Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

RESUME

Hipotiroid adalah suatu penyakit terkait kelenjar tiroid yang terjadi akibat
penurunan fungsi hormon tiroid. Hipotiroid dapat diklasifikasikan berdasar waktu
kejadian yaitu kongenital atau akuisital, disfungsi organ yang terjadi yaitu
disfungsi pada tiroid (primer) atau disfungsi pada pituitari (sekunder), atau
disfungsi pada hipotalamus (tersier), dan berdasarkan gejala yang terjadi yaitu
bergejala/ klinis atau tanpa gejala/ subklinis.
Penyebab tersering dari hipotiroid adalah defisiensi yodium dan hipotiroid
karena autoimun atau disebut juga tiroiditis Hashimoto. Tanda dan gejala dari
hipotiroid adalah timbulnya rasa capai dan mengantuk yang berat, kelemahan otot,
denyut jantung yang lambat, penurunan curah jantung, volume darah yang
berkurang, konstipasi, kelambanan mental, kurangnya pertumbuhan rambut dan
kulit bersisik, suara parau, dan pada kasus yang parah timbul bengkak di seluruh
tubuh.
Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan diagnostik penting
untuk menilai kadar TSH dan kadar hormon tiroid serta pemeriksaan antibodi
antitiroid untuk mencari penyebab hipotiroid yang disebabkan proses autoimun.
Hipotiroid subklinis didefinisikan sebagai hipotiroid dengan peningkatan
TSH dengan kadar free T4 (FT4) yang normal. Secara klinis, pada hipotiroid
subklinis tanda dan gejala hipotiroid tidak ditemukan atau bila terdapat gejala,
gejala tersebut merupakan gejala ringan. Secara umum, keputusan untuk
mengobati pasien hipotiroid subklinis tergantung dari tanda dan gejala dari
hipotiroid, kemungkinan risiko terjadinya progresifitas menjadi hipotiroid klinis,
misalnya tiroiditis, atau terjadinya peningkatan antibodi antitiroid, dan berbagai
keadaan lain yang merupakan risiko tinggi seperti penyakit jantung, kehamilan,
dan wanita dengan disfungsi ovulasi dengan infertilitas. Dosis kecil yang
dibutuhkan biasanya sekitar 50 -75 g/hari dengan dilakukan monitoring TSH dan
titrasi dosis dalam 4 6 minggu sampai kadar TSH normal.

1
2