Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KASUS

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Legal


Ethic Nursing yang dibimbing oleh Ns. Septi Dwi Rahmawati,
S.Kep., MN. (SDR)

Disusun oleh :

Kelompok 3:

1. Cynthia Putri Irawan (155070200111008)


2. Samuel Bayu Santosa Hari Susila (165070200111010)
3. Sandra Listanti Dewi (165070200111012)
4. Amira Diana Islami (165070207111004)
5. Chintya Clara Abidha Dewantari (165070207111006)
6. Rizky Karuniawati (165070201111020)
7. Rachel Victoriana Raharjo (165070207111008)

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

1
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kesadaran masyarakat akan Hak-hak dan Kewajiban dari Hukum Negara
Republik Indonesia. Hal yang merupakan salah satu indikator positif
meningkatnya kesadaran hukum dalam masyarakat. Sisi negatifnya adalah adanya
kecenderungan meningkatnya kasus malpraktek dikalangan tenaga medis,
diadukan atau bahkan dituntut pasien yang akibatnya sering terdapat kita jumpai
dan sat ini membekas bahkan mencekam para tenaga medis yang pada gilirannya
akan mempengaruhi proses pelayanan kesehatan dimasa yang akan datang.
Masalahnya tidak setiap upaya pelayanan kesehatan hasilnya selalu memuaskan
semua pihak dan itu terutama pasien, yang pada gilirannya dengan mudah
menimpakan beban kepada pasien. Bahwa telah terjadi malpraktek. Kasus
malpraktek yang sering dipahami sebagai kelangan tenaga medis juga harus
dianalisis juga lebih dalam terkait alat-alat tenaga medis yang menjadi penunjang
keberhasilan pada proses pelayanan kesehatan. Terkait kasus-kasus yang muncul
mengenai malpraktek, kasus ini terjadi adalah dugaan kasus malpraktek di RSUD
yaitu pasiennya masih berumur anak-anak, karena sakit demam panas tinggi. Dan
ini dilakukan oleh seorang perawat yang kurang teliti mendengarkan intruksi dari
dokter. Sehingga dalam memberikan tindakan Asuhan keperawatan salah. Dan itu
tanpa persetujuan dari pihak keluarga pasien. Mengingat semakin maraknya
kemunculan kasus-kasus malpraktek yang terjadi saat ini bersamaan dengan
semakin meningkatnya kemajuan dalam pelayanan medis, maka kasus malpraktek
ini harus dikaji sebagai sebuah kasus kriminalitas yang terjadi akibat suatu
kelalayan dan propesionalitas tenaga medis.

1.2 Rumusan Masalah

2
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dilihat masih adanya pelayanan kesehatan
oleh tenaga medis yang kurang memuaskan pada pasien. Maka permasalahan
yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

1. Jelaskan tentang masalah malpraktek dari tenaga medis?


2. Jelaskan dan sebutkan tentang prinsip kode etik tentang masalah
malpraktek tenaga medis?
3. Bagaimana upaya dokumentasi dan rekam medis untuk masalah
melpraktek untuk tenaga medis?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan tentang masalah malpraktek

2. Memahami prinsip kode etik dalam masalah malpraktek tenaga medis

3. Menjelaskan tentang dokumentasi serta hasil rekam medis dari masalah


malpraktek tenaga medis

1.4 Manfaat Penulisan


1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan terutama
yang berkaitan dengan malpraktek tenaga medis.
2. Memahami permasalahan yang berkaitan dengan malpraktek tenaga
medis serta upaya-upaya untuk mencegahnya.
3. Memahami tuntutan hukum terhadap malpraktek tenaga medis.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu
berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan
praktek mempunyai arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek
berarti pelaksanaan atau tindakan yang salah. Meskipun arti harfiahnya demikian
tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya
tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.

Sedangkan definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari


seorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu
pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan
terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Malpraktek juga dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang biasa terjadi dan
dilakukan oleh oknum yang tidak mau mematuhi aturan yang ada karena tidak
memberlakukan prinsip-prinsip transparansi atau keterbukaan,dalam arti harus
menceritakan secara jelas tentang pelayanan yang diberikan kepada konsumen,
baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya yang diberikan.

