Anda di halaman 1dari 16

PENGERTIAN HUMAN RELATION (Onong, 2001: 138; Alo, 1997: 28, 42)

Hubungan manusiawi adalah terjemahan dari human relation. Ada juga orang yang
menerjemahkannya menjadi hubungan manusia dan hubungan antarmanusia, yang sebenarnya tidak
terlalu salah karena yang berhubungan satu sama lain adalah manusia. Hanya saja, di sini sifat hubungan
tidak seperti orang berkomunikasi biasa, bukan hanya merupakan penyampaian suatu pesan oleh
seseorang kepada orang lain, tetapi hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu mengandung
unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam.
Ditinjau dari ilmu komunikasi, hubungan manusiawi itu termasuk ke dalam komunikasi
antarpersona (interpersonal communication) sebab berlangsung pada umumnya antara dua orang secara
dialogis. Dikatakan bahwa hubungan manusiawi itu komunikasi karena sifatnya action oriented,
mengandung kegiatan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang.
Komunikasi antar pribadi yang manusiawi berarti komunikasi yang telah memasuki tahap
psikologis yang komunikator dan komunikannya saling memahami pikiran, perasaan dan melakukan
tindakan bersama. Ini juga berarti bahwa apabila kita hendak menciptakan suatu komunikasi yang penuh
dengan keakraban yang didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas dan masalah pribadi yang
bersifat sosial.
Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan
hubungan manusiawi dalam arti sempit.
a. Hubungan manusiawi dalam arti luas
Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam
segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja: di
rumah, di jalan, dalam bis, dalam kereta api, dan sebagainya.
Berhasilnya seseorang dalam melakukan hubungan manusiawi ialah karena ia bersifat manusiawi:
ramah, sopan, hormat, menaruh penghargaan, dan lain-lain sikap yang bernilai luhur.
Bahwa manusia harus bersikap demikian sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa sebab secara
kodratiyah, selain homo sapiens sebagai makhluk berpikir yang membedakannya dnegan hewan, manusia
juga merupakan homo socius, makhluk bermasyarakat. Tidak mungkin ia hidup tanpa orang lain. Dan
sebagai makhluk sosial, ia harus berusaha menciptakan keserasian dan keselarasan dengan
lingkungannya.
Sebagai anggota masyarakat, manusia hidup dalam dua jenis pergaulan yang oleh Ferdinand
Tonnies disebut Gemeinschaft dan Gesellschaft. Dalam Gemeinschaft seseorang bergaul dalam suatu
kehidupan yang sangat akrab, sedemikian akrabnya sehingga penderitaan atau kebahagiaan yang dialami
oleh orang lain dirasakan olehnya seperti penderitaan atau kebahagiaannya sendiri. Kehidupan keluarga
atau kehidupan berteman yang sangat akrab termasuk ke dalam Gemeinschaft. Ciri lain dari Gemeinschaft
ialah bahwa seorang anggota Gemeinschaft tidak bisa keluar masuk masyarakat itu menurut kemauannya
saja. Seorang ayah, umpamanya, walau apapun yang terjadi, tetap ayah dari anak-anaknya. Ia tidak bisa
membebaskan diri dari status ayah itu. Sifat pergaulan hidup Gemeinschaft ialah statis-pribadi-tak
rasional. Dikatakan statis karena pergaulan hidup dalam masyarakat demikian tidak banyak mengalami
perubahan. Interaksi yang terjadi dalam suatu rumah tangga setiap hari antara ayah, ibu, dan anak tidak
mengalami dinamika. Sifatnya pribadi (personal). Jika terjadi perselisihan, dapat diselesaikan dengan
segera. Tidak rasional maksudnya tidak ada tata cara yang mengatur pergaulannya.
Lain sekali dengan pergaulan hidup dalam Gesellschaft, yakni kehidupan dalam suatu organisasi
yang sifatnya dinamis, tidak pribadi dan rasional. Dinamis artinya hubunganya dengan orang banyak
bergantian. Tidak pribadi artinya tidak akrab sehingga jika terjadi benturan psikologis, tidak mudah
menyelesaikannya. Rasional artinya ada aturan-aturan ketat yang mengikat. Dalam Gesellschaft orang
bergaul berdasarkan perhitungan untung rugi. Seseorang baru memasuki pergaulan hidup Gesellschaft
apabila diperkirakan ada keuntungan baginya. Ia juga bebas masuk dan keluar dari Gesellschaft sesuai
dengan ada tidaknya pamrih padanya.
Akan tetapi pergaulan hidup seperti yang dikemukakan Ferdinand Tonnies itu sebenarnya
hanyalah tipe-tipe ideal. Pada kenyataannya tipe-tipe ekstrem 100% tidaklah mutlak ada, yang ada
hanyalah tekanan atau titik berat pada salah satu dari jenis pergaulan hidup itu. Artinya: jika titik beratnya
rasio, dinamakan Gesellschaft; jika titik beratnya perasaan, dinamakan Gemeinschaft. Dalam Gesellschaft
tujuan pergaulan lebih banyak ditekankan pada keuntungan; dalam Gemeinschaft untuk mendapat
hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Kalaupun dalam Gemeinschaft ada keuntungan yang dapat
diperoleh, keuntungan itu datang dengan sendirinya; dalam Gesellschaft datang karena kewajiban yang
dipaksakan dari luar. Dalam Gemeinschaft kewajiban datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri
pribadi. Apa pun sifat pergaulan itu, apakah Gemeinschaft atau Gesellschaft, tujuan hubungan manusiawi
adalah pemusatan hati masing-masing yang terlibat dalam kegiatan itu.
Eduard C. Lindeman dalam bukunya yang terkenal, The Democratic Way of Life, mengatakan
bahwa Hubungan manusiawi adalah komunikasi antar persona (interpersonal communication) untuk
membuat orang lain mengerti dan menaruh simpati. Orang akan menaruh simpati jika dirinya dihargai.
Dalam hubungan ini William James, seorang ahli ilmu jiwa dari Harvard University, Amerika Serikat
mengatakan bahwa tiap manusia dalam hati kecilnya ingin dihormati dan dihargai.
Dalam pada itu, Keith Davis mengatakan bahwa human dignity (harga diri) merupakan etika dan
dasar moral bagi hubungan manusiawi. Hasil penyelidikan mengenai personal wants (keinginan pribadi)
telah menunjukkan bahwa tiap manusia ingin diperlakukan sebagai human being (manusia) dengan
respect (kehormatan) dan dignity (penghargaan).
Agar seseorang merasa bahwa dirinya dihargai sebagai layaknya manusia dapat ditunjukkan
dengan berbagai cara bergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan dilakukannya human relations itu.
b. Hubungan manusiawi dalam arti sempit
Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain.
Akan tetapi interaksi di sini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan (work
organization).
Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok,
hubungan manusiawi adalah interaksi orang-orang yang menuju satu situasi kerja yang memotivasikan
mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan perasaan puas, baik ekonomis, psikologis, maupun
sosial. Demikian kata Keith Davis dalam bukunya, Human Relations at Work. Dikatakan oleh Keith
Davis selanjutnya bahwa hubungan manusiawi adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied arts
and science).
Jelas bahwa ciri khas hubungan manusiawi adalah interaksi atau komunikasi antarpersona yang
sifatnya manusiawi. Karena manusia yang berinteraksi itu terdiri atas jasmani dan rohani yang berakal
dan berbudi yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk sosial maka dalam melakukan
hubungan manusiawi kita harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu.
Seperti telah disinggung di muka, dalam organisasi kekaryaan manusia merupakan strategic
component karena mempunyai peranan yang sangat penting. Organisasi kekaryaan dewasa ini cenderung
menganut filsafat yang people centered yakni bahwa dalam organisasi kekaryaan manusia bukan
pelaksanaan atau alat produksi belaka melainkan merupakan faktor pendorong dalam mencapai tujuan.
Hubungan manusiawi dalam organisasi kekaryaan inilah yang banyak dipelajari, diteliti dan
dipraktekkan di negara-negara yang sudah maju sebab faktor manusia ini sangat berpengaruh pada usaha
mencapai tujuan organisasi: dapat memperlancar, dapat juga menghambat. Dengan hubungan manusiawi,
para pemimpin organisasi dapat memecahkan masalah yang timbul dalam situasi kerja karena faktor
manusia, bahkan selanjutnya dapat menggairahkan dan menggerakkannya ke arah yang lebih produktif.
Sejak awal kehidupan, manusia diciptakan untuk hidup bersama. Setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu yang melahirkan, memelihara dan membesarkannya. Karena setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu maka dia pasti mempunyai kakek dan nenek, paman dan bibi serta saudara dan saudari.
Hubungan kekeluargaan itu dapat diperluas ke lingkungan di luar kerabat keluarga, misal hubungan
dengan lingkungan tetangga, sekolah dan organisasi sosial.
Beberapa teori hubungan antarmanusia:
1. Teori Self Disclosure
Pencetus teori ini adalah Joseph Luft. Sering disebut teori Johari Window atau Jendela Johari. Para
pakar psikologi kepribadian menganggap bahwa model teoritis yang dia ciptakan merupakan dasar untuk
menjelaskan dan memahami interaksi antarpribadi secara manusiawi. Garis besar model teoritis Jendela
Johari dapat dilihat dalam gambar berikut ini.
Saya tahu Saya tidak tahu
Orang lain tahu 1. TERBUKA 2. BUTA
Orang lain tidak tahu 3. TERSEMBUNYI 4. TIDAK KENAL

