Anda di halaman 1dari 33

PENDAHULUAN

Perkembangan dibidang kuliner khususnya kue kering telah mengalami perkembangan


yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Tak hanya bisnis yang ramai di hari tertentu saja
terutama lebaran namun, telah merambah ke hari-hari biasanya seiring dengan
bertambahnya peminat kue kering yang semakin luas.Perkembangan ini ditambah dengan
adanya kebutuhan masyarakat yang tinggi akan makanan ringan dengan rasa yang
berbeda yang ditawarkan oleh usaha baik kecil, menengah maupun konvensional.
Memulai suatu usaha tentu tidak hanya membutuhkan modal berupa materi saja, namun
skill yang mumpuni dan mental berani mengambil resiko dengan ilmu manajemen sangat
penting juga. Oleh karena itu, analisis bisnis merupakan proses evaluasi prospek ekonomi
dan resiko perusahaan. hal tersebut meliputi analisis atas lingkungan bisnis perusahaan,
strateginya, serta posisi keuangan dan kinerjanya. Analisis berguna dalam banyak
keputusan bisnis seperti memilih investasi dalam efek (surat berhargaatai sekuritas)
ekuitas atau efek utang, memilih perpanjangan pinjaman dengan utang jangka panjang
atau utang jangka pendek, menilai perusahaan dalam penawaran saham perdana dan
mengevaluasi restrukturasi yang meliputi merger, akuisisi, dan divestasi. Pada awal
usaha, untuk memasarkan kue kering akan melakukan dengan penyebaran brosur,
memberikan sampel kue kering serta sering mengikuti kegiatan bazar ataupun pameran.
Namun untuk keberlanjutan usaha maka di perlukan strategi khusus dalam hal
manajemen bahan baku yang dimaksudkan untuk mencapai keuntungan maksimal. Jika
peraturan tidak diterapkan maka penjualan untuk masing-masing produk adalah dapat
turun, tetap, dan naik dengan kondisi penjualan

Penelitian ini memaparkan penyelesaian masalah Time Series for Forecasting dengan
tiaga (3) metode yaitu Simple Moving Average (SMA), Moving Average (MA) dan
Weighted Moving Average (WMA). SMA dihitung dengan cara menambahkan harga
yang akan dihitung kemudian dibagi dengan periode lama waktunya. Harga yang dihitung
biasanya adalah harga Close. Tapi bisa juga harga High, Low, atau rata-rata dari
ketiganya. Fungsi MA adalah meratakan gerakan pasar yang fluktuatif dan
mengidentifikasikan arah pergerakan harga, juga dengan MA bisa menunjukan kekuatan
trend dari kecuraman dari sudut garisnya. Beberapa trader beranggapan bahwa harga yang
terakhir adalah lebih penting daripada harga yang lebih lama. Sehingga naik/turunnya MA
itu, karena pengaruh harga terakhir bukan karena pengaruh data beberapa periode yang
lalu. Sehingga harga yang terakhir diberi pemberat berupa bilangan bulat yang dikalikan
kepada harga terakhir. Jika pemberat tersebut linier maka disebutlah WMA.

GARIS BESAR ISI LAPORAN

Bab:

1. Pendahulan.

2. Latar belakang proyek dan pemrakarsa

3. Uraian tentang aspek pasar dan pemasaran hasil produksi

4. Uraian tentang aspek teknis dan teknologi proyek yang direncanakan.

5. Uraian tentang aspek manajemen operasional dan tenaga kerja inti.

6. Uraian tentang aspek ekonomi dan keuangan

7. Kesimpulan dan saran

8. Lampiran-lampiran

BAB 1: RINGKASAN

Bab ini menyajikan hal-hal pokok mengenai proyek yang direncanakan, pemrakarsa
proyek serta kesimpulan dan saran secara keseluruhan. Isi pokok bab ini adalah sebagai
berikut:

1.1 Latar Belakang Proyek dan Pemrakarsa

a) Nama dan alamat pemrakarsa proyek.


b) Jenis investasi:proyek, baru atau perluasan.
c) Produk yang akan dihasilkan.
d) Insentif investasi atau keringanan pungutan yang akan diperoleh dari
pemerintah.

1.2 Aspek Pasar dan Pemasaran

a) Tren perkembangan permintaan produk pada masa yang lampau.


b) Perkiraan jumlah permintaan produk di masa yang akan datang.
c) Perusahaan asing utama, kekuatan dan kelemahan mereka.

1.3 Aspek Teknis dan Teknologi

a) Kapasitas produksi yang direncanakan.

b) Sumber bahan baku dan pembantu.

c) Jenis teknologi yang dipilih.

d) Jenis dan jumlah harta tetap yang diperlukan.

e) Lokasi yang direncanakan.

1.4 Aspek Manajemen Operasional

a) Jumlah dam kualifikasi tenaga inti yang diperlukan.

b) Sumber pengadaan tenaga inti tersebut.

1.5 Aspek Ekonomi dan Keuangan

a) Jumlah kebutuhan dana modal tetap dan modal kerja awal yang diperlukan.
b) Struktur permodalan, perbandingan antara modal sendiri dan pinjaman;
sumber pinjaman yang diharapkan dan persyaratannya.
c) Kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial, mendatangkan laba dan
manfaat social-ekonomi lainnya.

1.6 Kesimpulan dan Saran

a) Kesimpulan tentang pemrakarsa dan proyek ditinjau dari masing-masing


aspek dan secara keseluruhan.
b) Saran atas rencana investasi proyek.
BAB 2 : LATAR BELAKANG PROYEK DAN PEMRAKARSA

Dalam kurun waktu dewasa ini, cookies atau kue kering telah menjadi salah satu
hidangan wajib kala hari raya Idul Fitri. Tak salah bila para pengusaha kuliner seakan
berlomba-lomba menawarkan aneka varian kue kering. Kondisi ini pun memunculkan
persaingan di dunia patisserie. Momen hari raya seperti lebaran selalu dijadikan patokan
banyak pengusaha kue kering memulai eksistensinya di dunia kuliner. Di Indonesia sektor
usaha kecil mempunyai peran yang sangat besar dalam pembangunan nasional Indonesia.
Jumlah usaha kecil yang sangat banyak tersebar rata diseluruh wilayah Indonesia
sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar dan mampu membantu
pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran. Sebagaimana yang sedang dijalani
oleh salah satu usaha rumah tangga kue kering yaitu Nakia Patisserie. Beralamat di Jl.
Kaliurang Km 5,6 Pandega Bakti 108 Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, usaha rumah
tangga ini ternyata sudah dimulai dari tahun 2008.

Pada awal usaha, untuk memasarkan kue kering Nakia Patisserie dilakukan dengan
menyebar brosur, memberikan sampel kue kering serta sering mengikuti kegiatan bazar
ataupun pameran. Namun untuk keberlanjutan usaha maka di perlukan strategi khusus
dalam hal manajemen bahan baku yang dimaksudkan untuk mencapai keuntungan
maksimal. Jika peraturan tidak diterapkan maka penjualan untuk masing-masing produk
adalah dapat turun, tetap, dan naik dengan kondisi penjualan. Produk tertentu cenderung
turun sedangkan lain tidak menentu.Apabila hal tersebut terjadi maka nilai profit per unit
perusahaan Nakia Patisserie tidak akan maksimal sesuai keinginan perusahaan. Dengan
adanya permasalah tersebut, perusahaan dituntut untuk memilih alternative pengambilan
keputusan terkait strategi produksi dan pemasaran kue kering untuk tetap dijalankan oleh
Nakia Patisserie secara optimal.
Selain itu, masalah yg banyak dihadapi oleh industri rumahan Nakia Patisserie adalah
bagaimana menggunakan atau menentukan alokas penggunaan sumber daya yang
umumnya terbatas, untuk dapat memperoleh keuntungan maksimal.Adapun tujuan dari
penelitian yang dilakukan antara lain:
1. Untuk menentukan satu metode peramalan yang paling tepat untuk diterapkan oleh
Nakia Patisserie.
2. Untuk mengetahui alternatif apakah yang dapat dipilih oleh Nakia Patisserie untuk
memaksimalkan keuntungan.
Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan dapat berguna bagi semua pihak,
diantaranya:
1. Bagi Penulis, menambah pengetahuan dan wawasan terutama mengenai metode
simpleks yang dapat menentukan bauran produk yang optimal.
2. Bagi Objek Penelitian, menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan keputusan di
perusahaan.

