Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peredaran semu Matahari dan Bulan setiap hari merupakan bagian dari
fenomena alam, dan dari perederannya maka terjadilah siang dan malam,
fenomena ini setiap hari terjadi tanpa henti malam dan siang selalu bergantian.
Panjang malam dan siang juga ternyata tidaklah sama, terkadang malam lebih
panjang dari pada siang, terkadang sebaliknya. Matahari dan Bulan juga terus
berputar mengelilingi Bumi, dan apabila kita perhatikan, ternyata Matahari dan
Bulan tidak selalu bersamaan dalam terbit dan tenggelamnya, Bulan terkadang
terbit lebih dulu kemudian disusul Matahari, tetapi kadang Matahari lebih dulu
kemudian di susul Bulan. Dari peredaran keduanya pada saatnya akan terjadi
konjungsi yaitu saat Matahari, Bulan dan Bumi berada pada garis yang lurus,
selain terjadi konjungsi dari peredaran keduanya akan terjadi pula oposisi yaitu
saat Matahari, Bumi dan Bulan berada pada garis yang lurus,
Sebagaimana fenomena alam yang lain, gerhana juga merupakan fenomena
alam, ada gerhana Matahari dan juga gerhana Bulan. Gerhana Matahari terjadi
ketika Matahari, Bulan dan Bumi berada pada suatu garis lurus, sehingga Bulan
menutupi sebagian atau seluruh sinar Matahari. Sedangkan gerhana Bulan terjadi
ketika Matahari, Bumi dan Bulan berada pada suatu garis lurus, sehingga Bulan
sebagian atau seluruhnya masuk dalam bayang-bayang Bumi. Gerhana Matahari
terjadi pada fase Bulan baru (new moon) atau konjungsi, namun tidak setiap bulan
baru akan terjadi gerhana Matahari. Sedangkan gerhana Bulan terjadi pada fase
Bulan purnama (full moon) atau oposisi, namun tidak setiap bulan purnama akan
terjadi gerhana Bulan. Hal ini disebabkan bidang orbit Bulan mengitari Bumi
tidak pada bidang yang sama dengan bidang orbit Bumi mengitari Matahari
(bidang ekliptika), namun miring membentuk sudut sebesar sekitar 5 derajat1 .
Seandainya bidang orbit Bulan mengitari tersebut terletak tepat pada bidang
ekliptika, maka setiap Bulan baru akan selalu terjadi gerhana Matahari, dan setiap
Bulan purnama akan selalu terjadi gerhana Bulan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana peran bulan pada pasang surut air laut?
2. Bagaimana terjadinya fase bulan?

1
3. Apa itu gerhana bulan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui peran bulan pada pasang surut air laut
2. Mengetahui terjadinya fase bulan
3. Mengetahui pengertian gerhana bulan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Peran Bulan Pada Pasang Surut Air Laut

2
2.1.1 Pasang Surut Air Laut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasigaya gravitasi
dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi
dan bulan. Menurut Mihardja dan Setiadi (1989) dalam Hidayat (2010), pasang
surut merupakan perubahan gerak relatif dari materi planet, bintang dan benda-
benda angkasa lainnya yang diakibatkan oleh aksi gravitasi benda-benda di luar
materi itu berada.

Menurut Pariwono (1989) dalam Purwati et al. (2008), pasang surut atau
disingkat pasut merupakan salah satu parameter fisika yang lain, yakni suatu
gerakan vertikal dari suatu masa air dari permukaan sampai bagian terdalam dari
dasar laut yang disebabkan oleh pengaruh dari gaya tarik menarik antara bumi dan
benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan. Mengingat jarak antar bumi
dan matahari lebih jauh dari pada jarak antara bumi dan bulan, maka fenomena
pasang surut di bumi lebih dominan dipengaruhi oleh gaya tarik terhadap bulan.
Fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala
akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan
terhadap massa air di bumi.

2.1.2 Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut

Menurut Sugiyono (1990) dalam Kurniawan (2000) dalam konteks


oseanografi, pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek
sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi
bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap
jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan
dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang
surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya
tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua
tonjolan (bulge)pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang
surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital
bulan dan matahari.

3
Menurut Pariwono (1989) keadaan pasang surut di suatu tempat dilukiskan
oleh konstanta harmonik. Sehingga yang dimaksud dengan analisis harmonik
pasang surut adalah suatu cara untuk mengetahui sifat dan karakter pasang surut
di suatu tempat dari hasil pengamatan pasang surut dalam kurun waktu tertentu.
Pengamatan pasang surut idealnya selama 18,6 tahun.

