Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU KEBUMIAN

PETA KONTUR

Disusun Oleh :

Vitria Oktavia N (14312241011)

Pendidikan IPA A 2015

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015
PETA KONTUR

A. Tujuan
1. Mengembangkan konsep representasi bumi, bagian kecil dari bumi pada kertas,
2. Mengetahui konsep skala sebagai representasi bentuk miniatur.

B. Hipotesis
Semakin rapat garis kontur berarti lereng semakin curam dan sebaliknya
semakin renggang garis kontur maka semakin landai permukaan tersebut.

C. Dasar Teori
Beberapa metode penarikan garis kontur, antara lain metode langsung, yaitu :
titik-titik yang sama tinggi di lapangan secara langsung oleh alat penyipat datar, rambu
ukur, dan patok-patok yang jumlahnya banyak. Cara ini kurang praktis dan
membutuhkan waktu yang banyak di lapangan. Metode tidak langsung, yaitu
digambar atas dasar ketelitian detail hasil plotting yang tidak merupakan kelipatan dari
interval kontur yang diperlukan, sehingga diperlukan penentuan posisi titik-titik yang
mempunyai ketinggian kelipatan dari interval kontur (Basuki, 2006).
Menurut Bitta Pigawati dan Pangi (2010) peta kontur berfungsi salah satunya
adalah untuk menggambarkan relief muka bumi. Untuk dapat menggambarkan peta
kontur, terlebih dahulu dapat dilakukan dengan pengukuran ketinggian suatu lokasi.
Metode pengukuran titik tinggi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara antara
lain pengukuran lapangan dengan survey theodolite, GPS, Waterpass, penghitungan
dengan citra satelit, dan penghitungan dengan foto udara stereo.
Garis kontur adalah garis khayal di lapangan yang menghubungkan titik
dengan ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu di atas peta yang
memperlihatkan titik-titik di atas peta dengan ketinggian yang sama. Nama lain garis
kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Garis kontur +25
m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian
sama +25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur disajikan di atas peta untuk
memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Aplikasi lebih lanjut dari
garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope (kemiringan tanah rata-rata),
irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah terhadap jalur proyek
(bangunan) dan perhitungan galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli
terhadap ketinggian vertikal garis atau bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan
membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan
bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu,
maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta.

Gambar 1. Pembentukkan garis kontur dengan membuat proyeksi garis tegak berpotongan
bidang mendatar dengan permukaan bumi
Sumber: www.slideshare.net

Kontur mempunyai beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai berikut :


Tabel 1. Sifat Kontur
(Yuwono, 2004 : 1-2).
Pada peta kontur terdapat garis-garis kontur yang menunjukkan relief muka
bumi. Peta kontur menunjukkan bentuk-bentuk muka bumi. Bentuk-bentuk muka
bumi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Lereng

Gambar 2. Kenampakan Lereng pada Peta Kontur


Sumber : www.ilmusipil.com

2. Cekungan (Depresi)

Gambar 3. Penampakan Cekungan atau Depresi (kiri) dan pada Peta (kanan)
Sumber : www.ilmusipil.com
3. Bukit

Gambar 4. Bukit pada Peta Kontur


Sumber : www.ilmusipil.com

4. Pegunungan
Gambar 5. Kenampakan Pegunungan pada Peta Kontur
Sumber : www.ilmusipil.com

5. Penampang Melintang Bentuk Muka Bumi

Gambar 6. Penampang Melintang Bentuk Muka Bumi


Sumber : www.ilmusipil.com

Penampang melintang adalah penampang permukaan bumi yang dipotong


secara tegak lurus. Dengan penampang melintang maka dapat diketahui/dilihat secara
jelas bentuk dan ketinggian suatu tempat yang ada di muka bumi. Untuk membuat
sebuah penampang melintang maka harus tersedia peta kontur sebab hanya peta kontur
yang dapat dibuat penampang melintangnya.
Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan lahan yang
sebenarnya. Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal,
kontur-kontur yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai. Jika kontur-
kontur itu memiliki jarak satu sama lain secara tetap, maka kemiringannya teratur.
Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng
disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek. Jika
sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan
memberikan pandangan yang panjang. Jika pada kontur-kontur yang berbentuk
meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah
yang undulasi (bergelombang). Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur
menunjukkan lereng yang patah-patah. Kontur-kontur yang halus belokannya juga
menunjukkan permukaan yang teratur (tidak patah-patah), kecuali pada peta skala
kecil pada umumnya penyajian kontur cenderung halus akibat adanya proses
generalisasi yang dimaksudkan untuk menghilangkan detil-detil kecil (minor).