3. Bagi pihak-pihak lain, menjadi bahan literatur mengenai manajemen operasi


khususnya metode simpleks dalam menentukan bauran produk yang optimal.

Adapun garis besar uraian latar belakang proyek dan pemrakarsanya adalah sebagai
berikut:

2.1 Latar Belakang Pemrakarsa

a. Nama-nama dan alamat pemrakarsa.


Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana
usaha adalah :
Pemrakarsa : Dian Mardiana
Alamat Pemrakarsa : Jl Palagan Tentara Pelajar No 40 Kota Yogyakarta

b. Peranan Pemrakarsa merupakan pemilik sekaligus perintis awal perusahaan


pembuatan roti kering Nakia Patisseri yaitu Branch Manager mempunyai tugas,
wewenang dan tanggung jawab Mengimplementasikan Visi dan Misi perusahaan
di cabang yang dipimpin, memastikan setiap departemen/bagian yang bekerja
sebagaimana seharusnya, sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan dan
menyusun strategi untuk pencapaian target yang diberikan oleh perusahaan.

c. Pengalaman pemrakarsa dalam bidang usaha pada umumnya serta dunia usaha
yang bersangkutan dengan proyek yang direncanakan adalah pernah mendirikan
usaha dengan bidang yang berbeda, namun mengalami gulung tikar sehingga
memutuskan untuk melakukan usaha lagi dibidang usaha yang berbeda yaitu
bidang produksi makanan kue kering

d. Kemampuan keuangan mereka, secara umum maupun dalam hubungannya


dengan pembiayaan proyek yang akan direncanakan.
Dalam perintisan awal usaha produksi kue kering Nakia Patisseri membutuhkan
modal awal sebesar Rp. 10.000.000,- maka pemrakarsa dianggap mampu untuk
memenuhi modal tersebut. Dimana dana tersebut digunakan untuk membeli mesin
produksi dan bahan-bahan dasar awal pembuatan kue kering. Pada tahun awal usaha
yaitu tahun 2008, pemrakarsa usaha masih meminjam uang dari orang lain sebagai
modal awal usaha.
Catatan: Hasil evaluasi prestasi usaha (pemasaran, produksi, keuangan) perusahaan
atau perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh pemrakarsa pada masa yang lampau
hendaknya dilampirkan, termasuk angka-angka penjualan produk, neraca dan daftar
laba/rugi perusahaan selama tiga tahun terakhir.

2.2 Uraian Tentang Proyek

a) Proyek yang yang bergerak dibidang produksi kue kering telah berlangsung selama 8
tahun. Proyek Nakia Patisseri dimulai sejak tahun 2008 lalu, telah mengalami pahit
manisnya usaha di bidang patisseri. Pemrakarsa melihat pangsa pasar yang semakin
meningkat pada bidang jual beli khususnya bidang usaha makanan (kuliner).
Faktanya dapat dilihat banyakknya usaha kue kering yang menjamur khususnya di
sekitar Yogyakarta, cukup banyak usaha kecil menengah yang menjual makanan
kue kering yang menawarkan rasa yang berbeda bagi khusunya penikmat roti kering.
Besarnya peluang bisnis kue kering (patisseri) , kemampuan pemrakarsa membuat
kue kering, serat dukungan dari orang tua , saudara, dan teman-teman membuat
penulis semakin optimis dalam membuat kue kering. Jenis produk yang telah
dihasilkan hingga saat ini adalah 10 produk kue kering yaitu Nastar, Kastengel,
Mamool , Putri Salju, Duri Duriang, Lidah Kucing Mocca , CornFlakes , Coklat
Ketupat/Masjid, Cheese Nastar dan Salju Green Tea. Pada awal produksi, target awal
pemasaran adalah sekitar derah tempat produksi Nakia Patisseri yaitu sekitar Jl.
Kaliurang Km 5,6 Pandega Bakti 108 Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Setelah itu
sekitar tahun ke-4 proyek yaitu pada tahun 2011, pemrakarsa telah melebarkan sayap
pemasarannya ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu pada tahun ke-6 sekitar
tahun 2013 pangsa produksi melebar hingga ke Jakarta lewat pemasaran online.
Selama tahun-tahun terakhir ini pemrakarsa telah merambah pangsa pasar nasional.
Terbukti dari adanya permintaan stok dari daerah palembang dan kalimantan.
Segmentasi pasar yang dilakukan oleh Nakia Patisseri adalah perusahaan telah
membagi kedalam beberapa segmen yaitu :
- Segmentasi berdasarkan geografis . Nakia Patisseri hanya membuka usaha di wilayah
kota Yogyakarta. Namun sampai saat ini telah melebarkan usahanya di pasar nasional.
Terbukti dengan telah dikirimkannya produk ke daerah palembang dan kalimantan.
- Segmentasi berdasarkan demografis. Nakia Patisseri menjual kepada masyarakat
dengan pendapatan menengah hingga keatas.
- Segmentasi berdasrkan psikografis. Nakia Patisseri menawarkan produk kue kering
kepada para penikmat kue kering cita rasa original dengan bahan berkualitas.
b) Proyek Nakia Patisseri ini memiliki peranan khususnya dalam pembangunan
ekonomi nasional khususnya di daerah Yogyakarta. Hal ini dikarenakan
pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi. Pada
kondisi masyarakat saat ini sungguh sebuah dilema kehidupan yang tetap dijalani
oleh setiap lapisan masyarakat. Lapangan pekerjaan yang sulit menjadi harapan bagi
sebagian orang untuk mendapatkannya dan terkadang harus bersaing untuk
mendapatkannya. Disini perlu sebuah kreatifitas atau ide untuk mencari peluang
bahkan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Sehingga dengan adanya Home
Indusrtry Nakia Patisseri maka diharapkan dapat meningkatkan jumlah lapangan
pekerjaan sehingga bisa mengurangi pengangguran yang ada di Indonesia. Bahan
baku yang ada akan di olah untuk kemudian di beri label dan menambah nilai dari
produk tersebut sehingga didapatkan laba yang dapat menambah tumbuh kembang
perusahaan tersebut.
c) Pandangan pemerintah terhadap proyek Nakia Patisseri adalah merupakan proyek
prioritas dimana pemerintah khusunya Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah
Kementerian telah mendorong UMKM dan menetapkan UMKM sebaga poros utama
ekonomi nasional. Pada tahun ke-4, Nakia Patisseri telah mendapatkan bantuan
PMKM dari pemerintah sebagai bagian dari dukungan pemerintah terhadap usaha
kecil menegah. Keringanan yang dilakukan oleh pemeintah adalah Pemerintah telah
memangkas bunga kredit usaha rakyat (KUR) dari 12 persen menjadi sembilan
persen. Tujuannya, agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat
meningkat secara signifikan.
d) Untuk proyek perluasan hendaknya diuraikan hubungan timbal balik antara proyek
baru dengan proyek yang ada, yaitu :
Hubungan timbal balik antara proyek baru dengan proyek lama yang ada, diantaranya
adalah:
1. Adanya mekanisme 80% untuk manajemen Nakia Patisseri dan 20% untuk mitra
Nakia Patisseri dalam hal ini adalah distributor.
2. Kegiatan CSR diberikan setiap 1 tahun sekali setelah hari raya idul firti yaitu
dengan membagiakan sisa stok produksi kue kering yang ada kepada warga
sekitar sebagai bagian dari promosi yang terselubung .
3. Bagi hasil berlangsung selama usaha tersebut masih berjalan dan menguntungkan
4. Bila usaha tersebut tdak menguntungkan dan mengalami kerugian maka
managemen Nakia Patisseri dalam hal ini adalah pemrakarsa itu sendiri siap
menanggung beban kerugian tersebut.

