Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TERSTRUKTUR

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN TAHUNAN


PEMELIHARAAN TANAMAN KARET (Cocos nucifera L.)

Oleh :
1. M. Luthfi N A1L114041
2. M. Irham B A1L114042
3. Luthfi Indra R A1L114043
4. Nurrezty R A1L114044
5. Hilda Ari S A1L114047
6. Atsil Hiban A1L114056
7. Aji Candra P A1L114060
8. Gita Afiya P A1L114064
9. Ilham R A1L114065
10. Novi Yuliani A1L114067
11. Renaldy Muslim A1L114069

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan salah satu

komoditas pertanianyang telah lama dikenal dan dimanfaatkan

oleh manusia, khususnya di Indonesia.Kelapa memiliki banyak

manfaat dan kegunaan, namun hingga saat ini tidak ba-nyak

petani yang memelihara kelapa dengan teknik budidaya yang

baik dan benar.Pada umumnya kelapa hanya ditanam di

pekarangan, ladang, dan pematang-pe-matang sawah tanpa

pemeliharaan yang teratur.

Pemeliharaan tanaman kelapa bertujuan untuk

mengkondisikan tanaman agar sehat memiliki pertumbuhan

yang normal dan mencapai tingkat prokduktivitas yang normal.

Fase pemeliharaan tanaman tahunan digolongkan menjadi

pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman

menghasilkan (TM). Pada fase TBM, pemeliharaan kelapa

diarahkan bagi pertumbuhan tanaman yang normal serta

secepat mungkin memasuki fase TM. Pada fase TM,

pemeliharaan kelapa diarahkan bagi pencapaian proktivitas yang

optimal sesuai dengan potensi produksinya dan diusahakan agar

memiliki umur ekonomi yang panjang. Kegiatan pemeliharaan

tidak hanya dilakukan pada tanaman pokok kelapa melainkan

juga pada sekitar tanaman kelapa atau gawangan.

2
B. Tujuan
Untuk mengetahui cara pemeliharaan tanaman kelapa.
C. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan dari pemeliharaan tanaman ?
2. Bagaimana cara memelihara tanaman kelapa dengan

baik ?
3. Apa saja yang tergolong pemeliharaan tanaman ?

II. ISI

3
Pemeliharaan tanaman, khususnya kelapa sebenarnya

bertujuan untuk mengkondisikan tanaman agar sehat dan dapat

berproduksi optimum. Setelah penanaman ada beberapa hal

yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman kelapa

(pemeliharaan), diantaranya adalah penyiangan, pembumbunan,

perempalan, pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT.

Menurut Dewan Kelapa Indonesia (Dekindo) (2009) penyiangan

dilakukan dengan cara membersihkan piringan diameter 1 m dari

pokok (pada tahun pertama), 1.5 m dari pokok (pada tahun

kedua), atau 2 m dari pokok (pada tahun ketiga dan

selanjutnya.Penyiangan dilakukan 6 minggu hingga 2 bulan

sekali.

Pembumbunan adalah kegiatan menutup bagian atas

permukaan sekitarpohon hingga menutup sebagian pohon

hingga akar. Perempalan adalah pemotongan daun dan bunga

yang telah kering. Perempalan jarang dilakukan pada kelapa

yang sudah tua, biasanya daun kering dibiarkan jatuh sendiri.

Pemupukan adalah kegiatan penambahan unsur hara

tambahan agar tanaman mendapatkan hara yang cukup.

Pemupukan dilakukan dengan cara menyebar di lingkaran

tanaman (piringan) setelah sebelumnya tanahnya

digemburkan,seletah itu menutup pupuk agar tidak menguap.

4
Penyiraman dilakukan pada musim kemarau untuk mencegah

kekeringan dilakukan setiap 2-3 hari sekali dengancara

mengalirkan air pada parit-parit yang tersedia di sekitar

kebun.Pemupukan sangat berkaitan dengan pemeliharaan

lainnya, seperti penyi-angan gulma karena aplikasi pupuk pada

kelapa dilakukan dengan menebarkan didaerah bokoran atau

piringan tanaman. Penyiangan dilakukan agar pupuk tidak di-

serap oleh gulma yang dapat menyebabkan hilangnya pupuk

untuk tanaman pokok. Selain itu penyiangan juga berfungsi

untuk mencegah timbulnya penyakitdan hama yang berasal dari

gulma di sekitar tanaman.

Pengendalian gulma merupakan aspek yang penting dalam

pemeliharaan TM kelapa. Pengendalian gulma bertujuan

mengurangi terjadinya kompetensi terhadap tanaman pokok,

memudahkan pelaksanaan pemeliharaan dan mencegah

berkembangnya hama penyakit tertentu. Menurut Muzik dalam

Amarilis (2009) gulma dapat menyebabkan kehilangan hasil

panen yang besar dari pada kehilangan hasil panen yang

disebabkan oleh serangga maupun penyakit tanaman. Menurut

Setyamidjaja (2006) jenis jenis gulma yang tumbuh pada

perkebunan kelapa banyak macamnya.