Jendela Johari terdiri dari 4 bingkai. Masing-masing bingkai berfungsi menjelaskan bagaimana tiap
individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat
berhubungan dengan orang lain.
Bingkai 1, menunjukkan orang yang terbuka terhadap orang lain. Keterbukaan itu disebabkan dua pihak
(saya dan orang lain) sama-sama mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi,
gagasan, dan lain-lain. Johari menyebutnya bidang terbuka, suatu bingkai yang paling ideal dalam
hubungan dan komunikasi antar pribadi.
Bingkai 2, adalah bidang buta. Orang Buta merupakan orang yang tidak mengetahui banyak hal tentang
dirinya sendiri namun orang lain mengetahui banyak hal tentang dia.
Bingkai 3, disebut bidang tersembunyi yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal diketahui diri
sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Bingkai 4, disebut bidang tidak dikenal yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal tidak diketahui
diri sendiri dan orang lain.
Model Jendela Johari dibangun berdasarkan 8 asumsi yang berhubungan dengan perilaku manusia.
Asumsi-asumsi itu menjadi landasan berpikir para kaum humanistik.
Asumsi pertama, pendekatan terhadap perilaku manusia harus dilakukan secara holistik. Artinya kalau
kita hendak menganalisa perilaku manusia maka analisis itu harus menyeluruh sesuai konteks dan jangan
terpenggal-penggal.
Asumsi kedua, apa yang dialami seseorang atau sekelompok orang hendaklah dipahami melalui persepsi
dan perasaan tertentu meskipun pandangan itu subjektif.
Asumsi ketiga, perilaku manusia lebih sering emosional bukan rasional. Pendekatan humanistik terhadap
perilaku sangat menekankan betapa pentingnya hubungan antara faktor emosi dengan perilaku.
Asumsi keempat, setiap individu atau sekelompok orang sering tidak menyadari bahwa tindakan-
tindakannya dapat menggambarkan perilaku individu atau kelompok tersebut. Oleh karena itu, para pakar
aliran humanistik sering mengemukakan pendapat mereka bahwa setiap individu atau kelompok perlu
meningkatkan kesadaran sehingga mereka dapat mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain.

