Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENCEGAHAN DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE DI UNIT STROKE


RST Tk. II dr SOEPRAOEN

Disusun Oleh :
Rindika Illa Kurniawan
Dwi Setyo Purnomo
Trian Agus H

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Judul : Pencegahan Dekubitus


Sasaran : Pasien dan Keluarga Pasien Ruang Unit Stroke
Hari / Tanggal : Kamis, 28 Januari 2016
Tempat: Ruang Unit Stroke RST dr Soepraoen
Pelaksana : Mahasiswa Profesi Ners Universitas Brawijaya
Waktu : Pukul 09.00 10.00

I. Tujuan Instruksi Umum

Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit, pasien dan keluarga


pasien Ruang Unit Stroke RST dr Soepraoen dapat memahami tentang
dekubitus dan pencegahannya.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapat penyuluhan, pasien dan keluarga pasien Ruang Unit
Stroke RST dr Soepraoen dapat :
1. Mengetahui definisi dekubitus
2. Mengetahui penyebab dekubitus
3. Mengetahui tempat terjadinya dekubitus
4. Mengetahui upaya pencegahan terjadinya dekubitus
III. Materi
1. Definisi dekubitus
2. Penyebab dekubitus
3. Tempat terjadinya dekubitus
4. Pencegahan terjadinya dekubitus
IV. Metode
Ceramah dan Diskusi
V. Media
Leaflet dan Poster
VI. Pelaksanaan

Tahan dan
No Kegiatan Pendidikan Kegiatan Peserta
Waktu
1 Pendahuluan Pembukaan:
10 menit 1. Mengucapkan 1. Menjawab salam
salam dan
memperkenalkan
diri
2. Mendengarkan kontrak
2. Menyampaikan
tujuan dan maksud
dari penyuluhan 3. Mendengarkan tujuan
3. Menjelaskan
dari penyuluhan
kontrak waktu dan
mekanisme
4. Mendengarkan materi
kegiatan
penyuluhan yang
4. Menyebutkan
diberikan
materi penyuluhan
yang akan diberikan
2 Kegiatan inti Pelaksanaan :
20 menit 1. Tim penyuluh 1. Menerima leaflet yang
membagikan leaflet dibagikan tim
kepada peserta penyuluh
penyuluhan
2. Memperhatikan materi
2. Menjelaskan
penyuluhan yang
materi:
a. Definisi disampaikan
dekubitus
b. Penyebab
dekubitus
c. Tempat
terjadinya
dekubitus
d. Upaya
pencegahan
terjadinya 3. Peserta penyuluhan
dekubitus mengajukan
3. Memberikan
pertanyaan mengenai
kesempatan peserta
materi yangbelum
penyuluhan untuk
difahami
mengajukan
pertanyaan
mengenai materi 4. Mendengarkan dan
yang belum memperhatikan
dipahami jawaban penyaji
4. Menjawab
mengenai pertanyaan
pertanyaan yang
peserta penyuluhan
diajukan peserta
penyuluhan
3 Penutup Evaluasi:
5 menit 1. Menanyakan 1. Para peserta
kembali materi penyuluhan menjawab
yang telah pertanyaan yang
disampaikan diajukan oleh penyaji
2. Penyuluh 2. Para peserta
menyimpulkan penyuluhan
materi yang sudah mendengarkan
disampaikan kesimpulan materi
yang disampaikan

VII. Evaluasi
1. Kriteria struktur
a. Kontrak waktu dan tempat diberikan 1 hari sebelum acara
dilakukan
b. Pembuatan SAP, leaflet, dan poster dilakukan 2 hari
sebelumnya
c. Peserta di tempat yang telah ditentukan
d. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelum dan saat penyuluhan dilaksanakan.
2. Kriteria proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan
c. Pelaksanaan kegiatan sesuai POA
d. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description
3. Kriteria hasil
a. Peserta yang datang sejumlah 5 orang atau lebih
b. Acara dimulai tepat waktu
c. Audience mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah
dijelaskan
d. Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan
penyuluh.
MATERI PENYULUHAN

DEKUBITUS DAN PENCEGAHANNYA

1. Definisi

Dekubitus adalah luka pada jaringan kulit yang disebabkan oleh


tekanan yang berlangsung lama dan terus menerus (Doh, 1993 dalam Martin,
1997). Istilah dekubitus diambil dari kata Latin decumbere, yang artinya
berbaring. Ini merupakan luka yang terjadi karena tekanan atau iritasi kronis.
Keadaan ini terjadi pada kulit punggung pasien yang selalu terbaring di tempat
tidur atau yang sulit bangkit dari ranjang perawatan dalam waktu yang
lama.

