesak nafas disangkal pasien. Mual muntah
disangkal pasien.
Orang tua pasien mengatakan bahwa pasien juga jarang makan- makanan yang bergizi
dan terkadang mereka satu keluarga tidak makan seharian.
C. Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien belum pernah menderita penyakit dengan gejala yang sama sebelumnya. Pasien
belum pernah meminum obat paru selama 6 bulan. Riwayat jantung diakui oleh pasien, tetapi
pasien tidak mengetahui penyakitnya. Riwayat hipertensi disangkal pasien. Riwayat gula darah
tinggi disangkal pasien.

D. Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat penyakit diabetes di keluarga diakui pasien yaitu kakek pasien. Tidak ada
keluarga yang mempunyai riwayat meminum obat paru selama 6 bulan.

E. Riwayat Alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat, makanan, debu dan serbuk bunga.

F. Keadaan Sosial Ekonomi:


Pasien tinggal bersama dengan orang tuanya serta 5 saudaranya. Pasien merupakan anak
kedua dari lima bersaudara. Keadaan ekonomi pasien dibawah rata-rata, sehingga menyebabkan
pasien jarang mengonsumsi makanan sehat. Terkadang pasien dan keluarganya tidak makan
seharian.

G. Anamnesis Sistem Organ Tubuh:


Kulit : Tidak ada kelainan
Kepala : Tidak ada kelainan
Mata : Kurang Penglihatan
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Tidak ada kelainan
Mulut : Tidak ada kelainan
Leher : Tidak ada kelainan
Toraks : Tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
Saluran Kemih / Kelamin : Tidak ada kelainan
Saraf dan Otot : Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Tidak ada kelainan
H. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Somnolen
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Nadi : 60 x/menit, reguler, isi cukup
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,3 oC
Keadaan Gizi : TB 140 cm, BB 20 kg
IMT = 10, 2 kg/m2 (Berat badan kurang / Gizi Buruk)
Sianosis : Tidak tampak sianosis
Edema : Asites (-), ekstremitas atas (-), ekstremitas bawah (+)
Cara Berjalan : Normal
Mobilitas : Kurang aktif
Pasien butuh bantuan untuk berjalan ke kamar mandi
Aspek Kejiwaan : Tingkah laku : Wajar
: Alam Perasaan : Biasa
: Proses Berpikir : Wajar
Kulit : Warna : Sawo matang
: Jaringan Parut : Tidak tampak jaringan parut
: Pembuluh Darah : Tidak tampak melebar
: Keringat : Tampak umum
: Lapisan Lemak : Kurang
: Efloresensi : Tidak ditemukan
: Pigmentasi : Tidak ditemukan
: Suhu Raba : Hangat
: Kelembapan : Biasa
: Turgor : Baik
Kepala : Normocephali
: Ekspresi Wajah : Wajar
: Simetrisitas Muka : Simetris
: Rambut : Hitam lurus
Tidak mudah dicabut
Mata : Exophthalmus :-/-
: Endophtalmus :-/-
: Kelopak mata : Tidak ada kelainan
: Conjungtiva Anemis :-/-
: Sklera Ikterik :-/-
: Lapang Penglihatan : Tidak dapat melihat
: Deviatio Konjugae : Tidak diperiksa
: Lensa : Tidak diperiksa
: Visus : VOD : 1/~ VOS : 1/~
: Tekanan Bola Mata : Tidak diperiksa
Telinga : Lubang : Normal
: Serumen : Normal
: Cairan : Tidak tampak ada cairan
: Penyumbatan : Tidak tampak
: Perdarahan : Tidak tampak ada darah
Hidung : Pernafasan cuping hidung : Tidak tampak
Mulut : Bibir : Normal
: Langit Langit : Normal
: Faring : Tidak hiperemis
: Sianosis peroral : Tidak tampak
: Tonsil : T1 T1
Leher : Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran kelenjar
getah bening.
: Tiroid : Tidak teraba pembesaran
Jantung : Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
: Palpasi : Iktus cordis teraba pada sela iga ke 5
sebelah medial garis midclavicula sinistra
: Perkusi : Batas jantung kanan pada linea
sternalis dextra sela iga ke 4
Batas jantung kiri pada linea
midclavicula sinistra sela iga ke 5
Batas pinggang jantung pada linea
parastenalis sinistra sela iga ke 3
: Auskultasi : Bunyi jantung S1 = S2 murni reguler,
S3/S4 (- / -)
: Murmur (-) Gallop (-)
Paru-paru (depan) : Inspeksi : Gerakan statis dan dinamis hemitoraks
kanan sama dengan hemithoraks kiri;
Tidak tampak adanya sikatrik,
hematoma, udem, massa, deformitas
dan fraktur pada kedua hemitoraks.
: Palpasi : Taktil dan Vokal Fremitus kanan sama
dengan kiri, nyeri tekan hemitoraks dextra (-),
nyeri tekan hemitoraks sinistra (-)
: Perkusi : Sonor di kedua lapang paru.
: Auskultasi : Vesicular Breathing Sound sama dikedua lapang
paru.
: Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Paru-paru (Belakang) : Inspeksi : Gerakan statis dan dinamis hemitoraks
kanan sedikit sama dibandingkan dengan
hemithoraks kiri;
Tidak tampak adanya sikatrik,
hematoma, udem, massa, deformitas
dan fraktur pada kedua hemitoraks.
: Palpasi : Taktil dan Vokal Fremitus kanan
sama dibanding kiri, nyeri tekan hemitoraks
dextra (-), nyeri tekan hemitoraks sinistra (-)
: Perkusi : Sonor di kedua lapang paru.
: Auskultasi : Vesicular Breathing Sound sama dikedua lapang
paru.
: Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Abdomen : Inspeksi : Datar simetris, sikatriks (-)
: Auskultasi : BU (+) 10x/menit di 4 kuadran
: Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
: Palpasi : Nyeri tekan di epigastrium (-), nyeri ketok
CVA (-), defans muskular (-),
hepatomegali (-), splenomegali (-)
Ekstremitas : Purpura : Tidak ditemukan
: Petechie : Tidak ditemukan
: Hematom : Tidak ditemukan
: Kelenjar getah bening
Axilla : Tidak teraba pembesaran
Inguinal : Tidak teraba pembesaran
: Edema : Ditemukan edema pada kedua ekstremitas
: Varises : Tidak tampak varises pada ekstremitas
: Akral : Hangat (+/+)
H. Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien ini dilakukan:
Laboratorium
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hemoglobin 10.7 g/dl
Hematokrit 30%
Lekosit 6.600/ mm3
Trombosit 270.000/ mm3
Eritrosit 3.55 juta/ mm3
Kimia Klinik
Ureum 15 mg/dl
Kreatinin 0.5 mg/dl
Glukosa Darah Sewaktu 286 mg/dl

