Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA TERAPAN

PRAKTIKUM I
ALAT KESEHATAN, PENGGOLONGAN OBAT &
PENGGUNAAN OBAT KHUSUS

OLEH :

NAMA : NUR AFNI RIDWAN


NIM : O1A114032
KELOMPOK : I (SATU)
KELAS : A-2014
ASISTEN : SEPTIANY FRANSISCA MARIA,S.Farm., Apt.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. Teori umum
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan yang optimal (Ananda dkk.,2013).
Obat adalah semua bahan tunggal atau campuran yang
dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam dan luar tubuh
guna mencegah, meringankan dan menyembuhkan penyakit. Menurut
undang-undang, yang dimaksud obat adalah suatu bahan atau campuran
bahan untuk dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah,
mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit, luka atau kelainan badanlah atau rohaniah pada manusia atau
hewan termasuk untuk memperelok tubuh atau bagian tubuh manusia.
Sediaan yang paling rentan terjadi kesalahan dalam pemakaian dan
penakaran dosis obatnya adalah sediaan cair/ larutan, karena kita tidak
mengetahui secara pasti apakah takaran larutannya benar-benar sudah pas
atau belum dan apakah tempat pemberiannya sudah sesuai dengan yang
seharusnya, karena sediaan larutan sendiri berdasarkan tujuan
pemberiannya ada larutan untuk mata, larutan untuk telinga, larutan untuk
hidung, larutan untuk rektal dan ada pula larutan untuk vagina. Oleh
karena itu, setiap akan menggunakan sediaan obat kita harus membaca
dengan teliti etiket yang ada dan sebelumnya harus mengetahuli cara-cara
yang benar dalam menggunakan sediaan larutan seperti : obat tetes mata,
obat salep mata, obat tetes telinga, obat tetes hidung, obat semprot hidung,
enema, douche dan inhaler (Syamsuni,2006).
Banyak orang menganggap obat kimia memiliki banyak efek
samping. Padahal semua jenis obat baik herbal ataupun kimia pasti
memiliki efek samping. Inefektivitas dan efek samping obat dapat timbul
pada beberapa keadaan, misalnya adalah cara pemakaian obat yang tidak
tepat dan dosis yang tidak tepat ( Drwox, 2013).
Terdapat berbagai macam jenis logo obat. Obat dikategorikan
menjadi beberapa jenis seperti, obat bebas, obat terbatas, obat keras, obat
herbal, obat tradisional, obat bius atau narkotika dan lainnya. Logo jenis
obat tersebut umumnya terdapat pada bagian kemasan obat, logo obat
umunya beberntuk seperti lingkaran dengan warna hijau atau biru,
lingkaran dengan huruf K, lingkaran dengan tanda positif, lingkaran
dengan gambar daun dan masih banyak bentuk logo lainnya. Masyarakat
pada umunya tidak terlalu memperhatikan logo tersebut sebelum
mengkonsumsinya. Tentunya hal ini akan dapat berdampak tidak baik bagi
kesehatan pengguna jika seandainya obat tersebut tergolong kedalam jenis
obat yang memerlukan resep dari dokter atau merupakan jenis obat keras
{Rahayuda, 2016).
Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, dan/atau implant
yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah,
mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang
sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur
dan memperbaiki fungsi tubuh. Alat kesehatan yang kegagalan atau salah
penggunaannya dapat memberikan akibat yang serius kepada pasien atau
perawat/operator. Alat kesehatanini sebelum beredar perlu mengisi
formulir dan memenuhi persyaratan yang lengkap termasuk analisa resiko
dan bukti keamanannya untuk dinilai serta memerlukan uji klinis
(Permenkes,2010).

BAB II

PEMBAHASAN

A. Penggolongan Obat
Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi . (Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Sesuai Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat
Jadi. yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang
dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketetapan penggunaan serta
pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib
apotek (obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter diapotek, diserahkan
oleh apoteker), obat keras, psikotropika dan narkotika. Untuk obat yang dapat
diperoleh tanpa resep dokter maka pada kemasan dan etiketnya tertera tanda
khusus.
Penggolongan Jenis Obat berdasarkan berbagai undang undang dan
peraturan menteri kesehatan dibagi menjadi :

1. Obat Bebas

Obat bebas sering juga disebut OTC (Over The Counter) adalah obat yang
dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna
hitam. Contoh : Minyak Kayu Putih, Obat Batuk Hitam, Obat Batuk Putih,
Tablet Paracetamol, Tablet Vit C, B Kompleks, E. Obat bebas ini dapat diperoleh
di toko/warung, toko obat, dan apotik. Penandaan obat bebas diatur berdasarkan
S.K Menkes RI Nomor 2380/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas
terbatas. Tanda khusus untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis
tepi warna hitam.

2. Obat Bebas Terbatas


Obat bebas terbatas atau obat yang masuk dalam daftar W menurut bahasa
Belanda W singkatan dari Waarschung artinya peringatan. Jadi maksudnya
obat yang bebas penjualannya disertai dengan tanda peringatan.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-obatan
kedalam daftar obat W memberikan pengertian obat bebas terbatas adalah Obat
Keras yang dapat diserahkan kepada pemakaianya tanpa resep dokter, bila
penyerahannya memenuhi Persyaratan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2380/A/SK/VI/83 tanda


khusus untuk obat bebas terbatas berupa lingkaran warna biru dengan garis tepi
berwarna hitam. Tanda khusus harus diletakan sedemikian rupa sehingga jelas
terlihat dan mudah dikenal. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas
terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. disertai tanda
peringatan dalam kemasannya:
Contoh obat : CTM, Antimo, noza

Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut juga OTC (over the counter)
Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh di toko obat, dan apotik tanpa resep
dokter.

