Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada kebanyakan wanita, pola kelahiran dapat diprediksi. Secara umum, wanita
mengalami kontraksi awalan yang relatif ringan dan tidak teratur. Selama proses kelahiran,
kontraksi tersebut semakin kuat, teratur, dan durasinya semakin bertambah. Namun pada
beberapa kasus, menjelang proses kelahiran dapat terjadi ketuban pecah sebelum terdapat
tanda mulai persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi in partu. Kejadian ini disebut
Ketuban Pecah Dini.
Ketuban pecah disebabkan karena adanya ketidakseimbangan antara ketahanan
amnion dan tekanan yang terus meningkat seiring dekatnya waktu kelahiran. Amnion dengan
cairan ketuban tidak hanya penting untuk perkembangan janin, tetapi juga melindungi janin
dari trauma eksternal. Terlepas dari usia kehamilan, kejadian ketuban pecah ini tentu akan
menurunkan prognosis janin yang baru lahir.
Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada kehamilan
aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2%
dari semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah dini pada kehamilan preterm akan lahir
sebelum aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah.
Masih banyaknya kejadian Ketuban Pecah Dini ini, maka kelompok kami membuat
makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Pasien dengan Ketuban Pecah Dini.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu memahami dan mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Ketuban Pecah Dini.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi dan faktor risiko Ketuban Pecah Dini.
b. Mengetahui analisa kasus Ketuban Pecah Dini
c. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Ketuban Pecah Dini

C. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimanakah konsep ketuban pecah dini?
b. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan ketuban pecah dini.

1
BAB II
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/ rupturnya selaput amnion sebelum
dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia
kehamilannya mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi. (mitayani,2011.buku
keperawatan maternitas,hal:74)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan (Manuaba,
1998).
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada
sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001).

2
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor
tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan adanya infeksi yang dapat
berasal dari vagina serviks. (Prawirohardjo, 2002)

B. ETIOLOGI
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum
diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-
faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih
berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai factor predisisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai
infeksi.
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
5. Faktor lain
a. Faktor golongan darah
Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat
menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit
ketuban.
b. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
c. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
d. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

C. PATOFISIOLOGI

3
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus
dan peregangan berulang. Selaput ketubn pecah karena pada daerah tertentu terjadi
perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh bukan karena
luruh ketuban rapuh.
Terdapat keseimbangan antara sintetis dan degradasi ekstrakuler matriks.
Perubahan struktur jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen
berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah.selaaput ketuban sangat kuat pada
kehamilan muda trimester ke 3 selaput ketuban pecah. Melemahnya kekuatan selaput
ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus kontraksi rahim dan gerakan janin.
Pada trimester terakir terjadi perubahan biokimia pada selaput ketuban. Pecahnya
ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis disebabkan oleh adanya faktor-
faktor eksternal misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini prematur
sering terjadi pada polihidramnion inkompeten serviks. (Prawiharjo Sarwono. 2013.
Buku Ajar Keperawatan)
D. MANIFESTASI KLINIK
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina,
aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut
masih merembes atau menetes dengan ciri pucat dan bergaris warna darah, cairan ini
tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.tetapi bila anda
duduk atau berdiri,kepala janin yang sudah terletak dibawah biasanya mengganjal atau
menyambut kebocoran untuk sementara.
Demam , bercak vagina yang banyak ,nyeri perut ,denyut jantung janin bertambah
cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi. (buku asuhan patologi
kebidanan,sujiyatini,2009,hal:14)

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering terjadi pada ketuban pecah dini sebelum usia
kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi
baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini. Semua ibu hamil
dengan ketuban pecah dini prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau

4
keluarnya tali pusat dapat terjadi pada ketuban pecah dini. ( Fadlun, dkk. 2011. Asuhan
Kebidanan Patologis ).
Komplikasi Potensial Ketuban Pecah Dini 1. Resiko infeksi 2. Prolabs tali pusat
3. Gangguan janin (penurunan gerakan pernafasan, dan gangguan perkembangan struktur
janin yang disebabkan oleh sabuk amnion akibat penurunan cairan amnion; afiksia
janinakibat kompresi tali pusat yang disebabkan oleh penurunan cairan amnion). ( Green
Carol J, Wilkinson Judith M. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal & Bayi Baru
Lahir ).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang bkeluar dari vagina perlu di periksa warna konsentrasi,baud an PH
nya.Cairan yang keluar dari vagina kecuali air ketuban mungkin juga urine atu secret
vagina, Sekret vagina ibu hamil pH :4,5 dengan kertas nitrazin tidak berubah warna
,tetap kuning.
a. tes lakmus (tes nitrazin),jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). Ph air ketuban 7-7,5 darah dan infeksi
vagina dapat menghaslkan tes yang positif palsu.
b. mikroskop (tes pakis ),dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering.Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun psikis.

