Anda di halaman 1dari 7

Sampo adalah sediaan kosmetik untuk mengeramas rambut, hingga kulit kepala dan rambut

bersih, sedapat mungkin rambut menjadi bersih, berkilau, indah dan mudah diatur.

Semula bahan-bahan yang sering digunakan untuk sampo adalah berbagai bahan dari alam
seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang (sekam padi). Dewasa ini yang
digunakan adalah detergen (zat sabun sintetik).

Sampo dapat dikemas dalam berbagai bentuk sediaan, bubuk, larutan,jernih, larutan pekat,
larutan berkilat, krim, gel, atau aerosol, dengan jenis:

1. Sampo dasar (basic shampoo), yaitu sampo yang dibuat sesuai dengan kondisi
rambut, kering, normal, berminyak

2. Sampo bayi (baby shampoo), yaitu sampo yang tidak menggunakan bahan yang
mengiritasi mata dan mempunyai daya bersih sedang karena kulit dan rambut bayi
masih minim sebumnya

3. Sampo dengan pelembut (coditinioner), 2 in 1, 3 in 1

4. Sampo profesional; yang mempunyai konsentrasi bahan aktif lebih tinggi sehingga
harus diencerkan sebelum pemakaian

Sampo medik (medicated shampoo); yang mengandung antiketombe ( sulfur, tar, asam
salisilat, sulfida, plivinil, pirolidon, ) dan tabir surya (PABA, non-PABA)

Isi sampo meliputi:

1. Surfaktan

Surfaktan adalah bahan aktif sampo yang berupa deterjen pembersih sintesis yang cocok
untuk kondisi rambut pemakai. Deterjen bekerja dengan cara menurunkan tegangan
permukaan cairan karena bersifat amfibilik, sehingga dapat melarutkan kotoran yang melekat
pada permukaan rambut. Biasanya dipilih surfaktan anionik yaitu fatty alcohol sulfate, antara
lain:

1. Lauril sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), merupakan pembersih yang baik


namun mengeraskan rambut.

2. Lauret sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), pembentuk busa yang baik dan
kondisioner yang baik.

3. Sarkosinat (natrium lauril, lauril), daya bersih kurang, kondisioner yang baik.

4. Sulfasuksinat (dinatrium oleamin, natrium dioktil), pelarut lemak yang kuat untuk
rambut berminyak.

Biasanya digunakan lebih dari satu surfaktan dalam sampo, yang utama disebut surfaktan
primer, selebihnya adalah surfaktan pelengkap atau sekunder. Surfaktan yang dipilih dapat
dari golongan yang sama atau dari golongan surfaktan lain.
2. Pelembut (conditioner)

Pelembut membuat rambut lebih mudah disisir dan diatur oleh karena dapat menurunkan
friksi antarrambut, mengkilapkan rambut oleh karena memperbaiki refleksi cahaya yang
mengenai batang rambut, dan memperbaiki keadaan rambut yang rusak akibat
overshampooed, overdried, overbrushed, overcombed, keriting, pewarna, pemutih, atau
styling yang menyebabkan kerusakan pada korteks rambut yang merupakan kekuatan dari
rambut. Bahan pelembut yang sering digunakan adalah lemak, protein, polimer atau silikon,
adeps, lanolin, oleialkohol, dan asetogliserida.

3. Pembentuk busa

Pembentuk busa adalah bahan surfaktan yang masing-masing berbeda daya pembuat
busanya. Busa adalah emulsi udara dalam cairan. Kemampuan membentuk busa tidak
menggambarkan kemampuan membersihkan. Busa yang terbentuk akan segera terikat dengan
lemak sebum sehingga rambut yang lebih bersih akan menimbulkan busa yang lebih banyak
pada pengulangan pemakaian shampoo. Busa yang terbentuk lazim diberi penguat yang
menstabilkan busa agar lebih lama terjadi, misalnya dengan menambahkan alkanolamid atau
aminoksida.

4. Pengental (thickener) dan pengeruh (opacifier)

Bahan ini ditambahkan untuk menyenangkan konsumen, keduanya tidak menggambarkan


daya bersih dan konsentrasi bahan aktif dalam sampo. Zat pengental biasanya gom
sintetik/alam : tragakan, gom akasia, hidroksietilselulosa.

Opacifyng agents:

a. alkohol (rantai panjang) : stearil, setil

b.cairan magnesium : stearat, silikat, gom

5. Pemisah logam

Dibutuhkan keberadaannya untuk mengikat logam berat (K, Mg) yang terdapat dalam air
pencuci rambut, misalnya etilen diamin tetra asetat (EDTA).

