Anda di halaman 1dari 10

Aspek Legal Home Care

A. Hak dan kewajiban perawat

Dalam mewujudkan derajat kesehatan secara optimal sesuai dengan tujuan pembangunan
kesehatan perlu adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara pemberi jasa pelayanan
kesehatan dengan kepentingan masyarakat/individu atau perorangan sebagai penerima pelayanan
kesehatan. Dengan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat sebagai
penerima jasa pelayanan keperawatan terhadap hokum, maka tertib hokum dalam pelayanan
keperawatan memberikan kepastian hokum kepada perawat, pasien, dan sarana kesehatan.
Kepastian hokum berlaku untuk pasien, perawat sesuai dengan hak dan kewajiban masing-
masing. Hak dan kewajiban perawat harus dilakksanakan secara seimbang.

1. Hak Perawat
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan
pribadiny sesuai dengan keadilan,moralitas,dan legalitas. Didalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia hak memiliki pengertian tentang suatu hal yang benar, milik, kepunyaan
,kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu( karena telah ditentukan oleh undang-
undang, aturan, dsd), kekuasaan yang benar atas sesuatau atau untuk menuntut sesuatu,
derajat atau martabat. Sedangkan, menurut Kamus Hukum, hak mempunyai tiga arti
yaitu:
a. Merupakan kekuasaan, kewenangan yang diberikan oleh hukum kepada subjek
hokum,
b. Tuntutan syah agar orang lain bersikap dengan cara tertentu,
c. Kebebasan untuk melakukan sesuatu menurut hukum.

Hak Perawat Berdasarkan PP No.32 Tahun 1996

Berdasarkan PP No.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, Perawat dikategorikan


sebagai tenaga kesehatan. Dalam pasal 2 ayat (1), tenaga kesehatan terdiri dari :

a. Tenaga medis;
b. Tenaga keperawatan;
c. Tenaga farmasian;
d. Tenaga kesehatan masyarakat;
e. Tenaga gizi;
f. Tenaga keterapian fisik;
g. Tenaga teknisian medis

Pasal 3 ayat (3) mempertegaskan bahwa yang termasuk dalam tenaga keperawatan yaitu
perawat dan bidan.

Tenaga kesehatan berhak mendapat imbalan dan perlindungan hukum dalam


melaksanakan tugas dengan profesinya. Atas dasar prestasi kerja, pengabdian, kesetiaan,
berjasa pada Negara atau meninggal dunia dalam melaksankan tugas diberikan
penghargaan kepada tenaga kesehatan. Bentuk penghargaan dapat berupa kenaikan
pangkat, tanda jasa, uang atau bentuk lainnya. Tenaga kesehatan mempunyai
kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan dilakukan sesuai dengan
bidang keahlian yang dimiliki.

Hak Perawat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 148/2010

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.148/2010, hak perawat terdapat pada pasal
11. Dalam melaksankan praktik, perawat mempunyai hak :

a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik keperawatan


sesuai standar
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan/atau keluarganya.
c. Melaksankan tugas sesuai dengan kompetensinya.
d. Menerima imbalan jasa profesi, dan
e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan
tugasnya.

2. Kewajiban Perawat
Kewajiban adalah sesuatu yang harus diperbuat atau harus dilakukan seseorang atau
suatu Badan Hukum. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kewajiban
adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal yang harus
dilaksanakan). Kewajiban dibagi atas 2 macam ,yaitu kewajiban sempurna yang selalu
berkaitan dengan hak orang lain. Kewajiban sempurna mempnyai dasar keadilan,
sedangkan kewajiban tidak sempurna berdasarkan moral. Menurut Kamus Hukum,
kewajiban merupakan segala bentuk beban yang diberikan oleh hokum kepada orang
ataupun badan hokum.

