Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Menunda kehamilan adalah hak setiap pasangan. Salah satu cara
untuk menunda kehamilan adalah penggunaan kontrasepsi (Indriati,dkk
2008). Sedangkan menurut Mochtar (1998), alat kontrasepsi dianggap
mempunyai efektivitas baik, bila angka kehamilan/kegagalan berkisar
antara 0-10%.
Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan
pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya kerena keterbatasan metode
yang tersedia, tetapi oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan
keamanan metode kontrasepsi tersebut (Saifuddin, 2006).
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi pada wanita adalah suatu
kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan cara melakukan tindakan
pada kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel telur
(ovum) dengan sel mani (sperma) dan hanya dikerjakan atas indikasi
medis dan terutama dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan
tindakan obstetrik operatif perabdominal seperti pada secsio negara
(Mochtar, 1998).
Sterilisasi wanita adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif
dengan angka kegagalan 1-5 per 1000 kasus, yang berarti efektivitasnya
99,4-99,8% per 100 wanita pertahun (Everest, 2007).
Tujuan program KB sesungguhnya bukan untuk mengurangi
jumlah penduduk. Tujuan yang benar dari program KB adalah
mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil
berkualitas melalui penggunaan alat kontrasepsi sehingga bermanfaat bagi
kesehatan ibu dan anak (BKKBN, 2005).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan yang tertinggi
di Asia Tenggara atau keempat di wilayah Asia Pasifik, yaitu mencapai
248 orang per 100.000 kelahiran hidup (BPS, 2007). Jika dibandingkan
dengan AKI tahun 2002 yaitu 307/100.000 kelahiran hidup, angka ini
mengalami penurunan namun masih jauh dari target Millenium

1
Development Goals (MDGs) tahun 2015 yaitu 102/100.000 kelahiran
hidup. Penyebab langsung kematian ibu tersebut terutama adalah
pendarahan (30%), persalinan macet (5%), keracunan kehamilan/ pre
eklamsi (25%), infeksi (12%), dan komplikasi persalinan (8%) (SKRT,
2002).
Pengaturan kehamilan dan jarak melahirkan diperlukan untuk
mencapai target MDGs tersebut. Ada beberapa metode atau alat KB yang
bisa digunakan, bagi wanita antara lain pil KB, suntik KB, susuk atau
implant, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan Medis Operasi Wanita
(MOW) biasa disebut tubektomi sedangkan bagi pria biasanya dengan cara
pantang berkala, senggama terputus, kondom dan Medis Operasi Pria
(MOP) atau vasektomi (Manuaba, 1998).

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah, penulis dapat menyimpulkan pengertian KB
Tubektomi (Sterilisasi)

3. Tujuan
A. Tujuan Umum
1) Untuk menginformasikan kepada mahasiswa secara detail
mengenai
2) Untuk menambah wawasan kepada mahasiswa tentang KB
Tubektomi (Sterilisasi)
B. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa dapat mengetahui pengertian kontrasepsi
2) Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis kontrasepsi
3) Mahasiswa dapat mengetahui tentang pengertian tubektomi
4) Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis tubektomi
5) Mahasiswa dapat mengetahui indikasi dan kontra indikasi
tubektomi
6) Mahasiswa dapat mengetahui tentang keuntungan dan kerugian
tubektomi
7) Mahasiswa dapat mengetahui persiapan pre-operatif tubektomi
8) Mahasiswa dapat mengetahui tentang komplikasi yang mungkin
terjadi dan penanganannya
9) Mahasiswa dapat mengetahui Perawatan dan Informasi
postoperatife

2
4. Manfaat
A. Sebagai penambah ilmu pengetahuan tentang KB Tubektomi
(Sterilisasi).
B. Mengetahui lebih jelas tentang KB Tubektomi (Sterilisasi).

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah menghidari/mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma
(Suratun, 2008). Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan
konsepsi. Kontra berarti melawan atau mencegah, sedangkan

3
konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma
yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.
Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat antara lain dapat
dipercaya, tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan, daya
kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan
sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan motivasi terus menerus,
mudah pelaksanaannya, murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh
seluruh lapisan masyarakat, dan dapat diterima penggunaannya oleh
pasangan yang bersangkutan.
Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap).
Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat
dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan
atau kemampuan untuk mempunyai anak lagi. Kontrasepsi permanen
adalah kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan
dikarenakan melibatkan tindakan operasi.

