Anda di halaman 1dari 18

Laporan Kasus

PTERIGIUM

Oleh:
Indira Suluh Paramita
NIM. 1508434434

Pembimbing :

dr. R. Handoko Pratomo, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular konjungtiva yang


bersifat degeneratif dan invasif, berbentuk segitiga dengan puncak di bagian
sentral atau di daerah kornea. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah
kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah
kornea dan berpotensi menyebabkan kebutaan pada pertumbuhan lebih lanjut. 1
Penyebab pterigium didominasi oleh lingkungan alam, seperti matahari dan
radiasi ultraviolet dan iritasi kronik dari partikel-partikel udara. Beberapa
penelitian juga menyebutkan adanya keterlibatan faktor herediter.2
Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim
panas dan kering. Prevalensi tinggi ditemukan pada daerah berdebu dan kering
dan pada pada daerah dekat ekuator. Ditemukan bahwa prevalensi tinggi sampai
22 % di daerah dekat ekuator dan <2 % pada daerah di atas lintang 40 0. Pemicu
pterygium tidak hanya dari etiologinya saja tetapi terdapat faktor risiko yang
mempengaruhinya antara lain faktor usia, jenis kelamin, jenis pterygium, jenis
pekerjaan (outdoor atau indoor ). Hal ini dapat dibuktikan pada studi yang
dilakukan Gazzard di Indonesia yang menyebutkan pada usia dibawah 21 tahun
sebesar 10 % dan diatas 40 tahun sebesar 16,8%, pada wanita 17,6 % dan laki-
laki 16,1%. Berdasarkan letak Indonesia sebagai bagian negara beriklim tropis
dan dengan paparan sinar UV yang tinggi, angka kejadian Pterygium cukup
tinggi .3,4
Penatalaksanaan pterygium dapat berupa sikap konservatif untuk
pterigium derajat 1 dan 2, serta tindakan operatif berupa kombinasi autograph
konjungtiva dan eksisi untuk pterygium derajat 3 dan 4.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pterigium
2.1.1 Defenisi
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan fibrovaskuler pada
konjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea, umumnya bilateral di
sisi nasal, biasanya berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap ke sentral
kornea dan basis menghadap lipatan semilunar pada cantus.1,5
2.1.2 Epidemiologi
Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim
panas dan kering. Prevalensi tinggi ditemukan pada daerah berdebu dan kering.
Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat dengan ekuator yaitu
daerah <370 lintang utara dan selatan dari ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22 %
di daerah dekat ekuator dan <2 % pada daerah di atas lintang 400.4
Prevalensi pterigium meningkat dengan umur, terutama dekade ke 2 dan
3 kehidupan. Insiden tinggi pada umur antara 20-49 tahun. Pterigium rekuren
sering terjadi pada umur muda dibandingkan dengan umur tua. Laki-laki 4 kali
lebih berisiko daripada perempuan dan berhubungan dengan merokok,
pendidikan rendah dan riwayat paparan lingkungan di luar rumah. Hal ini dapat
dibuktikan pada studi yang dilakukan Gazzard di Indonesia yang menyebutkan
pada usia dibawah 21 tahun sebesar 10 % dan diatas 40 tahun sebesar 16,8%,
pada wanita 17,6 % dan laki-laki 16,1%. Berdasarkan letak Indonesia sebagai
bagian negara beriklim tropis dan dengan paparan sinar UV yang tinggi, angka
kejadian Pterygium cukup tinggi.3
2.1.3 Faktor resiko

Banyak penelitian telah berusaha mengkorelasikan epidemiologi dan fitur


geografis dari prevalensi pterigium dengan berbagai faktor risiko pterigium. Dari
penelitian didapati bahwa faktor risiko untuk perkembangan pterigium
didominasi oleh lingkungan alam, seperti matahari dan radiasi ultraviolet juga
iritasi kronik dari partikel-partikel udara. Beberapa penelitian juga menyebutkan
adanya keterlibatan faktor herediter.2,3