3. Obat Keras (Daftar G : Gevarlijk : berbahaya)


Obat keras atau obat daftar G menurut bahasa Belanda G singkatan dari
Gevaarlijk artinya berbahaya maksudnya obat dalam golongan ini berbahaya
jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter. Obat keras adalah obat yang
hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan
etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh : Asam Mefenamat, semua obat antibiotik (ampisilin, tetrasiklin,
sefalosporin, penisilin, dll), serta obat obatan yang mengandung hormon (obat
diabetes, obat penenang, dll) Obat keras ini dapat diperoleh di apotik, harus
dengan resep dokter.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan/memasukan


obat-obatan kedalam daftar obat keras, memberikan pengertian obat keras,
memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan sebagai
berikut:
a) Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan bahwa
obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter
b) Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk
dipergunakan secara parental, baik degan cara suntikan maupun dengan cara
pemakaian lain dengan jalan merobek rangkaian asli dari jaringan.
c) Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan telah
dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak membahayakan kesehatan
manusia.
d) Semuaobat yang tercantum dalam daftar obat keras: obat itu sendiri dalam
substansi dan semua sediaan yang mengandung obat itu, terkecuali apabila
dibelakang nama obat disebutkan ketentuan lain, atau ada pengecualian
Daftar Obat Bebas Terbatas.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.


02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat Keras daftar G adalah
lingkaran bulatan warna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan
huruf K yang menyentuh garis tepi.

4. Obat Wajib Apotek ( OWA )


Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VII/1990 yang telah diperbaharui dengan
Keputusan Menteri No. 924/Menkes/Per/x/1993, dikeluarkan dengan
pertimbangan sebagai berikut:
a) Pertimbangan yang utama untuk obat wajib apotek sama dengan
pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri
guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan pengobatan
sendiri secara tepat, aman dan rasional.
b) Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek
dalam pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi serta pelayanan obat
kepada masyarakat.
c) Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan
untuk pengobatan sendiri. Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat
diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter.
penyerahan obat wajib apotek ini terhadap apoteker terdapat
kewajiban sebagai berikut:
a) Memenuhi kebutuhan dan batas setiap jenis obat ke pasien yang
disebutkan dalam obat wajib apotek yang bersangkutan
b) Membuat catatan pasien serta obat yang diserahkan
c) Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi,
efek samping, dan lain-lin yang perlu diperhatikan.

5. Obat Psikotropika dan Narkotika (Daftar O)


a. Psikotropika

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Pengertian psikotropika menurut UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika
adalah zat atau obat baik, alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas mental dan perilaku.
Ruang lingkup pengaturan psikotropika dalam Undang-Undang ini adalah
psikotropika yang mempunyai potensi sindroma ketergantungan, yang menurut
Undang-Undang tersebut dibagi kedalam 4 (empat) golongan yaitu: golongan I, II,
III, IV.
Berdasaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun
2017 Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika menyataan bahwa yang termaksud
dafttar Narotika 1. Tanaman Papaver Somniferum L dan semua bagian-bagiannya
termasuk buah dan jeraminya, kecuali bijinya. 2. Opium mentah, yaitu getah yang
membeku sendiri, diperoleh dari buah tanaman Papaver Somniferum L dengan atau tanpa
mengalami pengolahan sekedarnya untuk pembungkus dan pengangkutan tanpa
memperhatikan kadar morfinnya. 3. Opium masak terdiri dari : a. candu, hasil yang
diperoleh dari opium mentah melalui suatu rentetan pengolahan khususnya dengan
pelarutan, pemanasan dan peragian dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan lain,
dengan maksud mengubahnya menjadi suatu ekstrak yang cocok untuk pemadatan. b.
jicing, sisa-sisa dari candu setelah dihisap, tanpa memperhatikan apakah candu itu
dicampur dengan daun atau bahan lain. c. jicingko, hasil yang diperoleh dari pengolahan
jicing. 4. Tanaman koka, tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga
Erythroxylaceae termasuk buah dan bijinya. 5. Daun koka, daun yang belum atau sudah
dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus Erythroxylon dari
keluarga Erythroxylaceae yang menghasilkan kokain secara langsung atau melalui
perubahan kimia.
Apotek dilarang untuk mengulangi menyerahkan obat-obat narkotika atas
dasar resep yang sama dari seorang Dokter atau dasar salinan resep. Dalam UU
No. 2 Tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. 5 Tahun 1997 tentang
psikotropika, dinyatakan bahwa penyerahan obat-obat narkotika dan psikotropika
hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan,
dan dokter. Penyerahan obat-obat psikotropika oleh apotek, rumah sakit,
puskesmas, dan balai pengobatan hanya dapat dilakukan berdasarkan resep
dokter. Contoh : Diazepam, Phenobarbital, ekstasi, sabu-sabu Obat psikotropika
ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.

b). Narkotika

Pengertian narkotika menurut UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang


narkotika, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintesis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan
I, II, dan III.

Golongan I : Adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan


pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya
yaitu Tanaman Papaver Somniferum L, Opium Mentah, Tanaman Ganja, Heroina.

Golongan II : Adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai


pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contohnya yaitu Morfina, Opium, Petidina, Tebaina, Tebakon.

Golongan III : Adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak


digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contohnya yaitu
Kodeina, Nikodikodina, Nikokodina.
ALAT KESEHATAN
B. PEMBALUT

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Plester - Autoclave Tape untuk membedakan
kemasan atau alat
mana yang telah
mengalami proses
sterilisasi dan alat
mana yang belum
(sebagai indikator).
2. Plester - Sutures Tape untuk menutupi
luka di kulit

3. Plester - Medicinal Tape Sebagai plester


yang mengandung
obat

4. Plester Surgical Tape untuk digunakan


dalam pembedahan
6. Gaas Hydrofil Steril digunakan untuk
menutupi luka dan
menghindari
kontaminasi.

