Anda di halaman 1dari 9

Nama : Achmad Irsyadul Ngibad

Kelas :4A
Sekolah : SDN 03 Sidakaya Cilacap

CONTOH CERITA RAKYAT


1. Cerita Jenaka
Nujum Pak Belalang
Di sebuah desa di negeri Terang Bulan, ada seorang duda bernama Pak
Belalang. Pak Belalang bukan sahaja miskin, malah seorang yang pemalas. Pak
Belalang ada seorang anak bernama Belalang. Belalanglah yang diharapkan untuk
mencari nafkah. Walaupun masih kecil, namun Belalang rajin bekerja. Sepanjang hari
Pak Belalang menghabiskan masanya dengan tidur sahaja. Soal makan dan
minumnya, terserah kepada Belalang. Belalang mencari nafkah dengan bekerja
membantu orang kampung.
Pada suatu hari, Belalang terserempak dengan dua orang pencuri. Mereka
sedang melarikan kerbau kepunyaan orang kampung. Belalang mengekori pencuri itu
ke tempat persembunyian mereka. Kemudian, dia pulang dan memberitahu bapanya.
Tetapi Pak Belalang menyuruh Belalng untuk tidak ikut campur. Belalang
menjawab "Saya tahu di mana kerbau itu disembunyikan. Bagaimana kalau bapak
menyamar jadi ahli nujum. Boleh saya beritahu orang kampung, bapak pandai menilik.
Sebaik saja kerbau itu ditemui, tentu kita akan dapat upah yang lumayan!" "Ya tak ya
juga," kata Pak Belalang.
Keesokan harinya, orang kampung heboh dengan kehilangan kerbau mereka.
Mereka mengadu kepada penghulu. Kebetulan ketika itu Belalang ada di situ. "Bapak
saya pandai menilik. Tentu dia boleh tolong carikan kerbau itu," kata
Belalang. "Betulkah?" tanya penghulu. "Kalau begitu mari kita jumpa dia." Mereka
beramai-ramai menuju ke rumah Pak Belalang.
Pak Belalang berpura-pura menyamar sebagai ahli nujum dan berkata bahwa
kerbau itu ada di hulu kampung dimana ada sebatang pokok merbau. Orang kampung
beramai-ramai pergi ke tempat itu dan memang benar kerbau itu ada disana. Mereke
memberinya pelbagai hadia sebagai rasa terima kasih. Nama Pak Belalang menjadi
masyur dan banyak orang mencarinya. Hidupnya pub berubah menjadi senang dan dia
tidak perlu bekerja lagi.
Pada suatu hari, sebuah kapal berlabuh di pelabuhan negeri Terang Bulan.
Nakhodanya lantas menghadap sultan "Tuanku," kata nakhoda itu. "Patik dari negeri
Antan Kesuma. Kami ingin beradu kepandaian dengan nujum di sini. Kalau tuanku
menang, kapal kami menjadi milik tuanku. Tapi kalau tuanku kalah, negeri tuanku
menjadi jajahan takluk kami!"
Sultan negeri Terang Bulan segera memanggil para pembesarnya dan
bermesyuarat untuk mencari kata sepakat. Seorang pembesar memberikan saran untuk
meminta Pak Belalang untuk mewakili negri Terang Bulan. Sultan pun setuju dan
menitahkan Pak Belalang menghadap. Tidak lama kemudian, Pak Belalang masuk
menghadap. Dia terketar-ketar ketakutan. Dia khuatir kalau rahsianya terbongkar.
Selama ini dia cuma berpura-pura menjadi nujum. "Hai Pak Belalang!" titah
sultan."Benarkah kamu seorang nujum yang handal?" "Benar, tuanku!" jawab Pak
Belalang dengan ketakutan. "Bagus!" titah sultan. Baginda berasa sukacita kerana
nujum dari negeri Terang Bulan beradu kepandaian dengan nujum dari negeri Antan
Kesuma.
Sultan Terang Bulan turut datang. Baginda berharap Pak Belalang dapat
menewaskan nujum dari negeri Antan Kesuma."Soalan pertama!" kata nujum dari
negeri Antan Kesuma. "Apa binatang, ketika pagi berkaki empat, ketika tengah hari
berkaki dua dan ketika petang berkaki tiga?" "Manusia!" jawab Pak Belalang dengan
selamba. "Sebab ketika kecil dia merangkak, ketika dewasa, berjalan dan ketika tua,
bertongkat!" Rakyat negeri Terang Bulan bersorak riang. Jawapan Pak Belalang
memang tepat. "Yang kedua!" kata nujum negeri Antan Kesuma.
"Bagaimana hendak menentukan yang mana hujung dan yang mana pangkal kayu ini?"
Dia menunjukkan sebatang kayu yang lurus dan sama besar. Pak Belalang mengambil
sebesen air. Dia pun memasukkan kayu itu ke dalam air. "Ini hujung dan ini
pangkalnya," kata Pak Belalang. "Pangkal kayu ini tenggelam dahulu kerana ia lebih
berat!"Jawapan Pak Belalang memang tepat.Sebenarnya, Pak Belalang sudah tahu
akan semua jawapan soalan itu, sebab anaknya, Belalang, telah mendengar perbualan
nujum negeri Antan Kesuma tempoh hari.
Akhirnya, nujum negeri Antan Kesuma mengaku kalah. Kapal mereka terpaksa
diserahkan kepada sultan negeri Terang Bulan. Mereka terpaksa pulang ke negeri
Antan Kesuma dengan hanya sehelai sepinggang. Sultan negeri Terang Bulan sangat
berbesar hati dengan Pak Belalang. Baginda melantik Pak Belalang menjadi Nujum
Diraja. Pak Belalang kemudian dikahwinkan dengan puteri baginda yang bernama Laila
Sari. Akhirnya, Pak Belalang dan anaknya, Belalang hidup aman damai di istana sultan.