2. Jenis-jenis Kontrasepsi
Menurut Hartanto (2004) ada beberapa jenis kontrasepsi yaitu :
A. Metode Sederhana
1) KB alamiah
Natural Family Planning, Fertility Awareness Mewthode, Periodik
Abstinens, Metode Rhythm, Pantang Berkala, Metode Kalender
(Ogino-Knaus), Metode Suhu Badan Basa (Termal), Metode
Lendir Serviks (Bilings), Metode Simpto-Termal, Coitus
Interruptus.
2) Dengan Alat
Mekanis (Barrier) : Kondom pria. Barrier Intra-Vaginal :
Diagfragma, Kap Serviks (Cervical Cap), Spons (Sponge),
Kondom wanita. Kimiawi : Spermisid, Vaginal cream, Vaginal
foam, Vaginal jelly, Vagibal suppositoria, Vaginal tablet, dan
Vaginal soluble film.
B. Metode Modern
1) Kontrasepsi Hormonal

4
Per-oral
Pil oral kombinasi (POK), Mini-Pil, Morning after pill
2) Injeksi/suntikan
(DMPA, NET-EN, Microspheres, Microcapsules).
3) Sub-kutis : Implant
Alat Kontrsepsi Bawah Kulit (AKBK) : Implant Non-
biodegradable. Norplant, Norplant-2, ST-1425, Implanon :
Implant biodegradable
C. Intra Uterin Devices (IUD, AKDR)
D. Kontrasepsi mantap
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau
melawan. Sedangkan konsepsi berarti pertemuan antara sel telur
yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Dengan
demikian, yang dimaksud dengan kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat dari
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut
(Indiarti & Hotimah, 2008).
Sedangkan menurut Siswasudarmo.et.al (2007), istilah kontrasepsi
mantap merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, scure
contraception. Nama lain adalah sterilisasi (strelization), atau
kontrasepsi operatif (surgical contraception). Pada wanita sterilisasi
lazimnya dilakukan dengan memotong dan mengambil sebagian
saluran telur (tuba) sehingga dikenal istilah tubektomi.
Kontrasepsi mantap adalah suatu metode kontrasepsi yang pada
pria disebut vasektomi dan pada wanita disebut tubektomi.
Kontrasepsi mantap pada wanita yang disebut tubektomi ialah suatu
pembedahan dengan cara mini laparatomi (minilap) yaitu tindakan
pada tuba fallopii wanita melalui irisan kecil di dinding perut 2-3 cm
yang dapat mengakibatkan wanita tersebut tidak dapat hamil.
Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Uchida dkk (1961) di
Jepang untuk akseptor kontrasepsi mantap (kontap) atau sterilisasi
pada wanita pasca persalinan. Selanjutnya Mark dan Webb (1968)
melakukan sayatan kecil yang tersembunyi di balik lipatan kulit
bawah pusat pada akseptor pasca persalinan, sehingga parutnya tidak

5
kelihatan. Untuk akseptor masa interval baru dikembangkan sejak
tahun 1970-an, diantaranya Vitoon Osathanondh (1972) dari Thailand
mengembangkan teknik minilaparotomi yang sederhana dengan
memakai alat-alat yang sederhana pula, anestesi lokal tanpa tinggal di
rumah sakit. Dan untuk menempatkan rahim sedemikian rupa ke
depan dinding perut dipergunakan elevator rahim Ramathibodi
sehingga tuba Fallopii dengan mudah ditampilkannya. Kemudian
dilakukan pengikatan atau pemotongan. Ternyata teknik yang
sederhana ini mudah, aman dan murah sesuai untuk program kontap di
negara-negara berkembang. Pembedahan tubektomi minilap
merupakan salah satu teknik kontap pada wanita yang resikonya
sedikit tetapi manfaatnya banyak. Teknik pembedahan tubektomi
(Minilap) dapat dibedakan anatara pasca persalinan, pasca keguguran,
dan masa interval berdasarkan atas saat melakukan pembedahan,
lokasi minilaparotomi untuk mencapai tuba, dan teknik pembedahan
tubektomi.

