Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering
ditemukan pada penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur
dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin,
berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling
sering ditemukan pada usia lanjut.
Tidur adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia,
karena dalam tidur terjadi proses pemulihan, proses ini bermanfaat
mengembalikan kondisi seseorang pada keadaan semula, dengan begitu,
tubuh yang tadinya mengalami kelelahan akan menjadi segar kembali.
Kualitas kebiasaan tidur pada bayi dan remaja telah menjadi salah
satu subjek yang paling sering dipelajari saat ini. Telah diketahui bahwa
sejumlah besar patologi dapat menyebabkan perubahan pada arsitektur
tidur. Epilepsi dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH) termasuk berada diantara penyakit-penyakit yang paling sering
ditemukan.
Sindroma epilepsi diketahui bahwa pola kejang dapat dipengaruhi
oleh siklus tidur dan begitu pula sebaliknya. Prevalensi gejala GPPH yang
tinggi sangat memperburuk prognosis psikososial. Gejala yang paling
sering adalah latensi tidur dan pemeliharaan tidur yang lebih lama.

Tujuan

Penyajian pembahasan jurnal ini bertujuan untuk melaporkan dan


memberikan informasi tentang bagaimana Hubungan antara Epilepsi,
gangguan tidur, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH) pada anak-anak dan memenuhi tugas kepaniteraan klinik ilmu
kesehatan anak RSUD Arjawinangun.

1
BAB II

PEMBAHASAN JURNAL
Hubungan antara Epilepsi, gangguan tidur, dan gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) pada anak-anak: Sebuah tinjauan
kepustakaan

Felipe Kalil Neto, Renan Noschang, Magda Lahorgue Nunes

Abstrak
Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara epilepsi, gangguan tidur, dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH).
Pencarian kepustakaan: Sebuah pencarian kepustakaan dari database PubMed
dilakukan dengan menggunakan kata-kata berikut: epilepsi, tidur, dan GPPH.
Totalnya, terdapat 91 artikel yang ditemukan di PubMed, 34 dipilih untuk
menjalani pembacaan abstrak dan dilakukan peninjauan terhadap dua belas
artikel, yang memiliki tujuan utamanya berupa untuk meneliti hubungan antara
epilepsi, gangguan tidur dan GPPH dari berbagai sudut pandang, yang mencakup
epidemiologi, pengaruh penyakit penyerta terhadap performa akademik dan
faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan dalam hal diagnostik pada tiga
kelainan ini.
Hasil: Pada temuan penelitian yang utama, ditemukan bahwa pasien dengan
epilepsi dan GPPH memiliki kesulitan untuk memulai dan mempertahankan tidur,
sementara pada kedua kelompok ditemukan adanya kekurangan efisiensi tidur,
penurunan ambang batas kejang, serta defisit perilaku dan kognitif.
Kesimpulan: Penting untuk mengetahui gejala mana yang lebih dominan. Untuk
alasan ini, anak-anak dan orang dewasa dengan epilepsi, GPPH dan gangguan
tidur perlu dinilai secara seksama sebelum memulai penatalaksanaan. Tinjauan
kami menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang penting dalam trias patologi
ini.

2
Pendahuluan
Kualitas kebiasaan tidur pada bayi dan remaja telah menjadi salah satu
subjek yang paling sering dipelajari saat ini. Telah diketahui bahwa sejumlah
besar patologi dapat menyebabkan perubahan pada arsitektur tidur. Epilepsi dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) termasuk berada
diantara penyakit-penyakit yang paling sering ditemukan [1-3].
Sindroma epilepsi dapat menyebabkan perubahan pada irama sirkadian yang
bekerja di hipotalamus, yang menyebabkan perubahan eksitabilitas korteks dan
sebagai akibatnya dapat menimbulkan terjadinya kejang [4,5]. Sebelum itu, perlu
diketahui bahwa pola kejang dapat dipengaruhi oleh siklus tidur dan begitu pula
sebaliknya [6].
GPPH merupakan penyakit penyerta psikiatri yang paling sering ditemukan
pada pasien-pasien epilepsi, khususnya pada penyakit-penyakit yang bersifat
refraktorik, ketika gejala-gejala dapat ditemukan pada 70% dari seluruh pasien
yang ada [7]. Prevalensi gejala GPPH yang tinggi sangat memperburuk prognosis
psikososial [7].
Selain itu, pada GPPH 55-75% dari pasien melaporkan adanya perubahan
kualitas tidur pada anak-anak mereka [8-10]. Mekanisme penyakit yang
menjelaskan gangguan tidur pada pasien-pasien GPPH masih tetap belum jelas
dan tampaknya bersifat multifaktor [11]. Gejala yang paling sering adalah latensi
tidur dan pemeliharaan tidur yang lebih lama [8, 11, 12].
Meskipun demikian, terdapat temuan yang bertentangan yang membutuhkan
penjelasan yang lebih baik. Sebagai contohnya, Holley dkk [13] dengan
menggunakan aktigrafi secara objektif mengamati tidur anak-anak dengan epilepsi
secara bersamaan dengan kontrol yang sehat. Mereka tidak menemukan adanya
perbedaan dalam hal keadaan tidur yang diperiksa pada kedua kelompok ini.
Namun, defisit fungsi kognitif yang signifikan diperlihatkan tidak dapat dijelaskan
oleh perbedaan yang ditemukan pada keadaan tidur.
Karena masih terdapat pertentangan mengenai trias epilepsi, GPPH dan
tidur, akan menjadi relevan untuk mewujudkan suatu tinjauan kepustakaan ini.