2
a. Radiasi ultraviolet

Faktor risiko utama untuk perkembangan pterigium adalah paparan terhadap


sinar ultraviolet (UV). Penipisan lapisan ozon pada dekade terakhir ini, memiliki
efek pada peningkatan radiasi ultraviolet dan berikutnya memiliki efek pada
peningkatan insidensi penyakit yang berhubungan dengan sinar matahari seperti
pterigium, katarak dan keratopathy. Cahaya matahari yang diabsorbsi oleh
kornea dan konjungtiva memicu kerusakan sel yang selanjutnya berproliferasi.
Percobaan yang dilakukan pada tikus telah menunjukkan bahwa radiasi
ultraviolet menyebabkan hiperplasia sel dan degenerasi membran Bowman

b. Faktor genetik

Beberapa kasus dilaporkan bahwa ada sekelompok anggota keluarga mengalami


pterigium. Dari penelitian case control menunjukkan apabila terdapat riwayat
keluarga dengan pterigium, maka kemungkinan pterigium akan diturunkan secara
autosomal dominan. Walaupun pada kasus, faktor risiko utama yakni radiasi
ultraviolet tidak bisa dipisahkan. Disamping itu, onkogen p53 diduga sebagai
marker yang mungkin berperan dalam pterigium.2,3

c. Faktor Risiko Lain

Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus atau perifer kornea
merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal
defisiensi, dan saat ini mendukung teori baru patogenesis pterigium. Selain itu,
debu,kelembaban yang rendah,dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu,dry
eye dan virus papiloma juga diduga dapat menyebabkan pterigium. 2,3,4

2.1.4 Patogenesis
Konjungtiva merupakan organ yang secara selektif
memberikanperlindungan atas bagian dalam sistem mata terhadap dunia luar.
Konjungtiva dalam tugasnya sebagai pelindung sering kali terpapar pada
berbagai jenis perusak, seperti kuman, debu, alergen, aerosol, gas toksik, dan
berbagai jenis radiasi.1,5

3
Konjungtiva yang selalu berhubungan dengan dunia luar adalah
konjungtiva bulbi.Adanya kontak denganUV,debu,kekeringan mengakibatkan
penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi ke kornea. Pterigium biasanya
bilateral karena kedua mata memiliki kemungkinan terpapar dengan UV dan
debu. Semua kotoran pada konjungtiva akan menuju ke bagian nasal lalu ke
pungtum lakrimalis dan dialirkan ke meatus nasi inferior. Disamping kontak
langsung, nasal konjungtiva juga secara tidak langsung mendapat sinar UV
akibat pantulan dari hidung sehingga bagian nasal lebih sering terkena daripada
temporal pterigium.5,6

Ultraviolet adalah mutagen untuktumor supresor gene p53pada limbal


basal stem cell.Tanpa apoptosis, transforming growth factor-betadiproduksi
dalam jumlah berlebihan dan menimbulkan proses kolagenase meningkat. Sel-sel
bermigrasi dan membentuk angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan
degenerasi kolagendan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Pada jaringan
subkonjungtiva terjadi degenerasi elastoik, proliferasi jaringan vaskular di bawah
epitel yang selanjutnya menembus dan merusak kornea. Kerusakan pada kornea
terdapat pada lapisan membran bowman oleh pertumbuhan jaringan
fibrovaskular, yang sering disertai dengan inflamasi ringan. Epitel dapat normal,
tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. 6,7

Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada
permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva
ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan
pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan
karenan itu banyak penelitian menunjukkan bahwa pterigium merupakan
manifestasi dari defisiensi atau disfungsi limbal stem cell. Kemungkinan akibat
sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.
Pemisahan fibroblast dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan phenotype,
pertumbuhan lebih baik pada media mengandung serum dengan konsentrasi
rendah dibanding dengan fibroblast konjungtiva normal. Lapisan fibroblast pada
bagian pterigium menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan.Pada fibroblast

4
pterigium menunjukkan matrix metalloproteinase, dimana matriks ekstraselluler
berfungsi untuk jaringan yang rusak, penyembuhan luka, mengubah bentuk. Hal
ini menjelaskan mengapa pterigium cenderung terus bertumbuh, invasi ke stroma
kornea, dan terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.7