I. Ringkasan Permasalahan

Seorang wanita berusia 17 tahun, BAB cair (mencret) 3 hari SMRS. BAB berwarna
kuning. Pada pemeriksaan fisik ditemukan berat badan kurang IMT rendah dan kelainan pada
organ tidak ditemukan kelainan. Dan pada pemeriksaan penunjang hemoglobin turun menjadi
10.7 g/dl.

J. Daftar Permasalahan

Marasmus

Diabetes Mellitus tipe II tidak terkontrol

K. Perencanaan

- O2 2- 4 lpm
- Infus Futrolit 20 tpm
- Ranitidin 2 x 1 gr
- Cefotaxime 2 x 1gr
- Metformin 3 x 500mg PO
L. Prognosis

Quo ad Vitam : dubia ad bonam


Quo ad Fungsional : dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad bonam

M. Follow Up

TANGGAL S O A P
16/3/17 BAB terus menerus, KU : SS Marasmus PD/ Lab
lemas, pusing (-), KS : CM Gizi Buruk Lengkap
sesak (-), nafsu T : 90/60 mmHg DM II tidak GDP 2 jam PP
N : 51 x / menit
makan (+), sulit terkontrol + PT/ Futrolit 20
R : 20 x / menit
tidur, tidak dapat S : AF Retinopati tpm
GDS : 152 melihat SpO2 : 99% Ranitidin 2 x
Mata: CA - / - 1gr
: SI - / - Cefotaxim 2 x
Hidung: PCH ( - ) 1gr
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (+)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
17/03/17 BAB mencert 8x KU : SS Marasmus PD/ Lab
sehari, lemas KS : CM Gizi Buruk Lengkap
T : 90/60 mmHg DM II tidak PT/ Inf RL 20
N : 59 x / menit
terkontrol + tpm
R : 20 x / menit
S : AF Retinopati Ranitidin 2 x
SpO2 : 98% 1gr
GDS : 206 Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
GDP : 144 : SI - / - 1gr
G2PP : 115 Hidung: PCH ( - )
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
18/3/17 Sudah tidak KU : SS Marasmus PD/
mencret, lemas, KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL 20
terasa pegal T : 90/60 mmHg terkontrol tpm
N : 95 x / menit
Ranitidin 2 x
R : 25 x / menit
S : AF 1gr
SpO2 : 98% Cefotaxim 2 x
Mata: CA - / - 1gr
: SI - / -
Hidung: PCH ( - )
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
19/3/17 GDS : 514
CO dr. Melly,
Sp.PD via BBM
Guyur NaCl 500cc
dalam 15 menit
Bolus insulin 5 UI
Periksa GDS 1 jam
kemudian
Diet diabetasol