7. Gaas- Dressing digunakan untuk


penutupan daerah
steril Insisi
sebelum dilakukan
pembedahan/
operasi.
8. Gaas Mengandung Obat Pembalut yang
mengandung bahan
obat

9. Gaas Gauze Bandage Sebagai kasa


hidrofil berupa
gulungan kain kasa
yang panjang

10. Perban Elastic Bandage Pembalut dengan


bentuk yang elastis

11. Perban Mengandung Pembalut yang


Obat mengandung bahan
obat
12. Perban Pmebalut Leher untuk menopang
kepala dan
membatasi gerak
dari tulang leher
(Cervical
Vertebrae).

13. Perban Pembalut Gips Sebagai pembalut


untuk kaki

14. Perban - daryanet digunakan di


bagian tubuh yang
sulit tanpa
membutuhkan
plester perekat.

C. ALAT PERAWATAN

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Warm Water Zak untuk mengisi air panas

2. Eskap untuk kompres dingin di


kepala apabila sedang
demam.
3. Skin Traction Kit digunakan untuk mencegah
pergeseran persendian yang
terluka atau meradang atau
pada patah tulang.

4. Kruk digunakan untuk pada


pasien yang mendapat
cidera/gangguan sehabis
operasi pada kakinya.

5. Pompa susu digunakan untuk membantu


memompa air susu keluar
dari payudara wanita yang
sedang menyusui
dikarenakan produk air
susunya terlalu banyak.

D. ALAT PENAMPUNGAN

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Penampungan Darah digunakan untuk
menampung darah.
2. Urine Bag digunakan untuk
menampung urin pasien.

3. Penampung Feces digunakan untuk


menampung feces, cairan
dan gas yang keluar dari
lubang usus buatan hasil
pembedahan melalui otot
dan kulit perut.

E. HOSPITAL WARES/UTENSILS

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Urinal Pria Sebagai tempat air
kencing pasien.

2. Bedpan/Stekpan Digunakan sebagai


tempat feces.

3. Spitting Mug Digunakan sebagai


tempat ludah/riak.
4. Instrument Tray Digunakan sebagai
tempat menaruh dan
menyimpan alat-alat
bedah.

5. Thermometer Jar Digunakan sebagai


tempat menaruh
termometer

6. Forceps Jar Digunakan sebagai


tempat menaruh pinset,
klem dan tang

7. Dressing Sterilizing - Digunakan sebagai


Drum tempat mensterilkan
pembalut

F. CATHETERS
No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI
1. I.V. Catheter Digunakan sebagai vena
tambahan (perpanjangan
vena) untuk pengobatan I.V.
Jangka lama yang panjang
lebih dari 48 jam

2. Nelaton Digunakan untuk buang air


kecil

3. Ballon/Foley Digunakan untuk


pengambilan urine dalam
sistem tertutup, bebas dari
udara dan polusi
disekitarnya
4. Oxygen Digunakan untuk
mengalirkan gas oksigen ke
dalam lubang hidung

5. Stomach Tube Digunakan untuk


mengumpulkan getah
lambung, membilas atau
mencuci isi perut, dan untuk
pemberian obat-obatan
6. Feeding Tube Digunakan untuk
memasukkan cairan
makanan melalui mulut /
hidung

7. Rectal Tube Digunakan untuk


mengeluarkan gas-gas dari
usus dan untuk
membersihkan rektum
8. Suction / Mucus Digunakan untuk menyedot
Extractor lender dari mulut bayi yang
baru lahir dan untuk
menyedot cairan Amniotik

9. Kondom Digunakan untuk


menghubungkan penis
dengan urine bag melalui
ujung tubenya, terutama
pada pasien yang suka
buang air kecil secara tidak
sadar

G. JARUM SUNTIK

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Jarum Suntik umum Digunakan untuk mengambil
darah

2. Jarum Suntik Gigi Digunakan untuk gigi,


dimana obatnya harus
dimasukkan dulu kedalam
suatu tempat tertentu yang
disebut catridge

3. Jarum Suntik Spinal Digunakan untuk lumbal


punctie
4. Jarum Suntik Bersayap Digunakan sebagai vena
tambahan atau perpanjangan
vena dari tubuh kita untuk
pengobatan I.V. jangka lama
atau yang terputus-putus

H. ALAT SEMPRIT/ALAT SUNTIK

No GAMBAR NAMA ALAT FUNGSI


1. Glycerin Syringe Digunakan untuk
menyemprotkan lavement
/clysma melalui anus (dubur)

2. Hypodermic Syringe Digunakan sebagai alat


semprit pada umumnya

3. Insulin Syringe Digunakan khusus untuk


menyuntikkan insulin

Adapun alat alat kesehatan salah satunya adalah chatheters.


Catheter merupakan suatu alat berupa pipa kosong terbuat dari logam, gelas,
karet, plastic yang cara penggunaanya adalah untuk dimasukkan ke dalam rongga
tubuh melalui saluran atau kanal. Salah satu contoh seperti Intra Vena (IV)
Catheter, IV catheter adalah catheter yang dimasukkan ke dalam pembuluh vena.
Kegunaanya berlaku sebagai vena tambahan (perpanjangan vena) untuk
pengobatan IV jangka lama yang lebih dari 48 jam. Pembedahan dengan wing
needle bila digunakan lenih dari 48 jam akan menimbulkan thrombosis, karena
wing needle terbuat dari logam. Catheher memiliki ukuran yang berbeda-beda
diantaranya , dimana ukurannya mulai dari 8Ch, 10Ch, 12Ch, 14Ch, 16Ch, 18Ch,
20Ch, 22Ch, 24Ch, 26Ch, 28Ch dan 30Ch. Sedangkan untuk Oxygen catheter
terdapat 8 lubang pada ujungnya dengan panjangnya sebesar 40 cm. Jarum suntik
memiliki ukuran yang berbeda-bedanya diantaranya jarum suntik umum terdapat
dua versi yakni ukuran eropa (no. 1, 2, 14, 16, 18, 20) dan ukuran Jepang (18G-
27G). Untuk jarum suntik gigi terdapat 3 ukuran yakni 25G, 27G dan 30G. Untuk
jarum suntik spinal ukuran jarum LP (Lumbal Punctie) yakni 18G, 19G, 20G,
21G, 22G, 23G, 25G. Untuk jarum suntik bersayap ukuran jarum yakni 18G, 19G,
21G, 22G, 23G dan 25G. Pada ukuran jarum suntik semakin besar nomornya
semakin kecil ukuran diameter jarum suntik tersebut.

