Anda di halaman 1dari 13

1

Pendahuluan
Resesi gingiva adalah masalah yang mempengaruhi hampir semua pasien
yang berusia paruh baya dan lansia dalam berbagai derajat. Resesi gingiva
adalah migrasi apikal margin gingiva ke batas semento enamel (BSE).Jarak antara
BSE dan marjin gingiva memberikan derajat resesi. Resesi gingiva dapat
disebabkan oleh penyakit periodontal, akumulasi plak, inflamasi, flossing yang
tidak benar, penyikatan gigi yang agresif, hubungan oklusal yang salah, dan
akaryang dominan. Resesi dapat muncul terlokalisr atau menyeluruh.Resesi dapat
terjadi dengan atau tanpa kehilangan perlekatan jaringan.Resesi gingiva dapat
mempengaruhi sensitivitas karena terpaparnya dentin, dapat dinilai dari panjang
gigi secara klinis dan proporsi gigi yang bervariasi bila dibandingkan dengan gigi
tetangga.

Prevalensi
Menurut Survei Nasional AS, 88% lansia (usia 65 dan lebih) dan 50% dari
orang dewasa (18-64) memiliki resesi pada satu atau lebih sisi; terjadi
peningkatan frekuensi dan derajat resesi yang progresif seiring dengan
meningkatnya usia..
Prevalensi resesi pada kelompok usia termuda (30 hingga 39 tahun),
adalah 37,8% dan menjangkau rata-rata 8,6% gigi. Sebaliknya, pada kelompok
usia tertua, berusia 80 sampai 90 tahun, memiliki prevalensi 90,4% (lebih dari dua
kali lebih tinggi) dan menjangkau rata-rata 56,3% gigi (lebih dari enam kali lebih
besar).
Resesi gingiva terkait dengan kehadiran kalkulus supragingiva dan
subgingiva dan terlihat bahwa permukaan lingual gigi anterior rahang bawah
adalah paling sering terpengaruh pada kelompok usia 20-34 tahun pada populasi
dewasa Tanzania..
2

Etiologi
1. Kalkulus
Hubungan antara resesi gingiva dengan kalkulus supragingiva dan
subgingiva dapat terjadi karena akses untuk perawatan profilaksis gigi
kurang adekuat.
2. Menyikat gigi.
Khocht dkk menunjukkan bahwa penggunaan sikat gigi dengan bulu yang
dapat menyebabkan resesi.
3. Perlekatan Frenal yang tinggi.
Hal ini dapat menghambat penyingkiran plak karena menyebabkan tarikan
pada marjinal gingiva.
4. Posisi gigi.
Gigi yang erupsi dekat dengan garis mukogingiva dapat mengalami resesi
gingiva terlokalisir karena jaringan berkeratin sangat sedikit atau tidak ada.
5. Pergerakan gigi dengan Gaya Ortodonsi.
Pergerakan gigi seperti proklinasi berlebihan gigi Insisivus dan ekspansi
lengkung rahang yang berlebihan meningkatkan resiko resesi gingiva yang
lebih besar.
6. Desain gigitiruan lepasan sebagian yang tidak benar.
Gigitiruan lepasan sebagian yang telah dipergunakan atau dirancang dapat
menyebabkan trauma pada gingiva dan retensi plak memiliki kecenderungan
untuk menyebabkan resesi gingiva.
7. Merokok.
Orang-orang yang merokok memiliki lebih resesi gingiva dibanding bukan
perokok.Sisi resesi yang ditemukan pada permukaan bukal gigi Molar dan
Premolar rahang atas,Insisivus sentralis rahang bawah.
8. Restorasi.
Margin restorasi subgingival dapat meningkatkan akumulasi plak,
inflamasi gingiva, dan kehilangan tulang alveolar
9. Bahan kimia.
Aplikasi kokain topikal menyebabkan ulserasi dan erosi gingiva.