BAB 3: ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

Di dalam bab ini disajikan proyeksi permintaan produk sejenis di masa


yang akan datang, serta kemungkinan proyek dapat memperoleh bagian dari
jumlah permintaan keseluruhan tersebut. Tren permintaan produk pada masa
yang lampau disajikan pula dalam bab ini, berikut hasil pembahasannya. Di
samping itu dibahas pula suasana persaingan dewasa ini serta
kemungkinannya di masa yang akan datang,strategi pemasaran yang
disarankan, rencana/anggaran penjualan
3.1 Trend Perkembangan Permintaan Produk Hingga Dewasa Ini
Tabel 3.1 : Trend perkembangan permintaan kue kering Nakia Patisseri Persatu kali Produksi
tahun 2008-2015

Sumber : Data administrasi asli Nakia Patisseri

3.2 Proyeksi Permintaan Produk

Ditinjau dari jumlah penduduk, daya beli, dan minat konsumen terhadap
tingkat konsumsinya, khususnya pada makanan yang manis, lezat dan praktis maka
bisnis makanan yang dipasarkan akan berkembang pesat. Apalagi pada saat ini
kebutuhan akan makanan sangat meningkat karena tingkat konsumsi masyarakat
yang semakin tinggi. Adapun jenis kue kering yang ditawarkan adalah Nastar,
Kastengel , Mamool , Putri Salju, Duri Durian, Lidah Kucing Mocca , CornFlakes,
Coklat Ketupat/Masjid, Cheese Nastar dan Salju Green Tea

Sebagian besar masyarakat terkadang mengkonsumsi kue kering, terlihat dari


meningkatnya permintaan konsumen terhadap kue kering per tahun mengalami
penurunan dan peningkatan pertahun. Maka proyeksi permintaan konsumen
pertahun dapat dihitung sebagai berikut: Berikut ini disajikan tabel proyeksi
permintaan konsumen dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2015.

Tabel Proyeksi Penjualan

3.3 Faktor Persaingan

Lingkungan bisnis adalah segala sesuatu yang mempengaruhi aktivitas


bisnis dalam suatu lembaga organisasi atau perusahaan. Faktor-faktor sekitar yang
dapat membantu dan menghambat perkembangan bisnis. Faktor faktor yang
mempengaruhi tersebut tidak hanya dalam perusahaan (intern), namun juga dari luar
(ekstern). Setiap kegiatan untuk memulai usaha harus mengukur kemampuan
terhadap lingkungan atau pesaing yaitu melalui analisis SWOT

Analisis SWOT

Tabel 3.2 Analisis SWOT

Kelebihan Kekurangan
Lokasi Strategis Kemungkinan terjadinya kekosongan stok
Memiliki varian rasa beragam sangat mungkin
Memiliki rasa original dengan bahan Produk mudah rusak karena situasi tertentu
berkualitas Harga baku modal naik
Nama produk atau merek sudah dikenal
Peluang Ancaman
Bisnis yang terbilang masih belum banyak Munculnya pesaing baru dengan bahan baku
pesaing di Yogyakarta kualitas rendah sehingga harga penjualannya
Memiliki iniovasi baru dalam bidang rasa rendah
yang original dan fresh karena bahannya Pesaing lama yang lebih terkenal
yang spesial
Adanya tren penikmat makanan kue kering
yang semakin meningkat.

3.4 Masalah Ekspor

Kemungkinan ekspor produk belum terdapat dalam rencana jangka dekat


perusahaan karena tingkat produksinya yang masih berskala kecil dengan omset yang
terbilang masih jauh dari standar ekspor. Namun untuk pendistribusiannya sendiri
sudah sampai daerah luar Yogyakarta. Daerah pendistribusian kue kering Nakia
Patisseri yang dimaksud adalah daerah Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta bahkan
Kalimantan. Untuk jumlahnya sendiri rata-rata Nakia Patisseri mendistribusikan hampir
65 persen produksi ke luar daerah Yogyakarta karena segmentasi pasarnya yang masih
besar. Biasanya kondisi penjualannya diserahkan langsung ke distributor dengan
kualitas dan harga yang tetap dipantau oleh pihak Nakia Patisseri sebagai produse
sentral untuk menjaga nama baik perusahaan.

3.5 Trend Perkembangan Harga

Trend perkembangan harga penjualan produk pada masa lampau serta


kemungkinannya di masa yang akan datang tidak mengalami perubahan sama sekali.
Perusahaan tidak melakukan perubahan harga, namun sebagai implikasinya perusahaan
melakukan perubahan kuantitas berat produk saja. Hal ini dilakukan untuk tetap
menjaga loyalitas pelanggan yang menginginkan pembelian dengan budget seadanya.
Untuk satu toples kue kering jenis apa saja dijual dengan harga Rp. 50.000,00 per pack.
Untuk dari segi ukuran kue mengalami perubahan hampir 25 % lebih kecil daripada
ukuran pada 3 tahun awal. Hal ini dikarenakan naiknya harga bahan baku dan biaya
akomodasi lain seperti distribusi dan lain sebagainya.

3.6 Uraian tentang Rencana Pemasaran Produk yang akan Dihasilkan

a) Uraian tentang kemungkinan produk yang akan dihasilkan untuk terjun ke pasar

1. Produk (product)

Produk ialah istilah sesuatu yang ditawarkan kepada pasar baik produk fisik maupun
jasa. Perusahaan kue kering Nakia Patisserie sampai saat ini memproduksi 10 produk
kue kering yaitu Nastar, Kastengel, Mamool , Putri Salju, Duri Duriang, Lidah Kucing
Mocca , CornFlakes , Coklat Ketupat/Masjid, Cheese Nastar dan Salju Green Tea.

2. Harga (price)

Harga adalah kompensasi yang harus dilakukan untuk mendapatkan sejumlah barang
dan jasa. Dalam menetapkan harga produk, produsen harus memperhitungkan biaya
produksi sehingga tidak terlalu tinggi atau rendah yang akan memengaruhi konsumen
dan produsen sendiri dalam mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, keputusan yang
diambil oleh Nakia Patisseri adalah me-sama ratakan harga untuk setiap produk kue
kering. Dengan harapan semua produk akan laku dan dibeli oleh pelanggan karena
harga yang sama. Harga yang dipatok adalah Rp. 50.000,00 untuk all varians product.
Namun , tentu saja seiring dengan perkembangan zaman tentu akan merubah kuantitas
dari produk. Namun sebisa mungkin Nakia Patisseri akan selalu menjaga kualitas dari
masing-masing produk.

