Anda di halaman 1dari 18

Survai dan pemetaan tanah adalah merupakan kegiatan penelitian tanah di lapangan yang

tujuannya adalah untuk mengklasifikasikan, menganalaisis dan memetakkan tanah dengan

mengelompokan tanah-tanah yang hampir sama sifatnya ke dalam satuan peta tanah (SPT)

tertentu. Survei dan pemetaan tanah tanah biasanya selalu diakhiri dengan pembuatan profil

tanah, maksudnya adalah untuk menentukan nama jenis dan orde tanah dalam satuan peta tanah

tertentu.

Profil tanah adalah penampang vertikal dari tanah yang menunjukan sususan horizon (O,

A, E, AB/EB, BA/BE, B, BC/CB, C dan R) kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan

dibedakan satu sama lain atas dasar warna, tekstur, struktur, konsistensi, sifat-sifat kimia,

susunan mineral dan lain-lain.

Pembuatan profil tanah dilakukan pada tempat-tempat yang mewakili satuan peta tanah

(SPT) atau pada satu polifedon. Profil tanah di buat dengan menggali lubang sampai kedalaman

150-200 cm atau sampai lapisan bahan induk jika solum tanah tebalnya kurang dari batas

tersebut.

Pengamatan penampang/profil tanah meliputi semua ciri-ciri morfologi tanah yang dapat

dilihat, dirasa atau dibedakan dengan alat-alat sederhana dari tiap-tiap lapisan atau horizon.

Pengamatan daerah sekeliling dengan mencatat semua faktor-faktor yang dapat memepengaruhi

pembentukan profil tanah atau kemampuan tanah untuk usaha pertanian. Pengamatan tersebut

dicatat dalam deskripsi profil tanah yang menggunakan kaidah-kaidah dan simbol-simbol

tertentu seperti yang diuraikan dalam soil taxsonomy (USDA,1975) dan soil survei manual

(USDA, 1951).

II. TUJUAN
Agar mahasiswa mengetahui, mengerti dan dapat melakukan pembuatan dan pengamatan profil

tanah di lapangan.

III. DASAR TEORI

Pengertian atau definisi tanah yang dewasa ini dikemukakan adalah berdasarkan dua

pemikiran yang berbeda yang sejak semula telah timbul, yaitu dari segi kimia dan geologi.

Seorang ilmuwan Jerman, yaitu Yustus von Liebig (1840), sependapat dengan beberapa ahli

sebelumnya, diantaranya yaitu Berzelius (Swedia) yang menggambarkan tanah sebagai

laboratorium kimia dari alam ini. Di dalam tanah terjadi berbagai penguraian kimiadan reaksi-

reaksi sintesis secara tersembunyi. Para ahli pedologi yang berlatar belakang geologi

menganggap bahwa tanah terbentuk dari batu-batuan dengan sejumlah bahan organic tertentu

sebagai hasil penguraian sisa-sisa tumbuhan.

Pengertian tanah berikutnya dating dari dua orang yang tidak terpengaruh satu sama lain,

yaitu Nilgard dan Docuchaiev (1877), masing-masing dari Anerika Serikat dan dari Rusia.

Menurut mereka pengertian tanah harus dihubungkan dengan iklim, dan dapat digambarkan

sebgai daerah-daerah (zone) geografi yang luas yang dalam skala peta dunia tidak hanya

dihubungkan dengan iklim tetapi juga dengan lingkungan tumbuh-tumbuhan. Meskipun hal ini

tidak sepenuhnya benar tetapi pengertian ini sudah mencakup atau memperhatikan alam

lingkungan.