3
Tujuan utama artikel ini adalah untuk melakukan sebuah tinjauan untuk menilai
hubungan antara epilepsi, gangguan tidur, dan GPPH. Kami akan membahas
gambaran klinis, diagnosis, penyakit penyerta dan penatalaksananaannya.
Pendekatan yang diusulkan dalam penelitian ini mungkin akan memberikan
informasi berbasis bukti tambahan untuk mendukung pengambilan keputusan
klinis.

Pencarian kepustakaan
Tinjauan kami dilakukan dengan menggunakan protokol berdasarkan
ketentuan PRISMA [14]. Suatu pencarian kepustakaan dilakukan antara bulan
Oktober dan Desember 2015 dari database PubMed.

91 Artikel ditemukan di PubMed


Dasar eksklusi:
57 dieksklusi Rancangan: 15
Tujuan: 5
34 Artikel dipilih untuk Bahasa: 3
pembacaan abstrak

29 dieksklusi

11 dipilih untuk
pembacaan artikel lengkap
3 dieksklusi

4 dipilih dari 8 dipilih untuk Dasar eksklusi:


skrining diikutsertakan ke penelitian Psien dengan defisit
neurologi dan kognitif: 1
referensi
Tujuan tidak terspesifikasi
(Temuan): 1
Tujuan EEG tidak
12 diikutsertakan kedalam terspesifikasi: 1
tinjauan

Gambar 1. Pemilihan artikel dan Proses Eksklusi

Artikel-artikel berupa tinjauan atau review dieksklusikan, begitu pula


dengan editorial dan laporan kasus. Kami juga mengeksklusikan penelitian-
penelitian yang hubungan antara tidur, GPPH dan epilepsinya tidak ditentukan
secara adekuat. Pencarian menghasilkan sebanyak 91 artikel dalam database

4
PubMed. Dari sebanyak 91 artikel ini, 57 dieksklusikan karena tidak memenuhi
kriteria inklusi, dan 34 dianggap relevan untuk artikel ini. Sebanyak 23 artikel
dieksklusikan karena perbedaan dalam rancangan penelitian (15), tujuan (5) dan
bahasa (3). Dari jumlah tersebut, sebelas penelitian dipilih untuk dibaca dalam
bentuk teks lengkapnya. Setelah itu, 3 artikel dieksklusikan karena temuan yang
tidak spesifik (1), tujuan EEG yang khusus (1) dan mengikutsertakan pasien-
pasien dengan defisit neurologi dan kognitif (1). Delapan artikel dianggap relevan
untuk penelitian ini [15-22].
Pembacaan secara lengkap dan analisis terhadap penelitian juga
menawarkan kemungkinan untuk akses publikasi lainnya, yang memungkinkan
kami untuk memasukkan empat referensi baru dalam tinjauan ini [23-26].
Proses pencarian, pemilihan dan eksklusi artikel dalam kepustakaan
ditunjukkan dalam Gambar 1.