3. Tempat atau saluran distribusi (place)

Peranan saluran distribusi penting karena pada umumnya tidak semua barang dapat
dikonsumsi secara langsung oleh pemakai. Nakia Petisseri memiliki beberapa
distributor resmi dengan kontrak yang terbilang lama. Berberapa distributor yang
bekerja sama dengan Nakia Patiseri adalah Grosir FancyKitty HSK, Crafty Fabric dan
lain-lain.

b) Rencana dan anggaran penjualan produk selama masa kehidupan proyek.

Catatan: Apabila proyek yang direncanakan merupakan perluasan, hendaknya


disusun perkiraan dan anggaran penjualan/pemasaran gabungan antara proyek baru
dan lama.
Tabel 3.2. Proyek dan Anggaran Penjualan Produk

Proyek : Kue Kering Nakia Patisserie

BAB 4: ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

Dalam bab ini disajikan hasil evaluasi berbagai macam hal yang
bersangkutan dengan kapasitas produksi ekonomis, teknologi yang dipilih,
kebutuhan bahan baku, bahan pembantu dan bahan pendukung lainnya, serta
tenaga kerja langsung. Dalam bab ini juga diuraikan jenis dan jumlah mesin,
peralatan serta harta tetap lainnya yang diperlukan proyek. Disamping itu
disajikan pula hasil peralatan serta harta tetap lainnya yang diperlukan proyek.
Disamping itu disajikan pula hasil penelitian lokasi proyek dan letak pabrik yang
direncanakan, serta program pembangunan proyek
4.1 Kapasitas Produksi Ekonomis

Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk
berproduksi dalam waktu tertentu. Kapasitas dapat dilihat dari sisi masukan (input) atau
keluaran (output). Kapasitas dari masukan (input), misalnya adalah kapasitas mesin oven
didasarkan pada jam kerja operasi per harinya. Kapasitas dari keluaran (output) misalnya,
home industry nakia pastiseri di ukur dari kemampuannya menghasilkan kue; kapasitas
perusahaan jasa rekrument ditentukan dalam penyeleksian calon karyawan.
Kapasitas produksi ekonomis adalah volume atau jumlah satuan produk yang
dihasilkan selama satuan waktu tertentu misalnya satu hari, bulan atau tahun secara
menguntungkan. Menentukan kapasitas produksi

Ekonomis bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, namun penting peranannya karena
hasil yang ditentukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi operasi
proyek yang akan didirikan. Di dalam kegiatan ini diperlukan kerjasama yang erat antara para
teknis dan ekonom. Besar kapasitas produksi ekonomis ditentukan berdasarkan perpaduan
hasil penelitian berbagai macam komponen evaluasi yaitu perkiraan jumlah penjualan produk
di masa yang akan datang, kemungkinan pengadaan bahan baku, pembantu dan tenaga kerja
inti dan tersedianya mesin dan peralatan di pasar.
Ada kemungkinan besar produk yang akan dihasilkan masih merupakan barang baru
di masyarakat, oleh karenanya dibutuhkan tahap pengenalan dan pembinaan pasar terlebih
dahulu. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah walaupun pada tahun-tahun awal operasi
belum dipergunakan kapasitas optimal, hendaknya diperhitungkan agar kapasitas produksi
awal yang dipilih masih lebih besar dari perkiraan permintaan produk selama masa tersebut.
Strategi ini diperlukan agar proyek dapat mengikuti perkembangan permintaan pasar secara
cepat, yang berarti pula dapat menjaga agar saingan baru tidak mudah memperoleh
kedudukan di pasar. Untuk menjaga agar proyek tidak merugi karena strategi ini, maka
hendaknya diperhitungkan agar jumlah kelebihan kapasitas produksi masih di bawah tingkat
titik impas (break even point) proyek yang direncanakan.

4.2 Rencana Produksi Selama Masa Kehidupan Proyek

Aktifitas produksi hendaknya direncanakan dengan baik, sehingga jumlah produksi


yang dihasilkan tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Dalam industri, ada beberapa faktor
utama yang mempengaruhi perencanaan jumlah produksi perusahaan, yang biasanya
dijadikan sebagai pembatas terhadap jumlah produksi yang akan dihasilkan. Faktor-faktor
tersebut antara lain adalah:

a. Permintaan. Jumlah permintaan konsumen dapat diperkirakan dengan cara-cara


seperti yang telah dipaparkan pada bab mengenai aspek pasar dan pemasaran di
depan.
b. Kapasitas. Jumlah permintaan hanya dapat disediakan berdasarkan pada kapasitas
yang dimiliki oleh sumber daya yang tersedia, terutama SDM.
c. Suplai bahan. Biasanya, jumlah bahan yng tersedia terbatas, bukan hanya jumlah,
akan tetapi juga kesinambungan penyediaan, usia bahan, dan fluktual harganya.
d. Modal kerja. Kemampuan modal kerja dalam membiayai produksi hendaknya tersedia
sesuai dengan kebutuhannya.

Rencana produksi tahunan tersebut di atas dapat disusun seperti dalam


Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Rencana produksi selama masa kehidupan proyek :


