Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

(MANUSIA DAN KEBUDAYAAN)

Disusun oleh :

Kelompok 9
TL.16.D3

JAMALUDIN TASDIK 331610121


HELBI NURULHUDA 331610120
INTAN PERMATA SARI 331610048
ROMI FAUZI PRASETYA 331610050

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI PELITA BANGSA
BEKASI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena
keduanya memiliki hubungan satu sama lain dan sangat erat sekali kaitannya.
Manusia merupakan mahluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu
kelompok masyarakat. Manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu
sendiri, sementara kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala
manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. kebudayaan
merupakan hasil hubungan yang terpolakan berupa teknologi, kepercayaan, nilai
dan aturan yang berfungsi sebagai pedoman. Jadi kebudayaan bisa saja terbentuk
karena kebiasaan dari manusia tersebut dalam melakukan suatu aktivitas dan
perilakunya. Ketika sudah terbentuk kebudayaan di suatu dalam masyarakat maka
ketika ada individu atau manusia yang baru masuk kedalam masyarakat, individu
tersebut harus mengikuti kebudayaan yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.
Perlu adanya pemahaman mengenai manuisa dan kebudayaan yang lebih
mendalam guna mempererat peraturan dan kesatuan serta untuk menyadari
adanya keanekaragaman budaya yang berbeda dinegara kita. Hal tersebut apabila
tidak diperhatikan dengan baik dapat menimbulkan perpecahan didalam suatu
Negara, sehingga diperlukan pembelajaran mengenai masalah-masalah sosial serta
kebudayaannya yang senantiasa berhubungan dengan manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana hubungan antara manusia dan kebudayaan?
2. Apa saja contoh hubungan antara manusia dan kebudayaan?
3. Apa saja pengaruh kebudayaan di kehidupan manusia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan antara manusia dan kebudayaan.
2. Untuk mengetahui contoh hubungan antara manusia dan kebudayaan.
3. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan di kehidupan masyarakat.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa/i dapat menjelaskan hubungan antara manusia dan
kebudayaan.
2. Mahasiswa/i dapat mengetahui contoh hubungan antara manusia dan
kebudayaan.
3. Mahasiswa/i dapat mengetahui pengaruh kebudayaan di kehidupan
masyarakat.
1.4.2 Bagi Institusi
Diharapkan dapat memberi manfaat dan menambah wawasan pengetahuan
bagi mahasiswa/i Sekolah Tinggi Teknologi Pelita Bangsa pada mata kuliah Ilmu
Sosial Budaya Dasar dalam materi keterkaitan antara manusia dan kebudayaan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Manusia


Secara bahasa, manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), mens (Latin),
yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu
menguasai makhluk lain). Secara umum manusia adalah makhluk sosial yang
senantiasa membutuhkan orang lain, oleh karena itu manusia senantiasa
membutuhkan interaksi dengan manusia yang lain (Inrevolzon, 2013).
Pengertian manusia menurut beberapa ahli :
Wattimena, 2016
Manusia adalah mahluk dominan di bumi ini. Buah karyanya telah
mengubah wajah dunia. Ini semuamenjadi mungkin, karena manusia
mampu bekerja sama dengan berpijak pada prinsip-prinsip yang rasional.
Kerja sama yang erat ini tidak hanya membuat mereka kuat, tetapi juga
berkembang melampaui batas-batas fisik mereka sendiri.
Zuhairini, 2009
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk hidup yang paling
sempurna. Manusia dilengkapi dengan akal pikiran serta hawa nafsu.
Tuhan menanamkan akal dan pikiran kepada manusia agar dapat
digunakan untuk kebaikan mereka masing-masing dan untuk orang di
sekitar mereka.
Paulo Freire, 2002
Merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia.
Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah, dan hidup
dalam masa kini, yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia, yang
hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dari hewan dikarenakan
kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi
intensionalitas, keterarahan, temporaritas dan trasendensi) yang
menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk
menyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dan kesadaran manusia
bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat
epokal, yang menunjukan disini berhubungan disana, sekarang
berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. Manusia
menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah.
K. Bertens, 2005
Manusia dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia
tukang yang menggunkan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu
bagian yang lain manusia juga disebut homo ludens (mahluk yang senang
bermain). Manusia dalam bermain memiliki ciri khasnya dalam suatu
kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan
menyenangkan. Permainan dalam sejarahnya juga digunakan untuk
memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap
pemainan sebagai ritus suci.