Tidur, GPPH, Epilepsi: Tinjauan terhadap penelitian yang ada, interaksi dan
hubungan sebab akibat
Pasien epilepsi seringkali memperlihatkan perubahan dalam struktur makro
tidurnya, dan fakta ini dicerminkan oleh berkurangnya efisiensi tidur,
bertambahnya jumlah dan durasi terjaga pada malam hari, serta peningkatan
latensi onset tidur dan fragmentasi tidur REM [27]. Misalnya sebagai contoh yang
besar, BECTS, suatu epilepsi jinak yang telah banyak diketahui dengan baik, yang
mana serangan kebanyakan terjadi selama tidur, setelah anak tidur atau saat mulai
terjaga [24-30].
Karena sejumlah deskripsi sindroma epilepsi yang terkait tidur (misalnya,
epilepsi lobus frontalis nokturnal autosomal dominan), American Academy of
Sleep Medicine menciptakan suatu istilah epilepsi yang terkait tidur (SRE), untuk
menunjukkan epilepsi yang menunjukkan bahwa 70% dari keseluruhan kejangnya
terjadi selama tidur [31,32].
Telah diketahui bahwa kualitas tidur yang diperlihatkan oleh kebiasaan
buruk selama tidur secara langsung berkaitan dengan pengendalian akan kejang;
namun, faktor-faktor lain seperti keterlambatan perkembangan, krisis nokturnal,

5
politerapi atau kejang generalisata juga berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk
[33]. Pasien-pasien dengan epilepsi generalisata dan rekraktorik cenderung lebih
berkemungkinan untuk mengalami kelainan tidur [34, 35]. Meskipun masalah
tidur merupakan salah satu hal yang paling bertanggungjawab untuk menjelaska
perubahan perilaku pada pasien-pasien dengan epilepsi, fakta ini seringkali
diabaikan [36].
Wiebe dkk menilai hubungan antara pola kebiasaan tidur dan
polisomnografi tidur di satu malam (PSG) dengan rasa kantuk di siang hari pada
pasien GPPH dan anak dengan perkembangan yang normal. Penulis menganalisis
delapan puluh dua anak (26 GPPH, 56 anak dengan perkembangan yang biasa)
yang berusia natara 7 dan 11 tahun. Pasien menjalani tidur di malam hari yang
direkam dengan menggunakan aktigrafi (pola tidur biasa) selama lima malam dan
polisomnografi (pola tidur yang cepat) selama satu malam. Rasa kantuk di siang
hari diperiksa dengan menggunakan uji latensi tidur multipel (MSLT). Latensi
tidur yang lebih lama (dengan menggunakan PSG dan aktigrafi) berkaitan dengan
rata-rata latensi tidur yang lebih lama pada MSLT yang dilakukan pada anak yang
berkembang secara biasa. Waktu terjaga dan aktivitas di malam hari secara positif
berhubungan dengan MSLT pada pasien-pasien GPPH. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa anak-anak yang berkembang secara biasa dan pasien GPPH
menunjukkan hubungan yang berbeda untuk kebiasaan dan pola tidur langsung
dengan rasa kantuk di siang hari. Selain itu, temuan mereka mengesankan bahwa
kesulitan untuk memulai dan untuk mempertahankan tidur dapat ditemukan baik
pada tidur di malam hari maupun di siang hari [23].
Hvolby dan rekannya mengamati kualitas tidur pada pasien-pasien GPPH
dengan menggunakan aktigrafi dan laporan dari orangtua. Sebuah penelitian
kasus-kontrol disiapkan untuk diteliti, dimana dilakukan analisis terhadap dua
ratus enam anak-anak yang berusia 5 hingga 11 tahun. Empat puluh lima anak-
anak dengan GPPH, 64 dengan diagnosis psikiatri lainnya (kelompok kontrol
psikiatri) dan 97 subjek kontrol sehat dipilih. Sebagai hasilnya terdapat latensi
onset tidur yang lebih lama dari pasien-pasien dengan GPPH (26.3 menit) dan
pola tidur yang lebih ireguler dibandingkan dengan dua kelompok lainnya