Malpraktek adalah kegagalan seorang profesional untuk melakukan


sesuatu sesuai dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang karena
memiliki keterampilan dan pendidikan (Vestal, K.W,1995)

Hal serupa diutarakan oleh J. Guwandi dengan mengutip Blacks Law


Dictionary,

Malpraktek adalah, setiap sikap tindak yang salah, kekurangan keterampilan


dalam ukuran tingkat yang tidak wajar. Istilah ini umumnya dipergunakan
terhadap sikap tindak dari para dokter, pengacara dan akuntan. Kegagalan
untuk memberikan pelayanan profesional dan melakukan pada ukuran tingkat

4
keterampilan dan kepandaian yang wajar di dalam masyarakatnya oleh teman
sejawat rata-rata dari profesi itu, sehingga mengakibatkan luka, kehilangan
atau kerugian pada penerima pelayanan tersebut yang cenderung menaruh
kepercayaan terhadap mereka itu. Termasuk di dalamnya setiap sikap tindak
profesional yang salah, kekurangan keterampilan yang tidak wajar atau kurang
kehati-hatian atau kewajiban hukum, praktek buruk atau ilegal atau sikap
immoral. Any professional misconduct, unreasonable lack of skill. This
term is usually applied to such conduct by doctors, lawyers, and accountants.
Failure of one rendering professional services to exercise that degree of skill and
learning commonly applied under all the circumstances in the community by the
average prudent reputable member of the profession with the result of injury,
loss or damage to the recipient of those entitled to rely upon them. It is any
professional misconduct, unreasonable lack of skill or fidelity in professional or
judiciary duties, evil practice, or illegal or immoral conduct.

Malpraktek tidaklah sama dengan kelalaian. Malpraktek bersifat lebih


spesifik dan terkait dengan status profesional seseorang. Ellis dan Hartley (1998)
mengungkapkan bahwa malpraktek merupakan batasan yang spesifik dari
kelalaian yang ditujukan kepada seseorang yang terlatih atau berpendidikan
dalam kinerjanya sesuai bidang tugas/pekerjaannya.

Kelalaian memang bisa masuk di dalam pengertian malpraktek, tetapi


tidak semua malpraktek merupakan bentuk kelalaian. Malpraktek bersifat lebih
luas daripada kelalaian, karena dalam malpraktek bisa mencakup tindakan-
tindakan yang dilakukan dengan sengaja (criminal malpractice) atau melanggar
hukum dan Undang-undang. Artinya di dalam malpraktek bisa jadi tersirat
adanya motif (guilty mind).

Untuk menentukan secara pasti sebuah tindakan itu adalah malpraktik,


maka harus terpenuhi hal-hal berikut ini :

a. Peristiwa terjadi saat pelaku sedang menjalankan tugasnya.

5
b. Adanya penyimpangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku terhadap
kewajiban profesionalnya.

c. Adanya cedera yang dialami korban.

d. Cedera yang terjadi merupakan akibat langsung dari tindakan salah yang
dilakukan pelaku.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktek adalah :

1. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang
profesional

2. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang profesional


dengan kata lain melalaikan kewajibannya (negligence)

3. Melanggar suatu ketentuan peraturan atau perundang-undangan.

2.3 Jenis-Jenis Malpraktek

Sesuai bidang hukum yang dilanggar maka malpraktek dikategorikan


menjadi 3 jenis, yaitu :

2.3.1 Criminal Malpractice

Criminal practice merupakan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku.


Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice
manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana,yaitu :

1. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan


tercela.

2. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intentional) misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka
rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263
KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).

6
Kecerobohan (reklessness) misalnya melakukan tindakan medis tanpa
persetujuan pasien informed consent. Atau kealpaan (negligence) misalnya
kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien,
ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.
Pertanggungjawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah
bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada
orang lain atau kepada badan yang memberikan sarana pelayanan jasa
tempatnya bernaung.