GDS 19.15 : 436


Levemir 10 UI
20/3/17 Os mengeluh masih KU : SS Marasmus PD/ GD tiap
lemas, mencret (-) KS : CM DM II tidak jam
T : 90/60 mmHg terkontrol PT/ Inf RL 20
N : 61 x / menit
GDP : 57 tpm Inf
R : 21 x / menit
S : AF D10% 20 tpm
SpO2 : 98% Ranitidin 2 x
Mata: CA - / - 1gr
: SI - / - Cefotaxim 2 x
Hidung: PCH ( - ) 1gr STOP
Mulut: SPO ( - ) Bolus insulin 5
Leher: KGB (-)
UI
Jantung :
BJ I - II (+/+) Levemir 10 UI
reguler STOP
BJ III - IV (-/-) Bolus D40% 2
M(-)G(-) flc
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
21/3/17 Os mengeluhkan KU : SS Marasmus PD/
pegal KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
T : 90/60 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 46 x / menit
1
R : 20 x / menit
S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 98% 1gr
Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Bolus insulin 5
Mulut: SPO ( - ) UI
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
21/3/17 GDS : 323
17.10 Novorapid 3 x 6 UI
Cek GDS tiap 8 jam
Th/ lain teruskan
22/3/17 Os mengeluhkan KU : SS Marasmus PD/ USG
nyeri di bagian KS : CM DM II tidak Abdomen
pinggang bawah, T : 80/60 mmHg terkontrol CO Mata
N : 57 x / menit
lemas, nafsu makan PT/ Inf RL :
R : 20 x / menit
GDP : 119 menurun S : AF Aminofluid 1 :
GDS : 212 SpO2 : 97% 1
Mata: CA - / - Ranitidin 2 x
: SI - / -
1gr
Hidung: PCH ( - )
Mulut: SPO ( - ) Cefotaxim 2 x
CO Mata : Leher: KGB (-) 1gr
VOD : 1 / ~ Jantung : Bolus insulin 5
VOS : 1/~ BJ I - II (+/+) UI
Lensa : keruh reguler Novorapid 4-
BJ III - IV (-/-) 4-4 SK
M(-)G(-)
A/ Katarak juv
Paru-paru :
matur ODS VBs ka = ki Rh -/-
Saran : operasi bila Wh -/-
KG membaik Abdomen :
BU (+) NT (+)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
23/3/17 Os mengeluhkan KU : SS Marasmus PD/
panas dingin, baal KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
(+) di kaki tangan, T : 90/60 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 47 x / menit
GDS : 135 lemas, nyeri pundak 1
R : 15 x / menit
S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 96% 1gr
Mata: CA + / + Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Novorapid 4-
Mulut: SPO ( - ) 4-4 Tunda
Leher: KGB (-)
Extra Susu
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
24/3/17 Lemas, pusing, KU : SS Marasmus PD/
sakit tangan (+) KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
T : 90/60 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 59 x / menit
1
R : 20 x / menit
S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 98% 1gr
Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Extra Susu
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
25/3/17 Mencret (+) KU : SS Marasmus PD/
KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
T : 90/80 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 53 x / menit
1
R : 20 x / menit
S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 97% 1gr
Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Extra Susu
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
27/3/17 Mules (+), BAB KU : SS Marasmus PD/
lancar, BAK lancar, KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
nafsu makan baik T : 80/60 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 59 x / menit
1
R : 102 x / menit
GDP : 447 S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 98% 1gr
Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Extra Susu
Mulut: SPO ( - ) Novorapid 8-
Leher: KGB (-)
8-8
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
28/3/17 Lemas (+), mencret KU : SS Marasmus PD/
(+), BAK lancar, KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
nafsu makan (+) T : 90/60 mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 81 x / menit
1
R : 20 x / menit
S : AF Ranitidin 2 x
SpO2 : 93% 1gr
Mata: CA - / - Cefotaxim 2 x
: SI - / - 1gr
Hidung: PCH ( - ) Extra Susu
Mulut: SPO ( - ) Novorapid 8-
Leher: KGB (-)
8-8
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (+)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
29/3/17 Sering mencret, KU : SS Marasmus PD/ CO dr.
lemas, nafsu makan KS : CM DM II tidak Willy Sp.KJ
baik T : 90/60 mmHg terkontrol PT/ Inf RL :
N : 84 x / menit
Aminofluid 1 :
R : 22 x / menit
S : AF 1
SpO2 : 97% Ranitidin 2 x
Mata: CA - / - 1gr STOP
: SI - / - Cefotaxim 2 x
Hidung: PCH ( - ) 1gr STOP
Mulut: SPO ( - ) Extra Susu
Leher: KGB (-)
Novorapid 8-
Jantung :
BJ I - II (+/+) 8-8 SC
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (+)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
30/3/17 Mencret sering, KU : SS Marasmus PD/
kulit badan KS : CM DM II tidak PT/ Inf RL :
mengelupas, batuk T : 80/P mmHg terkontrol Aminofluid 1 :
N : 83 x / menit
(+), mual (-), 1 Inf RL 30
R : 26 x / menit
muntah (-), nafsu S : AF tpm
makan (-), BAK (-) SpO2 : 98% Novorapid 8-
GDS : 536 Mata: CA - / - 8-8 12-12-
: SI - / - 12
Hidung: PCH ( - ) Levemir 0-0-0-
Mulut: SPO ( - )
10
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
31/3/17 Mual (-), muntah KU : SS Marasmus PD/ CO gizi
(-), BAB (+), BAK KS : CM DM II tidak PT/ Bolus
(+), nafsu makan T : mmHg terkontrol D40%
N : 118 x / menit
(+) mencret (+) Inf RL 30 tpm
R : 28 x / menit
S : AF Novorapid 12-
GDS : 48 SpO2 : 96% 12-12
1 JAM Mata: CA - / - STOP
KEMUDIAN : SI - / - Levemir 0-0-0-
GDS : 323 Hidung: PCH ( - ) 1 STOP
Mulut: SPO ( - )
Leher: KGB (-)
Jantung :
BJ I - II (+/+)
reguler
BJ III - IV (-/-)
M(-)G(-)
Paru-paru :
VBs ka = ki Rh -/-
Wh -/-
Abdomen :
BU (+) NT (-)
Asites (-)
Edema : atas -/-
bawah -/-
Akral dingin (-/-)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Malnutrisi
Malnutrisi adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan ketidakseimbangan antara
asupan dan keluaran energi, baik karena kekurangan atau kelebihan asupan makanan
maupun akibat kebutuhan yang meningkat. Pada pembahasan selanjutnya yang dimaksud
dengan malnutrisi adalah keadaan klinis sebagai akibat kekurangan asupan makanan
ataupun kebutuhan nutrisi yang meningkat ditandai dengan adanya gejala klinis,
antropometris, laboratoris dan data analisis diet.