6
(kelompok psikiatri memiliki waktu latensi selama 18.3 menit, sementara kontrol
menunjukkan waktu yang lebih singkat yaitu 13.5 menit) [24].
Para penulis menyimpulkan bahwa sebagian anak dengan GPPH mengalami
tidur yang terganggu yang tidak dapat dibenarkan oleh penyakit penyerta
oposisional yang bertentangan. Dalam penelitian yang sama, ditemukan adanya
perbedaan antara analisis tidur objektif dan subjektif dari laporan orang tua yang
berlebihan dalam melaporkan mengenai waktu latensi tidur [24].
Di sisi lain, Gruber dkk, dalam sebuah penelitian dengan menggunakan
aktigrafi memantau lima malam berturut-turut dan diari tidur. Jumlah partisipan
yang terpilih untuk penelitian ini adalah tiga puluh delapan anak laki-laki usia
sekolah dengan diagnosis GPPH dan 64 kontrol yaitu anak laki-laki usia sekolah.
Mereka mengamati terdapat instabilitas dalam onset dan durasi tidur pada
kelompok GPPH dibandingkan dengan kontol. Temuan ini mendukung gagasan
bahwa anak-anak dengan GPPH memiliki instabilitas dalam sistem tidur bangun
[25].
Dalam sebuah penelitian retrospektif, Crabtree dkk meneliti keadaan tidur
pada 97 anak yang berusia 3-18 tahun yang didiagnosis dengan GPPH [26]. Pada
36% pasien yang menjalani polisomnografi, telah ditunjukkan adanya gangguan
pergerakan ekstremitas periodik (PLMD), sementara pada 16 pasien yang
dievaluasi dengan aktigrafi teramati adanya variabilitas yang besar setiap malam
dalam hal waktu tidur total dan waktu latensi tidur. Diantara temuan utama dalam
tulisan ini terdapat prevalensi keluhan tidur subjektif yang tinggi pada orangtua
anak-anak dengan GPPH, yang mencakup kesulitan untuk memulai dan
mempertahankan tidur, tidur yang gelisah dan rasa kantuk di siang hari.
Sementara itu, analisis tidur yang objektif menunjukkan adanya keterlambatan
onset tidur, peningkatan variabilitas nokturnal dalam hal struktur dan pola tidur,
dan sejumlah besar anak dengan PLMD [26].
Selain itu, dengan menganalisis etiologi GPPH pada epilepsi, bukti terbesar
bahwa gejala-gejala gangguan pemusatan perhatian tidak disebabkan oleh faktor-
faktor yang berkaitan dengan epilepsi adalah adanya gejala-gejala gangguan
pemusatan perhatian yang mendahului onset penyakit epilepsi pada pasien-pasien

7
yang diagosis epilepsinya baru ditegakkan (kriptogenik atau idiopatik) [37, 38].
Prevalensi epilepsi pada GPPH ini setidaknya 2.5 kali lipat lebih tinggi [39, 40].
Gejala-gejala GPPH yang ditemukan lebih dulu dalam kaitannya dengan
onset kejang mengesankan adanya kemungkinan kondisi yang cocok [41] yang
memiliki mekanisme patofisiologi yang berbeda, yang tidak terkait dengan
variabel-variabel epilepsi seperti kejang, discharge epileptiformis dan penggunaan
obat-obatan antiepilepsi (AED).
Wannag dkk [15] meneliti anak-anak dengan GPPH dan aktivitas
epileptiformis nokturnal yang dibawa ke pusat perawatan epilepsi. Ini merupakan
penelitian prospektif terhadap anak-anak yang berusia 6-14 tahun. Diantara 362
pasien dengan epilepsi dan fungsi intelektual yang normal, 46 pasien dirujuk
dengan diagnosis kemungkinan adanya GPPH. Dari pasien-pasien ini, 43 pasien
menggunakan AED dan 30 mendapatkan diagnosis berupa GPPH. Tujuh dari 30
pasien GPPH memperlihatkan aktivitas epileptiformis nokturnal fokal (FNEA)
pada EEG. Proporsi anak-anak dengan GPPH dalam penelitian ini lebih besar
daripada angka yang dilaporkan pada anak-anak dengan diagnosis kejang yang
baru ditegakkan, namun lebih rendah dibandingkan dengan angka dari pusat
kesehatan tersier lainnya. Salah satu temuan utama dari penelitian ini
menunjukkan terjadinya aktivitas epileptiformis subklinis selama perekaman EEG
sepenuhnya selama 24 jam pada anak-anak dengan GPPH dan epilepsi.
Pada tahun 2015 sebuah penelitian dilakukan oleh Uliel-Sibony [16], dan
tujuh belas pasien dengan BECTS (3.5 10 tahun) telah teridentifikasi, dan
teramati adanya indeks gelombang-spike (SWI) dan gangguan dalam belajar.
Semua anak memiliki diagnosis GPPH dan semua pasien menggunakan AED.
Rentang waktu follow up adalah 1 10.5 tahun. Dari penelitian ini, enam anak
didiagnosis dengan kecacatan belajar selain GPPH. Satu anak laki-laki hanya
mengalami GPPH dan kesulitan dalam perilaku. Satu pasien menunjukkan agresi
dan pasien lainnya memiliki masalah perilaku, yang membutuhkan pengobatan
dari bagian psikiatri. Anehnya, enam pasien menunjukkan diagnosis GPPH atau
kesulitan bicara selama usia pra sekolah, jauh sebelum diagnosis epilepsi
ditegakkan. Perburukan perilaku tidak terdeteksi pada satupun dari mereka.