Penentuan Titik Detil Untuk Pembuatan Garis Kontur


1. Semakin rapat titik detil yang diamati, maka semakin teliti informasi
yang tersajikan dalam peta.
2. Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik detil ditentukan
oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan.
3. Pengukuran titik-titik detail untuk penarikan garis kontur suatu peta
dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
4. Pengukuran tidak langsung titik-titik detail yang tidak harus sama tinggi,
dipilih mengikuti pola tertentu yaitu: pola kotak-kotak (spot level)
dan profil (grid) dan pola radial. Dengan pola-pola tersebut garis kontur dapat
dibuat dengan cara interpolasi dan pengukuran titik-titik detailnya
dapat dilakukan dengan cara tachymetry pada semua medan dan dapat
pula menggunakan sipat datar memanjang ataupun sipat datar profil pada
daerah yang relatif datar. Pola radial digunakan untuk pemetaan topografi pada
daerah yang luas dan permukaan tanahnya tidak beraturan (Muda, 2008).
Salah satu cara untuk membuat peta garis tinggi atau peta kontur yaitu dengan
cara menarik garis yang mempunyai ketinggian yang sama dari data penyebaran titik-
titik ketinggian pada suatu daerah. Penyebaran titik-titik ketinggian tersebut diukur
secara terestrial dengan mengikat salah satu titik ketinggian tersebut dihitung dari
ketinggian di atas permukaan laut. Titik ketinggian tersebut dapat berupa titik
trianggulasi, titik dasar teknik (TDT), titik puncak bukit, titik pada garis pantai sebagai
titik nol atau titik tertentu yang memiliki ketinggian (Setiaji, 2009 : 30).
Bentuk permukaan tanah dapat dinyatakan dengan susunan garis-garis
lengkung horizontal dengan interval tinggi tertentu. Elevasi lapangan dapat diukur
dengan garis-garis lengkung horizontal. Peta-peta topografi mempunyai ketinggian
garis-garis lengkung horizontal yang sama disebut jarak antara garis-garis lengkung
horizontal(Sastrodarsono,2005).

D. Metode Praktikum
1. Pelaksanaan Praktikum
Tempat : Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
Hari, tanggal : Kamis, 12 November 2015
Waktu : 07.30 09.10 WIB
2. Alat dan Bahan

a. Tanah lempung atau d. Kertas


e. Buku tebal
plastisin
f. Buku tipis
b. Selembar karton
c. Pensil

3. Prosedur Kerja
E. Hasil Pengamatan
1) Gambar Ukuran Miniatur
Panjang = 40 cm Puncak II = 12,5 cm
Lebar = 25 cm Skala = 1 : 2.000
Puncak I = 10,5 cm

2) Gambar Hasil Pengamatan

Skala = 1 : 2.000

F. Pembahasan
Praktikum yang berjudul Peta Kontur dilaksanakan pada hari Kamis tanggal
12 November 2015 di Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY, dengan tujuan
mengembangkan konsep representasi bumi, bagian kecil dari bumi pada kertas, serta
mengetahui konsep skala sebagai representasi bentuk miniatur. Berdasarkan tujuan
tersebut, dugaan sementara yang dapat disimpulkan yaitu semakin rapat garis kontur
berarti lereng semakin curam dan sebaliknya semakin renggang garis kontur maka
semakin landai permukaan tersebut.

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktikum ini yang


pertama adalah menyiapkan alat dan bahan. Dalam praktikum ini dibutuhkan
beberapa alat dan bahan. Alat dan bahan yang digunakan berupa plastisin, selembar
kertas karton, pensil, kertas HVS, buku tebal dan buku tipis. Pensil dan kertas HVS
digunakan untuk menggambar peta kontur, sedangkan buku tebal dan buku tipis
digunakan untuk membentuk garis dengan jarak kenaikan ketinggian yang sama yaitu
2 cm. Plastisin dalam hal ini digunakan sebagai bahan dasar pembuatan miniatur
gunung yang telah disiapkan, yang akan menjadi objek menggambar peta kontur.
Dan pada bagian bawahnya diberi kertas karton untuk dasar, seperti pada gambar
berikut.