5
Secara garis besar jenis gulma yang dijumpai di

perkebunan kelapa dapat digolongkan menjadi dua yaitu gulma

berbahaya dan gulma lunak. Pengendalian gulma dapat

dilakukan dengan beberapa cara seperti manual, mekanis, kimia

dan kultur teknis. Cara pengendalian gulma secara mekanis

meliputi : (1) clean weeding, pengendalian gulma secara

keseluruhan pada areal pertanaman; (2) selecting weeding,

pengendalian gulma pada sekitar tanaman saja (membuat

piringan); (3) piringan digaruk dengan cangkul, rumput-rumputan

dibuang kelur piringanstripe weeding, pengendalian gulma

secara berjalur (Suhardiono, 1993). Menurut Tjitrosidirjo dalam

Setyamidjaja (2006) pengendalian gulma pada perkebunan

kelapa yang dilaksanakan secara terpadu, yaitu

mengkombinasikan cara manual, kimia dan hayati dapat

membawa hasil yang baik.

Pada kebun kelapa TM gulma yang serung dijumpai adalah

golongan rumputan (Imperata cylindrical L., Paspalum

conjugatum Borg.), golongan berdaun lebar (Mikania micrantha

H.B.K., Eupatorium odorata, Melastoma malabatricum, Mimosa sp

Linn.), golongan pakis-pakisan (Nephrosia brassiliensis), dan

golongan teki (Cyperus rotundus). Tanaman kelapa sangat

sensitif terhadap persaingan dengan gulma terutama sampai

umur 3-4 tahun. Persaingan dengan gulma dalam penyerapan

6
air, unsur hara, cahaya dan ruang, serta adanya zat penghambat

pertumbuhan yang dikeluarkan beberapa jenis gulma,

menyebabkan pertumbuhan kelapa terhambat, menurunkan

produksi, bahkan dapat menggagalkan pertanaman (Salman dan

Wibowo, 1992).

Pemeliharaan pesemaian ditujukan untuk menciptakan

kondisi optimal agar benih cepat berkecambah dalam jumlah

banyak. Langkah-langkah pemeliharaan terdiri atas :

1. Penyiraman ; Penyiraman terutama dilakukan pada musim

kemarau atau apabila hujan tidak turun. Untuk mengetahui

cukupnya penyiraman, maka setelah 2 jam penyiraman, pada

bagian sayatan ditekan dengan ibu jari. Apabila keluar air berarti

penyiraman sudah cukup, tetapi apabila pada bagian sayatan

tidak keluar air, penyiraman perlu dilakukan lagi. Frekuensi

penyiraman tergantung pada tekstur tanah dan distribusi

hujan. Pada tanah berpasir, penyiraman harus dilakukan setiap

hari, sedangkan pada tanah yang mempunyai daya menahan air

yang kuat, penyiraman dilakukan sekali dalam 2-3

hari. Kebutuhan air untuk penyiraman pesemaian sebanyak 3-6

ltr/m2/hari.

7
2. Penyiangan ; Pesemaian harus selalu bersih dari

rumput/gulma untuk mencegah adanya inang hama dan

penyakit. Penyiangan dilakukan setiap bulan.

3. Pencegahan hama dan penyakit. : Pencegahan hama dan

penyakit di pesemaian mutlak dilakukan setiap bulan dengan

insektisida dan fungisida. Penggunaan insektisida dan fungisida

dengan takaran yang dianjurkan. Penyemprotan dilakukan

secara merata pada seluruh benih/kecambah. Penyemprotan

insektisida dan fungisida dilakukan secara terpisah. Untuk

insektisida dapat digunakan Matador 2 cc/l dan untuk fungsida

digunakan Dithane 1-2 g/l.

4. Pemagaran : Pesemaian sebaiknya diberi pagar untuk

menghindari gangguan dari luar. Pagar yang digunakan adalah

pagar bambu atau pagar hidup.

. Pemeliharaan yang perlu dilakukan meliputi:

pengendalian gulma, sanitasi tanaman, pemupuk-an, dan

pengendalian organisme pengganggu tanaman. Khusus

pemupukan, yang perlu diperhatikan adalah: dosis pupuk, jenis

pupuk, waktu pemupukan, tempat memupuk, dan cara

memupuk.

8
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pemeliharaan tanaman bertujuan untuk mengkondisikan

tanaman agar sehat dan dapat berproduksi optimum.


2. Pemeliharaan tanaman kelapa meliputi penyiangan,

pembumbunan, pemupukan, penyiraman, dan

pengendalian OPT.

B. Saran

Dalam melakukan pemeliharaan tanaman harus dilakukan dengan

sungguh-sungguh karena jika kita melakukannya dengan asal-asalan akan melukai

tanaman dan tanaman akan mati.

9
DAFTAR PUSTAKA

Amarilis,S. 2009. Aspek Pengendalian Gulma di Perkebunan Sagu (Metroxylon


spp.) PT.

National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Selat Panjang, Riau.
Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB.

Adiwiganda, R. dan M. M. Siahaan. 1994. Tanah dan Pemupukan Tanaman


Kelapa Sawit. Lembaga Pendidikan Perkebunan. Kampus Meda. Medan.
68 hal.

Poeloengan, Z. M. L. Fadli, Winarna, S. Ruhutomo, dan E. S. Sutarta. 2003.


Permasalahan Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit, hal 67-80.

Salman, F. dan H. Wibowo. 1992. Gulma pada Perkebunan Kelapa, p. 191-195.


Dalam Lubis, Adlin U. et al (Eds.). Kelapa (Cocos nucifera, L.). Asosiasi
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia. Sumatera Utara.

Setyamidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit, Teknik Budidaya, Panen, Pengolahan.


Kanisius. Yogyakarta.

Suhardiono, L. 1993. Tanaman Kelapa. Kanisius.

10
11