Anda di halaman 1dari 14

ULANGAN TENGAH SEMESTER(UTS)

MAKALAH PERKEMBANGAN EVOLUSI KUDA

Dosen Pengampu:
Azza Nuzullah Putri.,M.Pd.

Oleh:

Rachma sakti oktaviani 140384205070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan kesempatan, kesehatan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan makalah tentang Perkembangan Evolusi Kuda yang merupakan
salah satu tugas yang diberikan kepada mahasiswa untuk melengkapi penilaian
dalam mengikuti mata kuliah Evolusi semester Genap

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Azza nuzullah putri selaku


dosen pengampu mata kuliah Evolusi, atas bimbingan dan materi yang telah
diberikan kepada penulis dalam kegiatan pekuliahan.

Andai kata dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat
memperbaiki penulisan di masa yang akan datang.

Tanjungpinang, April 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................4

1.1 Latar Belakang..........................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................5

1.3 Tujuan Masalah.........................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................6

2.1 Sejarah dan Perkembangan Evolusi Kuda.....................................................6

2.2 Bukti-Bukti Evolusi Kuda..............................................................................8

2.2.1 Kuda Zaman Eosen.................................................................................8

2.2.2 Kuda Zaman Oligosen............................................................................9

2.2.3 Kuda Zaman Miosen.............................................................................10

2.2.4 Kuda Zaman Pliosen.............................................................................11

2.3 Penemuan Terbaru Fosil Kuda Unicorn.......................................................12

BAB III PENUTUP...............................................................................................13

3.1 Kesimpulan..............................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan


suatu populasiorganisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-
perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi,
dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh genyang
diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam
suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai
sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen
akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies
yangbereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan
oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme.
Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum
atau langka dalam suatu populasi.

Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan
genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris
yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi
lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi
lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang
menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak
individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan
ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil
sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam.
Sementara itu, hanyutan genetik merupakan sebuah proses bebas yang
menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan
genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika
suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.

Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil,
perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial

4
pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies
yang baru. Kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain
mensugestikan bahwa semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang
yang sama melalui proses divergen yang terjadi secara perlahan ini. Dokumentasi
fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang biologi yang
dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga mengembangkan dan
menguji teori-teori yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan
fosil dan keanekaragaman hayati organisme-organisme hidup telah meyakinkan
para ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 bahwa spesies berubah dari waktu ke
waktu. Namun, mekanisme yang mendorong perubahan ini tetap tidaklah jelas
sampai pada publikasi tahun 1859 oleh Charles Darwin, On the Origin of
Species yang menjelaskan dengan detail teori evolusi melalui seleksi alam.
Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun
sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun
demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang
telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori
Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh
mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa
evolusi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah dan perkembangan evolusi kuda?


2. Apa saja bukti-bukti adanya evolusi kuda ?
3. Adakah penemuan hal-hal terbaru mengenai evolusi kuda?

1.3 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan evolusi kuda


2. Untuk mengetahui bukti-bukti evolusi kuda
3. Untuk mengetahui penemuan hal-hal terbaru mengenai evolusi kuda

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan Evolusi Kuda

Gambar 1 Rekam Jejak Evolusi Kuda (sumber : m.pulsk.com)

Lima belas juta tahun yang lalu, banyak hutan yang berubah menjadi
padang rumput. Hal ini terjadi karena meningkatnya intensitas iklim yang dingin
dan kering. Kondisi ini telah mengakibatkan banyak hewan kehilangan tempat
tinggal dan terpaksa hidup di habitat yang baru, padang rumput. Salah satu dari
hewan-hewan tersebut adalah seekor mamalia yang dinamakan "Hyracotherium".
Hewan ini hidup di Zaman Eosen. Hewan ini diduga sebagai nenek moyang dari
kuda yang hidup sekarang. "Hyracotherium" (Eohippus) adalah hewan herbivora
yang memiliki kelengkapan empat puluh empat gigi dengan mahkota gigi yang
rendah, gigi-gigi ini dipergunakan untuk mengunyah daun-daun dari pohon atau
semak.