2. Mite
Pohon Pengabul Permohonan (India)
Di sebuah gurun pasir yang sangat panas, seorang pengembara berjalan
dengan gontai. Ia kelihatan lelah sekali. Ia juga kehausan dan kelaparan.

Setelah lama berjalan, ia menemukan sebuah tempat yang cukup teduh untuk
beristirahat. Saat ia beristirahat, ia melihat sebuah pohon rindang di kejauhan. Ia
senang sekali melihatnya dan berkata, "Andai saja aku punya air untuk minum."

Tiba-tiba, ia melihat sebuah kendi berisi air yang dingin di depannya.


Pengembara luar biasa senangnya dan mulai meneguk air dingin dalam kendi.

Setelah puas minum dan hilang hausnya, si pengembara kembali memohon,


"Andai saja aku punya makanan saat ini."

Segera setelah ia memohon, puluhan piring berisi makanan yang lezat-lezat


muncul dihadapannya. Pengembara langsung makan dengan lahapnya. Selesai
makan, ia mulai berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi.
Setelah lama berpikir, ia mengetahui bahwa pohon yang ia lihat tadi itu adalah
Kalpa Vriksha. Itu adalah pohon ajaib. Siapa pun yang melihat pohon itu dan memohon,
keinginannya akan terkabul.

Pengembara tidak menyia-yiakan kesempatan itu. Ia langsung meminta ranjang


yang empuk dan langsung terkabul. Sebuah ranjang muncul di hadapannya.
Pengembara membaringkan badannya yang letih dan beristirahat.

Pengembara merasa kakinya pegal sekali. Lalu, ia memohon agar ada orang
yang mau memijit kakinya. Benar saja, seorang wanita muda muncul dan mulai memijat
kaki si pengembara.

Akhirnya, si pengembara tertidur. Pengembara tertidur cukup lama. Saat ia


bangun, wanita muda yang memijitnya tadi masih berada di sisinya. Pengembara mulai
berpikir lain.

"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bisakah aku mendapatkan banyak hal
dengan memohon saja tanpa perlu bekerja sama sekali. Ataukah ini hanya tipuan
setan," pikirnya.

Selesai pengembara berpikir demikian, mendadak setan muncul menggantikan


sosok wanita muda tadi. Setan itu tertawa terbahak-bahak.

Lalu, si pengembara berkata, "Oh, apakah setan ini akan memakanku?"

Setan mulai membuka mulutnya lebar-lebar hendak memakan pengembara.


Melihat hal itu, pengembara ketakutan. Ia melompat dari ranjang dan langsung berlari
sekuatnya.

Setelah lama berlari, pengembara melihat ke belakang. Ternyata, setan itu sudah
tidak mengejarnya. Ia pun bernapas lega.
3. Fabel
Ayam Jantan yang Cerdik dan Rubah yang Licik
Suatu senja saat matahari mulai tenggelam, seekor ayam jantan terbang ke
dahan pohon untuk bertengger. Sebelum dia beristirahat dengan santai, dia
mengepakkan sayapnya tiga kali dan berkokok dengan keras. Saat dia akan
meletakkan kepalanya di bawah sayap-nya, mata nya menangkap sesuatu yang
berwarna merah dan sekilas hidung yang panjang dari seekor rubah.
"Sudahkah kamu mendengar berita yang bagus?" teriak sang Rubah dengan
cara yang sangat menyenangkan dan bersemangat.

"Kabar apa?" tanya sang Ayam Jantan dengan tenang. Tapi dia merasa sedikit
aneh dan sedikit gugup, karena sebenarnya sang Ayam takut kepada sang Rubah.

"Keluargamu dan keluarga saya dan semua hewan lainnya telah sepakat untuk
melupakan perbedaan mereka dan hidup dalam perdamaian dan persahabatan mulai
dari sekarang sampai selamanya. Cobalah pikirkan berita bagus ini! Aku menjadi tidak
sabar untuk memeluk kamu! Turunlah ke sini, teman, dan mari kita rayakan dengan
gembira."

"Bagus sekali!" kata sang Ayam Jantan. "Saya sangat senang mendengar berita
ini." Tapi sang Ayam berbicara sambil menjinjitkan kakinya seolah-olah melihat dan
menantikan kedatangan sesuatu dari kejauhan.

"Apa yang kau lihat?"tanya sang Rubah sedikit cemas.