Alat- Alat Penampungan

Yang dimaksud dengan alat penampungan adalah alat untuk menampung darah,
untuk menampung air kencing dan untuk menampung feces.
1. Untuk Menampung Darah,
Blood collecting pack terbuat dari plastic PVC sehingga umumnya disebut:
Blood-Bag. Bloodbag ini ada yang berisi cairan antikoagulansia ACD (acid citric
+ natrium citric + dextrose), CPD ( acid citric + natrium citric + dextrose dan
narium bifosfat), atau larutan Natrium sitrat 4%.
2. Untuk Menampung Urine (air kencing). (Urine bag)
Dipasakan dengan merek drainage bag (pabrik jms), uro-gard (Terumo). Adapula
Urine-bag khusus untuk anak- anak dan bayi, pediatric urine collector (atom-
jepang).
3. Untuk Menampung Feces.

Alat untuk menampung feces disebut: colostomy bag. Kegunaannya : untuk


menampung untuk kotoran (feces), cairan dan gas yang keluar dari lubang usus
buatan hasil pembedahan melalui otot dan kulit perut. Hal ini dilakukan untuk
mengganti fungsi normal dari rectum. Pemakaian Colostomy Bag ini bisa untuk
sementara atau bisa juga selamanya, misalnya pada pasien yang terkena penyakit
kanker rectumnya harus diambil, dibedah. Pemakaian Colostomy bag disesuaikan
dengan ukuran stoma otot dan lubang kulit perut.
4. COLOPLAST
adalah alat untuk menampung urine yang keluar dari lubang (stoma) buatan hasil
pembedahan melalui otot dan kulit perut, dikarenakan saluran kencing yang
normal yang keluar melalui alat kelamin yang terganggu fungsinya. Coloplast
juga disebut STOMA URINE BAG. Bentuk dan cara pemakaiannya adalah serupa
dengan Colostomy bag yang menampung feces. Namun alat ini dilengkapi dengan
penahan ekstra berupa sabuk.
B. Hospital Wares/ Utensils
Yang tergolong dalam golongan yang disebut Hospital Wares/ Utensils adalah
alat- alat yang digunakan dalam rumah sakit sehari- hari sebagai alat penunjang
dalam pelayanan pengobatan pasien.
1. Alat- alat yang digunakan untuk melayani pasien
2. Alat- alat yang digunakan untuk tempat perawatan alat- alat lainnya.
a. Alat- alat yang digunakan untuk melayani pasien.
Bila pasien ingin buang air kecil sedangkan si pasien tidak bisa/ boleh ke kamar
mandi maka untuk itu disediakan URINAL untuk Laki-laki dan untuk perempuan.
Ada yang terbuat dari gelas, ada yang dari stainless steel sesuai dengan fungsinya:
BEDPAN:
penampung urine bila si pasien tidak bisa ke kamar mandi sendiri
Spitting Mug:
Kegunaan penampung riak atau ludah

1. Penggunaan Sediaan Obat Khusus

1) TETES MATA

1. Cuci tangan lebih dahulu.

2. Jangan menyentuh ujung penetes.

3. Mata melihat ke atas.

4. Tarik kelopak mata bagian bawah sehingga terjadi bagian penampungan.

5. Letakkan penetes sedekat mungkin pada bagian mata yang akan diteteskan
tanpa menyentuh mata.

6. Teteskan sesuai dosis yang telah ditentukan.

7. Tutup mata sekitar dua menit. Jangan menutup mata terlalu rapat.
8. Kelebihan cairan dapat dibersihkan dengan kertas tissu.

9. Jika lebih dari satu jenis tetes mata atau lebih dari satu dosis yang
digunakan, tunggu sedikitnya lima menit sebelum tetesan berikutnya
diberikan.

10. Tetes mata dapat menyebabkan rasa pedih tetapi seharusnya hanya
berlangsung selama beberapa menit. Jika berlangsung cukup lama,
konsultasikan pada dokter atau apoteker.

Langkah 4 dan 5

2) PEMBERIAN TETES MATA PADA ANAK

1. Minta anak bersandar dengan kepala lurus.

2. Mata anak dalam keadaan tertutup.

3. Teteskan sesuai dosis yang ditentukan ke dalam sudut dalam mata.

4. Jaga agar kepala tetap tegak.

5. Bersihkan cairan yang berlebih.


3) SALEP MATA

1. Cuci tangan terlebih dahulu.

2. Ujung tube salep jangan tersentuh apapun.

3. Kepala sedikit menengadah.

4. Pegang tube dengan satu tangan, dan tarik kelopak mata bagian bawah
dengan tangan lain sehingga terbentuk cekungan.

5. Oleskan sejumlah dosis yang telah ditentukan.

6. Tutup mata selama dua menit.

7. Bersihkan kelebihan salep dengan kertas tissu.

8. Bersihkan bagian tepi tube dengan kertas tissu lain.

Langkah 4 dan 5

4) TETES TELINGA

1. Hangatkan tetes telinga dengan cara digenggam dalam telapak tangan atau
ketiak untuk beberapa menit. Jangan menggunakan aliran air panas dari
kran, karena suhunya menjadi tidak terkontrol.
2. Kepala dimiringkan ke samping atau berbaring dengan posisi telinga ke
atas.