2. Teori Atribusi

3. Teori Penetrasi Sosial

4. Teori Pandangan Proses

5. Teori Perspektif Pertukaran

Dalam hubungan manusiawi terjadi proses persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).
II. FAKTOR-FAKTOR PERSEPSI INTERPERSONAL DALAM HUMAN RELATION (Jalaluddin,
1999: 80)

Persepsi kita bukan sekedar rekaman peristiwa atau objek. Komputer hanya mengolah input yang
dimasukkan pada waktu punching. Bila pada kolom 12 ditulis tujuh, komputer tidak akan mengubahnya
menjadi delapan. Tidak begitu persepsi manusia. Pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana
emosional, dan latar belakang budaya, menentukan interpretasi kita pada sensasi. Bila objek atau
peristiwa di dunia luar kita sebut distal stimuli dan persepsi kita tentang stimuli itu kita sebut percept
maka percept tidak selalu sama dengan distal stimuli. Proses subjektif yang secara aktif menafsirkan
stimuli disebut Fritz Heider sebagai constructive process. Proses ini meliputi faktor biologis dan
sosiopsikologis individu pelaku persepsi.
Pada tahun 1950-an di kalangan psikolog sosial timbul aliran baru (disebut new look) yang
meneliti pengaruh faktor-faktor sosial seperti pengaruh interpersonal, nilai-nilai kultural dan harapan-
harapan yang dipelajari secara sosial, pada persepsi individu, bukan saja terhadap objek-objek mati tetapi
juga pada objek-objek sosial. Lahirlah istilah persepsi sosial yang didefinisikan sebagai the role of
socially generated influences on the basic processes of perception (McDavid dan Harari, 1968: 173).
Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an fokus penelitian tidak lagi pada faktor-faktor sosial yang
mempengaruhi persepsi tetapi pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa sosial. Mereka tidak lagi meneliti
bagaimana tanggapan anda pada titik, balok, atau pohon beringin; mereka mempelajari bagaimana
tanggapan anda pada istri anda, bos anda di kantor, atau teman anda di fakultas, bagaimana anda
mengambil kesimpulan tentang karakteristik orang lain atau bagaimana anda mengambil kesimpulan
tentang karakteristik orang lain atau bagaimana anda menjelaskan mengapa tokoh TV itu bunuh diri.
Persepsi sosial kini memperoleh konotasi baru sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa-
peristiwa sosial. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (dan bukan
benda) sebagai objek persepsi, di sini kita menggunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada
objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.
Manakah yang lebih cermat, persepsi objek atau persepsi interpersonal? Mana yang lebih besar
kemungkinan salahnya? Mana yang lebih sulit? Kumpulkan sepuluh orang mahasiswa di ruangan kelas,
suruh mereka mengamati papan tulis di muka, mintakan persepsi mereka tentang papan tulis itu. Besar
dugaan kita persepsi mereka tidak begitu berbeda. Sekarang hadirkan di muka mereka Sarah Azhari,
suruh mereka mengamatinya (mana tahan!) dan mintakan mereka memberikan komentar tentang Sarah
Azhari, terangkan sifat-sifatnya. Besar dugaan kita, persepsi mereka akan sangat beragam. Mengapa?
Ada empat perbedaan antara persepsi objek dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi
objek, stimuli ditangkap oleh alat indera kita melalui benda-benda fisik: gelombang, cahaya, gelombang
suara, temperatur dan sebagainya; pada persepsi interpersonal, stimuli mungkin sampai kepada kita
melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ketiga. Sebelum berjumpa dengan
Sarah Azhari, kita pernah melihatnya di layar film atau televisi, mendengar tentang dia dari surat kabar,
majalah,a tau desas-desus. Adanya pihak ketiga yang menjadi mediasi stimuli, mengurangi kecermatan
persepsi kita.
Kedua, bila kita menanggapi objek, kita hanya menanggapi sifat-sifat luar objek itu; kita tidak
meneliti sifat-sifat batiniah objek itu. Ketika kita melihat papan tulis, kita tidak pernah mempersoalkan
bagaimana perasaannya ketika kita amati. Pada persepsi interpersonal, kita mencoba memahami apa yang
tidak tampak pada alat indera kita. Kita tidak hanya melihat perilakunya, kita juga melihat mengapa ia
berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan tetapi juga motif tindakan itu.
Dengan demikian stimuli kita menjadi sangat kompleks. Kita tidak akan mampu menangkap seluruh
sifat orang lain dan berbagai dimensi perilakunya. Kita cenderung memilih stimuli tertentu saja. Ini jelas
membuat persepsi interpersonal lebih sulit, ketimbang persepsi objek.
Ketiga, ketika kita mempersepsi objek, objek tidak bereaksi kepada kita; kita pun tidak
memberikan reaksi emosional padanya. Perasaan anda dingin saja ketika anda memandang papan tulis;
tetapi sedingin itu jugakah ketika anda memandang Sarah Azhari? Apakah Sarah Azhari juga akan diam
saja ketika Anda memandangnya tidak berkedip? Dalam persepsi interpersonal faktor-faktor personal
anda, dan karakteristik orang yang ditanggapi serta hubungan anda dengan orang tersebut menyebabkan
persepsi interpersonal sangat cenderung untuk keliru. Lagipula kita sukar menemukan kriteria yang dapat
menentukan persepsi siapa yang keliru: persepsi anda atau persepsi saya.
Keempat objek relatif tetap, manusia berubah-ubah. Papan tulis yang anda lihat minggu yang lalu
tidak berbeda dengan papan tulis yang kita lihat hari ini. Mungkin tulisan pada papan tulis itu sudah
berubah, mungkin sobekan kayu di sudut sudah hilang tetapi secara keseluruhan papan tulis itu tidak
berubah. Manusia selalu berubah. Anda hari ini bukan anda yang kemarin, bukan anda esok hari. Kemarin
anda ceria karena baru menerima kredit mahasiswa Indonesia. Hari ini sedih karena sepeda motor anda
ditabrak becak. Esok anda gembira lagi karena ujian anda lulus. Anda di fakultas bukan anda di rumah
bukan anda di masjid. Perubahan ini kalau tidak membingungkan kita, akan memberikan informasi yang
salah tentang orang lain. Persepsi interpersonal menjadi mudah salah.
Anehnya betapapun sulitnya kita mempersepsi orang lain, kita toh berhasil juga memahami orang
lain. Buktinya kita masih dapat bergaul dengan mereka, masih dapat berkomunikasi dengan mereka dan
masih dapat menduga perilaku mereka. Dari mana kita memperoleh petunjuk tentang orang lain? Apa
yang menyebabkan kesimpulan kita bahwa X bersifat Y? Kita sebenarnya adalah Sherlock Holmes setiap
hari. Kita menduga karakteristik orang lain dari petunjuk-petunjuk eksternal (external cues) yang dapat
diamati. Petunjuk-petunjuk itu adalah deskripsi verbal dari pihak ketiga, petunjuk proksemik, kinesik,
wajah, paralinguistik dan artifaktual. Selain yang pertama, yang lainnya boleh disebut sebagai petunjuk
non verbal (non verbal cues). Semuanya kita sebut faktor-faktor situasional.