"Hyracotherium" adalah "equine" pertama yang diketahui, banyak saintis


mempercayai bahwa mamalia inilah yang telah menurunkan berbagai jenis kuda
yang ada pada zaman sekarang. "Hyracotherium"(Eohippus) telah beradaptasi

6
dengan baik untuk hidup di padang rumput. Mamalia ini memiliki empat jari di
tiap-tiap kakinya. Jari-jemari ini berfungsi sebagai penyangga untuk menahan
hampir seluruh berat tubuhnya. "Hyracotherium"(Eohippus) berukuran kira-kira
sama dengan ukuran seekor kancil.

Pada Zaman Oligosen, "Hyracotherium"(Eohippus) mengalami


kepunahan. Akan tetapi, mamalia ini telah menurunkan keturunannya yang
dinamakan "Mesohippus". "Mesohippus" berukuran lebih besar daripada
"Hyracotherium". Struktur tubuh "Mesohippus" menunjukkan bahwa hewan ini
telah beradaptasi dengan sangat baik untuk hidup di padang rumput, hal ini
ditunjukkan dengan berkurangnya jumlah jari pada setiap kaki "Mesohippus"
menjadi tiga jari di setiap kakinya. Jari tengahnya juga lebih besar daripada jari-
jari lainnya. Selain itu, hewan ini juga memiliki kaki yang lebih kuat dan lincah
dibandingkan dengan "Hyracotherium". Hewan ini memiliki leher yang agak
panjang. Pada mulutnya, ditemukan beberapa gigi pra-geraham yang hampir
berkembang menjadi gigi geraham. Gigi seperti ini tentu akan meningkatkan
kemampuannya untuk mengunyah makanan.

Pada pertengahan Zaman Miosen, Hidup sejenis kuda yang disebut


"Merychippus". Spesies kuda ini diperkirakan merupakan keturunan dari
"Mesohippus". Seperti nenek moyangnya, "Merychippus" masih memiliki leher
yang agak panjang yang khas. Diduga, leher panjang ini berfungsi sebagai alat
bantu saat ia merumput, sehingga ia bisa merumput dengan tenang dengan posisi
berdiri. "Merychippus" memiliki tiga jari pada kaki belakangnya, dan empat jari
pada kaki depannya. Kaki "Merychippus" berkembang menjadi kaki yang
panjang, agak berbeda dangan kaki yang dimiliki kuda zaman sekarang.
Sekarang, "Merychippus" telah punah. Penyebab kepunahannya diperkirakan
akibat perubahan iklim besar-besaran yang mengakibatkan terjadinya zaman es.
Penelitian menunjukkan bahwa "Merychippus" telah menurunkan keturunan yang
berupa kuda zaman sekarang (Equus). Jari-jemari pada nenek moyangnya telah
berkurang jumlahnya sampai tinggal satu jari di setiap kakinya yang telah
dilindungi oleh kuku yang sangat keras dan telah termodifikasi. Struktur kaki
kuda zaman sekarangpun telah beradaptasi bukan hanya untuk hidup di padang

7
rumput tetapi juga untuk berlari dengan cepat. Jenis kaki ini membuat kuda dapat
berlari dengan sangat cepat tanpa khawatir akan resiko terkilir.

2.2 Bukti-Bukti Evolusi Kuda

Gambar 2 evolusi kaki kuda (Sumber: equinestudies.org)

2.2.1 Kuda Zaman Eosen

Kuda tertua yang diketahui sebagai best-known early Eocene horses adalah
Eohippus angustidens, yang artinya kuda pertama. Fosil dari spesies ini
ditemukan pada abad ke-19 di Amerika Utara. Kuda ini diyakini sudah ada pada
zaman Eosen di Amerika Utara, 50-56 juta tahun yang lalu . Hewan ini berukuran
sebesar kancil atau anjing dan tingginya hanya sekitar 30 cm . Diperkirakan kuda
pertama ini memiliki makanan utama berupa vegetasi berkayu/berherba dan buah.
Diperkirakan, gaya hidup kuda ini mirip dengan antelop Afrika masa kini. Giginya
yang berjumlah 22 pasang dengan tiga gigi pada setiap sisi gigi seri, satu taring,
empat gigi premolar, dan tiga gigi geraham yang hanya terspesialisasi sedikit
untuk menggiling makanan. Kaki depannya terdiri dari empat jari dan satu
rudimen, sedangkan kaki belakangnya mempunyai tiga jari dan dua jari rudiment.