Anak balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari
pertambahan berat badannya tiap bulan sampai usia minimal 2 tahun (baduta). Apabila
pertambahan berat badan sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu standar
organisasi kesehatan dunia, dia bergizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut bergizi
kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Jadi
istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut.

Malnutrisi ringan dan sedang umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang
spesifik: anak tampak kurus, BB/TB : 70-90% atau diantara -2SD dan -3SD (Z-score),
sangat mungkin terdapat gejala defisiensi nutrien mikro. Malnutrisi berat umumnya
menunjukkan gejala klinis yang khas, BB/TB < 70% atau <-3SD (Z-score) kecuali bila ada
edema serta sudah terdapat kelainan biokimiawi. Saat ini kriteria WHO 1999 digunakan
untuk diagnosis dan tatalaksana anak malnutrisi berat.

Malnutrisi dapat terjadi secara primer atau sekunder. Malnutrisi primer terjadi bila
konsumsi makanan baik dari segi kualitas maupun kuantitas inadekuat dan tidak seimbang.
Malnutrisi sekunder terjadi sebagai akibat kebutuhan nutrien yang meningkat atau output
yang berlebihan, umumnya pada penyakit kronik baik infeksi maupun keganasan.
2.1.1. Jenis Malnutrisi
Gizi buruk berat dapat dibedakan tipe kwashiorkor, tipe marasmus dan tipe
marasmik-kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau tanda klinis
dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.

2.1.1.1. Marasmus
Marasmus adalah bentuk malnutrisi protein kalori yang terutama akibat kekurangan
kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan, disertai
retardasi pertumbuhan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot.

Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat
lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan
kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan
sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan,
karena masih merasa lapar. Berikut adalah gejala pada marasmus adalah:

a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot- ototnya,
tinggal tulang terbungkus kulit
b. Wajah seperti orang tua
c. Iga gambang dan perut cekung
d. Otot paha mengendor (baggy pant)
e. Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar
Gambar 2.1. Marasmus

2.1.1.2. Kwasiorkor
Kwashiorkor adalah bentuk malnutrisi berenergi protein yang disebabkan oleh
defisiensi protein yang berat, asupan kalori biasanya juga mengalami defisiensi.

Kwashiorkor terjadi terutamanya karena pengambilan protein yang tidak cukup.