Definisi dari joffe memiliki beberapa kelebihan, yaitu telah melibatkan unsur-unsur

fisika, kimia dan biologi, dan memperhatikan pentingnya segi morfologi dalam menggambarkan

tanah. tanah itu adalah suatu benda alam yang tersusun dari unsur-unsur hewani, mineral, dan
bahan organic yang dibedakan dari bahan-bahan di bawahnya dalam hal morfologi, sifat-sifat

fisik, kimia, dan biologinya.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa, dilihat dari sudut pertanin, tanah adalah

alat atau faktor produksi yang dapat menghasilkan berbagai produk pertanian. Peranan tanah

sebagai alat produksi adalah sebagai berikut :

- Tanah sebagai tempat berdirinya tanaman,


- Tanah sebagai gudang tempat unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman,
- Tanah sebagai tempat persediaan air bagi tanaman,
- Tanah dengan tata udara yang baik merupakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan

tanaman.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan untuk meneliti sifat-sifat tanah dengan baik

di lapangan, maka perlu dilakukan irisan tegak lurus

dari permukaan tanah ke bawah. Dari irisan tegak

lurus ini akan terlihat hubungan tanah yang

berada di permukaan bumi dengan benda-benda

bagian bawahnya sebagai pembentuk tanah. irisan

tegak lurus seperti ini umumnya sampai

kedalaman 150 cm, disebut profil tanah.


Secara garis besarnya profil

tanah dapat digambarkan

sebagai berikut:
Seluruh bagian yang merupakan tumbuhan bahan pecahan yang sudah merupakan

partikel yang kecil-kecil dan terdapat di atas batuan beku sering disebut regolith. Tebalnya

regolith itu bisa bermacam-macam, bisa tipis dan bisa tebal sekali ( 1,5 m), tergantung kepada

proses pembentukannya. Bahan-bahan pembentuk tanah terutama berasal dari batuan induk

setempat atau didatangkan dari tempat lain oleh gaya-gaya alami seperti oleh gaya aliran air,

angina, es, atau melalui proses-proses lain dan sedimentasi.


Bila lapisan bagian atas regolith tersebut diteliti dengan seksama maka akan terlihat

perbedaan-perbedaan iklim dan proses-proses hancuran oleh iklim. Di samping itu lapisan ini

merupakan zone perakaran tanaman dan tempat hidup berbagai mikroorganisme. Akibat proses

hancuran batuan induk yang berupa mineral yang dicampur adukan dengan hasil perombakan

sisa-sisa tanaman dan binatang membentuk lapisan teratas, yaitu yang disebut dengan tanah.
Dilihat dari dekat susunan tanah itu terdiri dari beberapa lapisan yang kira-kira pararel

dengan permukaan tanah dan disebut horizon-horizon, yaitu horizon A, B, dan C. Lapisan yang

paling atas biasanya berwarna lebih gelap atau kehitaman, lebih subur/gembur, merupakan

tempat pengolahan tanah dan disebut lapisan tanah atas (top-soil) atau lapisan olah. Tebal lapisan

ini 0 25 cm.
Lapisan tanah yang langsung di bawahnya dan langsung di atas lapisan bahan induk (hor.

C) disebut lapisan tanah bawah (sub-soil). Lapisan ini lebih tebal dari lapisan tanah atas dan

biasanya dibagi lagi ke dalam beberapa lapisan. Warnanya lebih muda dan lebih terang, lebih

padat, sedang kandungan bahan organiknya lebih sedikit.


a. Tanah sebagai suatu sistem yang heterogen

Tanah adalah suatu benda alam yang bersifat kompleks atau memiliki sistem yang

heterogen karena tersusun dati tiga fase, yaitu fase cairan, fase padat, dan fase gas. Bagian atau

fase padat terdiri dari bahan-bahan organic dan organic, fasegas adalah udara tanah, sedangkan

fase cairan adalah air tanah yang mengandung bahan-bahan yang terlarut di dalamnya. Bahan
organic terdiri dari sia-sisa tanaman dan hewan dan jasad-jasad hidup lainnya yang bersifat

makro atau mikro, yang hidup dalam tanah. Bahan organic terdapat dalam berbagai bentuk dan

ukuran yang terdiri dari pecahan batuan-batuan, mineral, dan berbagai senyawa-senyawa dan

garam yang biasa larut dalam air. Sedangkan udara tanah yang merupakan fase gas mengisi pori-

pori tanah, tetapi yang tidak ditempati oleh air tanah.