3. Tarik daun telinga sedemikian rupa sehingga lubang telinga terbuka lebar.

4. Teteskan sesuai dosis yang ditentukan.

5. Tunggu lima menit sebelum meneteskan obat pada telinga lainnya.

6. HANYA jika direkomendasikan untuk menutup telinga, gunakan kapas


untuk menutup saluran lubang telinga setelah meneteskan obat.

7. Obat tetes telinga seharusnya tidak menyebabkan rasa terbakar atau


menyengat lebih dari beberapa menit.

5) TETES HIDUNG

1. Lebarkan lubang hidung.

2. Posisi duduk dan kepala dimiringkan kebelakang atau berbaring dengan


diganjal bantal di bawah bahu; jaga agar kepala tetap tegak.

3. Masukkan ujung alat penetes sedalam satu cm ke dalam lubang hidung.

4. Teteskan sesuai dosis yang ditentukan.


5. Kepala segera dicondongkan jauh ke depan sehingga posisi kepala berada
diantara lutut (lihat gambar).

6. Kembali tegak setelah beberapa detik, tetesan akan mengalir ke


kerongkongan atas.

7. Jika diperlukan, ulangi tahapan di atas untuk lubang hidung yang lain.

8. Bilas alat penetes dengan air mendidih.

Langkah 2 dan 3 Langkah 5

6) SEMPROT HIDUNG

1. Lebarkan lubang hidung.

2. Duduk dengan kepala sedikit menunduk.

3. Kocok obat.

4. Masukkan ujung sediaan di satu lubang hidung.

5. Tutup mulut dan lubang hidung yang lain.

6. Semprotkan obat dengan cara menekan alat/wadah, dan hisap pelahan-


lahan.
7. Cabut ujung sediaan dari hidung dan kepala dimiringkan ke depan
sehingga posisi kepala diantara lutut.

8. Kembali tegak setealh beberapa detik; obat akan mengalir ke


kerongkongan.

9. Bernafas melalui mulut.

10. Ulangi prosedur untuk lubang hidung yang lain, jika diperlukan.

11. Bilas ujung sediaan dengan air mendidih.

Langkah 4 dan 5 Langkah 7

7) TRANSDERMAL PATCH

1. Untuk letak penempelan patch lihat instruksi yang terdapat pada kemasan
obat atau konsultasikan dengan apoteker.

2. Jangan ditempelkan pada kulit yang memar atau luka.

3. Jangan ditempelkan dalam lipatan kulit atau di bawah pakaian ketat.


Pindahkan tempat patch setiap periode tertentu.

4. Pasang patch dengan tangan yang bersih dan kering.


5. Bersihkan dan keringkan tempat pemasangan patch.

6. Ambil patch dari wadah, jangan sentuh bagian obatnya.

7. Tempelkan pada kulit dan tekan kuat. Gosok bagian tepi agar menempel.

8. Lepaskan dan ganti sesuai petunjuk.

Langkah 7 Langkah 8

8) AEROSOL

1. Batuk dan keluarkan dahak sebanyak mungkin.

2. Kocok aerosol sebelum digunakan.

3. Pegang aerosol sesuai petunjuk pada instruksi (biasanya dibalik).

4. Tangkupkan bibir pada mulut sediaan.

5. Condongkan kepala ke belakang sedikit.

6. Keluarkan nafas pelan-pelan, kosongkan udara sebanyak mungkin dari


paru-paru.
7. Tarik nafas dalam-dalam dan semprotkan aerosol, jaga agar lidah tetap
dibawah.

8. Tahan nafas selama sepuluh sampai lima belas detik.

9. Keluarkan nafas melalui hidung.

10. Berkumur dengan air hangat.

Langkah 4 dan 5 Langkah 8

9) INHALER DENGAN KAPSUL

1. Batuk dan keluarkan dahak sebanyak mungkin.

2. Tempatkan kapsul dalam inhaler sesuai petunjuk.

3. Hembuskan nafas pelan-pelan dan kosongkan paru-paru semaksimal


mungkin.

4. Tempatkan mulut sediaan diantara bibir dengan rapat.

5. Condongkan kepala kebelakang sedikit.

6. Tarik nafas dalam-dalam melalui inhaler.

7. Tahan nafas selama 10 15 detik.


8. Keluarkan nafas melalui hidung.

9. Berkumur dengan air hangat.

Langkah 4 Langkah 5

10) SUPPOSITORIA

1. Cuci tangan terlebih dahulu.

2. Buka pembungkus obat (jangan dibuka jika supositoria terlalu lunak).

3. Jika supositoria terlalu lunak sebaiknya didinginkan dulu dalam kondisi


masih dalam kemasan (masukkan dalam termos pendingin atau dipegang
di bawah aliran air dingin), kemudian setelah agak keras keluarkan dari
kemasannya.

4. Lembutkan bagian tepi yang mungkin tajam dengan dihangatkan dalam


tangan.

5. Lembabkan supositoria dengan air dingin.

6. Berbaring miring pada salah satu sisi dan tekuk satu lutut ke arah badan
dan angkat lutut (lihat gambar).

7. Masukkan obat kedalam anus secara perlahan dengan bagian yang bulat
terlebih dahulu, dilanjutkan dengan bagian belakangnya.
8. Tetap berbaring selama beberapa menit.

9. Cuci tangan.

10. Usahakan untuk tidak melakukan buang air besar selama 1 jam.

Langkah 6

11) TABLET VAGINA DENGAN APLIKATOR

1. Cuci tangan.

2. Keluarkan tablet dari pembungkus.

3. Tempatkan tablet ke bagian yang terbuka dari aplikator.

4. Berbaring telentang, tekuk lutut sedikit dan lebarkan paha (lihat gambar).

5. Sisipkan secara pelan-pelan aplikator berisi tablet ke bagian depan vagina


sedalam mungkin, tanpa menggunakan kekuatan.