3. Pengertian Tubektomi
Tubektomi atau kontap wanita ialah suatu kontrasepsi permanen
untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara tindakan mengikat atau
memotong pada kedua saluran tuba. Dengan demikian maka ovum yang
matang tidak akan bertemu dengan sperma karena adanya hambatan pada
tuba (Suratun dkk, 2008).
A. Kefektifian Tubektomi
Angka kegagalannya hanya 0,2-0,4 per 100 wanita pertahun,
kegagalan ini umumnya karena kesalahan tehnik operasi tetapi
mungkin juga karena rekanalisasi (Siswasudarmo.et.al, 2007).
Sedangkan menurut Saifuddin (2008), angka kefektifannya 0,5
kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan.
B. Yang Dapat Menjalani dan Yang Sebaiknya Tidak Menjalani
Tubektomi
Yang Dapat Menjalani Tubektomi
1) Usia > 26 tahun

6
2) Paritas > 2
3) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan
kehendaknya
4) Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan
yang serius.
5) Pascapersalinan
6) Pasca keguguran
7) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini
Yang Sebaiknya Tidak Menjalani Tubektomi
1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
2) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus
dievaluasi).
3) Infeksi sistemik atau pelvic yang akut (hingga masalah itu
disembuhkan atau dikontrol)
4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa
depan
6) Belum memberikan persetujuan tertulis.
(Saifuddin, 2006).
C. Jenis-jenis Tubektomi
1) Minilaporatomi
Adalah sterilisasi tuba yang dilakukan melalui suatu insisi
suprapubik kecil dengan panjang biasanya 3-5 cm.
Minilaparotomi merupakan metode sterilisasi wanita yang
paling sering dilakukan di seluruh dunia karena keamananya,
kesederhanaannya, dan kemudahan adaptasinya terhadap
lingkungan bedah (Speroff, Darney, hlm.357).
Keuntungan minilaparotomi dapat dikerjakan oleh setiap
tenaga medis yang memiliki dasar-dasar ilmu bedah dan
keterampilan bedah, hanya memerlukan alat-alat yang
sederhana dan tidak mahal terutama alat-alat bedah standar,
komplikasi umumnya hanya komplikasi minor dan dapat

7
dilakukan segera setelah melahirkan (Hartanto, 2004,
hlm.251).
Kerugian minilaparotomi yaitu waktu operasi sedikit lebih
lama dibandingkan dengan laparoskopi yang rata-rata
memerlukan 10-20 menit, sukar pada wanita yang sangat
gemuk bila ada perlekatan-perlekatan pelvis atau pernah
mengalami operasi pelvis, operasi ini meninggalkan bekas luka
parut kecil yang masih dapat terlihat, rasa sakit abdomen yang
singkat karena luka insisi terjadi pada 50% wanita, angka
kejadian infeksi luka operasi lebih tinggi dibandingkan dengan
laparoskopi.

Gambar 2.1: Minilaparotomi

2) Laparoskopi adalah suatu pemeriksaan endoskopik dari


bagian dalam rongga peritoneum dengan alat laparoskop
yang dimasukkan melalui dinding anterior abdomen
(Hartanto, 2004, hlm.252).
Cara oklusi tuba falopii
Cara oklusi tuba falopii adalah dengan ligasi tuba falopii.
Ligasi atau pengikatan tuba falopii untuik mencegah perjalanan dan
pertemuan spermatozoa dan ovum . tekhnik ligasi tuba falopii antara
lain:
1) Ligasi biasa
Ligasi biasa jarang dikerjakan lagi sekarang karena angka
kegagalan tinggi. Pernah dicoba untuk melakukan ligasi dengan