Tanah itu merupakan suatu sistem yang kompleks dan heterogen. Bagian padat disebut

pula matriks, terdiri dari butir-butir yang berlainan susunan kimia dan mineralnya, juga ukuran,

bentuk, dan arahnya.

Untuk memisahkan ketiga fase atau bagian tanah tadi tidak gampang oleh karena terdapat

interaksi satu sama lain. Meskipun demikian setiap fase dapat dinyatakan secara kuantitatif

dengan jalan mempelajari setiap fase secara skematik sebagai bagian-bagian tanah yang terpisah.

Untuk mendapat gambaran mengenai tanah yang kompleks ini, maka perlu juga digambarkan

mengenai bahian sususan agregat tanah dalam segumpal tanah tertentu yang terbentuk secara

alami.

a. Warna tanah

Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi

oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan

tanah umumnya oleh perbedaan kandungan bahan organic. Makin tinggi kandungan bahan

organic, warna tanah semakin gelap.

Hubungan warna tanah dengan kandungan bahan organic di daerah tropika sering tidak

sejalan dengan di daerah beriklim sedang (Amerika, Eropa). Tanah-tanah merah di Indonesia

banyak yang mempunyai kandungan bahan organic lebih dari 1% sama dengan kandungan bahan

organic tanah hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang.


Warna tanah akan berbeda bila tanah basah, lembab atau kering, sehingga dalam

menentukkan warna tanah perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab atau

kering.

b. Tekstur dan struktur tanah

Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya dari fraksi tanah halus. Berdasar atas

perbandingan anyaknya butir-butir pasir, debu, liat maka tanah dikelompokkan kedalam

beberapa kelas tekstur. Dalam klasifikasi tanah tingkat famili kasar halusnya tanah ditunjukkan

dalam kelas sebaran besar butir yan mencakup seluruh tanah. Kelas besar butir merupakan

penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan memperhatikan pula banyaknya fragmen

batuan atau fragsi tanah yang lebih besar dari pasir. Tanah-tanah bertekstur liat ukuran butienya

lebuh halus maka setiap satuan berat mempunyai luas luas permukaan yang lebih besar sehingga

kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah yang bertekstur halus lebih

aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno,2003)

Partikel-partikel tanah primer itu mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda dan

dapat digolongkan ke dalam tiga fraksi. Ada yang berdiameter besar sehingga dengan mudah

dapat dilihat dengan mata tenaljang, tetapi ada pula yang sedemikian halusnya, seperti koloidal,

sehingga tidak

dapat dilihat

dengan mata

telanjang.
Untuk menentukan kelas

tekstur suatu tanah secara teliti

sekali harus dilakukan analisa

tekstur di laboratorium yang disebut

analisa mekanik tanah. umpamanya

dari analisa ini diperoleh hasil 30 persen pasir, 3o persen liat, dan 40 persen debu, maka dengan

menggunakan segituga tekstur dapat dicari kelas struktur ini dan bisa diketahui banyak sifat-sifat

fisik lainnya seperti porositasnya, daya tahan terhadap air, ketersediaan air, mudah tidaknya

diolah, laju kecepatan infiltrasi, konsistensi, juga kandungan unsur hara yang tersedia,

menentukan jumlah butuhan akan air.

Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur tanah

ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti

bahan organik, oksida-oksida besi, dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil (struktur tanah) ini

mempunyai bentuk, ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda.


