Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat bicara tentang perkembangan kebangkitan Islam, maka hal yang dibahas
mulai dari bangkitnya, berkembang, dan hancurnya. Pertama-tama, mulai dari
bangkitnya sains di dunia islam. Namun yang perlu didefinisikan terlebih dahulu
adalah apa yang sebenarnya disebut dengan bangkit. Sebab, jangan-jangan,
makna kata bangkit itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin.
Seperti kaburnya makna kata kemajuan, pembangunan, kebebasan, dan
sebagainya.

Misalnya negara-negara Barat yang mendefinisikan makna kemajuan ,


bangkit secara matrealistik. Mereka membagi bagi negara di dunia menjadi
negara maju, negara berkembang, negara terbelakang. Tentu saja, ukuran ukuran
yang digunakan merupakan ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak
dimasukkan dalam ukuran kemajuan atau pembangunan. Jadi, jika suatu
negara sudah dikatakan maju yang dimaksudkan adalah kemajuan materi,
khususnya sains, teknologi, ekonomi, serta rata-rata pendidikan masyarakatnya.
Padahal, secara akhlak negara itu hancur berantahkan.

Kita, kaum muslimin yang memiliki keimanan dan menjunjung tinggi


akhlak, seharusnya tidak kalah dengan dunia barat yang serba gemerlap dalam
dunia materi. Begitu pula dalam hal sains dan teknologi yang akhir-akhir ini kaum
muslimin tertinggal jauh dengan dunia barat yang perkembangan sains dan
teknologinya begitu pesat. Namun, jika kita menengok kembali ke zaman dimana
kaum muslimin yang memegang puncak ilmu pengetahuan pada zamannya sekitar
abad ke-7. Disaaat dunia barat masih berada pada zaman kegelapan. Kepeloporan
dan keunggulan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan sudah dimulai pada
abad itu. Yang telah banyak lahir pemikir Islam yang tangguh produktif dan
inofatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan ilmu pengetahuan di dunia islam tak bertahan lama. Karena
diakibatkan oleh beberapa faktor internal maupun eksternal yang menyebabkan
mundurnya sains di dunia islam.

Serta sejarah lahirnya ilmu kimia. Ilmu pengetahuan alam yang mempelajari
tentang materi yang meliputi struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi. Serta
karena ilmu kimia itulah menyebabkan lahirnya metode ilmiah dalam
menyelesaikan suatu permasalahan secara ilmiah.

B. Tujuan

Penyusun memiliki beberapa tujuan dalam menyusun paper ini. Tujuan-


tujuan tersebut antara lain dapat memahami sejarah hubungan antara islam dan
sains.
BAB II

PEMBAHSAN

SEJARAH HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA

Hubungan sains dan agama dari abad ke abad mengalami pasang surut. Ada
masa saat islam dan sains terhubung secara harmonis ada pula konflik yang terjadi
dalam hubungan islam dan sains. Contoh hubungan agama dan sains yang
berlangsung harmonis pada masa kejayaan peradaban islam. Istilah sains dalam Islam,
sebenarnya berbeda dengan sains dalam pengertian Barat modern saat ini, jika sains di
Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu, dan agama di sisi lain sebagai
keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam pengertian Barat
modern, sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam disiplin ilmu agama
merupakan sains.

Banyak ilmuwan muslim dari tahun 700 M hingga Abad 13 M yang


mengembangkan beragam ilmu pengetahuan, seperti astologi, astronomi, kedokteran,
anatomi, optik, farmakologi, psikologi, ilmu bedah, zoologi, biologi, botani,
mineralogi, metalurgi, sosiologi, hidrostatik, filsafat, puisi, musik, navigasi, sejarah,
arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia.1

Dalam Islam tidak dikenal pemisahan esensial antara ilmu agama dengan
ilmu ilmu profan. Berbagai ilmu dan perspektif inteletual yang dikembangkan
dalam Islam memang mempunyai suatu hirarki. Tetapi herarki ini pada akhirnya
bermuara pada pengetahauan tentang Yang Maha Tunggal Substansi dari segenap
ilmu. Inilah alasan kenapa para ilmuawan Muslim berusaha mengintergrasikan ilmu-
ilmu yang dikembangkan peradaban-peradaban lain ke dalam skema hirarki ilmu
pengetahuan menurut Islam. Dan ini pulalah alasan kenapa para ulama, pemikir,
filosof dan ilmuwan Muslim sejak dari al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina sampai al-
Ghazali, Nashir al-Din al-Thusi dan Mulla Shadra sangat peduli dengan klassifikasi
ilmu-ilmu. Berbeda dengan dua klasifikasi yang dikemukakan di atas, yakni ilmu-
ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim di