Pada penderita yang menderita kwashiorkor, anak akan mengalami gangguan
pertumbuhan, perubahan mental yaitu pada biasanya penderita cengeng dan pada stadium
lanjut menjadi apatis dan sebagian besar penderita ditemukan edema. Selain itu, pederita
akan mengalami gejala gastrointestinal yaitu anoreksia dan diare. Hal ini mungkin karena
gangguan fungsi hati, pankreas dan usus. Rambut kepala penderita kwashiorkor senang
dicabut tanpa rasa sakit.
Pada penderita stadium lanjut, rambut akan terlihat kusam, kering, halus, jarang
dan berwarna putih. Kulit menjadi kering dengan menunjukkan garis-garis yang lebih
mendalam dan lebar. Terjadi perubahan kulit yang khas yaitu crazy pavement dermatosis
yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam dan ditemukan
pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan dan disertai kelembapan. Pada perabaan
hati ditemukan hati membesar, kenyal, permukaan licin, dan pinggiran tajam. Anemia
ringan juga ditemukan dan terjadinya kelainan kimia yaitu kadar albumin serum yang
rendah dan kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi.

Gambar 2.2. Kwasiorkor


2.1.1.3. Marasmus-Kwasiorkor
Kondisi dimana terjadi defisiensi baik kalori maupun protein, dengan penyusutan
jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan biasanya dehidrasi. Gambaran klinis
merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus.

Gambar 2.3. Marasmus-Kwasiorkor

2.1.2. Faktor Penyebab Malnutrisi


Ada 2 faktor penyebab dari gizi buruk adalah sebagai berikut :
1. Penyebab langsung, kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, menderita
penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker. Anak yang mendapat
makanan cukup baik tetapi sering diserang atau demam akhirnya menderita kurang gizi.
2. Penyebab tidak langsung, ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan
kesehatan. Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan
masalah utama gizi buruk adalah kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan
dan kesempatan kerja. Oleh karena itu untuk mengatasi gizi buruk dibutuhkan kerjasama
lintas sektor Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik maupun gizinya.

2.1.3. Patofisiologi
Setelah beberapa waktu defisiensi nutrien berlangsung maka akan terjadi deplesi
cadangan nutrien pada jaringan tubuh dan selanjutnya kadar dalam darah akan menurun.
Hal ini akan mengakibatkan tidak cukupnya nutrien tersebut di tingkat seluler sehingga
fungsi sel terganggu misalnya sintesis protein, pembentukan dan penggunaan energi,
proteksi terhadap oksidasi atau tidak mampu menjalankan fungsi normal lainnya. Bila
berlangsung terus maka gangguan fungsi sel ini akan menimbulkan masalah pada fungsi
jaringan atau organ yang bermanifestasi secara fisik seperti gangguan pertumbuhan, serta
kemunculan tanda dan gejala klinis spesifik yang berkaitan dengan nutrien tertentu misal
edema, xeroftalmia, dermatosis, dan lain-lain yang kadang-kadang ireversibel.
Masukan nutrien tidak

adekuat Defisiensi

nutrien

Deplesi cadangan

tubuh Kadar dalam

darah turun

Defisiensi tingkat

seluler Gangguan
Gambar 2.4. Bagan patofisiologi defisiensi nutrien

2.1.4. Diagnosis Malnutrisi


Diagnosis gizi buruk dapat diketahui melalui gejala klinis, antropometri dan
pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis gizi buruk berbeda-beda tergantung dari derajat
dan lamanya deplesi protein dan energi, umur penderita, modifikasi disebabkan oleh
karena adanya kekurangan vitamin dan mineral yang menyertainya.

Gejala klinis gizi buruk ringan dan sedang tidak terlalu jelas, yang ditemukan
hanya pertumbuhan yang kurang seperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan
anak yang sehat. Gizi buruk ringan sering ditemukan pada anak-anak dari 9 bulan sampai 2
tahun, akan tetapi dapat dijumpai pula pada anak yang lebih besar. Pertumbuhan yang
terganggu dapat dilihat dari pertumbuhan linier mengurang atau terhenti, kenaikan berat
badan berkurang, terhenti dan adakalanya beratnya menurun, ukuran lingkar lengan atas
menurun, maturasi tulang terlambat, rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun, tebal
lipat kulit normal atau mengurang, anemia ringan, aktivitas dan perhatian berkurang jika
dibandingkan dengan anak sehat, adakalanya dijumpai kelainan kulit dan rambut.

Gizi buruk berat memberi gejala yang kadang-kadang berlainan, tergantung dari
dietnya, fluktuasi musim, keadaan sanitasi dan kepadatan penduduk.