2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit .Namun sering
terjadi kesalahan pada penderita oligohidroamion.Walaupun pendekatan diagnosis
KPD cukup banyak macam dan caranya ,namun pada umunya KPD sudah bisa
terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
(buku asuhan patologi kebidanan,sujiyatini,2009,hal:16-17)

G. PENANGANAN MEDIS
1. Pada kehamilan preterm berupa penanganan konservatif, antara lain :
a. Rawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan
pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan
bisa mencapai 37 minggu

5
b. Berikan antibiotika (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila tidak tahan ampisilin)
dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
c. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih keluar, atau
sampai air ketuban tidak keluar lagi
d. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu.
Sedian terdiri atas betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari atau
deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
e. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa (-): beri
deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi pada
kehamilan 37 minggu
f. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik
(salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam
g. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi
h. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin)

2. Pada kehamilan aterm berupa penanganan aktif, antara lain:


a. Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesaria. Dapat
pula diberikan misoprostol 50 g intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
b. Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan di akhiri:
1. Bila skor pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian induksi. Jika tidak
berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.
2. Bila skor pelvik > 5 induksi persalinan, partus pervaginam.

6
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata klien
Berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan ,Suku, Agama, Alamat,
Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan utama:
Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit /
banyak, pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering,
inspeksikula tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban
sudah kering
3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,
siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
4. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah
atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua ?
5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine,
keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi
keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
6. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang
dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat
ini atau kambuh berulang ulang

7
7. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic
seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular, kelainan
congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh keluarga.

8. Kebiasaan sehari hari


a. Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu
makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan.
b. Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah
pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu
dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
c. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia
(hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over
distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi,
apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut BAB
karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut
dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah.
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di
anjurkan untuk bedresh total.
f. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.

9. Pemeriksaan Fisik
a.Pemeriksaan umum: suhu normal kecuali disertai infeksi.
b. Pemeriksaan abdomen: uterus lunak dan tidak nyeri tekan. Tinggi fundus harus
diukur dan dibandingkan dengan tinggi yang diharapkan menurut hari haid terakhir.
Palpasi abdomen memberikan perkiraan ukuran janin dan presentasi maupun cakapnya
bagian presentasi. Denyut jantung normal.
c.Pemeriksaan pelvis: pemeriksaan speculum steril pertama kali dilakukan untuk
memeriksa adanya cairan amnion dalam vagina. Karna cairan alkali amnion mengubah
pH asam normal vagina, kertas nitrasin dapat dipakai untuk mengukur pH vagina. Kertas
nitrasin menjadi biru bila ada cairan alkali amnion. Bila diagnose tidak pasti adanya
skuama anukleat, lanugo, atau bentuk Kristal daun pakis cairan amnion kering dapat
membantu.

8
d. Pemeriksaan vagina steril: menentukan penipisan dan dilatasi serviks.
Pemeriksaan vagina juga mengidentivikasi bagian presentasi dan stasi bagian presentasi
dan menyingkirkan kemungkinan prolaps tali pusat.

10. Pemeriksaan penunjang


a. Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan
pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine
atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak
berubah warna, tetap kuning.
b. Tes Lakmus (tes Nitrazin)
Jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air
ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat
mengahsilakan tes yang positif palsu.
c. Mikroskopik (tes pakis)
Dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.
Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
d. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun
sering terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion.

B. DIAGNOSA
1. Resiko infeksi behubungan dengan ketuban pecah dini
2. Gangguan Rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya kontraksi/His
3. Cemas (ansietas) berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses persalinan

C. INTERVENSI
Diagnosa I : Resiko infeksi behubungan dengan ketuban pecah dini
Tujuan : tidak terjadi infeksi, tidak ada peningkatan suhu tubuh (38 C)
Intervensi
1. Pantau suhu ibu tiap jam

9
Rasional: peningkatan suhu dapat mengindikasikan infeksi atau peningkatan
metabolisme saat persalinan
2. Jika ketuban telah pecah baik secara spontan atau disengaja, catat waktu, jumlah,
warna, dan bau cairan, serta hitung DJJ
Rasional: Cairan berbau busuk adalah tanda infeksi, sedangkan cairan berwarna hijau
adalah pengeluaran mekonium akibat hipoksia janin yang mengidentifikasikan infeksi
intrauteri. DJJ adalah indikator mengetahui kesejahteraan atau gawat janin
3. Observasi adanya nyeri atau nyeri tekan abdomen.
Rasional: merupakan tanda infeksi intrauteri
4. Pertahankan teknik aseptik (misalnya., untuk perawatan perinium, kateterisasi,)
Rasional: mencegah masuknya patogen ke dalam vagina
5. Batasi pemeriksaan vagina
Rasional: pemeriksaan vagina berisiko memasukkan patogen ke dalam vagina dan
dapat menstimulasi kontraksi uterus