8
dua ikatan tetapi menyebabkan terjadinya hydrosalpinx diantara
dua ikatan sehingga cara ini tiadak dipakai lagi.
2) Ligasi +penjepitan tuba falopii
Teknik Madlener
Bagian tengah tuba falopii diangkat sehingga membentuk suatu
loop. Dasar dari loop dijepit dengan klem kemudian diikat
dengan benang yang tidak diserap(silk,silicon).
3) Ligasi + pembelahan/pembagian+penanaman
Ada dua teknik ligasi ini, yaitu :
Teknik irving
Tuba falopii diikat pada 2 tempat dengan benang yang dapt
diserap kemudian dibagi diantara kedua ikatan.
Ujung atau puntung proximal ditanamkan dalam
myometrium uterus
Ujung atau puntung distal ditanamkan kedalam mesosalpinx
Teknik wood
Pars ampularis tuba falopii dibelah /dibagi(division)
Kedua ujung atau puntung yang dibelah atau dibagi diikat
dengan benang yang dapat diserap
Ujung /puntung medial ditanamkan kedalam kantong yang
dibuat dalam mesosalpinx.
Teknik Cooke
Suatu segmen tuba fallopii dijepit dan dirusak, kemudian
ujung proximal ditanamkan dalam ligamentum rotundum.
4) Ligasi + Reseksi tuba fallopii
Ada empat teknik dalam ligasi ini, yaitu :
a. Salpingektomi
Sebagai suatu cara kontap wanita yang biasa / rutin ,
tidak / jarang dikerjakan karena prosedurnya luas,
reversibilitas tidak ada dan morbiditas lebih tinggi
( perdarahan )
b. Teknik Pomeroy
Merupakan teknik kontap wanita yang paling sering
dikerjakan. Bagian tengah tuba fallopii dijepit
dengan klem lalu diangkat sehingga membentuk
suatu loop. Dasar dari loop diikat dengan benang

9
yang dapat diserap ( plain catgut ). Bagian loop
diatas ikatan dipotong.
Dengan diserapnya benang ikatan maka ujung-ujung
tuba fallopii akan saling terpisah.
Teknik Pomeroy memusnahkan tuba fallopii
sepanjang kurang lebih 3-4 cm.
c. Teknik Pritchards = Teknik Parkland
Suatu segmen kecil dari tuba fallopii dipisahkan dari
mesosalpinx.
Masing-masing ujung dari segmen tersebut diikat
dengan benang chromic kemudian dipotong diantara
kedua ikatan dan segmen tuba fallopii dibuang.
d. Fimbriektomi Kroener
Bagian 1/3 distal tuba fallopii diikat dengan dua ikatan
benang silk dan ujung fimbrae dieksisi. Pada teknik ini
tidak didapatkan gangguan suplai darah ovarium.
5) Ligasi + Reseksi + Penanaman tuba fallopii
Ada dua teknik dalam ligasi ini,yaitu :
a. Reseksi Cornu
Merupakan prosedur yang ekstensif yang memerlukan
laparotomi. Utero tubal junction diikat dengan benang
yang dapat diserap. Insisi tuba fallopii proximal dari
ikatan, membebaskannya dari mesosalpinx kemudian
membuang 1 cm dari tuba fallopii. Myometrium uterus
disekitarnya dieksisi terbentuk baji( untuk mencegah
endometriosis dan kehamilan ektopik ) dan bagian
proximal dari segmen distal tuba fallopii ditanam kedalam
ligamentum latum.
b. Teknik Uchida
Larutan garam fisiologis- adrenalin ( 1 : 1000 )
disutikan dibawah serosa pars ampularis, sehingga
terjadi spasme vaskuler local dan pembengkakan
dari mesosalpinx, dan terjadi pemisahan dari
permukaan serosa dengan bagian muskularis tuba
fallopii.