Pengaruh Faktor-faktor Situasional pada Persepsi Interpersonal


Deskripsi Verbal
Eksperimen Solomon E. Asch tentang bagaimana rangkaian kata sifat menentukan persepsi
orang. Bila saya kisahkan pada anda bahwa calon istri anda cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala bantu dan
dengki, anda akan membayangkan dia sebagai orang yang bahagia, humoris, dan mudah bergaul.
Tetapi bila rangkaian itu dibalik, dimulai dari dengki, kepala batu, dan seterusnya, kesan anda tentang dia
berubah. Menurut Solomon E. Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya.
Kata kritis pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif; pada rangkaian kedua, negatif.
Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect.
Pada eksperimen yang lain, Asch membagikan daftar A dan B di bawah ini kepada dua kelompok.
Daftar Stimuli A Daftar Stimuli B
Cerdas cerdas
Terampil Terampil
Rajin Rajin
Hangat Dingin
Teguh Teguh
Praktis Praktis
Waspada Waspada
Kedua daftar ini sama, kecuali yang keempat. Tanggapan terhadap A positif; orang yang memiliki sifat-
sifat itu dianggap murah hati, bahagia, dan berkelakuan baik. Tanggapan terhadap B negatif; orang yang
mempunyai sifat-sifat B dianggap pelit, tidak bahagia dan kurang populer. Kata-kata hangat-dingin telah
mewarnai seluruh kesan kita. Kata-kata ini merupakan central organizing trait. Menurut teori ini, ada
kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita tentang orang lain.
Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaimana cara orang menyampaikan berita
tentang orang lain mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu, dalam kenyataan kita jarang
melakukannya. Jarang kita melukiskan orang dengan menyebut rangkaian kata sifat. Kita biasanya mulai
pada central trait, menjelaskan sifat itu secara terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain
(shaver, 1997: 107).
Petunjuk Proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak dalam menyampaikan pesan; istilah ini
dilahirkan oleh antropolog interkultural Edward T. Hall. Hall membagi jarak ke dalam empat corak: jarak
publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya
dengan orang lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka. Bayangkan jarak yang anda buat
ketika berbicara dengan profesor anda, dan bandingkan jarak itu dengan jarak yang anda buat (kalau ada)
antara anda dengan orang yang paling akrab dengan anda. Betulkah kita pun mempersepsi orang lain
dengan melihat jaraknya dengan kita? Bagaimana penanggap menyimpulkan sesuatu dari jarak
interpersonal?
Pertama, seperti Edward T. Hall, kita juga menyimpulkan keakraban seseorang dengan orang lain
dari jarak mereka, seperti yang kita amati. Bila kawan kita selalu membuat jarak lebar dengan istrinya,
kita menduga mereka bukan pasangan yang bahagia. Bila pada saat yang sama ia kelihatan sering duduk
berdekatan dengan wanita lain, kita menyimpulkan hubungannya dengan wanita itu lebih daripada
sahabat sekantor. Walaupun kawan kita berusaha meyakinkan kita akan kecintaan pada istrinya, kita telah
mempercayai percept yang kita peroleh secara proksemik yakni dengan memperhatikan jarak.
Kedua, erat kaitannya dengan yang pertama, kita menanggapi sifat-sifat orang lain dari caranya
orang itu membuat jarak dengan kita. Misalkan anda berkunjung ke kantor bapak Hebat. Ia
mempersilakan anda duduk pada kursi yang tersedia, sementara pak Hebat duduk jauh dari anda bahkan
dihalangi oleh meja lebar. Anda akan menanggapi bapak Hebat sebagai orang yang tidak begitu terbuka.
Anda akan berhati-hati berbicara dengan dia. Tetapi bila ia turun dari kursinya, menarik tangan anda dan
mengajak duduk berdekatan pada sofa, anda menafsirkannya sebagai orang yang akrab, ramah, dan
terbuka.
Ketiga, caranya orang mengatur ruang mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu. Profesor
yang selalu membuka pintu kantornya lebar-lebar akan ditanggapi lebih terbuka daripada profesor yang
selalu mengunci kantornya. Orang yang memilih duduk di muka akan kita tanggapi sebagai orang yang
berstatus tinggi, dan orang yang memilih duduk di kursi paling belakang akan kita anggap sebagai orang
yang menghindari partisipasi, tidak berani atau mungkin berjiwa rendah hati.
Jadi, kita menganggap orang lain berdasarkan jarak yang dibuat orang itu dengan orang lain lagi,
atau jarak yang dibuat orang itu dengan kita. Kita juga dapat menetapkan persepsi kita dengan melihat
caranya orang itu mengatur ruang.

Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)


Suatu hari anda menerima tamu yang ingin berbicara dengan anda. Anda melihat tamu itu masuk
dengan membungkuk, berjalan tertatih-tatih kemudian duduk dengan tidak berani menatap anda.
Bicaranya terpatah-patah; kedua telapak tangannya saling meremas dan diletakkan di atas kedua paha
yang dirapatkan benar. Bagaimana pendapat anda tentang tamu itu? Orang besarkah atau orang kecil?
Takut pada anda atau benci? Percaya pada diri atau rendah diri? Anda sudah pasti mempunyai persepsi
khusus tentang orang itu. Persepsi itu didasarkan pada gerakan orang itu, pada petunjuk kinesik.
Dalam bahasa Indonesia kita mempunyai beberapa ungkapan yang mencerminkan persepsi kita
tentang orang lain dari gerakan tubuhnya. Ungkapan-ungkapan itu dengan persepsinya antara lain:
Membusungkan dada (sombong)
Menundukkan kepala (merendah)
Berdiri tegak (berani)
Bertopang dagu (sedih)
Menadahkan tangan (bermohon)

Beberapa penelitian telah membuktikan persepsi yang cermat tentang sifat-sifat orang dari
pengamatan petunjuk kinesik. Suatu eksperimen yang menggunakan gambar-gambar kerangka (stick
figures) dengan berbagai gerak, diperlihatkan pada subjek eksperimen Persepsi mereka tentang perasaan,
sifat dan sikap gambar itu hampir seragam. Ekman menyuruh subjek memasangkan foto gerakan tubuh
orang yang diwawancara dengan rekaman wawancaranya (dalam bentuk tulisan). Subjek ternyata dapat
melakukannya dengan kecermatan yang sukar diduga sebagai hanya kebetulan saja (Secord dan
Backman, 1964: 62). Begitu pentingnya petunjuk kinesik sehingga bila petunjuk-petunjuk lain (seperti
ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Mengapa? Karena
petunjuk kinesik adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang menjadi
stimuli (selanjutnya disebut persona stimuli, orang yang dipersepsi; lawan dari persona penanggap).

