Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN TUTORIAL

BLOK ORAL DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATAN PENYAKIT


SKENARIO 3 KONSERVASI GIGI

Oleh Kelompok Tutorial III (KONSERVASI GIGI)

Tutor : drg. Nadie Fatimatuzzahro MD.Sc.


Anggota : Nindya Shinta Damayanti (Nim:151610101037)

Ibana Rabbiatul Amarina (Nim:151610101064)

Arina Rosyida (Nim:151610101071)

Ratna Dewandari (Nim:151610101077)

Auridho Prasetyo (Nim:151610101081)

Ditha Rizky Ika Putri (Nim:151610101086)

Alifia Wandansari (NIM:151610101101)

Intan Maulia Cahya H. (Nim:151610101103)

Mega Sepatikha Niti (Nim:151610101126)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbilalamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang


telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan Tutorial Skenario 3 Konservasi Gigi. Laporan tutorial ini disusun dengan
tujuan untuk melengkapi hasil tutorial kelompok III serta sebagai bahan
pembelajaran bagi kami.
Penulisan laporan tutorial ini tidak akan selesai tanpa bantuan berbagai
pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. drg. Nadie Fatimatuzzahro MD.Sc.selaku tutor yang membimbing dalam


jalannya tutorial kelompok III Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan telah membantu serta memberi masukan yang bermanfaat
untuk tercapainya tujuan belajar.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini.

Penulisan laporan tutorial ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh
penulis untuk perbaikan-perbaikan agar kedepannya dapat tercipta kesempurnaan
dalam laporan ini. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Minggu, 16 April 2017

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................. ii


Daftar isi ........................................................................................................... iii
Skenario............................................................................................................ 1
Step 1. Clarifiying Unfamiliar Terms .............................................................. 2
Step 2. Problem Definition............................................................................... 3
Step 3. Brain Storming ..................................................................................... 4
Step 4. Analysing The Problem ....................................................................... 6
Step 5. Learning Objective ............................................................................... 7
Step 6. Self-Study .............................................................................................. 8
Step 7. Reporting/Generalisation Learning Objective ..................................... 9
Daftar Pustaka .................................................................................................. 26

iii
SKENARIO KONSERVASI GIGI

SKENARIO 3

Pasien berumur 28 tahun memeriksakan giginya ke klinik pratama.


Mengeluh gigi belakang bawah kiri berlubang dan terasa sakit saat digunakan
untuk mengunyah. Pernah terjadi pembengkakan 6 bulan yang lalu. Hasil
pemeriksaan klinis menunjukkan gigi 36 karies profunda perforasi terdapat fistula
pada gingival bukal. Tes jarum pada saluran akar mesio lingual panjang 17 mm
terasa sakit, sedangkan saluran akar yang lain belum bisa dites jarum. Tes perkusi
dan tekan terasa sakit. Gambaran ronsen tampak seperti dibawah. Selanjutnya
dokter menentukan diagnosa dan merencanakan perawatan.

1
STEP 1
IDENTIFIKASI KATA SULIT
-
Tidak terdapat kata sulit.

2
STEP 2
RUMUSAN MASALAH

1. Mengapa pasien mengeluh sakit saat mengunyah?


2. Mengapa gigi bengkak 6 bulan yang lalu tetapi sekarang tidak sakit dan
terdapat fistula?
3. Bagaimana interpretasi radiologi pada skenario?
4. Mengapa tes jarum, tes perkusi, dan tes tekan terasa sakit?
5. Apakah diagnosa dari skenario?
6. Apakah differential diagnosa (DD) serta rencana perawatan pada skenario?

3
STEP 3
BRAINSTORMING

1. Pasien mengeluhkan terasa sakit saat mengunyah disebabkan akibat karies


pada gigi 36 yang sudah mencapai profunda perforasi, dimana pulpa dari gigi
tersebut telah terbuka. Pada pulpa terdapat pembuluh darah dan syaraf
sehingga saat pasien mengunyah makanan, tekanan yang diakibatkan dari
proses penyunyahan tersebut dapat mengenai pulpa yang terbuka akibat karies
profunda perforasi. Selanjutnya tekanan tersebut diterima oleh pembuluh darah
dan serabut syaraf yang terdapat pada pulpa sehingga pasien merasakan sakit
pada giginya yang berlubang pada saaat mengunyah. Dari hasil pemeriksaan
tes jarum juga dapat disimpulkan bahwa gigi pasien mengalami nekrosis pulpa
parsialis karena pasien merasa sakit sebelum jarum miller mencapai apikal
gigi. Jadi terdapat 2 faktor kemungkinan yang menyebabkan pasien merasa
sakit saat mengunyah, yang pertama karena terdapat serabut syaraf pada akar
gigi yang masih vital (belum mengalami nekrosis). Yang kedua pada akar yang
lain yang sudah nonvital terdapat abses pada periapikal gigi, abses yang
merupakan kumpulan pus dan jaringang nekrotik ini dapat menekan jaringan di
sekitarnya sehingga juga dapat menibulkan rasa sakit apalagi saat terjadi proses
pengunyahan.
2. Saat gigi bengkak 6 bulan lalu terasa sakit karena adanya akumulasi pus (yang
menyebabkan bengkak) yang memberi gaya atau tekanan ke segala arah yang
dapat menekan saraf sehingga terasa sakit. Selain itu rasa sakit juga dapat
disebabkan oleh bakteri plak yang menghasilkan mediator-mediator inflamasi.
Sedangkan saat ini sudah tidak terasa sakit karena adanya fistula, dimana
fistula ini merupakan saluran tempat keluarnya pus. Karena pus tersebut sudah
menemukan jalan keluar sehingga akumulasi pus tersebut akan berkurang dan
tidak lagi menekan saraf yang menyebabkan rasa sakit berkurang.
3. Dari hasil gambaran radiografi menunjukkan adanya karies profunda perforasi
yang dibuktikan dengan gambaran radiolusen yang telah mencapai pulpa. Dari
hasil gambaran radiografi juga tampak adanya resorbsi tulang dengan pola
horizontal. Pada bagian furkasi dan apikal gigi juga tampak adanya gambaran

