Anda di halaman 1dari 8

PENINGGALAN SEJARAH BERCORAK

ISLAM DI INDONESIA

Nama : Achmad Irsyadul Ngibad

Kelas : 4a

Sekolah : SDN 03 Sidakaya Cilacap


PENINGGALAN SEJARAH BERCORAK
ISLAM DI INDONESIA

Peninggalan berupa bangunan

a. Masjid

Masjid Ampel (1421)

Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota Surabaya, Jawa
Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel, dan didekatnya terdapat kompleks makam
Sunan Ampel.

Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di Surabaya. Masjid
ini dikelilingi oleh bangunan berarsitektur Tiongkok dan Arab. Di samping kiri halaman
Masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah.
b. Istana
Istana Raja Gowa Gowa, Sulsel Abad 16 M K. Gowa

Balla Lompoa yang berarti rumah besar adalah istana Raja Gowa yang berbentuk rumah
panggung khas Gowa. Letak istana ini adalah di Kota Sungguminasa di kabupaten Gowa.
Balla Lompoa dibangun pada tahun 1936 dengan menggunakan kayu besi sebagai bahan
bangunannya. Di atap rumah terdapat kepala kerbau yang menjadi penanda derajat
kebangsawanan si pemilik rumah. Rumah raja ini sekarang berfungsi menjadi museum yang
menampilkan benda-benda pusaka Kerajaan Gowa.

Di sana anda dapat melihat singgasana raja, mahkota, senjata, payung, pakaian, bendera,
naskah lontar, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat pula berbagai macam perhiasan
peninggalan Kerajaan yang terbuat dari emas murni dan dihias dengan batuan berharga. Ada
pula kitab Al Quran yang ditulis tangan yang diperkirakan berasal dari tahub 1848.

c. Makam
Makam Sunan Drajat

Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden
Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan
bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran,
Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel
dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam ia menyebarkan
agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini
diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada
tahun saka 1442/1520 masehi

Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels
(Anyar-Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaraan
pribadi.

d. Pesantren
Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur 1718 M.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745.
Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok
Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum
KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sadoellah Nawawie pada 29
Oktober 1963.

Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sadoellah Nawawie, tertulis
bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-
226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam
kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok
Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

Rata-rata per tahun jumlah santri putra jumlahnya sebanyak 5063 dan putri 5137. Pondok
pesantren ini ini juga menyelenggarakan sistem pendidikan madrasdah yakni Tipe A
sebanyak : 79 madrasah (di Pasuruan) dan Tipe B sebanyak 34 madrasah (di luar Pasuruan).

Peninggalan berupa kitab atau karya sastra


a. Hikayat
Hikayat Raja-raja Pasai

Hikayat ini diperkirakan ditulis pada abad ke-14.

Hikayat Raja -raja Pasai berkisah tentang Merah Silu yang bermimpi bertemu dengan Nabi
Muhammad. Lalu, Marah Silu bersyahadat dan menjadi Sultan Pasai pertama dengan gelar
Malik al-Saleh.

b. Babad
Babad Demak
Babad Demak ini isinya tentang kisah Raden Patah dalam mendirikan Kerajaan Demak.

c. Syair
Syair Perang Banjarmasin

Syair Perang Banjarmasin. Syair ini diperkirakan ditulis pada abad ke-16. Syair ini memang
berisi beberapa pokok ajaran Islam, namun syair yang tidak diketahui pengarangnya ini
dipastikan memiliki isi yang pro-Belanda. Hal ini dilihat dari teks pembukanya yang berisi
pujian atas pemerintahan Belanda. Syair Peran banjarmasin ini juga mendiskreditkan
Pangeran Hidayatullah. Padahal, Pangeran Hidayatullah di mata rakyat adalah sosok patriot.
d. Suluk
Suluk Wujil
Suluk Wujil, berisi wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, bekas abdi Raja Majapahit.