Anda di halaman 1dari 35

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Broiler
Ayam broiler disebut juga ayam pedaging. Ayam broiler mempunyai
keunggulan kecepatan produksi daging, dalam waktu sekitar 5 minggu,
ayam pedaging siap dipasarkan. Istilah komersial broiler untuk menyebut
strain ayam hasil budidaya teknologi rekayasa genetika yang didasarkan
pada karakteristik ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan yang cepat
sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, karena dipotong pada
usia muda, maka kualitas daging yang dihasilkan berserat lunak (Siregar,
2005). Ayam Broiler adalah jenis ayam ras unggul hasil persilangan antara
bangsa ayam Cornish dari Inggris dengan ayam White Play Mounth Rock
dari Amerika (Rasyaf, 2008). Ayam Lohmann MB 202 merupakan ayam
dengan tingkatan akhir dari strain ayam atau disebut dengan final stock.
Final stock jika dikawinkan lagi dengan sesama final stock keturunannya
tidak akan mempunyai kemampuan produksi seperti final stock yang
merupakan anak dari parent stock. DOC final stock merupakan anak dari
parent stock yang merupakan hasil seleksi yang dilakukan secara terus
menerus sehingga diperoleh hasil akhir (final) yang betul-betul produktif
dan berkualitas. Induk dari parent stock adalah grand parent stock
(Anonim, 2013).
Jenis strain ayam broiler yang akan dipakai dalam penelitian ini
adalah Lohman 202 yang diberi nama strain New Lohman MB 202. Strain
New Lohman MB 202 diproduksi oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk.
Strain New Lohman MB 202 memiliki ciri-ciri Bibit yang digunakan memiliki
ciri-ciri yaitu bulunya berwarna kuning keputihan dan warna kulitnya
kekuningan, mata bersinar dan kondisi ayam dalam keadaan sehat. Day
old chick (DOC) yang berkualitas baik antara lain mempunyai ciri kakinya
besar dan basah seperti berminyak, bulu cerah dan penuh, terlihat aktif
dan beratnya tidak kurang dari 37gr. strain lohman memiliki ciri-ciri antara
lain berat badan 8 minggu rata-rata mencapai 2,2 kg dengan konsumsi
makanan sebanyak 4.6 kg, sehingga FCR nya adalah 2,1. Berat bersih

1
karkas adalah 74% dengan daya hidup mencapai 96%. Warna kulitnya
adalah kuning dengan bulu berwarna putih. Pemilihan bibit juga sudah
sesuai dengan kriteria yaitu DOC secara fisik dalam keadaan sehat tidak
ada cacat fisik dan nafsu makan baik. DOC yang baik memiliki kriteria
matanya tampak cerah, segar, wajah tidak pucat, aktif, tidak terdapt cacat
fisik, tidak ada lekatan tinja di duburnya (Rasyaf, 2008).
Ayam broiler merupakan ayam tipe berat pedaging yang lebih muda
dan berukuran lebih kecil. Ayam broiler ditujukan untuk menghasilkan
daging dan menguntungkan secara ekonomis. Ayam broiler tumbuh
sangat cepat sehingga dapat dipanen pada umur 6 sampai 7 minggu. Sifat
pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari tingkah laku
makannya yang sangat lahap (Pratama, 2008). Ayam broiler merupakan
jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang
memiliki daya produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging.
Ayam pedaging (broiler) memiliki banyak strain. Strain merupakan istilah
untuk jenis ayam yang telah mengalami penyilangan dari bermacam-
macam bangsa sehingga tercipta jenis ayam baru dengan nilai ekonomi
produksi tinggi dan bersifat turun temurun (Santoso dan Sudaryani, 2011).
Menurut Kumorojati (2011) cit Wulandari et al. (2014), ayam
pedaging atau ayam broiler adalah ternak ayam yang penting dalam
pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Permintaan terhadap
daging ayam semakin bertambah seiring dengan meningkatnya
penghasilan dan kesadaran mesyarakat tentang pentingnya protein
hewan. Ayam broiler merupakan salah satu sektor peternakan yang
menghasilkan bahan pakan hewani yang mempunyai nilai gizi yang tinggi.
Perkembangan genetik ayam broiler semakin pesat, sehingga ayam
broiler tidak lagi dipotong pada umur 35 hari tetapi menjadi lebih cepat
yaitu 29 hari. Pertumbuhan yang cepat tersebut diikuti oleh menurunnya
daya tahan tubuh ayam broiler. Feed additive diperlukan kedalam ransum
untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh ayam broiler.

2
Menurut Kumorojati (2011) cit Wulandari et al. (2014), kebutuhan
protein hewani dapat dipenuhi dari ternak dan ikan. Pemenuhan
kebutuhan protein hewani dari ternak tercapai apabila setiap orang sudah
mengkonsumsi protein sebanyak 6 gr per kapita per hari. Ini setara
dengan 10,61 kg daging per kapita per tahun, 4,4 kg telur per kapita per
tahun, dan 6,16 kg susu per kapita per tahun. Jika kebutuhan daging
seseorang adalah 10,61 kg daging per kapita per tahun, maka kita dapat
menghitung kebutuhan daging seluruh masyarakat Indonesia. Sektor
perunggasan di Indonesia merupakan pilihan yang tepat untuk
dikembangkan khususnya ayam ras pedaging (broiler) yang dapat
memunuhi kebutuhan protein hewani, karena pertumbuhan yang cepat,
tidak membutuhkan banyak tempat dan biaya pemeliharaan yang relatif
murah, dibandingkan dengan ternak besar. Tujuan utama dari beternak
ayam ras pedaging (broiler) adalah untuk mendapat berat badan (BB) dan
mutu karkas yang tinggi serta aman dikonsumsi oleh manusia.

Perkandangan
Kandang merupakan unsur penting dalam menentukan
keberhasilan suatu usaha peternakan ayam karena kandang merupakan
tempat hidup ayam sejak usia awal sampai berproduksi. Kandang harus
memenuhi semua persyaratan yang dapat menjamin kesehatan serta
pertumbuhan yang baik bagi ayam yang dipelihara. Faktor konstruksi yang
dituntut untuk kandang ayam yang baik meliputi ventilasi, dinding
kandang, lantai, atap kandang dan bahan bangunan kandang (Priyatno,
2001 cit Sholikin, 2011). Menurut Abidin (2002) kandang merupakan
tempat hidup, tempat berproduksi, dan berfungsi untuk melindungi ayam
dari gangguan binatang buas, melindungi ayam dari cuaca yang tidak
bersahabat, membatasi ruang gerak ayam, menghindari resiko kehilangan
ayam, memper mudah pengawasan, pemberian pakan dan air minum,
serta pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Menurut
Amrullah (2004), hal yang mempengaruhi pertumbuhan broiler adalah

3
kepadatan ransum broiler dimana ayam yang diberi ransum dengan pakan
yang berkepadatan lebih rendah akan tumbuh lebih lambat dibandingkan
dengan ransum dengan kepadatan yang lebih tinggi.
Agromedia (2007) menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan jika menggunakan sistem postal, yaitu atap kandang
harus menggunakan sistem monitor agar sirkulasi udara di dalam
kandang berjalan baik. Tinggi tiang sisi kandang ayam (diukur dari lantai
samapai garis atap terendah) minimum 2,4 meter yang bertujuan agar
sirkulasi udara berjalan baik. Penumpukan panas dan gas beracun yang
dihasilkan oleh ayam juga bisa dihindari. Bahan penutup atap kadang
sebaiknya terbuat dari rumbia, genting, atau asbes karena bahan tersebut
bisa menyerap panas. Rasyid dan Hartati (2007) menyatakan bahwa
bentuk dan model atap kandang hendaknya menghasilkan sirkulasi udara
yang baik di dalam kandang, sehingga kondisi lingkungan dalam kandang
memberikan kenyamanan ternak. Berdasarkan bentuk atap kandang,
beberapa model atap yaitu atap monitor, semi monitor, gable dan shade.
Model atap untuk daerah dataran tinggi hendaknya menggunakan shade
atau gable, sedangkan untuk dataran rendah adalah monitor atau semi
monitor. Model atap monitor, semi monitor dan gable model kandang yang
mempunyai atap dua bidang, sedangkan shade mempunyai atap satu
bidang.
Menurut Rasyaf (2008), jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi
menjadi tiga macam yaitu kandang dengan lantai litter (kandang ini dibuat
dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak atau sekam padi dan kandang
ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni), kandang dengan
lantai kolong berlubang (lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu
kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang
tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan), dan kandang dengan
lantai campuran liter dengan kolong berlubang(dengan perbandingan 40%
luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong
berlubang, terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri). Litter merupakan