4
radiolusen yang dapat diinterpretasikan sebagai abses. Selain itu juga tampak
adanya jarum miller yang sudah masuk sampai ke saluran akar mesio lingual
gigi 36 tetapi belum mencapai apeks gigi sehingga dapat disimpulkan gigi
masih vital.
4. Pada pemeriksaan tes jarum pasien merasa sakit saat jarum miller memasuki
akar mesio lingual sepanjang 17 mm. Hal ini berarti gigi tersebut masih
memiliki bagian yang vital karena panjang rata-rata gigi molar pada orang
dewasa yaitu sekitar 21,5 mm. Sedangkan tes perkusi dan tekan terasa sakit
membuktikan adanya proses inflamasi atau peradangan pada periapikal dan
jaringan periodontal di sekitar gigi tersebut.
5. Diagnosis gigi 36 pada skenario berdasarkan hasil pemeriksaan klinis yang
telah dilakukan yaitu nekrosis pulpa parsialis. Berdasarkan hasil tes jarum
dimana jarum miller masuk ke saluran akar dan pasien merasa sakit sebelum
jarum mencapai apikal gigi serta hasil tes tekan dan perkusi yang juga
menunjukkan hasil positif.
6. Differential dignosis yang mungkin yaitu periodontitis apikalis dan pulpitis
irreversible. Rencana perawatan yang bisa dilakukan adalah perawatan saluran
akar (PSA). Tahapan perawatan saluran akar secara ringkas terdiri dari proses
preparasi, sterilisasi, dan pengisian saluran akar. Perawatan saluran akar yang
tepat sesuai skenario yaitu pulpektomi non vital (endointrakanal) karena gigi
masih memiliki bagian yang vital (nekrosis pulpa pasrsialis). Karena kasus
pasien merupakan lesi endo-periomaka juga bisa dilakukan skalling untuk
menghilangkan kalkulus pada gigi sehingga dapat memperbaiki OH pasien dan
tidak memperparah periodontitis yang sudah terjadi.

5
STEP 4
MAPPING

GIGI 36 KARIES

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN KLINIS

EKSTRA ORAL INTRA ORAL

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DIAGNOSIS

DD

RENCANA PERAWATAN PROGNOSIS

6
STEP 5
LEARNING OBJECTIVE

Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan :


1. Proses anamnesa yang baik dan benar
2. Cara dan tahapan pemeriksaan klinis
3. Menentukan pemeriksaan penunjang yang tepat
4. Cara mendiagnosa dan menentukan differential diagnosis pasien dengan
tepat berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis
5. Menentukan rencana perawatan yang tepat bagi pasien

7
STEP 6
SELF STUDY

8
STEP 7

REPORTING/GENERALISATION LEARNING OBJECTIVE

LO 1. Proses anamnesa yang baik dan benar


Anamnesis berasal dari kata ana yang artinya hal-hal yang telah terjadi dan
nesa artinya ingatan. Dibedakan 2 anamnesis yaitu :

1. Auto anamnesis yang berasal dari penderita sendiri


2. Allo anamnesis yang berasal dari orang lain seperti keluarga, polisi,
penduduk lain. Dikerjakan pada keadaan sebagai berikut: Pasien dengan
penurunan atau perubahan kesadaran. Pasien bayi, anak-anak atau orang
sangat tua Untuk konfirmasi auto anamnesis Anamnesis awalpenderita
yang anda periksa, umur, jenis kelamin, suku bangsa, status perkawinan,
pekerjaan, tempat tinggal, dokter yang merujuknya harus pula anda catat
pada saat pemeriksaan dilakukan. Jika ini bukan merupakan kunjungan
yang pertama, maka jumlah serta tanggal kunjungan sebelumnya harus
juga anda catat. Tambahkan pula suatu pernyataan yang menerangkan
sejauh mana seluruh keterangan yang diberikan oleh penderita dan pelapor
dapat dipercaya.

Riwayat maupun pemeriksaan tersebut harus pula ditandatangani dan


diberi keterangan kedudukan orang yang melakukan pemeriksaan. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah pernyataan dengan bahasa sendiri sebagai penyebab utama
pasien untuk mencari bantuan kesehatan. Keluhan utama dapat berupa nyeri
(seperti nyeri perut), gejala tidak enak (seperti kelelahan), kehilangan fungsi
normal (seperti fungsi kandung kemih), perubahan dari tubuh (seperti bengkak)
atau keluhan kejiwaan (seperti cemas, depresi), yang tidak harus merupakan
masalah sebenarnya. Keluhan utama yang dinyatakan oleh pasien merupakan
dasar utama untuk memulai evaluasi masalah pasien. Keluhan tersering yang
membuat seseorang datang ke dokter adalah nyeri atau yang erat hubungannya
dengan ketidaknyamanan. Tulislah pernyataan singkat, sejauh mungkin dengan
mempergunakan kalimat yang dipakai oleh penderita itu sendiri, mengenai apa
sebenarnya yang tengah dialaminya, dengan mengemukakan gejalagejala atau

9
tanda-tanda serta berapa lama semua gejala-gejala serta tandatanda tersebut sudah
berlangsung.