Struktur tanah dikelompokkan dalam 6 bentuk. Keenam bentuk tersebut adalah:

1) Granular, yaitu struktur tanah yang berbentuk granul, bulat dan porous, struktur ini terdapat pada

horison A.
2) Gumpal (blocky), yaitu struktur tanah yang berbentuk gumpal membuat dan gumpal bersudut,

bentuknya menyerupai kubus dengan sudut-sudut membulat untuk gumpal membulat dan

bersudut tajam untuk gumpal bersudut, dengan sumbu horisontal setara dengan sumbu vertikal,

struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim basah.


3) Prisma (prismatic), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada sumbu

horizontal dengan bagian atasnya rata, struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim

kering.
4) Tiang (columnar), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada sumbu

horizontal dengan bagian atasnya membuloat, struktur ini terdapat pada horison B pada tanah

iklim kering.
5) Lempeng (platy), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih kecil daripada sumbu

horizontal, struktur ini ditemukan di horison A2 atau pada lapisan padas liat.(6) Remah (single

grain), yaitu struktur tanah dengan bentuk bulat dan sangat porous, struktur ini terdapat pada

horizon A.
c. Konsistensi air

Konsistensi adalah daya tahan atau ketahanan tanah terhadap pengaruh-pengaruh luar

yang akan mengubah keadaanya.

Terdapat dua kekuatan utama yang bekerja atau berperan pada konsistensi tanah ini, yaitu

gaya kohesi (gaya tarik-menarik anatar molekul) dan gaya tegangan permukaan (adhesi) pada

berbagai kelembaban tanah. sebagai tambahan dari kedua gaya ini terdapat beberapa faktor lain

yang juga bekerja pada konsistensi tanah ini, yaitu kandungan bahan organic, oksida dan

hidroksida Fe dan Al dan kalsium karbonat.


Konsistensi yang paling besar yaitu pada keadaan paling kering yang disebabkan oleh

adanya gaya kohesi, konsistensi sedang pada waktu keadaan lembab karena adanya gaya adhesi,

dan konsistensi rendah/sangat rendah apabila dalam keadaan basah, sangat basah/jenuh air.

Berdasarkan kelembaban tanah maka konsistensi ini keadaannya dapat diuraikan sebagai

berikut :

- Pada keadaan kelembaban tinggi (jenuh air) tanah dalam keadaan dapat mengalir atau kental
- Apabila kadar air berangsur dikurangi maka tidak dapat mengalir lagi, keadaanya disebut lekat,

liat atau lunak


- Apabila kadar air lebih dikurangi lagi maka tanah akan kehilangan sifat melekatnya dan litany,

berubah menjadi gembur, retak-retak lunak, dan


- Bila kadar air lebih kurang dari (b) di atas, keadaan tanah menjadi kering, sukar dibelah, keras

dan kasar bila diraba, sehingga konsistensinya dinyatakan paling tinggi.


d. Reaksi tanah atau pH tanah
Reaksi tanah atau pH tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang

dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H +) di

dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam

tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH- , yang jumlahnya berbanding terbalik

dengan banyaknya H+ . Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H + lebih tinggi daripada OH- ,

sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+ . Bila kandungan H+ sama

dengan OH- maka tanah beraksi netral yaitu mempunyai pH = 7.


Nilai pH berkisar dan 0 14 dengan pH 7 disebut netral sedang pH kurang dari 7 disebut

masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun demikian pH tanah umumnya berkisar dari

3,0 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan pH 4,0 5,5 sehingga tanah

dengan pH 6,0 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak

masam.
Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari

3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung asam sulfat. Di
daerah yang sangat kering (arid) kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH>9,0) karena banyak

mengandung garam Na.


Pentingnya pH tanah
- Menentukkan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya unsur hara

mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tanah tersebut

kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap

tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al, sedang pada tanah alkalis unsur P tidak dapat diserap

tanaman karena difiksasi oleh Ca.


- Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah-tanah masam banyak

ditemukan ion-ion Al di dalam tanah, yang kecuali memfiksasi unsur P juga merupakan racun

bagi tanaman. Pada tanah-tanah rawa pH yang terlalu rendah (sangat masam) menujukkan

kandungan sulfat tinggi, yang juga mereupakan racun bagi tanaman. Di samping itu pada reaksi

tanah yang masam, unsur-unsur mikro juga menjadi mudah larut, sehingga ditemukan unsur

mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam

jumlah yang sangat kecil, sehingga menjadi racun kalau terdapat dalam jumlah yang etrlalu besar

termasuk unsur mikro dalam jenis ini adalah Fe, Mn, Zn, Cu, Co. unsur mikro yang lain yaitu

Mo dapat menjadi racun kalau pH terlalu alkalis. Di samping itu, tanah yang terlalu alkalis juga

sering mengandung garam yang terlalu tinggi yang juga dapat menjadi racun bagi tanaman.
- Mempengaruhi perkembangan mikroorganisme.
o Bakteri berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau lebih sedang pada pH kurang dari 5,5

perkembangannya sangat terhambat.


o Jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah. pada pH lebih dari 5,5 jamur

harus bersaing dengan bakteri.


o Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik

pada pH lebih dari 5,5.


o Mengubah pH tanah : tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pHnya dengan menambahkan

kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pHnya dengan

penambahan belerang.

IV. BAHAN DAN ALAT

ALAT:

1. Cangkul
2. Sekop
3. Pisau belati
4. Row meter atau mistar
5. Munsell soil color charts
6. Botol semprot
7. pH Universal indikator dan botol kocok
8. kaca pembesar
9. deskripsi profil tanah
10. lap pembersih

BAHAN:

1. Air dan aquades

V. CARA KERJA

1. Pemilihan tempat dan pembuatan profil tanah


Keadaan penampang profil tanah harus masih bersifat alami atau keadaan solum belum di rusak

oleh tenaga mekanis luar


Profil tanah tidak boleh dibuat di tempat bekas timbunan pupuk, tanah galian/timbuna, bekas

bangunan/jalan, kuburan, ubinan, persemayan, percobaan, dan pembungan sampah atau kotoran.
Untuk mencegah kesalahan kami membuat profil tanah tidak terlalu dekat dengan jalan saluran

air, perumahan, pekarangan, dan pabrik


Tempat yang akan dibuat lubang profi tanah dilakukan pemboran sedalam 120cm di 2-3 tempat

dengan jarak 1m. Jika 2-3 kali pemboran menunjukan kedaan tanah yang sama maka tempat

tersebut bisa dibuat lubang profil tanah


Lubang profil tanah dibuat dengan ukuran sesuai kebutuhan atau minimal ukuran yang

digunakan adalah 1,5m x 1 m x 1,5m - 2m


Penampang yang akan diperiksa dibuat disisi lubang yang mendapat sinar matahari. Bila

ditempat yang miring penmpang yang akan diperiksa dipilih pada lereng atas tanah bekas galian

tidak boleh ditimbun diatas sisi penampang yang akan diperiksa


2. Cara Pengamatan
Sebelum pengamatan dimulai perlu diperhatikan:
Penampang yang akan diteliti harus bersih dan terang
Semua alat-alat dan bahan harus bersih
Jika lubang profil berair maka air tersebut harus dibuang
Selanjutnya pengamatan tidak boleh dilakukan saat huajn turun, cahaya matahari masih/ sudah

lemah.
Bila keadaan tanah sangat kering sebaiknya penampang dibuat lembab dengan cara

menyemprotkan air

Berturut-turut pengamatan penampang dilakukan sebagai berikut:

Pada penampang profil dibuat tusukan-tusukan dengan pisau belati sambil dirasakan bagaimana

perbedaan kepadata tanah dari lapisan atas sampai bawah. Bersamaan dengan itu tangan kiri

meremas gumpalan tanah hasil cukilan maksudnya untuk mengetahi perbedaan konsistensi dan

tekstur serta perbedaan lainnya.