4
sistem kandang pemeliharaan unggas dengan lantai kandang ditutup oleh
bahan penutup lantai seperti, sekam padi, serutan gergaji, dan jerami padi
(Rasyaf, 2008). Pengaturan litter yang baik akan menghasilkan
pertumbuhan tubuh ternak yang normal. Bahan litter yang sering
digunakan antara lain serbuk gergaji, bongkol jagung yang telah dicacah,
sekam, potongan jerami kering, dan kulit kacang (Sujono, 1993 cit Ibrahim
dan Allaily, 2012). Menurut Sariman dan Suyartono(1992) cit Ibrahim dan
Allaily (2012), bahan lainnya yang juga sangat baik adalah tempurung
kelapa yang telah dibakar dan zeolit yang dapat mencegah polusi
kandang.
Kandang wire adalah kandang yang alasnya terbuat dari kawat,
umumnya digunakan pada kandang kurungan. Kandang wire atau slat
sering mengalami kendala peda pemeliharan brooder, karena dapat
mengurangi grade atau kualitas karkas yang dihasilkan (Sarjana, 2007).
Penggunaan sistem kawat ditinjau dari pertumbuhan dapat memberikan
performan yang memuaskan, namun memerlukan investasi yang lebih
tinggi dan timbulnya lemak abdominal yang lebih banyak serta adanya
gangguan breast blister. Kandang tipe cage membuat kotoran ayam akan
langsung jatuh ke tempat penampungan kotoran namun ayam yang
dipelihara menghasilkan kualitas karkas yang rendah. Keuntungan
menggunakan sistem kandang wire adalah menghemat tempat, energi
yang dikeluarkan ayam sedikit sehingga hasil metabolisme ternak banyak
untuk pembentukan daging, sedangkan kelemahannya adalah biaya
pembuatan kandang mahal, pembuangan kotoran harus sering dilakukan
karena jika terlambat dapat mengundang lalat dan bibit penyakit
(Widjastuti dan Garnida, 2012).
Kriteria lokasi kandang yang baik antara lain tanah datar dan lebih
tinggi dari tanah sekitarnya, ada saluran listrik dari PLN, sumber air tanah
mencukupi, jalan kuat dan dapat dilalui truk ringan, lahan merupakan
tanah lapang, serta tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk
(Santoso dan Sudaryani, 2011). Peralatan kandang yang digunakan untuk

5
usaha peternakan ayam pedaging adalah tempat pakan, tempat minum,
induk buatan atau brooder, tirai dan penyekat kandang (Nuroso,
2012). Peralatan kandang yang dibutuhkan dalam pemeliharaan ayam
broiler antara lain instalansi air minum (sumur, pompa air, saluran air,
drum penampungan, dan tempat minum otomatis), instalansi tempat
pakan, instalasi listrik, tirai atau layar, alat litter, instalansi pemanas,
pelindung indukan atau chick guard dan peralatan lain misalnya bak celup
kaki. Selain itu gudang juga diperlukan untuk mendukung dalam usaha
ayam broiler, gudang merupakan tempat penyimpanan, ada dua jenis
gudang yaitu gudang pakan dan gudang peralatan (Santoso dan
Sudaryani, 2011).
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan atau faktor eksogen adalah faktor kondisi atau
kesempatan yang berasal dari luar tubuh dan dibutuhkan mutlak untuk
menampilkan genotip menjadi fenotip secara maksimal Interaksi antara
faktor endogen (genetik) dan eksogen (lingkungan). Faktor Lingkungan
(Eksogen) terdiri dari iklim, pakan, manajemen pemeliharaan. Iklim terdiri
dari cahaya, temperatur, kelembaban, tekanan udara, komposisi udara.
Pakan terdiri dari ratio protein dan energi , mineral makro dan mikro
elemen, vitamin. Manajemen pemeliharaan praproduksi dan produksi
bentuk kandang dan peralatannya besar kelompok , kepadatan kandang.
Iklim. Iklim adalah rata-rata peristiwa cuaca di suatu daerah
tertentu, termasuk perubahan ekstrim musiman dan variasinya dalam
waktu yang relatif lama, baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh
bumi kita. Iklim dipengaruhi perubahan-perubahan yang cukup lama dari
aspek-aspek seperti orbit bumi, perubahan samudera, atau keluaran
energi dari matahari. Perubahan iklim merupakan sesuatu yang alami dan
terjadi secara pelan (WWF, 2015).
Cahaya. Cahaya (Light) mengandung energi proton yang dapat
diubah menjadi rangsangan biologis yang diperlakukan untuk berbagai
proses fisiologis tubuh.Pada unggas, respon terhadap cahaya tidak terlalu

6
melibatkan respon cahaya yang terdapat pada mata. Dapat dibuktikan
bahwa reseptor cahaya yang terdapat pada hipotalamus lebih banyak
digunakan untuk mengubah energi foton menjadi implus syaraf, yang
kemudian diteruskan oleh sistem endokrin untuk berbagai keperluan
seperti reproduksi perilaku dan karakteristik sekunder kelamin. Untuk
dapat berproduksi dengan baik, ayam petelur memerlukan ransangan
cahaya yang cukup lama dan intensitas. Pada daerah temperate
diperlukan ransangan cahaya selama 14 sampai 16 jam per hari (Sahari,
2012).
Warna cahaya ditentukan oleh panjang gelombang dan mendorong
pengaruh-pengaruh variabel pada performa broiler. Siang hari memiliki
distribusi panjang gelombang secara relatif antara 400 dan 700 nm.
Cahaya biru memiliki efek menenangkan pada unggas, sedangkan merah
akan meningkatkan patukan ke bulu dan kanibalisme. Cahaya biru-hijau
menstimulasi pertumbuhan anak ayam, sedangkan orange-merah
menstimulasi reproduksi. Cahaya dari panjang gelombang yang berbeda
memiliki efek stimulasi yang berbeda pada retina dan dapat menghasilkan
perubahan perilaku yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Warna cahaya berefek terhadap beberapa hal seperti
pertumbuhan, tingkat dewasa kelamin, produksi, berat telur dan lain-lain
(Sulistyoningsih, 2009).
Temperatur. Sistem pengaturan suhu tubuh pada ayam bersifat
homeotermik atau suhu tubuh ayam relatif stabil pada kisaran tertentu
yaitu 40 sampai 41oC. Namun saat berumur 0 sampai 5 hari, ayam masih
belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri. Ayam baru bisa mengatur
suhu tubuhnya secara optimal sejak umur 2 minggu. Oleh karena itu,
peran brooder (pemanas) sangat penting untuk menjaga suhu kandang
tetap dalam zona nyaman ayam Tabel 1.1.

7
Tabel 1.1. Suhu dan Kelembaban Udara yang Nyaman Bagi Ayam

Temperatur yang nyaman untuk mencapai pertumbuhan optimum


ayam pedaging berkisar antara 18 sampai 22 C dan antara 21 sampai 29
C Untuk ayam broiler umur 3 sampai 6 minggu, lingkungan yang panas
adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap penyebab
stres pada ayam broiler. Stres panas pada ayam broiler dihasilkan oleh
adanya interaksi antara suhu udara, kelembaban, sirkulasi panas serta
kecepatan udara, dimana suhu lingkungan menjadi faktor yang utama
(Andisuro, 2011). Saat suhu terlalu dingin, otak akan merespon dengan
meningkatkan metabolisme untuk menghasilkan panas. Dibandingkan
ayam dewasa, efek suhu dingin lebih terlihat pada masa brooding ketika
sistem thermoregulatori belum optimal. Suhu yang dingin bisa disebabkan
suhu brooding yang terlalu rendah, litter dingin atau basah maupun air
minum yang terlalu dingin. Peternak dapat menganalisa penyebab suhu
dingin dari tingkah laku anak ayam. Ayam yang berkerumun di bawah
brooder, bisa dikarenakan suhu brooder terlalu dingin. Litter yang dingin
atau basah juga bisa menampakkan gejala demikian, ditambah dengan
perilaku ayam yang diam, meringkuk dan kondisi kaki yang basah. Toni
Unandar (konsultan perunggasan), yang mengambil dari beberapa
sumber menyebutkan, jika ayam nyaman dengan suhu kandang maka
dalam tempo 15 detik setelah ditebar, DOC akan melakukan aktivitas
biologis lanjutan seperti bergerak, makan atau minum.

