Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Keliat (Helena, 2006) keperawatan jiwa merupakan suatu bidang

spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia

sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya.

Praktik keperawatan jiwa terjadi dalam konteks sosial dan lingkungan. Perawat

jiwa menggunakan pengetahuan dari ilmu-ilmu psikososial, biofisik, teori-teori

kepribadian dan perilaku manusia untuk menurunkan suatu kerangka kerja

teoritik yang menjadi landasan praktik keperawatan. Saat ini berkembang

perawatan sebagai profesi yaitu perawatan sebagai elemen inti dari semua

praktik keperawatan.

Menurut Dr. Zakiah Daradjat (Sarwanto, 2004) kesehatan mental adalah

terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi mental,

serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang

terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri. Namun

pada kenyataannya, di lingkungan masyarakat didapatkan kondisi riil yang tidak

selalu sejalan dengan teori. Masyarakat yang terbentuk dari proses budaya dan

adaptasi secara terus menerus dari masing-masing komponen masyarakat

kadangkala menyebabkan terjadinya ketegangan peran sebagai anggota

masyarakat dan konsekuensi dari proses bermasyarakat. Hal ini potensial

menimbulkan konflik terutama bagi anggota masyarakat yang menemukan

kesulitan atau kendala dalam beradaptasi terhadap stressor yang terjadi atau

karena faktor genetik yang belum terintervensi dengan baik dan faktor

pengetahuan masyarakat yang masih minimal tentang kesehatan mental berbasis

masyarakat.

1
2

Kesehatan jiwa masyarakat (community mental health) telah menjadi bagian

masalah kesehatan masyarakat (public health) yang dihadapi semua negara.

Salah satu pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kesehatan jiwa adalah

dampak modernisasi dan ekonomi dimana tidak semua orang siap untuk

menghadapi cepatnya perubahan dan kemajuan teknologi baru. Gangguan jiwa

tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan

penderitanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga

penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam UU No.23 tahun 1992

tentang kesehatan, pasal (4) disebutkan setiap orang mempunyai hak yang sama

dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal sehingga perlu adanya suatu

inovasi terhadap kesehatan masyarakat khususnya kesehatan jiwa agar

masyarakat dapat memperoleh derajat kesehatan yang lebih baik.

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan didapatkan bahwa 10,5%

masyarakat Indonesia terkena gangguan mental. Hal ini sejalan dengan

kenyataan yang di dapatkan di Kabupaten Blitar dimana didapatkan 53 orang

mengalami gangguan mental. Sedangkan di Pasuruan didapatkan 97 orang

menderita gangguan mental pada tahun 2012. Namun di Kabupaten Jember

sendiri belum ada data pasti yang berkaitan dengan jumlah warga masyarakat

yang mengalami gangguan mental di masyarakat

Menurut badan kesehatan dunia (WHO) sehat merupakan suatu keadaan

sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari

penyakit atau kecacatan. Maka secara analogi kesehatan jiwa pun bukan hanya

sekedar bebas dari gangguan tetapi lebih kepada perasaan sehat, sejahtera dan

bahagia (well being), ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat
3

merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar kehidupannya serta mampu

mengatasi tantangan hidup sehari-hari. Kesehatan jiwa merupakan bagian yang

tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan dan unsur utama dalam menunjang

terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Menurut undang-undang no. 3

tahun 1966 yang dimaksud dengan kesehatan jiwa adalah keadaan jiwa yang

sehat menurut ilmu kedokteran sebagi unsur kesehatan, diamana merupakan

suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan

emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras

dengan keadaan orang lain.

Pelayanan keperawatan jiwa bukan hanya ditujukan pada klien dengan

gangguan jiwa tetapi juga diberikan pada klien yang mengalami masalah

psikososial, ditujukan pada semua orang dan lapisan masyarakat sehingga

tercapai hidup sehat mental dan harmonis. Kesehatan jiwa merupakan kondisi

yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain, sehingga

tercapai kemampuan menyesuaikan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan

lingkungan, keharmonisan fungsi jiwa yaitu sanggup menghadapi problem yang

biasa dan merasa bahagia

Dalam kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum mampu

mengahadapi stressor yang melanda kehidupan sehingga mereka cenderung

mengahadapi problema kehidupan yang berat. Hal tersebut dapat berakibat

buruk untuk kesehatan mental masyarakat itu sendiri. Hal serupa didapatkan

pada pelaksaan praktik klinik komunitas dimana mahasiswa mendapatkan

sejumlah informasi dari masyarakat sekitar bahwa ada beberapa warga

masyrakat yang mengarah pada gejala gangguan mental dan resiko gangguan
4

mental. Hal ini memerlukan intervensi segera mungkin untuk menyiapkan

keluarga dan masyarakat sekitar dalam rangka perawatan penderita gangguan

mental dan resiko gangguan mental sehingga gangguan tidak terlanjur parah

dan bisa kembali berfungsi optimal dalam melaksanakan peran di masyarakat.

Proses keperawatan klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan

yang menarik, karena masalah kesehatan jiwa tidak dapat dilihat secara

langsung seperti masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan berbagai gejala

dan disebabkan oleh berbagai hal.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran umum kesehatan jiwa masyarakat Di Desa Klungkung

Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat melalui upaya pemberdayaan

warga masyarakat dalam membantu anggota keluarga yang mengalami

masalah kesehatan jiwa di Desa Klungkung Kabupaten Jember

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran umum kesehatan jiwa masyarakat di Desa

Klungkung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember melalui

pengkajian dengan menggunakan pendekatan komunitas (RT dan RW).

b. Memberikan asuhan keperawatan bagi warga masyarakat yang

mengalami gangguang jiwa, risiko gangguan jiwa dan sehat mental.

c. Menyiapkan keluarga dan anggota masyarakat dalam fungsi sosialisasi

warga yang mengalami gangguan jiwa.