Diagnosa II : Gangguan Rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya


kontraksi/His
Tujuan :
- rasa nyaman ibu terpenuhi
- ibu bisa beradaptasi terhadap nyeri
Intervensi:
1. Anjurkan klien untuk beristirahat diantara kontraksi uterus
Rasional: Menguurangi ketegangan otot yang dapat menimbulkan keletihan &
keletihan dapat meningkatkan persepsi nyeri

2. Pantau tanda-tanda vital dan observasi tanda nyeri


Rasional: manifestasi fisiologis nyeri adalah peningkatan nadi, pernafasan, TD, &
Otot tegang. Otot tegang dapat menggangu kemajuan persalinan
3. Anjurkan untuk berkemih setiap 1 hingga 2 jam & lakukan palpasi untuk distensi
kandung kemih. Kateterisasi jika diperlukan
Rasional: Kandung kemih yang penuh dapat meningkatkan ketidaknyamanan
4. Gunakan sentuhan mis, genggam tangan ibu, gosok punggung ibu
Rasional: Pengalaman sensori mis usapan / gosokan dapat menjadi pengalih karena
ibu berfokus pada stimulus .
5. Anjurkan untuk sering mengubah posisi
Rasional: Mencegah kekakuan otot

10
Diagnosa III : Cemas (ansietas) berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
proses persalinan
Tujuan :
- ibu mengerti tentang proses persalinan yg sedang dialami.
- ibu tidak mengeluh tentang proses persalinan
Intervensi :
1. Beri penjelasan pada ibu tentang proses persalinan
Rasional: ibu mengetahui keadaannya
2. Berikan privasi selama pemeriksaan dan prosedur, berikan penutup, arik tirai dan
tutup pintu untuk meminimalkan pengeksposan tubuh.
Rasional: Menunjukkan penghargaan pada ibu dan membina hubungan saling percaya
3. Yakinkan pada ibu bahwa dia akan mampu menyelesaikan proses persalinan dengan
baik
Rasional: Hal tersebut merupakan sumber kenyamanan dan kekuatan yang
meningkatkan koping dan mengurangi ansietas
4. Beri penjelasan pada ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah selesai dilakukan
Rasional: Dapat memberikan ketenangan pada ibu dan membina hubungan saling
percaya ( Green Carol J, Wilkinson Judith M. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan
Maternal & Bayi Baru Lahir )
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/ rupturnya selaput amnion sebelum
dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia
kehamilannya mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi. (mitayani,2011.buku
keperawatan maternitas,hal:74)
Ketuban pecah disebabkan karena adanya ketidakseimbangan antara ketahanan
amnion dan tekanan yang terus meningkat seiring dekatnya waktu kelahiran. Amnion
dengan cairan ketuban tidak hanya penting untuk perkembangan janin, tetapi juga
melindungi janin dari trauma eksternal. Terlepas dari usia kehamilan, kejadian ketuban
pecah ini tentu akan menurunkan prognosis janin yang baru lahir.

11
B. SARAN
1. Untuk Rumah Sakit
a. Meningkatkan mutu pendidikan baik tiap-tiap perawatnya dimana dalam hal ini
tidak hanya dibutuhkan skill dalam tiap tindakan yang akan dilakukan naming
intelegensi tiap tindakan hendaknya dilakukan juga.
b. Mengadakan seminar-seminar yang berhubungan dengan ketuban pecah dini.

2. Untuk Institusi Pendidikan


a. Memperdalam materi pada setiap mahasiswa dalam pemahaman materi ketuban
pecah dini.
b. Memperbanyak literatul tentang ketuban pecah

DAFTAR PUSTAKA

firwan. 2014. LAPORAN PENDAHULUAN KETUBAN PECAH DINI (KPD) .


http://firwanintianur93.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-ketuban-pecah-dini.html.
Tanggal akses 4 april 2017

Nita Norma dan Mustika Dwi S. 2013. Asuhan Kebidanan Patologi.Yogyakarta : Nuha Medika

Nurs_farah-fkp11. 2013. Asuhan Keperawatan Kpd. http://nurs_farah-


fkp11.web.unair.ac.id/artikel_detail-93835-Umum Asuhan%20Keperawatan
%20KPD.html. Tgl akses 28 maret 2017

Susanto, ady. 2014. Askep ketuban pecah dini (KPD).


http://adysusanto48.blogspot.co.id/2014/12/askep-ketuban-pecah-dini-kpd.html. Tgl akses 4 april
2017

12
Tama, tia. Askep Ketuban Pecah Dini (KPD).
http://catatankuliahperawat.blogspot.co.id/2016/03/askep-ketuban-pecah-dini-kpd_21.html. Tgl
akses 4 april 2017

13