Konsekuensi
1. Estetis.
Penampilan gigi menjadi kurang menarik.
2. Perdarahan gingiva dan Retensi plak.
Secara klinis sisi resesi mungkin menjadi tempat retensi plak.
3. Hipersensitivitas.
Resesi akan meyebabkan paparan pada dentin servikal. Terkaitk dengan
stimulus dingin biasanya durasi hipersensitivitas tajam dan pendek.
3

Mekanisme hipersensitivitas yang diterima adalah teori hidrodinamik dari


rasa sakit, yang menyatakan bahwa pergerakan cairan dalam tubulus dentin
memicu serabut saraf sensorik pada bagian dalam dentin dan batas
dentinopulpal.
4. Karies.
Ada risiko perkembangan karies akar karena permukaan akar terpapar
lingkungan mulut dan meningkatkan penumpukan plak. Pasien pada fase
pemeliharaan periodontal dengan rata-rata permukaan akar yang terkena
sebanyak 64,7 per pasien; jumlah rata-rata lesi karies yang terdeteksi adalah
sebanyak 4,3 dalam studi prevalensi.

Perawatan
1. Restorasi, Mahkota, dan Veneer.
Mahkota dapat ditempatkan untuk memperluas mahkota klinis yang dapat
menyamarkan permukaan akar yang terpapar.
2. Konstruksi Gingival Mask.
Pasien dengan resesi gigi yang parah mungkin memiliki penampilan
kurang menarik karena segitiga hitam. Dalam kasus ini, di mana prosedur
bedah tidak sesuai, dapat digunakan veneer gingiva silikon fleksibel atau
mask.
3.Root Conditioning.
Aplikasi tetrasiklin HCL atau asam sitrat ke permukaan akarsebelum
penempatan graft jaringan lunak.

4.Frenektomi.
Frenektomi disarankan pada kasus-kasus resesi akibat tarikan frenal.Jika
kebersihan area yang bebas plak tidak dapat dipertahankan oleh pasien, maka
disarankan frenektomi untuk memberikan kemudahan untuk membersihkan
sisi tersebut..
5. Teknik-teknik Penutupan Akar secara Bedah
a. Free epithelialized gingival graft.
b. Subepithelial connective tissue graft
c. Flep Semiluner.
d. Coronally advanced flap
e. Regenerasi Jaringan Terarah (GTR)
4

LAPORAN KASUS
Kasus 1
Seorang pasien wanita berusia 43 tahun mengeluhkan hipersensitivitas
meskipun menggunakan pasta anti-hipersensitivitas sejak 2 bulan dan juga
khawatir tentang estetis. Pasien mengalami resesi gingiva pada gigi kaninus kiri
rahang atas dan premolar pertama pada pemeriksaan pertama (Gambar 1).
Resesi pada kaninus diukur 2 mm dan 3 mm pada premolar pertama.
Kehilangan perlekatan klinis dari BSE untuk kaninus adalah 4 mm dan 5 mm
untuk premolar pertama.Telah dilakukan profilaksis oral dan instruksi kebersihan
mulut sehingga dicapai kontrol plak yang memuaskan sebelum bedah periodontal.
Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, digunakan insisi semiluner dan insisi
intrasulkuler teknik Tarnow (Gambar 2). Penyerutan akar dengan kuret manual
untuk menyingkirkan kalkulus yang tersisa dan untuk mendapatkan permukaan
yang halus dan kemudian dirawat dengan tetrasiklin selama 3 menit
(menggunakan teknik burnishing) (Gambar 3).Permukaan akar kemudian dibilas
dengan saline. Flap diposisikan paling koronal. Penyembuhan pasca bedah setelah
2 bulan menunjukkan peningkatan sebanyak 2 mm dan dicapai penutupan akar
(Gambar 5).