2.1.5. Penatalaksanaan Malnutrisi


Menurut Depkes RI (2005), penatalaksanaan gizi buruk yaitu:
a. Mencegah dan mengatasi hipoglikemi. Hipoglikemi jika kadar gula darah
<54 mg/dl atau ditandai suhu tubuh sangat rendah, kesadaran menurun, lemah,
kejang, keluar keringat dingin, pucat. Pengelolaan berikan segera cairan gula: 50
ml dekstrosa 10% atau gula 1 sendok teh dicampurkan ke air 3,5 sendok makan,
penderita diberi makan tiap 2 jam, antibotik, jika penderita tidak sadar, lewat
sonde. Dilakukan evaluasi setelah 30 menit, jika masih dijumpai tanda-tanda
hipoglikemi maka ulang pemberian cairan gula tersebut.

o
b. Mencegah dan mengatasi hipotermi. Hipotermi jika suhu tubuh anak < 35 C ,
aksila 3 menit atau rectal 1 menit. Pengelolaannya ruang penderita harus hangat,
tidak ada lubang angin dan bersih, sering diberi makan, anak diberi pakaian,
tutup kepala, sarung tangan dan kaos kaki, anak
dihangatkan dalam dekapan ibunya (metode kanguru), cepat ganti popok basah,
o
antibiotik. Dilakukan pengukuran suhu rectal tiap 2 jam sampai suhu > 36,5 C,
pastikan anak memakai pakaian, tutup kepala, kaos kaki.

c. Mencegah dan mengatasi dehidrasi. Pengelolaannya diberikan cairan Resomal


(Rehydration Solution for Malnutrition) 70-100 ml/kgBB dalam 12 jam atau mulai
dengan 5 ml/kgBB setiap 30 menit secara oral dalam 2 jam pertama. Selanjutnya 5-
10 ml/kgBB untuk 4-10 jam berikutnya, jumlahnya disesuaikan seberapa banyak
anak mau, feses yang keluar dan muntah. Penggantian jumlah Resomal pada jam
4,6,8,10 dengan F75 jika rehidrasi masih dilanjutkan pada saat itu. Monitoring
tanda vital, diuresis, frekuensi berak dan muntah, pemberian cairan dievaluasi jika
RR dan nadi menjadi cepat, tekanan vena jugularis meningkat, jika anak dengan
edem, edemnya bertambah

d. Koreksi gangguan elektrolit. Berikan ekstra Kalium 150- 300mg/kgBB/hari, ekstra


Mg 0,4- 0,6 mmol/kgBB/hari dan rehidrasi cairan rendah garam (Resomal)
e. Mencegah dan mengatasi infeksi. Antibiotik (bila tidak komplikasi : kotrimoksazol
5 hari, bila ada komplikasi amoksisilin 15 mg/kgBB tiap 8 jam 5 hari. Monitoring
komplikasi infeksi ( hipoglikemia atau hipotermi)
f. Mulai pemberian makan. Segera setelah dirawat, untuk mencegah hipoglikemi,
hipotermi dan mencukupi kebutuhan energi dan protein. Prinsip pemberian
makanan fase stabilisasi yaitu porsi kecil, sering, secara oral atau sonde, energi 100
kkal/kgBB/hari, protein 1-1,5 g/kgBB/hari, cairan 130 ml/kgBB/hari untuk
penderita marasmus, marasmik kwashiorkor atau kwashiorkor dengan edem derajat
1,2, jika derajat 3 berikan cairan 100 ml/kgBB/hari.
g. Koreksi kekurangan zat gizi mikro. Berikan setiap hari minimal 2 minggu
suplemen multivitamin, asam folat (5mg hari 1, selanjutnya 1 mg), zinc 2
mg/kgBB/hari, cooper 0,3 mg/kgBB/hari, besi 1-3 Fe elemental/kgBB/hari
sesudah 2 minggu perawatan, vitamin A hari 1 (<6 bulan 50.000 IU, 6-12 bulan
100.000 IU, >1 tahun 200.000 IU)
h. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar. Satu minggu perawatan fase
rehabilitasi, berikan F100 yang mengandung 100 kkal dan 2,9 g protein/100ml,
modifikasi makanan keluarga dengan energi dan protein sebanding, porsi kecil,
sering dan padat gizi, cukup minyak dan protein.
i. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang. Mainan digunakan sebagai
stimulasi, macamnya tergantung kondisi, umur dan perkembangan anak
sebelumnya. Diharapkan dapat terjadi stimulasi psikologis, baik mental, motorik
dan kognitif.
j. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah. Setelah BB/PB mencapai - 1SD
dikatakan sembuh, tunjukkan kepada orang tua frekuensi dan jumlah makanan,
berikan terapi bermain anak, pastikan pemberian imunisasi boster dan vitamin A
tiap 6 bulan10.