Menurut Kurniawan (2000) ) gerakan pasang surut pada tempat-tempat


tertentu tidak hanya tergantung pada gaya tarik bulan dan matahari saja, tetapi
juga ditentukan oleh gaya friksi, rotasi bumi (gaya coriolis), resonansi gelombang
yang disebabkan oleh bentuk, luas, kedalaman, topografi bawah air serta
hubungan perairan tersebut dengan laut di sekitarnya (lautan terbuka/laut bebas
dengan laut tertutup/laut terisolir). Selain itu, terdapat faktor-faktor non-astronomi
yang mempengaruhi pasut, seperti tekanan atmosfer, angin, densitas air laut,
penguapan dan curah hujan (Mihardja dan Setiadi, 1989 ).

2.1.3 Kombinasi Pengaruh Bulan dan Matahari

Menurut Triatmodjo (2007) meskipun massa matahari jauh lebih besar dari
massa bulan (27 juta kali) tetapi jaraknya terhadap bumi 387 kali lebih jauh dari
jarak bumi-bulan. Oleh karena itu pasang surut oleh matahari 46% pasang surut
oleh bulan. Kombinasi pengaruh pasang surut bulan dan pasang surut matahari
dapat memperbesar atau memperkecil tinggi pasang surut yang terjadi. Pada
bulan baru (new moon) dan bulan purnama (full moon) dimana bumi, bulan
dan matahari berada dalam satu garis, pasang surut oleh bulan diperkuat
oleh pasang surut matahari. Pada waktu-waktu ini pasang surut yang terjadi
mempunyai tinggi yang maksimum, dan disebut pasang purnama (spring
tide). Pada kuartir pertama dan kuartir ketiga dimana posisi bulan, bumi
tegak lurus matahari, pasang surut oleh bulan diperlemah oleh pasang surut
matahari. Pada waktu-waktu ini pasang surut yang terbentuk mempunyai
tinggi yang minimum dandisebut pasang perbani (neap tide).

Menurut Pond dan pickard (1983) pasang surut juga bersifat periodik
sehingga dapat diramalkan. Untuk meramalkan pasang surut, diperlukan data
amplitudo dan beda fase dari komponen pembangkit pasang surut. Komponen-

4
komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian.
Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk morfologi pantai dan
superposisi antar gelombang pasang surut komponen utama, terbentuk komponen-
komponen pasang surut yang baru.

Bulan dan bumi memiliki gravitasinya masing-masing. Kedua gaya


gravitasi ini ternyata saling memengaruhi satu sama lain. Antara pusat bumi dan
pusat bulan terjadi gaya saling tarik menarik akibat gravitasi tersebut. Gaya ini
mengakibatkan bumi sedikit tertarik ke arah bulan. Inilah yang mendasari
terjadinya pasang surut air laut.

Kondisi saat air laut naik disebut pasang naik. Kondisi ini terjadi dua kali,
yaitu pada saat bulan purnama dan bulan baru. Di belahan bumi yang mengalami
bulan purnama, jarak antara air laut dan pusat bulan lebih dekat daripada jarak
antara pusat bumi dengan pusat bulan.

Akibatnya, gravitasi bulan menarik air laut lebih kuat daripada bumi. Ini
mengakibatkan air laut sedikit menggembung terhadap permukaan bumi dan
jadilah pasang naik. Sebaliknya, di belahan bumi yang mengalami bulan baru,
jarak air laut dan pusat bulan lebih jauh daripada jarak antara pusat bumi dengan
pusat bulan.

Sedangkan kondisi saat air laut turun disebut pasang surut. Kapan kondisi
ini terjadi? Tentu saja saat bukan bulan purnama maupun bulan baru.
Penggembungan air di bagian yang mengalami bulan purnama dan bulan baru
tentu saja mengambil jatah air dari belahan bumi lainnya.

Karena itulah di belahan bumi lainnya terjadi pasang surut. Pasang surut
terbanyak terjadi saat bulan separuh, karena pada saat bulan separuh, bagian bumi
tersebut berada tepat di tengah bagian yang mengalami bulan purnama dan bulan
baru.