8
Gambar 3. Eohippus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

2.2.2 Kuda Zaman Oligosen

Dua kuda yang dominan hidup di zaman Oligosen adalah Mesohippus dan
Miohippus. Keduanya muncul sekitar 34 juta tahun yang lalu dan makanannya
berupa rerumputan Miohippus lebih besar dari Mesohippus dan memiliki
tengkorak yang sedikit lebih panjang. Keduanya memiliki berat sekitar 40-55 kg,
50% lebih besar dari kuda Eosen, namun masih jauh lebih kecil dari kuda zaman
sekarang dengan perbedaan mencapai 500 kg. Mesohippus hidup dari zaman
Eosen akhir hingga pertengahan zaman Oligosen (11 juta tahun), sementara
Miohippus hidup dari zaman akhir Eosen hingga pertengahan Miosen (18 juta
tahun). Miohippus merupakan hasil evolusi dari Mesohippus setelah 8 juta tahun
sejak pertama munculnya Mesohippus. Keduanya memiliki 4 jari pada masing-
masing kaki depan dan 3 jari pada masing-masing kaki belakang .

Gambar 4. Mesohippus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

Gambar 5. Miohippus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

9
2.2.3 Kuda Zaman Miosen

Zaman yang terjadi sekitar 24 juta tahun yang lalu ini merupakan zaman di
mana evolusi kuda terjadi sangat pesat, mulai dari ukurna tubuh, jenis makanan,
dan perubahan signifikan pada alat gerak dan anatomi. Pada zaman ini, kuda
mencapai biodiversitas tertingginya.Bahkan, pada subfamili Equinae terdapat satu
spesies, yaitu Parahippus leonensis, yang berkembang menjadi 70 spesies. Pada
zaman ini, iklim dan vegetasi di Amerika Utara berubah. Padang rumput semakin
luas, sementara luas hutan semakin kecil. Hal ini mengubah jenis makanan kuda
pada zaman itu, yaitu menjadi rumput-rumputan. Pada awal Miosen, semua kuda
memiliki low-crowned teeth, sementara pada akhir Miosen, semua kuda memiliki
high-crowned teeth (Mihlbachler dkk., 2011). Pada zaman ini, ukuran tubuh kuda
lebih bervariasi. Ada yang lebih besar dari moyangnya, ada yang tetap sama,
bahkan ada yang lebih kecil dari moyangnya. Selain itu, vegetasi yang berbeda
menyebabkan mereka mengembangkan alat geraknya menjadi lebih cepat
sehingga dapat menghindari predator dan menjelajahi daerah untuk mencari
makan.

Pada pertengahan Zaman Miosen, hidup sejenis kuda yang disebut


Merychippus yang diperkirakan merupakan keturunan dari Mesohippus.
Merychippus memiliki leher yang agak panjang dan khas. Diduga, leher panjang
ini berfungsi sebagai alat bantu saat ia merumput. Merychippus memiliki tiga jari
pada kaki belakangnya dan kaki depannya. Kaki Merychippus berkembang
menjadi kaki yang panjang, agak berbeda dangan kaki yang dimiliki kuda zaman
sekarang. Pada mulutnya, ditemukan beberapa gigi pra-geraham yang hampir
berkembang menjadi gigi geraham. Gigi seperti ini tentu akan meningkatkan
kemampuannya untuk mengunyah makanan. Penyebab kepunahannya
diperkirakan akibat perubahan iklim besarbesaran yang mengakibatkan terjadinya
zaman es (Evans, 1992). Pada awal hingga pertengahan zaman Miosen, semua
kuda yang hidup tergolong tridaktil, yaitu memiliki tiga jari pada setiap kakinya.
Namun pada akhir Miosen, beberapa kuda menjadi monodaktil, antara lain kuda-
kuda dari suku Equini, yaitu Pilohippus, Astrohippus, dan Dinohippus
(MacFadden, 1992; Voorhies, 1981).

