Anda di halaman 1dari 10

GEOTEKNIK TAMBANG

METODE ANALISIS KESTABILAN LERENG

DARMAWATI M

D621 14 014

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

GOWA

2017
Ada banya cara yang dikenal untuk mengananalisis kestabilan
lereng, tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu: cara pengamatan visual, cara komputasi dan cara grafik (Pangular,
1985) sebagai berikut :
1) Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung
di lapangan dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak
atau diperkirakan bergerak dan yang yang tidak, cara ini
memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan memanfaatkan
pengalaman di lapangan (Pangular, 1985). Cara ini kurang teliti,
tergantung dari pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak
ada resiko longsor terjadi saat pengamatan.
2) Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan
rumus (Fellenius, Bishop, Janbu, Sarma, Bishop modified dan lain-
lain). Cara Fellenius dan Bishop menghitung Faktor Keamanan
lereng dan dianalisis kekuatannya. Dalam menghitung besar faktor
keamanan lereng dalam analisis lereng tanah melalui metoda
sayatan, hanya longsoran yang mempunyai bidang gelincir saya
yang dapat dihitung.
3) Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah
standar (Taylor, Hoek & Bray, Janbu, Cousins dan Morganstren).
Cara ini dilakukan untuk material homogen dengan struktur
sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan)
dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi).
Stereonet, misalnya diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram)
dapat menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan dengan
cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan
batuan.

1. Metode Fellenius

Untuk menganalisis kestabilan lereng ada beberapa metode, yang


paling umum digunakan ialah metode irisan yang dicetuskan oleh
Fellenius (1939). Metode ini banyak digunakan untuk menganalisis
kestabilan lereng yang tersusun oleh tanah, dan bidang gelincirnya
berbentuk busur (arc-failure).
Menurut Sowers (1975), tipe longsorang terbagi kedalam 3 bagian
berdasarkan kepada posisi bidang gelincirnya, yaitu longsorang kaki
lereng (toe failure), longsorang muka lereng (face failure), dan longsoran
dasar lereng (base failure). Longsoran kaki lereng umumnya terjadi pada
lereng yang relatif agak curam (>450) dan tanah penyusunnya relatif
mempunyai nilai sudut geser dalam yang besar (>300). Longsoran muka
lereng biasa terjadi pada lereng yang mempunyai lapisan keras (hard
layer), dimana ketinggian lapisan keras ini melebihi ketinggian kaki
lerengnya, sehingga lapisan lunak yang berada diatas lapisan keras
berbahaya untuk longsor. Longsoran dasar lereng biasa terjadi pada
lereng yang tersusun oleh tanah lempung, atau bisa juga terjadi pada
lereng yang tersusun oleh beberapa lapisan lunak (soft seams).
Perhitungan lereng dengan metode Fellenius dilakukan dengan
membagi massa longsoran menjadi segmen-segmen seperti pada contoh
gambar 1, untuk bidang longsor circular adalah:

Gambar 1. Gaya Yang Bekerja Pada Longsoran Lingkaran


Metode Fellenius dapat digunakan pada lereng-lereng dengan
kondisi isotropis, non isotropis dan berlapis-lapis. Massa tanah yang
bergerak diandaikan terdiri dari atas beberapa elemen vertikal. Lebar
elemen dapat diambil tidak sama dan sedemikian sehingga lengkung
busur di dasar elemen dapat dianggap garis lurus. Berat total
tanah/batuan pada suatu elemen (W,) termasuk beban Iuar yang bekerja
pada permukaan lereng (gambar 2) Wt, diuraikan dalam komponen tegak
lurus dan tangensial pada dasar elemen. Dengan cara ini, pengaruh gaya
T dan E yang bekerja disamping elemen diabaikan. Faktor keamanan
adalah perbandingan momen penahan longsor dengan penyebab Iongsor.
Pada gambar 2 momen tahanan geser pada bidang longsor adalah :
Mpenahan = R. r
Dimana :
R = gaya geser
r = jari-jari bidang longsor
Tahanan geser pada dasar tiap elemen adalah :

Momen penahan yang ada sebesar :

Komponen tangensial Wt, bekerja sebagai penyebab longsoran


yang menimbulkan momen penyebab sebesar:

Faktor keamanan dari lereng menjadi :


Jika lereng terendam air atau jika muka air tanah diatas kaki
lereng, maka tekanan air pori akan bekerja pada dasar elemen yang ada
dibawah air tersebut. Dalam hal ini tahanan geser harus diperhitungkan
yang efektif sedangkan gaya penyebabnya tetap diperhitungkan secara
total, sehingga rumus menjadi :