2.2 Kebudayaan
2.2.1 Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari kata bud, budhi, budhaya dalam bahasa
sansekerta yang berarti akal, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil
pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan
yang berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang merupakan unsur
rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai
unsur jasmani. Sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar
manusia (Supartono, 2001)
E.B.Tylor (1871) dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture
mengemukakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang
didalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat
manusia sebagai anggota masyarakat.
Mudji Sutrisno (2008) menjelaskan bahwa sekarang ini kata kebudayaan
diartikan sebagai perwujudan kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang
yang berupaya mengolah dan mengubah alam sehingga membedakan manusia
dengan hewan. Dengan demikian kebudayaan tidak hanya pengetahuan, ala-alat,
pakaian, melainkan termasuk cara menghahayati kematian, cara melaksanakan
perkawinan dan lain-lain.
Koentjaraningrat (2000) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan
manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang
harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan
masyarakat.
Kebudayaan berarti mempelajari sesuatu soal dari kehidupan manusia,
baik seorang pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam hubungannya
dengan alam sekitarnya.Karena kebudayaan adalah alam pikiran dan mengasah
budi. Juga mempelajari seluruh segi kehidupan yang merupakan pernyataan dari
cara berfikir dan cara merasa masyarakat dan dapat dipahami bahwa seluruh segi
kehidupan diliputi oleh kebudayaan (Hikmayanti, 2008).

3.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Kebudayaan


Berikut adalah faktor yang dapat mempengaruhi suatu kebudayaan
menurut Sulastomo (2003).
Faktor Kitaran Geografis (lingkunngan hidup, geografisch milleu)
Faktor lingkungan geografis merupakan sesuatu corak budaya sekelompok
masyarakat. Dengan kata lain, faktor kitaran geografis merupakan
determinisme yang berperan besar dalam pembentukan suatu kebudayaan.
Faktor Induk Bangsa
Ada dua pandangan yang berbeda mengenai faktor induk bangsa ini, yaitu
pandangan barat dan pandangan Timur. Pandangan barat berpendapat
bahwa perbedaan induk bangsa dari beberapa kelompok masyarakat
mempunyai pengaruh besar tehadap suatu corak kebudayaan. Berdasarkan
pandangan barat, umumnya tingkat peradaban didasarkan atas ras. Oleh
karena itu, bangsa-bangsa yang berasal dari ras Caucasoid dianggap lebih
tinggi daripada ras lain, yaitu Mongoloid dan Negroid yang lebih rendah
dari ras Mongoloid yang memiliki ras khusus seperti Bushman (Afrika
Selatan), Vedoid (Sri Langka), dan Australoid (Australia). Tetapi,
pandangan Timur berpendapat bahwa peranan induk bangsa bukanlah
sebagai faktor yang mempengaruhi kebudayaan. Karena, kenyataannya
dalam sejarah budaya Timur sudah lebih dulu lahir dan cukup tinggi justru
pada saat bangsa barat masih tidur dalam kegelapan. Hal tersebut
semakin jelas ketika dalam abad XX, bangsa Jepang termasuk ras
Mongoloid mampu membuktikan bahwa mereka bangsa-bangsa Timur
tidak dapat dikatakan lebih rendah daripada bangsa Barat.
Faktor Saling Kontak antarbangsa
Hubungan yang makin mudah antarbangsa akibat sarana perhubungan
yang makin sempurna menyebabkan satu bangsa mudah berhubungan
dengan bangsa lain. Akibat adanya hubungan antarbangsa ini, dapat atau
tidaknya suatu bangsa mempertahankan kebudayaannya tergantung dari
pengaruh kebudayaan mana yang lebih kuat. Apabila kebudayaan asli
lebih kuat daripada kebudayaan asing maka kebudayaan asli dapat
bertahan. Tetapi apabila kebudyaan asli lebih lemah dari kebudayaan asing
maka lenyaplah kebudayaan asli dan terjadilah budaya jajahan yang
bersifat tiruan (colonial and imitative culture). Tetapi dalam kontak
antarbangsa ini, yang banyak terjadi adalah adanya keseimbangan yang
melahirkan budaya campuran (acculturation).