10
Serosa diinsisi dan dibebaskan kebelakang.
Segmen sepanjang 5 cm dari bagian proximal tuba
fallopi diputuskan / dipotong, ujung yang pendek
diikat dengan benang yang tidak diserap dan segmen
tuba fallopii dibuang. Maka ujung tuba fallopii yang
telah diikat secara otomatis membenamkan dirinya
dibawah serosa .
Pinggir dari insisi serosa dikumpulkan sekitar ujung
distal tubafallopii dan diikat secara ikatan rangkaian
kantong sehingga tuba fallopii ditinggalkan
menonjol ke dalam cavum abdomen.
Elektro-koagulasi / termo koagulasi (fulgurasi)
Elektro-koagulasi adalah tindakan membakar suatu segmen dari tuba
falopi dengan arus listrik frekuensi tinggi atau dengan panas,
sehingga terjadi oklusi dari tuba falopii.
Dikenal 2 macam elektro-koagulasi :
1) Elektro-koagulasi Uni polar
- Dikembangkan pada tahun 1960 an
- Arus listrik mengalir dari forsep laparoskop melalui tubuh
wanita ke suatu lempeng logam yang diletakan di bawah
bokong atau paha wanita.
- Bahaya koagulasi Unipolar dapat terjadi luka bakar pada
jaringan atau organ lain, terutama luka bakar usus
- Elektro-koagulasi Uni polar merusak 20-50 % dari tuba
falopi
2) Elektro-koagulasi Bipolar
- Dikembangkan pada tahun 1970an, untuk mengurangi
terjadinya luka bakar usus.
- Arus listrik mengalir di antara kedua jepitan dari forsep
laparoskop sehingga hanya sebagian kecil saja dari tuba
falopi yang terlibat.

Thermo-koagulasi
Merusak Tuba falopi dengan panas sehingga shock dan luka bakar
elektrik tidak terjadi pada jaringan/organ lain.Thermo-koagulasi
belum banyak dipakai dan efektivitasnya masih belum diketahui

11
dengan jelas. Dengan memakai aliran listrik voltase rendah (6 volt )
atau temperature rendah(umumnya <1400C), resiko terjadinya luka
pada jaringan/organ sekitarnya dapat dikurangi.
Tubal Clips
Tubal clips tidak dipakai sesering seperti ligasi atau fulgurasi tuba
fallopi disebabkan karena angka kegagalannya cukup tinggi. Tubal
clips dipasang pada isthmus tuba falopii 2-3 cm dari uterus melalui
laparotomi, laparoskopi, kolpotomi atau kuldoskopi. Tubal clips
menyebabkan kerusakan yang lebih sedikit/ kecil pada tuba falopii
(kira-kira 4 mm)dibandingkan cara-cara oklusi tuba falopii lainnya.
Dengan tubal clips, kerusakan tuba falopii < 1 cm dibandingkan
denagan 1-3 cm pada tubal rings, 3-4 cm pada pomeroy dan 3-6 cm
elektrokoagulasi.
Macam-macam tubal clips:
1) Tantalum hemo-clips
Terbuat dari tantalum, suatu logam yang tidak bereaksi dengan
jaringan(non tissue reactive), mempunyai alur-alur pada bagian
dalamnya agar lebih kuat menjepit tuba falopii. Tantalum hemo-
clips kurang efektif, dengan angka kegagalan lebih dari 10 %
yang disebabkan karena:
- Terlepas/merosot dari tuba falopii
- Klips membuka sedikit sehingga timbul lagi tubal patensi
(mungkin disebabkan oleh tekanan sekresi intra luminal
yang meninggi )
- Klips memutuskan/ memotong tuba falopi sehingga
terjadi rekanalisasi.
Untuk mengurangi angka kegagalan dan mempertinggi
efektivitasnya dicoba dengan memasang dua tubal clips pada
masing-masing tuba falopii(wheeless dan penelitian-penelitian
lain) tetapi ternyata angka kegagalannya masih tetap tinggi.
2) Spring - loaded clips
Ditemukan dan dipakai awal 1970-an oleh Hulka- Clemens.
Terdiri dari 2 rahang bergigi palstik yang dipegang oleh suatu
pegas stainless steel yang harus didorong kedepan agar cipsnya