Gambar 1: Pandangan facial dari resesi gingiva pada


premolar 1 dan kaninus. Pasien mengeluhkan
sensitivitas akar selain penampilan kurang
menarik saat tersenyum.
5

Gambar 2: Insisi semiluner ditempatkan apikal.

Gambar 3: Pengolesan tetrasiklin pada akar

Kasus 2
Seorang pasien wanita berusia 31 tahun mengeluhkan segitiga hitam pada
regio gigi depan atas sejak 6 bulan dan khawatir tentang estetis dan suara siulan
saat berbicara (Gambar 6).

Papila interdental diantara gigi insisivus sentralis dan lateralis kanan


rahang atas tumpul (Gambar 6). Profilaksis oral dan instruksi kebersihan mulut
telah dilakukan sehingga dicapai kontrol plak yang memuaskan sebelum bedah.
Insisi intrasulkuler dibuat pada permukaan gigi yang menghadap ke daerah
interdental yang akan direkonstruksi (Gambar 7), sehingga insisi menyilang
permukaan fasial dari daerah interdental dan flep ketebalan sebagian tipe
envelope, diangkat; secara bersamaan, dibuat insisi semiluner ke apikal dari batas
mukogingiva dan flep ditempatkan ke koronal menggunakan teknik Langers.
Graft jaringan ikat diambil dari palatum (Gambar 8) dan ditempatkan di bawah
flep di daerah interdental (Gambar 9) dan dijahit kembali (Gambar 10).
6

Penyembuhan pasca bedah setelah 6 bulan pada gambar 11 mengungkapkan


penutupan dari segitiga hitam dantara insisivus sentralis dan lateral kiri atas yang
sangat baik.

Gambar 4. Reposisi flep ke koronal

Gambar 5: Salah satu pandangan pasca bedah 1 tahun.


Terlihat penutupan akar lengkap.

Gambar 6: Menumpulkan papila interdental


antara gigi insisivus sentral dan lateral
7

Gambar 7. Iinsisi intrasulkuler.

.
Gambar 8. Grfat jaringan ikat yang diambil dari langit-langit

Gambar 9. Penempatan graft di bawah flep.

Gambar 10. Penempatan jahitan.


8

Gambar 11. Penutupan papila interdental


6 bulan pasca bedah.

Kasus 3
Seorang pasien wanita berusia 25 tahun mengeluhkan hipersensitivitas
pada regio gigi depan bawah sejak 2 bulan dan khawatir tentang estetis. Pasien
mengalami resesi gingiva pada gigi insisivus sentralis kanan rahang bawah pada
pemeriksaan pertama (Gambar 12). Kehilangan perlekatan klinis sebesar 5mm
dari BSE. Profilaksis oral dan instruksi kebersihan mulut telah dilakukan sehingga
dicapai kontrol plak yang memuaskan sebelum bedah periodontal.Penskeleran dan
penyerutan akar telah dilakukan menggunakan skeler manual dan elektrik serta
kuret. Bentuk akar tidak mengalami perubahan. Permukaan akar kemudian diolesi
tetrasiklin 500 mg, menggunakan gulungan kapas kecil. Jaringan donor diambil
dari palatum dan dipotong dengan ketebalan 2 sampai 3 mm (Gambar 15).
Beberapa menit setelah pengambilan, jaringan donor ditempatkan pada lokasi
penerima. Jahitan vertikal stabilizing (4-0 silk) digunakan untuk mempertahankan
graft (Gambar 16). Penyembuhan pasca bedah setelah 6 bulan sangat baik pada
sisi bedah dan dicapai penutupan resesi yang menyeluruh (Gambar 17).

Gambar 12: Resesi dari gigi insisivus sentralis kanan.