Gambar 2. Sistem Gaya pada Metode Fellenius

2. Metode Janbu
a) Metode ini digunakan untuk menganalisis lereng yang bidang
longsornya tidak berbentuk busur lingkaran.
b) Bidang longsor pada analisa metode janbu ditentukan berdasarkan
zona lemah yang terdapat pada massa batuan atau tanah.
Cara lain yaitu dengan mengasumsikan suatu faktor keamanan
tertentu yang tidak terlalu rendah. Kemudian melakukan perhitungan
beberapa kali untuk mendapatkan bidang longsor yang memiliki faktor
keamanan terendah.
Gambar 6. Aplikasi Metode Janbu
Metode Janbu, untuk tanah berbutir kasar :
Qp = Ap (c Nc+ q Nq)
Dimana :
c = Kohesi tanah (kN/m2)
Nc, Nq = Faktor daya dukung ujung tiang berdasarkan tabel Janbu

Gambar 7. Faktor Daya Dukung Ijin Dengan Sudut Geser Dalam


Janbu (1954) mengembangkan suatu cara analisa kemantapan
lereng yang dapat diterapkan untuk semua bentuk bidang longsor
(gambar 8).
Gambar 8. Analisa Kemantapan Lereng Janbu

Gambar 9. Sistem Gaya pada Suatu Elemen menurut cara Janbu


Keadaan keseimbangan untuk setiap elemen dan seluruh massa
yang longsor mengikuti persamaan dibawah ini :

3. Metode Bishop
a) Metode ini pada dasarnya sama dengan metode swedia, tetapi
dengan memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada.
Metode Bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur
lingkaran
b) Pertama yang harus diketahui adalah geometri dari lereng dan juga
titik pusat busur lingkaran bidang luncur, serta letak rekahan
c) Untuk menentukan titik pusat busur lingkaran bidang luncur dan
letak rekahan pada longsoran busur dipergunakan grafik
Metode Bishop yang disederhanakan merupakan metode sangat
populer dalam analisis kestabilan lereng dikarenakan perhitungannya
yang sederhana, cepat dan memberikan hasil perhitungan faktor
keamanan yang cukup teliti. Metode ini sangat cocok digunakan untuk
pencarian secara otomatis bidang runtuh kritis yang berbentuk busur
lingkaran untuk mencari faktor keamanan minimum.
Metode Bishop sendiri memperhitungkan komponen gaya-gaya
(horizontal dan vertikal) dengan memperhatikan keseimbangan momen
dari masing-masing potongan, seperti pada gambar 2. Metode ini dapat
digunakan untuk menganalisa tegangan efektif.

Gambar 3. Stabilitas lereng dengan metode Bishop


Cara analisa yang dibuat oleh A.W. Bishop (1955) menggunakan
cara elemen dimana gaya yang bekerja pada tiap elemen ditunjukkan
pada seperti pada gambar 4. Persyaratan keseimbangan diterapkan pada
elemen yang membentuk lereng tersebut.
Faktor keamanan terhadap longsoran didefinisikan sebagai
perbandingan kekuatan geser maksimum yang dimiliki tanah di bidang
longsor (Stersedia) dengan tahanan geser yang diperlukan untuk
keseimbangan (Sperlu).
Gambar 4. Sistem gaya pada suatu elemen menurut Bishop

Harga m.a dapat ditentukan dari gambar 5. Cara penyelesaian


merupakan coba ulang (trial and errors) harga faktor keamanan FK di
ruas kiri persamaan faktor keamanan diatas, dengan menggunakan
gambar 5. untuk mempercepat perhitungan. Faktor keamanan menurut
cara ini menjadi tidak sesuai dengan kenyataan, terlalu besar, bila sudut
negatif ( - ) di lereng paling bawah mendekati 30 . Kondisi ini bisa timbul
bila lingkaran longsor sangat dalam atau pusat rotasi yang diandalkan
berada dekat puncak lereng. Faktor keamanan yang didapat dari cara
Bishop ini lebih besar dari yang didapat dengan cara Fellenius.

Gambar 5. Harga m.a untuk persamaan Bishop


DAFTAR PUSTAKA
Erni. 2010. Perencanaan Pondasi Tiang Pancang dalam Berbagai Bentuk
Tiang pada Gedung Rumah Sakit Mitra keluarga Depok. Jogjakarta :
Universitas Gunadarma.

Nyoman, I G. Santiawan, I Gusti N. Wardana dan I Wayan Redana.


Penggunaan vegetasi (rumput gajah) dalam menjaga kestabilan
tanah terhadap kelongsoran. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 11, No. 1,
Januari 2007.

Zakaria, Zufialdi. 2009. Analisa Kestabilan Lereng, seri mata kuliah


Geoteknik. Jogjakarta : Universitas Padjadjaran.