4.3 Teknologi yang Dipilih

Teknologi untuk memproduksi barang maupun jasa terus berkembang sesuai dengan
kemajuan zaman. Kemajuan teknologi hendaknya berdampak efisiensi yang tinggi dalam
proses produksi sekaligus menghasilkan produktivitas yang tinggi pula. Namun, selain
terdapat keuntungan-keuntungan adapula kelemahan-kelemahan dalam hal perkembangan
teknologi ini. Misalnya, perkembangan teknologi belum tentu cocok dengan lingkungan
internal Proyek Nakia Patisseri maupun lingkungan exsternalnya.
Suatu produk tertentu biasanya dapat diproses dengan lebih dari satu cara. Dengan
demikian, teknologi yang dipilih pun perlu ditentukan secara jelas. Patokan umum dapat
dipakai misalnya adalah dengan mengetahui seberapa jauh derajat mekanisasi yang di
inginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan. Beberapa kriteria lainnya adalah kesesuaian
dengan bahan yang dipakai, keberhasilan pemakain teknologi di tempat lain, kemampuan
tenaga kerja dalam pengoperasian teknologi, dan kemampuan antisipasi terhadap teknologi
lanjutan.
Pemilihan teknologi proses produksi berarti memilih proses menghasilkan produk
atau pelayanan, termasuk jenis teknologi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
Setelah keputusan pemilihan dijatuhkan, tindakan selanjutnya adalah menentukan denah,
jenis peralatan, fasilitas penunjang, dan desain engineering yang diperlukan.
Pada dasarnya dikenal dua jenis teknologi proses produksi, yaitu :
a. Proses Kontinu
Proses ini umumnya dimaksudkan untuk menghasilkan volume output yang besar.
Karena sifat operasinya yang berulang-ulang, maka dapat dicapai optimasi dan efisiensi yang
tinggi dalam peggunaan sumber daya, baik peralatan maupun tenaga kerja. Pada Proyek
Nakia Patisseri yang menghasilkan sebuah produk kue kering.
b. Proses Intermitten atau Batch
Proses ini digunakan bila Proyek Nakia Patisseri menangani bermacam-macam proses
yang berbeda. Misalya satu set rangkaian peralatan tertentu disusun untuk memproses satu
agregat atau batch produk tertentu, kemudian dihentikan dan di set kembali untuk memroses
jenis produk lain yang berbeda. Peralatannya terdiri dari mesin-mesin yang berfungsi
multipurpose sehingga lebih fleksibel, yaitu dapat memenuhi lebih dari satu variasi produk.
Ada berbagai macam faktor perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis teknologi,
yaitu:
Pertama, jenis teknologi yang diajukan harus dapat menghasilkan mutu produksi yang
dikehendaki pasar. Kedua, teknologi tersebut harus cocok dengan persyaratan yang
diperlukan untuk mencapai kapasitas produksi ekonomis yang telah ditentukan.
Pilihan jenis teknologi juga akan dipengaruhi oleh kemungkinan pengadaan tenaga
ahli, bahan baku dan pembantu yang diperlukan untuk penerapannya. Dalam studi kelayakan
proyek hendaknya diperhatikan pula jenis dan jumlah tenaga ahli, bahan baku dan pembantu
tersebut serta kemungkinan pengadaan dan biayanya, baik untuk jangka pendek maupun
panjang.
1. Faktor pengadaan teknologi
Untuk proyek-proyek seperti ini faktor pengadaan teknologi, termasuk tenaga ahli
tidak terlalu sulit; yang perlu diperhitungkan oleh pemilik proyek hanyalah penyediaan
tenaga lokal yang akan menerima pendidikan dari tenaga ahli produsen mesin. Dalam hal ini
faktor pengadaan teknologi berikut tenaga ahlinya harus benar-benar diperhitungkan,
termasuk jumlah biayanya.
Bilamana teknologi yang diperlukan harus diperoleh dari perusahaan lain, perlu pula
diteliti cara pengadaan mana yang paling manguntungkan. Secara umum hak patent dapat
diperoleh dengan tiga macam cara yaitu, menyewa, membeli dan mendirikan perusahaan
patungan dengan pemilik patenr. Diantara pemilik dan penyewa akan diatur hak penggunaan
teknologi dan pengalihan keahlian tertentu dengan syarat-syarat yang disetujui kedua belah
pihak. Di dalam perjanjian sewa-menyewanya akan dicantumkan dengan jelas dan terperinci
batasan teknologi yang disewakan seperti, garansi dari pemilik, tanggung jawab penyewa,
jumlah penyewa, jumlah biaya penyewaan, jangka waktu perjanjian serta jenis bahan,
peralatan dan tenaga ahli yang diperlukan.
2. Pemilihan mesin dan peralatan
Pemilihan mesin dan peralatan seta jenis teknologi mempunyai hubungan yang erat
sekali. Keadaan tersebut menjadi lain bilamana pengadaan teknologi dan mesin harus
dilakukan secara terpisah. Macam-macam faktor non teknologis yang lainnya:
(a) Keadaan infrastruktur dan fasilitas pengangkutan mesin dari tempat pembongkaran
pertama sampai ke lokasi proyek.
(b) Keadaan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan mesin dan peralatan yang ada di
sekitar lokasi proyek.
(c) Kemungkinan memperoleh tenaga ahli yang akan mengelola mesin dan peralatan
tersebut.
3. Gedung dan bangunan lain
Berdasarkan penentuan jenis teknologi dan mesin serta peralatan yang akan digunakan,
disusunlah perkiraan jumlah biaya yang diperlukan untuk membangun gedung pabrik serta
bangunan lain yang diperlukan. Dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan untuk biaya
kebutuhan dana pembangunan gedung yaitu:
(1) Biaya pematangan tanah;
(2) Biaya pembangunan gedung terdiri dari dapur, ruko,
(3) Biaya pembangunan pagar, selokan, jalan, tempat parkir, penerangan, instalasi
untuk menetralkan limbah dan sebagainya.

4.4 Kebutuhan Bahan Baku, Pembantu dan Bahan Pendukung Lainnya

Agar dapat bekerja dengan lancar proyek membutuhkan bahan baku, pembantu dan
bahan pendukung operasi pabrik dalam jumlah tertentu. Bahan-bahan tersebut harus dapat
memenuhi standar syarat teknis produksi yang ditentukan misalnya standar mutu, serta dapat
tersedia dalam jumlah yang cukup setiap saat diperlukan.
a. Bahan baku dan pembantu

Tersedianya bahan baku dan pembantu secara konstan dengan harga yang wajar
merupakan salah satu syarat agar proyek dapat beroperasi secara sehat di bidang teknis dan
komersial.
b. Bahan pendukung operasi pabrik

Di samping bahan baku dan pembantu, semua jenis pabrik membutuhkan berbagai
macam bahan pendukung operasi sehari-hari misalnya minyak, air, tenaga penggerak dan
suku cadang mesin.
Pendirian Usaha atau proyek yang dekat dengan bahan baku juga mempunyai
beberapa keunggulan, antara lain supply bahan mentah dapat menjamin kontinuitas kegiatan
usaha, ongkos angkut bahan lebih murah, dan perluasan usaha lebih mudah untuk dilakukan.
Dilihat dari ongkos angkut bahan mentah, apabila jumlah bahan mentah yang diangkut jauh
lebih besar daripada bahan jadi sebagai akibat proses produksi, lokasi usaha/proyek yang
dekat dengan bahan baku lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Apabila lokasi Proyek Nakia Patisseri yang berorientasi pada pasar, keadaan ini bisa
menyulitkan usaha/proyek tersebut dilihat dari biaya transportasi maupun kelancaran supply
bahan baku. Jumlah bahan baku yang diangkut jauh lebih besar daripada jumlah barang jadi.
Keadaan ini telah menyebabkan ongkos angkut bahan mentah lebih besar daripada barang
jadi. Dalam waktu lama kesalahan memilih lokasi akan mempengaruhi aktivitas proyek, baik
sebagai akibat sulitnya pengadaan transportasi (ongkos angkut bahan mentah yang lebih
besar) maupun jauhnya lokasi proyek/pabrik dengan bahan baku yang tidak menjamin
kelancaran supply bahan baku karena pengaruh pengangkutan dan variabel-variabel lainnya.
Berdasarkan pemaparan diatas, dekat tidaknya lokasi usaha dengan pasar atau bahan
baku tergantung pada biaya pengangkutan dari bahan mentah dan bahan jadi. Semakin kecil
peranan ongkos angkut, semakin tidak berpengaruh pula faktor pasar dan bahan baku dalam
menentukan lokasi usaha/proyek yang direncanakan.
Jumlah kebutuhan bahan baku, pembantu dan pendukung yang diperlukan oleh
proyek hendaknya disusun seperti dalam Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Kebutuhan bahan baku, pembantu dan pendukung pada kapasitas
produksi penuh

Proyek : Nakia Patisseri

sumber anggaran
jumla harga/satua US$*
no jenis bahan satuan h lokal impor n Rp ) Jumlah
tepung 1440000
1 terigu kg 1200 12000 0 14400000
1920000
2 Gula pasir kg 960 20000 0 19200000
1800000
3 Gula halus kg 720 25000 0 18000000
3264000
4 telur kg 1920 17000 0 32640000
1440000
5. margarin kg 960 15000 0 14400000
2160000
6. Susu putih unit 2160 10000 0 21600000
7. Susu coklat unit 960 10000 9600000 9600000
1920000
8. keju kg 240 80000 0 19200000
9. cokelat kg 240 60000 1440000 14400000
0
10. Garam unit 144 5000 720000 720000
11. Vanili unit 144 10000 1440000 1440000
Baking
12. powder unit 144 10000 1440000 1440000

*) anggaran pembelian bahan baku, pembantu dan pendukung dalam valuta asing (dalam
rentang waktu 1 tahun) dapat dijabarkan dalam rupiah dengan mempergunakan kurs mata
uang yang berlaku

4.5 Mesin, Peralatan dan Harta Tetap Lainnya

Pemilihan mesin dan peralatan serta jenis teknologi mempunyai hubungan yang erat
sekali. Keadaan tersebut menjadi lain bilamana pengadaan teknologi dan mesin harus
dilakukan secara terpisah.
Sumber harta tetap dalam pembuatan proyek ini diperoleh dari modal sendiri, dan
kekurangannya meminjam uang ke bank. Keuntungan dengan membuat proyek berupa
produksi kue kering, apabila hari-hari tertentu, seperti lebaran. Dan kerugian bagi proyek
yang direncanakan, apabila produk itu tidak laku dalam waktu yang sebentar, maka akan basi.