12
menutupi dan menjepit tuba falopii, bila dipasang dengan benar
angka kegagalan < 0,5 per 100 wanita dengan model spring
loaded clips mutahkir(dikanal dengan sebagai Rocket Clips di
inggris dan Wolf Clips di amerika serikat). Morbiditas dengan
tuba clips hanya minor saja:
- Reflex vaso-vagal seperti mual, pingsan, brankhikardia
dan hipotensi.
- Nyeri atau kejang perut.
3) Filshie=nothingham clips
- Dikembangkan pada tahun 1973 oleh G.M Filshie, terbuat
dari titanium dengan permukaan dalam clips dilapisi
silicon.
- Setelah dipasang pada tuba falopii silicon akan ditekan
sehingga terjadi atrofi jaringan tuba falopii, yang disusul
dengan mengembangnya silicon sehingga tuba falopii
tetap tersumbat.
- Terdapat 6 model Filshie clips yang telah dicoba pada >
10.000 wanita di seluruh dunia dengan angka kegagalan
0,6 per 100. Pada model mutakhir filishe clips yaitu Mark-
6, angka kegagalan lebih rendah lagi yaitu hanya 1
kehamilan pada 1.200 wanita. Sejak januari 1983 telah
dilakuakan 43.000 kontap wanita. Dengan Mark-6 clips
dan dilaporkan terjadi hanya 20 kehamilan.

Gambar 2.3: Filshie Clips

4) Bleier Clips

13
- Dikembangkan awal 1970-an oleh W.Bleier di jerman
mempunyai panjang 10 mm dan lebar 4 mm terbuat dari
plastic
- Sekarang bleier clips tidak dibuat dan tiadak dipakai lagi
oleh karena angka kegagalannya yang tinggi sekali dan
sering timbul persoalan-persoalan dengan aplikatornya.

Keuntungan laparoskopi yaitu komplikasi rendah


dan pelaksanaannya cepat (rata-rata 5-15 menit), insisi
kecil sehingga luka parut sedikit sekali, dapat dipakai juga
untuk diagnostik maupun terapi, kurang menyebabkan
rasa sakit bila dibandingkan dengan mini laparotomi,
sangat berguna bila jumlah calon akseptor banyak.
Kerugian laparoskopi resiko komplikasi dapat
serius (bila terjadi), lebih sukar dipelajari, memerlukan
keahlian dan keterampilan dalam bedah abdomen, harga
peralatanya mahal dan memerlukan perawatan yang teliti,
tidak dianjurkan untuk digunakan segera post-partum
(Hartanto, 2004).

D. Waktu Pelaksanaan Tubektomi


Menurut Suratun dkk (2008), waktu palaksanaan tubektomi
sebaiknya dilakukan pada saat :
1) Pasca persalinan, sebaiknya dalam jangka waktu 48 jam
pasca persalinan.
2) Pasca keguguran, dapat dilakukan pada hari yang sama
dengan evakuasi rahim atau keesokan harinya
3) Dalam masa interval (keadaan tidak hamil), sebaiknya
dilakukan dalam 2 minggu pertama dari siklus haid ataupun
setelahnya, seandainya calon akseptor menggunakan salah
satu cara kontrasepsi dalam siklus tersebut.
E. Indikasi dan Kontra Indikasi Tubektomi
1) Indikasi

14
Dengan sifatnya yang permanen, sterilisasi hanya cocok untuk
pasangan yang tidak menginginkan anak lagi. Secara lebih
luas, indikasi sterilisasi dapat dibagi lima macam yaitu :
Indikasi Medis
Yang termasuk indikasi medis adalah penyakit
yang berat kronik seperti jantung, ginjal, paru-paru, dan
penyakit kronik lainnya. Tetapi tidak semua penyakit
tersebut merupakan indikasi, hanya yang membahayakan
keselamatan Ibu kalau ia mengandung merupakan
indikasi untuk sterilisasi.
Indikasi Obstetris
Indikasi obstetris adalah keadaan di mana resiko
kehamilan berikutnya meningkat meskipun secara medis
tidak menunjukkan kelainan apa-apa, termasuk kedalam
indikasi obstetric adalah multiparitas (banyak anak),
apalagi dengan usia yang relatif lanjut (misal
grandemultigravida, yakni paritas lima atau lebih
dengan umur 35 tahun atau lebih), sesio sesarea dua kali
atau lebih dan lain-lain.
Indikasi Genetik
Indikasi genetik adalah penyakit herediter yang
membahayakan kesehatan dan keselamatan anak, seperti
hemophilia.
Indikasi Kontrasepsi
Indikasi kontrasepsi adalah indikasi yang murni
ingin menghentikan (mengakhiri) kesuburan, artinya
pasangan tersebut tidak menginginkan anak lagi
meskipun tidak terdapat keadaan lain yng
membahayakan keselamatan Ibu seandainya ia hamil.
Indikasi Ekonomis