Hindarkan, jika memungkinkan, penggunaan kata-kata atau ungkapan-


ungkapan yang menggambarkan suatu diagnosis atau yang mempunyai kaitan
diagnostik murni. Lama waktu terjadinya keluhan utama harus ditanyakan.
Apakah gangguan yang dialaminya bersifat akut atau kronis? Beberapa penyakit
timbul dan berakhir secara mendadak, sedangkan penyakit lain mulai secara
perlahan dan tidak nyata. Sudah pasti penting untuk mengetahui dengan baik
lokasi rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman tersebut. Lokalisasi rasa nyeri atau
ketidaknyamanan akan membantu memusatkan perhatian kita kepada organ atau
daerah tertentu. Apakah rasa nyeri tersebut tetap terlokalisir ataukah merambat
atau memancar ke daerah yang lain. Perkembangan gejala-gejala berkaitan erat
dengan lamanya penyakit. Apakah gangguan berkembang cepat atau lambat?
Apakah gejala bertambah baik pada waktu-waktu tertentu, sedangkan waktu lain
malah bertambah buruk? Perhatikan sifat rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman
yang dikeluhkan oleh pasien. Apakah rasa nyeri bersifat tajam atau tumpul?
Apakah yang dikeluhkan benar-benar rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman
belaka. Tetapkan dengan pasti pengaruh kegiatan-kegiatan normal terhadapgejala.
Apakah pengaruh sikap tubuh terhadap gejala tersebut? Tidur, makan dan istirahat
apakah mempengaruhi rasa sakit/ ketidaknyamanan tersebut? Riwayat Penyakit
Sekarang(RPS) RPS adalah rincian gambaran dari keluhan utama pasien dengan
sasaran untuk mendapatkan hubungan dan gambaran umum bagaimana keluhan
utama pasien terjadi. Yang paling penting adalah fungsinya sebagai sumber
informasi yang hakiki untuk membuat diagnosis. Bila, mengapa dan bagaimana
penderita sampai menjadi sakit? Rinci kronologis yang disusun secara ringkas,
semua keterangan yang berhasil dikumpulkan yang mempunyai kaitan dengan
permulaan timbulnya penyakit, maupun perjalanan penyakit. Bila mungkin,
pancing serta korek pengertian serta pemahaman yang dimiliki oleh penderita
tentang penyakit yang tengah dialaminya tersebut serta harapan-harapan yang
terkandung dalam dirinya mengenai kunjungan ini. Untuk membuat RPS ada 7
dimensi dari gejala klinik yang harus ditanyakan dalam anamnesa, yaitu :

10
1. Lokasi : Dimana lokasi masalah tersebut? Apakah ada penjalaran? Contoh
: Tolong tunjukkan dengan satu jari dimana lokasi nyeri yang tepat?
2. Kualitas : Seperti apa keluhan tersebut dan bagamana rasanya ? Apakah
tajam atau tumpul, hilang timbul atau menetap?
3. Kuantitas/beratnya : Seberapa berat penyakitnya?. Misalnya beratnya nyeri
dengan skala 1 sampai 10 dimana skala 1 tidak nyeri sedangkan 10 sangat
nyeri.
4. Kronologis/waktu : Kapan gejala atau masalah mulai?.Bagaimana
kejadiannya? Misalnya pada nyeri dada perlu ditanyakan pertama kali
terjadi atau sebelumnya pernah terjadi. Pada diare ditanyakan berapa kali
mencretnya.
5. Kejadian yang memperberat keluhan : Misalnya pada ulkus ventrikuli
diperberat dengan makan pedas, nyeri dada bertambah pada saat bekerja
dan sebagainya
6. Kejadian yang memperingan keluhan : Misalnya pada gastritis nyeri
uluhati berkurang dengan makan dan sebagainya
7. Gejala klinik yang menyertai : Misalnya kolik ureter disertai dengan
kesulitan defekasi

LO 2. Cara dan tahapan pemeriksaan klinis

PEMERIKSAAN
1. Keadaan Umum
a. Berdasarkan keadaan kondisi fisik pasien
Contoh:
- Baik, apabila kondisi sehat.
- Pucat, lemah,letih, anoreksia, dll

b. Tanda-
tanda vital:
TD : Tekanan Darah (Sistole/Diastole).
- R : Respirasi (Pernafasan/menit)
N : Denyut Nadi/menit.

11
T : Suhu Tubuh.
BB : Berat Badan (kg).
TB : Tinggi Badan (cm)

2. Klinis
a. Ekstra oral
1. Kondisi Wajah
Berdasarkan hasil pemeriksaan visual wajah pasien.
Normal
Asimetri dll
o Kepala dan Leher
o Berdasarkan hasil pemeriksaan visual wajah pasien.
o

2. Kelenjar limfe
Berdasarkan hasil pemeriksaan palpasi pada pasien dengan cara palpasi
pada kelenjar limfe.
- Normal
- Teraba, konsistensi (lunak/keras), sakit/tidak.
3. Kelenjar Saliva
Berdasarkan hasil pemeriksaan palpasi pada pasien.
- Normal
- Teraba, konsistensi (lunak/keras), sakit/tidak.
4. Sendi Temporo Mandibular
Sendi temporomandibula diperiksa dengan 3 kategori:
- Pergerakan mandibula membuka
dan menutup mulut
- Pergerakan mandibula ke segala arah
- Kemampuan membuka mulut