9

Gambar 13: Insisi dibuat untuk mengambil graft

Diskusi
Tujuan utama terapi periodontal adalah untuk meningkatkan kesehatan
periodontal dan mempertahankan fungsional gigi geligi pasien. Namun, estetis
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari terapi oral saat ini, dan banyak
prosedur telah diusulkan untuk mempertahankan atau meningkatkan estetis
pasien.Perawatan ini dipilih karena keinginan pasien untuk meningkatkan
penampilan estetis karena ada akar yang tersingkap.
Faktor etiologi utama dan pendukung merupakan alasan utama saat
memutuskan prosedur perawatan yang tepat untuk pasien dengan resesi gingiva
telokalisir. Dalam laporan kasus ini, etiologi dari resesi gingiva adalah kedalaman
vestibular yang tidak cukup dan lebar gingiva berkeratin yang tidak memadai.Jika
malposisi gigi merupakan etiologi dari resesi, maka diperlukan perawatan
ortodonsi dengan atau tanpa terapi periodontal. Karena adanya beberapa masalah
mukogingiva, diputuskan untuk menggunakan graft gingiva bebas untuk
memperoleh penutupan akar yang menyeluruh dan membentuk gingiva cekat
fungsional. Band dari jaringan berkeratin sangat menentukan dalam semua kasus.
Kesesuian warna dan kontur jaringan memuaskan pasien pada semua kasus yang
disebutkan di atas.Dalam beberapa kasus kesesuaian warna dan kesesuaian kontur
jaringan cukup baik untuk membuat kompleks untuk menentukan posisi cacat asli.
Hasil dari kasus diatas menegaskan bahwa estetis menjadi indikasi utama
untuk penutupan akar. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran
estetis adalah indikasi utama untuk prosedur penutupan akar.Indikasi lain adalah
sensitivitas akar yang rendah dan dikelompokkan ke dalam kategori lainnya,
hanya 1,84% dari indikasi.
10

Gambar 14: Palatum setelah pengambilan graft

Gambar 15: Jaringan donor. dari palatum


setelah pengambilan graf.

Gambar 16: penjahitan.


11

Gambar 17: Enam bulan penyembuhan pasca bedah.

Kesimpulan
Resesi gingiva adalah salah satu keluhan utama estetis pasien. Resesi
gingiva juga menyebabkan sensitivitas pada pasien dan risiko lebih besar untuk
karies akar. Bedah mukogingiva merupakan usaha untuk membangun kembali
periodonsium yang sehat. Bedah plastik periodontal berusaha untuk
mengembalikan periodonsium pada keadaan sehat, efisien, dan estetis.Untuk
penutupan akar yang tersingkat, ada berbagai macam prosedur grafting
mukogingiva tersedia pada saat ini.Prosedur ini bisa diprediksi dan menghasilkan
solusi yang memuaskan terhadap masalah-masalah yang disebabkan oleh resesi
gingiva. Pemilihan prosedur dan teknik bedah yang tepat akan mmberikan hasil
yang memuaskan dan lebih mudah diprediksi dalam perawatan resesi gingiva.

Daftar Pustaka

[1] A. J. Miller, J. A. Brunelle, J. P. Carlos, L. J. Brown, and H.Loe, Oral Health


of United States Adults. The National Surveyof Oral Health in U.S. Employed
Adults and Seniors: 1985-1986, NIH publication no. 87-2868. 6 Case Reports in
Dentistry
[2] J. M. Albandar and A. Kingman, Gingival recession, Gingival bleeding, and
dental calculus in adults 30 years of age and older in the United States, 1988
1994, Journal of Periodontology, vol. 70, no. 1, pp. 3043, 1999.
12