8
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika mengobati anak dengan BECTS, SWI
yang tinggi (> 60%) dan kesulitan belajar, parameter terpenting untuk
memutuskan apakah akan menggunakan AED baru merupakan evaluasi psikologis
formal yang membuktikan penurunan kognitif. Dengan kata lain, obat-obatan ini
harus dihindari.
Melanjutkan pada subjek yang sama, 196 pasien (118 laki-laki dan 78
perempuan) dengan BECTS dievaluasi dan difollow up selama rata-rata waktu 4.4
tahun (rentang 2-11) [17]. Semua pasien mendapatkan diagnosis epilepsinya
antara usia 3 dan 14 tahun. Tujuh puluh delapan pasien mengalami kejang tonik-
klonik generalisata selama periode follow up. Tingkatan regresi terbukti dengan
penurunan IQ pada empat anak-anak, GPPH pada lima anak, dan perilaku agresif
pada tiga anak, serta kemunduran berbahasa pada empat anak. Sembilan pasien
mengalami status epileptikus elektrik pada tidur gelombang lambat (ESES). Enam
puluh satu pasien (31%) menderita GPPH, 43 (21.9%) menunjukkan defisit
kognitif dan 23 (11.7%) menunjukkan kelainan perilaku. Penelitian ini
memperkuat tingginya prevalensi GPPH pada pasien BECTS.
Cohen dan rekannya [18] menganalisis 186 anak-anak (109 anak laki-laki
dan 77 perempuan) yang berusia 2-18 tahun. Orangtua mereka diminta untuk
menerapkan Skala Gangguan Tidur untuk Anak-anak (SDSC). Kuesioner ini
dibagi menjadi tiga kelompok menurut diagnosis neurologi utamanya: epilepsi (58
pasien), GPPH (62 pasien), atau lainnya (66). Lima puluh anak memiliki skor
tidur total yang abnormal. Gangguan tidur yang paling mendominasi yang
dilaporkan adalah rasa kantuk yang berlebihan (25.3%), memulai dan
mempertahankan tidur (24.7%) dan mimpi buruk yang membangunkan (23.1%).
Tidak terdapat perbedaan kelompok yang signifikan dalam hal skor tidur total
patologis atau adanya kelainan tidur lainnya. Satu-satunya temuan yang signifikan
adalah bahwa gangguan transisi tidur-bangun (SWTD) lebih sering ditemukan
pada anak-anak dengan epilepsi.
Penyakit penyerta berupa gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
dievaluasi oleh Ishii dkk [19]. Subjek-subjek ini terdiri atas 68 anak-anak dan
remaja (sembilan anak-anak prasekolah yang berusia 4-6 tahun, 50 anak-anak

9
sekolah dasar yang berusia 7-12 tahun, sembilan remaja yang berusia 13-19 tahun;
rata-rata usia: 9.7 tahun). Pasien-pasien dengan usia mental dibawah 4 tahun, dan
mereka yang dengan IQ dibawah 50 dieksklusikan, begitu pula mereka yang
memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasif. Pada 36 kasus tidak
ditemukan adanya penyakit penyerta, meskipun beberapa kelainan penyerta
tercatat dalam beberapa kasus. Diantaranya, dua kasus menunjukkan gangguan
tidur (parasomnia seperti night terror atau sleep walking) dan lima kasus
menunjukkan diagnosis epilepsi (dua kejang non-demam, satu epilepsi lobus
frontalis dan dua tidak terspesifikasi). Pertanyaan lainnya yang relevan adalah
hubungan antara GPPH dan elektoensefalogram (EEG). Altunel [20] melakukan
sebuah penelitian diagram retrospektif terhadap 134 pasien yang memenuhi
kriteria diagnostik penggabungan dengan GPPH. Tujuan utama dari penelitian ini
adalah untuk menjelaskan kelainan EEG pada GPPH. Tidak ada satupun dari
pasien yang memiliki penyakit atau manifestasi perilaku lain selain GPPH.
Sejumlah 134 EEG dianalisis, dan semua pasien menunjukkan serangan
gelombang dan spike yang berubah sesuai dengan usia. Sebanyak 38 pasien
menunjukkan temuan akan epilepsi benign-fokal masa kanak-kanak. Hanya
setengah dari pasien yang memperlihatkan kejang dan 46 pasien tidak
menunjukkan kejang ataupun fokus. Para penulis menyimpulkan bahwa spike dan
perubahan aktivitas gelombang berubah seiring dengan berjalannya waktu dan
bahwa discharge EEG, bahkan ketika tidak ditemukan adanya penyakit epilepsi
yang dapat diidagnosis, dapat berhubungan dengan gejala neuropsikiatri. Pada
subjek yang sama, suatu kelompok dari Italia [21] meneliti prevalensi discharge
epilepsi saat kejang dan antarkejang (IED) dan gangguan tidur pada anak-anak
dengan GPPH. Empat puluh dua pasien GPPH (usia rata-rata 8.9 tahun)
diikutsertakan dalam penelitian ini. Mereka dirujuk oleh ahli neurologi pediatri
dan psikiatri ke klinik gangguan tidur. Tidak ada satupun dari pasien GPPH yang
menunjukkan defisit intelektual. Sebanyak 6% memperlihatkan keadaan penyerta
berupa Tic, 12.8% menunjukkan dispraksia, 33.3% menunjukkan gangguan
belajar, 7.6% menunjukkan gangguan makan dan 12.8% menunjukkan gangguan
bahasa. Prevalensi gangguan tidur yang tinggi (86%) telah dilaporkan.