15
Indikasi ekonomis artinya pasangan suami istri
menginginkan sterilisasi karena merasa beban ekonomi
keluarga menjadi terlalu berat dengan bertambahnya
anak dalam keluarga tersebut (siswosudarmo, 2007,
hlm.52-53).
2) Kontra indikasi
Kontra Idikasi (tidak boleh menjalani tubektomi) Menurut
Sujiyatini (2009, p.165) yang tidak boleh menjalani tubektomi
adalah sebagai berikut:
Hamil atau dicurigai hamil
Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan
Infeksi sistemik atau pelvik yang akut
Tidak boleh menjalani proses pembedahan
Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas
dimasa depan
Belum memberikan persetujuan tertulis

.
F. Keuntungan dan Kerugian Tubektomi
Keuntungan yang utama bahwa kontap merupakan suatu
metode cara KB yang paling efektif disbanding seluruh cara yang
tersedia. Keefektifannya tercapai begitu operasi selesai
dikerjakan. Tubektomi merupakan cara KB jangka panjang yang
tidak memerlukan tindakan ulang artinya cukup sekali dikerjakan.
Dengan kata lain cara ini selain tidak user dependent. Karena cara
ini permanent, dapat dikatakan continuation rate-nya praktis
100%. Meskipun kontap harus ditempuh melalui operasi
tubektomi merupakan cara yang paling aman, bebas dari efek
samping asal semua prosedur dan persyaratan operasi terpenuhi.
Sebagaimana cara KB lainya kontap bersifat praktis artinya tidak

16
membutuhkan kunjungan ulang yang terjadwal dan tidak
mengganggu hubungan sexsual. Bebas dari efek samping
hormonal sebagaimana pil, KB suntik maupun susuk.
Kerugian kontap adalah sifatnya permanent, sehingga calon
ibu klien harus menyadari betul bahwa sekali dilakukan sterilisasi
hamper tidak mungkin hamil kembali. Cara ini hanya cocok untuk
mereka yang tidak ingin mempunyai anak lagi, bukan sebagai
cara penjarangan. Kontap merupakan tindakan operasi, sehingga
syarat operasi harus terpenuhi terutama yang menyangkut
pencegahan infeksi (Siswasudarmo.et.al, 2007).
G. Persiapan Pre-operatif Tubektomi
1) Konseling perihal kontrasepsi dan jelaskan kepada klien
bahwa ia mempunyai hak untuk berubah pikiran setiap
waktu sebelum prosedur dilakukan.
2) Menanyakan riwayat medis yang mempengaruhi keputusan
pelaksanaan operasi atau anestesi antara lain meliputi
penyakit-penyakit pelvis, pernah mengalami operasi
abdominal atau pelvis, riwayat diabetes mellitus, riwayat
penyakit paru-paru seperti asthma, bronchitis, pernah
mengalami problem dengan anestesi, penyakit-penyakit
perdarahan, alergi dan pengobatan yang dijalani saat ini.
3) Pemeriksaan fisik: meliputi kondisi-kondisi yang mungkin
mempengaruhi keputusan pelaksanaan operasi atau anestesi.
4) Pemeriksaan laboratorium meliputi pemerisaan darah
lengkap, pemeriksaan urin dan pap smear.
5) Informed consent harus diperoleh. Standard consent form
harus ditandatangani oleh suami atau istri yang dari calon
akseptor kontrasepsi mantap sebelum dilakukan. Umumnya
penandatanganan dokumen Informed consent dilakukan
setelah calon akseptor dan pasangannya mendapatkan
konseling (Pinem, 2009, hlm.294).

