Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI

HITUNG TROMBOSIT DAN KELAINAN TROMBOSIT

OLEH :

DESAK GEDE DIAN PURNAMA DEWI


P07134014027

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
2016
Hari, Tanggal : Senin, 06 Juni 2016
Tempat Praktikum : Laboratorium Hematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar
Semester : IV (Empat)

I. TUJUAN
A. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung trombosit dengan hapusan darah tepi
B. TujuanInstruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan hitung trombosit dengan hapusan darah tepi secara baik
dan benar
2. Mahasiswa dapat menentukan jumlah trombosit pada sampel darah probandus dengan
menggunakan hapusan darah tepi

II. METODE
Cara tidak langsung (Indirek Counting)

III.PRINSIP
Sediaan apusan darah diletakkan di atas meja mikroskop dan diamati pada pembesaran lensa
objektif 100x dengan penambahan oil imersi. Pengamatan dilakukan pada counting area. Secara
mikroskopis trombosit tampak sebagai sel kecil, tak berinti, bulat dengan sitoplasma berwarna
biru-keabu-abuan pucat yang berisi granula merah-ungu yang tersebar merata.

IV. DASAR TEORI


IV.1 Darah
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat dianggap
sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur unsur sel
dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel- sel diseluruh tubuh. Darah juga menyuplai
jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat zat sisa metabolisme, dan mengandung
berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit (Yazhid, 2013).
Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan
unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari
eritrosit dan leukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah, sedangkan
plasma darah pada dasarnya adalah cairan yang mengandung : air (90%) dan zat terlarut
(10%) yang terdiri dari : protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7%, senyawa organik
(As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1%- dan garam organik (sodium, potasium, kalsium)
0.9% (Yully, 2013).

IV.2 Komposisi Darah


Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari
darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan
darah yang disebut plasma darah.
a. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99% dari jumlah korpuskula).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai
sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel
darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan
eritrosit menderita penyakit anemia. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%),
bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
b. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus
atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang
yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan
leukosit menderita penyakit leukopenia.
c. Plasma darah
Pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : albumin, bahan pembeku darah,
immunoglobin (antibodi), hormon, berbagai jenis protein, berbagai jenis garam (Anonim,
2014).

IV.3 Trombosit
Tombosit adalah fragmen sitoplasma megakariosit yang tidak berinti dan terbentuk di
sumsum tulang. Trombosit matang berukuran 2-4 um, berbentuk cakram bikonveks. Setelah
keluar dari sumsum tulang, sekitar 20-30 % trombosit mengalami sekuestrasi di limpa.
Jumlah trombosit normal adalah 150.000 450.000 per mm3 darah. Trombosit dalam
sirkulasi adalah kepingan-kepingan yang berasal dari sitoplasma megakariosit, yaitu suatu sel
besar berinti banyak yang terdapat dalam sumsum tulang. Pengaturan produksi trombosit
diduga dilakukan oleh trombopoeitin. Bila kebutuhan hemostasis meningkat, atau ada
rangsangan terhadap sumsum tulang, produksi trombosit dapat meningkat 7-8 kali. Trombosit
yang baru dibentuk biasanya berukuran lebih besar dan memiliki kemampuan hemostasis
yang lebih baik daripa trombosit tua yang ada dalam sirkulasi (Rohmawati, 2003).
Trombosit adalah fragmen atau kepingan-kepingan tidak berinti dari sitoplasma
megakariosit yang berukuran 1-4 mikron dan beredar dalam sirkulasi darah selama 10 hari.
Trombosit memiliki peran dalam sistem hemostasis, suatu mekanisme faali tubuh untuk
melindungi diri terhadap kemungkinan perdarahan atau kehilangan darah. Fungsi utama
trombosit adalah melindungi pembuluh darah terhadap kerusakan endotel akibat trauma-
trauma kecil yang terjadi sehari-hari dan mengawali penyembuhan luka pada dinding
pembuluh darah. Mereka membentuk sumbatan dengan jalan adhesi (perlekatan trombosit
pada jaringan sub-endotel pada pembuluh darah yang luka) dan agregasi (perlekatan antar sel
trombosit) (Rohmawati, 2003).