2.1.5 Gambaran Klinik


Pada fase awal, pterigiumtidak memberikan keluhan atau hanya
menimbulkan keluhan mata merah, iritatif, dan keluhan kosmetik. 1 Gangguan
terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigmatisma
karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. Kadang terjadi diplopia
sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan mata.1,2
Secara klinis pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada
konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Biasanya
pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi
dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterigium(stoker's
line). Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu: body, apex (head) dan cap.
Bagian segitiga yang meninggi pada pterigiumdengan dasarnya ke arah kantus
disebut body, sedangkan bagian atasnya disebut apex dan ke belakang disebut
cap. A subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas
pinggir pterigium. 4,6

2.1.6 Diagnosis
Dalam mendiagnoasis pterigium diperlukan anamnesis yang baik serta
pemeriksaan fisik yang relevan, sebagaimana dijelaskan berikut.
1. Anamnesis
Identitas pasien sangat perlu untuk ditanyakan. Selain sebagai data administrasi
dan data awal pasien, identitas tertentu juga sangat perlu untuk mengetahui faktor
resiko pterigium. Pterigium lebih sering pada kelompok usia 20-30 tahun dan
jenis kelamin laki-laki. Riwayat pekerjaan juga sangat perlu ditanyakan untuk
mengetahui kecenderungan pasien terpapar sinar matahari.3

5
Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata
sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan astigmatisma yang
memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pada kasus berat dapat
menimbulkan diplopia. Biasanya penderita mengeluhkan adanya sesuatu yang
tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau alasan kosmetik.
Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas, gatal, ada yang mengganjal.1,3

2. Pemeriksaaan fisik

Tajam penglihatan dapat normal atau menurun. Pterigium muncul sebagai


lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah
fisura interpalpebralis. Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea
anterior dari kepala pterigium (stokers line). Kira-kira 90% pterigium terletak di
daerah nasal. Perluasan pterigium dapat sampai medial dan lateral limbus
sehingga menutupi visual axis, menyebabkan penglihatan kabur. Gangguan
penglihatan terjadi ketika pterigium mencapai pupil atau menyebabkan kornea
astigmatisme pada tahap regresif.

Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu: body, apex (head), dan cap.
Bagian segitiga yang meninggu pada pterigium dengan dasarnya ke arah limbus
disebut body, bagian atasnya disebut apex, dan bagian belakang disebut cap.
Subepitelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas
pinggir pterigium.1,3,5,7

Dalam penegakan diagnosis pterigium, sangat penting ditentukan derajat


atau klasifikasi pterigium tersebut. Klasifikasi pterigium dibagi menjadi
beberapa kelompok yaitu:

Berdasarkan perjalanan penyakit

6
1). Progresif pterigium: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di
depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium)
2). Regresif pterigium: tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi bentuk
membran tetapi tidak pernah hilang.

Berdasarkan luas pterigium


Derajat I : Jika hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat II : Jika sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati
kornea
Derajat III : Jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata
dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm)
Derajat IV : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga
mengganggu penglihatan8

Gambar 1. Derajat pterigium


Sumber : Pterygium: prevalence and severity in an Amazonian
ophthalmic setting, Brazil

Berdasarkan pemeriksaan pembuluh darah dengan slitlamp


1). T1 (atrofi): pembuluh darah episkleral jelas terlihat
2). T2 (intermediate): pembuluh darah episkleral sebagian terlihat
3). T3 (fleshy, opaque): pembuluh darah tidak jelas

3. Pemeriksaan penunjang

7
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah
topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa
astigmatisme ireguler yang disebabkan oleh pterigium.6