6. Tekan ujung aplikator sehingga tablet terlepas.


7. Tarik aplikator.

8. Buang aplikator jika merupakan alat sekali pakai.

9. Bila bukan alat sekali pakai, cucilah kedua bagian dari aplikator dengan
sabun dan air hangat jika bukan merupakan alat sekali pakai.

10. Cuci tangan.

Langkah 4 dan 5 Langkah 6

12) TABLET VAGINA TANPA APLIKATOR

1. Cuci tangan terlebih dahulu.

2. Buka pembungkus tablet.

3. Celupkan tablet dalam air suam-suam kuku untuk sekedar melembabkan.

4. Berbaring telentang, tekuk lutut sedikit dan lebarkan paha (lihat gambar).

5. Sisipkan secara pelan-pelan tablet ke bagian depan vagina sedalam


mungkin, tanpa menggunakan kekuatan.

6. Cuci tangan.
Langkah 4 dan 5

13) PENGGUNAAN KRIM, SALEP DAN GEL VAGINA


(umumnya obat-obat ini disertai aplikator)

1. Cuci tangan terlebih dahulu.

2. Buka tutup tube yang berisi obat.

3. Pasang aplikator pada tube.

4. Tekan tube sampai diperoleh sejumlah yang dibutuhkan dalam aplikator.

5. Cabut aplikator dari tube, tahan silindernya.

6. Oleskan sedikit krim pada bagian luar aplikator.

7. Berbaring telentang, tekuk lutut sedikit dan lebarkan paha (lihat gambar).

8. Sisipkan secara pelan-pelan aplikator ke bagian depan vagina sedalam


mungkin, tanpa menggunakan kekuatan.

9. Pegang silinder dengan tangan lain.

10. Pegang silinder dan dengan tangan lain dorong aplikator untuk
memasukkan obat ke dalam vagina.
11. Keluarkan aplikator dari vagina.

12. Buang aplikator jika merupakan alat sekali pakai atau cuci bersih
seluruhnya dengan air mendidih jika bukan merupakan alat sekali pakai.

13. Cuci tangan.

Langkah 4 dan 5 Langkah 7 dan 8

14) TABLET SUBLINGUAL

Sediaan tablet sublingual dalam pemakaiannya tidak boleh dikunyah,


digerus atau ditelan. Tabet ini bekerja lebih cepat jika terabsorbsi melalui lapisan-
lapisan mukosa dalam mulut.

Langkah-langkah untuk pemakaiannya adalah :

1. Minum atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika mulut
kering.

2. Letakkan tablet dibawah lidah.

3. Tutuplah mulut dan janganlah menelan sampai tablet terdisolusi seluruhnya.

4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses disolusi tablet.


5. Janganlah berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet
terdisolusi dengan sempurna.

15) TABLET BUKAL

Sediaan tablet bukal dalam pemakaiannya tidak boleh dikunyah, digerus


atau ditelan.

Langkah-langkah pemakaiannya adalah :

1. Minumlah atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika


mulut kering.

2. Letakkan tablet diantara pipi dan gusi atas atau gusi bawah.

3. Tutuplah mulut dan janganlah menelan sampai tablet terdisolusi dengan


sempurna.

4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses disolusi tablet.

5. Janganlah berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet
terdisolusi dengan sempurna.
16) TABLET KUNYAH

Tablet kunyah dalam pemakaiannya harus dikunyah dengan baik sebelum


ditelan.

17) TABLET EFFERVESCENT

Tablet effervescent harus dlarutkan terlebih dahulu dalam air sebelum


digunakan. Tablet tidak boleh ditelan.

Langkah-langkah menggunakan tablet effervescent :

1. Taruh sejumlah tablet yang diperlukan untuk satu dosis dalam gelas.

2. Tambahkan air dingan sampai setengah gelas.

3. Tunggulah sampai tablet melarut semua (tidak terlihat lagi).

4. Minumlah semuanya sekaligus.


5. Tambahkan air sedikit lagi ke dalam gelas dan minumlah lagi untuk
memastikan bahwa seluruh obat terminum semua.

18). PENGGUNAAN SEDIAAN INJEKSI

Ada dua alasan utama untuk penggunaan sediaan injeksi. Pertama karena
memang dibutuhkan efek yang cepat, dan kedua karena injeksi adalah satu-
satunya bentuk sediaan yang tersedia untuk memenuhi efek yang dibutuhkan.
Seorang dokter harus tahu benar cara penyuntikan bukan hanya pada keadaan
gawat darurat dan situasi lain dimana injeksi memang diperlukan, tetapi juga
karena kadang-kadang perlu untuk memberi instruksi kepada petugas kesehatan
lain (misal : perawat) atau bahkan kepada pasien.

Banyak sediaan injeksi diresepkan secara tidak perlu sedangkan sediaan


tersebut dapat menimbulkan efek yang berbahaya dan rasa yang tidak nyaman.
Selain itu, hampir semua sediaan injeksi jauh lebih mahal daripada tablet, kapsul
dan bentuk sediaan lainnya. Pada setiap penggunaan sediaan injeksi, pemberi
resep harus mempertimbangkan manfaat risiko dari sediaan, dimana manfaat
terapi harus seimbang dengan risiko efek samping, ketidaknyamanan dan harga
yang harus ditanggung.

Pada saat obat disuntikkan, efek-efek tertentu yang diharapkan maupun


efek samping akan terjadi. Orang yang memberikan injeksi harus menyadari hal
ini dan harus menyiapkan antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Hal ini
berarti bahwa pemberian injeksi harus dilakukan oleh orang yang kompeten.