8
Kasus heat stress lebih sering terjadi pada ayam dewasa karena
lebih banyak menghasilkan panas sehingga lebih mudah stres. Telah
dijelaskan sebelumnya bahwa mekanisme pengeluaran panas pada ayam
adalah panting. Mekanisme ini biasanya menjadi jalan terakhir yang dipilih
ayam. Sebelumnya ayam akan melakukan perluasan area permukaan
tubuh (melebarkan atau menggantungkan sayap) dan melakukan
peripheral vasodilatation (meningkatkan aliran darah perifer terutama di
jengger, pial dan kaki).Saat panas, konsumsi pakan akan menurun
sedangkan air minum justru meningkat, sehingga terkadang terjadi feses
encer serta penurunan produktivitas akibat asupan nutrisi tidak terpenuhi
dan gangguan metabolisme tubuh. Kematian juga sering ditemukan
terutama jika panting sudah tidak mampu menurunkan suhu tubuh secara
optimal (Info Medion, 2010).
Kelembaban. Selain suhu, kelembaban udara (kadar air terikat di
dalam udara) juga perlu diperhatikan karena kelembaban akan
mempengaruhi suhu yang dirasakan ayam. Hal ini disebabkan
pengeluaran panas tubuh ayam dilakukan melalui panting. Semakin tinggi
kelembaban, suhu efektif yang dirasakan ayam juga semakin tinggi.
Sebaliknya, ayam akan merasakan suhu yang lebih dingin dibanding suhu
lingkungan ketika kelembaban rendah (Info Medion, 2010). Keterkaitan
antara keduanya terhadap suhu yang dirasakan anak ayam tampak dalam
Tabel 2. Suhu dan kelembaban yang nyaman untuk ayam dewasa ialah
tidak lebih dari 80%. Tingkat kelembaban lingkungan berpengaruh
langsung terhadap kehilangan panas laten tubuh ternak.
Tingkat kelembaban juga secara tidak langsung akan mempengaruhi
penampilan ternak akibat konsentrasi debu dan bakteri patogen meskipun
masih sedikit dokumentasi ilmiah yang mendukung keterkaitan ini (Fadli,
2013). Meningkatnya kelembaban akan merugikan produksi ternak pada
suhu tinggi. Pada umumnya perubahan kelembaban tidak menimbulkan
respon terhadap pertum buhan ternak pada suhu lingkungan di bawah 24
o
C. Alat pengukur kelembaban harus diletak kan berdekatan dengan alat

9
suhu. Beberapa sensor suhu mempunyai sensor kelembaban, se hingga
sekaligus memungkinkan untuk mengukur kelembaban nisbi (Alchalabi,
2001).
Tabel 1.2 Pengaruh Kelembaban terhadap Suhu yang Dirasakan
Ayam

Density. Kepadatan kandang atau density sangat penting untuk


diperhatikan karena penyediaan ruang kandang yang nyaman dengan
tingkat kepadatan yang sesuai berdampak pada performa produksi yang
akan dicapai. Menurut Fadilah dan Fatkhuroji (2013), standar kepadatan
ayam petelur grower ideal adalah 15 kg per m2 atau setara dengan 6
sampai 8 ekor ayam pedaging dan 12 sampai 14 ekor m 2 ayam petelur
grower (pullet). Kepadatan kandang harus disesuaikan untuk menjamin
semua ayam mendapat kesempatan yang sama untuk makan, minum,
dan oksigen sehingga pertumbuhan ayam dapat seragam. Kandang yang
terlalu padat akan meningkatkan kompetisi dalam mendapatkan ransum,
air minum maupun oksigen (Gustira, 2014).
Ventilasi. Ventilasi kandang sangat penting untuk mendukung
proses produksi ayam broiler. Ventilasi merupakan proses untuk
mengalirkan udara segar dari lingkungan menuju ruangan dalam
intensitas yang sesuai kebutuhan dan membuang udara berlebih dan

10
udara kotor dari ruangan. Ventilasi digunakan untuk mengendalikan aliran
udara agar iklim mikro di dalam ruangan dapat optimal. Ventilasi berfungsi
untuk membuang panas, untuk membuang uap air yang berlebih, untuk
mengurangi debu dan bau, untuk mencegah terbentuknya gas berbahaya
seperti amonia dan karbon dioksida, serta untuk memberikan oksigen
yang cukup untuk respirasi. Ventilasi selama cuaca panas berperan untuk
membuang kelebihan panas yang terdapat di dalam kandang, sedangkan
selama cuaca dingin ventilasi berperan untuk membuang kelebihan uap
air dari dalam kandang dan tetap mempertahankan panas yang diproduksi
oleh yam maupun pemanas brooder (Rasyaf, 2004).
Pakan. Bahan pakan menurut Utomo (2014) adalah segala sesuatu
yang dapat dimakan hewan atau ternak, dapat dicerna sebagian atau
seluruhnya agar dapat diabsorbsi sebagai zat makanan (gizi atau nutrisi)
untuk fungsi hidupnya, bermanfaat bagi pemakannya, dan tidak beracun
sehingga tidak mengganggu kesehatan pemakannya atau bahkan
menyebabkan kematian bagi pemakannya. Pakan bedasarkan komponen
penyusunannya maka pakan ternak dibagi atas air dan bahan kering.
Bahan kering dibagi atas bahan organik dan bahan anorganik atau abu
mineral. Bahan organik terdiri dari karbohidrat, lipida, protein, asam
nukleat, asam organik dan vitamin (Kamal,1999).
Ransum merupakan salah satu komponen penting dalam industri
perunggasan. Melonjaknya harga ransum beberapa tahun belakangan ini
setelah terjadi krisis ekonomi di Indonesia sejak 2008, telah membuat
industri perunggasan mengalami degradasi. Bahan ransum unggas yang
harus diimpor merupakan penyebab terpuruknya usaha perunggasan,
karena kita tahu biaya ransum ini mencapai 70 sampai 80% dari total
biaya pemeliharaan. Ransum jadi adalah ransum yang siap diberikan
pada ayam, dimana kandungan nutrisinya sudah disusun secara lengkap
sesuai dengan kebutuhan ayam. Konsentrat adalah ransum padat nutrisi
(nutrisi tinggi) buatan pabrik, dimana dalam pemberiannya ke ayam harus
dicampur terlebih dahulu dengan jagung giling dan bekatul.

11
Perbandingannya adalah 50 sampai 55% jagung, 30 sampai 35%
konsentrat dan 15 sampai 20% bekatul. Harga konsentrat per kg-nya
biasanya lebih rendah dibanding dengan harga ransum jadi per kg,
sehingga seringkali peternak ayam petelur menggunakan konsentrat ini
sebagai campuran untuk menghemat biaya. Selanjutnya yang dimaksud
dengan self mixing artinya peternak benar-benar mencampur sendiri
berbagai macam bahan baku ransum menjadi ransum jadi (Info Medion,
2014).
Pakan untuk ayam tersedia dalam berbagai macam bentuk, yakni
tepung halus (mash), tepung kasar atau crumble, dan pellet. Pakan
berbentuk tepung halus atau mash digunakan untuk fase starter, tepung
kasar atau crumble untuk fase grower, selanjutnya bentuk pakan pellet
untuk ayam finisher. Menurut Rasyaf (2004), beberapa bentuk ransum
ayam terdiri dari tepung halus atau mash, tepung kasar atau crumble,
serta pellet. Ransum bentuk butiran atau pellet merupakan perkembangan
dari bentuk tepung komplit. Ransum bentuk pellet ini juga ransum bentuk
tepung komplit yang kemudian diproses kembali dengan prinsip
pemberian uap dengan panas tertentu sehingga ransum ini menjadi lunak
kemudian dicetak berbentuk butiran dan pellet. Bentuk fisik ransum yang
berbeda menjadikan adanya pilihan untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan ransum.
Bentuk ransum tepung atau mash lebih mudah dicerna dan lebih
murah harganya karena tidak membutuhkan alat khusus lagi tetapi jika
dipakai lebih dominan atau lebih lama dibandingkan dengan bentuk
crumble atau pellet maka bisa menyebabkan nilai konversi ransumnya
semakin naik. Kekurangan bentuk pakan mash adalah mudah tercecer
karena terjadinya segregasi. Segregasi ini akan menyebabkan ransum
yang dikonsumsi menjadi tidak seimbang. Kekurangan lainnya adalah
ransum banyak yang melekat di paruh ayam. Akibatnya, tempat minum
menjadi kotor dan ransum banyak yang terbuang, sehingga nilai FCR
menjadi lebih besar dibandingkan dengan bentuk lainnya, serta kurang