17
H. Komplikasi yang Mungkin Terjadi dan Penanganannya
1) Infeksi luka, apabila terlihat infeksi luka obati dengan
antibiotik.
2) Demam pasca operasi (> 38 c), obati infeksi berdasarkan
apa yang ditemukan.
3) Luka pada kandung kemih, intestinal (jarang terjadi).
Apabila kandung kemih atau usus luka dan diketahui
sewaktu operasi, lakukan reparasi primer, apabila
ditemukan pascaoperasi,dirujuk kerumah sakit yang tepat
bila perlu.
4) Hematoma subkutan, gunakan packs yang hangat dan
lembab ditempat tersebut. Amati hal ini biasannya akan
berhenti dengan berjalannya waktu tetapi dapat
membutuhkan drainase bila ekstensif.
5) Emboli gas yang diakibatkan laparoskopi (sangat jarang
terjadi).
6) Rasa sakit pada lokasi pembedahan, pastikan adanya
infeksi, atau abses dan obati berdasarkan apa yang
ditemukan.
7) Perdarahan superficial (tepi-tepi kulit atau subkutan),
mengontrol perdarahan dan obati berdasarkan apa yang
ditemukan (Saifuddin, 2006, hlm.MK-84).
I. Perawatan dan Informasi postoperatife
Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut dilepaskan.
Mulai lagi aktivitas normal secara bertahap (sebaiknya dapat
kembali ke aktivitas normal dalam waktu 7 hari setelah
pembedahan), hindarilah hubungan intim hingga merasa cukup
nyaman, hindari mengangkat benda-benda berat dan apabila
merasa sakit minumlah 1 atau 2 analgesik (penghilang rasa sakit)
setiap 4 hingga 6 jam

18
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Tubektomi merupakan tindakan operasi kecil untuk mencegah
kehamilan yang dilakukan pada wanita dengan memotong atau mengikat
bagian saluran yang dilalui sel telur atau menghambat pertumbuhan
ovum dan spermatozoa.
Tujuan program KB sesungguhnya bukan untuk mengurangi
jumlah penduduk. Tujuan yang benar dari program KB adalah
mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil
berkualitas melalui penggunaan alat kontrasepsi sehingga bermanfaat bagi
kesehatan ibu dan anak (BKKBN, 2005).

19
Dahulu Tubektomi dilakukan dengan jalan laparotomi atau
pembedahan vaginal. Sekarang, dengan alat-alat dan tekhnik baru,
tindakan ini diselenggarakan secara lebih ringan dan tidak memerlukan
perawatan di rumah sakit.
Dalam tahun-tahun terakhir ini tubektomi telah merupakan bagian
yang penting dalam program keluarga berencana di banyak negara di
dunia. Tetapi secara resmi tubektomi tidak termasuk ke dalam program
nasional keluarga berencana indonesia.

2. Saran
a. Harus lebih sering disosialisasikan manfaatnya atau keuntungannya
jika di banding dengan metode kontrasepsi lainnya.

b. Sebaiknya ada konpensasi atau penghargaan dari pemerintah


kepada akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ferre, Hellen,(1999),Perawatan Maternitas.Cet.1.Ed.2-Jakarta : EGC.


Glasier, A,(2005),Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.Ed.4.Cet.1-
Jakarta : EGC.
Hartanto,(2004),Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Cet.5-Jakarta : CV
Muhasari.
Indiarti, dkk,(2008), Bahagia Menjalani Kehamilan Sehat.Cet.1-Yokyakarta :
Pegasus.
Manuaba, (1998), Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan. Cet.2 Jakarta : EGC.
Mochtar,Rustam,(1998),Sinopsi Obstetri : Obstetri Operatif, Obstetri
Sosial.Ed.2-Jakarta : EGC.

20
Notoatmodjo.S,(2002), Metodologi Penelitian Kesehatan.Cet.2 Jakarta :
PT.Rineka Cipta.
Siswasudarmo.et.al,(2007),Teknologi Kontrasepsi.Cet.2-Yogyakarta:Gadjah
Mada University.
Speroff Leon,(2005), Pedoman Klinis Kontrasepsi.Ed.2.Cet.1-Jakarta : EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC.

Wiknjosastro, Hanifa.1999. Ilmu Kebidanan, ed. III. Jakarta : Yayasan Bina


Pustaka.

21