10
Diantaranya, 26% menunjukkan sindroma restless leg (RLS), 53.1%
menunjukkan adanya IED, dan tiga pasien mengalami kejang nokturnal. Temuan
umum dari artikel ini memperkuat fakta bahwa kejang/ IED memainkan peran
yang penting dalam kemampuan kognitif dan perilaku, serta GPPH merupakan
kondisi yang seringkali berkaitan dengan kelainan EEG epileptiformis. Sindroma
lainnya yang sering ditemukan pada anak-anak adalah epilepsi mioklonik pada
bayi (MEI). Caraballo dkk [22] melakukan follow up terhadap 38 pasien dengan
MEI. Setelah rata-rata follow up selama 13.5 tahun, 32 pasien menunjukkan hasil
evaluasi neurologi dan neuropsikologi yang normal. Empat pasien menunjukkan
kesulitasn belajar (dua dari mereka menderita GPPH) dan dua pasien lainnya
menunjukkan gangguan kognifif yang penting, meskipun telah ditemukan
pengendalian kejang yang adekuat (Tabel 1).

Pembahasan
Jumlah penelitian yang tersedia dalam kepustakaan yang menentukan
hubungan antara tidur/GPPH/epilepsi masih bersifat langka. Kombinasi tiga
patologi ini merupakan sumber dari perdebatan klinis yang berlangsung terus-
menerus, sebagaimana yang ditunjukkan oleh tinjauan yang kami lakukan.
Kebutuhan untuk suatu penatalaksanaan yang tepat menimbulkan pertanyaan
mengenai hubungan sebab-akibat. Gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas (GPPH) merupakan suatu sindroma neuropsikiatri yang sering
ditemukan. Kelainan ini ditandai dengan pola kurangnya perhatian dan
hiperaktivitas yang persisten, yang lebih berat dan seringkali teramati pada
kelompok usia yang sama [42]. Prevalensinya beragam dari 3.5% hingga 18%
menurut kriteria diagnostik yang digunakan [43]. Diagnosis GPPH benar-benar
didasarkan pada gejala-gejala klinis dan skala data (Misalnya: SNAP IV) yang
menganalisis karakteristik individu yang menyebabkan kerugian yang signifikan
dalam hal perilaku anak dalam lingkungan yang berbeda. Terdapat suatu
konsensus bahwa tidak perlu untuk menggunakan metode tambahan lainnya untuk
mendiagnosis GPPH.