2.1.7 Diagnosis Banding

Secara klinis pterigium dapat dibedakan dengan pinguekula dan


pseudopterigium.
Pembeda Pterigium Pinguekula Pseudopterigium
Definisi Jaringan fibrovaskular Benjolan pada Perlengketan
konjungtiva bulbi konjungtiva bulbi konjungtiba bulbi
berbentuk segitiga dengan kornea yang
cacat
Warna Putih kekuningan Putih-kuning keabu- Putih kekuningan
abuan
Letak Celah kelopak bagian Celah kelopak mata Pada daerah
nasal atau temporal terutama bagian nasal konjungtiva yang
yang meluas ke arah terdekat dengan proses
kornea kornea sebelumnya
6: > = =
Progresif Sedang Tidak Tidak
Reaksi Tidak ada Tidak ada Ada
kerusakan
permukaan
kornea
sebelumnya
Pembuluh darah Lebih menonjol Menonjol Normal
konjungtiva
Sonde Tidak dapat diselipkan Tidak dapat diselipkan Dapat diselipkan di
bawah lesi karena tidak
melekat pada limbus
Puncak Ada pulau-pulau Tidak ada Tidak ada (tidak ada
Funchs (bercak kelabu) head, cap, body)
Histopatologi Epitel ireguler dan Degenerasi hialin Perlengketan
degenerasi hialin dalam jaringan submukosa
stromanya konjungtiva

8
Tabel 1. Diagnosis Banding Pterygium

Sumber: Vaughan, Oftalmologi Umum edisi 17 dan Sidharta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata
edisi kelima

2.1.8 Penatalaksanaan
Prinsip penanganan pterigium dibagi 2, yaitu cukup dengan
pemberian obat-obatan jika pterygium masih derajat 1 dan 2, sedangkan
tindakan bedah dilakukan pada pterygium yang melebihi derajat 2. Tindakan
bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 atau 2 yang telah
mengalami gangguan penglihatan. Pengobatan tidak diperlukan karena
bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda. Bila pterigium
meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan.
Lindungi mata yang terkena pterigium dari sinar matahari, debu dan udara
kering dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata
buatan bila perlu dapat diberikan steroid . Bila terdapat delen (lekukan
kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep. Bila diberi vasokonstriktor
maka perlu control dalam 2 minggu dan bila telah terdapat perbaikan
pengobatan dihentikan.1
Indikasi untuk eksisi pterigium adalah ketidaknyamanan yang menetap
termasuk gangguan penglihatan, ukuran pterigium >3-4 mm, pertumbuhan
yang progresif menuju tengah kornea atau visual axis dan adanya gangguan
pergerakan bola mata. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai keadaan
normal yaitu gambaran permukaan bola mata yang licin. Teknik bedah yang
sering digunakan untuk mengangkat pterigium adalah dengan menggunakan
pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus. Walaupun
memisahkan pterigium dengan bare sclera ke arah bawah pada limbus lebih
disukai, namun tidak perlu memisahkan jaringan tenon secara berlebihan di
daerah medial, karena kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh karena
trauma tidak disengaja di daerah jaringan otot. Setelah dieksisi, kauter sering
digunakan untuk mengontrol perdarahan,8
Lebih dari setengah pasien yang dioperasi pterigium dengan teknik
simple surgical removal akan mengalami rekuren. Suatu teknik yang dapat
menurunkan tingkat rekurensi hingga 5% adalah conjunctival autograft

9
(Gambar 2). Dimana pterigium yang dibuang digantikan dengan konjungtiva
normal yang belum terpapar sinar UV (misalnya konjungtiva yang secara
normal berada di belakang kelopak mata atas). Konjungtiva normal ini
biasaya akan sembuh normal dan tidak memiliki kecenderungan unuk
menyebabkan pterigium rekuren.9
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian
konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva
yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka
kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil
yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin,
angka kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC)
sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi
dari pemakaian MMC juga cukup berat.1,9

Indikasi Operasi pterigium


1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan
tepi pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair
dan silau karena astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

Teknik Pembedahan
Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan,
dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea.
Banyak teknik bedah telah digunakan, meskipun tidak ada yang diterima
secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. Terlepas dari
teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk
perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung
pterigium dari kornea yang mendasarinya. Keuntungan termasuk
epithelisasi yang lebih cepat, jaringan parut yang minimal dan halus dari
permukaan kornea.1