Saran yang dapat diberikan atas sumber pengadaan harta tetap (terutama untuk mesin
dan peralatan) yang terbaik untuk proyek, apabila harta tetap tidak dimiliki oleh proyek,
maka tidak bisa memulai dibuatnya proyek.

Untuk memudahkan pembaca laporan mengikuti usulan jenis, jumlah dan


spesifikasi harta tetap proyek, hendaknya harta tetap tersebut disusun dalam tabel seperti
dalam contoh Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Jenis dan Jumlah Harta Tetap

Proyek: Nakia Patisseri

No Jenis Harta Tetap Jumlah Spesifikasi Produsen/Pemborong


1 Lahan/ tanah 500 m2 -
2 Bangunan 2 unit Bangunan ruko -
dan dapur
3 Mesin 3 unit Oven, mixer -
Dalam proyek-proyek besar, jenis dan jumlah harta tetap yang dibutuhkan
acapkali banyak. Untuk menghindari adanya tabel yang terlalu panjang, disarankan
agar untuk tiap kelompok harta tetap pokok disusun satu tabel tersendiri.

4.6 Kebutuhan Tenaga Kerja Langsung

a) Uraian tentang jenis, kualifikasi dan jumlah tenaga kerja yang diperlukan
proyek.

Tenaga kerja yang dimiliki Nakia Patisserie diperlukan sebanyak 6 orang yang
terbagi ke dalam empat divisi. Bagian produksi kue kering memiliki 3 orang tenaga
kerja, bagian administrasi keuangan memiliki 1 orang tenaga kerja dan bagian delivery
memiliki 2 orang tenaga kerja. Nakia Patisserie tidak menetapkan persyaratan terlalu
tinggi bagi tenaga kerjanya. Nakia Patisserie mensyaratkan pendidikan minimal SMA
untuk setiap tenaga kerja di tingkat bawah, sedangkan bagi kepala bagian minimal lulusan
SMA.

b) Penjelasan tentang sumber tenaga kerja yang diharapkan serta cara memperoleh
tenaga tersebut.

Hal yang paling utama yang harus dimiliki dari tenaga kerja bagian produksi yaitu
mempunyai keahlian dalam hal membuat kue. Agar hasil produksi kue nya enak, dan
tidak membuat kerugian. Diharapkan juga dari tenaga kerja nya bisa loyalitas, dan
merahasiakan resep nya.

c) Anggaran tahunan gaji, upah dan jaminan sosial tenaga kerja yang dibutuhkan.

Anggaran gaji, upah dan jaminan sosial tersebut hendaknya disusun dalam
tabel seperti contoh Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4: Anggaran tahunan gaji, upah dan jaminan sosial tenaga kerja

4.7 Lokasi Proyek dan Tempat Pabrik


4.7.1 Lokasi Usaha

Ada tiga faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan penentuan lokasi yaitu:
(1) Strategi pemerintah dalam pembangunan proyek industri.
Pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah mempunyai peranan tertentu
dalam menunjang pembangunan industri dalam negeri. Peranan tersebut berupa
dukungan, bimbingan ataupun pemberian keringanan dan fasilitas yang
kadangkala dikaitkan dengan kegiatan investasi proyek di daerah-daerah yang
ditentukan.
(2) Bobot pengaruh letak daerah pemasaran produk dan sumber bahan baku
terhadap efisiensi operasi proyek.
Pusat daerah pemasaran produk dan sumber bahan baku mempunyai pengaruh
yang berlainan pada tiap jenis industri. Ada industri yang memerlukan lokasi di
dekat pusat pemasaran produk, ada jenis lain yang perlu berdekatan dengan
sumber bahan baku. Cara yang paling sederhana dalam menentukan lokasi
proyek sehubung dengan letak pasar dan bahan baku, adalah memperbandingkan
kemudahan dan biaya pengangkutan bahan baku ke pabrik dengan barang jadi
dari pabrik ke pusat pemasaran.
(3) Faktor lingkungan setempat.
Kondisi infrastruktur lokasi yang diteliti merupakan salah satu faktor utama
yang harus diperhatikan sebelum menentukan pilihan. Dalam banyak hal kondisi
infrastruktur juga akan mempunyai saham atas besar kecilnya jumlah biaya yang
diperlukan untuk membangun proyek secara keseluruhan.
Faktor pengadaan tenaga kerja ahli dan terlatih merupakan aspek lain yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi. Di samping infrastruktur dan
lingkungan seperti yang diuraikan di atas ada dua faktor lain yang perlu
dipertimbangkan sebelum menentukan letak proyek, yaitu harga tanah serta
biaya persiapan dan pematangan tanah sehingga siap untuk ditempati. Penentuan
lokasi fasilitas jasa perlu mempertimbangkan banyak hal, antara lain : mudah
dan dapat diakses oleh konsumen, lalu lintas orang-orang, kepadatan dan
kemacetan lalu-lintas, tempat parkir yang memadai, dapat diperluas, lingkungan
yang mendukung usaha, kesesuain dengan lokasi pesaing, dan izin lokasi dari
pihak berwenang.
4.7.2 Layout (Tata Letak)
Tujuan utama layout adalah optimalisasi pengaturan fasilitas-fasilitas operasi sehingga
nilai yang diciptakan oleh sistem produksi menjadi maksimum. Berbagai pola layout seperti
layout fungsional, layout produk, layout kelompok, layout posisi tetap dapat diterapkan
dalam perusahaan. Namun yang terpenting dari penentuan layout adalah memenuhi tujuan
utama sebagaimana tersebut diatas.
Adapun kriteria yang dapat digunakan untuk menilai layout pabrik menurut Suad
Husnan dan Swarsono sebagai berikut :
a. Adanya konsistensi dengan teknologi produksi
b. Adanya arus produk dalam proses yang lancar dari proses satu ke proses yang lain.
c. Penggunaan ruangan yang optimal
d. Terdapat kemungkinan untuk dengan mudah melakukan penyesuaian maupun ekspansi
e. Meminimalisasi biaya produksi dan memberikan jaminan yang cukup untuk keselamatan
tenaga kerja.
Bagi bisnis, tataletak (layout) fasilitas jasa yang tersedia akan berpengaruh pada
persepsi pelanggan atas kualitas suatu jasa. Jadi, persepsi pelanggan terhadap suatu jasa dapat
di pengaruhi oleh suasan yang dibentuk oleh eksterior fasilitas jasa tersebut, sehingga
tataletak dan lingkungan tempat penyampaian jasa penting diperhatikan. Unsur-unsur yang
perlu diperhatikan dalam tataletak fasilitas jasa meliputi:
Pertimbangan spasial. Maksudnya adalah aspek-aspek seperti simetri, proporsi,
tekstur, warna, dan lain-lain hendak dipertimbangkan,