12
diminati oleh ayam broiler atau pedaging (Fadilah, 2004). Pakan bentuk
crumble diperoleh dari proses penggilingan atau pemecahan pellet
menjadi partikel berbentuk granular. Menurut Agustina dan Purwanti
(2009), pakan bentuk crumble ukurannya lebih kecil, disukai oleh ternak
dan tidak mempunyai kesempatan memilih. Ayam biasanya lebih baik
pertumbuhannya dibanding dengan ayam yang memperoleh ransum
bentuk mash. Pellet merupakan bentuk pakan yang diperoleh dari proses
mengkompresikan ransum berbentuk tepung dengan bantuan uap panas
atau stem untuk menhasilkan ransum yang silinders. Pelleting
memberikan keuntungan: ransum tidak berdebu, kandungan zat nutrisi
dalam setiap pellet tersebut seragam dan homogen, akan mengurangi
sisaa ransum yang terbuaang, membatasi sifat memilih dari ternak,
sehingga akan meningkatkan perfomans ternak yang bersangkutan
(Amrullah, 2004).

13
PEMBAHASAN
Kegiatan praktikum pemeliharaan ayam broiler dilaksanakan pada
tanggal 28 Februari 2015 hingga 30 Maret 2015 di kandang Laboratorium
Ilmu Ternak Unggas, Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kandang ayam yang digunakan
kelompok 2 adalah berupa kandang postal dengan alas yang terbuat
semen yang dilapisi dengan serutan gergaji yang sering disebut dengan
kandang litter. Rangkaian kegiatan yang dilakukan selama praktikum
terdiri atas fase persiapan dan pemeliharaan. Fase persiapan meliputi
sanitasi kandang dan lingkungan, penaburan bahan alas litter dan
penyiapan brooder. Pemeliharaan meliputi pemasukan DOC, pemberian
vaksin, penimbangan dan panen.
Sanitasi kandang dan lingkungan dilakukan dengan membersihkan
kandang dan lingkungan sekitar kandang. Kandang disemprot dengan
desinfektan berupa formalin, dalam praktikum kali ini diberi
paraformaldehid untuk fungigasi sekitar 10 menit. Lantai kandang ditaburi
kapur atau gamping. Tempat pakan dan minum dibersihkan dan dibilas
dengan larutan Rodalon dengan perbandinagn 10 liter air dengan 5 ml
Rodalon. Pembuatan brooder merupakan tahap awal persiapan sebelum
chick in agar keadaan lingkungan dapat sesuai dengan kebutuhan DOC.
Kegiatan yang dilakukan adalah pemasangan lampu pada setiap
kandang, menutup seluruh bagian kandang menggunakan koran dan
karung, penyemprotan desinfektan Rodalon. Lampu bohlam diyalakan 2
jam sebelum chik in. Pemasukan DOC (chick in) meliputi pemberian tanda
identifikasi dan penimbangan DOC sebelum dimasukkan ke dalam
kandang. Pemberian air minum berupa air gula untuk DOC, sebagai
pengganti sumber energi yang hilang saat perjalanan.
Vaksinasi yang dilakukan meliputi vaksinasi ND1, vaksinasi
Gumboro, dan vaksinasi ND2. Vaksinasi ND 1 dilakukan pada hari ke-3
dengan metode tetes mata. Kegiatan yang dilakukan adalah menyiapkan
vaksin ND 1. Dicampurkan dengan vitastress pada air minum pada pagi

14
hari (sebelum divaksin) dan sore hari (setelah divaksin) supaya ayam
tidak stres karena dilakukan vaksinasi. Vaksinasi dilakukan dengen tetes
mata sebanyak 1 kali tetes pada setiap DOC. Vaksinasi Gumboro
dilakukan pada hari ke-10 dengan mencampurkan vaksin pada air minum.
Kegiatan praktikum meliputi pemuasaan air minum selama 2 jam sebelum
vaksinasi, agar ketika diberi vaksin DOC dapat minum air minum yang
berisi vaksin dengan banyak. Vaksin Gumboro dicampurkan pada air
minum. Vaksinasi ND 2 dilakukan pada hari ke-17 dengan melakukan
injeksi vaksin ND 2 ke bagian subkutan atau intra muskular pada ayam.
Pembuatan kandang dilakukan dengan menaburkan alas dengan litter
serbuk gergaji. Serbuk gergaji dapat digunakan sebagai alas litter jika
bebas dari kontaminan dan dikelola dengan baik. Keuntungan lain serbuk
gergaji adalah ketersediaannya. Pemeliharaan dilakukan dengan
pembersihan secara tuntas terhadap kandang dan peralatan yang akan
dipakai didalamnya, baik tempat makanan, tempat minuman, brooder, alat
pelingkan dan lain-lain. Terutama pada kandang lama yang sudah dipakai,
sisa-sisa dari ternak yang lama, baik kotoran, bahan-bahan yang tercecer
harus dibersihkan secara tuntas sehingga tidak ada yang tertinggal, sebab
setiap butir sisa dari kawanan ayam yang lama akan ada kemungkinan
akan menularkan sesuatu penyakit kepada kawanan berikutnya.
Pembersih dilakukan dengan air dan bahan pencuci (sabun atau
detergen). Pemberian pakan yang dilakukan selama pemeliharaan
didasarkan ketentuan yang diberikan oleh PT Japfa comfeed (2008) yang
tertera pada tabel 2.1.

15
Tabel 2.1. Karakter Produksi Strain New Lohman (MB 202)

Penimbangan dilakukan setiap seminggu sekali. Kegiatan yang


dilakukan pada saat penimbangan adalah menimbang bobot ayam dan
menghitung feed intake (FI), feed consumption ratio (FCR) dan average
day gain (ADG). Pemanenan dilakukan dengan menimbang bobot ayam
dan menghitung FI, FCR, ADG, serta IP pada masing-masing ayam.
Penampilan Produksi
Perlakuan yang diberikan pada saat praktikum adalah pada
perbedaan kandang. Kandang yang digunakan yaitu kandang litter yakni
kelompok 2 dan wire yakni kelompok 10 yang menggunakan alas serbuk
gergaji dan sekam. Pemeliharaan ayam menggunakan kandang litter
dibandingkan dengan yang menggunakan kandang wire memiliki
pengaruh terhadap pertambahan berat badan. Ayam broiler yang
dipelihara pada litter yang dibandingkan dengan yang dipelihara
pada wire memiliki feed intake yang berbeda.

16
Feed intake. Berdasarkan tabel feed intake ayam broiler yang
dipelihara menggunakan kandang litter dan menggunakan kandang wire
diketahui rata-rata feed intake pada kandang litter lebih tinggi dari pada
wire. Feed intake untuk kandang litter dan wire konsumsi jumlah pakannya
sama untuk minggu pertama 104 gram, minggu kedua 276 gram, serta
minggu keempat 830 gram, namun pada minggu ke tiga berbeda yakni
597 untuk litter dan 571 untuk wire. Hasil penelitian Anita et al. (2012),
konsumsi normal ayam broiler adalah 53,88 sampai 55,68 gram per ekor
per hari. Utami (2012) juga menambahkan bahwa konsumsi pakan ayam
broiler yang dipelihara pada kandang litter berkisar antara 1581,30 sampai
1602,18 gram per ekor per 35 hari. Berdasarkan penelitian Budiansyah
(2010), konsumsi pakan ayam broiler strain Lohmann MB-202 perharinya
berkisar antara 59,71 sampai 65,02 gram per ekor. Apabila di bandingkan
dengan literatur, feed intake hasil praktikum berada pada kisaran normal.
Tabel 2.2. Feed Intake Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Jenis Feed in take Rata-rata


Kandan
I II III IV
g
Wire 104 276 597 830 451.75
Litter 104 276 571 830 445.25

17
Grafik 1. Feed Intake Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Menurut Sholikin (2011), ayam mengkonsumsi ransum untuk


memenuhi kebutuhan energinya, sebelum kebutuhan energinya terpenuhi
ayam akan terus makan. Jika ayam diberi makan dengan kandungan
energi rendah maka ayam akan makan lebih banyak. Kandungan energi
pakan tinggi, maka semakin rendah ayam mengkonsumsi pakan. Ayam
Broiler untuk keperluan hidupnya memerlukan zat makanan seperti
karbohidrat, lemak, mineral, protein, vitamin dan air. Ayam yang dipelihara
juga diberi minum setiap hari pada pagi dan sore hari. Air mempunyai
fungsi sebagai zat dasar dari darah, cairan interseluler dan intraseluler
yang bekerja aktif dalam transformasi zat-zat makanan, penting dalam
mengatur suhu tubuh karena air mempunyai sifat menguap dan specific
heat, membantu mempertahankan homeostatis dengan ikut dalam reaksi
dan perubahan fisiologis yang mengontrol pH, tekanan osmostis,
konsentrasi elektrolit.