10
1. Teknik Bare Sclera
Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara memungkinkan
sclera untuk epitelisasi. Tingkat kekambuhan tinggi, antara 24 persen dan
89 persen, telah didokumentasikan dalam berbagai laporan.1
2. Teknik Autograft Konjungtiva
Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi
40 persen pada beberapa studi prospektif. Prosedur ini melibatkan
pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal,
dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut.
Komplikasi jarang terjadi, dan untuk hasil yang optimal ditekankan
pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari graft
konjungtiva dan penerima, manipulasi minimal jaringan dan orientasi
akurat dari grafttersebut. LawrenceW. Hirst, MBBS, dari Australia
merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium
dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini.1

3. Cangkok Membran Amnion

Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah


kekambuhan pterigium. Meskipun keuntungkan dari penggunaan
membran amnion ini belum teridentifikasi, sebagian besar peneliti telah
menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting
untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai.
Sayangnya, tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang
ada,diantara 2,6 persen dan 10,7 persen untuk pterygia primer dan
setinggi 37,5 persen untuk kekambuhan pterygia. Sebuah keuntungan dari
teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar
konjungtiva. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera ,
dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap
ke bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem
fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan

11
episcleral dibawahnya. Lemfibrin juga telah digunakan dalam autografts
konjungtiva.1

Gambar 2. Prosedur Conjunctiva Autograft; (a).Pterygium,


(b).Pterygium removed, (c).Leaving bare area, (d).Graft outlined,
(e).Graft sutured into place 9
Sumber: www.baysideeyes.com.au

2.1.10 Komplikasi
Komplikasi pterigium meliputi sebagai berikut:3
1 Astigmatisma
2 Iritasi
3 Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea
4 Keterlibatan yang luas otot ekstraokular dapat membatasi
penglihatan dan menyebabkan diplopia.
Komplikasi pasca eksisi adalah sebagai berikut:3
1 Infeksi, reaksi bahan jahitan, diplopia, jaringan parut, parut kornea,
graft konjungtiva longgar, perforasi mata, perdarahan vitreus dan
ablasi retina.
2 Penggunaan mitomycin C post operasi dapat menyebabkan ektasia
atau nekrosis sklera dan kornea
3 Pterigium rekuren

12
1.1.9 PROGNOSIS
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.
Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Pasien
dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan
konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion2,3

RAHASIA

STATUS BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. J Pekerjaan : Buruh bangunan


Umur : 43 tahun Pendidikan : Tamat SD
JenisKelamin : Laki-laki TanggalPemeriksaan : 19/1/2017
Alamat : Lipat Kain, Kampar

Keluhan Utama :
Pada mata kanan terdapat selaput yang mengganjal.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Mata kanan kanan terasa mengganjal dikarenakan ada selaput. Hal ini
sudah dirasakan sejak kurang lebih satu tahun yang lalu. Keluhan ini juga disertai
oleh pandangan yang terganggu. Keluhan lain seperti mata merah(-), mata berair
(-), nyeri (-). Pekerjaan sehari - hari sebagai buruh bangunan yang sering terpapar

13
oleh debu dan sering berkendara sepeda motor. Keluhan juga dirasakan pada
mata kiri namun sudah dilakukan operasi satu minggu yang lalu. Saat ini pasien
datang untuk kontrol pasca operasi dan persiapan operasi mata kanan,
Riwayat penyakit dahulu :
Tidak ada keluhan yang sama sebelumnya
Riwayat pengobatan :
Riwayat operasi mata kiri 1 minggu yang lalu.
Riwayat pengobatan sebelumnya tidak ada.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada keluarga yang mengeluhkan sakit yang sama
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis
Vital sign : TD : 120/80 mmHg
HR : 86x/menit
RR : 18x/menit
T : 36,60C

STATUS OPTHALMOLOGI
OD OS
20/40 Visus tanpa koreksi 20/40
Tidak dikoreksi Visus dengan koreksi Tidak dikoreksi
Posisi bola mata
Orthophoria
Bebas, kesegala arah Gerakan bola mata Bebas, kesegala arah
12,4 mmHg Tekanan bola mata 13,1 mmHg
Tenang Palpebra Tenang

