Anda di halaman 1dari 12

Referat

ABSES PARAFARING

Oleh :
SYAHADEL KURNIA
NIM. 1608437637

Pembimbing:
dr. HARIANTO, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU
2016

0
ABSES PARAFARING

I. DEFINISI ABSES PARAFARING


Abses adalah suatu rongga patologis berisi pus yang merupakan hasil suatu
reaksi inflamasi pertahanan tubuh seperti bakteri, makrofag, leukosit.
Abses parafaring merupakan suatu infeksi leher yang terdapat setelah infeksi
faring, tonsil, adenoid, gigi, parotis, atau kelenjar limfatik .1,2

Gambar 1. Daerah parafaring dari potongan axial.1

II. ANATOMI
A. FARING.
Faring terletak di belakang cavum nasi, mulut dan laring. Faring adalah
suatu kantong fibromuskular yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian
atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus
menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas faring
berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan
rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah
berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esofagus.
Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam ke luar) selaput lendir, fasia
faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia buko faringeal.
Faring tersusun dalam lapisan melingkar dan memanjang. Otot-otot sirkulasi
terdiri dari M.Konstriktor faring superior, media dan inferior. Otot-otot ini terletak
di sebelah luar dan berbentuk seperti kipas dengan tiap bagian bawahnya

1
menutupi sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di sebelah depan otot-otot
ini bertemu satu sama lain dan di belakang bertemu pada jaringan ikat. Kerja M.
Kontriktor yaitu untuk mengecilkan lumen faring dan otot-otot ini dipersarafi oleh
nervus vagus. Otot-otot faring yang tersusun memanjang terdiri dari M.
Stilofaring dan M. Palatofaring, M. Stilofaring gunanya untuk melebarkan faring
dan menarik laring. Sedangkan M. Palatofaring mempertemukan ismus orofaring
dan menaikkan bagian bawah faring dan laring. Kedua otot ini bekerja sebagai
elevator, kerja kedua otot ini penting untuk proses menelan.

Gambar 2. Struktur otot penyusun faring.2,3

Berdasarkan letaknya, faring dibagi atas 3 bagian yaitu nasofaring,


orofaring, laryngofaring:

2
Gambar 3. Regio faring potongan sagital.3

1. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, dibagian bawah
adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan
ke belakang adalah vertebra servikal. Nasofaring yang relatif kecil,
mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa struktur penting
misalnya adenoid, jaringan limfoid pada dinding lareral faring dengan
resessus faring yang disebut fosarosenmuller, kantong rathke, yang
merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius,
suatu refleksi mukosa faring diatas penonjolan kartilago tuba eustachius,
konka foramen jugulare, yang dilalui oleh nervus glosofaring, nervus
vagus dan nervus asesorius spinal saraf kranial dan vena jugularis interna
bagian petrosus os.tempolaris dan foramen laserum dan muara tuba
eustachius.

3
Gambar 4. Nasofaring.3

2. Orofaring
Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas
bawahnya adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah rongga mulut
sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal. Struktur yang terdapat
dirongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatine, fosa
tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual
danforamen sekum.

Gambar 5. Orofaring.3

4
3. Laringofaring (hipofaring)
Batas laringofaring disebelah superior adalah tepi atas yaitu dibawah
valekula epiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan
minuman atau bolus makanan pada saat bolus tersebut menuju ke
sinus piriformis (muara glotis bagian medial dan lateral terdapat ruangan)
dan keesofagus, nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinus
piriformis pada tiap sisi laringofaring. Sinus piriformis terletak di antara
lipatan ariepiglotika dan kartilago tiroid. Batas anteriornya adalah laring,
batas inferior adalah esofagus serta batas posterior adalah vertebra
servikal.2,3

Gambar 6. Laryngofaring.3
B. PARAFARING
Ruang parafaring juga disebut sebagai ruang faringomaksila, ruangfaring
lateral atau ruang perifaring. Ruang ini berbentuk kerucut terbalik dengan
dasarnya pada bagian superior di dasar tengkorak dan puncaknya pada tulang
hyoid. Batas ruang ini yaitu pars petrosus os temporal dan os sphenoid, os hyoid
di inferior, rafe pterygomandibular di inferior, fasia prevertebre di posterior, fasia
bukofaringeal di medial dan lapisan superfisial fasia servikal profunda yang
meliputi mandibula, ptetrygoid medial dan parotis di lateral. Ruang parafaring
berhubungan dengan ruang submandibula, ruang retrofaring, ruang parotis dan
ruang mastikor. Ruang parafaring dibagi menjadi 2 bagian yang tidak sama
besarnya oleh prosesus styloid menjadi kompartemen anterior atau muskuler atau
prestyloid dan komponen posterior atau neurovaskuler atau poststyloid. Ruang
prestyloid berisi lemak, otot, kelenjar limfe dan jaringan konektif serta dibatasi

