Anda di halaman 1dari 5

Penyebab

Penyebab pneumonia adalah :

1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa) :

Streptococcus pneumoniae

Staphylococcus aureus

Legionella

Hemophilus influenzae

2. Virus : virus influenza, chicken-pox (cacar air)


3. Organisme mirip bakteri : Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak- anak dan dewasa
muda)
4. Jamur tertentu.

Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya
terjadi pada umur 2 3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh
bakteri Mycoplasma pneumoniae.

Gambaran klinis

Secara klinis gambaran pneumonia bakterialis beragam menurut jenis kuman penyebab, usia
penderita , dan beratnya penyakit. Beberapa bakteri penyebab memberikan gambaran yang khas,
misalnya pneumonia lobaris karena S.pneumoniae, atau empiema dan pneumatokel oleh
S.aureus.
Klasifikasi pneumonia pada balita sesuai dengan manajemen terpadu balita sakit yaitu batuk
disertai dengan napas cepat (usia < 2 bulan > 60 x/menit, 2 bulan 1 tahun > 50 x/menit, 1-5
tahun > 40 x/menit)
Pada dasarnya gejala klinisnya dapat dikelompokkan atas :

gejala umum infeksi : demam, sakit kepala, lesu, dll.gejala umum penyakit saluran
pernapasan bawah : seperti takipneu, dispneu, retraksi atau napas cuping hidung, sianosis.

tanda pneumonia : perkusi pekak pada pneumonia lobaris, ronki basah halus nyaring pada
bronkopneumonia dan bronkofoni positif.

batuk yang mungkin kering atau berdahak mukopurulen, purulen, bahkan mungkin
berdarah.
tanda di ekstrapulmonal :

Leukositosis jelas pada pneumonia bakteri dan pada sputum dapat dibiak kuman
penyebabnya.
Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan foto toraks, sedangkan uji serologi dapat
menentukan jenis
infeksi lainnya. Selain memastikan diagnosis, foto toraks juga dapat digunakan untuk
menilai adanya
komplikasi.

Diagnosis

Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.

Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki.

Pemeriksaan penunjang : rontgen dada, pembiakan dahak, hitung jenis darah, gas darah
arteri.

Penatalaksanaan

Penderita pneumonia dapat dirawat di rumah, namun bila keadaannya berat penderita
harus dirawat di rumah sakit untuk mendapat perawatan yang memadai, seperti cairan
intravena bila sangat sesak, oksigen, serta sarana rawat lainnya. Bayi memerlukan
perhatian lebih khusus lagi.

Diberikan kotrimoksazol 2 x 2 tablet. Dosis anak :

2 12 bulan : 2 x tablet
1 3 tahun : 2 x tablet
3 5 tahun : 2 x 1 tablet

Antibiotik pengganti adalah amoksisilin atau ampisilin.

Bila penderita alergi terhadap golongan penisilin dapat diberikan eritromisin 500mg 4 x
sehari. Demikian juga bila diduga penyebabnya mikoplasma (batuk kering).

Tergantung jenis batuk dapat diberikan kodein 8 mg 3 x sehari atau brankodilator (teofilin
atau salbutamol).
Pada kasus dimana rujukan tidak memungkinkan diberikan injeksi amoksisilin dan / atau
gentamisin.

Pada orang dewasa terapi kausal secara empiris adalah penisilin prokain 600.000
1.200.000 IU sehari atau ampisilin 1 gram 4 x sehari terutama pada penderita dengan
batuk produktif.

Pneumonia pada Anak

Pneumonia pada Anak

1. Pada bayi. Pada kelompok usia ini, pneumonia biasanya disebabkan oleh virus. Jika
penyebabnya bakteri, berbagai macam bakteri dapat menjadi penyebabnya tetapi jenis
yang berbahaya adalah yang disebabkan staphylococcus aureus, yang dapat menyebabkan
terbentuknya abses dan empiema. Bayi Nampak lebih sakit dibandingkan dengan pada
bronchitis. Bayi cenderung pucat dan kolaps dengan rintihan waktu ekspirasi.
Kegelisahan bayi disebabkan oleh hipoksia otak. Pengobatan: bayi harus dirawat dengan
oksigen yang dipantau kadarnya secara teratur. Bila penyebabnya tidak diketahui maka
kombinasi atibiotika yang dapat digunakan adalah flukloksasilin dan ampisilin.
Mungkindiperlukan sedasi dan pemberian minum dengan pipa lambung apabila minum
dengan botol menyebabkan sesak.