Kewajiban Perawat Berdasarkan PP No. 32 Tahun 1996

Dalam PP No. 32 Tahun 1996 Pasal 22 ayat (1), dinyatakan bahwa bagi tenaga
kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk :

a. Menghormati hak pasien;


b. Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien;
c. Memebrrikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan
dilakukan;
d. Meminta persetujan terhadap tindakan yang dilakukan;
e. Membuat dan memelihara rekam medis

Penjelasan PP No. 32 Tuhan 1996 yang di maksud tenaga kesehatan tertentu dalam ayat
(1) pasal 22 adalah tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasiennya
misalnya, dokter, dokter gigi, perawat. Hal ini berarti, keawjiban yang terdapat pada pasal
22 ayat (1) PP No. 32 Tahun 1996 berlaku untuk tenaga perawat.

Kewajiban Perawat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 148/2010

Dalam Kepmenkes 148/2010 berkaitan dengan praktek perawat, kewajiban perawat


terdapat pada Pasal 1 ayat (1). Dalam melaksanakan praktik, perawat wajib untuk :

a. Menghormati hak pasien


b. Melakukan rujukan
c. Meyimpan rahasia dengan peraturan perudang-undangan
d. Memeberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan
yang dibutuhkan
e. Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang dilakukan
f. Melakukan pencatatan keperawatan secara sistematis
g. Mematuhi standar

Selain pada Pasal 12 ayat (1), kewajiban perawat juga terdapat pada Pasal 12 ayat (3)
yaitu perawat dalam menjalankan praktik wajib membantu program pemerintah dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