dikombinasikan, dan dikembangkan untuk memancing respons intelektual


maupun emosional para pemakai atau orang yang melihatnya.
Perencanaan ruangan. Unsur ini memiliki perancangan interior dan arsitektur,
seperti penempatan perabotan dan perlengkapannya dalam ruangan, desain
aliran sirkulasi, dan lain-lain.
Perlengkapan/perabotan. Unsur ini memiliki berbagai fungsi, antara lain
sebagai tolak ukur status pemilik atau penggunanya.
Tatacahaya. Unsur ini selain berfungsi sebagai penerang ruangan, hendaknya
juga memperhatikan aktivitas-aktivitas yang dilakukan diruangan tersebut agar
sesuai dengan persepsi penyedia jasa dan pelanggan mereka.
Warna. Banyak orang yang menyatakan bahwa warna memiliki bahasanya
sendiri karna dapat menggerakkan prasaan dan emosi. Dengan begitu, pemilihan
warna untuk ruangan menjadi penting.
Pesan-pesan yang disampaikan secara grafis. Aspek-aspek penting dan saling
terkait dalam undur ini adalah penampilan visual, penempatan, pemilihan bentuk
fisik, pemilihan warna, pencahayaan, dan pemilihan bentuk perwajahaan
lambang atau tanda yang digunakam untuk maksud tertentu (misalnya penunjuk
arah/tempat, keterangan/informasi, dan sebagainya).
Dalam industri jasa, desain dan tata letak fasilitas jasa erat hubungannya dengan
pembentukan persepsi pelanggan. Hal ini dapat gilirannya akan berpengaruh
terhadap kualitas jasa tersebut di mata pelanggan. Misalnya, pelanggan yang
ingin mencari kenyaman suasana dalam menikmati hidangan di tempat makan
akan lebih menyukai tempat makan yang desainnya menarik.

4.8 Progam Pembangunan Proyek


Waktu yang dibutuhkan untuk membangun proyek ini selama kurang lebih 9 bulan,
pembangunan proyek ini akan dimulai jika modal dan harta tetap telah terkumpulkan
semua.

Tabel 4.5 : Jadual pembangunan proyek

Bulan ke
No Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Pemesanan Mesin
Lelang borongan
2 bagunan
3 pemasangan pondasi
4 penyelesaian gedung
pemasangan mesin dan
5 peralatan
pemasangan instalasi
6 listrik dan air
pemasangan alat
7 pendingin
8 produksi percobaan
9 produksi komersial

BAB 5: MANAJEMEN OPERASIONAL DAN TENAGA INTI

Dalam bab ini disajikan hasil evaluasi berbagai macam hal yang
bersangkutan dengan kebutuhan tenaga manajemen, ahli dan inti yang
diperlukan untuk mengelola proyek. Intisari laporan hasil evaluasi aspek
manajemen operasional dan tenaga kerja inti adalah sebagai berikut:
5.1 Kebutuhan Tenaga Manajemen dan Inti

a) Uraian perihal struktur organisasi yang diusulkan untuk mengelola operasi


proyek, dapat diuraikan sebagai berikut :
Gambar 5.1 Struktur Organisasi Nakia Patisserie

Penjelasan perihal jumlah dan kualifikasi tenaga manajemen dan inti yang diperlukan
untuk mengisi organisasi adalah sebagai berikut:

Saat ini Nakia Patisserie hanya memiliki empat divisi di dalam operasional
perusahaan, yaitu bagian produksi brownies, bagian produksi bakery, bagian administrasi
keuangan dan bagian delivery. Perusahaan ini termasuk ke dalam perusahaan keluarga
sehingga

Pelimpahan wewenang masih tersentralisasi pada sumberdaya pemilik sebagai pihak


eksekutif. Pada organisasi perusahaan, posisi manajemen ditempati langsung oleh pemilik.
Posisi ini berwenang untuk mengambil keputusan-keputusan strategis, baik pra produksi,
produksi maupun pasca produksi.

Penanggung jawab perusahaan dan koordinator kepala bagian juga berasal dari
sumberdaya keluarga pemilik. Pengisi kedua posisi ini adalah anak dari pemilik perusahaan.
Operasional perusahaan didasarkan pada pendekatan top down dimana komando dilakukan
langsung oleh pemilik perusahaan, sedangkan unit organisasi di bawahnya hanya
melaksanakan hal-hal yang telah direncanakan.

5.2 Sumber Tenaga Kerja dan Anggaran Balas Jasa

a) Berikut ini merupakan uraian perihal sumber tenaga yang diharapkan, jenis dan
lamanya pendidikan tambahan maupun lembaga pendidikan yang dapat
diharapkan bantuannya kelak.
Tenaga kerja yang dimiliki Nakia Patisserie saat ini sebanyak 6 orang yang terbagi
ke dalam empat divisi. Bagian produksi kue kering memiliki 3 orang tenaga kerja, bagian
administrasi keuangan memiliki 1 orang tenaga kerja dan bagian delivery memiliki 2
orang tenaga kerja. Nakia Patisserie tidak menetapkan persyaratan terlalu tinggi bagi
tenaga kerjanya. Nakia Patisserie mensyaratkan pendidikan minimal SMA untuk setiap
tenaga kerja di tingkat bawah, sedangkan bagi kepala bagian minimal lulusan SMA.

b) Anggaran tahunan balas jasa (finansial dan non-finansial) tenaga manajemen dan
inti yang disusun seperti dalam contoh Tabel 5.1.

Tabel 5.1: anggaran tahunan balas jasa tenaga manajemen dan inti

BAB 6: ASPEK EKONOMI DAN KEUANGAN

Di dalam bab ini disajikan perhitungan jumlah dana harta tetap dan
modal kerja awal yang diperlukan. Jumlah modal kerja awal hendaklah
dihitung secara netto yaitu jumlah kebutuhan harta lancar dikurangi hutang
lancar yang dapat diharapkan diperoleh dari pihak ketiga. Disajikan juga
struktur pembiayaan proyek, kemampuan proyek memperoleh laba,
memenuhi keuangan dan mendatangkan manfaat sosial-ekonomi yang lain.
6.1 Jumlah Dana Permodalan

a) Taksasi jumlah kebutuhan dana modal tetap keseluruhan beserta perincian tiap
jenis harta tetap satu demi satu. Kebutuhan dana modal tetap secara keseluruhan
meliputi biaya pra-investasi, pengadaan tanah, gedung pabrik dan bangunan
lain, mesin dan peralatan, kendaraan, pengadaan teknologi, bunga pinjaman
selama masa pembangunan proyek serta biaya produksi percobaan.

Tabel 6.1: Anggaran Dana Modal Tetap

Proyek :
*) Dapat dijabarkan ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang berlaku.

Untuk menutup kebutuhan dana yang tidak terduga sebelumnya,di atas


pos-pos biaya modal tetap tersebut hendaknya dianggarkan biaya tak terduga
misalnya sebesar 5-10%.

Pada akhir penyajian taksasi kebutuhan tiap pos biaya harta tetap, hendaknya
disusun ringkasan anggaran biaya modal tetap seperti nampak dalam Tabel 6-1.
Catatan: sebagian besar angka-angka biaya tiap pos biaya modal tetap, pada
dasarnya diambil atau dihitung berdasarkan perhitungan biaya pos-pos
tersebut pada bab-bab terdahulu.

b) Taksasi jumlah kebutuhan dana modal kerja awal (netto). Kebutuhan dana modal
kerja bruto terdiri dari persediaan, piutang dagang dan kas. Kebutuhan dana
modal kerja netto adalah modal kerja bruto dikurangi dengan hutang jangka
pendek tanpa bunga.

Anggaran dana modal kerja awal (netto) hendaknya disusun dalam tabel
seperti contoh Tabel 6.2.