Pada bagian sisi penampang pasang rol meter mulai dari permukaan tanah sampai bagian dalam

lubang profil.
Sambil memperhatikan perbedaan warna dan tekstur dapat ditarik batas-batas lapisan (horizon)

pada tahap I, jika rna dan tekstur sama, maka perbedaan struktur, konsistens dan kandungan

bahan kasar/pragmen digunakan untuk menarik batas lapisan pada tahap II.
Setelah di dapat batas-batas lapisan/horizon kemudian dicatat tebalnya tiap-tiap lapisan pada

deskripsi profil tanah yang telah disiapkan.


Selanjutnay tiap-tiap lapisan/horizon berturut-turut dari atas kebawah tentukan dan catat pada

deskripsi profil tanah mengenai batas horizon, warna tanah, motlles, karatan, tekstur, konsistensi,
struktur, bahan organik, aktifitas fauna, selaput liat, perakaran, keadaan batuan dan sifat-sifat

lainnya yang menunjang terhadap pembentukan tanah dan kemampuan lahan.


Hasil pengamatan dari tiap-tiap lapisan dicatat pada deskripsi profil tanah berupa simbol-

simbol/singkatan dari hasil pengamatan tersebut dapat ditentukan nama horizon/simbol lapisan

dan selanjutnya ditentukan nama kalsifikasi tanah menurut system taxonomy USDA secara

tentative (sampai kategori great group)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Horison I II III

pH 5,5 6,5 7
36 - 70
Layer
depth (cm) 0 - 35 cm cm 71 - 125 cm
a c g d c c d
horizon boundary
s w l b w w w
f m a - f -
Mottles 1 2 3 - 1 -
f d p - d -
f m a - f -
1 2 3 - 2 -
Concreation
Fe Ca Mn - Mn -
w m h - m -
s ls sl l
Texture si cl scl sicl cl cl l
sc sic sil c
W so ss s vs ss s ss
po sp p vp po p p
M l vfr fr
Consistency fi fi efi
fi vfi efi
D l s sh
l sh sh
h vh eh
Structure 0 1 2 3 2 2 2
vf f m c vc f m vc
pl pr cpr abk
gr abk pl
sbk gr cr
h m l m l -
organic matter
fc hc sc hc sc -
fauna activity Z1 Z2 Z3 Z2 Z1 -
C
clay skin
C1 2 C3 - C3 C3
f m a a f f
Cracks
1 2 3 2 1 1
f m a f f f
Pores
1 2 3 1 1 1
f m a m f -
Roots
1 2 3 2 1 -
f m a - f m
stones/laterites
1 2 3 - 2 3

Description :
pohon pisang, nangka, pepaya dan rumput

Vegetation : liar
Present land use : campuran
Water table : -
bagu

Drainage class lands unit : s


Slope : -
Depth to sand, gravel, plinthite, gley, cat clay : -
Flooding (hours/days, depthof water on

month : -
Permeability rate/percolation : -
Sketch of land-form : -

B. Pembahasan
Dilihat dari perbedaan warna tanah, tanah mulai berubah warna saat lapisan berada di

kedalaman 35 cm, kedalaman ini dihitung dari atas. Kedalaman lapisan I adalah 0 cm - 35 cm,

kedalaman lapisan 2 adalah 36 cm - 70 cm dan kedalaman lapisan 3 adalah 71 cm - 125 cm. pH

masing-masing lapisan berturut-turut 5.5, 6.5 dan 7, Nilai pH ini menunjukan jika pada lapisan

I, II dan III bisa ditanami tanaman dan tanah ini berpotensi untuk subur tanpa harus ada

penambahan zat lain agar tanah ini menjadi netral karena pH ke 3 lapisan ini dalam pertanian

termasuk ke dalam kategori netral.