18
Feed intake ayam pada kandang wire lebih tinggi daripada ayam
pada kandang litter. Kandang litter yang menggunakan sekam di tanah
lebih panas karena feses yang tertampung pada litter mengalami proses
fermentasi yang dapat menghasilkan gas metan dan amonia. Panas yang
dihasilkan dari fermentasi litter dapat meningkatkan suhu udara kandang
yang akan mengakibatkan bertambahnya beban panas ayam yang
menghuni. Suhu udara kandang yang panas akan mengakibatkan
konsumsi pakan turun. Ketika suhu udara kandang panas, maka ayam
akan relatif meningkatkan konsumsi minum dan mengurangi konsumsi
pakan. Ayam mengkonsumsi pakan akan menghasilkan energi yang
berupa panas. Kandang wire keadaannya lebih nyaman dibandingkan
kandang litter ditanah, karena alas kandang wire tidak bergesekan dengan
tanah. Kandang dengan lantai wire, aliran udaranya lebih lancar karena
angin dapat masuk dari sela-sela bilah kawat.
Menurut Puspani et al. (2008), konsumsi ayam pada kandang wire
lebih tinggi daripada kandang litter. Hal ini disebabkan oleh ada kandang
wire ayam lebih merasa nyaman dengan sirkulasi udara yang lancar,
sedangkan pada kandang litter sirkulasi udara kurang lancar sehingga
ayam merasa kepanasan dan meningkatkan konsumsi minum. Alas
kandang yang mampu meredam panas dan mengurangi kandungan
amonia dari ekskreta maka tingkat konsumsi pakan ayam akan meningkat
dan terjadi pengurangan konsumsi air minum (Ibrahim dan Allaily, 2012).
Kadar amonia yang tinggi pada kandang dapat menurunkan feed intake.
Jenis litter yang digunakan juga mempengaruhi konsumsi pakan, misalnya
sekam dan serbuk gergaji. Sekam padi banyak digunakan sebagai litter
karena memiliki sifat menyerap yang baik dan tidak mudah menggumpal
(Muharlien et al., 2011). Hasil praktikum sesuai dengan literatur.
Konsumsi pakan ayam tergantung dari beberapa faktor yaitu besar
tubuh ayam (jenis galur), keaktifan badannya sehari-hari, suhu atau
temperatur di dalam dan disekitar kandang, kualitas dan kuantitas pakan
yang diberikan pada ayam pedaging, dan cara pengelolaan yang

19
dipraktekkan sehari-hari untuk memelihara ayam pedaging atau broiler itu
sendiri (Sholikin, 2011). Konsumsi pakan yang meningkat sudah
sewajarnya karena kebutuhan energi sebanding dengan bobot badan dan
umur ayam. Sholikin (2011) juga menambahkan bahwa faktor genetik dan
kandungan nutrien pakan mempengaruhi konsumsi pakan, selain itu
konsumsi pakan dapat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya pakan
yang disajikan tidak dalam keadaan rusak dan seuai kemauan ayam.
Kebutuhan energinya tinggi dan juga karena ayam dalam kondisi sehat,
selain itu juga dimungkinkan ada saat-saat tertentu temperatur lingkungan
dalam keadaan optimal (misal pada malam hari dengan tambahan
penerangan) sehingga ayam akan lebih banyak makan.
Gain. Berdasarkan grafik gain ayam broiler yang dipelihara
menggunakan litter dan menggunakan wire, diketahui rata-rata gain
semua kelompok mengalami peningkatan setiap minggunya. Gain pada
ayam yang dipelihara dikandang wire berturut-turut setiap minggunya
yaitu 125 gram, 242 gram, 446 gram dan 587 gram. Gain pada ayam yang
dipelihara pada kandang litter berturut-turut setiap minggunya yaitu 118
gram, 262 gram, 455 gram, dan 580 gram. Gain tertinggi ada pada
kelompok ayam wire, namun tidak berbeda jauh dengan ayam yang
dipelihara di kandang litter. Berdasarkan hasil penelitian Anita (2012),
pertambahan berat badan ayam broiler yang ideal adalah 26,75 sampai
28,41 gram per ekor per hari. Tantalo (2009), menyatakan pertambahan
berat badan strain ayam broiler lohmaan MB-202 adalah berkisar antara
46,30 gram per ekor per hari atau berkisar 155,12 gram per minggu.
Apabila dibandingkan dengan literatur yang ada, pertambahan berat
badan ayam hasil praktikum berada dalam kisaran normal. Menurut Abidin
(2002), faktor yang mempengaruhi terhadap pertambahan berat badan
ayam adalah konsumsi pakan dan kandungan nutrien dalam pakan
tersebut.
Tabel 2.3. Gain Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Jenis Gain Rata-rata

20
Kandang I II III IV
Wire 125 242 446 587 350
Litter 118 262 455 580 353.75

Grafik 2. Gain Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Menurut Gary et al. (2009), untuk mendapatkan produksi yang baik


perlu diadakan kontrol dengan penimbangan yang teratur setiap
minggunya. Jumlah pakan dapat ditambah dengan persentase
kekurangan berat badan dari standar, apabila berat ayam belum
memenuhi standar, akan tetapi apabila bobot badan ayam telah melebihi
standar, maka jumlah pakanyang diberikan tetap sama dengan jumlah
pakan yang diberikan sebelumnya. Menurut Sholikin (2011), untuk
mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada
waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan
energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi
konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi yang lebih
banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan
yang lebih banyak. Tahapan pertumbuhan hewan akan membentuk kurva
sigmoid. Awal pertumbuhan lambat, kemudian berkembang lebih cepat
dan akhirnya perlahan lagi menjelang dewasa tubuh. Kecepatan
pertumbuhan pada ayam mempunyai variasi yang cukup besar tergantung

21
pada tipe ayam, strain, jenis kelamin dan makanan. Faktor lingkungan
juga mempengaruhi kececepatan pertumbuhan ayam, seperti suhu dan
perlindungan terhadap penyakit (Abidin, 2002).
Feed Convertion Ratio (FCR). Berdasarkan grafik FCR ayam
dipelihara menggunakan litter dan kandang wire, diketahui rata-rata FCR
paling rendah pada kandang wire yaitu pada minggu pertama yakni 0.84,
pada minggu kedua 1.3, pada minggu ketiga 1.28, serta pada minggu
keempat 1.41. FCR pada kandang litter untuk minggu pertama 0.83,
minggu kedua 1.05, minggu ketiga 1.31, serta minggu keempat 1.44.
Menurut Utami (2012), konversi pakan ayam broiler berkisar antara 1,41
sampai 1,45. Tantalo (2009) juga menambahkan konversi pakan rata-rata
ayam broiler strain Lohmann MB 202 berkisar 1,46. Hasil penelitian
Anita (2012), konversi pakan ayam broiler strain Lohmann berkisar antara
1,95 sampai 2,01. Sedangkan hasil penelitian Budiansyah (2010),
konversi pakan ayam broiler strain Lohmann berkisar antara 1,23 sampai
1,41. Apabila dibandingkan dengan literatur yang ada, FCR ayam broiler
hasil praktikum berada dalam kisaran normal.