2. Pada anak. Sebagian besar kasus pneumonia pada usia lebih dari dua tahun disebabkan
pneumokokus, tetapi sebagian disebabkan oleh staph. Aureus atau H.influenzae. Anak
nampak pucat dan gelisah dengan rintihan waktu ekspirasi. Dapat juga terjadi nyeri
pleura dan bila nyeri pleura dijalarkan ke perut maka dapat menyerupai apendisitis.
Pengobatan: antibiotika pilihan pertama ialah benzilpensilin yang mula-mula diberikan
dengan suntikan, kemudian dapat digunakan fenoksimetil penisilin. Oksigen sering kali
tidak diperlukan. Pneumonia yang disebabkan mycoplasma pneumonia mempunyai
gejala yang sama dengan pneumonia yang disebabkan bakteri dan virus. Tes serologis
dapat menegakkan diagnosis. Pneumonia yang disebabkan M.pneumoniae responsit
dengan eritromisin atau tetrasiklin.

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti
bakteri, virus, jamur, hipostatik, aspirasi, dan benda asing.
1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus
dan disebut bronchopneumonia.

2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi
akut pada bronchus (bronchopneumonia).

Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun
bronchopneumonia) disebut Pneumonia.

Pneumonia berdasarkan anatomic :

1. Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus
paru-paru.

2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai


satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.

3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium)


dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

Pneumonia lobaris

Gejala yang Nampak secara mendadak namunterkadang didahului oleh infeksi traktus
respiratorus bagian atas. Pada anak usia besar sering disertai badan menggigil dan pada bayi
disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 derajat, napas sesak, disertai pernapasan cuping
hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut serta nyeri pada dada. Terdapat batuk kering yang
kemuadian menjadi batuk produktif. Pada pengkajian fisik kelainan khas tampak setelah 1-2 hari,
inspeksi dan palpasi menunjukkan pergeseran toraks yang terkena berkurang. Pada permulaan
suara napas melemah sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti,
terdengar ronki basah yang segera hilang setelah terjadi konsolidasi, kemudian pada perkusi jelas
terdengan keredupan dengan suara pernapasan sub-bronkial sampai bronchial. Pada stadium
resolusi, ronki terdengar lebih jelas. Tanpa pengobatan dapat sembuh dengan krisis 5-9 hari.

Bronkopneumonia Komplikasi yang dapat terjadi adalah empiema, otitis media akut.
Komplikasi lain yang terjadi adalah atelektasis, emfisema, atau komplikasi seperti meningitis.
Komplikasi tidak terjadi bila diberikan antibiotik secara tepat.

Patofisiologi Bronkhopneumonia :

1. Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder.

2. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit


lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau
kondisi terminal.
Etiologi :

1. Streptococcus.

2. Staphylococcus.

3. Pneumococcus.

4. Hemovirus Influenza.

5. Pseudomonas.

6. Fungus.

7. Basil colli.

Sehingga menimbulkan : 1. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya. 2. Lumen
bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak. 3. Dinding bronkhiolus yang rusak
mengalami fibrosis dan pelebaran. 4. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps
alveoli, emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan
produksi surfaktan.

Gejala Klinis : 1. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik
secara mendadak (38 40 C), dapat disertai kejang (karena demam tinggi). 2. Gejala khas : 1.
Sianosis pada mulut dan hidung. 2. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai
pernafasan cuping hidung. 3. Gelisah, cepat lelah. 3. Batuk mula-mula kering kemudian
produktif. 4. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia. 5. Pemeriksaan laboratorium =
lekositosis. 6. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.

Komplikasi : Bila tidak ditangani secara tepat akan menimbulkan: 1. Otitis media akut (OMA)
terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius,
sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara,
kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi. 2. Efusi pleura. 3. Emfisema.
4. Meningitis. 5. Abses otak. 6. Endokarditis. 7. Osteomielitis.

Penatalaksanaan : 1. Oksigen. 2. Cairan, kalori dan elektrolit glukosa 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1


ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse. 3. Obat-obatan : 1. Antibiotika
berdasarkan etiologi. 2. Kortikosteroid bila banyak lender.

Prognosis : Dengan pemberian antibiotik yang tepat, mortalitas dapat menurun.