1 Rusli, Risan et. al. (Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Program


Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang. 2010). Hal. 34
masa-masa awal membagi ilmu-ilmu pada intinya kepada dua bagian yang diibaratkan
dengan dua sisi dari satu mata koin; jadi pada esesnsinya tidak bisa dipisahkan. Yang
pertama, adalah al-ulm al-naqliyyah, yakni ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan
melalui wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal. Yang kedua adalah al-ulm al-
aqliyyah, yakni ilmu-ilmu intelek, yang diperoleh hampir sepenuhnya melalui
penggunaan akal dan pengalaman empiris. Kedua bentuk ilmu ini secara bersama-
sama disebut al-ulm alhushuli, yaitu ilmu-ilmu perolehan. Isitilah terakhir ini
digunakan untuk membedakan dengan ilmu-ilmu (marifat) yang diperoleh melalui
ilham (kasyf).

Walau terdapat integralisme keilmuan seperti ini, setidaknya pada tingkat


konseptual, tetapi pada tingkat lebih praktis, tak jarang terjadi disharmoni antara
keduanya, atau lebih tegas lagi antara wahyu dan akal, atau antara ilmu-ilmu agama
dengan sains. Untuk mengatasi disharmoni ini berbagai pemikir dan ilmuwan Muslim
memunculkan klassifikasi ilmu-ilmu lengkap dengan hirarkinya.

Namun sejarah juga mencatat adanya konflik agama dan sains,yaitu pada saat
teori-teori baru ditemukan oleh:

Galileo (Abad ke-15 M)

Newton (Abad ke-17 M)

Darwin (Abad ke-19 M).

Konflik antara agama dan sains ,khususnya di dunia Barat, telah dimulai pada
masarenaisans sejak abad 15, ketika Galileo menentang paham geosentris (bumi
merupakan pusat tata surya) yang dianut oleh gereja. Galileo dianggap mengingkari
keyakinan agamanya (kristen) bahwa bumi adalah pusat edar tata surya.
Ketaksesuaian agama dan sains berlanjut hingga masa sesudahnya (masa Newton /
masa sains modern).

Sejarah sains Eropa masa kebangkitan (abad 14 dan 15) mencatat bahwa sains
muncul tidak hanya dalam rangka melepaskan hegemonik gereja sebagai institusi
pemegang kekuasaan tertinggi, tetapi juga sebagai momentum transformasi sains ke
dalam utilitas teknik (aplikasi nyata). Para ahli sejarah sepakat bahwa sejarah
perkembangan sains modern beserta aplikasi teknologi yang ada sekarang diawali
oleh Newton (mekanika klasik). Mekanika klasik Newton berdampak besar terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Konsep mekanika klasik Newton bersifat
mekanistik deterministik (apabila kondisi awal dari sesuatu dapat ditentukan, maka
kondisi berikutnya dapat diprediksi secara tepat).

Dampak Positif Paradigma Newton

Paradigma Newton : Revolusi Industri (Inggris, abad ke-17) dengan penemuan


mesin tenun dan mesin cetak

Tahapan Industri : Mekanisasi (abad ke-17)