3.2.3 Unsur Kebudayaan


Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar
maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang
bersifat sebagai kesatuan. Beberapa ahli merumuskan unsur-unsur pokok
kebudayaan, misalnya Melville J. Herkovits (1948) mengajukan pendapatnya
tentang unsur kebudayaan. Dikatakannya bahwa hanya ada empat unsur dalam
kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuatan
politik. Sedangkan Bronislaw Malinowski mengatakan bahwa unsur-unsur itu
terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun
petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan (Soekanto, Sorjono, 2007).
Menurut Koentjaraningrat (2000), istilah universal menunjukkan bahwa
unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam
kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia.Ketujuh unsur
kebudayaan tersebut adalah :
a. Sistem Religi (sistem kepercayaan).
Merupakan produk manusia sebagai homo religieus. Manusia yang
memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas
kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar. Karena itu
manusia takut, sehingga lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi
agama.
b. Sistem organisasi kemasyarakatan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar
bahwa tubuhnya lemah namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi
kemasyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya.
c. Sistem pengetahuan
Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat
diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga dari orang
lain. Kemampuan manusia mengingat apa yang telah diketahui kemudian
menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa menyebabkan
pengetahuan menyebar luas. Lebih-lebih bila pengetahuan itu dibukukan,
maka penyebarannya dapat dilakukan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
d. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat
kehidupan manusia secara umum terus meningkat.
e. Sistem teknologi dan peralatan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari
pemikirannya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat
memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan
mempergunakan alat. Dengan alat-alat ciptaannya itulah manusia dapat
lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatang.
f. Bahasa
Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia
pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian
disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan, dan akhimya menjadi bentuk
bahasa tulisan.
g. Kesenian
Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia
dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan
psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi semata-mata memenuhi
kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu pandangan mata yang indah,
suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hubungan antara Manusia dan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah
manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang
dilaksanakan manusia. Dalam sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai
dwitunggal. Maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya
merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah
kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai
dengannya. Tampak bahwa keduanya akhimya merupakan satu kesatuan. Contoh
sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan
peraturan peraturan kemasyarakatan. Pada awalnya peraturan itu dibuat oleh
manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya harus patuh
kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu
merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu
kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang
membuatnya.
Hubungan yang erat antara manusia dan kebudayaan telah lebih jauh di
ungkapkan oleh Melville J. Herkovits dan Broinslaw Malinawski (1948) yang
mengemukakan bahwa cultural determinisme berarti segala sesuatu yang terdapat
didalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat
itu sendiri, kemudian Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang
super organic, karena kebudayaan turun-temurun dari generasi ke generasi tetap
hidup. Walaupun manusia yang menjadi anggota masyarakat sudah berganti
karena kelahiran dan kematian (Soemardjan, Selo, 1964).

3.2 Contoh Hubungan antara Manusia dengan Kebudayaan


1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan.
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di
Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di
Lampung, pihak laki-laki yang melamar.
2. Pola hidup di kota dan di desa yang berbeda
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak
yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani
untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak
desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai.
3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan
sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket,
pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-
masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan
kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.

3.3 Pengaruh Kebudayaan di Kehidupan Masyarakat


Mac Iver (1957) sebagai pakar sosiologi politik pernah mengatakan
Manusia adalah makhluk yang dijerat oleh jaring-jaring yang dirajutnya sendiri.
Jaring-jaring itu adalah kebudayaan. Maksudnya, kebudayaan adalah sesuatu yang
diciptakan oleh masyarakat tetapi pada gilirannya merupakan suatu kekuatan yang
mengatur bahkan memaksa manusia untuk melakukan tindakan dengan pola
tertentu. Kebudayaan bahkan bukan hanya merupakan kekuatan dari luar diri
manusia tetapi bisa tertanam dalam kepribadian individu . Dengan demikian
kebudayaan merupakan kekuatan pembentuk pola sikap dan perilaku manusia dari
luar dan dari dalam. Unsur paling sentral dalam suatu kebudayaan adalah nilai-
nilai yang merupakan suatu konsepsi tentang apa yang benar atau salah (nilai
moral), baik atau buruk (nilai etika) serta indah atau jelek (nilai estetika). Dari
sistem nilai inilah kemudian tumbuh norma yang merupakan patokan atau rambu-
rambu yang mengatur perilaku manusia di dalam masyarakat.
Dari uraian tersebut jelas sekali bahwa kebudayaan merupakan unsur
paling dasar (basic) dari suatu masyarakat, sehingga sampai sekarang sebagian
sosiolog dan antropolog masih menganut faham cultural determinism yaitu bahwa
sikap, pola perilaku manusia dalam masyarakat ditentukan oleh
kebudayaannya. Lawrence Harrison (2000) dalam bukunya Culture Matters
menggambarkan bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi kemajuan maupun
kemunduran manusia. Samuel Huntington memberi contoh bahwa pada tahun
1960-an Ghana dan Korea Selatan memiliki kondisi ekonomi yang kurang lebih
sama. Tiga puluh tahun kemudian Korea telah menjadi Negara maju, tetapi Ghana
hampir tidak mengalami kemajuan apapun dan saat ini GNP perkapitanya hanya
seperlimabelas Korea Selatan. Ini disebabkan karena bangsa Korea Selatan
memiliki nilainilai budaya tertentu seperti hemat, kerja keras, disiplin dan
sebagainya. Semua ini tidak dimiliki masyarakat Ghana (Harrison dan Samuel,
2000).
Secara umum kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu sistem
pengetahuan, gagasan, ide, yang dimiliki oleh suatu kelompok manusia, yang
berfungsi sebagai pengarah bagi mereka yang menjadi warga kelompok itu dalam
bersikap dan bertingkah laku. Karena berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap
dan bertingkah laku, maka pada dasarnya kebudayaan mempunyai kekuatan untuk
memaksa pendukungnya untuk mematuhi segala pola acuan yang digariskan oleh
kebudayaan itu. Dalam konteks Negara, kebudayaan merupakan sebuah penentu
penting bagi kemampuan suatu Negara untuk makmur, oleh karena budaya
membentuk pemikiran orangorang mengenai resiko, penghargaan dan
kesempatan. Sementara itu disisi lain, pembangunan pada dasarnya merupakan
proses aktivitas yang terus berkembang dan terencana yang ditujukan untuk
merubah dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi kearah yang lebih
baik dan wajar dari waktu ke waktu.

