Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Pembahasan ini dimulai dari tahap pengkajian keperawatan, diagnosa


keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan, dan evaluasi
keperawatan. Penulis akan membahas tentang analisis kesenjangan antara teori
dan praktek asuhan keperawatan di lapangan. Penulisan ini diambil dari klien
pada kasus Tumor Maxilla di ruang Bedah Edelweis Rumah Sakit Dr. Soetomo
Surabaya.
1. Pengkajian Perawatan
Pada pengkajian identitas,didapatkan klien berusia 65 tahun. Sesuai
dengan teori bahwa Penyakit ini sering pada usia 40 60 tahun (Dhingra
PL,2007). Sedangkan perbandingan rasio antara laki laki disbanding dengan
wanita sebesar 2:1 (Dhingra PL,2007).
Keluhan utama pada klien adalah Nyeri pada maxilla sebelah kanan.
Sesuai dengan teori bahwa Keluhan utama yang lasim didapatkan adalah
Nyeri pada maxilla karena keganasan tumor. ( Roezin,2009)
Kliensebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit yang lain ataupun
dengan penyakit sekarang yang dideritanya
Pada pemeriksaan fisik pada klien terutama pada system B3 (Brain)
pasien mengeluh nyeri pada mulut, skala nyeri 4 dan pasien tidak bisa
mengunyah, sehingga mempengaruhi system pola nutrisi dan metabolism
sehingga membuat nafsu makan menurun, BB turun menjadi 48 kg yang
sebelunya 50 kg, hal ini sesuai dengan teori bahwa Keluhan utama yang lasim
didapatkan adalah Nyeri pada maxilla karena keganasan tumor.
( Roezin,2009) dan itu juga bisa mempengaruhi pola makan.

Penulis tidak menemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dan


tinjauan kasus. Hal tersebut dibuktikan dalam hasil pengkajian yang
ditemukan pada pola nutrisi dan metabolisme serta pada pemeriksaan fisik B3
(Brain) klien sama dengan teori yang sudah ada. Hanya saja, pada tanda dan
gejala tidak semua yang ada pada teori muncul pada klien.

2. Diagnosa Keperawatan
Untuk kasus Tumor Maxilla Penulis tidak menemukan kesenjangan
antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus. Hal tersebut dibuktikan dalam
hasil diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien sama dengan teori
yang sudah ada.

3. Perencanaan Keperawatan
. Pada perumusan perencanaan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan
kasus tidak terdapat kesenjangan yang terjadi. Pada tinjauan pustaka
perencanaan menggunakan kriteria hasil yang mengacu pada pencapaian
tujuan yang sesuai dengan perencanaan pada tinjauan kasus. Penulis berupaya
untuk memandirikan pasien dan keluarga dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dalam
menyelesaikan,mengurangi masalah, dan perubahan tingkah laku
Faktor pendukung terdapat kerjasama yang baik dalam
melaksanakan perencanaan yang telah dibuat antara mahasiswa dan perawat
ruangan. Tidak ada faktor penghambat dalam menetapkan rencana asuhan
keperawatan,

Semua perencanaan yang dibuat dan dilakukan pada klien karena kondisi
klinis klien.
4. Pelaksanaan Keperawatan
Semua perencanaan tindakan pada tinjauan pustaka dilakukan pada
hari pertama tanggal 25 Oktober 2016. Dalam tahap pelaksanaan penulis
dapat melaksanakan semua rencana keperawatan sesuai dengan perencanaan
yang telah dibuat. Pada kasus, rencana keperawatan pada kedua diagnosa
tersebut sesuai dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang telah ditentukan.
Dalam melakukan rencana keperawatan tidak menemukan kesulitan karena
penulis melakukan rencana keperawatan bekerja sama dengan perawat
ruangan.
Faktor pendukung dari tindakan keperawatan adalah adanya
kerjasama yang baik antara penulis dan perawat ruangan dalam melakukan
tindakan keperawatan. Tidak ada faktor penghambat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan
Pelaksanaan perencanaan tindakan pada hari berikutnya disesuaikan
dengan kondisi klinis klien. Tidak semua perencanaan tindakan
dilaksanankan.

5. Evaluasi
Pada tahap evaluasi merupakan tahap akhir dan alat ukur untuk
memulai keberhasilan pemberian asuhan keperawatan, apakah tujuan
keperawatan berhasil. Evaluasi dilakukan sesuai dengan konsep.

Pada diagnosa keperawatan pertama Nyeri akut berhubungan dengan


agen cidera biologis tumor maxilla ditandai dengan pasien mengeluh nyeri,
setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam, tujuan tercapai dan masalah
teratasi sehingga intervensi dihentikan. Untuk diagnosa kedua Tidak
keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis virus ditandai dengan BB pasien menurun 2 kg dan mengeluh
mual, setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam, tujuan tercapai dan
masalah teratasi sehingga, Intervensi dihentikan.

Adapun faktor pendukung yaitu adanya kerjasama yang baik antara


penulis dengan perawat ruangan, sehingga beberapa masalah keperawatan
dapat teratasi.