Petunjuk Wajah
Seperti petunjuk kinesik, petunjuk wajah pun menimbulkan persepsi yang dapat diandalkan.
Cicero, tokoh retorika Romawi berkata, Wajah adalah cerminan jiwa. Shakespeare, penyair Inggris
menulis dalam Macbeth, Your face.....is a book where men may read strange maters. Kata-kata sastra
ini telah diteliti para psikolog sosial. Ekman (1975) merancang serangkaian foto yang mengungkapkan
berbagai emosi. Foto-foto itu kemudian diperlihatkan kepada subjek-subjek berbagai bangsa (Amerika
Serikat, Brazil, Chili, Argentina, Jepang).
Penelitian Ekman dikritik karena ada kemungkinan keseragaman persepsi wajah ini disebabkan
kontak kultural bangsa-bangsa tersebut. Kontak ini berlangsung melalui televisi, film, majalah atau surat
kabar. Ekman dan kawan-kawannya melakukan penelitian lagi pada kelompok-kelompok Irian yang
terasing. Mereka tidak mengalami kontak budaya. Respon mereka pun hampir sama dengan pada mereka
yang mengalami kontak budaya.
Di antara berbagai petunjuk non verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam
mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leathers (1976: 21) menulis:
Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat
penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke
puncak keputusasaan. Kita menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan
nuansa makna dan mereka pada gilirannya menelaah kita.
Walaupun petunjuk facial dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi
itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitif pada wajah dan ada yang tidak. Sekarang para ahli psikolog
sosial sudah menemukan ukuran kecermatan persepsi wajah itu dengan tes yang disebut FMST facial
meaning sensivity test (tes kepekaan makna wajah). Dengan tes ini kepekaan kita menangkap emosi pada
wajah orang lain dapat dinilai skornya. Kita tidak menguraikan tes ini di sini; pembaca dapat
mempelajarinya pada Leathers (1976).

Petunjuk Paralingusitik
Yang dimaksud dengan paralinguistik ialah cara bagaimana orang mengucapkan lambang-
lambang verbal. Jadi jika petunjuk verbal menunjukkan apa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik
mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, gaya
verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan). Suara keras akan
dipersepsi marah atau menunjukkan hal yang sangat penting. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan
tersendat-sendat, akan dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau kebodohan.
Dialek yang digunakan menentukan persepsi juga. Bayangkan reaksi anda pada kesan Batak,
kawan anda. Dari dialeknya, kita menentukan persepsi kita tentang dia. Mungkin segala sifat orang Batak
(yang digeneralisasi) akan diterapkan pada kawan anda. Perilakunya dalam berbicara dengan orang lain
seperti interupsi, memonopoli pembicaraan, mengangguk-angguk, memberikan petunjuk paralinguistik
tentang karakteristik persona stimuli.
Bila perilaku komunikasi (cara berbicara) dapat memberi petunjuk tentang kepribadian persona
stimuli, suara mengungkapkan keadaan emosional. Anak kecil pun sudah mengetahui bahwa suara yang
lembut berarti kasih sayang; suara meninggi dan keras, kemarahan; suara memanjang dan kecil,
penyesalan.

Petunjuk Artifaktual
Petunjuk Artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh,
kosmetik yang dipakai, baju, tas, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya.Tentang potongan tubuh,
Shakespeare pernah menulis dalam Julius Caesar.
Let me have men about me that are fat;
Sleek-headed men and such as sleep onights;
Yon Cassius has a lean and hungry look;
He thinks too much; such men are dangerous.

Betulkah orang kurus tukang berpikir dan berbahaya? Itu hanya persepsi Shakespeare. Seperti
Shakespeare, kita pun cenderung membentuk kesan tentang orang lain dari bentuk tubuhnya.
Anda mungkin pernah berjumpa dengan seseorang, lalu anda pikir orang itu cerdas, periang, atau
seksi. Atau tiba-tiba anda merasa benci pada orang itu, tanpa menyadari sebab-sebabnya. Ini besar
kemungkinan terjadi karena reaksi anda terhadap penampilannya walaupun terjadi lewat bawah sadar
anda. Umumnya kita mempunyai stereotip, gambaran kaku yang tidak berubah-ubah serta tidak benar
tentang penampilan tertentu. Apalagi kalau stereotip ini diperkokoh dengan pengalaman-pengalaman
masa lalu.
Karena Dion, Ellen Berscheid, dan Elaine Walster (1972:285-290) meneliti pengaruh stereotip
ini: Apakah penampilan menarik atau tidak menarik menimbulkan asumsi-asumsi tertentu? Apakah orang
yang cantik cenderung dianggap berperilaku baik atas dasar kemungkinan sukses dalam hidupnya?
Mereka memperlihatkan tiga buah foto kepada para mahasiswa undergraduate. Foto yang pertama
menunjukkan orang yang cantik; kedua, rata-rata; dan ketiga, berwajah jelek. Mahasiswa diharuskan
memberikan penilaian tentang kepribadian orang dalam foto itu dengan mengisi angket ukuran
kepribadian. Kemudian mereka harus memperkirakan kemungkinan perkawinannya dan keberhasilan
dalam kariernya. Subjek-subjek eksperimen terbukti menilai orang cantik lebih bahagia dalam
pernikahannya dan lebih mungkin berhasil memperoleh pekerjaan yang baik ketimbang rekan-rekannya
yang berwajah jelek. Bila kita mengetahui bahwa seseorang memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau
jelek), kita beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya periang atau penyedih); ini
disebut halo effect. Bila kita sudah menyenangi seseorang maka kita cenderung melihat sifat-sifat baik
pada orang itu dan sebaliknya.
Sampai di sini, kita melihat bagaimana deskripsi verbal orang lain, petunjuk-petunjuk proksemik,
kinesik, wajah paralinguistik dan artifaktual mengarahkan persepsi kita tentang persona stimuli. Perlu
juga dengan tergesa-gesa kita tambahkan di sini bahwa petunjuk verbal bukan tidak berperan. Yang
dimaksud dengan petunjuk verbal ialah isi komunikasi persona stimuli bukan cara. Misalnya orang yang
menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan secara sistematis, mengungkapkan
pikiran yang dalam dan komprehensif akan menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar.
Secara keseluruhan kita menangkap kesan tentang persona stimuli dari petunjuk-petunjuk verbal
dan non verbal. Apakah persepsi kita cermat atau tidak? Mengapa seorang persona stimuli menimbulkan
kesan yang berlainan bagi orang-orang yang berbeda? Di sini berperan faktor-faktor personal dari
penanggap stimuli (stimulus perceiver) dari kita yang melakukan persepsi.