2.2. Kebutuhan nutrisi pada anak


Pemberian makanan tambahan sebagai pendamping ASI dimulai saat anak berusia 6
bulan dengan tetap memberikan ASI. Pemberian makanan tambahan ASI dinaikkan
bertahap dari segi jumlah, frekuensi pemberian, dan jenis dan konsistensi makanan yang
diberikan. Untuk anak yang mendapatkan ASI, rata- rata makanan tambahan yang harus
diberikan 2-3 kali/hari untuk usia 6-8 bulan, 3-4 kali/hari untuk usia 9-11 bulan dan
4-5 kali/hari usia 12-24 bulan.

Sumber gizi dapat dibagi kepada dua jenis, yaitu makronutrien dan mikronutrien.
Makronurien adalah zat yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang besar untuk
memberikan tenaga secara langsung yaitu protein sejumlah 4 kkal, karbohidrat sejumlah 4
kkal dan lemak sejumlah 9 kkal. Mikronutrien adalah zat yang penting dalam menjaga
kesehatan tubuh tetapi hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit dalam tubuh yaitu
vitamin yang terbagi atas vitamin larut lemak , vitamin tidak larut lemak dan mineral.

2.2.1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi manusia.Satu gram karbohidrat
menghasilkan 4 Kkal.Sebagian karbohidrat berada di dalam sirkulasi darah sebagai
glukosa untuk keperluan energi segera dan sebagian lagi disimpan sebagai glikogen di
dalam hati dan jaringan otot, dan sebagian diubah menjadi lemak

2.2.2. Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh
sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separohnya ada di dalam otot,
seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan selebihnya di
dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat
digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan
tubuh.

2.2.3. Lemak
Lemak adalah senyawa-senyawa heterogen yang bersifat tidak larut dalam air.
Lemak merupakan sumber energi paling padat yang menghasilkan 9 Kkal untuk setiap

gram yaitu 2 kali besar energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam
jumlah yang sama. Lemak merupakan cadangan energi tubuh paling besar. Lemak
disimpan sebanyak 50% di jaringan bawah kulit (subkutan), 45% di sekeliling organ dalam
rongga perut dan 5% di jaringan intramuskuler.

2.2.4. Vitamin
Vitamin merupakan zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah
sangat kecil dan pada umunya tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Vitamin termasuk
kelompok zat pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kehidupan. Tiap vitamin
mempunyai tugas spesifik di dalam tubuh.

Penelitian-penelitian membedakan vitamin dalam dua kelompok : vitamin larut


dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) dan vitamin larut dalam air (vitamin B dan C).
Sebagian besar vitamin larut lemak diabsorpsi bersama lipida lain. Vitamin larut air
biasanya tidak disimpan di dalam tubuh dan dikeluarkan melalui urin dalam jumlah kecil.
Oleh sebab itu, vitamin larut air perlu dikonsumsi tiap hari untuk mencegah kekurangan
yang dapat mengganggu fungsi tubuh normal.

2.2.5. Mineral
Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam
pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh
secara keseluruhan. Disamping itu mineral berperan dalam berbagai tahap metabolismen
terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim.

2.3. Status Gizi


2.3.1. Penilaian Status Gizi Anak
Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah
satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri.
Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks
yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

2.3.1.1. Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan
akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan
maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun.
Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya
adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah
dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan.

2.3.1.2. Berat Badan


Berat badan merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai status nutrisi, dimana
hasilnya dapat menaksir kebutuhan energi dan memonitor respons dari terapi yang
telah diberikan. Kehilangan berat badan dapat terjadi secara cepat pada pasien dengan
trauma atau stres metabolik. Penurunan berat badan kemungkinan menunjukkan
adanya pengurangan massa otot yang disebabkan oleh masukan kalori yang tidak
adekuat atau adanya hipermetabolisme. Adanya edema dan status hidrasi harus
dipertimbangkan dalam mengevaluasi berat badan.