B. Tanggung Jawab dan Tanggng Gugat Perawat


1. Tanggung Jawab Perawat
Tanggung jawab (responsibility) merupakan penerapan ketentuan hukum
(eksekusi) terhadap tugas-tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat,
agar tetap kompeten dalam pengetahuan, sikap dan bekerja sesuai kode etik. Dalam
melakukan pelayanan tehadap pasien, maka perawat harus sesuai dengan peran dan
kompetensinya. Diluar peran dan kompetensinya bukan menjadi peran perawat. Ketntuan
hukum diperlukan dalam melakukan tanggung jawab. Hal ini dimaksudkan, pelayanan
keperawatan yang diberikan sesuai dengan standar keperawatan. Tanggang jawab
perawat ditunjukkan dengan cara siap menerima hukuman (punishment) secara hukum
kalau peraawat terbukti bersalah atau melanggar hukum.
Tanggung jawab merupakan keharusan seseorang sebagai makhluk rasional dan
bebas untuk tidak mengelak serta memberikan kejelasan mengenai perbuatannya, secara
retrosfektif atau prosfektif. Tanggung jawab sebagai kesiapan memberikan jawaban atas
tindakan-tindakan yang sudah dilakukan perawat pada masalalu atau tindakan yang
berakibat dimasa yang akan datang. Misalnya bila perawat dengan sengaja memasang
alat kontrasepsi tanpa persetujuan pasien maka akan berdampak pada masa depan pasien.
Pasien tidak akan punya keturunan padahal memeiliki keturunan adalah hak semua
manusia. Perawat secara retrospektif hars bisa memepertanggung jawabkan meskipun
tindakan perawat tersebut dianggap benar menrut pertimbangan medis.
Tanggung jawab yaitu reliability and thrustworthiness. This attribute indicates that
the professional ners carries out required nursing activities conscieintiously and that
nurses actions are honestly reported. Tanggung jawab perawat berarti keadaan perawat
yang dapat dipercaya dan terpercaya. Sebutan ini menunjukan bahawa perawat
professional menampilkan kinerja secara hati-hati, teliti dan kegiatan perawat dilaporkan
secara jujur. Pasien merasa yakin bahwa perawat bertanggung jawab dan memiliki
kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang relevan dan disiplin ilmunya. Kepercayaan
tumbuh dalam diri pasien, Karena kecemasan akan muncul bila pasien merasa tidak yakin
bahwa perawat yang merawatnya kurang terampil, pendidikan tidak memadai dan kurang
berpengalaman. Pasien tidak yakin bahwa perawat memiliki integritas dalam sikap,
keterampilan, pengetahuan (integrity) dan kompetensi.
Tanggung jawab perawat menjadi tiga yaitu 1). Responsibility to God (tanggung
jawab utama terhadap tuhannya). 2). Responsibility to client and Society (tanggung
jawab terhadap pasien dna masyarakat. 3). Responsibility to Collague and Supervisor
(tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan atasan). Dalam sudut pandangan etika
normatif, tanggung jawab perawat yang paling utama adalah tanggug jawab dihadapan
tuhannya. Sesungguhnya pengeliatan, penengaran dan hati akan di minta pertanggung
jawabannya dihadapan tuhan.
Tanggung jawab merupakan aspek penting dalam etika perawat. Tanggng jawab
adalah kesedihan seseorang untuk menyiapkan diri dalam menghadapi resiko terburuk
sekalipun, memberikan kompensasi atau informasi terhadap apa-apa yang sudah
dilakukannya dalam melaksanakan tugas. Tanggung jawab sering kali bersifat
retrospektif, artinya selalu berorientasi pada prilaku perawat dimasa lalu atau sesuatu
yang sudah dilakukan. Tanggung jawab perawat terhadap pasien berfokus pada apa-apa
yang sudah dilakukan perawat terhadap pasiennya.
Perawat dituntut untuk bertanggung jawab dalam setiap tindakannya khususnya
selama melaksankan tugas dirumah sakit, puskesmas, panti, klinik atau masyarakat.
Meskipun tidak dalam rangka tugas atau tidak sedang melaksanakan dinas, perawat
dituntut untuk bertanggung jawab dalam tugas-tugas yang melekat dalam diri perawat.
Perawat memiliki peran dan fungsi yang sudah disepakati perawat sudah berjanji dengan
sumpah perawat bahhwa ia akan senantiasa melaksanakan tugas-tugasnya.
Contoh bentuk tanggung jawab perawat; mengenal kondisi pasiennya,
memberikan perawatan, tanggung jawab dalam mendokumentasikan, bertanggung jawab
dalam menjaga keselmatan pasien, jumlah pasien yang sesuai dengan cacatan dan
pengawasannya, kadang-kadang ada pasien pulang paksa atau pulang tanpa
pemberitahuan, bertanggung jawab bila ada pasien tiba-tiba tensinya drop tanpa
sepengetahuan perawat. Dalam homecare, perawat bertanggungjawab terhadap kondisi
pasien dirumah dan terhadap kemandirian pasien dirumah.
Tanggung jawab perawat erat kaitannya dengan tugas-tugas perawat. Tugas
perawat secara umum adalah memenuhi kebutuhan dasar. Peran penting pearawat adalah
memberikan pelayan perawatan (care) atau memberiklkan perawat (caring). Tugas bukan
untuk mengobati (cure) dalam pelaksanaan tugas dilapangan adakalanya perawat
melakukan tugas dari profesi lain seperti dokter, farmasi, ahli gizi, atau fisioterapi. Untuk
tugas-tugas yang bukan tugas perawat seperti pemberian obat maka tanggung jawab
tersebut seringkali dikaitkan dengan siapa yang memberikan tugas tersebut atau dengan
siapa ia berkolaborasi. Dalam kasus kesalaahan pemberian obat maka perawat harus turut
bertanggung jawab, meskipun tanggung jawab utama ada pada pemberian tugas atau
atasan perawat, dalam istilah etika dikenal dengan Respondeath Superior. Istilah tersebut
merujuk pada tanggung jawab atasan terhadap prilaku salah yang dibuat bawahannya
sebagai akibat dari kesalahan dalam pendelegasian. Sebelum melakukan pendelegasian
seorang pemimpin atau ketua tim yang ditnjuk misalnya dokter harus melihat pendidikan,
skill , loyalitas, pengalaman dan kompetensi perawat agar tidak melakukan kesalahan dan
bisa bertanggung jawab bila salah melaksanakana pendelegasian.
Dalam pandangan etika keperawatan, perawat memiliki tanggung jawab
(Responsibility) terhadap tugas-tugasnya terutama keharusan memandang manusia
sebagai makhluk yang utuh dan unik. Utuh artinya memiliki kebutuhan dasar yang
kompleks dan saling berkaitan antara kebuthan satu dengan yang lainnya, unik artinya
setiap individu bersifat khas dan tidak bisa disamakan dengan individu lainnya sehingga
memerlukan pendekatan khusus kasus perkasus, karena pasien memiliki riwayat
kelahiran, riawayat masa anak, pendidikan, hobi, pola asuh, lingkungan, pengalaman
traumatik, dan cita-cita yang berbeda. Kemampuan perawat memahami riwayat hidup
pasien yang berbeda-beda dikenal dengan ability to know life span history dan
kemampuan perawat memandang individu dalam rentang yang panjang dan berlainan
dikenal dengan holistik.
Ada beberapa hal yang berkaiatan dengan tanggung jawab perawat terhadap rekan
sejawat atau atasan. Diantaranya adalah sebagai berikut : 1). Membuat pencatatan yang
lengkap atau (pendokumentasian) tentang kapan melakukan tindakan keperawatan,
berapa kali, dimana dengan cara apa dan siapa yang melakukan . 2). Mengajarkan
pengetahuan perawat terhadap perawat lainnya yang belum maupun atau belum mahir
melakukannya. 3). Memberikan teguran bila rekan sejawat melakukan kesalahan atau
menyalahi standar. 4). Memberikan kesaksian dipengadilan tentang suatu kasus yang
dialami klien . bila terjadi gugatan akibat kasus-kasus malpraktek seperti aborsi, infeksi
nasokomia, kesalahan yang diagnostic, kesalahan pemberian obat, klien terjatuh,
overhidrasi, keracunan obat , over dosis. Perawat berkewajiban untuk menjadi saksi
dengan menyertakan bukti-bukti yang memadai.
Tanggung jawab dalam pelayan kesehatan dapat dibagi 3 yaitu tanggung jawab
perdata, tanggung jawab pidana, tanggung jawab administrative.
a. Tanggung jawab perdata
Dalam transaksi terapieutik, posisi tenaga kesehatan dengan pasien adalah
sederajat. Dengan posisi yang demikian ini hukum menepatkan keduanya
memiliki tanggung gugat hukum. Gugatan untuk meminta
pertanggungjawaban kepada tenaga kesehatan bersumber kepada dua dasar
hukum yaitu : Pertama, berdasarkan pada wanprestasi ( contractual liability)
sebagaimana diatur dalam pasal 1239 KUH Perdata . Kedua, berdasarkan
perbuatan melanggar hukum (onrechmatigedaaad) sesai dengan ketentuan
pasal 1356 KUH Perdata .
Wan prestasi dalam pelayanan kesehatan baru terjadi bila terpenuhinya
unsur-unsur berikut ini:
1). Hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien terjadi berdasarkan
kontrak terapeutik.
2). Tenaga kesehatan telah memberikan pelayan kesehatan yang tidak patut
menyalahi tujuan kontrak terapeutik.
3). Pasien menderita kerugian akibat tindakan tenaga kesehatan yang
bersangkuatan.