Pengaruh Faktor-faktor Personal pada Persepsi


Interpersonal

Di sini perhatian kita akan dipusatkan pada faktor-faktor personal yang secara langsung
mempengaruhi kecermatan persepsi, bukan proses persepsi itu sendiri. Bila ada ciri-ciri khusus
penanggap yang cermat, tentu kita tertarik untuk meningkatkan kemampuan persepsi kita. Persepsi
interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal tetapi juga pada hubungan
interpersonal. Karena itu, kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan
kualitas komunikasi interpersonal kita.
Pengalaman
Di muka kita telah membicarakan Facial Meaning Sensitivity Test, alat ukur untuk menguji
kepekaan anda untuk menafsirkan ungkapan wajah persona stimuli. Dale G. Leathers telah menggunakan
FMST untuk melatih para mahasiswa, pengusaha, dan kelompok eksekutif dalam meningkatkan
kemampuan menyandi (encode) dan menyandi balik (decode) petunjuk wajah; dua istilah komunikasi ini
berarti menerjemahkan dan mengungkapkan petunjuk wajah. Latihannya ternyata efektif. Yang sudah
dilatih dengan FMST menjadi lebih cermat dalam melakukan persepsi. Hal ini menunjukkan pengalaman
mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman
kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan
seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pad awajah anaknya atau pada petunjuk kinesik lainnya.
Ibu lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak. Ini juga sebabnya mengapa anda lebih
sukar berdusta di depan orang yang paling dekat dengan anda.

Motivasi
Proses konstruktif yang mewarnai persepsi interpersonal sangat banyak melibatkan unsur-unsur
motivasi. Upaya untuk mendeteksi pengaruh motivasi sosial terhadap persepsi telah menjadi tanda aliran
New Look pada tahun 1950-an. Allport (1955) telah menghimpun berbagai penelitian New Look dan
mengkritiknya. Diantara motivasi yang pernah diteliti antara lain motif biologis, ganjaran dan hukuman,
karakteristik kepribadian dan perasaan terancam karena persona stimuli.
Yang terakhir ini disebut perceptual defence (pembelaan perseptual). Bila anda dihadapkan
kepada stimuli yang mengancam anda, anda akan bereaksi begitu rupa sehingga mungkin tidak akan
menyadari bahwa stimuli itu ada. Di sini berlaku dalil komunikasi: anda hanya mendengar apa yang mau
anda dengar, dan anda tidak akan mendengar apa yang tidak ingin anda dengar.
Motif personal lainnya yang mempengaruhi persepsi interpersonal adalah kebutuhan untuk
mempercayai dunia yang adil (need to belive in a just world, Lerner, 1965, 1970, 1971, 1974, 1975).
Menurut Melvin Lerner, kit aperlu mempercayai bahwa dunia ini diatur secara adil, setiap orang
memperoleh apa yang layak diperolehnya. Orang diganjar dan dihukum karena perbuatannya. Bila kita
melihat orang sukses, kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik.
Kepada orang yang gagal, kita limpahkan segala dosa. Orang yang celaka kita salahkan karena tidak hati-
hati; orang miskin karena malas dan tidak berjiwa wiraswasta. Jelas motif dunia adil ini sering
mendistorsi persepsi kita.

Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah
mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melemparkan perasaan
bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh tipikal dari proyeksi. Pejabat mewah
yang getol menganjurkan hidup sederhana dan mengecam kemewahan; koruptor kakap yang aktif
memberantas korupsi; om senang yang mengkritik dekadensi moral di kalangan anak muda dan berbagai
perilaku kontradiktif adalah contoh-contoh lainnya. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada
orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas orang yang banyak
melakukan proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona stimuli bahkan mengaburkan gambaran
sebenarnya. Sebaliknya, orang yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani perasaan
bersalah, cenderung menafsirkan ornag lain lebih cermat (Norman, 1953; Omwake, 1954; Baker dan
Block, 1957). Begitu pula, orang yang tenang, mudah bergaul dan ramah, cenderung memberikan
penilaian positif pada orang lain. Ini disebut leniency effect (Bosson dan Maslow, 1957).
Pada tahun 1950-an, sekelompok peneliti di Universitas California di Berkeley melakukan
penelitian intensif tentang kepribadian otoriter atau authoritarian personality (Adorno, Frenkel-
Brunswile, Levinson, dan Sanford, 1950). Kepribadian otoriter adalah sindrom kepribadian yang ditandai
oleh ketegaran berpegang pada nilai-nilai konvensional, hasrat berkuasa yang tinggi, kekakuan dalam
hubungan interpersonal, kecenderungan melemparkan tanggung jawab pada sesuatu di luar dirinya, dan
memproyeksikan sebab-sebab dari peristiwa yang tidak menyenangkan pada kekuatan di luar dirinya.
Theodor Newcomb (1961) membuktikan dengan penelitiannya, bahwa orang-orang non-otoriter
cenderung lebih cermat menilai orang lain, lebih mampu melihat nuansa dalam perilaku orang lain;
sebaliknya orang-orang otoriter cenderung memproyeksikan kelemahan dirinya kepada orang lain, dan
menilai orang lain dalam kategori-kategori yang sempit (hitam-putih, jelek-baik, ekstrem-tidak ekstrem,
Pancasilais-tidak Pancasilais).
Bila petunjuk-petunjuk verbal dan nonverbal membantu kita melakukan persepsi yang cermat,
beberapa faktor personal ternyata mempersulitnya. Persepsi interpersonal menjadi lebih sulit lagi karena
persona stimuli bukanlah bend amati yang tidak sadar. Manusia secara sadar berusaha menampilkan
dirinya kepada orang lain sebaik mungkin. Inilah yang disebut Erving Goffman sebagai self-presentation
(penyajian diri).
Sebelum membicarakan hal ini, marilah kita menengok sebentar bagaimana proses persepsi
interpersonal itu berlangsung. Proses ini kita sebut sebagai proses pembentukan kesan (impression
formation).