6. pH balance

Diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam penyampoan rambut, misalnya
asam sitrat.

7. Pemberi warna dan bau

Bahan ini ditambahkan untuk memberi kesan nyaman bagi konsumen yang memakai.

8. Bahan tambahan

1. Vitamin (vitamin E, antenol/B5).


2. Minyak mink, rempah-rempah, minyak kelapa, llilin.

3. Protein (RNA, kolagen, plasenta, susu).

4. Tabir surya kimia.

5. Antiketombe, misalnya : tar, sulfur, seng pirition, dan selenium sulfida


(mencegah segum yang menyebabkan rambut pecah dan berketombe).

6. Balsam, wortel, madu, jojoba, aloe (lidah buaya).

Pengawet : formaldehid, metilhidroksibenzoat, propilhidroksibenzoat, alkil anisol, butil


hidroksi benzoat

Daucus carota

Kandungan

Daucus carota mengandung pirolidina, dausina, daukostenin dan minyak menguap yaitu
limonen pinen dan sineol ( Perry, 1980). Umbi wortel juga mengadung zat warna kuning
yang disebut dengan karoten (Anonim, 1977)

Taksonomi dari Daucus carota

Divisi : Spermatophyta

Anak Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Apiales

Suku : Apiaceae

Marga : Daucus

Jenis : Daucus carota

Formula

Ekstrak wortel 0,5 g

Na. Lauril sulfat 50 g

Cocomide DEA 12,5 g

Cocoamidapropyl betain 12 g

Asam sitrat q.s


NaCl 2,5 g

Parfum green tea q.s

Pewarna Rosela q.s

Aquabides 163 ml

Nipagin 0,5 g

Cara Kerja

Panaskan Aqua dan ekstrak wortel sampai panas, tambahkan Na. Lauril sulfat, aduk hingga
homogen

Tambahkan cocoamide, aduk sampai merata

Tambahkan NaCl dan Asam sitrat, aduk

Tambahkan pewarna, aduk hingga homogen

Setelah dingin tambahkan parfum, aduk hingga homogen

Pengadukan dilanjutkan hingga diperoleh larutan yang jernih

Analisa Hasil

1. Pengukuran kemampuan membusa

Larutan shampo diencerkan sampai konsentrasi 1% (10 ml ad 1000ml)

Siapkan bejana reservoir yang dipasang tegak di atas gelas ukur 1 liter

Sebagian shampo dimasukkan bejana sampai batas 15 cm dari kran reservoir

Tuang secara hati-hati, jangan sampai berbentuk busa, 500 ml larutan yang sama

Tuang 50 ml larutan ke dalam gelas ukur

Alirkan larutan shampo melalui kran bejana sebanyak 500 ml

Catat tinggi busa yang terbentuk setelah 30 detik, 3 menit, 5 menit, dan 7 menit (ulangi
sebanyak 3x pada suhu kamar)

2. Pengukuran stabilitas busa

Bandingkan tinggi busa setelah 3,5,7 menit terhadap 30 detik dari data pada pengamatan
kemampuan membusa

3. Tes Stabilitas

Ambil sampel produk, masukkan dalam kemasan

Setelah selang penyimpanan di amati : kenampakan, bau, dan busa (pencatatan sampai terjadi
penyimpangan)

4. Analisis Hasil

Warna : Hijau tua-bening

Bau : Green tea

Konsistensi : Kental cair

Pengukuran stabilitas busa

Waktu Tinggi busa (replikasi) Rata-rata

I II III

30 detik 2,8 2,9 2,7 2,8

3 menit 2,8 2,8 2,6 2,73


3 menit 2,6 2,6 2,6 2,6

7 menit 2,4 2,6 2,4 2

Pembahasan

Umbi wortel digunakan dalam shampo karena wortel mempunyai efek pendingin yang cocok
untuk rambut ynag kering juga karena adanya karetonoid yang berwarna sindur merah yang
digunakan sebagai pewarna alami sehingga mempercantik penampilan sampo. Ekstrak
wortel, yang kaya akan unsur karoten, vitamin A dan phospholipid yang sangat efektif
merawat rambut agar tidak kering dan bercabang. Shampoo ini untuk jenis rambut kering
agar rambut tidak mengalami kekeringan, kemerahan dan pecah-pecah