Setelah menyiapkan alat dan bahan, kemudian mengukur panjang, lebar serta
tinggi miniatur yang digunakan. Kemudian meletakkan sebuah buku tebal di atas
meja di sebelah miniatur gunung. Lalu memposisikan mata tepat di atas buku,
kemudian melihat pada gunung tersebut sembari memberi tanda sekeliling bagian
gunung yang setinggi bagian atas buku dan menghubungkan garis sekeliling gunung
dengan tusuk gigi. Selanjutnya mengulangi langkah 2-4 dengan menambahkan tebal
buku 2 cm hingga mencapai puncak. Lalu mengamati garis yang telah digambar pada
gunung tepat dari bagian atas gunung (tegak lurus). Dan terakhir menggambar sketsa
kenampakan gunung pada kertas jika dilihat dari atas berdasarkan garis-garis yang
sudah digambar pada gunung tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, diperoleh ukuran panjang miniatur 40


cm; lebar sebesar 25 cm; puncak I miniatur sebesar 10,5 cm; dan puncak II miniature
sebesar 12,5 cm. Dan skala miniatur objek 1 : 2.000. Penambahan tinggi dengan
menggunakan buku tebal dan tipis bermaksud supaya interval konturnya tetap 2 cm.
Sehingga diperoleh garis kontur seperti pada gambar berikut.
Gambar Garis Kontur pada Miniatur Gunung
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Garis kontur tersebut dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-
garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar
peta. Karena pada umumnya, peta dibuat dengan skala tertentu, sehingga untuk
membentuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta.
Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak dilakukan untuk melukiskan bentuk
permukaan tanah dan ketinggian pada peta, karena memberikan ketelitian yang lebih
baik.

Garis kontur yang sudah terbentuk pada miniatur kemudian dibentuk menjadi
peta di selembar kertas. Dengan cara mengamati garis-garis kontur tersebut secara
tegak lurus sehingga garis-garis kontur tampak secara keseluruhan. Akan tetapi
dalam menggambar peta perlu memperhatikan skala tertentu untuk membentuk garis
kontur yang sesuai.

Skala pada miniatur menunjukkan perbandingan 1 : 2.000, yang kemudian


diubah menjadi 1 : 4.000 pada peta kontur. Sehingga diperoleh ukuran panjang
sebesar 20,00 cm; lebar sebesar 12,50 cm; puncak I diperoleh 5,250 cm; dan puncak
II diperoleh 6,125 cm. Akan tetapi pada peta, puncaknya tidak akan tampak, sebab
peta kontur bersifat dua dimensi yang hanya dapat dilihat di satu sisi, yang sesuai
dengan teori bahwa fungsi peta kontur ialah menggambarkan relief permukaan bumi.
Gambar Sketsa Kontur Hasil Pengamatan
Sumber : Dokumentasi Pribadi

1. Konsep Representasi Bumi pada Kertas

Gambar Peta Kontur Hasil Pengamatan


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan hasil gambar tersebut dapat diidentifikasi bahwa antargaris


kontur yang terdapat pada miniatur gunung mempunyai interval kontur yang
konstan, yaitu 2 cm setiap kenaikannya. Akan tetapi berdasarkan hasil
pengamatan pada sketsa peta kontur, menunjukkan adanya beberapa garis yang
merenggang dan menyempit antargaris kontur tersebut. Menurut literatur,
menjelaskan bahwa bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan
lahan yang sebenarnya. Kontur-kontur yang saling berdekatan menunjukkan
adanya kemiringan yang terjal, sedangkan kontur-kontur yang saling berjauhan
menunjukkan kemiringan yang landai.

Selain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi tentang garis


kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan bentuknya,
lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung. Lereng dapat pula
berbentuk tegak lurus atau tebing, sehingga bila digambarkan menunjukkan garis
kontur yang saling berimpit. Sedangkan pada garis kontur hasil pengamatan
tidak menunjukkan bentuk cekung, cembung ataupun seragam. Hasil tersebut
menunjukkan bentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan
lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang). Dan kontur-
konturnya yang tampak rapat dan tidak teratur menunjukkan lereng yang patah-
patah. Hal ini sesuai dengan teori pada literatur.

2. Konsep Skala sebagai Representasi Bentuk Miniatur

Berdasarkan pada sketsa kontur hasil pengamatan, menunjukkan skala 1 :


4.000, sehingga diperoleh ukuran panjang sebesar 20,00 cm; lebar sebesar 12,50
cm; puncak I diperoleh 5,25 cm; dan puncak II diperoleh 6,25 cm. Dalam skala
miniatur 1 : 2.000 tinggi puncak I sebesar 10,50 cm, sehingga dalam skala peta 1
: 4.000 tinggi puncak I tersebut sebesar 5,25 cm. Sedangkan panjang, lebar dan
tinggi gunung yang sebenarnya dapat diketahui. Yaitu dengan perhitungan
menggunakan rumus skala peta sebagai berikut.