5
oleh fossa tonsilar di medial dan pterygoid medial di sebelah lateral. Ruang
poststyloid berisi a. Karotis interna, v. Jugularis interna, n. Vagus yang dibungkus
dalam suatu sarung yang disebut selubung karotis dan saraf kranialis IX, X, XII.
Bagian ini di pisahkan dari ruang retrofaring oleh suatu lapisan yang tipis.1,2,5

Gambar 7 . Potongan koronal ruang parafaring.1,2,5

III. EPIDEMIOLOGI
Sebuah penelitian yang telah di lakukan oleh Novialdi dkk melaporkan
bahwa terdapat 47 kasus yang dimana rentang usia 15-35 tahun dengan kasus
tersering adalah abses peritonsil 22 kasus, abses submandibula sebanyak 20 kasus,
abses parafaring 5 kasus serta abses retrofaring 3 kasus.1,2

IV. ETIOLOGI
Parhiscar dkk melaporkan bahwa terdapat 210 pasien di amerika serikat
yang terdiagnostis menderita abses leher dalam dari tahun 1981 hingga 1998 dan
didapatkan hasil bahwa infeksi gigi (43%) merupakan penyebab terbanyak diikuti
dengan intravenous drug abuse (12%) dan pharyngotonsilitis (6%). Bakteri yang
tersering sebagai penyebab utama adalah streptococcus viridians (39%),
Staphylococcus epidermidis (22%) dan staphyloccus aureus (22%).1,4

6
Ruang parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara:
1. Langsung, yaitu peradangan yang diakibatkan oleh tusukan jarum
terkontaminasi kuman yang menembus lapisan M. Konstriktor faring superior
yang memisahkan ruang parafaring dan fosa tonsilaris saat melakukan operasi
tonsiloktomi dengan analgesia.
2. Sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang parafaring dapat berupa proses
supurasi kelenjar limfa leher bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus
paranasal, mastoid dan vertebra servikal.
3. Penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring, atau submandibula.2

V. PATOFISIOLOGI
Sekali terjadi infeksi dimulai pada jaringan lunak leher, jika tidak segera
terdeteksi, akan meluas kesalah satu ruang fasia leher yang paling lemah. Dari
sana dapat mengalir ke atas, ke bawah, atau ke lateral, mengikuti ruang-ruang
fasia.
Infeksi leher dalam merupakan selulitis fragmentosa dengan tanda-tanda
setempat yang sangat mencolok atau menjadi tidak jelas karena tertutup jaringan
yang melapisinya. Seringkali dimulai pada daerah prastiloid sebagai suatu
selulitis, jika tidak di obati akan berkembang menjadi suatu thrombosis dari vena
jugularis interna. Abses dapat mengikuti m.stiloglosus kedasar mulut dimana
terbentuk abses.
Infeksi dapat menyebar dari anterior ke bagian posterior, dengan perluasan
kebawah sepanjang sarung-sarung pembuluh darah besar, disertai oleh thrombosis
v. jugularis atau suatu mediastinitis. Infeksi dari bagian posterior akan meluas ke
atas sepanjang pembuluh-pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi intracranial
atau erosi a. karotis interna.2,4

VI. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan
pemeriksaan penunjang:

7
a. Anamnesis
Pada anamnesis pasien pada pasien abses parafaring dapat di jumpai sakit
tenggorokan, pembengkakan, demam tinggi, sukar membuka mulut, bau mulut, sulit
menelan.
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukannya pembekakan dengan nyeri tekan di
daerah submandibula terutama pada angulus mandibula, leukositosis dengan
pergeseran ke kiri dan adanya demam. Terlihat edema uvula, pilar tonsil, palatum
dan pergeseran ke medial dinding lateral faring. Terdapatnya trismus yang
disebabkan oleh meregangnya m.pterigoid internus , tetapi mungkin tidak terlihat
jika infeksi jauh di dalam sampai prosesus stiloid dan struktur yang melekat
padanya sehingga tidak mengenai m.pterigoid internus.
c. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa fotorontgen, jaringan lunak
AP atau CT scan. Foto jaringan lunak leher antero-posterior dan lateral merupakan
prosedur diagnostik yang penting. Pada pemeriksaan foto jaringan lunak leher
pada kedua posisi tersebut dapat diperoleh gambaran deviasi trakea, udara di
daerah subkutis, cairan di dalam jaringan lunak dan pembengkakan daerah
jaringan lunak leher.
Keterbatasan pemeriksaan foto polos leher adalah tidak dapat membedakan
antara selulitis dan pembentukan abses. Pemeriksaan tomografi komputer dapat
membantu menggambarkan lokasi dan perluasan abses.2,5,6