22
Tabel 2.4. FCR Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Jenis FCR Rata-rata


Kandang I II III IV
Wire 0.84 1.30 1.28 1.41 1.21
Litter 0.83 1.05 1.31 1.44 1.16

Grafik 3. FCR Ayam pada Berbagai Jenis Kandang

Menurut Abidin (2002), konversi pakan atau Feed Conversion Ratio


(FCR) adalah perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan berat
hidup sampai ayam itu dijual, sehingga semakin kecil angka konversi
pakan menunujukkan semakin baik efisiensi penggunaan pakan. kenaikan
berat badan dikatakan memuaskan atau ayam makan tidak terlalu banyak
untuk meningkatkan berat badannya apabila angka perbandingan kecil.
Menurut Sholikin (2011), konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu genetik, bentuk pakan, temperatur, lingkungan, konsumsi pakan,
berat badan, dan jenis kelamin. Negoro et al. (2013) menyatakan bahwa
angkan koversi pakan yang rendah berarti bahwa pakan yang digunakan
efektif dan efisien, karena pakan yang dikonsumsi digunakan untuk
pembentukan jaringan tubuh ayam. Faktor yang mempengaruhi konversi
pakan antara lain adalah metabolis dan zat-zat yang terkandung di dalam
pakan. Lacy dab Vest (2000) menambahkan bahwa faktor utama yang

23
mempengaruhi konversi pakan adalah genetik, ventilasi, sanitasi, kualitas
pakan, jenis pakan, penggunaan zat aditif, kualitas air, penyakit dan
pengobatan serta manajemen pemeliharaan, selain itu meliputi faktor
penerangan, pemberian pakan, dan faktor sosial.

Vaksinasi
Setiap pemeliharaan ternak tidak terlepas dari vaksinasi, terutama
dalam pemeliharaan ayam pedaging atau broiler. Vaksinasi bagi daya
tahan tubuh sangat diperlukan, selain berfungsi untuk membuat kekebalan
terhadap penyakit juga dapat memacu pertumbuhan. Jenis ayam broiler
yang divaksin dengan yang tidak divaksin menunjukkan perbedaan seperti
besar tubuh antara yang divaksin dengan yang tidak divaksin, jumlah
ayam yang terhindar dari kematian, jumlah makanan yang dihabiskan dan
keuntungan yang dicapai.
Pengertian vaksin adalah bibit penyakit yang dilemahkan. Vaksinasi
berdasarkan praktikum yang telah dilakukan adalah memperkenalkan anti
gen asing yang dimasukkan ke dalam tubuh ayam broiler yang dikenali
sebagai bakteri patogen untuk merangsang sistem imun dan menstimulus
antibodi ayam, sehingga saat terdapat bibit penyakit yang masuk ke
dalam tubuh ayam, dapat direspon karena sudah distimulasikan
sebelumnya.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui
bahwa vaksin ND I dan ND II (New Castle Disease) diberikan kepada
ayam broiler untuk mencegah penyakit NCD (New Castle Disease) atau
penyakit tetelo. Gejala awal dari penyakit Newcastle Disease adalah
konsumsi pakan menurun, ekskreta berwarna keputihan, ayam kejang,
pucat, otot bergetar, dan dapat menyebabkan lumpuh. Penyebaran
penyakit Newcastle Disease dapat terjadi melalui sesama ayam, seperti
melalui pakan dan minum, atau ekskreta, dapat juga menyebar melalui
manusia. Penyakit Newcastle Disease dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu
tipe kuat, sedang, dan ringan. Newcastle Disease tipe kuat dapat

24
menyebabkan 100% ayam umur 1 hari sampai 1 minggu mati. Newcastle
Disease tipe sedang dapat menyebabkan 10% dari populasi ayam mati.
Newcastle Disease tipe ringan memiliki gejala yang tidak tampak, hanya
konsumsi pakan yang menurun.
Vaksin Gumboro diberikan kepada ayam broiler untuk mencegah
penyakit gumboro atau disebut dengan penyakit IDB (Infection Bursal
Desease). Penyakit ini disebabkan oleh virus gumboro. Gejala yang
terlihat adalah ayam lesu, mengantuk, kloaka berdarah, ekskreta
berwarna keputihan dan menempel pada kloaka, dan kloaka dipatukin
oleh ayam lain. Penularan penyakit gumboro dapat melalui ekskreta
sesama ayam atau dapat melalui manusia. Penyakit gumboro memiliki
dua tipe, yaitu tipe A (Gumboro Subklinis) dan tipe B (Gumboro Klinis).
Gumboro tipe A (Gumboro Subklinis) menyerang ayam pada umur 1
sampai 12 hari dan gejala tidak terlihat, sedangkan gumboro tipe B
(Gumboro Klinis) menyerang ayam pada umur 3 sampai 7 minggu.
Penyakit gumboro dapat menyebabkan sistem imun dari ayam melemah
diakibatkan virus gumboro menyerang sel Limfosit B yang masih belum
matang menjadi rusak, sehingga ayam mudah terkena penyakit lain
bahkan penyakit yang mematikan.
Menurut Fadilah dan Agustin (2004), vaksin merupakan
mikroorganisme bibit penyakit yang telah dilemahkan virulensinya atau
dimatikan, dan bila diberikan pada ternak tidak menimbulkan penyakit
melainkan dapat merangsang pembentukan zat kebal yang sesuai dengan
jenis vaksinnya. Vaksinasi merupakan tindakan memasukkan antigen
berupa virus atau agen penyakit yang telah dilemahkan ke dalam tubuh
sehat dengan maksud merangsang pembentukan kekebalan. Vaksin
memiliki tiga tipe, yaitu vaksin virus hidup, vaksin yang dilemahkan, dan
vaksin yang dimatikan. Vaksin virus hidup (Live Virus Vaccine) yaitu virus
dalam vaksin masih hidup dan memiliki kemampuan yang lengkap untuk
menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit sehingga bisa
menangkal penyakit yang menyerang tubuh ayam. Vaksin yang

25
dilemahkan (Attenuated Vaccine) yaitu vaksin yang dibuat dengan cara
melemahkan organisme aktif sehingga ketika digunakan kepada ayam
akan menghasilkan kekebalan tubuh untuk melawan suatu penyakit dalam
bentuk yang lebih ringan. Vaksin yang dimatikan (Killed Vaccine) yaitu
organisme yang digunakan untuk menghasilkan vaksin telah dimatikan
dan tidak memiliki kemampuan untuk menularkan penyakit pada ayam,
namun memiliki kemampuan untuk memproduksi antibodi ketika vaksin
digunakan.
Mekanisme kerja vaksin adalah vaksin atau bibit penyakit yang
telah dilemahkan (anti gen asing) diperkenalkan kepada ayam broiler
dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh ayam broiler yang dikenali
sebagai bakteri patogen untuk merangsang sistem imun dan menstimulus
antibodi ayam, sehingga ketika terdapat bibit penyakit yang masuk ke
dalam tubuh ayam, dapat direspon karena sudah distimulasikan
sebelumnya. Menurut Setiawan et al. (2012), mekanisme kerja vaksin
adalah mempengaruhi respon imun (kebal) yaitu sel-sel memori yang
bersifat melindungi dan telah terbentuk pada waktu sebelumnya. Antibodi
akan terbentuk setelah dilakukan vaksinasi yang dapat melawan suatu
penyakit. Antibodi akan terbentuk apabila sel penghasil antibodi yaitu sel
limposit (sel-B) telah berfungsi dengan baik. Antibodi yang spesifik akan
terbentuk apabila terdapat rangsangan antigen spesifik (penginfeksi) yang
masuk kedalam tubuh ternak yang berfungsi merangsang makrofage
untuk memfagosit (memakan) patogen tersebut.