Sehingga :

Maka gunung pada ukuran sebenarnya adalah sebagai berikut :


a) Panjang gunung sebenarnya (p)
P = skala x jarak panjang pada peta (miniatur)
= 4.000 x 20,00 cm
= 80.000 cm
= 0,80 km

b) Lebar gunung sebenarnya (l)


l = skala x jarak lebar pada peta (miniatur)
= 4.000 x 12,50 cm
= 50.000 cm
= 0,50 km
c) Tinggi gunung puncak I sebenarnya (t1)
t1 = skala x jarak tinggi puncak I pada peta (miniatur)
= 4.000 x 5,25 cm
= 21.000 cm
= 0,21 km
d) Tinggi gunung puncak II sebenarnya (t2)
t2 = skala x jarak tinggi puncak II pada peta (miniatur)
= 4.000 x 6,25 cm
= 25.000 cm
= 0,25 km

Dari hasil di atas, praktikan dapat membuat kontur dari miniature gunung
yang berskala 1: 8.000 dengan panjang 10,00 cm; lebar 6,25 cm; puncak I 2,625
cm; dan puncak II 3,125 cm. Sehingga garis konturnya dapat dilihat pada Peta
Kontur Hasil Pengamatan.

Berdasarkan perhitungan dari rumus skala tersebut dapat dinyatakan


bahwa semakin kecil nilai jarak pada peta (miniatur), maka nilai skala semakin
besar, begitupun sebaliknya, semakin besar nilai jarak pada peta (miniatur),
maka nilai pada skala semakin kecil. Dari hal ini dapat dilihat bahwa hubungan
antara besar nilai jarak pada peta (miniatur) dan nilai skala adalah berbanding
terbalik.

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan praktikum, menyatakan


hasil yang sama dengan hipotesis sebenarnya. Di mana semakin rapat atau
berdekatan garis kontur berarti lereng semakin curam dan sebaliknya, semakin
renggang garis kontur maka semakin landai permukaan tersebut.

G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum yang berjudul Peta Kontur,
dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Konsep representasi bumi, bagian kecil dari bumi pada kertas yaitu kontur-kontur
yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal, sedangkan kontur-kontur
yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai.
2. Konsep skala sebagai representasi bentuk miniatur yaitu semakin kecil nilai jarak
pada peta, nilai skala semakin besar, begitupun sebaliknya, semakin besar nilai
jarak pada peta, nilai pada skala semakin kecil. Dilihat bahwa hubungan antara
besar nilai jarak pada peta dan nilai skala adalah berbanding terbalik.

H. Daftar Pustaka

Basuki, Slamet. 2006. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muda, Iskandar. 2008. Teknik Survei dan Pemetaan. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan.
Pigawati, B., dan Pangi. 2010. Buku Petunjuk Pratikum Kartografi. Semarang : Biro
Penerbit Planologi UNDIP.
Sastrodarsono, Suyono. 2005. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Setiaji, Heri. 2009. Pembuatan Peta Garis Kontur. Yogyakarta: CV Armminco.
Yuwono. 2004. Teknis Pengukuran dan Pemetaan Kota. Surabaya : Institut Teknologi
Sepuluh November.

I. Jawaban Pertanyaan Tugas.


1. Apa yang dimaksud dengan peta kontur ?
Jawab : Peta kontur adalah peta yang menggambarkan ketinggian tempat dengam
menggunakan garis kontur. Sedangkan garis kontur sendiri adalah garis pada
peta yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama.
2. Bagaimana cara membaca peta kontur ?
Jawab : Cara membaca peta kontur
a. Semakin rapat garis konturnya, maka lereng semakin curam
b. Semakin renggang garis konturnya, maka pada keadaan aslinya lereng
semakin landai.
c. Garis kontur tidak bercabang.
d. Garis kontur yang berhimpit menunjukkan lereng yang tegak.
e. Jika yang digambar gunung yang mempunyai kawah, maka posisi kawah
cukup diberi titik dan ditandai ketinggian.
3. Apa maksud ketika garis kontur saling berhimpit ?
Jawab : Ketika garis kontur saling berhimpit menunjukkan lereng yang tegak.