Gambar 8. Gambaran CT Scan abses parafaring.5

VI. PENATALAKSANAAN

8
Terapi yang diberikan yaitu perbaikan jalan napas, antibiotik parenteral, dan
drainase bedah. Drainase eksternal yaitu melalui fosa submaksillaris. Untuk terapi
medikammentosa pada abses parafaring yaitu dengan pemberian antibiotika dosis
tinggi secara parenteral terhadap kuman aerob dan anaerob. Evakuasi abses harus
segera dilakukan, bila tidak ada perbaikan dengan antibiotika dalam 24-48 jam
dengan cara eksplorasi dalam narkosis. Caranya melalui insisi dari luar dan intra
oral. Insisi dari luar dilakukan 2 jari di bawah dan sejajar mandibula. Secara
tumpul eksplorasi dilanjutkan dari batas anterior m. sternokleidomastoideus ke
arah atas belakang menyusuri bagian medial mandibula dan m. pterigoid interna
mencapai ruang parafaring dengan terabanya prosesus stiloid. Bila nanah terdapat
di dalam selubung karotis, insisi dilanjutkan vertikal dari pertengahan insisi
horizontal ke bawah di depan m. Sternokleidomastoideus.
Insisi intraoral dilakukan pada daerah dinding lateral faring. Dengan
menggunkan klem arteri eksplorasi dilakukan dengan menembus m. konstriktor
faring superior ke dalam ruang parafaring anterior. Insisi intraoral dilakukan jka
perlu dan sebagai terapi tambahan terhadap insisi eksternal. Pasien dirawat inap
sampai gejala dan tanda infeksi sudah mulai membaik dan selanjutnya di anjurkan
untuk control ulang. 2,7

Gambar 9. Insisi dengan cara Mosher.2,7

VII. Komplikasi

9
Proses peradangan pada abses parafaring dapat menjalar secara
hematogen, limfogen atau langsung ke daerah sekitarnya. Penjalaran ke atas dapat
mengakibatkan peradangan intrakranial, ke bawah menyusuri selubung karotis
mencapai mediastinum. Komplikasi yang paling berbahaya yaitu terkenanya
pembuluh darah sekitarnya. Dapat terjadi tromboflebitis septic vena jugularis, juga
dapat terjadi perdarahan masif yang tiba-tiba akibat dari erosi arteri karotis interna
serta dapat terjadinya septikemia. 2,7
VIII. Prognosis
Pasien abses parafaring apabila dilakukan tatalaksana dengan tepat dan
yang belum mempunyai komplikasi prognosisnya baik. 2,7

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Novialdi, Triana, Wahyu. Abses leher dalam multiple dengan kesulitan


intubasi dan komplikasi fistula faringokutan. Padang : Bagian THT-KL FK
UNAND/RSUP dr. M. Jamil ; 2011 ; 1-7.

2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD.Editors. Buku ajar ilmu


kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi Keenam. Balai
Penerbit FKUI:Jakarta;2007:118-23.

3. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6.


EGC: Jakarta;2006:803-5

4. Erdogliza M, Sotirovic J, Grgurevic U. A sever case of parapharyngeal abscess


treated as a spastic torticollis. Medical review. Milan ; 2011; 387-9.

5. Probst R, Grevers G, Iron H. Basic otorhinolaryngology a step by step


learning guide. New york ; 2006; 97-130.

6. Tom, Lawrence Disease of oral cavity. Oropharynx and nasopharynx. Dalam :


Snow J and Ballenger J Ballengers otorhinolaryngology. Edisi enam belas.
Ontario ; 2003; 1020-47.

7. Amar Y, manoukisn J. Intraoral drainage. Recommended as the initial


approach for the treatment of parapharyngeal abscesess. Department of ENT
McGill Univercity. Canada; 2003;676-80.

11