2.3.2 Civil Malpractice

Civil Practice merupakan pelanggaran terhadap kode etik profesi.


Seorang tenaga jasa akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang
telah disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga jasa yang dapat dikategorikan
civil malpractice antara lain :

1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.

2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi


terlambat melakukannya.

3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak


sempurna.

4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi


dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle ofvicarius liability.
Dengan prinsip ini maka badan yang menyediakan sarana jasa dapat
bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya selama orang
tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.

7
2.3.3 Administrative Malpractice

Tenaga jasa dikatakan telah melakukan administrative malpractice


manakala orang tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui
bahwa dalam melakukan police power, pemerintah mempunyai kewenangan
menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang
persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin
Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga perawatan.
Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan
dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.

2.4 Malpraktek Dalam Keperawatan

Sesuai pengertian malpraktek yang dikemukakan oleh Ellis dan Hartley


(1998) maka Malpraktek dalam keperawatan adalah suatu batasan yang
digunakan untuk menggambarkan kelalaian perawat dalam melakukan
kewajibannya.

Caffee (1991) dan Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area yang


memungkinkan perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian
keperawatan (assessment errors), perencanaan keperawatan (planning errors),
dan tindakan intervensi keperawatan (intervention errors).

2.4.1 Assessment Errors

Adalah kesalahan penilaian dalam melakukan asuhan keperawatan


Termasuk kegagalan mengumpulkan data atau informasi tentang pasien secara
memadai atau kegagalan mengidentifikasi informasi yang diperlukan, seperti data
hasil pemeriksaan laboratorium, tanda-tanda vital, atau keluhan pasien yang
membutuhkan tindakan segera. Kegagalan dalam pengumpulan data akan
berdampak pada ketidaktepatan diagnosis keperawatan dan lebih lanjut akan
mengakibatkan kesalahan atau ketidaktepatan dalam tindakan. Untuk

8
menghindari kesalahan ini, perawat seharusnya dapat mengumpulkan data dasar
secara komprehensif dan mendasar.

2.4.2 Planning Errors

Adalah kesalahan dalam melakukan perencanaan asuhan keperawatan.


Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskannya dalam


rencana keperawatan.

2. Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana keperawatan yang telah


dibuat, misalnya menggunakan bahasa dalam rencana keperawatan yang tidak
dimahami perawat lain dengan pasti.

3. Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara berkelanjutan yang


disebabkan kurangnya informasi yang diperoleh dari rencana keperawatan.

4. Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien. Untuk


mencegah kesalahan tersebut, jangan hanva menggunakan perkiraan dalam
membuat rencana keperawatan tanpa mempertimbangkannya dengan baik.
Seharusnya, dalam penulisan harus memakai pertimbangan yang jelas
berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi rencana
berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus realistis berdasarkan
standar yang telah ditetapkan, termasuk pertimbangan yang diberikan oleh
pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan maupun dengan tulisan.
Lakukan tindakan berdasarkan rencana dan lakukan secara hati-hati instruksi
yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.

9
2.4.3 Intervention Errors

Adalah kesalahan dalam melakukan tindakan langsung terhadap pasien


termasuk kegagalan menginterpretasikan dan melaksanakan tindakan kolaborasi,
kegagalan melakukan asuhan keperawatan secara hati-hati, kegagalan
mengikuti/mencatat order/pesan dari dokter atau dari penyelia. Kesalahan pada
tindakan keperawatan yang sering terjadi adalah kesalahan dalam membaca
pesan/order, mengidentifikasi pasien sebelum dilakukan tindakan/prosedur,
memberikan obat, dan terapi pembatasan (restrictive therapy). Dari seluruh
kegiatan ini yang paling berbahaya tampaknya pada tindakan pemberian obat.
Oleh karena itu, perlu adanya komunikasi yang baik di antara anggota tim
kesehatan maupun terhadap pasien dan keluarganya.