2.1.4 Tipe Pasang Air Laut


1. Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide)

5
Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali air surut dengan
tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur.
Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pada jenis harian ganda misalnya
terdapat di perairan Selat Malaka sampai ke Laut Andaman.
2. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode
pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. Jenis harian tunggal misalnya
terdapat di perairan sekitar selat Karimata, antara Sumatra dan Kalimantan.
3. Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing
semidiurnal)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi
tinggi dan periodenya berbeda. Pada pasang-surut campuran condong ke harian
ganda (mixed tide, prevailing semidiurnal) misalnya terjadi di sebagian besar
perairan Indonesia bagian timur.
4. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing
diurnal)
Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air
surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan
dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Sedangkan jenis
campuran condong ke harian tunggal (mixed tide, prevailing diurnal) contohnya
terdapat di pantai selatan Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat.
2.2 Fase Bulan

6
Bulan merupakan satelit Bumi. Permukaan Bulan terdiri dari lembah,
kepundaan, gunung diakibatkan adanya benturan-benturan meteor diangkasa.
Karena sumber cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi adalah pantulan sinar
Matahari, dalam revolusinya, fase-fase Bulan yang terlihat dari Bumi akan
berubah-ubah. Fase-fase utama Bulan adalah fase bulan baru, fase setengah
purnama awal (perempat pertama), fase purnama, dan fase setengah purnama
akhir (perempat akhir). Periode revolusi Bulan pada bidang orbitnya dihitung dari
posisi fase bulan baru ke fase setengah purnama awal ke fase purnama ke fase
setengah purnama akhir dan kembali ke fase bulan baru disebut sebagai periode
sinodis.
Karena lama waktu yang ditempuh Bulan untuk menyelesaikan kedua
periode tersebut berbeda, pada suatu saat Bulan akan berada pada fase bulan baru
dan posisinya di perigee. Sementara di saat yang lain Bulan akan berada pada fase
purnama dan posisinya di apogee. Demikian juga hal yang sebaliknya akan
terjadi. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan waktu saat Bulan pada
fase tertentu dengan waktu saat posisi Bulan di perigee atau apogee.

Gambar 1. Fase Bulan


1. Pada saat bulan baru (new moon), bulan berada pada posisi 0 , sisi bulan
yang menghadap Bumi tidak menerima cahaya dari matahari, sehingga
bulan tidak jelas terlihat.

7
2. Bulan sabit muda (waxing crescent), bulan berada pada 45. Selama fase
ini kurang dari setengah bulan yang menyala dan sebagai fase
berlangsung, bagian yang menyala secara bertahap akan lebih besar.
3. Kuartal pertama (first quarter), bulan berada pada posisi 90. Bulan
mencapai tahap ini ketika setengah dari bagian bulan terlihat.
4. Bulan cembung (waxing gibbous), bulan berada pada posisi 135. Awal
fase ini ditandai saat bulan setengah ukuran, dan fase berlanjut sehingga
bagian bulan terlihat lebih besar.
5. Bulan purnama (full moon), bulan berada pada posisi 180. Sisi bulan
yang menghadap bumi benar-benar mendapat cahaya dari matahari, maka
seluruh bulan terlihat.
6. Bulan cembung (waning gibbous) , bulan berada pada posisi 225. Selama
fase ini bagian dari bulan yang terlihat dari bumi secara bertahap menjadi
lebih kecil.
7. Bulan kuartil terakhir (last quarter), bulan berada pada posisi 270. Bulan
mencapai tahap ini ketika setengah dari bagiannya terlihat.
8. Sabit tua (waning crescent), bulan berada pada posisi 315. Hanya
sebagian kecil dari bulan yang terlihat,dalam fase ini berangsur-angsur
bulan menjadi kecil.
2.3 Gerhana Bulan
Secara etimologi gerhana Bulan terdiri dari dua kata yaitu gerhana dan
Bulan. Gerhana merupakan padanan kata dari kata eclipse (Bahasa Inggris),
ekleipsis (Bahasa Yunani) dan eklipsis (Bahasa Latin).1 Dalam Bahasa Arab,
gerhana dikenal dengan istilah kusuf atau khusuf. Istilah kusuf dan khusuf dapat
digunakan untuk menyebut gerhana Matahari atau gerhana Bulan. Hanya saja,
kata kusuf lebih dikenal untuk menyebut gerhana Matahari, sedangkan kata khusuf
lebih dikenal untuk menyebut gerhana Bulan.2 Pemaknaan ini sesuai dengan
pemaknaan yang ada dalam kamus al-Bisri. Dalam kamus tersebut, gerhana Bulan
diistilahkan dengan khusuf al-Qamar, sedangkan gerhana Matahari diistilahkan
dengan kusuf al-Syams.3
Jika dilacak dari akar katanya, khusuf berasal dari kata khasafa sedangkan
kusuf berasal dari kata kasafa. Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor mengartikan
khasafa dengan menenggelamkan segala isinya,4 sedangkan kata Kasafa
dengan menutupi/menghalangi.