10
Gambar 6. Merrychippus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

2.2.4 Kuda Zaman Pliosen

Sekitar 4 juta tahun yang lalu, keragaman kuda mereduksi dari lima genus
menjadi satu genus, yaitu Equus. Spesies pertama dari genus ini adalah Equus
simplicidens, yang kemudian berkembang menjadi kuda masa kini, yaitu Equus
caballus. Pada awal zaman Pliosen, kuda berkembang menjadi Pliohippus.
Leluhur kuda jenis ini mempunyai satu jari pada tiap kakinya. Pliohippus
merupakan hewan monodaktil sejati yang pertama dalam sejarah evolusi. Struktur
kaki kuda zaman sekarang pun telah beradaptasi bukan hanya untuk hidup di
padang rumput tetapi juga untuk berlari dengan cepat. Jenis kaki ini membuat
kuda dapat berlari dengan sangat cepat tanpa khawatir akan resiko terkilir (Evans,
1992).

Gambar 7 Pliohippus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

11
Gambar 8. Equus (Sumber: Florida Museum of Natural History)

2.3 Penemuan Terbaru Fosil Kuda Unicorn

Gambar 9. Penemuan baru ilmuwan berupa fosil unicorn

lmuwan menemukan fosil mirip kuda bertanduk (unicorn). Penemuan


tersebut mungkin menjadi sebuah bukti bahwa binatang tersebut bukan cuma
mitos belaka. Ilmuwan menduga unicorn Siberia hidup berdampingan dengan
manusia. Menurut studi yang tertuang di American Journal of Applied
Science, makhluk tersebut punah sekitar 29.000 tahun yang lalu. Hal ini
didasarkan atas penemuan fosil unicorn di wilayah Pavlodar, Kazakhstan.
Sayangnya ketika diteliti, makhluk bertanduk tersebut tidak terlihat mirip kuda,
melainkan mirip badak. Unicorn Siberia memiliki tinggi 1,8 meter dengan pajang
4,5 meter dan berat 4 ton. Badannya yang bongsor dan berbulu membuatnya mirip
dengan gajah purba (mammoth).

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Evolusi berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi


organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fosil kuda tertua yang
dikenal yakni Hyracotherium (Eohippus), berevolusi menjadi Mesohippus,
kemudian berkembang menjadi Miohippus, dan berevolusi lagi menjadi
Merychippus, kemudian Pliohippus, dan evolusi terakhir menjadi Equus caballus
yang dikenal hingga saat ini.

Kuda mulai berevolusi, ketika spesies mulai muncul dan berkembang, para
equid mulai berganti makanan dari dedaunan menjadi rerumputan, yang berujung
pada gigi yang lebih kuat dan lebih awet. Evolusi kuda didorong oleh dua
mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.flmnh.ufl.edu/fhc/Stratmap1.htm (diakses 17 april 2017)

13
http://www.equinestudies.org/evolution_horse_2008/elsevier_horse_evolution_20
08_pdf1.pdf (diakses 17 april 2017)

http://www.biologimu.com/2015/12/evolusi-kuda.html (diakses 17 april 2017)

http://jurnal.kesimpulan.com/2012/06/asal-usul-domestikasi-kuda-6000-
tahun.html (diakses 17 april 2017)

https://en.wikipedia.org/wiki/Evolution_of_the_horse (diakses 18 april 2017)

https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi_kuda (diakses 18 april 2017)

http://www.solopos.com/2016/04/01/penemuan-baru-ilmuwan-temukan-fosil-
unicorn-mungkin-tak-hanya-mitos-706508 (diakses 18 april 2017)

14