Dasar hukum yang kedua untuk melakukan gugatan adalah perbatan melawan hukum.
Gugatan dapat diajukan jika terdapat fakta-fakta yang berwujud suatu perbuatan yang melanggar
hukum walaupun diantara para pihak tidak terdapat suatu perjanjian. Untuk mengajukan gugatan
berdasarkan perbuatan melawan hukum harus dipenuhi empat syarat bagaimana diatur dalam
pasal 1365 KUH Perdata yaitu :

1). Pasien harus mengalami suatu kerugian

2). Ada kesalahan

3). Ada hubungan kausal antara kesakahan dengan kerugian

4). Perbuatan itu melanggar hkum

Tentang apa yang dimaksud dengan perbuatan melanggar hukum, undang-undang sendiri
tidak memberikan perumusannya. Namun sesuai dengan yurisprudensi Arrest Hoge Raad 31
januari 1919 dditerapkan adanya empat kriteria perbuatan melanggar hkum yaitu :

1). Perbuatan itu bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku

2). Perbuatan itu melanggar hak orang lain

3). Perbuatan itu melanggar kaidah tata susila

4). Perbuatan itu bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian serta sikap hati-hati yang
seharusnya dimiliki seseorang dengan sesama warga masyarakat atau terhadap harta benda orang
lain.