8
Gerhana merupakan fenomena astronomi yang selalu menarik perhatian
manusia dengan berbagai interpretasinya. Ada sebagian golongan yang meyakini
bahwa gerhana terjadi karena adanya sesosok raksasa besar (Bhatarakala) yang
sedang berupaya menelan Bulan. Ada juga golongan yang meyakini bahwa ketika
terjadi gerhana khusus bagi wanita hamil diharuskan bersembunyi di bawah
tempat tidur agar bayi yang dilahirkan tidak cacat.
Dari definisi-definisi di atas, penulis mendefiniskan bahwa gerhana Bulan
adalah peristiwa terhalangnya cahaya Matahari menuju Bulan oleh Bumi karena
ada dalam satu lintasan garis lurus. Fenomena tersebut dalam Bahasa Arab
diistilahkan dengan kata khusuf karena pada saat peristiwa gerhana Bulan, Bulan
tidak bisa memantulkan cahaya Matahari karena terhalang oleh Bumi. Bulan
bukan sumber cahaya layaknya Matahari. Namun, pengamat dari Bumi melihat
Bulan seakan-akan kehilangan cahayanya. Hal ini sesuai dengan pendapat al-
Laits bin
Gerhana bulan terjadi pada saat sebagian atau keseluruhan penampang
bulan tertutup oleh bayangan bumi. Hal itu terjadi bila bumi berada diantaa
matahari dan bulan pada saat satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari
tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.
Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan
memunculkan 2 buah titik potong yang disebut node, yaitu titik dimana bulan
memotong bidang ekliptika. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk
bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya.
Pada peristiwa gerhan bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini
dikarenakan masih ada sinar matahari yang dibelokkan kearah bulan oleh atmosfir
bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan memiliki spektrum cahaya merah.
Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan tampak berwarna gelap, merah,
jingga.

Jenis-jenis Gerhana Bulan.

9
1. Gerhana bulan total.
Gerhana bulan total dibagi menjadi 2, yaitu: gerhana bulan total positif
dan gerhana bulan total negatif.

Gambar 1
2. Gerhana bulan sebagian.
Pada gerhana ini, bumu tidak seluruhnya menghalangi bulan dari sinar
matahari. Sedangkan sebagian permukaan bulan yang lain berada di
daerah penumbra.

Gambar 2

3. Gerhana bulan penumbra.


Pada gerhana ini, seluruh bagian bulan berada di daerah penumbra
sehingga bulan masih dapat terlihat dalam warna yang suram.

10
Gambar 3

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

11
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasigaya gravitasi
dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi
dan bulan. Kombinasi pengaruh pasang surut bulan dan pasang surut matahari
dapat memperbesar atau memperkecil tinggi pasang surut yang terjadi. Pada bulan
baru (new moon) dan bulan purnama (full moon) dimana bumi, bulan dan
matahari berada dalam satu garis, pasang surut oleh bulan diperkuat oleh pasang
surut matahari. Tipe pasang air lain yaitu Pasang surut harian ganda, Pasang surut
harian tunggal, Pasang surut campuran condong ke harian ganda, Pasang surut
campuran condong ke harian tunggal. Tahapn pada fase bulan yaitu bulan baru
(new moon), bulan berada pada posisi 0; bulan sabit muda (waxing crescent),
bulan berada pada 45; kuartal pertama (first quarter), bulan berada pada posisi
90; bulan cembung (waxing gibbous), bulan berada pada posisi 135; Bulan
purnama (full moon), bulan berada pada posisi 180; Bulan cembung (waning
gibbous) , bulan berada pada posisi 225; Bulan kuartil terakhir (last quarter),
bulan berada pada posisi 270; Sabit tua (waning crescent), bulan berada pada
posisi 315. Gerhana bulan terjadi pada saat sebgian atau keseluruhan penampang
bulan tertutup oleh bayangan bumi. Jenis-jenis gerhana bulan yaitu gerhana bulan
total, sebagian dan penumbra.

DAFTAR PUSTAKA

12
Mihardja, D. K. dan R. Setiadi. 1989. Analisis Pasang Surut di Daerah Cilacap
dan Surabaya

Kurniawan. 2000. Fase-Fase Bulan. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan


Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Triatmodjo, B.2007. Pelabuhan.Yogyakarta : Beta Offset

13