26
Grafik 4. Titer Antibodi

Anak ayam yang baru menetas, secara normal telah dibekali


sejumlah antibodi, dinamakan antibodi maternal yang berasal dari induk
ayam yang sebelumnya telah divaksinasi. Antibodi maternal yang dimiliki
oleh anak ayam tidak akan bertahan dalam jangka waktu yang lama
hanya sekitar 6 sampai 7 hari, karena tantangan bibit penyakit yang
terdapat di sekitar tempat hidup ayam relatif tinggi. Anak ayam harus
ditreatment dengan vaksinasi secara periodik agar titer antibodi tetap
berada pada titer yang protektif. Pembentukan titer antibodi pada saat
vaksinasi pertama tidaklah secepat dan setinggi vaksinasi ulang yakni ke-
2, ke-3, dan seterusnya. Saat vaksinasi pertama di dalam tubuh ayam
belum terbentuk sel memori, akibatnya respon pembentukan antibodinya
membutuhkan waktu yang relatif lama dibandingkan vaksinasi ulang,
dimana saat vaksinasi ulang telah terbentuk sel memori. Kondisi titer
antibodi tersebut tidak akan selamanya protektif. Setelah beberapa
periode waktu, titer antibodi di dalam tubuh ayam akan menurun dan
kecepatan penurunan titer antibodi ini dipengaruhi oleh tantangan bibit
penyakit maupun kondisi ternaknya.
Penyakit Newcastle Disease mulai menyerang ayam pada hari ke 6
sampai 7, sedangkan pada saat itu antibodi maternal akan habis. Vaksin
ND1 mulai diberikan pada hari ke 3, sehingga pada hari ke 6 sampai 7
antibodi ayam dapat terbentuk kembali. Hal ini karena vaksin ND1 mulai

27
bekerja (aktif) pada hari ke 6 sampai 7. Antibodi maternal yang mulai
habis akan dapat digantikan dengan antibodi yang dirangsang di
pemberian vaksin ND1. Gumboro tipe A (Gumboro Subklinis) menyerang
ayam pada umur 1 sampai 12 hari dan gejala tidak terlihat, sedangkan
gumboro tipe B (Gumboro Klinis) menyerang ayam pada umur 3 sampai 7
minggu, sehingga vaksin Gumboro diberikan pada hari ke 10. Vaksin
Gumboro mulai bekerja pada hari ke 2 sampai 3 setelah pemberian. Hal
ini diharapkan agar pada saat penyakit Gumboro mulai menyerang, dalam
tubuh ayam telah terbentuk antibodi. Antibodi ND1 hanya bekerja 6
sampai 7 hari, sehingga ayam harus diberi vaksin ND2 agar dalam tubuh
ayam tetap terbentuk antibodi terhadap penyakit Newcastle Disease. Cara
kerja vaksin ND2 sama dengan vaksin ND1, vaksin ND2 aktif 2 sampai 3
hari setelah pemberian.
Agar pembentukan titer antibodi bisa mencapai optimal maka
pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan secara tepat, minimal untuk 3
ketentuan yaitu right vaccine, right time and right way (tepat vaksin, tepat
waktu dan tepat aplikasi atau cara pemberian). Antibodi maternal menurun
menjadi sekitar nol (basal) setelah beberapa minggu (Cardoso et al.,
2005). Menurut Suryani (2015), respon kekebalan terhadap Newcastle
Disease pada ayam petelur periode bertelur setelah vaksinasi
menunjukan tingkat titer antibodi terhadap Newcastle Disease (ND).
Faktor-faktor yang harus diperhatikan ketika melaksanakan
vaksinasi antara lain kondisi ayam, seperti ayam harus sehat,
diperlakukan secara hati-hati agar terhindar dari stres fisik berlebihan, dan
pelaksanaan vaksinasi harus sesuai dengan rekomendasi. Jadwal
vaksinasi, seperti mengetahui waktu penyakit biasa menyerang, jenis
vaksin yang digunakan, umur ayam yang akan divaksin, dan tanggal
rencana pelaksanaan vaksin. Laporan kegiatan vaksinasi, seperti tanggal
pelakasanan vaksinasi harus dicatat, nama perusahaan dan nomor seri
vaksin, dan nama pelaksana vaksinasi. Faktor lain yaitu menghindari
faktor yang bisa mematikan vaksin, seperti sinar matahari langsung,

28
panas dari bara rokok, desinfektan, serta penyimpanan yang tidak sesuai
rekomendasi. Perlakuan pascavaksin, seperti memberikan vitamin selama
3 sampai 5 hari dan memusnahkan bekas vaksin (Fadilah dan Agustin,
2004).
Menurut Attikasari (2009), Infectious Bursal Disease (IDB) lebih
dikenal dengan istilah penyakit Gumboro. Penyakit ini sangat akut dan
pernah menjadi momok seluruh peternakan ayam karena tingkat kematian
bisa mencapai 30%. Penyakit Gumboro disebabkan oleh vorus dari genus
Bimavirus, famili Bimaviridae. Jaringan limfoid merupakan target utama
virus IDB dengan organ target utama bursa Fabricius yang bertanggung
jawab dalam pembentukan antibodi pembentuk kekebalan. Virus IDB juga
menyerang organ limpa. Gejala penyakit Gumboro diantaranya ayam lesu
dan mengantuk, bulu kusam dan bulu disekitar kloaka kotor, ekskreta
encer berlendir dan berwarna keputih-putihan seperti pasta, kloaka sering
dipatukin ayam lain, tubuh ayam menjadi kering karena kekurangan
cairan, serta apabila tidur paruhnya diletakkan di lantai. Tindakan paling
tepat dalam pengendalian penyakit IDB adalah melakukan vaksinasi lebih
awal dan kontinyu tergantung dengan titer antibodi yang ada dalam tubuh.
Menurut Wibowo et al. (2013), penyakit Newcastle Disease(ND)
atau penyakit tetelo merupakan penyakit unggas khususnya ayam yang
bersifat sangan menular dan akut serat menimbulkan gejala gangguan
pencernaan, pernafasan dan syaraf. Penyakit ini disebabkan oleh avian
paramyxovirus tipe I (APMV-I), dari genus Avulavirus, dan termasuk
keluarga Paramyxoviridae. Menurut Kencana et al. (2012), pada ayam
keganasan virus ND tergantung pada virulensi dan predileksi galur virus.
Berdasarkan atas virulensinya, virus ND dikelompokkan menjadi tiga
patotipe yaitu velogenik (sangat ganas), mesogenik (sedang) dam
lentogenik (rendah). Berdasarkan atas organ predileksinya, virus ND
velogenik dibedakan menjadi bentuk neutropik yang ditandai dengan
gejala gangguan syaraf, pneumotropik yang ditandai dengan kelainan
pada sistem pernafasan, dan bentuk viscerotropik yang ditandai dengan

29
gangguan pada sistema pencernaan. Tanda-tanda yang sering ditemukan
pada penyakit ND diantaranya pendarahan pada proventrikulus,
ventrikulus, dan nekrosis pada usus. Beberapa tanda juga ditemukan
pada organ saluran pernafasan seperti pendarahan pada trakhea, paru-
paru bahkan juga pada otak. Wibowo et al. (2013) juga menambahkan
obat yang efektif untuk mengatasi infeksi virus ND belum ada. Tindakan
utama yang dapat dikerjakan adalah mencegah munculnya penyakit
tersebut dengan melakukan vaksinasi dan didukung dengan perbaikan
tatalaksana pemeliharaan ayam.

30
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Feed intake ayam broiler yang dipelihara menggunakan kandang
litter dan menggunakan kandang wire diketahui rata-rata feed intake pada
kandang litter lebih tinggi dari pada wire. Feed intake hasil praktikum
berada pada kisaran normal. Gain ayam broiler yang dipelihara
menggunakan litter dan menggunakan wire, diketahui rata-rata gain
semua kelompok mengalami peningkatan setiap minggunya.
Pertambahan berat badan ayam hasil praktikum berada dalam kisaran
normal. FCR ayam dipelihara menggunakan litter dan kandang wire,
diketahui rata-rata FCR paling rendah pada kandang wire. FCR ayam
broiler hasil praktikum berada dalam kisaran normal. Vaksinasi dilakukan
selama pemeliharaan ayam broiler, yakni vaksinasi ND I (New Castle
Disease) melalui tetes mata, vaksinasi Gumboro diberikan melalui air
minum ayam broiler, serta vaksinasi ND II (New Castle Disease) dilakukan
dengan penyuntikan atau injeksi.

Saran
Pelaksanaan praktikum industri ternak unggas acara pemeliharaan
ayam Broiler sebaiknya dilaksanakan tepat waktu. Pembagian tugas untuk
kegiatan praktikum sebaiknya lebih diperhatikan, karena banyak praktikan
yang tidak bertugas dan hanya duduk-duduk tidak jelas. Sebaiknya
praktikum dilaksanakan dengan santai namun juga harus tertib dan
teratur. Kegiatan dalam praktikum industri ternak unggas acara
pemeliharaan ayam Broiler sebaiknya lebih terorganisir.

31
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2002. Meningkatkan produktivitas ayam ras pedaging. Jakarta.