12
b. Intra oral
1. Kebersihan rongga mulut
Cara Pemeriksaan OHI-S (Green and Vermilion,1964) :
OHI-S terdiri dari dua komponen: Debris Index-Simplified (DI-S)
dan Calculus Index-Simplified (CI-S). Masing-masing komponen
mempunyai skala 0-3. Gigi yangdiperiksa ada 6 buah, dengan perincian,
4 gigi diperiksa permukaan fasialnya (molarsatu atas kanan, insisivus
satu atas kanan, molar satu atas kiri dan insisivus satu bawah kiri) dan
dua gigi diperiksa pada permukaan lingualnya (molar satu bawah kanan
dan kiri). Masing-masing permukaan gigi secara horisontal menjadi 3
bagianyaitu, daerah sepertiga gingiva (gingival third), daerah sepertiga
bagian tengah (middlegingiva) dan daerah sepertiga bagian insisal
(incisal third).
Penilaian DI-S
Eksplorer mula-mula diletakkan pada permukaan gigi daerah
sepertiga insisal dan digerakkan menuju daerah sepertiga gingiva.
Skoring untuk DI-S sesuai dengan kriteria-kriteria berikut:
0 :tak terdapat debris atau stain
1 :terdapat debris lunak yang menutupi tidak lebih dari 1/3
permukaan gigi atau terdapatnya stain yang menutupi permukaan
gigi.
2 :terdapat debris lunak lebih dari 1/3 bagian permukaan gigi,
tetapi tidak lebih dari 2/3 permukaan.
3 : terdapat debris lunak menutupi lebih dari 2/3 bagian
permukaan gigi.

Skor DI-S per individu didapatkan dengan cara:


Menjumlahkan skor per permukaan gigi dan membaginya dengan
jumlah permukaan gigi yang diperiksa.
Penilaian CI-S
Penilaian CI-S dilakukan dengan meletakkan eksplorer secara hati-
hati, pada crevice distolingual, menuju daerah subgingiva dan

13
menggerakkannya dari daerahkontak bagian distal ke mesial (meliputi
daerah separuh keliling gigi). Skoring untuk CI-S sesuai dengan kriteria
berikut:
0 : tak terdapat kalkulus
1 : terdapat kalkulus supragingiva yang menutupi tidak lebih dari 1/3
bagian permukaan gigi
2 : terdapat kalkkulus supragingiva yang menutupi lebih dari 1/3
permukaan tetapi tidak lebih dari 2/3 permukaan atau terdapat
bercak kalkulus individual yang terletak subgingiva di sekitar
bagian leher gigi, atau keduanya
3 : terdapat kalkulus supragingiva yang menutupi lebih dari 2/3
bagian permukaan gigi atau adanya kalkulus subgingiva yang
tebal dan melingkar atau keduanya

Kriteria Klinis OHI-S


Skor OHI-S per individu adalah total dari skor DI-S dan CI-S.
Tingkat kebersihan mulut secara klinis dalam kaitannya dengan nilai
OHI-S adalah sebagai berikut:

Nilai Kriteria klinis


0,0 1,2 Baik
1,3 3,0 Sedang
3,1 6,0 Jelek

Catatan:

a. Apabila salah satu gigi anterior tersebut diatas tidak ada, boleh
dipilih gigi insisivus satu atas kiri dan insisivus satu kanan bawah
atau insisivus kedua;
b. Apabila gigi molar pertama tidak ada, dapat digantikan oleh gigi
disebelahnya yaitu premolar atau molar kedua;

14
c. Gigi yang telah diberi mahkota tiruan, dan gigi yang tingginya
berkurang karena karies, tak dapat dinilai, ditentukan gigi lain;
d. Debris lunak dipermukaan oklusal dan insisal tidak dinilai,
karenanya dapat diabaikan.

2. Pemeriksaan Gigi dan Jaringan Periodontal\


Pemeriksaan gigi dilakukan menggunakan instrumen kemudian ditulis
hasilnya yang merupakan gigimemerlukan perawatan berdasarkan
keluhan utama pasien,selanjutnya gigi-gigi lain yang berdasarkan hasil
pemeriksaan juga memerlukanperawatan untuk mengembalikan fungsi
stomatognatik yang optimal. Kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap
jaringan periodontal.
Contoh Pemeriksaan Gigi dan Jaringan Periodontal
1. Pemeriksaan Gigi geligi
- Gigi : Contoh: 25
: KS (Karies Superfisial), KM (karies
- Kedalaman karies media), KP (Karies
Perofunda), KPP (Karies Perforasi
Profunda).
- Test Panas/Dingin : +/-/0
- Vitalitester : hasil pemeriksaan EPT
- Test Jarum Miller : +/-/0
- Perkusi : +/-/0
- Tekanan : + / - /0
- Fraktur mahkota : Jika terdapat fraktur ditulis ada.

2. Pemeriksaan Jaringan Periodontal


Warna : ditulis sesuai warna gingiva.
Contoh:
Coral pink (CP), kemerahan (M),
merah kebiruan(MB), merah pucat
(MP).