Dekubitus mengakibatkan kerusakan/ kematian kulit sampai jaringan


di bawah kulit, bahkan menembus otot bahkan sampai mengenai tulang.Hal ini
disebabkan adanya penekanan pada suatu bagian tubuh yang berlangsung terus
menerus misalnya karena tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips,
pembidaian atau benda keras lainnya sehingga peredaran darah di sekitar
daerah itu terhenti, yang mengakibatkan kerusakan/ kematian kulit dan
jaringan sekitarnya.

Bagian tubuh yang sering mengalami ulkus/ luka dekubitus adalah


bagian dimana terdapat penonjolan tulang, yaitu sikut, tumit, pinggul,
pergelangan kaki, bahu, punggung dan kepala bagian belakang. Lokasi yang
sering terkena dekubitus adalah daerah tumit, siku, kepala bagian belakang,
dan daerah sekitar bokong.

Dekubitus berasal dari bahasa latindecumbree yang berarti merebahkan


diri yang didefenisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak
berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam (Sabandar, 2008). (National pressure
Ulcer Advisory panel (NPUAP), 1989 dalam Potter & perry, 2005) mengatakan
dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika
jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal
dalam jangka waktu lama.Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan
mengakibatkan hipoksia jaringan.Jaringan memperoleh oksigen dan nutrisi serta
membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang mengganggu
proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara mengurangi atau
menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi jaringan.

Iskemia jaringan adalah tidak adanya darah secara lokal atau penurunan
aliran darah akibat obstruksi mekanika (Pires & Muller, 1991 dalam Potter &
Perry, 2005).Penurunan aliran darah menyebabkan daerah tubuh menjadi
pucat.Pucat terlihat ketika adanya warna kemerahan pada pasien berkulit
terang.Pucat tidak terjadi pada pasien yang berkulit pigmen gelap.Kerusakan
jaringan terjadi ketika tekanan mengenai kapiler yang cukup besar dan menutup
kapiler tersebut. Tekanan pada kapiler merupakan tekanan yang dibutukan untuk
menutup kapiler misalnya jika tekanan melebihi tekanan kapiler normal yang
berada pada rentang 16 sampai 32 mmHg (Maklebust, 1987 dalam Potter & Perry,
2005).

Setelah priode iskemi, kulit yang terang mengalami satu atau dua
perubahan hiperemi. Hiperemia reaktif normal (kemerahan) merupakan efek
vasodilatasi lokal yang terlihat, respon tubuh normal terhadap kekurangan aliran
darah pada jaringan dibawahnya, area pucat setelah dilakukan tekanan dengan
ujung jari dan hyperemia reaktif akan menghilang dalam waktu kurang dari satu
jam. Kelainan hyperemia reaktif adalah vasodilatasi dan indurasi yang berlebihan
sebagai respon dari tekanan.Kulit terlihat berwarna merah muda terang hingga
merah.Indurasi adalah area edema lokal dibawah kulit. Kelainan hiperemia reaktif
dapat hilang dalam waktu antara lebih dari 1 jam hingga 2 minggu setelah tekanan
di hilangkan (Pirres & Muller, 1991 dalam Potter & Perry, 2005).

Ketika pasien berbaring atau duduk maka berat badan berpindah pada
penonjolan tulang. Semakin lama tekanan diberikan, semakin besar resiko
kerusakan kulit. Tekanan menyebabkan penurunan suplai darah pada jaringan
sehingga terjadi iskemi. Apabila tekanan dilepaskan akan terdapat hiperemia
reaktif, atau peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ke daerah tersebut. Hiperemia
reaktif merupakan suatu respons kompensasi dan hanya efektif jika tekan dikulit
di hilangkan sebelum terjadi nekrosis atau kerusakan. (Potter & Perry, 2005).
2. Penyebab Terjadinya Dekubitus