3.4 Manusia Lebih Dulu Ada Dibandingkan Budaya


Sudah jelas bahwa manusia lebih dulu ada di bandingkan dengan budaya
karena budaya dapat tercipta melalui hasil pemikiran atau akal manusia.
Manusia merupakan mahluk sosial yang hidup bermasyarakat, secara
umum masyarakat menunjuk kepada hubungan-hubungan yang terpolakan
yang dicapai diantara orang-orang jadi kebudayaan terbentuk karena
adanya hasil hubungan yang terpolakan dan hasil dari hubungan yang
terpolakan tersebut berupa adanya teknologi, kepercayaan, nilai dan aturan
yang berfungsi sebagai pedoman. Kebudayaan yang tercipta oleh manusia
digunakan sebagai alat untuk menjalani kehidupan karena sangat berperan
penting terhadap semua aspek yang ada dalam kehidupan mulai dari ada
istiadat, tingkah laku dalam bermasyarakat dan semua aspek aturan yang
berlaku didalam masyarakat. Kebudayaan akan terus berkembang dan
hidup karena adanya manusia sebagai salah satu pelaku terciptanya
kebudayaaan, dan adanya hasil karya manusia yang berupa teknologi
mempunyai kegunaan yang sangat penting karena sangat membantu
manusia untuk mempermudah dalam melakukan suatu aktivitas
dikehidupannya.
BAB IV

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi kesimpulan dari uraian di atas adalah hubungan manusia dan
kebudayaan sangatlah erat, sebab kebudayaan timbul karena hasil karya cipta dan
karsa dari manusia itu sendiri. Dengan adanya kebudayaan, manusia dapat
mengatur kehidupannya untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan. Kebudayaan
juga memengaruhi tingkat pengetahuan, kebiasaan dan pola hidup sehari-hari,
karena meliputi sistem, ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia.
Contoh hubungan antara manusia dan kebudayaan dapat tercermin dari
banyak hal, seperti kebudayaan yang terbentuk karena faktor ciri khas daerah,
faktor pola hidup, dan kebudayaan khusus kelas sosial.
Kebudayaan memberikan pengaruh yang kuat dalam kehidupan
bermasyarakat, karena kebudayaan dapat membentuk karakter dan perilaku,
bahkan bersifat mengatur manusia untuk melakukan tindakan dengan pola
tertentu.

3.2 Saran
Seperti pada penjelasan di atas bahwa manusia dan kebudayaan memiliki
kaitan yang sangat erat. Manusia membuat suatu kebudayaan dan kebudayaan
merupakan objek yang dilaksanakan manusia sehingga agar kedua kaitan atau
hubungan tersebut berjalan dengan selaras, serasi dan seimbang perlu ada
konsistensi dari keduanya. Dalam hal ini manusia harus patuh terhadap peraturan
yang dibuatnya sendiri. Karena kebudayaan itu sendiri merupakan perwujudan
dari manusia itu sendiri.

Daftar Pustaka
E.B.Tylor. 1871. Primitive culture. John Murrai: London

Harrison, L.E dan Huntington, Samuel. 2000. Culture Matters, How Value Shape
Human Progress. Basic Books: New York

Hikmyanti. 2008. Jurnal Filsafat Ilmu. Universitas Muhammadiyah


Prof.Dr.Hamka Fakultas Agama Islam

Inrevolzon. 2013. Jurnal Kebudayaan dan Peradaban Vol 13, No 2. Jurusan


Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Raden
Fatah Palembang

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Radar Jaya Offset: Jakarta

Iver Mac, RM and Charles. 1957. Society an Introductory Analysis.


Reinhart and Company Inc: New York

Soemarjan, Selo. 1964. Setangkai Bunga Sosial. Yayasan Badan Penerbit


Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Jakarta

Soerjono, Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada:


Jakarta .

Sulastomo. 2003. Reformasi Antara Harapan dan Realita. Penerbit Buku


Kompas: Jakarta

Supartono. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Ghalia: Jakarta

Sutrisno, Mudji. 2008. Filsafat Kebudayaan Ikhtiar Sebuah Teks. Cetakan


Pertama, Hujan Kabisat: Jakarta.