15
LO 3. Menentukan pemeriksaan penunjang yang tepat

Radiografi Kedokteran gigi


Radiografi di kedokteran gigi ada dua macam yaitu radiografi intra oral
dan radiografi ekstraoral.
A. Radiografi Intraoral.
Radiografi intraoral adalah radiografi yang memperlihatkan gigi dan
struktur disekitarnya, dengan cara menempatkan filmnya didalam rongga.
Pemeriksaan intraoral merupakan pokok dari dental radiografi.
Jenis-jenis radiografi intraoral:
1. Radiografi periapikal
Pemeriksaan radiografi periapikal merupakan teknik pemeriksaan
radiografi yang paling rutin dilakukan di kedokteran gigi. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk memeriksa gigi (crown dan root) serta jaringan disekitarnya.
2. Radiografi interproksimal (bitewing)
Teknik radiografi bitewing bertujuan untuk memeriksa crown, crest
alveolar di maksila dan mandibula dalam satu film.
3. Radiografi Oklusal
Radiografi oklusal bertujuan untuk melihat area yang lebih luas lagi yaitu
maksila atau mandibula dalam satu film.
B. Radiografi ekstraoral.
Merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas dari kepala dan rahang.
Radiografi ini menggunakan film khusus yang diletakkan di luar mulut.
Salah satu macam radiografi ekstraoral:
1. Panoramik
Radiografi panoramik digunakan untuk melihat perluasan suatu lesi/tumor,
fraktur rahang,fase gigi bercampur. Panoramik akan memperlihatkan daerah yang
lebih luas dibandingkan intraoral.
Interpretasi radiografi pada kasus di skenario:
1. Terdapat gambaran radiolusen pada sisi distal gigi 36 menunjukkan kavitas
yang besar sudah mencapai atap pulpa
2. Terdapat resorpsi tulabg tipe horizontal

16
3. Terdapat gambaran radiolusen, batas diffuse pada bagian furkasi akar gigi 36
kemungkinan adanya abses
4. Terdapat gambaran radiolusrn pada apeks bagian distal gigi 36 menunjukkan
adanya abses
5. Putusnya lamina dura / lamina dura sudah hilang kontiunitasnya

LO 4. Cara mendiagnosa dan menentukan differential diagnosis pasien


dengan tepat berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis

Diagnosis Nekrosis Pulpa


Radiograf umumnya menunjukan suatu kavitas atau tumpatan besar, suatu
jalan terbuka ke saluran akar dan suatu penebalan ligament periodontal. Diagnosis
dari nekrosis pulpa parsial adalah tes termis (bereaksi atau tidak bereaksi), tes
jarum Miller (bereaksi), dan pemeriksaan rontgenologis (terlihat adanya
perforasi). Pada kasus nekrosis pulpa parsialis pasien akan merasa sakit ketika
jarum miller dimasukkan ke saluran akar sebelum jarum mencapai apikal gigi
yang berarti masih terdapat bagian pulpa yang vital. Sedangkan pada kasus
nekrosis pulpa totalis pasien tidak akan merasa sakit meskipun jarum miller telah
masuk ke saluran akar sampai ke apikal gig atau sampai panjang rata-rata gigi
yang menunjukkan seluruh bagian gigi sudah mati (no-vital). Pada pemeriksaan
subyektif biasanya gigi berlubang, kadang-kadang sakit bila kena rangsang panas,
bau mulut (halitosis), gigi berubah warna.

Gejala dan tanda dari nekrosis pulpa adalah :


1. Diskolorisasi gigi, merupakan indikasi pertama terjadinya kematian
jaringan pulpa. Biasanya terjadi pada nekrosis pulpa total.

Tampak diskolorasi pada gigi 21 dengan nekrosis pulpa

17
2. Riwayat dari pasien, seperti oral hygiene, pulpitis yang tidak diterapi,serta
riwayat trauma. Pada gigi yang mengalami trauma, tidak terdapatrespon
terhadap tes pulpa. Hal ini menyerupai tanda pada nekrosispulpa. Riwayat
pasien menunjukkan nyeri hebat yang bisaberlangsung untuk beberapa
saat diikuti oleh berakhirnya nyeri secaratotal dan tiba-tiba.
3. Gejala pada gigi biasanya asimtomatik. Tidak terdapat nyeri padanekrosis
total. Pada nekrosis sebagian dapat simptomatik atau ditemuinyeri.

Pemeriksaan didapatkan hasil :


1. Radiografi
Pemeriksaan radiografi menunjukkan kavitas yang besar ataurestorasi,
atau juga bisa ditemui penampakan normal kecuali jika adaperiodontitis
apikal atau osteitis.
2. Tes vitalitas
Gigi tidak merespon terhadap tes vitalitas, namun gigi dengan akarganda
dapat menunjukkan respon campuran, bila hanya satu saluranakar yang
mengalami nekrosis. Gigi dengan nekrosis pulpamemberikan respon
negatif terhadap stimulasi elektrik maupunrangsang dingin, namun dapat
memberikan respon untuk beberapasaat terhadap rangsang panas.
3. Pemeriksaan fisik
Gigi menunjukkan perubahan warna seperti suram atau opak
yangdiakibatkan karena kurangnya translusensi normal.
4. Histopatologi
Terdapat jaringan pulpa yang nekrosis, debris selular, danmikroorganisme
terlihat di pulpa. Apabila terdapat jaringanperiodontal yang terlibat, maka
akan menunjukkan gambaraninflamasi atau sel radang.

LO 5. Menentukan rencana perawatan yang tepat bagi pasien


PULPEKTOMI

Merupakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dari kamar pulpa dan saluran
akar. Pada gigi molar sulung pengambilan seluruh jaringan secara mekanis tidak

18
memungkinkan sehubungan bentuk morfologi saluran akar yang kompleks.
Pulpektomi dapat dilakukan dengan 3 cara :

1) Pulpektomi vital.
2) Pulpektomi devital.
3) Pulpektomi non vital.