Surfaktan yang digunakan adalah Na Lauril sulfat. Surfaktan ini termasuk surfaktan anionik.
Surfaktan ini dikenal sebagai detergent yang mempunyai gugus hidrofilik dan gugus lipofilik.
Gugus lipofilik (yaitu asam laurat) akan mengikat minyak dan kotoran yang ada di rambut,
sedangkan Na adalah gugus hidrofilik yang membuat kotoran-kotoran tersebut mudah larut
dalam air saat pembilasan setelah proses penyampoan. Jadi Fungsi utama dari Surfaktan ini
adalah untuk membersihkan kotoran yang ada di rambut. Namun kelemahan dari surfaktan
ini adalah dapat mengeraskan rambut

Di dalam formula ini digunakan lebih dari satu jenis surfaktan. Na Lauril sulfat merupakan
surfaktan primer,dan surfaktan lainnya disebut dengan surfaktan pelengkap. Surfaktan
pelengkap yang dipakai adalah coca amido propil betain. Surfaktan pelengkap ini bersifat
amfoterik yang tidak mengiritasi mata.

CAB-30 di dalam formula sampo berfungsi sebagai bahan pembusa. Asam sitrat berfungsi
sebagai pH balance, diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam
penyampoan rambut. Karena bila sampo bersifat basa, akan merusak rambut. Penambahan
asam sitrat jangan terlalu berlebihan, karena jika terlalu asam akan mengiritasi kulit kepala.

Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yaitu dari infus rosella yang memberika
warna orange-merah. Infus rosella yang digunakan sebanyak 30 tetes sehingga warna yang
dulunya kuning jernih berubah menjadi hijau jernih akibat penambahan infus rosella yang
terlalu banyak. Parfum yang digunakan adalah parfum alami yaitu minyak atsiri green tea.
Penambahan parfum harus dalam keadaan dingin karena komponen-komponen dalam parfum
dapat rusak pada suhu yang tinggi.

Dalam proses pembuatan shampo, perlu diperhatikan pengadukan dan suhu pemanasan.
Pencampuran Na lauril sulfat dengan air dilakukan perlahan-lahan. Penambahan bahan-bahan
lain dilakukan dalam kondisi pemanasan. Suhu pemanasan dijaga agar tidak terlalu besar atau
tidak terlalu rendah. Selama proses, suhu diusahakan konstan, kira-kira 80oC. Pengadukan
selama pencampuran sebisa mungkin konstan, tidak dengan pengadukan keras, agar tidak
terbentuk busa yang berlebihan.
Hasil yang diperoleh adalah sampo berwarna hijau tua jernih, beraroma teh hijau, dan
konsistensinya kental semi cair. Dalam shampo tersebut tidak terdapat busa yang berlebihan.
Sediaan shampo yang dihasilkan perlu diuji kemampuan membusa dan pengukuran stabilitas
busa

Busa adalah dispersi gas dalam suatu cairan. Busa terbentuk selam pengguanaan bahn
pembersih dan merupakan efek samping yang tidak begitu penting tetapi sangat diinginkan
konsumen. Sebab konsumen mempunyai anggapan bahwa dengan busa yang melimpah akan
menambah aksi dalam membersihkan. Sebenarnya busa tidak dapat digunakan sebagai
ukuran aksi atau daya membersihkan, misalnya surfaktan non ionik memberikan reaksi
pembersihan yang baik dengan sedikit atau tanpa busa. Metode yang umum diguanakan
untuk mengukur tinggi busa dan stabilitas adalah dari Rose Miles. Dari hasil uji pengukuran
stabilitas busa, sampo mampu menghasilkan busa yang stabil karena perbedaan tinggi busa
per waktu tidak jauh berbeda.

Kesimpulan

1. Bahan aktif yang digunakan dalam sediaan shampo adalah ekstrak wortel

2. Surfaktan yang dipakai adalah Na Lauril sulfat

3. Sediaan shampo yang dihasilkan berwarna hijau tua bening, beraroma teh hijau dan
viskositasnya kental semi cair

4. Dari hasil uji pengukuran stabilitas busa, sampo mampu menghasilkan busa yang
stabil

5. Perlu penggunaan suhu terukur dan pengadukan yang diperhitungkan untuk


menghasilkan sediaan sampo yang diharapkan

6. Tidak perlu penambahan zat warna infuse rosella karena shampo ekstrak wortel sudah
memberi warna yang menarik yaitu kuning dari beta-karoten

7. Perlu digunakan zat warna alami yang sesuai, karena dengan penambahan sedikit
infus rosela tidak begitu mempengaruhhi warna sampo dan bila penambahan terlalu
besar akan mempersuram warna shampo