Dalam kaitannya dengan pelayanan kesehatan, bila pasien atau keluarganya menganggap
tenaga kesehatan telah melakukan perbuatan melanggar hukum maka dapat mengajukan tuntutan
ganti rugi menurut ketentuan pasal 58 undang-undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
b). Tanggungjawab pidana

Hukum pidana menganut asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dalam pasal 2 KUHP
disebutkan ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi
setiap orang yang melakukan suatu delik di Indonesia . Perumusan pasal ini menentukan
bahwa setiap orang yang berada dalam wilayah hukum Indonesia dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana atas kesalahan yang dibuatnya.

Sekalipun hukum pidana mengenal adanya pengahapusan pidana dalam pelayanan


kesehatan yaitu alasan pembenar dan pemaaf sebagaimana yang terdapat di dalam
yurisperudensi, namun tidak serta merta alasan pembenar dan pemaaf tersebut penghapus
suatu tindakan pidana bagi tenaga kesehatan.

Pada alasan pembenar yang dihapus adalah sifat melanggar hukum dari suatu
perbuatan sehingga yang dilakukan oleh terdakwah menjadi patut dan benar. Pada alasan
pemaaf yang dihapus adalah kesalahan terdakwa, perbuatan yang dilakukan oleh
terdakwa tetap dipandang sebagai perbuatan yang melanggar hukum akan tetapi tidak
dipidana karena tidak ada kesalahan (Moeljanto, 1982 dalam Nasution, 2005:75) . Alasan
pembenar dan pemaaf diatur dalam pasal 75 dan 76 UU no. 36 tahun 2009 tentang
kesehatan

c). Tanggungjawab Administratif

Pada pasal 188 UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa
menteri dapat mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas
pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan sesuai yang diatur dalam undang-undang
ini . tindakan administratif dapat berupa :

1). Peringatan secara tertulis ;

2). Pencabutan izin sementara atau izin tetap.

Berdasarkan KUHP, seseorang dipandang mampu bertanggung jawab atas perbuatan


yang dilakukan apabila :

1. Pada waktu melakukan perbuatan telah berumur 16 tahun ( Pasal 45 KUHP )


2. Tidak terganggu atau cacat jiwanya ( Pasal 44 KUHP )
3. Tidak karena pengaruh daya paksa ( Over mach ) ( Pasal 48 KUHP )
4. Bukan Karena melakukan pembelaan terpaksa ( Pasal 49 KUHP )
5. Tidak melaksanakan ketentuan undang undang ( Pasal 50 KUHP )
6. Tidak karena perintah jabatan ( Pasal 51 KUHP )

Pada point 3, yang dimaksud daya paksa berdasarkan memori penjelasan pasal 48 KUHP
adalah tiap daya, tiap dorongan, tiap paksaan yang tidak dapat dilawan. Daya paksa ini
merupakan tekanan yang dialami perawat sehingga perawat melakukan perbuatan yang
seharusnya tidak dilakukan. Oleh karena itu, perawat harus bertanggung jawab terhadap
perbuatannya apabila perbuatan dilakukan tidak dibawah tekanan atau paksaan.

Pembelaan terpaksa menurut pasal 49 KUHP dilakukan karena ada serangan yang
melaggar hukum terhadap diri sendiri maupun orang lain terhadap kehormatan kesusilaan
maupun harta benda. Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan oleh perawat bukan karena
adanya serangan atau ancaman yang mengharuskan melakukan pembelaan terhadap keselamatan
diri sendiri maupun orang lain, kehormatan kesusilaan maupun harta benda merupakan yang
dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 50 KUHP menetukan bahwa Barang siapa melakukan perbuatan untuk


melaksanakan ketentuan undang undang tidak pidana. Secara acontrario, perawat harus
bertanggung jawab hanya terhadap perbuatan yang dilakukan tidak dalam rangka melaksanakan
ketentuan undang undang. Asuhan atau pelayanan keperawatan merupakan perbuatan yang
dilakukan oleh perawat karena pekerjaan perawat sesuai dengan kewenangan yang dimiliki
berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dibuktikan dengan ijazahnya, pada prinsipnya
adalah memberikan asuhan / pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, dalam asuhan keperawatan
seharusnya perawat memikul beban pertanggungjawaban manakala melakukan kelalaian atau
kesalahan.