Pemberi resep juga bertanggunggjawab terhadap penanganan sisa buangan


injeksi dan alat suntiknya yang sudah terkontaminasi. Pasien yang melakukan
injeksi di rumah juga harus mewaspadai hal ini.

Inhaler adalah suatu alat untuk penggunaan obat secara inhalasi. Inhalasi
menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (FI IV) adalah sediaan obat atau larutan
atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran
napas hidung atau mulut untuk memperoleh efek lokal atau sistemik. Umumnya
inhaler ditujukan untuk penggunaan obat asma atau Chronic Obstructive
Pulmonary Disease (COPD), karena dengan cara ini obat dapat langsung masuk
ke paru-paru sehingga dapat bekerja lebih cepat untuk mengatasi serangan asma
dan efek sampingnya lebih minimal.

Berdasarkan bentuk obat yang dibawanya, inhaler dibedakan menjadi 3


macam, yaitu aerosol inhaler, dry powder inhaler, dan nebuliser.

Aerosol Inhaler

Zat aktifnya dalam bentuk aerosol yang tersuspensi dalam propelan, yaitu
suatu gas inert bertekanan yang berfungsi sebagai pendorong. Pada saat alat
ditekan, maka propelan akan mendorong beberapa dosis obat dalam satu
hembusan, bersamaan dengan itu pengguna harus menarik napas dalam agar obat
terbawa masuk ke dalam saluran pernapasan. Jenis alat untuk aerosol inhaler ada
beberapa macam, yaitu:

a. MDI (Metered dose inhaler)

Standard MDIs : ketika alat ditekan, propelan akan mendorong beberapa dosis
obat, dan secara bersamaan dengan itu pengguna harus menarik napas dalam agar
obat terbawa masuk ke dalam saluran pernapasan. Butuh koordinasi yang baik
antara menekan alat dan menarik napas.

Breathe activated MDIs : alat dimasukkan ke dalam mulut, dan dosis obat akan
lepas bersamaan dengan saat bernapas, sehingga tidak perlu ada kordinasi.

Cara penggunaannya yaitu:

1. Kocok tabung inhaler (3-4 kali).

2. Buka tutupnya.
3. Bernapaslah di luar alat.

4. Masukkan alat ke dalam mulut, dan kunci diantara gigi, tutup mulut rapat-
rapat.

5. Mulailah bernapas dengan perlahan, tekan bagian atas alat dan tetap
bernapas perlahan sampai satu tarikan penuh.

6. Keluarkan alat dari mulut, tahan napas selama 10 detik sebelum


membuang napas.

7. Jika butuh lebih dari satu puff, tunggu dulu selama kurang lebih 1 menit,
kemudian kocok lagi tabung inhaler dan ulangi langkah 3-6.

8. Setelah selesai, cuci muka dan berkumur dengan air jika menggunakan
inhaler yang mengandung kortikosteroid.

b. Spacer

Ada ruangan antara mulut dan inhaler, dan pada bagian mulut ada katup, saat
menarik napas, katup terbuka dan dosis obat akan masuk, katup tertutup secara
otomatis saat menghembuskan napas. Lebih mudah, dan tidak perlu koordinasi,
biasanya digunakan untuk anak-anak atau bayi.

Cara penggunaannya yaitu :

1. Buka tutupnya, kemudian kocok tabung inhaler (3-4 kali).

2. Pasang tabung pada spacer, di bagian yang berlawanan dengan masker.

3. Pasang masker menutupi mulut dan hidung, pastikan tertutup dengan baik.

4. Semprotkan 1 puff obat ke dalam spacer, biarkan sampai 6 tarikan napas

5. Tunggu selama satu menit.


6. Ulangi lagi langkah 4-5 jika dibutuhkan lebih dari 1 puff.

7. Setelah selesai, cuci muka dan berkumur dengan air jika menggunakan
inhaler yang mengandung kortikosteroid.

Dry Powder Inhaler

Zat aktifnya dalam bentuk serbuk kering yang akan tertarik masuk ke
paru-paru saat menarik napas. Pada inhaler jenis ini tidak terdapat propelan untuk
mendorong obat masuk ke dalam saluran napas. Biasanya dosisnya lebih kecil,
dan ada indikator untuk menunjukkan berapa dosis yang tersisa. Alatnya ada
beberapa macam yaitu Turbohaler, Diskhaler, dan Accuhaler, tergantung dari
industri farmasi yang memproduksinya.

Untuk turbohaler, penggunaannya adalah sebagai berikut :

1. Buka tutupnya, pegang turbohaler dalam posisi berdiri.

2. Putar sejauh mungkin bagian pegangan yang berwarna, kemudian putar


balik sampai terdengar bunyi klik.

3. Bernapaslah di luar alat.

4. Masukkan alat ke dalam mulut, dan kunci diantara gigi, tutup mulut rapat-
rapat. Tarik napas dengan kuat dan dalam lewat mulut.

5. Keluarkan alat dari mulut sebelum membuang napas.

6. Selalu cek strip indikatornya, untuk mengetahui berapa dosis yang tersisa.

7. Setelah selesai, cuci muka dan berkumur dengan air jika menggunakan
inhaler yang mengandung kortikosteroid.

Nebuliser
Zat aktifnya dalam bentuk uap, pada penggunaannya perlu menggunakan
masker atau mouthpiece untuk menghirup uap obat. Tidak dibutuhkan koordinasi
pada penggunaan inhaler jenis ini, hanya perlu bernapas seperti biasa dan uap
akan terhirup bersama tarikan napas. Nebuliser biasanya digunakan di rumah sakit
untuk penanganan serangan asma yang membutuhkan inhalasi dosis besar, tetapi
sekarang sudah jarang digunakan karena inhalasi dosis besar dapat dilakukan
dengan spacer.