Tabel 6.2: Anggaran Dana Modal Kerja Awal

Proyek : --------------------------------

c) Perhitungan jumlah dana keseluruhan yang dibutuhkan oleh proyek yang


direncanakan. Jumlah dana keseluruhan tersebut adalah penjumlahan dari
kebutuhan dana modal tetap dan dana modal kerja netto. Walaupun jumlah
keseluruhan dapat dijabarkan dalam bentuk rupiah, namun hendaknya masih
dapat dilihat berapa jumlah kebutuhan valuta asing yang diperlukan oleh proyek
(bilamana ada). Agar dapat melihat pembagian kebutuhan dana rupiah dan
valuta asing, hendaknya jumlah dana keseluruhan yang diperlukan oleh proyek,
diringkas seperti dalam contoh Tabel 6.3.

Tabel 6-3: Anggaran Dana Keseluruhan

*) Penjabaran ke dalam rupiah hendaknya dilakukan dengan kurs mata uang yang berlaku
dipasar bebas.

6.2 Struktur Permodalan Proyek

Uraian tentang struktur pembiayaan proyek yang diusulkan atau


diharapkan, serta dasar-dasar pertimbangan usulan tersebut, Keuntungan serta
kerugiannya bagi proyek yang direncanakan. Hendaknya disebutkan secara
terperinci sumber pembiayaan yang diharapkan serta syarat minimal yang
ditetapkan oleh setiap jenis sumber. Sebagai contoh, apabila salah satu sumber
pembiayaan yang diharapkan adalah pinjaman dari bank, hendaknya diutarakan
suku bunga pinjaman yang berlaku, jangka waktu tenggang pembayaran kembali
kredit, jumlah angsuran tiap masa tertentu, cara pembayaran angsuran, jaminan
kredit yang diminta dan sebagainya.

Guna memberikan gambaran yang mudah mengenai struktur pembiayaan


proyek yang diusulkan, hendaknya struktur tersebut disusun dalam tabel seperti
contoh Tabel 6.4.

Tabel 6.4. Struktur pembiayaan

Proyek : -------------------
6.3 Evaluasi Kemampuan Proyek Memenuhi Kewajiban Finansial dan Mendatangkan
Keuntungan

Untuk mengevaluasi kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial


dan mendatangkan kuntungan hendaklah disusun proyeksi tiga macam daftar
keuangan yaitu perkiraan arus kas, daftar laba/rugi dan neraca. Ketiga macam
daftar keuntungan tersebut hendaknya disusun secara tahunan untuk seluruh masa
kehidupan proyek. Adapun bentuk ketiga macam daftar keuangan tersebut
nampak seperti dalam Tabel 6.5 sampai denganTabel 6.7.

Tabel 6.5. Proyeksi Perkiraan Arus Kas

Proyek :-------------------------
Catatan: untuk menghitung NPV dan IRR ke dalam aliran kas juga dimasukkan nilai sisa
harta tetap pada akhir tahun kehidupan.

Daftar keuangan yang kedua adalah daftar laba/rugi. Daftar tersebut juga disusun
secara tahunan untuk seluruh masa kehidupan proyek. Dalam tabel yang berikut disajikan
contoh penyusunan daftar laba/rugi.

Tabel 6.6. Proyeksi Daftar Laba/Rugi


Adapun daftar keuangan yang ketiga adalah neraca, disusun untuk tiap akhir tahun
selama masa kehidupan proyek. Dalam tabel yang berikut disajikan contoh penyusunan
neraca proyek.

Tabel 6.7: Proyek Neraca


* atas pos-pos harta tetap tertentu dikenakan penyusutan

Evaluasi kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial hendaknya


diadakan baik untuk kewajiban jangka pendek maupun panjang. Untuk mengukur
kemampuan jangka pendek hendaknya dipergunakan kriteria rasio likuiditas, yang
dapat dihitung dengan memperbandingkan angka-angka pos-pos harta lancar dan
kewajiban lancar tiap akhir tahun proyeksi. Kemampuan memenuhi kewajiban
finansial jangka panjang hendaknya diukur dengan kriteria rasio solvabilitas.

Sudah barang tentu hasil evaluasi dan saran tidak hanya semata-mata
dibatasi oleh angka-angka rasio. Hasil pengamatan faktor-faktor kualitatif yang
dapat mempengaruhi jalannya operasi proyek harus juga dipikirkan.

Kemampuan proyek mendatangkan keuntungan hendaknya diukur


dengan kriteria rasio laba atas seluruh aktiva, laba atas modal sendiri, laba atas
penjualan, NPV dan IRR.

6.4 Perhitungan Tingkat Break Even

Di dalam laporan evaluasi aspek keuangan hendaknya dihitung jumlah


hasil penjualan minimal produk yang harus dicapai tiap tahun agar dapat melampaui
titik break even atau titik impas.

6.5 Pengkajian Faktor Sensitivitas (Kepekaan)

Apabila dari hasil penelitian diketahui ada faktor-faktor tertentu yang


sangat menentukan keberhasilan operasi proyek, hendaknya disajikan pula beberapa
macam kemungkinan pengaruh positif atau negatif terhadap operasi proyek
bilamana terjadi perubahan pada faktor penetu tersebut.

6.6 Manfaat Sosial/Ekonomi yang lain

Di dalam laporan evaluasi proyek hendaknya diutarakan pula secara


terperinci berbagai macam manfaat sosial/ekonomi lainnya yang dapat diharapkan
dari proyek.

BAB 7: KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini disajikan kesimpulan hasil evaluasi terhadap


pemrakarsa, aspek demi aspek studi dan kesimpulan hasil evaluasi proyek
secara keseluruhan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut kemudian diajukan
saran.

7.1 Kesimpulan

a) Bagaimana kira-kira kemampuan pemrakarsa dalam pembiayaan proyek,


maupun dalam menangani kegiatan pembangunan dan operasi proyek yang
direncanakan. Di mana letak kekuatan dan kelemahan mereka, apakah
diperlukan bantuan dari luar, kalau diperlukan dalam hal atau bidang apa.

b) Bagaimana prospek masa depan kehidupan proyek ditinjau dari segi pemasaran,
teknis,teknologi, manajemen operasional, ekonomi dan keuangan.

c) Bagaimana prospek masa depan kehidupan proyek ditinjau dari semua aspek
secara keseluruhan.

d) Mafaat keuangan dan nonkeuangan, apa yang dapat diperoleh dari proyek,
berapa pula jumlahnya bilamana dapat diukur secara kuantitatif.

e) Kelemahan pokok apa yang terdapat pada proyek, bagaimana cara


mengatasinya.

7.2 Saran-saran

Berdasarkan kesimpula diatas, di dalam laporan studi kelayakan proyek


dapat diajukan pilihan saran yang berikut:

a) Proyek yang direncanakan cukup sehat ditinjau dari berbagai macam segi;
prospek masa depannya cukup cerah. Oleh karena itu disarankan agar rencana
investasi proyek diteruskan.

b) Proyek yang direncanakan tidak cukup sehat ditinjau dari bebagai macam segi;
prospek masa depannya meragukan. Oleh karena itu disarankan agar rencana
investasi proyek dihentikan.

c) Proyek yang direncanakan cukup sehat, tetapi mempunyai kelemahan-kelemahan


tertentu (sebutkan dengan jelas). Oleh karena itu disarankan agar rencana
investasi proyek sementara waktu ditunda sampai diperoleh kepastian bahwa
kelemahan-kelemahan tersebut diatas dapat diatasi.