11
Tabel 1. Penelitian-penelitian yang ditinjau, penulis, rentang usia, jumlah
partisipan, temuan dan outcome
Penulis/ Rentang N Tujuan utama Temuan Kesimpulan
tahun usia
publikasi
Wannag 6 14 46 menentukan FNE ditemukan Tidak ada
dkk [14], tahun hubungan antara pada 7/30 pasien kemungkinan efek
2010 GPPH dan kuantitas GPPH kausalitas FNEA pada
aktivitas GPPH
epileptiformis
nokturnal fokal
(FNEA)
Uliel- 3 10 17 Menghindari terapi Prevalensi SWI Evaluasi psikologis
Sibony tahun agresif pada dan GPPH yang formal adalah
dkk.[15], BECTS, ESES dan tinggi parameter terpenting
2015 kesulitan belajar untuk menggunakan
AED yang baru
Tovia dkk 3 14 196 Menggambarkan 61 menderita Prevalensi bentuk
[16], 2011 tahun frekuensi gambaran GPPH BECT yang atipikal
BECTS yang 9 menderita ESES bersifat rendah,
atipikal namun GPPH tinggi
Cohen 2 18 186 Mendeteksi 50 anak memiliki Mekanisme gangguan
dkk [17], tahun gangguan tidur skor tidur yang tidur mungkin tidak
2013 dengan abnormal berkaitan dengan
menggunakan SDSC penyakit primer
Ishii dkk 4 19 68 Penyakit penyerta 5 anak mengalami Penyakit penyerta
[18], 2003 tahun pada GPPH epilepsi multipel pada
2 anak mengalami beberapa kasus
gangguan tidur
Altunel - 134 Kelainan EEG 38 BECTS Discharge EEG
dkk [19], Semuanya berkaitan dengan
2013 memperlihatkan gejala-gejala
spike/ gelombang neuropsikiatri
beberapa waktu
Silvestri 8.9 (usia 42 Prevalensi IED dan 86% gangguan Kejang/IED memiliki
dkk [20], rerata) kejang pada anak- tidur peran yang penting
2007 anak GPPH dalam kemampuan
kognitif dan GPPH
Caraballo 38 Menganalisis 53.1% mengalami Outcome yang baik
dkk [21], gambaran, IED dalam hal
2013 penatalaksanaan dan 4 kesulitan belajar pengendalian kejang
outcome MEI (dua GPPH) dan profil
neuropsikologis
Hvolby 5 11 206 Aktigrafi dan GPPH memiliki Perbedaan antara
dkk [23], tahun laporan orang tua latensi tidur yang analisis objektif dan
2008 mengenai kesulitan lebih lama laporan subjektif
tidur pada GPPH orangtua terhadap
tidur
Gruber - 102 Membandingkan Peningkatan onset Instabilitas sistem
dkk [24], sistem tidur-bangun dan durasi tidur tidur-bangun pada
2000 GPPH dengan pada GPPH anak-anak dengan
kontrol GPPH
Crabtree 3 18 97 Tidur pada GPPH 36% PLMD Tingginya prevalensi

12
dkk [25], tahun dengan PSG keluhan tidur yang
2003 subjektif pada
orangtua anak dengan
GPPH
Wiebe 7 11 82 Membandingkan Variabilitas dalam Kedua kelompok
dkk [22], tahun tidur GPPH/rasa waktu tidur dan misa memiliki
2013 kantuk terhadap latensi total kesulitan untuk
kontrol memulai dan
mempertahankan
tidur, dengan
mekanisme yang
berbeda

Sekitar 25-50% dari anak-anak dan remaja dengan GPPH menunjukkan


adanya gangguan tidur [12]. Gangguan tidur yang terjadi mencakup terbangun
pada malam hari, terlambatnya fase tidur, peningkatan aktivitas nokturnal [11,
25], dan insomnia [45, 46]. Anak-anak menunjukkan komitmen tidur yang
signifikan baik pada pemeriksaan subjektif (kuesioner) maupun objektif
(polisomnografi dan aktigrafi) [1,3]. Sebanyak 55-74% orangtua dari pasien
GPPH menyebutkan adanya keluhan dalam hal tidur pada anak mereka [3]. Oleh
karena itu, evaluasi dan penatalaksanaan yang adekuat dapat membawa perbaikan
dalam kualitas kehidupan pasien-pasien ini.
Insidensi epilepsi yang tertinggi terjadi pada bayi [47]., dan menyerang 0.5
1% anak-anak [48]. Telah diketahui bahwa anak-anak dengan epilepsi
menunjukkan adanya komitmen dalam kualitas hidup, fungsi kognitif dan
tidurnya [49, 50].
GPPH merupakan penyakit penyerta psikiatri yang paling sering ditemukan
pada pasien epilepsi, terutama pada kasus-kasus refraktorik, dimana gejala-gejala
dapat ditemukan pada hingga 60-70% pasien [7]. Pada pasien-pasien dengan
epilepsi, tingginya prevalensi gejala GPPH sangat memperburuk prognosis
psikososial, terutama ketika mempertimbangkan beban pengasuhan yang
dibutuhkan [7].
Sekitar satu pertiga pasien epilepsi memperlihatkan adanya kejang selama
tidur. Tidur dapat mengaktifkan kejadian kejang dan kelainan pada
elektroensefalogram (EEG) [52]. Van Golde menyatakan bahwa selama tidur
NREM (non-rapid eye movement), discharge akan dipermudah (kemungkinan