2.5 Kajian Etika Dan Hukum Terhadap Malpraktek Keperawatan

Apabila terjadi malpraktek dalam bidang keperawatan maka secara umum


kejadian malpraktek tersebut dapat ditinjau dari dasar hukum dan etika yang
bersumber kepada Kode Etik Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Undang-
undang Keperawatan, dan Kitab undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

2.6 Upaya Pencegahan Malpraktek

Meskipun kelalaian dan malpraktek bisa terjadi karena ketidaksengajaan


namun hal tersebut sesungguhnya dapat dicegah dengan tindakan-tindakan yang
terencana dan sistematis. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh seorang
perawat untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya malpraktek keperawatan,
yaitu :

2.6.1 Kesadaran Diri (Self-Awareness)

Yaitu mengidentifikasi dan memahami pada diri sendiri tentang kekutan


dan kelamahan dalam praktik keperawatan. Bila terindentifikasi akan kelemahan

10
yang dimiliki maka berusahalah untuk mencari penyelesaiannya. Beberapa hal
yang dapat dilakukan yaitu melalui pendidikan, pengalaman langsung, atau
berdiskusi dengan teman sekerja/kolega. Apabila berhubungan seorang
supervisor, sebaiknya bersikap terbuka akan kelemahannnya dan jangan
menerima tanggung jawab dimana perawat yang bersangkutan belum siap untuk
itu. Jangan menerima suatu jabatan atau pekerjaan kalau menurut kriteria yang
ada tidak dapat dipenuhi.

2.6.2 Beradaptasi Terhadap Tugas Yang Diemban

Tenaga keperawatan yang diberikan tugas pada suatu unit perawatan


dimana dia merasa kurang berpengalaman dalam merawat pasien yang ada di unit
tersebut, maka sebaiknya perawat perlu mengikuti program orientasi/program
adaptasi di unit tersebut. Perawat perlu berkonsultasi dengan perawat senior yang
ada di unit tersebut

2.6.3 Mengikuti Kebijakan Dan Prosedur Yang Ditetapkan

Seorang perawat dalam melaksanakan tugasnya harus sealu


mempertimbangkan kebijakan dan prosedur yang berlaku di unit tersebut. Ikuti
kebijakan dan prosedur yang berlaku secara cermat, misalnya kebijakan/prosedur
yang berhubungan dengan pemberian obat pada pasien.

2.6.4 Mengevaluasi Kebijakan Dan Prosedur Yang Berlaku

Ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan bersifat dinamis artinya


berkembang secara terus menerus. Dalam perkembangannya, kemungkinan
kebijakan dan prosedur yang ada diperlukan guna menyesuaikan dengan
perkembangan yang terjadi. Oleh karena itu itu ada kebutuhan untuk
menyeuaikan kebijakan dan proseudr atau protokol tertentu. Untuk itu merupakan
tanggung jawab perawat profesional bekerja guna mempertahankan mutu
pelayanan sesuai dengan tuntutan perkembangan.

11
2.6.5 Pendokumentasian

Pencatatan perawat dapat dikatakan sesuatu yang unit dalam tatanan


pelayanan kesehatan, karena kegiatan ini dilakukan selama 24 jam. Aspa yang
dicatat oleh perawat merupakan faktor yang krusial guna menghindari suatu
tuntutan. Dokumentasi dalam suatu pencatatan adalah laporan tentang
pengamatan yang dilakukan, keputusan yang diambil, kegiatan yang dilakukan,
dan penilaian terhadap respon pasien.

Oleh karena setiap kasus ditentukan adanya fakta yang medukung suatu
tuntutan, maka diperlukan pencatatan yang jelas dan relevan. Pencatatan
diperlukan secara jelas, benar, dan tepat sehingga dapat dipahami.

Vestal, K.W (1995) memberikan pedoman guna mencegah terjadinya


malpraktik, sebagai berikut :

1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri.
Layani pasien dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan
yang tepat dan laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat
mempunyai kewajiban untuk menyusun pengkajian dan melaksanakan
pengkajian dengan benar.