Indikasi 1) Gigi sulung dengan infeksi melebihi kamar pulpa pada gigi vital
atau non vital. 2) Resorpsi akar kurang dari 1/3 apikal. 3) Resorpsi interna tetapi
belum perforasi akar. 4) Kelanjutan perawatan jika pulpotomi gagal. Pedodonsia
Terapan 22 Kontra indikasi 1) Bila kelainan sudah mengenai periapikal. 2)
Resorpsi akar gigi yang meluas. 3) Kesehatan umu tidak baik. 4) Pasien tidak
koperatif. 5) Gigi goyang disebabkan keadaan patologis Pilihan kasus pulpektomi
untuk gigi sulung yaitu pada gigi yang pulpanya telah mengalami infeksi dan
jaringan pulpa di saluran akar masih vital.

Jika dibiarkan dalam keadaan ini pulpa mengalami degenerasi / nekrose yang
akan menimbulkan tanda dan gejala negatif, keadaan akan berkelanjutan.
Pulpektomi masih dapat dilakukan tetapi keberhasilannya akan menurun karena
degenerasi pulpa bertambah luas.

Indikasi tersebut di atas ada hubungan dengan faktor faktor lainnya seperti :
Berapa lama gigi masih ada di mulut. Kepentingan gigi di dalam mulut (space
maintainer). Apakah gigi masih dapat direstorasi. Kondisi jaringan apikal.
Pulpektomi dilakukan dengan beberapa prosedur : Untuk gigi sulung vital 1 kali
kunjungan. Untuk gigi sulung non vital beberapa kali kunjungan. Pedodonsia
Terapan 23 Teknik pulpektomi disebut partial atau total tergantung penetrasi
instrumen saluran akar. Bahan pengisi saluran akar : ZnO eugenol Kalsium
hidroksid Syarat bahan pengisi saluran akar gigi sulung : Dapat diresorpsi sesuai
kecepatan resorpsi akar. Tidak merusak jaringan periapikal. Dapat diresorpsi
bila overfilling. Bersifat antiseptik. Bersifat hermetis dan radiopak. Mengeras
dalam waktu yang lama. Tidak menyebabkan diskolorasi. Hal hal yang harus
diperhatikan pada perawatan pulpektomi : Diutamakan memakai file daripada
reamer. Memakai tekanan yang ringan untuk menghindari pengisian saluran akar

19
yang berlebihan (overfilling). Diutamakan sterilisasi dengan obat obatan
daripada secara mekanis. Pemakaian alat alat tidak sampai melewati bagian
apikal gigi

3). Pulpektomi non vital Definisi : Gigi sulung yang dirawat pulpektomi non vital
adalah gigi sulung dengan diagnosis gangren pulpa atau nekrose pulpa.
Pedodonsia Terapan 28 Indikasi 1) Mahkota gigi masih dapat direstorasi dan
berguna untuk keperluan estetik. 2) Gigi tidak goyang dan periodontal normal. 3)
Belum terlihat adanya fistel. 4) Ro-foto : resorpsi akar tidak lebih dari 1/3 apikal,
tidak ada granuloma pada gigi-geligi sulung. 5) Kondisi pasien baik. 6) Keadaan
sosial ekonomi pasien baik. Kontra indikasi 1) Gigi tidak dapat direstorasi lagi. 2)
Kondisi kesehatan pasien jelek, mengidap penyakit kronis seperti diabetes, TBC
dan lain-lain. 3) Terdapat pembengkokan ujung akar dengan granuloma (kista)
yang sukar dibersihkan. Kunjungan pertama : 1) Ro-foto dan isolasi daerah kerja.
2) Buka atap pulpa dan setelah ruang pulpa terbuka, jeringan pulpa diangkat
dengan file Hedstrom. 3) Instrumen saluran akar pada kunjungan pertama tidak
dianjurkan jika ada pembengkakkan, gigi goyang atau ada fistel. 4) Irigasi saluran
akar dengan H2O2 3% keringkan dengan gulungan kapas kecil. Pedodonsia
Terapan 29 5) Obat anti bakteri diletakkan pada kamar pulpa formokresol atau
CHKM dan diberi tambalan sementara. Kunjungan kedua (setelah 2 10 hari ) :
1) Buka tambaln sementara. 2) Jika saluran akar sudah kering dapat diisi dengan
ZnO dan eugenol formokresol (1:1) atau ZnO dan formokresol. 3) Kemudian
tambal sementara atau tambal tetap. Jumlah kunjungan, waktu pelaksanaannya
dan sejauh mana instrumen dilakukan ditentukan oleh tanda dan gejala pada tiap
kunjungan. Artinya saluran sakar diisi setelah kering dan semua tanda dan gejala
telah hilang. Kriteria Keberhasilan Perawatan Pulp capping direk dan Pulp
capping indirek Gigi yang dirawat dan jaringan sekitar tidak terdapat gejala
infeksi. Gigi yang dirawat tidak sakit, tidak goyang, jaringan penyangga gigi
normal.Gambaran Ro-foto tidak menunjukkan perubahan patologi dari apikal dan
tulang alveolus jaringan keras terkalsifikasi akan terlihat di daerah dekat pulpanya
diberi kalsium hidroksid.

20
Restorasi merupakan perawatan untuk mengembalikan struktur anatomi
dan fungsi pada gigi, yang disebabkan karies, fraktur, atrisi, abrasi dan erosi.
Restorasi dapat dibagi atas dua bagian yaitu plastis dan rigid. Restorasi plastis
adalah teknik restorasi dimana preparasi dan pengisian tumpatan dikerjakan pada
satu kali kunjungan, tidak memerlukan fasilitas laboratorium dan murah.
Tumpatan plastis cenderung digunakan ketika struktur gigi cukup banyak untuk
mempertahankan integritas dengan bahan tumpatan. Restorasi rigid merupakan
restorasi yang dibuat di laboratorium dental dengan menggunakan model cetakan
gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini
membutuhkan kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga
lebih mahal untuk pasien.