13
besar untuk pola EEG yang disinkronisasi), sementara pada tidur REM (rapid eye
movement) terjadi supresi yang mempersulit propagasi discharge akibat pola yang
mengalami desinkonisasi [53,54].
Pengaruh tidur pada beberapa sindroma epilepsi telah diketahui dengan
baik, seperti pada epilepsi jinak dengan spikes sentro-temporal (BECTS). Juga
telah disadari bahwa kurangnya tidur dapat menyebabkan aktivitas epileptiformis;
namun masih terdapat pembahasan jika hal tersebut terjadi disebabkan oleh
induksi tidur atau eksitabilitas neuronal [53, 54].
Bertambahnya waktu terjaga, rasa kantuk di siang hari, berkurangnya
jumlah tidur total dan kebutuhan yang terbesar akan keberadaan orang tua pada
waktu tidur merupakan karakteristik yang penting pada anak-anak dengan epilepsi
dari sudut pandang perilaku [55,56]. Selain itu, juga diketahui bahwa pola tidur
dan perubahan perilaku bisa mempengaruhi baik anak dan orantuanya [57].
Rasa kecemasan dan takut bahwa seorang anak akan memiliki krisis di
malam hari akan menjadi suatu hipotesis yang masuk akal untuk menjelaskan
perburukan kualitas tidur [58]. Menurut Parisi dkk ini dicerminkan dalam fakta
bahwa anak-anak dengan epilepsi menunjukkan prognosis kognitif dan perilaku
yang lebih baik ketika mereka menjalani tidur dengan kualitas yang memadai dan
pengendalian kejang [59].
Masalah lainnya yang penting adalah untuk mengevaluasi kemungkinan
perbedaan tidur antara pasien dengan GPPH primer dan pasien dengan GPPH
sebagai penyakit penyerta epilepsi. Masalah utama kedua adalah pengaruh
metilfenidat terhadap kualitas tidur pasien-pasien dengan epilepsi dan GPPH.
Dalam sebuah penelitian terbaru [60], diperlihatkan dengan menggunakan
aktigraf, terdapat perbedaan diantara pasien-pasien GPPH yang menggunakan
metilfenidat dan mereka yang menggunakan plasebo. Penguna metilfenidat
menunjukkan penurunan yang signifikan dalam analisis aktivitas rata-rata dan
penurunan yang signifikan dalam jumlah tidur total dibandingkan dengan plasebo.
Fakta ini membawa kita ke pertanyaan lainnya: meskipun metilfenidat telah
terbukti efektif, dengan perbaikan pada sekitar 70% dari pasien [61], dan efek
samping yang sedikit, suatu kebuntuan yang dihadapi dalam praktik klinis sehari-

14
hari adalah keputusan untuk mengobati pasien epilepsi atau mereka yang dengan
kelainan epileptiformis pada EEG [62]. Oleh karena itu, ketidakpastian penurunan
ambang batas untuk kejang dapat mengganggu penatalaksanaan medis,
mengurangi pasien yang mendapatkan obat yang memiliki efektivitas terbesar
terhadap gejala-gejala yang dimilikinya.
Penelitian kami memperlihatkan dan memperkuat pentingnya untuk
mengetahui gejala-gejala yang merupakan suatu gejala yang dominan. Apakah itu
kejang? Apakah itu gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas? Apakah
masalah tidur yang dialami merupakan kelainan primer atau konsekuensi dari
penyakit lainnya? Untuk alasan ini, anak-anak dan remaja penderita epilepsi,
GPPH dan gangguan tidur perlu dinilai secara seksama sebelum memulai
penatalaksanaan.

15
BAB III
KESIMPULAN

Epilepsi dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH)


termasuk berada diantara penyakit-penyakit yang paling sering ditemukan dengan
gangguan tidur. Epilepsi seringkali memperlihatkan perubahan dalam struktur
makro tidurnya, terjadi karena berkurangnya efisiensi tidur, bertambahnya jumlah
dan durasi terjaga pada malam hari, serta peningkatan latensi onset tidur dan
fragmentasi tidur yang disebut dengan REM. Pasien GPPH menunjukkan
hubungan yang berbeda untuk kebiasaan dan pola tidur langsung dengan rasa
kantuk di siang hari. kesulitan untuk memulai dan untuk mempertahankan tidur
dapat ditemukan baik pada tidur di malam hari maupun di siang hari.
Pada penelitian ini hubungan antara epilepsi, gangguan tidur dan GPPH
dari berbagai sudut pandang, mempengaruhi penyakit penyerta terhadap performa
akademik dan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan dalam hal diagnostik
pada tiga kelainan ini.
Anak-anak dan orang dewasa dengan epilepsi, GPPH dan gangguan tidur
perlu dinilai secara seksama sebelum memulai penatalaksanaan. Tinjauan kami
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang penting dalam trias patologi ini.

16