[3] W. H. Van Palenstein Helderman, B. S. Lembariti, G. A. Van Der Weijden, and


M. A. Vant Hof, Gingival recession and its association with calculus in subjects
deprived of prophylactic dental care, Journal of Clinical Periodontology, vol. 25,
no. 2, pp. 106111, 1998.
[4] A. Khocht, G. Simon, P. Person, and J. L. Denepitiya, Gingival recession in
relation to history of hard toothbrush use, Journal of Periodontology, vol. 64, no.
9, pp. 900905, 1993.
[5] J. R. Trott and B. Love, An analysis of localized gingival recession in 766
Winnipeg High School students, The Dental
Practitioner and Dental Record, vol. 16, no. 6, pp. 209213, 1966.
[6] B. U. Zachrisson, Orthodontics and periodontics, in Clinical Periodontology
and Implant Dentistry, J. Lindhe, Ed., pp. 741793, Munksgaard, Copenhagen,
Denmark, 3rd edition, 1998.
[7] J. A rtun and O. Krogstad, Periodontal status of mandibular incisors
following excessive proclination A study in adults with surgically treated
mandibular prognathism, American Journalof Orthodontics and Dentofacial
Orthopedics, vol. 91, no. 3, pp. 225232, 1987.
[8] P. S. Wright and P. H. Hellyer, Gingival recession related to removable partial
dentures in older patients, The Journal ofProsthetic Dentistry, vol. 74, no. 6, pp.
602607, 1995.
[9] J. C. Gunsolley, S. M. Quinn, J. Tew, C. M. Gooss, C. N. Brooks, and H. A.
Schenkein, The effect of smoking on
individuals with minimal periodontal destruction, Journal of Periodontology,
vol. 69, no. 2, pp. 165170, 1998.
[10] S. Parma-Benfenati, P. A. Fugazzato, and M. P. Ruben, He effect of
restorative margins on postsurgical development and nature of periodontium,
The International Journal ofPeriodontics & Restorative Dentistry, vol. 5, pp. 31
51, 1985.
[11] A. M. Quart, C. Butkus Small, and R. S. Klein, The cocaine connection.
Users imperil their gingiva, The Journal of theAmerican Dental Association, vol.
122, no. 1, pp. 8587, 1991.
13

[12] P. R. Greene, The flexible gingival mask: an aesthetic solution in


periodontal practice, British Dental Journal, vol. 184, no. 11, pp. 536540, 1998.
[13] M. Brannstrom and A. Astrom, The hydrodynamics of the dentine; its
possible relationship to dentinal pain, InternationalDental Journal, vol. 22, no. 2,
pp. 219227, 1972.
[14] J. Reiker, U. Van Der Velden, D. S. Barendregt, and B. G. Loos, A cross-
sectional study into the prevalence of root caries in periodontal maintenance
patients, Journal of Clinical Periodontology, vol. 26, no. 1, pp. 2632, 1999.
[15] J. L. Wennstrom, Mucogingival therapy, Annals of Periodontology, vol. 1,
no. 1, pp. 671701, 1996.
[16] H. C. Sullivan and J. H. Atkins, Free autogenous gingival grafts. I.
Principles of successful grafting, Periodontics, vol. 6, no. 3, pp. 121129, 1968.
[17] B. Langer and L. Langer, Subepithelial connective tissue graft technique for
root coverage, Journal of Periodontology, vol. 56, no. 12, pp. 715720, 1985.
[18] D. P. Tarnow, Semilunar coronally repositioned flap, Journal of Clinical
Periodontology, vol. 13, no. 3, pp. 182185, 1986.
[19] C. F. Sumner III, Surgical repair of recession on the maxillary cuspid:
incisally repositioning the gingival tissues, Journal ofPeriodontology, vol. 40,
no. 2, pp. 119121, 1969.
[20] G. Pini Prato, C. Tinti, G. Vincenzi, C. Magnani, P. Cortellini, and C. Clauser,
Guided tissue regeneration versus mucogingival surgery in the treatment of
human buccal gingival recession, Journal of Periodontology, vol. 63, no. 11, pp.
919928, 1992.
[21] C. A. Zaher, J. Hachem, M. A. Puhan, and A. Mombelli, Interest in
periodontology and preferences for treatment of
localized gingival recessions: a survey among Swiss dentists, Journal of Clinical
Periodontology, vol. 32, no. 4, pp. 375382, 2005.