IV.4 Hitung Trombosit


Trombosit sukar dihitung karena kecil, mudah pecah dan sulit dibedakan dengan kotoran.
Trombosit juga mudah melekat pada benda asing (adesif) dan cenderung saring menempel
satu sama lain (agregasi). Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin dan dianjurkan
memakai peralatan yang dilapisi silicon atau peralatan plastik (Wulandari, _).
Trombosit dapat dihitung secara langsung maupun tak langsung. Cara langsung dilakukan
secara manual atau otomatis. Cara manual dapat dilakukan dengan metode Rees Ecker atau
Brecher-Cronkite. Sedangkan penghitungan tak langsung memakai cara Fonio. Macam
macam metode hitung trombosit, yaitu :
a. Metode langsung (Rees Ecker)
Hitung trombosit secara langsung menggunakan kamar hitung yaitu dengan
mikroskop cahaya. Pada hitung trombosit cara Rees-Ecker, darah diencerkan ke dalam
larutan yang mengandung Brilliant Cresyl Blue sehingga trombosit tercat biru muda. Sel
trombosit dihitung dengan menggunakan kamar hitung standar dan mikroskop. Secara
mikroskopik trombosit tampak refraktil dan mengkilat berwarna biru muda/lila lebih
kecil dari eritrosit serta berbentuk bulat, lonjong atau koma tersebar atau bergerombol.
Cara ini memiliki kesalahan sebesar 16-25%, penyebabnya karena faktor teknik
pengambilan sampel yang menyebabkan trombosit bergerombol sehingga sulit dihitung,
pengenceran tidak akurat dan penyebaran trombosit yang tidak merata.
b. Metode Fase Kontras
Pada hitung trombosit metode fase kontras, darah diencerkan ke dalam larutan
ammonium oksalat 1% sehingga semua eritrosit dihemolisis. Sel trombosit dihitung
dengan menggunakan kamar hitung standar dan mikroskop fase kontras. Sel-sel lekosit
dan trombosit tampak bersinar dengan latar belakang gelap. Trombosit tampat bulat atau
bulat telur dan berwarna biru muda/lila terang. Bila fokus dinaik-turunkan tampak
perubahan yang bagus/kontras, mudah dibedakan dengan kotoran karena sifat
refraktilnya. Kesalahan dengan metode ini sebesar 8 10%. Metode fase kontras adalah
pengitungan secara manual yang paling baik. Penyebab kesalahan yang utama pada cara
ini, selain faktor teknis atau pengenceran yang tidak akurat, adalah pencampuran yang
belum merata dan adanya perlekatan trombosit atau agregasi.
c. Modifikasi Metode Fase-Kontras dengan Plasma Darah
Metodenya sama seperti fase-kontras tetapi sebagai pengganti pengenceran dipakai
plasma. Darah dibiarkan pada suhu kamar sampai tampak beberapa mm plasma.
Selanjutnya plasma diencerkan dengan larutan pengencer dan dihitung trombosit dengan
kamar hitung seperti pada metode fase-kontras.
d. Metode Tidak Langsung
Cara ini menggunakan sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna Wright,
Giemsa atau May Grunwald. Sel trombosit dihitung pada bagian sediaan dimana eritrosit
tersebar secara merata dan tidak saling tumpang tindih. Metode hitung trombosit tak
langsung adalah metode Fonio yaitu jumlah trombosit dibandingkan dengan jumlah
eritrosit, sedangkan jumlah eritrosit itulah yang sebenarnya dihitung. Cara ini sekarang
tidak digunakan lagi karena tidak praktis, dimana selain menghitung jumlah trombosit,
juga harus dilakukan hitung eritrosit. Penghitungan trombosit secara tidak langsung yang
menggunakan sediaan apus dilakukan dalam 10 lpmi x 2000 atau 20 lpmi x 1000
memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang baik untuk populasi trombosit normal dan
tinggi (trombositosis). Korelasinya dengan metode otomatis dan bilik hitung cukup erat.
Sedangkan untuk populasi trombosit rendah (trombositopenia) di bawah 100.000 per
mmk, penghitungan trombosit dianjurkan dalam 10 lpmi x 2000 karena memiliki
sensitifitas dan spesifisitas yang baik. Korelasi dengan metode lain cukup erat.
e. Metode Hitung Otomatis
Penghitung sel otomatis mampu mengukur secara langsung hitung trombosit selain
hitung lekosit dan hitung eritrosit. Sebagian besar alat menghitung trombosit dan eritrosit
bersama-sama, namun keduanya dibedakan berdasarkan ukuran. Partikel yang lebih kecil
dihitung sebagai trombosit dan partikel yang lebih besar dihitung sebagai eritrosit.
Dengan alat ini, penghitungan dapat dilakukan terhadap lebih banyak trombosit. Teknik
ini dapat mengalami kesalahan apabila jumlah lekosit lebih dari 100.000/mmk, apabila
terjadi fragmentasi eritrosit yang berat, apabila cairan pengencer berisi partikel-partikel
eksogen, apabila sampel sudah terlalu lama didiamkan sewaktu pemrosesan atau apabila
trombosit saling melekat (Riswanto,2009).

V. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Mikroskop binokuler
b. Bahan
1. Sediaan apus darah
2. Oil imersi
3. Tissue lensa

VI. CARA KERJA


1. Semua alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan
2. Mikroskop dihidupkan dengan menekan tombol on
3. Sediaan apusan darah yang telah diwarna atau dicat diletakkan di atas meja mikroskop
4. Sediaan diamati pada pembesaran lensa objektif 10X untuk menemukan lapang pandang
5. Pembesaran lensa objektif diubah ke pembesaran 100X dengan penambahan oil imersi
6. Diamati sediaan apus darah, dicari daerah counting area (daerah pembacaan dimana pada
daerah ini eritrosit tampak tersebar merata
7. Penghitungan jumlah trombosit dilakukan sebanyak 18 lapang pandang sesuai FN pada
mikroskop binokuler
8. Hasil dikalikan 1000 dan dinyatakan dalam satuan mm3

VII. NILAI RUJUKAN


150.000 450.000 mm3

VIII. HASIL PENGAMATAN


Identitas Pasien
Nama : Komang Sutantri
Umur : 40 tahun
JK : Perempuan

Hasil
276 sel x 1000 = 276.000mm3

Gambar

Trombosit normal
Eosinofil
Giant
trombosit

IX. PEMBAHASAN
Sediaan apusan darah tepi merupakan teknik membuat olesan (smear) darah yang
kemudian diratakan diatas gelas benda. Fungsi dari pembuatan sediaan apus darah ini adalah
untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop. Prinsip pemeriksaan sediaan darah ttepi
adalah dengan meneteskan darah lalu dipaparkan diatas objek glass, kemudian dilakukan
pengecatan dengan zat warna khusus dan diperiksa dibawah mikroskop. Tujuan dari pembuatan
sediaan darah tepi ini adalah untuk evaluasi morfologi dan jumlah dari sel sel darah seperti
eritrosit, leukosit, dan trombosit dan identifikasi parasit pada pemeriksaan parasitologi seperti
malaria, microfilaria, dan trypanosoma (Yazhid, 2013).
Sebelum melakukan pengamatan alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu serta praktikan
harus menggunakan alat pelindung diri yang baik dan benar. Pengamatan dilakukan dengan
menggunakan mikroskop pembesaran 1000x, dimana langkah pertama yang dilakukan adalah
mengarahkan lensa objektif ke pembesaran 10x berfungsi untuk mencari lapang pandang.
Setelah lapang pandang dittemukan lensa objektif diarahkan ke pembesaran 100x dan preparat
diberi oil imersi. Fungsi dari oil imersi adalah untuk mengurangi indeks bias cahaya mikroskop
dan sebagai pelumas agar preparat tidak tergores dan pecah saat bergesekan dengan lensa
mikroskop (Yazhid, 2013). Pengamatan dilakukan pada counting area yaitu bagian tipis dari
preparat apusan darah tepi dimana pada bagian tersebut eritrosit tersebar merata dan tidak saling
bertumpukan, hal tersebut dimaksudkan lebih mudah dalam proses pengamatan sehingga faktor
kesalahan dapat dikurangi.
Pada praktikum hematologi kali ini dilakukan pengamatan terhadap trombosit. Hitung
trombosit berfungsi untuk mengevaluasi terhadap hitung trombosit cara langsung dan untuk
mengetahui adanya trombositopenia maupun trombositosis pada pasien yang diperiksa, karena
trombositopenia dapat berisiko perdarahan sehingga penetapannya harus dilakukan dengan hati
hati. Crosscheck pada SADT bertujuan mengetahui ada tidaknya perbedaan antara hasil hitung
trombosit dengan jumlah trombosit secara estimasi. Evaluasi hitung trombosit dengan