Gigi pasca perawatan saluran akar menjadi lebih lemah karena adanya
pembuangan jaringan dentin di mahkota dan saluran akar, yang menyebabkan
perubahan komposisi struktur gigi. Hilangnya struktur gigi akibat prosedur
perawatan akan mengurangi kekerasan gigi sebanyak 5%, sementara hilangnya
jaringan mahkota menyebabkan kelenturan berkurang sampai dengan 60%.
Kekuatan pada gigi pasca perawatan saluran akar, tidakdipengaruhi pada prosedur
perawatan saluran akar, akan tetapi preparasi yang luas dapat menyebabkan
berkurangnya kekuatan gigi.

Restorasi akhir gigi pasca perawatan saluran akar merupakan bagian


integral kunci keberhasilan.Berdasarkan kenyataan bahwa kegagalan lebih sering
disebabkan restorasi yang tidak adekuat dibanding hasil perawatan saluran
akarnya sendiri.Restorasi yang ideal harus dapat melindungi permukaan oklusal
dan menggantikan tonjol- tonjol yang hilang agar dapat secara optimal melindungi
struktur mahkota gigi dan menambah ketahanan.

Pada gigi yang pasca perawatan saluran akar lebih banyak memakai
restorasi rigid. Oleh karena banyak masalah-masalah restorasi yang memerlukan
pemecahan dan batasan-batasan tertentu yang tidak dapat diselesaikan dengan
menggunakan restorasi plastis. Karena untuk masing-masing restorasi diperlukan
dukungan dari gigi. Bila dukungan dari gigi terbatas atau bahkan tidak ada,
restorasi rigid merupakan restorasi pilihan.

21
Restorasi rigid dapat dibagi menjadi restorasi ektrakoronal, intrakoronal
dan interadikuler

Restorasi Ekstrakoronal
Salah satu contoh restorasi ekstrakoronal yaitu mahkota penuh atau complete
crown. Complete crown merupakan restorasi yang menutupi seluruh
permukaan mahkota klinis dari suatu gigi asli. Terdapat berbagai jenis
complete crown, diantaranya:
A. All metal crown
Mahkota ini sering disebut dengan mahkota tuang penuh atau full cast
crown. Merupakan suatu restorasi yang menyelubungi permukaan gigi
dari logam campur yang dituang.Indikasinya yaitu untuk gigi molar dan
premolar rahang atas dan bawah, penderita dengan oklusi dan artikulasi
yang berat, tekanan kunyah besar, tidak memerlukan estetik, gigi dengan
karies servikal, dekalsifikasi, dan enamel hipoplasi.Kontraindikasinya
yaitusisa mahkota gigi tidak cukup terutama pada gigi dengan pulpa vital,
memerlukan estetik pasien dengan OH buruk sehingga restorasi mudah
tarnish, gusi sensitif terhadap logam.

Gambar 1. Mahkota emas tuang penuh


B. All ceramic crown (mahkota porselen)
Teknologi porselen gigi merupakan bidang ilmu paling cepat
perkembangannya dalam bahan kedokteran gigi. Porselen gigi umumnya
digunakan untuk memulihkan gigi yang rusak ataupun patah dikarenakan
faktor estetiknya yang sangat baik, resistensi pemakaian, perubahan
kimiawi yang lambat, dan konduktifitas panas yang rendah. Terlebih lagi,
porselen mempunyai kecocokan yang cukup baik dengan karakteristik
struktur gigi.6 Komposisi porselen gigi konvensional adalah keramik

22
vitreus (seperti kaca) yang berbasis pada anyaman silica (SiO2) dan
feldspar potas (K2O.Al2O3.6SiO2) atau feldspar soda
(Na2O.Al2O3.6SiO2) atau keduanya. Pigmen, bahan opak dan kaca
ditambahkan untuk mengontrol temperatur penggabungan, temperatur
sintering, koefisien ekspansi thermal, dan kelarutan. Feldspar yang
digunakan untuk porselen gigi relatif murni dan tidak berwarna. Jadi
harus ditambahkan pigmen untuk mendapatkan corak dari gigi-gigi asli
atau warna dari bahan restorasi sewarna gigi yang sesuai dengan gigi-gigi
tetangganya.7Mahkota porselen mempunyai nilai estetik tinggi, tidak
mengalami korosi, tingkat kepuasan pasien tinggi, namun biayanyamahal
dan kekuatan rendah dibandingkan dengan mahkota metal-porselen.
Indikasinya membutuhkan estetik tinggi, Tooth discoloration,malposisi,
gigi yang telah dirawat endodonsi dengan pasak dan
inti.Kontraindikasinya yaituindeks karies tinggi, distribusi beban di
oklusal tidak baik, dan bruxism.

Gambar 2. All Ceramics Crown

C. Porcelain fused to metal


Pemilihan restorasi porselen fused to metal sebagai restorasi akhir
pasca perawatan saluran akar karena mampu memberikan keuntungan
ganda, yaitu dari segi kekuatan dan dari segi estetik. Lapisan logam
sebagai substruktur mahkota jaket porselen fused to metal akan
mendukung lapisan porselen di atasnya sehingga mengurangi sifat getas
(brittle) dari bahan porselen, memiliki kerapatan tepi dan daya tahan
yang baik. Sementara lapisan porselen akan memberikan penampilan
yang estetik. Gigi pasca perawatan saluran akar yang direstorasi dengan

23
mahkota porselen fused to metal tingkat keberhasilan perawatannya
tinggi.