1. Energisasi (abad ke-18)


2. Optimalisasi (abad ke-18 s.d. ke-19)
3. Otomatisasi (abad ke-19 s.d. Ke-20)
4. Penciptaan Alam Semesta: Ada dengan tidak sendirinya
Sesuai dengan agama (alam semesta ada yang menciptakan)
Perbedaan Paradigma dalam Konsep Energi-Ruang-Waktu Newton: Massa materi
adalah kekal, ada dengan sendirinya dari dulu hingga sekarang (teori Steady State),
sehingga ruang dan waktu adalah entitas yang terpisah Einstein: Ruang dan waktu
adalah entitas yang terkait satu sama lain menjadi dimensi tersendiri yaitu dimensi
ruang-waktu. Tanpa ada ruang maka tidak akan ada waktu2
Pada abad ke 19,adalah puncak konflik agama dan sain saat Charles Darwin
memunculkan bukunya The Origin of Species (hanya dengan menjejer dan
mengurutkan tulang tengkorak berusaha menghubungkan secara evolusioner)
Ada 2 pendapat tentang teori ini,yaitu :
1. Kelompok pendukung teori Darwin (kalangan materialisme dan komunisme).
Mereka berdalih bahwa teori tersebut merupakan pondasi atau dasar dari paham
dan ajaran yang mereka anut. Tokoh yang paling terkenal dalam mendukung teori
Darwin ini salah satunya adalah Karl Marx
2. Kelompok penentang teori Darwin. Alasan mereka cukup beragam dalam
penentangan terhadap teori tersebut. Diantaranya adalah Darwin terlalu
berspekulasi terhadap teorinya sendiri, dan ini terlihat dalam bukunya (The Origin

2
Muhammad Iqbal, et al. (Sains dan Islam. Bandung; PT. Nuansa.
2007). Hal. 14
of Species). Adapun alasan yang lain adalah karena Darwin telah meniadakan
keberadaan Sang Pencipta dalam penciptaan makhluk hidup itu sendiri.
Pertentangan di dalam teori Darwin ini sangatlah luar biasa di dunia barat hingga
hampir akhir abad ke-20. Tak ayal, masih banyak ilmuwan yang mengkaji akan
keabsahan teori ini. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang ada dan
dipelajari ini sepatutnya diiringi dengan meyakini akan keberadaan Tuhan. Hal ini
sejalan dengan ungkapan manusia terpintar yang pernah ada, Albert Einstein yang
menyatakan, Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan
mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang
(Harun Yahya: 2001)

Masa Reda Konflik Agama dan Sains mulai berlangsung pada abad 21.
Masyarakat dan ilmuwan mulai terbuka tentang isu-isu agama dan sains
Muncul paradigma baru dalam ilmu pengetahuan mekanistik deterministik menjadi
probabilistik relatifistik Sesuatu memiliki banyak kemungkinan alternatif pemecahan
persoalan Melahirkan ilmu-ilmu baru seperti material science, mikro elektronika,
kimia fisika kuantum, astrofisika, dll.

Bahkan Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan


agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi
posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan
keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama.
Tipologi ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmiah tertentu, salah satunya adalah
biologi. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik,
Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain,
yang akan di bahas dalam pembahasan selajutnya.3

3
H. Rosehan Anwar. (Ajaran dan Sejarah Islam Untuk Anda. Jakarta;
PT. Dunia Pustaka Jaya. 1962). Hal. 10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hubungan sains dan agama dari abad ke abad mengalami pasang surut. Ada
masa saat islam dan sains terhubung secara harmonis ada pula konflik yang terjadi
dalam hubungan islam dan sains. Contoh hubungan agama dan sains yang
berlangsung harmonis pada masa kejayaan peradaban islam. Istilah sains dalam
Islam, sebenarnya berbeda dengan sains dalam pengertian Barat modern saat ini,
jika sains di Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu, dan agama di sisi
lain sebagai keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam
pengertian Barat modern, sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam
disiplin ilmu agama merupakan sains.
Banyak ilmuwan muslim dari tahun 700 M hingga Abad 13 M yang
mengembangkan beragam ilmu pengetahuan, seperti astologi, astronomi,
kedokteran, anatomi, optik, farmakologi, psikologi, ilmu bedah, zoologi, biologi,
botani, mineralogi, metalurgi, sosiologi, hidrostatik, filsafat, puisi, musik, navigasi,
sejarah, arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia.

B. Saran
Paper ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu saran dan
masukan dari teman-teman sangat dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Rusli, Risan et. al. 2010. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Program
Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang.

Muhammad Iqbal, et al. 2007. Sains dan Islam. Bandung; PT.


Nuansa.

H. Rosehan Anwar. 1962. Ajaran dan Sejarah Islam Untuk Anda.


Jakarta; PT. Dunia Pustaka Jaya.