Tampak jaringan Konjungtiva Jaringan fibrovaskular (-),


fibrovaskuler berbentuk tampak paparan sklera.
segitiga dari temporal ke
arah nasal melewati limbus
ke kornea dan sudah
mencapai pupil.
Injeksi konjungtiva (-)
Tertutup jaringan Kornea Jernih
fibrovaskular

14
Tenang Sklera Tenang
Dalam, jernih COA Dalam, jernih
Bulat, sentral, 2 mm, Iris/pupil Bulat, sentral, 2 mm,
refleks cahaya langsung dan refleks cahaya langsung
tidak langsung +/+ dan tidak langsung +/+

Jernih Lensa Jernih


Funduskopi
Refleks fundus (+) Refleks fundus (+)
Jernih Jernih
Reflek fundus
Media
Papil bulat, batas tegas C/D Papil bulat, batas tegas
rasio 0,3 Papil C/D rasio 0,3,
A/V rasio 2:3, A/V rasio 2:3,
Makula Edema (-) Retina Makula edema (-)

Makula

Gambar

RESUME :
Tn J, 43 tahun, mata kanan terdapat ada selaput yang mengganjal sejak 1
tahun yang lalu. Pandangan terganggu (+), Merah (-) Pasien seorang buruh
bangunan yang sering terpapar debu serta sering berkendara motor. Mata kiri
juga memiliki keluhan yang sama namun sudah dioperasi, sekarang pasien
datang untuk kontrol pasca operasi dan persiapan operasi mata kanan.
Pemeriksaan opthalmologi pada mata kanan didapatkan penampakan jaringan
fibrovaskuler berbentuk segitiga dari arah temporal melewati limbus ke kornea
dan sudah mencapai pupil. Sedangkan pada mata kiri terlihat paparan slera.

Diagnosis Kerja:
1. Pterigium grade 4 OD
2. Post eksisi pterigium grade 4 OS

15
Diagnosis Banding:
1. Pseudopterigium
2. Pinguekula

Penatalaksanaan
Farmakologi : Lyteers 3x1 (OD,OS)
Nonfarmakologi : 1. Memakai pelindung kacamata di luar ruangan
2. Memakai helm dengan pelindung wajah
Terapi Pembedahan : Pro eksisi pterigium grade 4OD
Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam
Quo ad kosmetikum : Bonam

Daftar Pustaka

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit mata. Edisi ke lima. Jakarta. Balai penerbit FKUI.
2015. Hal 119-120.

2. Holland, Edward J., Mannis,Mark. J., 2002. Ocular Surface Disease-


Management Surgical Management. New York: Springer Verlag. (dikutip:
27 Januari 2017) Diakses online:
http://link.springer.com/book/10.1007%2Fb97284#page-1

16
3. Gazzard G, Saw S-M, Farook M, Koh D, Widjadja D, Chia S-E, Hong
CY, and Tan D-T. Pterygium in indonesia : Prevelance, severity, and risk
factors. Br J Ophtalmology 2002; 86 : 1341 46.(Dikutip: 27 januari
2017) Diakses : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12446360

4. Laszuarni. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Departemen Ilmu


Kesehatan Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2009.

5. Voughan & Asbury. Oftalmologi Umum edisi 17. Jakarta : EGC. 2010.
Hal 119.

6. Jerome P Fisher, Pterygium. [dikutip : 25 januari 2017]. 2011. Diakses:


http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview

7. Zaki A, Emerah S, Ramzy M, Labib H. 2011. Management of


Recurrent Pterygia. Journal of American Science 2011 2011;
7(1):230-234]. Diakses : http://www.jofamericanscience.org.

8. T H Tan Donald et all. Pterygium clinical Ophtalmology An Asian


Perspective, Chapter 3.2.Saunders Elsevier. Singapore. 2005. p:207-214.

9. Pterygium and Pingueculum available at:


http://www.baysideeyes.com.au/eye-specialists/pterygium.htm

17