2.3.1.3. Tinggi Badan


Tinggi badan adalah jarak dari puncak kepala sampai telapak kaki. Jarak ini
merupakan penjumlahan dari tinggi tulang tengkorak, panjang tulang belakang, dan
panjang ekstremitas bawah. Pengukuran tinggi/panjang badan merupakan pemeriksaan
penting, karena pertumbuhan linier merupakan marker untuk tumbuh kembang dan
juga malnutrisi jangka panjang. Pengukuran panjang badan bayi dan anak-anak sampai
usia 24 bulan dilakukan pada posisi terlentang dengan menggunakan length board.
Untuk anak di atas usia 2 tahun, pengukuran dilakukan dengan menggunakan
stadiometer pada posisi berdiri tegak dan mata memandang lurus ke depan, belakang
kepala, punggung, pantat dan tumit menempel pada alat pengukur panjang pada
dinding tegak lurus. Alternatif pengukuran lain seperti panjang tungkai bawah dan
panjang lengan atas dapat dipakai untuk memperkirakan tinggi/panjang badan pasien
yang pergerakannya terbatas, mengalami gangguan motorik atau dengan kontraktur
berat.
Untuk menentukan status gizi menggunakan beberapa langkah. Langkah pertama
adalah dengan melihat berat badan dan umur anak disesuaikan dengan grafik KMS (Kartu
Menuju Sehat). Bila dijumpai berat badan di bawah garis merah (BGM) maka dilanjutkan
dengan langkah menentukan status gizi balita dengan menghitung berat badan terhadap
tinggi badan (BB/TB) berdasarkan standar WHO-NCHS. Dinyatakan gizi buruk bila
BB/TB <-3 SD standar WHO- NCHS.

Parameter keparahan dan klasifikasi KEP dapat diukur dengan menggunakan


indikator antropometri. Indikator berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) dapat
digunakan sebagai petunjuk dalam penentuan status gizi sekarang dan tinggi badan
terhadap usia (TB/U) digunakan sebagai petunjuk tentang keadaan gizi masa lampau.

Tabel 2.1. Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku
Antropometeri WHO-NCHS

Indeks yang Batas Sebutan Status Gizi


dipakai Pengelompokan

< -3 SD Gizi buruk

- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang


BB/U
- 2 s/d +2 SD Gizi baik

> +2 SD Gizi lebih

< -3 SD Sangat Pendek

- 3 s/d <-2 SD Pendek


TB/U
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi

< -3 SD Sangat Kurus

- 3 s/d <-2 SD Kurus


BB/TB
- 2 s/d +2 SD Normal

> +2 SD Gemuk

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi
yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Gizi
anak-anak dinegara-negara yang populasinya relatif baik (well- nourished), sebaiknya
digunakan persentil, sedangkan di negara untuk anak- anak yang populasinya relatif
kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai
persen terhadap median baku rujukan.
Gambar 2.5. Tinggi badan menurut umur dan berat badan menurut umur anak laki-laki usia
0-36 bulan (CDC, 2000)
Gambar 2.6. Tinggi badan menurut umur dan berat badan menurut umur anak laki-laki usia
2-20 tahun (CDC, 2000)
Gambar 2.7. Tinggi badan menurut umur dan berat badan menurut umur anak perempuan
usia 0-36 bulan (CDC, 2000)
Gambar 2.8. Tinggi badan menurut umur dan berat badan menurut umur anak perempuan
usia 2-20 tahun (CDC, 2000)
DAFTAR PUSTAKA
1. Albright B.E, Popescu W.M. Nutrisional Diseases And Malnutrition. Dalam: Stoelting's
AnesthesiaAndCoExistingDisease.2011

2. KleinS.ProteinEnergyMalnutrition.Dalam:MalnutritionAndNutritional.2010

3. LowenthalE,RezetB.Malnutritional.Dalam:Malnutrition.2010

4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat


Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I. Jakarta:
Departemen Kesehatan.2009.

5. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Food Insecurity, Hunger, and Undernutrition in


Nelson Textbook of Pediatric 18th edition, 2004 : 225-232

6. Brunser Oscar. Protein Energy Malnutrition : Marasmus in Clinical Nutrition of the


Young Child, Raven Press, New York, 1985 : 121-154

7. Hay WW, MJ Levin, JM sondheimer, RR Deterding. Normal Childhood Nutrition and its
Disorders in Current Diagnosis & Treatment in Pediatrics 18th edition, 2005 : 283-311

8. Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (Kurang Energi dan Protein) dari Ilmu Gizi Klinis pada
Anak edisi keempat, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2005 : 95-137

9. Nurhayati, soetjiningsih, Suandi IKG. Relationship Between Protein Energy Malnutrition


and Social Maturity in Children Aged 1-2 Years in Paediatrica Indonesiana, 42 th volume,
December, 2002 : 261-266

10. Rosli AW, Rauf S, Lisal JS, Albar H. Relationship Between Protein Energy Malnutrition
and Urinary Tract Infectiont in Children in Paediatrica Indonesiana, 48 th volume, May,
2008 : 166-169

11. Departement of Child and Adolescent Health and Development. Severe Malnutrition in
Management of The Child With a Serious Infection or Severe Malnutrition, World Health
Organization, 2004 : 80-91