Proses Pembentukan Kesan


Stereotyping
Robert
III. FAKTOR-FAKTOR KONSEP DIRI DALAM HUMAN RELATION (Jalaluddin, 1999: 99)

Ternyata kita tidak hanya menanggapi orang lain; kita juga mempersepsi diri kita. Diri kita bukan
lagi persona penanggap tetapi persona stimuli sekaligus.
Menurut Charles Horton Cooley, kita bisa menjadi subjek dan objek persepsi sekaligus dengan
membayangkan diri kita sebagai orang lain dalam benak kita. Cooley menyebut gejala ini looking glass
self (diri cermin) seakan-akan kita menaruh cermin di depan kita. Pertama, kita membayangkan
bagaimana kita tampak pada orang lain; kita melihat sekilas diri kita seperti dalam cermin. Misalnya kita
merasa wajah kita jelek. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Kita
pikir mereka menganggap kita tidak menarik. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau kecewa;
orang mungkin merasa sedih atau malu (Vander Zanden, 1975: 79).
Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita. Ini disebut
konsep diri. Walaupun konsep diri merupakan tema utama psikologi Humanistik yang muncul belakangan
ini, pembicaraan tentang konsep diri dapat dilacak sampai William James. James membedakan antara
The I diri yang sadar dan aktif dan The Me diri yang menjadi objek renungan kita. Pada psikologi
sosial yang berorientasi pada sosiologi, konsep diri dikembangkan oleh Charles Horton cooley (1864
1929), George herbert Mead (1863 1931) dan memuncak pada aliran interaksi simbolis yang tokoh
terkemukanya adalah Herbert Blumer. Di kalangan Psikologi sosial yang berorientasi pada psikologi,
konsep diri tenggelam ketika Behaviorisme berkuasa. Pada tahun 1943, gordon E. Allport menghidupkan
kembali konsep diri. Pada teori motivasi Abraham Maslow (1967, 1970) dan Carl Rogers (1970) konsep
diri muncul sebagai tema utama Psikologi Humanistik.
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai those physical, social and psycological
perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interactions of ourselves that we
have derived from experiences and our interaction with others (1974: 40). Jadi konsep diri adalah
pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi sosial dan
fisis. Bayangkan anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada diri anda sendiri:
Bagaimana watak saya sebenarnya?
Apa yang membuat saya bahagia atau sedih?
Apa yang sangat mencemaskan saya?
Bagaimana orang lain memandang saya?
Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?
Apakah mereka membenci atau menyukai saya?
Bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?
Apakah saya orang yang cantik atau jelek?
Apakah tubuh saya kuat atau lemah?

Jawaban pada tiga pertanyaan yang pertama menunjukkan persepsi psikologis tentang diri anda; jawaban
pada tiga pertanyaan kedua, persepsi sosial tentang diri anda; dan jawaban pada tiga pertanyaan terakhir,
persepsi fisis tentang diri anda. Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif tetapi juga
penilaian anda tentang diri anda. Jadi konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda
rasakan tentang diri anda. Karena itu, Anita Taylor et al. mendefinisikan konsep diri sebagai all you
think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself. (1977: 98).
Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri: komponen kognitif dan komponen afektif.
Boleh jadi komponen kognitif anda berupa Saya ini orang bodoh, dan komponen afektif anda berkata
Saya senang diri saya bodoh; ini lebih baik bagi saya. Boleh jadi komponen kognitifnya seperti tadi tapi
komponen afektifnya berbunyi Saya malu sekali karena saya menjadi orang bodoh. Dalam psikologi
sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self image) dan komponen afektif disebut harga diri (self
esteem). Keduanya menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (9176: 45) berpengaruh besar pada
pola komunikasi interpersonal. Namun sebelum melihat bagaimana pengaruh konsep diri terhadap
perilaku komunikasi interpersonal kita akan meneliti lebih dahulu faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan konsep diri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Orang lain
Gabriel Marcel, filsuf eksistensialis yang mencoba menjawab misteri keberadaan, The Mystery of
Being menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita The fact is that we can understand
ourselves by starting from the other, or from others, and only starting from them. Kita mengenal diri kita
dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya akan membentuk konsep diri
saya.
Harry Stack Sullivan (1953) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan
disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita.
Sebaliknya bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan
cenderung tidak menyenangi diri kita. S. Frank Miyamoto dan Sanford M. Dornbusch (1956) mencoba
mengkorelasikan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri dengan skala lima angka dari yang paling
jelek sampai yang paling baik. Yang dinilai ialah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, dan
kesukaan orang lain pada dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga menilai orang lain. Ternyata
orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain, cenderung memberikan skor yang tinggi juga dalam
menilai dirinya. Artinya, harga dirinya sesuai dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Eksperimen
lain yang dilakukan Gergen (1965, 1972) menunjang penemuan ini. Pada satu kelompok, subyek-subyek
eksperimen yang menilai dirinya dengan baik diberi peneguhan dengan anggukan, senyuman, atau
pernyataan mendukung pendapat mereka. Pada kelompok lain, penilaian positif tidak ditanggapi sama
sekali. Kelompok pertama menunjukkan peningkatan citra diri yang lebih baik karena mendapat
sokongan dari orang lain.
Tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling
berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead (1934)
menyebut mereka significant others (orang lain yang sangat penting). Ketika kita masih kecil, mereka
adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Richard
Dewey dan W.J. Humber (1966: 105) menamainya affective others (orang lain yang dengan mereka kita
mempunyai ikatan emosional). Dari merekalah, secara perlahan-lahan kita membentuk konsep diri kita.
Senyuman, pujian, penghargaan, pelukan mereka, menyebabkan kita menilai diri kita secara positif.
Ejekan, cemoohan, dan hardikan, membuat kita memandang diri kita secara negatif.
Anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, iabelajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam
kehidupan
Dalam perkembangan, significant others meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku,
pikiran, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita, dan menyentuh
kita secara emosional. Orang-orang ini boleh jadi masih hidup atau sudah mati. Anda mungkin
memasukkan di situ idola anda (bintang film, pahlawan kemerdekaan, tokoh sejarah atau orang yang anda
cintai diam-diam).
Ketika kita tumbuh dewasa, kita mencoba menghimpun penilaian semua orang yang pernah
berhubungan dengan kita. Minah memperoleh informasi tentang dirinya dari kedua orang tuanya, kakak-
kakaknya, tetangganya, gurunya dan sahabat-sahabatnya. Semuanya memandang Minah sebagai gadis
yang nakal. Minah berpikir, Saya nakal. Ia menilai dirinya sesuai dengan persepsi orang lain (yang
significant dan tidak) tentang dirinya. Pandangan diri anda tentang keseluruhan pandangan orang lain
terhadap anda disebut generalized others. Konsep ini juga berasal dari George Herbert Mead.
Memandang diri kita seperti orang-orang lain memandangnya, berarti mencoba menempatkan diri kita
sebagai orang lain. Bila saya seorang ibu, bagaimanakah ibu memandang saya. Jika saya seorang guru,
bagaimana guru memandang saya. Mengambil peran sebagai ibu, sebagai ayah, atau sebagai generalized
others disebut role taking. Role taking amat penting artinya dalam pembentukan konsep diri.