Gambar 3. Porcelain Fused to Metal

Restorasi Intrakoronal
A. Inlay dan Onlay Logam
Inlay merupakan restorasi intrakoronal bila kerusakan mengenai
sebagian cuspatau tambalan yang berada di antara cusp, sehingga
ukurannya biasanya tidak begitu luas. Onlay merupakan restorasi
intrakoronal bila kerusakan mengenai lebih dari 1 cusp atau lebih dari 2/3
dataran oklusal karena sisa jaringan gigi yang tersisa sudah lemah.

Gambar 3. Perbedaan inlay dan onlay


B. Inlay dan Onlay Porselen
Restorasi inlay dan onlay porselen menjadi populer untuk restorasi
gigi posterior dan memberikan penampilan estestik yang lebih alamiah
dibandingkan dengan inlay dan onlay logam tuang dan lebih tahan abrasi
dibandingkan dengan resin komposit. Porselen tidak sekuat logam tuang
tetapi jika sudah berikatan dengan permukaan email akan menguat pada
gigi dengan cara yang sama seperti pada restorasi resin berlapis komposit
atau semen ionomer-resin komposit.

24
Gambar 4. Inlay Porselen
C. Inlay dan Onlay Komposit (indirect)
Restorasi dengan resin komposit dapat dilakukan secara indirect (tidak
langsung), yaitu berupa inlay dan onlay. Bahan resin komposit untuk
tambalan inlay lebih sering digunakan daripada pemakaian bahan keramik,
sebab kekerasan bahan keramik menyebabkan kesulitan apabila diperlukan
penyesuaian oklusal atau kontur, mudah pecah saat pemasangan percobaan
sehingga menyulitkan operator. Sedangkan resin komposit dapat dipoles
kembali dengan mudah dan efektif, lebih murah serta restorasi yang
berlebihan pada daerah gingival dapat dibuang hanya dengan menggunakan
hand instrument.Indikasinya:menggantikan tambalan lama (amalgam) dan
atau yang rusak dengan memperhatikan nilai estetik terutama pada restorasi
gigi posterior, memperbaiki restorasi yang tidak sempurna atau kurang baik,
serta fraktur yang terlalu besar dan apabila pembuatan mahkota bukan
merupakan indikasi. Keuntungan restorasi secara indirect resin komposit
dibanding restorasi secara direct adalah dapat dihindarinya konstraksi akibat
polimerisasi bahan komposit, sehingga kebocoran tepi dapat dihindari.
Kontak pada bagian proksimal dapat dibuat rapat dan pembentukan kontur
anatomis lebih mudah.Sedangkan kekurangan restorasi secara indirect resin
komposit adalah adanya ketergantungan restorasi pada semen perekat
(lutting cement). Isolasi yang kurang baik serta polimerisasi yang kurang
sempurna dari semen akan berakibat negatif terhadap restorasi tersebut.

25
DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, Dwi Warna Aju. 2011. Macam Macam Restorasi Rigid Pasca
Perawatan Endodontia. Stomatognatic (J.K.G Unej) Vol. 8 No. 2 2011: 96-102.

A. Quendangen, Guntur B., Peter S., Ratna R., Untung S., Yosephine
L.2007. Standar Nasioanl Rekam Medik Kedokteran Gigi. Cetakan ke-2.
Departemen Kesehatan, Jakarta.

Carranza's Clinical Periodontology Tenth Edition, 2006, Newman et


al,Saunders Elsevier, St. Louis.

Francis G. Serio, Charles E. Hawley, 2002, Manual of Clinical


Periodontics: A Reference Manual for Diagnosis and Treatment, Lexi-Comp
Inc., Ohio.

Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic


Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.

Kidd, E., Fejerskov. 2004. Dental Caries (The disease and its Clinical
Management).

Debelian,G. Trope,M . 2005. Endodontics Manual for the General


Dentist.

Gopikrishna, Velayutham., et al. 2009. Assesment of Pulp Vitality.


International Journal of Paediatric Dentistry. 19:3-15
Grossman, Louis I., Seymour Oliet, and Carlos E. Del Rio. 1995. Ilmu
Endodontik Dalam Praktek ed 11. Jakarta. Buku Kedokteran EGC

DeLong, Leslie. 2013. General and Oral Pathology for The Dental
Hygienist Second Edition. Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins

Prawitasari E, Ratih DN. Perawatan Saluran Akar Ulang pada Insisivus


Satu Kiri Maksilaris dengan Khlorheksidin: TINI II; 2012 : 121

Soraya C. Perawatan Endodontik Ulang pada Gigi Insisivus Sentral


Atas Kanan: Cakradonya Dental Journal; 2009 : 1 ST : 69-70

26
John, I. Ingle and Leif K. Bakland. 2002. Endodontics Vol 1. London:
BC Decker.

Juwono L. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti) ed 2. Jakarta : Tarigan R,


hal 93-7.

Morton, Particia G. 2005. Panduan Pemeriksaan Kesehatan. Jakarta:


EGC.

Wintasrih O, Partosoedarmo M, Santoso P. Kebocoran Periapikal pada


Irigasi dengan EDTA Lebih Kecil Dibandingan yang Tanpa EDTA, Jurnal PDGI;
2009 : 58 (2) : 15-9.

27