Agromedia.
Agromedia, R. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Agustina, L dan S. Purwanti. 2009. Ilmu Nutrisi Unggas. Lembaga
Sumberdaya Peternakan. Makasar.
Alchalabi, Dhia. 2001. Memantau Lingkungan Kandang Unggas. Tripod :
Membangun Unggas Indonesia, Jakarta.
http://siauwlielie.tripod.com. Diakses tanggal 20 April 2015.
Amrullah, I.K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi
KPP IPB. Baranangsiang Bogor.
Andisuro, R. 2011. Ayam Broiler. Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.
Anita, W. Y., I. Astuti, dan Suharto. 2012. Pengaruh Pemberian Tepung
Daun Teh Tua dalam Ransum terhadap Performan dan
Persentase Lemak Abdominal Ayam Broiler. Tropical Animal
Husbandry Vol. 1 (1), Oktober 2012:1-6, ISSN 2301-9921.
Anonim. 2013. Final stock, parent stock dan grand parent stock.
http://www.central-unggas.com. Diakses 25 Mei 2015..
Attikasari, D. P. 2009. Gambaran Respon Vaksinasi IDB Menggunakan
Vakasin IDB inaktif pada Ayam Pedaging Komersial. Skripsi.
Fakultas Kedukteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Budiansyah, Agus. 2010. Performan Ayam Broiler yang Diberi Ransum
yang Mengandung Bungkil Kelapa yang Difermentasi Ragi Tape
Sebagai Pengganti Sebagian Ransum Komersial. Jurnal Ilmiah
Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. XIII, No. 5. Universitas Jambi. Jambi.
Cardoso, W.M., A. Filho J.L.C., Romao J.M., Oliveira W.F., Salles R.P.R.,
Teixeira R.S.C., and Sobral M.H.R. 2005. Effect of associated
vaccines on the interference between Newcastle Disease virus
and infectious bronchitis virus in broilers. Rev. Bras. Cienc. Avic.
vol.7 no.3. Brazil.
Casey, K. D., J. R. Bicudo, D. R Schimidt, A. Singh, S. W. Gay, R. S.
Gates, L. D. Jacobson, & S. J Haff. 2006. Air quality and emission
from livestock andpoultry production waste management system in
animal agriculture and the environment. National Centre for
Manure and Animal Waste ManagementWhite Paper.
Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras
Petelur. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.

32
Fadilah, Roni. dan Agustin, P. 2004. Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara
Mengatasinya. PT. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Fadilah,R. 2004. Ayam Broiler Komersil. Cetakan ke-2. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Fadli, Illahi. 2013. Evaluasi Pemenuhan Standar Pencahayaan Alami
Ruang Kelas. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Gary D, Butcher DVM, dan Richard Miles. 2009. Ilmu Unggas, Jasa
Ekstensi Koperasi, Lembaga Ilmu Pangan dan Pertanian
Universitas Florida. Gainesville.
Gustira, D.E. 2014. Pengaruh kepadatan kandang terhadap performa
produksi ayam petelur fase awal grower. Skripsi. Fakultas
Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Ibrahim, Sulaiman dan Allaily. 2012. Pengaruh Berbagai Bahan Litter
Terhadap Konsentrasi Ammonia Udara Ambient kandang dan
Performan Ayam Broiler. Jurnal Agripet Vol 12 No 1: 47-51.
Universitas Syiah Kuala Lumpur. Banda Aceh.
Info Medion. 2010. Majalah Info Medion Edisi Juli 2010: Suhu dan
Kelembaban Terkontrol, Ayam Nyaman. Medion Farma Jaya.
Bandung.
Info Medion. 2014. Majalah Info Medion Edisi November 2014 Mengenal
Ransum Ayam. Medion Farma Jaya. Bandung.
Kamal, Muhammad. 1999. Nutrisi Ternak Dasar. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kencana, G. A. Y., Nyoman, M. A., I Gusti, N. K. M., dan I Wayan, G. 2012.
Penyebaran Virus Vaksin ND pada Sekelompok Ayam Pedaging
Tidak Divaksinasi dan Dipelihara Bersama Ayam yang
Divaksinasi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Udayana.
Bali.
Lacy, M. & L. R. Vest. 2000. Improving Feed Convertion in Broiler : A uide
for Growers. Springer Science and Business Media Inc, New York.
Muharlien, M., Achmanu dan R. Rachmawati. 2011. Meningkatkan
Produksi Ayam Pedaging Melalui Pengaturan Proporsi Sekam,
Pasir Dan Kapur Sebagai Litter. Jurnal Ternak Tropika Vol. 12
No.1: 38-45.
Negoro, A.S.P., Achmanu., dan Muharlien. 2013. Pengaruh Penggunaan
Tepung Kemangi dalam Pakan Terhadap Penampilan Produksi
Ayam Pedaging. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya.
Nuroso. 2012. Pembesaran Ayam Kampung Pedaging. Penebar Swadaya,
Jakarta.

33
Pratama, J.A. 2008. Nilai Energi Metabolis Ransum Ayam Broiler Periode
Finisher Yang Disuplementasi Dengan Dl-Metionin. Skripsi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
PT Japfa Comfeed. 2008. Broiler Management Program. Jakarta.
Indonesia.
Puspani, E., Nuriyasa, I. M., Wibawa, A. A. P. P., dan Candrawati, D. P. M.
A. 2008. Pengaruh Tipe Lantai Kandang dan Kepadatan Ternak
Terhadap Tabiat Makan Ayam Pedaging Umur 2-6 Minggu.
Fakultas Peternakan.Universitas Udayana. Denpasar.
Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Petelur. Cetakan ke XX. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Rasyid, Ainur dan G. Hartati. 2007. Perkandangan Sapi Potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Sahari, Banong. 2012. Manajemen Industri Ayam Ras Petelur. Masagena
Press. Makassar.
Santoso, H dan T. Sudaryani. 2011. Pembesaran Ayam Pedaging Hari per
Hari di Kandang Panggung Terbuka. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarjana, T.A. 2007. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro. Semarang.
Setiawan, R.B., D. Iriana., dan Rosidah. 2012. Efektivitas vaksin dari
bekteri Mycobacterium fortuitum yang diinaktivasi dengan
pemanasan untuk pencegahan penyakit Myobacteriosis pada
ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Perikanan dan
Kelautan Vol. 3. No. 1. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjajaran. Bandung.
Sholikin, Huda. 2011. Manajemen Peliharaan Ayam Broiler di Peternakan
UD Hadi PS Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Siregar, A.P. 2005. Teknik beternak ayam pedaging di Indonesia. Margie
group, Jakarta.
Sulistyoningsih, Mei. 2009. Pengaruh pencahayaan (lighting) terhadap
performans dan konsumsi protein pada ayam. Seminar nasional
Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Suryani, L.H. 2015. Deteksi titer antibodi dan identifikasi faktor penyebab
kegagalan vaksinasi terhadap Newcastle Disease pada ayam
petelur di desa bulo kabupaten sidenreng rappang. Skripsi.

34
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.
Makassar.
Tantalo. 2009. Perbandingan Performans Dua Strain Broiler Yang
Mengonsumsi Air Kunyit. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan
Agustus, 2009, Vol. XII. No.3.
Utami, Sri, Zuprizal, dan Supadmo. 2012. Pengaruh Penggunaan Daging
Buah Pala dalam Pakan (Myristica Frangrans Houtt) terhadap
Kinerja Ayam Broiler pada Kepadatan Kandang yang Berbeda.
Buletin Peternakan Vol. 36(1): 5-13, Februari 2012. ISSN 0126-
4400.
Utomo, Ristianto. 2014. Konservasi Hijauan Pakan dan Peningkatan
Kualitas Bahan Pakan Berserat Tinggi. Gadjah Mada Univerity
Press. Yogyakarta.
Wibowo, E. D., Widya, A., Michael, H. W., dan Bambang, S. 2013.
Perbandingan Tingkat Proteksi Program Vaksinasi Newcastle
Disease pada Broiler. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Widjastuti, Tuti dan D. Garnida. Evaluasi performans ayam merawang
phase pertumbuhan (12 minggu) pada kandang sistem kawat dan
sistem litter dengan berbagai imbangan energi protein didalam
ransum. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan
Ayam Lokal. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.
Bandung.
Wulandari, Aulia., Salmiah., dan Tavi Supriana. 2014. Analisis Komparasi
Usahatani Ternak Ayam Potong Rakyat Dengan Ternak Ayam
Potong Kemitraan. Universitas Sumatera Utara. Medan. Sumatera
Utara.
WWF. 2015. Seputar Perubahan Iklim : Seputar perubahan iklim dan
energi. WWF, Jakarta.
(www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/iklim_dan_energi/).
Diakses tanggal 21 April 2015.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas . Kanisius. Yogyakarta.

35