"Saya melihat sepasang Anjing datang kemari. Mereka pasti telah mendengar
kabar baik ini dan -"
Tapi sang Rubah tidak menunggu lebih lama lagi untuk mendengar perkataan
sang Ayam dan mulai berlari menjauh.
"Tunggu," teriak sang Ayam Jantan tersebut. "Mengapa engkau lari? sekarang
anjing adalah teman-teman kamu juga!"
"Ya,"jawab Fox. "Tapi mereka mungkin tidak pernah mendengar berita itu. Selain
itu, saya mempunyai tugas yang sangat penting yang hampir saja saya lupakan."
Ayam jantan itu tersenyum sambil membenamkan kepalanya kembali ke bawah
bulu sayapnya dan tidur, karena ia telah berhasil memperdaya musuhnya yang sangat
licik.

4. Legenda

Legenda Danau Toba

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup
sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan
dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya
sehari-hari.

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia
bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail,
umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di
sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya
dimakan ikan, petani tersebut berdoa,Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini.
Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-
goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan
yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat
terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. Tolong aku jangan
dimakan Pak!! Biarkan aku hidup, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan
tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan
ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah
menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu, kata si ikan. Siapakah kamu
ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. Aku adalah seorang putri yang
dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan, jawab wanita itu. Terimakasih engkau
sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau
jadikan istri, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami
istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh
menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka
akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya kebahagiaan Petani dan


istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka
tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang
membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah
merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk
mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja.
Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya
dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu
kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan
lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat
anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. Hey,
bangun!, teriak petani itu.

Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya.


Mana makanan buat ayah?, Tanya petani. Sudah habis kumakan, jawab si anak.
Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. "Anak tidak tau diuntung !
Tak tahu diri! Dasar anak ikan!," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata
pantangan dari istrinya.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan
istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba
menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga
membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu
akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.
5. Sage
Caadara (Irian Jaya)
Suatu saat, hiduplah seorang panglima perang bernama Wire. Ia tinggal di desa
Kramuderu. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Caadara.
Sejak kecil Caadara dilatih ilmu perang dan bela diri oleh ayahnya. Wire berharap,
kelak anaknya bisa menggantikannya sebagai panglima perang yang tangguh.
Tahun berganti. Caadara tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Caadara juga
tangkas dan cakap. Wire ingin menguji kemampuan anaknya. Karena itulah ia
menyuruh pemuda itu berburu di hutan.Caadara mengumpulkan teman-temannya. Lalu
mereka berangkat berburu. Mereka berjalan melewati jalan setapak dan semak belukar.
Di hutan mereka menemui banyak binatang. Mereka berhasil menombak beberapa
binatang.
Dari hari pertama sampai hari keenam, tak ada rintangan yang berarti untuk
Caadara dan anak buahnya. Tapi esok harinya mereka melihat anjing pemburu.
Kedatangan anjing itu menandakan bahaya yang akan mengancam.
Caadara dan anak buahnya segera siaga. Mereka menyiapkan busur, anak panah,
kayu pemukul, dan beberapa peralatan perang. Mereka waspada. Tiba-tiba terdengar
pekikan keras. Sungguh menakutkan! Anak buah Caadara ketakutan. Tapi Caadara
segera menyuruh mereka membuat benteng pertahanan. Mereka menuju tanah lapang
berumput tinggi. Tempat itu penuh semak belukar. Di sana mereka membangun
benteng untuk menangkis serangan musuh. Tiba-tiba muncullah 50 orang suku Kuala.
Mereka berteriak dan menyerang Caadara dan anak buahnya. Tongkat dan tombak
saling beradu. Sungguh pertempuran yang seru. Caadara tidak gentar. Ia memimpin
pertempuran dengan semangat tinggi. Padahal jumlah anak buahnya tak sebanding
dengan jumlah musuh.
Caadara berhasil merobohkan banyak musuh. Sedangkan musuh yang tersisa
melarikan diri. Betapa kagumnya teman-teman Caadara melihat anak panglima perang
Wire. Mereka segan dan kagum padanya. Mereka pulang sambil mengelu-elukan
Caadara.Kampung gempar dibuatnya. Wire sungguh bangga. Ia juga terharu sehingga
berlinang air mata. Tak sia-sia latihan yang diberikan pada Caadara. Kampung gempar
mendengarnya. Ayahnya terharu dan berlinang air mata. Pesta malam hari pun
diadakan. Persiapan menyerang suku Kuala pun diadakan, karena mereka telah
menyerang Caadara.
Esok harinya, Caadara diberi anugerah berupa kalung gigi binatang, bulu kasuari
yang dirangkai indah, dengan bulu cendrawasih di tengahnya.Kemudian masyarakat
desa mempelajari Caadara Ura, yaitu taktik perang Caadara. Taktik itu berupa
melempar senjata, berlari, menyerbu dengan senjata, seni silat jarak dekat, dan cara
menahan lemparan kayu. Nama Caadara kemudian tetap harum. Ia dikenal sebagai
pahlawan dari desa itu