3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap


tindakan yang akan dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan
kondisi pasien, diskusikan bersama dengan tim keperawatan guna
memberikan masukan yang diperlukan bagi tim kesehatan lainnya.

4. Tanyakan saran/order yang diberikan oleh dokter jika : Perintah tidak jelas,
masalah itu ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang
meragukan atau tidak tepat sehubungan dengan perubahan dari kondisi
kesehatan pasien. Terima perintah dengan jelas dan tertulis.

5. Tingkatkan kemampuan anda secara terus menerus, sehingga


pengetahuan/kemampuan yang dimiliki senantiasa up-to-date. Ikuti

12
perkembangan yang terbaru yang terjadi di lapangan pekerjaan dan
bekerjalah berdasarkan pedoman yang berlaku.

6. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai.

7. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan.


Hindari kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.

8. Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan


keperawatan. Nyatakanlah secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera
mungkin fakta yang anda observasi secara jelas.

9. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja


berdasarkan kebijakan organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang
berlaku.

10.Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan ketahui lingkup tugas masing-masing.


Jangan pernah menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang
tidak dapat anda tangani

13
BAB III
PEMBAHASAN

Kasus
Perawat Jo lulusan pendidikan Ners dan bekerja di ruangan anak RSUD. Saat
dinas malam, keluarga pasien melaporkan demam anaknya semakin tinggi,
kemudian perawat memberikan kompres dan melaporkan kondisi pasien melalui
telepon ke dokter jaga dan diberkan instruksi untuk memberikan obat penurun
panas pada pasiennya tanpa meminta persetujuan tindakan kepada keluarga
pasien. Setelah memberikan tindakan, perawat lupa tidak mendokumentasikan
instruksi dokter dan tindakannya pada rekam medis. Setelah satu jam panas pasien
turun dan naik kembali sampai kejang-kejang dan meninggal. Keluarga pasien
menuduh perawat salah memberikan perawatan dan menuntut
pertanggungjawaban secara hukum karena melakukan tindakan malpraktik.

Analisis Kasus
Sebelum menganalisis kasus, harus ditentukan masalah yang terjadi pada
kasus tersebut seperti hal apa saja yang seharusnya dilakukan oleh perawat dan
prosedur keperawatannya, tetapi kenyataannya tidak. Kemudian menentukan atau
mengidentifikasi komponen yang terlibat baik internal maupun eksternal,
menentukan apa saja pelanggaran yang terjadi, dan sanksi apa yang akan
diberikan jika perawat/tenaga medis melanggar.
1. Permasalahan pada kasus
a. Perawat Jo tidak memberikan informed consent atau meminta persetujuan
kepada keluarga pasien. Meminta persetujuan dari pasien atau keluarga
pasien adalah hal yang sangat penting bagi perawat sebagai acuan untuk
melakukan tindakan keperawatan lebih lanjut. Pada kasus perawat Jo ini,
mungkin saja pasien memiliki alergi pada obat tertentu yang dengan
meminta persetujuan dari keluarga pasien perawat Jo akan mengetahui
obat yang diberikan akan menimbulkan reaksi alergi pada pasien dan
perawat Jo dapat mengganti obat tersebut dengan obat lain yang aman
untuk pasien.

14
b. Perawat Jo tidak mendokumentasikan instruksi dokter dan tindakannya
pada rekam medis. Rekam medis sangat penting sebagai sumber
informasi dan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tidakan
medis selanjutnya.
c. Perawat Jo lupa atau lalai menjalankan kewajibannya sampai
menyebabkan pasien meninggal dunia. Kelalaian yang menyebabkan
kematian pasien atau kecacatan pada pasien dapat digolongkan sebagai
tindakan malpraktek.