Kulit kaya akan pembuluh darah yang mengangkut oksigen ke


seluruh lapisannya. Jika aliran darah terputus lebih dari 2-3 jam, makakulit akan
mati, yang dimulai pada lapisan kulit paling atas (epidermis). Penyebab dari
berkurangnya aliran darah ke kulit adalah tekanan. Jika tekanan
menyebabkan terputusnya aliran darah, maka kulit yang mengalami kekurangan
oksigen pada mulanya akan tampak merah dan meradang lalu membentuk
luka terbuka (ulkus). Gerakan yang normal akan mengurangi tekanan
sehingga darah akan terus mengalir. Kulit juga memiliki lapisan lemak yang
berfungsi sebagai bantalan pelindung terhadap tekanan dari luar.
Risiko tinggi terjadinya ulkus dekubitus ditemukan pada :
1. Orang-orang yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah,
dipasung).
2. Orang-orang yang tidak mampu merasakan nyeri, karena nyeri merupakan
suatu tanda yang secara normal mendorong seseorang untuk bergerak.
Kerusakan saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa
menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri.
3. Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak memiliki
lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami pemulihan
sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting.
4. Gesekan dan kerusakan lainnya pada lapisan kulit paling luar bisa
menyebabkan terbentuknya ulkus. Baju yang terlalu besar atau terlalu kecil,
kerutanpada seprei atau sepatu yang bergesekan dengan kulit bisa menyebabkan
cedera pada kulit. Pemaparan oleh kelembaban dalam jangka panjang (karena
berkeringat, air kemih atau tinja) bisa merusak permukaan kulit dan
memungkinkan terbentuknya ulkus.
3. Tempat Terjadinya Dekubitus

Beberapa tempat yang paling sering terjdinya dekubitus adalah sakrum,


tumit, siku, maleolus lateral, trokonter besar, dan tuberostis iskial (Meehan, 1994).
Menurut Bouwhuizen (1986) dan menyebutkan daerah tubuh yang sering terkena
luka dekubitus adalah:
a. Pada penderita pada posisi terlentang: pada daerah belakang kepala, daerah
tulang belikat, daerah bokong dan tumit.

b. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun
telinga), bahu, siku, daerah pangkal paha, kulit pergelangan kaki dan bagian atas
jari-jari kaki.

c. Pada penderita dengan posisi tengkurap: dahi, lengan atas, tulang iga, dan lutut.

4. Upaya Mencegah Dekubitus

Tahap pertama pencegahan adalah mengkaji faktor-faktor resiko klien.


Kemudian perawat mengurangi faktor-faktor lingkungan yang mempercepat
terjadinya dekubitus, seperti suhu ruangan panas (penyebab diaporesis),
kelembaban, atau linen tempat tidur yang berkerut (Potter & Perry, 2005).

Identifikasi awal pada klien beresiko dan faktor-faktor resikonya


membantu perawat mencegah terjadinya dekubitus. Pencegahan meminimalkan
akibat dari faktor-faktor resiko atau faktor yang member kontribusi terjadinya
dekubitus. Tiga area intervensi keperawatan utama mencegah terjadinya dekubitus
adalah perawatan kulit, yang meliputi higienis dan perawatan kulit topikal,
pencegahan mekanik dan pendukung untuk permukaan, yang meliputi pemberian
posisi, penggunaan tempat tidur dan kasur terapeutik, dan pendidikan (Potter &
Perry, 2005).

Potter & Perry (2005), menjelaskan tiga area intervensi keperawatan


dalam pencegahan dekubitus, yaitu :

A. Higiene dan Perawatan Kulit

Perawat harus menjaga kulit klien tetap bersih dan kering. Pada
perlindungan dasar untuk mencegah kerusakan kulit, maka kulit klien dikaji terus-
menerus oleh perawat, dari pada delegasi ke tenaga kesehatan lainnya. Jenis
produk untuk perawatan kulit sangat banyak dan penggunaannya harus
disesuaikan dengan kebutuhan klien. Ketika kulit dibersihkan maka sabun dan air
panas harus dihindari pemakaiannya. Sabun dan lotion yang mengandung alkohol
menyebabkan kulit kering dan meninggalkan residu alkalin pada kulit. Residu
alkalin menghambat pertumbuhan bakteri normal pada kulit, dan meningkatkan
pertumbuhan bakteri oportunistik yang berlebihan, yang kemudian dapat masuk
pada luka terbuka.