menggunakan SADT ini berguna karena terkadang metode otomatis dengan teknik impedansi
memiliki keterbatasan antara lain trombosit bergerombol (clumping platelets) dan giant platelets
yang tidak terhitung sebagai trombosit (Rohmawati, 2003). Oleh karena itu diperlukan evaluasi
dengan menggunakan SADT.
Sampel yang digunakan untuk membuat apusan darah bisa dari kapiler ataupun vena. Jika
menggunakan darah vena sebagai sampel maka darah tersebut harus ditampung di dalam tabung
vacutainer yang berisi antikoagulan EDTA. Antikoagulan EDTA baik digunakan karena tidak
mempengaruhi besar dan bentuk dari sel sel darah (Wulandari, _). Langkah berikutnya adalah
meneteskan satu tetes darah diatas objek glass, sebelum diteteskan sampel darah dihomogenkan
terlebih dahulu. Penetesan dilakukan secara perlahan dan usahakan darah yang menetes tidak
terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit agar apusan yang dibuat terlalu tebal dan tipis karena jika
hapusan terlalu tebal maka saat pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat tidak jelas karena
sel darah bertumpuk. Selanjutnya dibuat apusan darah menggunakan objek glass yang lain
dengan sudut 30 40o. Darah digeser secara cepat agar apusan yang terbentuk tidak bersekat
sekat. Ciri ciri apusan yang baik adalah sediaan tidak melebar sampai tepi objek glass, panjang
sampai 2/3 panjang kaca, mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa atau disebut
juga dengan counting area, pada bagian itu eritrosit tersebar rata dan tidak saling bertumpukan,
pinggir sediaan rata tidak berlubang lubang atau bergaris garis.
Selanjutnya apusan dikering anginkan, setelah apusan kering langkah selanjutnya adalah
fiksasi. Larutan yang digunakan saat fiksasi adalah larutan methanol selama 2 menit. Fungsi
fiksasi adalah untuk mengawetkan dan melekatkan apusan pada objek glass sehingga apusan
darah tahan lama dan tidak luntur saat proses pengecatan. Setelah itu dilakukan pengecatan
terhadap SADT dengan menggunakan cat Giemsa. Pada gambaran mikroskopik dengan
pewarnaan Giemsa, trombosit akan tampak sebagai sel kecil tidak berinti, bulat dengan
sitoplasma berwarna biru keabu-abuan pucat yang berisi granula merah ungu yang tersebar
merata. Pada praktikum ini SADT yang digunakan sudah jadi dan berasal dari RSUP Sanglah
Denpasar.
Trombosit dihitung hingga 18 lapang pandang dan sesuai dengan FN (Field number) yang
terdapat pada masing masing mikroskop. FN menentukan luas lapang pandang (field of view
diameter) yang berpengaruh terhadap jumlah trombosit perlapang pandang. Kebanyakan
mikroskop mempunyai FN 18, sedangkan generasi baru sudah mulai memakai 20 atau 22. Jika
FN yang terdapat pada mikroskop 22 maka penghitungan dilakukan sebanyak 11 lapang pandang
(Rohmawati, 2003). Pada praktikum kali ini dilakukan penghitungan sebanyak 18 lapang
pandang karena mikroskop di jurusan analis kesehatan poltekkes denpasar memiliki FN 18.
Pengamatan leukosit pada mikroskop menggunakan teknik horizontal scanning yaitu pemindaian
lapang pandang seperti huruf S. Selanjutnya setelah mencapai 18 lapang pandang hasil yang
diperoleh dikalikan 1000 kemudian dicocokkan dengan nilai rujukan.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada


SADT pasien atas nama Komang Sutantri/40 tahun yang berasal dari RSUP Sanglah didapatkan
hasil jumlah trombosit 276 sel, kemudian hasil tersebut dikalikan 1000 sehingga jumlah
trombosit yang didapat adalah 276.000 mm3. Hasil tersebut tergolong normal karena berada
dalam rentang nilai rujukan untuk trombosit yaitu 150.000 450.000 mm3. Hasil tersebut
kemudian dibandingkan dengan pemeriksaan darah lengkap pasien menggunakan Hematology
Analyzer, dimana hasil trombosit yang didapat dengan menggunakan alat otomatis adalah
267.000 mm3. Selisih hasil antara metode manual dan metode otomatis adalah sekitar 9 sel,
dimana selisih tersebut tidak terlalu bermakna dan hasil dari kedua metode tersebut sama sama
bernilai normal.
Penurunan jumlah trombosit dapat disebabkan oleh penyakit ITP, myeloma multiple,
kanker (tulang, saluran gastrointestinal, otak), leukemia (limfositik, mielositik, monositik),
anemia aplastik, penyakit hati (sirosis, hepatitis aktif kronis), SLE, DIC, eklampsia, penyakit
ginjal, demam rematik akut. Pengaruh obat : antibiotik (kloromisetin, streptomisin),
sulfonamide, aspirin (salisilat), quinidin, quinine, asetazolamid (Diamox), amidopirin, diuretik
tiazid, meprobamat (Equanil), fenilbutazon (Butazolidin), tolbutamid (Orinase), injeksi vaksin,
agen kemoterapeutik. Sedangkan peningkatan jumlah trombosit dapat diakibatkan oleh
Polisitemia vera, trauma (fraktur, pembedahan), paskasplenektomi, karsinoma metastatic,
embolisme pulmonary, dataran tinggi, tuberculosis, retikulositosis, latihan fisik berat. Pengaruh
obat : epinefrin (adrenalin) (Riswanto, 2009).
Adapun faktor faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium yaitu kemoterapi
dan sinar X dapat menurunkan jumlah trombosit, pengaruh obat, penggunaan darah kapiler
menyebabkan hitung trombosit cenderung lebih rendah, pengambilan darah yang lamban
menyebabkan trombosit saling melekat (agregasi) sehingga jumlahnya menurun palsu, tidak
segera mencampur darah dengan antikoagulan atau pencampuran yang kurang adekuat juga
dapat menyebabkan agregasi trombosit, bahkan dapat terjadi bekuan. Faktor lainnya adalah
perbandingan volume darah dengan antikoagulan tidak sesuai. Jika volume darah sedikit dan
EDTA berlebihan maka sel sel eritrosit mengalami krenasi sedangkan trombosit membesar dan
mengalami disintegrasi. Jika volume darah terlalu banyak dan jumlah EDTA sedikit maka dapat
menyebabkan terbentuknya jendalan yang berakibat menurunnya jumlah trombosit (Riswanto,
2009).

X. SIMPULAN
1. Pemeriksaan hitung trombosit dengan menggunakan SADT bertujuan untuk crosscheck
mengetahui ada tidaknya perbedan antara hasil hitung trombosit dengan jumlah trombosit
secara estimasi. Pada SADT trombosit akan tampak berupa sel kecil tidak berinti dan
berwarna ungu kemerahan.
2. Dari pengamatan hitung trombosit yang telah dilakukan pada apusan darah tepi pasien
atas nama Komang Sutantri/ 40 tahun/ perempuan didapatkan hasil 276.000 mm3 dan
dengan menggunakan alat hematology analyzer didapatkan hasil 267.000 mm3. Hasil
diatas tergolong normal karena berada dalam batas nilai rujukan yaitu 150.000 450.000
mm3
DAFTAR PUSTAKA

Riswanto. 2009. Hitung Trombosit. [online]. Tersedia :


http://labkesehatan.blogspot.co.id/2009/12/hitung-trombosit.html. [diakses : 11 Juni
2016, 21.11 wita]
Rohmawati, Enny. 2003. Penentuan Faktor Estimasi Jumlah Trombosit Pada Sediaan Apus Darah
Tepi Pasien Trombositopenia. [online]. Tersedia ;
http://eprints.undip.ac.id/14747/1/2003FK598.pdf . [diakses : 23.04 wita]
Wulandari, Adisti. _. Perbandingan Hitung Trombosit Dengan Alat Hitung Otomatis Dan Cara
Manual Tidak Langsung. [online]. Tersedia : http://aakmalang.blogspot.co.id/p/hitung-
trombosit-dg-otomatis.html. [Diakses : 11 Juni 2016, 20.38 wita]
Yazhid. 2013. Pembuatan dan Pewarnaan Sediaan Apus. [Online]. Tersedia :
http://yazhid28bashar.blogspot.co.id/2013/04/pembuatan-dan-pewarnaan-sediaan-
apus.html. [Diakses : 25 Maret 2016, 12.43 Wita]
Yully. 2013. Hitung Jenis Leukosit (Differential Count) dan Evaluasi Hapusan Darah Tepi
(HDT). [Online]. Tersedia : https://yullyanalis.wordpress.com/2013/06/28/hitung-jenis-
leukosit-differential-count-dan-evaluasi-hapusan-darah-tepi-hdt/. [Diakses : 26 Mei 2016,
18.39 wita]
Denpasar, 13 Juni 2016
Praktikan
.

Desak Gede Dian Purnama Dewi


P07134014027

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui,
Pembimbing I Pembimbing II

DR. dr. Sianny Herawati, Sp.PK Rini Riowati, B.Sc

Pembimbing III Pembimbing IV

I Ketut Adi Santika, A. Md. AK Luh Putu Rinawati, A.Md.AK


Pembimbing V

Kadek Aryadi Hartawiguna, A.Md.AK