2. Komponen yang terlibat


Komponen atau unsur yang terlibat pada kasus adalah pasien/keluarga,
perawat Jo, dokter jaga, kepala ruangan, dan staf rumah sakit. Pada kasus
ini, pasien/keluarga terlibat karena mereka adalah pihak yang dirugikan
dan penuntut ganti rugi. Perawat terlibat karena telah melanggar kode etik
dan hukum yang telah ditentukan, dokter jaga terlibat karena memberikan
instruksi kepada perawat. Kepala ruangan dan staf rumah sakit terlibat
karena kejadian yang terjadi berlangsung di ruangan rumah sakit.

3. Pelanggaran yang terjadi


Pada kasus perawat Jo di atas, kasus tersebut dapat dikategorikan sebagai
malpraktek yang dapat ditinjau dari segi etik keperawatan dan hukum
kesehatan/keperawatan.
Malpraktek dilihat dari segi etik.
Kasus di atas dapat dikategorikan malpraktek pada segi etik karena
perawat Jo telah melanggar kode etik keperawatan yang telah disusun
melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta, yaitu kode etik
keperawatan yang pertama yang menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Isinya adalah perawat
harus menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga, dan
masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan
yang dimana hal ini gagal dilakukan oleh perawat Jo, yaitu tidak menjalin
kerja sama dengan keluarga pasien dengan tidak memberikan informed

15
consent atau meminta persetujuan kepada keluarga pasien terhadap
tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
Malpraktek dari segi hukum
Malpraktek yang terjadi dapat ditinjau dari segi hukum karena telah
menyalahi undang-undang yang berlaku, peraturan menteri, dan hukum
pidana yang berlaku.

4. Peraturan yang dilanggar


Maka berdasarkan kasus, perawat Jo melanggar pasal-pasal berikut:
Pasal 56 ayat (1), tentang setiap orang berhak menerima atau menolak
sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan
kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai
tindakan tersebut secara lengkap.
Pasal 8, tentang setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data
kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah
maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
HK.02.02/MenKes/148/I/2010 pasal 12 mengenai menghormati hak
pasien, memberikan informasi tentang masalah pasien dan pelayanan
kesehtan yang dibutuhkan, meminta persetujuan tindakan keperawatan
serta mencatat asuhan keperwatan secara sistematis.
Sanksi dari pelanggaran yang dilakukan dapat berupa teguran lisan,
teguran tertulis, hukuman pidana dengan ancaman 5 (lima) tahun atau
lebih, hukuman perdata dengan pencabutan SIP dan SIK dan perawa
harus mengikuti pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill yang
dimiliki.
UU No.23 tahun 1992 pada pasal 55 ayat (1) menjelaskan bahwa setiap
orang dapat menuntut ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan maka perawat Jo dapat ditutut akibat
kelalaian pada tindakan medisnya.
Sanksi pidana dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
yang dapat diberlakukan adalah pasal 359, 360, dan 361, yaitu:

16
a) Pasal 359
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain,
diancam dengan pidana penjarapaling lama lima tahun atau
kurungan paling lama satu tahun.
b) Pasal 360 ayat (1)
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain
mendapatkan luka-luka berat, diancam denga pidana penjara paling
lama satu tahun.
c) Pasal 360 ayat (2)
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-
luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu
tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling
tinggi tiga ratus rupiah.
d) Pasal 361
Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah
dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut hak untuk
menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim
dapat memerintah supaya putusannya diumumkan.

5. Sanksi yang diterima


Sanksi dari pelanggaran yang dilakukan dapat berupa teguran lisan, teguran
tertulis, hukuman pidana dengan ancaman 5 (lima) tahun atau lebih,
hukuman perdata dengan pencabutan SIP dan SIK (KUHP pasal 361) dan
perawat harus mengikuti pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill yang
dimiliki.