Seseorang yang melakukan perbuatan karena melaksanakan perintah jabatan tidak dapat
dimintai pertanggungjawaban atas kerugian atau kesalahan yang ditimbulkan. Pasal 51 ayat ( 1 )
KUHP menentukan bahwa seseorang melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah
jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang tidak dipidana. Berkait dengan tanggung
jawab perawat, maka perawat tidak bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul dari
perbuatannya apabila perbuatan dilakukan sesuai dengan perintah atasannya, dalam hal ini
dokter.
Demikian pula apabila yang dilakukan perawat tidak sesuai dgn perintah yang diterima
atau perawat melakuakan perbuatan tanpa menerima perintah dari atasannya , perawat harus
mempertanggung jawabkan setiap kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian yang dilakukan.

Berkait dengan fungsi perawat , maka perawat mempunyai kemampuan bertanggung


jawab dalam menjalankan fungsi yang mandiri dalam asuhan keperawatan, sementara dalam
fungsi kolaborasi tanggung jawab berada pada ketua tim kesehatan dan dalam fungsi dependent
tanggung jawab berada pada dokter yang berwenang melakukan tindakan medis tertentu pada
pasien

2. Tanggung Gugat Perawat (accountability)

Accountability is the nurse participates in making the cisions and learns to live with these
decisions (kozier,1995). Means theing answerable nurses have to be answerable for all their
professional activities . they must be able to explain their professiona action and accept
responsibility for them. Berdasarkan hal tersebut, tanggung gugat dapat diartikan sebagai bentuk
partisipasi perawat dalam membuat suatu keputusan dan belajar dengan keputusan itu terhadap
konsekuensinya. Perawat hendaknya memiliki tanggung gugat artinya bila ada pihak yang
menggugagat ia menyatakan siap dan berani menghadapinya. Terutama yang berkaitan dengan
kegiatan profesinya perawat harus mampu untuk menjelaskan kegiatan atau tindakan yang
dilakukannya.

Tanggung gugat berarti dapat memberikan alas an atasan tindakannya. Seorang perawat
bertanggung gugat atas dirinya sendiri, pasien, profesi, atasan, dan masyarakat. Jika dosis
medikasi salah diberikan, perawat bertanggung gugat pada pasien yang menerima meditasi
tersebut, dokter yang memprogramkan tindakan, perawat yang menetapkan standar perilaku yang
diharapkan,serta masyarakat , yang semuanya menghendaki perilaku professional untuk dapat
melakukan tanggung gugat , perawat harus bertindak sesuai kode etik professional. Jika suatu
kesalahan terjadi , perawat melaporkan nya dan memulai perawatan untuk mencegah trauma
lebih lanjut tanggung gugat memicu evaluasi efektifitas perawat dalam praktik tanggung gugat
profesion memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Untuk mengevaluasi pratisi professional baru dan mengkaji ulang yang telah ada
2) Untuk mempertahankan standar perawatan kesehatan
3) Untuk memudahkan refleksi pribadi, pemikiran etis, dan pertumbahan pribadi pada pihak
profesiona perawatan kesehatan
4) Untuk memberikan dasar pengambilan keputusan etis .

Untuk dapat bertanggung gugat, perawat melakukan praktik dalam kode profesi tanggung
gugat membutuhkan evaluasi kinerja perawat dalam perawatan kesehatan. Joint commission on
accreditation of health care organization ( JCAHO ) telah merekomendasikan pebetapan standar
pemberian asuahan keperawatan secara objektif diukur. Standar tersebut tidak membatasi
kebutuhan rencana perawatan individu,bahkan perawat justru memasukan standar tersebut
kedalam rencana perawatan untuk setiap pasien. Tanggunggugat dapat dijamin dan diukur lebih
baik ketika kualitas perawatan telah ditetapkan. Sebagian besar institusi menyandarkan panduan
yang ditawarkan berdasarkan standar JCAHO dan ANA ( Perry dan Potter, 2005 )