Cara Penggunaan Insulin Pen

Langkah 1 : Persiapkan insulin pen, lepaskan penutup insulin pen.

Langkah 2 : Hilangkan kertas pembungkus dan tutup jarum

a. Tarik kertas pembungkus pada jarum pen.

b. Putar jarum insulin ke insulin pen.

c. Lepaskan penutup jarum luar.

d. Lepaskan penutup luar jarum agar jarum tampak.


*Buang penutup jarum ke tempat sampah

Langkah 3 : Pertama insulin pen, pastiakan pen siap digunakan

a. Hilangkan udara di dalam pen melalui jarum. Hal ini untuk mengatur
ketepatan pen dan jarum dalam mengatur dosis insulin. Putar tombol
pemilih dosis pada ujung pen untuk 1 atau 2 unit (pengaturan dosis
dengan cara memutar botol).

b. Tahan pena dengan jarum mengarah ke atas. Tekan tombol dosis dengan
benar sambil mengamati keluarnya insulin. Ulangi, jika perlu, sampai
insulin terlihat di ujung jarum. Tombol pemutar harus kembali ke nol
setelah insulin terlihat di dalam pen.

Langkah 4 : Aktifkan tombol dosis insulin (bisa diputar-putar sesuai keinginan).


Langkah 5 : Pilih lokasi bagian tubuh yang akan disuntikan.

Pastikan posisi nyaman saat menyuntikkan insulin pen. Hindari menyuntik


disekitar pusar.

Langkah 6 : Suntikkan insulin

a. Genggam pen dengan 4 jari, latekkan ibu jari pada tombol dosis.

b. Cubit bagian kulit yang akan disuntik.

c. Segera suntikkan jarum pada sudut 90 derajat. Lepaskan cubitan.

d. Gunakan ibu jari untuk menekan ke bawah pada tombol dosis sampai
berhenti (klep dosis akan kembali pada nol). Biarkan jarum di tempat
selama 5-10 detik untuk membantu mencegah insulin dari keluar dari
tempat injeksi.
e. Tarik jarum dari kulit. Kadang-kadang terlihat memar atau tetesan darah,
tetapi itu tidak berbahaya. Bisa di usap dengan tissue atau kapas, tetapi
jangan di pijat pada daerah bekas suntikan.

Langkah 7 : Persiapkan pen insulin untuk penggunaan berikutnya

Lepaskan tutup luar jarum dan putar untuk melepaskan jarum dari pen.
Tempatkan jarum yang telah digunakan pada wadah yang aman (kaleng kosong).
Buang ke tempat sampah jangan dibuang ditempat pendaurulang sampah

Bagian tubuh yang bisa dinjeksi insulin


Sebelum memulai menyuntik insulin , hal yang haru dilakukan adalah :

Belajar cara menyuntikkan insulin sendiri

Suntikkan insulin Anda di tempat yang berbeda

Tes kadar gula darah Anda

Pastikan tangan dan alat suntik dalam keadaan steril

Selalu gunakan jarum yang baru tiap menyuntik

Langkah-langkah :

Suntikkan sedikit insulin keluar dari ampul ke udara, untuk memastikan


ujung jarum terisi penuh oleh insulin, dan bukan udara. Langkah ini
disebut air shot

Suntikkan insulin ke bagian yang mengandung banyak lapisan lemak


seperti paha bagian atas atau bokong.

Cubit area kulit yang akan disuntik (namun jangan terlalu keras karena
akan membuat kulit pucat dan sakit) dan masukkan jarum dengan sudut 90
derajat. Tidak perlu mengganti dengan jarum yang lebih pendek, kecuali
jika tubuh Anda sangat kurus. Konsultasikan dengan dokter jika Anda
memiliki pertanyaan tentang hal ini.
Suntikkan jarum ke area yang Anda inginkan. Jika area Anda terasa sakit
setelah Anda selesai menyuntik, kompres dengan es selama 15-20 detik.

Pastikan jarum suntik dan pen benar-benar masuk ke dalam kulit dan
hitung selama 10 detuk sebelum mencabut suntikan

Lepaskan cubitan dan buang jarum suntik di tempat aman

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan keamanan (Permenkes No. 949/MENKES/Per/2000
tentang penggolongan obat), dapat digolongankan menjadi 5 yaitu :
Obat Bebas, Obat bebas terbatas, obat keras, Psikotropika dan
Narkotoka.
2. Alat-alat kesehatan dikelompokan berdasarkan fungsinya yaitu :
Pembalut, Alat Keperawatan, Alat Penapungan, Hospital
Wares/Utensils, Cathethers, jarum suntik, alat semprit/alat sutik,
Paratus, Jarum bedah, Benang bedah, dan Sport and medical
supportive Product.
3. Penggunaan sediaan obat khusus yaitu : Tetes mata, salep mata,
Mattered Dose inheler (MDI), nebulaizer, tetes telinga, tetes hidung,
supposutoria, tablet vagina, dengan aplikator, tablet vagina tanpa
aplikator, krim salep, dan gel vagina, tablet subliggual, tablet bukal
dan tablet effervescent.
DAFTAR PUSTAKA

Ananda,D.A.E., Liza,P., dan Hidajah,R. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan


Dan Perilaku Swamedikasi Obat Natrium Diklofenak di Apotek.
Jurnal Pharmacy. Vol 10 (02).

Drwox. 2013. Cara Minum Obat Secara Tepat agar Cepat Sembuh. Diakses 14
Maret 2013

Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar. Jakarta: Leskonfi.

Rahayuda., I.G.S. 2016. Identifikasi Jenis Obat Berdasarkan Gambar Logo Pada
Kemasan Menggunakan Metode Naive Bayes. Jurnal Ilmu
Komputer. Vol 3 (2).

Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : EGC