17
18
BAB IV

PENUTUP

4.1.
Kesimpulan

Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan diatas, telah diambil
suatu kesimpulan dimana sehubungan dengan masalah malpraktek
Keperawatan, adalah sebagai berikut:
1. Kasus malapraktek merupakan suatu kasus yang menarik, yang sering
ditemukan di masyarakat, dan merupakan tindakan dari kemajuan
teknologi kesehatan dengan berbagai peralatannya yang canggih.
Sementara itu dengan semakin banyaknya kasus malpraktek yang
disidangkan di Pengadilan dan bermunculannya berita-berita tentang
malpraktek tenaga medis di media masa, karena kegagalannya dalam
praktek sehingga mengakibatkan cideranya atau meninggalkan pasien,
menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat mulai
meningkat, sehingga perpaduan antara kedua hal tersebut di atas akan
menimbulkan sengketa.
2. Sedangkan altrnatif untuk menyelesaikan sengketa itu sendiri, untuk
sementara waktu ini belum memadai, sehingga kasus-kasus malpraktek
dijumpai gagal di pemeriksaan sidang pengadilan. Oleh sebab itu sangat
diperlukan adanya suatu pemikiran-pemikiran yang jernih dari para
pencipta suatu paham hukum untuk menemukan alternatif apa yang dapat
dipakai dalam menghadapi kasus-kasus malpraktek tersebut, sebab kasus
ini sangat banyak berkaitan dengan kepentingan masyarakat, khususnya
bagi yang merasa dirugikannya terutama pasien.

4.2. Saran
1. Kiranya pihak aparat penegak hukum, sebagai penegakan hukum yang
aktif di dalam masyarakat, kiranya dapat berperan aktif dan melihat
dengan teliti indikasi-indikasi kasus malpraktek ini.

19
2. Selanjutnya, sebagai rangkaian dalam keaktifannya dalam menegakan
hukum, Kejaksaan sebagai Penuntut Umum dan sebagai pengawasan
penyidik sesuai dengan isi KUHP, dapat meningkatkan peranannya dengan
jalan membina kerja sama yang erat dengan pihak penyidik (polisi) untuk
dapat membongkar kasus-kasus malapraktek yang selama ini masih
banyak yang tertutup, baru kemudian tugas bagi hakim untuk lebih teliti
dan obyektif dalam mengambil vonisnya.
3. Perlu juga untuk menambah pengetahuan bagi para penegak hukum ini,
khususnya pengetahuan dalam bidang tenaga kesehatan, sehingga jika
terjadi kasus malpraktek mereka dapat menyidik, menuntut dan memutus
perkara dengan tepat sesuai dengan kemampuan/pengetahuannya. Hal ini
dapat ditempuh dengan cara mengadakan seminar-seminar atau diberikan
semacam pendidikan khusus yang menyangkut masalah tenaga Kesehatan,
khususnya hal-hal yang sangat erat kaitannya dengan kejadian-kejadian
yang timbul di sekitar yaitu malpraktek. Atau minimal mereka diberikan
suatu pegangan/pedoman tentang hukum untuk profesi tenaga medis dan
segala aspeknya. Dari hal ini diharapkan agar nantinya setiap kasus
malpraktek dapat benar-benar diselesaikan dengan tuntas.
4. Diharapkan tenaga medis akan lebih waspada dan hati-hati dalam
melaksanakan tugasnya, masyarakat menjadi aman dan puas atas
pelayanannya dan penegak hukum dapat lancar dalam bertugas, akhirnya
penegakan hukum dapat berjalan sebagaimana dengan semestinya sesuai
dengan apa yang kita harapkan

20
DAFTAR PUSTAKA

Mariyanti, Ninik. 1988. Malpraktik Kedokteran. Bina Aksara: Jakarta.

Sanjoyo, Raden. 2008. Aspek Hukum Rekam Medis. FMIPA Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta.

Simanjuntak, Sandy Vatar. 2015. Pertanggungjawaban Pidana Oleh Dokter Yang


Melakukan Tindakmalpraktek. Fakultas Hukum Universitas Atmajaya.
Yogyakarta.

Undang-undang Republik Indonesia tahun nomor 38 tahun 2014 tentang


Keperawatan.

Wardhani, Ratih Kusuma. 2009. Tesis: Tinjauan Yuridis Persetujuan Tindakan


Medis (Informed Consent) di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Magister
Kenotariatan Universitas Diponegoro. Semarang.

21