Kelompok Rujukan (Reference Group)


Dalam pergaulan bermasyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok: RT, kelas, HMJ,
Karang Taruna, Remaja Masjid. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang
secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Ini disebut
kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan
dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya. Kalau anda memilih kelompok rujukan anda Ikatan Psikolog
Indonesia, anda menjadikan norma-norma dalam ikatan ini sebagai ukuran perilaku anda. Anda juga
merasa bagian dari kelompok ini lengkap dengan seluruh sifat-sifat psikolog menurut persepsi anda.

Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal


Nubuat yang Dipenuhi Sendiri
Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena
setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seorang mahasiswa
menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur,
membuat catatan yang baik, mempelajari kuliah dengan sungguh-sungguh sehingga memperoleh nilai
akademis yang baik. Jika seorang gadis merasa dirinya sebagai wanita yang menarik ia akan berusaha
berpakaian serapi mungkin dan menggunakan kosmetik yang tepat. Bila orang merasa rendah diri, ia akan
mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada orang-orang yang dihormatinya,
tidak mampu berbicara di hadapan umum atau ragu-ragu menuliskan pemikirannya dalam media massa.
Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut sebagai nubuat yang
dipenuhi sendiri. Bila anda berpikir anda orang bodoh, anda akan benar-benar menjadi orang bodoh. Bila
anda merasa memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan maka persoalan apapun yang anda hadapi
pada akhirnya dapat anda atasi. Anda berusaha hidup sesuai dengan label yang anda lekatkan pada diri
anda. Hubungan konsep diri dengan perilaku mungkin dapat disimpulkan dengan ucapan para penganjur
berpikir positif: You dont think what you are, you are what you think.
Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri anda; positif atau
negatif. Sebagai peminat komunikasi, sebaiknya kita mampu mengidentifikasi tanda-tanda konsep diri
yang positif dan negatif. Menurut William D.Brooks dan Philip Emmert (1976: 42 43) ada empat tanda
orang yang memiliki konsep diri negatif. Pertama, ia peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik
yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi seringkali dipersepsi sebagai
usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif
cenderung menghindari dialog yang terbuka dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan
berbagai justifikasi atau logika yang keliru.
Kedua, orang yang memiliki konsep diri negatif, responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia
mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu
menerima pujian. Buat orang-orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya
menjadi pusat perhatiannya. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, mereka pun bersikap
hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apa pun dan siapa pun.
Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan
orang lain. Inilah sifat yang ketiga, sikap hiperkritis.
Keempat, orang yang konsep dirinya negatif, cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia
merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat
melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya tetapi
akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.
Kelima, orang yang konsep dirinya negatif bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap
dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak
akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Sebaliknya orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:
1. I ayakin akan kemampuannya mengatasi masalah
2. Ia merasa setara dengan orang lain
3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu
4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak
seluruhnya disetujui masyarakat
5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak
disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Dalam kenyataan memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif
atau positif tetapi untuk efektivitas komunikasi interpersonal, sedapat mungkin kita memperoleh
sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. DE. Hamachek menyebutkan sebelas karakteristik
orang yang mempunyai konsep diri positif:
1. Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya
walaupun mengahdapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh
untuk mengubah prisnip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian
IV. ATRAKSI INTERPERSONAL DALAM HUMAN RELATION (Jalaluddin, 1999:110)

Dean C. Barlund, ahli komunikasi interpersonal menulis Mengetahui garis-garis atraksi dan
penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada
siapa pesan itu akan mengalir dan lebih-lebih lagi bagaimana pesan akan diterima. (Barlundn, 1968: 71).
Dengan bahasa sederhana ini berarti dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa
menghindari siapa, kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Makin
tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Kesukaan
pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang, kita sebut sebagai atraksi interpersonal (atraksi
berasal dari bahasa Latin attrahere ad: menuju; trahere; menarik). Karena pentingnya peranan atraksi
interpersonal, kita ingin membicarakan faktor-faktor yang menyebabkan mengapa persona stimuli
menarik kita. Sebagaimana sering kita bicarakan dalam bagian-bagian lain, di sini pun faktor personal dan
situasional menentukan siapa tertarik pada siapa. Yang menyebabkan saya tertarik kepada anda boleh jadi
sifat-sifat yang anda miliki (misal nya, anda cantik), atau suasana emosional saya (misalnya, saya sedang
kesepian). Sebenarnya kedua faktor ini dalam kenyataan sering tumpang tindih sehingga pembagian di
bawah ini hanyalah untuk memudahkan penjelasan saja.

Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal


Kesamaan Karakteristik Personal
Katakanlah anda berjumpa dengan seorang kenalan baru. Percakapan anda berlangsung mulai
dari masalah-masalah demografis (dimana tinggal, pekerjaan apa) sampai masalah-masalah politik. Anda
mengatakan bahwa pembangunan kita cukup berhasil dengan menyajikan bukti-bukti yang relevan.
Kawan