Pada lapisan pertama menurut tabel hasil adalah batas horizon ketajaman peralihannya

tegas (c) karena perbedaan warna dari lapisan pertama ke lapisan ke dua tegas atau terlihat cukup

jelas dengan lebar peralihannya 2,5 cm 6,5 cm dan bentuk topografinya berombak ( w ). Dalam

lapisan ini tidak terdapat bintik-bintik karatan (Mottles) dan konkresi ( Concreton ). Tekstur

lapisan ini adalah lempung berliat (cl) karena kekasarannya agak kasar, kelicinannya sedikit

licin, kelengketannya cukup lengket dan plastis, pembentukan bola dan benang tanahnya bola

sangat kohesif benang tanah daat dibentuk cincin. Konsistensi dalam keadaan basah ( W ) ialah

agak lekat ( ss ) dan tidak plastis ( po ), konsistensi dalam keadaan lembab (M) ialah teguh (fi)

dan konsistensi dalam keadaan kering ialah lepas (l). Tingkat perkembangan struktur/ derajat

kekerasan lapisan ini adalah lemah (2), ukuran strukturnya adalah halus (f) dan bentuk struktur

lapisan ini adalah berbutir ( gr). Kandungan bahan organik lapisan ini adalah medium atau

sedang, dengan tingkat pelapukannya kandungan bahan organik kasas antara 1/3 2/3 (hc).

Aktivitas Fauna pada lapisan ini adalah sedang (Z2) karena tidak terlalu banyak aktifitas fauna

pada lapisan ini. Celah-celah (crack) pada lapisan ini ialah sedang (c) dengan ukuran celahnya

sedang (2, 5 sampai 15 mm). Pori-pori ialah sedikit ( f ), dengan Ukuran 1 (halus, < 2 mm).
Perakarannnya banyak (m), dengan ukurannya sedang (2) atau sedang (2 mm -10 mm). Dan

tidak terdapat batuan di lapisan ini.

Lapisan II ini kedalamannya dari 36 cm sampai 74 cm dengan bats horizon jelas (c)

karena perubahan warna tiap lapisannya jelas dengan bentuk topografinya berombak (w). Jumlah

bintik-bintik karatan sedikit (f), ukuran karatannya halus (< 5 mm) dengan bandingan karatan

dengan tanahnya jelas, dan jenis karatannya ialah Mn karena ciri-ciri karatan Mn (warna

karatannya hitan dengan bentuk karatannya bulat benjol) terdapat pada lapisan ini. Jumlah

konkresi pada lapisan ini adalah sedikit dengan ukurannya sedang (2, 2 mm 5 mm), dengan

kekerasannya sedang. Tekstur lapisan ini adalah lempung berliat (cl) karena kekasarannya agak

kasar, kelicinannya sedikit licin, kelengketannya cukup lengket dan plastis, pembentukan bola

dan benang tanahnya bola sangat kohesif benang tanah daat dibentuk cincin. Konsistensi dalam

keadaan basah ialah leakt dan plastis, konsistensi dalam keadaan lembab ialah teguh (fi) dan

konsistensi dalam keadaan kering ialah keras (sh). Struktur derazat kekerasannya ialah cukup /

sedang (z) dengan ukurannya sedang, dengan bentuk strukturnya ialah gumpal menyudut (abk).

Bahan organik lapisan ini adalah rendah (L, < 2 %) terlihat dari warna tanah yang tidak gelap,

dengan tingkat pelapukan bahan organiknya ialah kasar < 1/3. Aktivitas fauna lapisan ini sedikit

(Z1). Selaput liat lapisan ini banyak (C3) karena ini merupakan lapisan ke 2. Celah-celah (Cracks)

dilapisan ini sedikit (f) karena tanahnya mengandung liat yang sangat banyak dengan ukuran

halus (< 5 mm ). Pori-pori tanah pada lapisan ini sedikit karena tanah mengandung sangat liat

yang sangat banyak dengan ukuran porinya halus. Perakaran pada lapisan ini ialah sedikit dengan

ukurannya halus (1, < 2 mm). Batuan pada lapisan ini adalah sedikit (f) dengan ukurannya

sedang (g).
Lapisan III, pada lapisan ini perubahan warna sudah terlihat dari kedalaman 75 cm sampai