A. Pengaturan Posisi
Intervensi pengaturan posisi diberikan untuk mengurangi takanan dan gaya
gesek pada kilit. Dengan menjaga bagian kepala tempat tidur setiggi 30 derajat
atau kurang akan menurunkan peluang terjadinya dekubitus akibat gaya gesek.
Posisi klien immobilisasi harus diubah sesuai dengan tingkat aktivitas,
kemampuan persepsi, dan rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu standar perubahan
posisi dengan interval 1 sampai 2 jam mungkin tidak dapat mencegah
terjadinya dekubitus pada beberapa klien. Telah direkomendasikan penggunaan
jadwal tertulis untuk mengubah dan menentukan posisi tubuh klien minimal setiap
2 jam. Saat melakukan perubahan posisi, alat Bantu unuk posisi harus digunakan
untuk melindungi tonjolan tulang. Untuk mencegah cidera akibat friksi, ketika
mengubah posisi, lebih baik diangkat daripada diseret. Pada klien yang mampu
duduk di atas kursi tidak dianjurkan duduk lebih dari 2 jam.
C. Alas pendukung (kasur dan tempat tidur terapeutik)
Berbagai jenis alas pendukung, termasuk kasur dan tempat tidur khusus,
telah dibuat untuk mengurangi bahaya immobilisasi pada sistem kulit dan
muskuloskeletal. Tidak ada satu alatpun yang dapat menghilangkan efek tekanan
pada kulit. Pentingnya untuk memahami perbedaan antra alas atau alat pendukung
yang dapat mengurangi tekanan dan alat pendukung yang dapat menghilangkan
tekanan. Alat yang menghilangkan tekanan dapat mengurangi tekanan antar
permukaan (tekanan antara tubuh dengan alas pendukung) dibawah 32 mmHg
(tekanan yang menutupi kapiler. Alat untuk mengurangi tekanan juga mengurangi
tekanan antara permukaan tapi tidak di bawah besar tekanan yang menutupi
kapiler. Potter & Perry (2005), mengidentifikasi 9 parameter yang digunakan
ketika mengevaluasi alat pendukung dan hubungannya dengan setiap tiga tujuan
yang telah dijelaskan tersebut :
a. Harapan hidup

b. kontrol kelembaban kulit

c. Kontrol suhu kulit

d. Perlunya servis produk

e. Perlindungan dari jatuh

f. Kontrol infeksi
g. Redistribusi tekanan

h. Kemudahan terbakar api

i. Friksi kllien/produk
DAFTAR HADIR PENYULUHAN MAHASISWA PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

TANGGAL Kamis, 28 Januari 2016

N N AM A ALAMAT TTD
O
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
DAFTAR PERTANYAAN PENYULUHAN
MAHASISWA PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

TANGGAL Kamis, 28 Januari 2016

NO NAMA PERTANYAAN JAWABAN


Daftar Pustaka

Morison, M.J.2004.Manajemen Luka,Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.


Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah.Jakarta: EGC, ed.8, vol 1
Carpenito, L.J & Moyet.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
BPPSDM Pusdiknakes Depkes. 2006. Kurikulum Pendidikan DIII
Keperawatan. Jakarta :
Departemen Kesehatan.
Depkes RI. 2001. Pedoman Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan.
Jakarta :
Departemen Kesehatan.
Depkes RI. 2003. Pedoman Pengelolaan Kegiatan Kesehatan di Kelompok
Usia Lanjut.
Jakarta : Departemen Kesehatan.
Hegner, Caldwell. 2003. Asisten Keperawatan. Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan.
Edisi 6. Jakarta : EGC.
Kozier, B. 1991. Fundamental of Nursing. Four Edition. Addison Wisley.
Majalah Keperawatan. Nursing Journal of Padjadjaran University. Volume 4
No. 7
September 2002 Maret 2003.
Mukti, Erni Novieastari. 2005. Penelusuran Hasil Penelitian tentang Intervensi
Keperawatan
dalam Pencegahan terjadinya Luka Dekubitus pada Orang Dewasa. Jakarta :
www.fikui.ac.id.
Notoatmodjo. 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Yogyakarta : Andi Offset.
Pranarka. 1999. Buku Ajar Geriatri, Ilmu Kesehatan Usila. Edisi 2. Jakarta : Balai
Penerbit
FKUI.
Sari, Yunita. Luka Tekan (Pressure Ulcer) : Penyebab Dan Pencegahan.
Purwokerto :
Universitas Jenderal Soedirman.
www. kalbefarma. Com. Cermin Dunia Kedokteran. ISSN : 0125-913X.
www. medicastore.com. 2004. Ulkus Dekubitus.
www. republika.com. 2004. Dekubitus