125 cm, dengan batas horizon peralihannya baur (d) karena peralihan dari lapisan ke II ke lapisan

ke III tidak terlalu jelas dan bentuk topografinya berombak (w). Tidak ada karatan dalam lapisan

ini. Tekstur lapisan ini ialah lempung (l) karena dengan kekerasan tanah cukup kasar,

kelicinannya agak licin, kelengketan dan kelicinannya agak lengket dan plastis, pembentukan

bola dan benang tanah ialah bola cukup kohesip dan sukar dibentuk benang. Pori-pori lapisan ini

sedikit dengan ukurannya halus (1, < 2 mm), pada lapisan ini sudah tidak terdapat akar dan

terdapat banyak batuan induk (m) dengan ukuran batuan induk kasar (3, > 10 mm).

Di sekitar tanah galian terdapat pohon pisang pohon pepaya, rumput liar, pohon nagka,

disekitar lahan tidak ditanam tanaman tertentu atau tanaman yang di tanam bermacam-macam

dan sistem drainase di daerah ini bagus.

VII. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat di simpulkan bahwa :

1. Lapisan I mempunyai kedalaman 0 35 cm dengan batas horizon tegas, bentuk topografi

berombak (w), tidak terdapat karatan. Tekstur lapisan ini adalah lempung berliat (cl). Konsistensi

basah, lembab dan kering berturut-turut agak lekat dan agak plastis, halus (f) dan lepas (l).

Struktur derajat kekerasannya ialah lemah (1), bentuk strukturnya ialah berbutir (gr). Kandungan

bahan organiknya medium atau sedang. Aktifitas fauna lapisan ini ialah sedang (Z 2) .selaput liat

lapisan ini ialah tidak ada. celah celah pada lapisan ini sedang (C). Pori-pori lapisan ini sedikit

(f). Perakarannya Banyak (m). Dan tidak terdapat batuan pada lapisan ini.
2. Lapisan II mempunyai kedalaman 36 74 cm dengan batas horizon jelas (c), bentuk topografi

berombak (w), terdapat karatan dengan jenis karatan Mn. Tekstur lapisan ini adalah lempung

berliat (cl). Konsistensi basah, lembab dan kering berturut-turut lekat dan plastis , teguh (fi) dan
agak keras (sh). Struktur derajat kekerasannya ialah cukup (2), bentuk strukturnya ialah gumpal

menyudut (abk). Kandungan bahan organiknya rendah. Aktifitas fauna lapisan ini ialah sedikit

(Z1) . selaput liat lapisan ini ialah banyak (C3). celah celah pada lapisan ini sedikit (C). Pori-pori

lapisan ini sedikit (f). Perakarannya sedikit (f). Dan terdapat batuan pada lapisan ini (f).
3. Lapisan III mempunyai kedalaman 75 125 cm dengan batas horizon baur (c), bentuk topografi

berombak (w), tidak terdapat karatan. Tekstur lapisan ini adalah lempung (l). Konsistensi basah,

lembab dan kering berturut-turut agak lekat dan plastis, teguh sekali (Efi) dan keras sekali.

Struktur derajat kekerasannya ialah sedang (2), bentuk strukturnya ialah berbutir (gr).

Kandungan bahan organiknya tidak ada. Aktifitas fauna lapisan ini ialah tidak ada . selaput liat

lapisan ini ialah banyak (C3). celah celah pada lapisan ini sedikit (f). Pori-pori lapisan ini sedikit

(f). Perakarannya tidak ada. Dan terdapat banyak batuan pada lapisan ini.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, S. 2003. IlmuTanah. Akademika Presindo : Jakarta.

Sarief, Saifuddin. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana :

Kamis, 30 Mei 2013

http://laporandastan.blogspot.co.id/

Destiyanti Nur Sartika Dewi