Anda di halaman 1dari 10

MASYARAKAT YANG BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

MAKALAH PANCASILA

Oleh:

Tonny Angga (512010016)

David Juliandre S. (512010002)

Damianus Nahak Klau (512011008)

Zuly Alimah (512011026)

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pancasila merupakan sebagai ideologi bangsa Indonesia dan menjadi
pilar yang penting dalam kehidupan pemerintah dan bermasyarakat. Pilar-
pilar itu tercermin dalam tiap-tiap sila Pancasila, sehingga penerapan atau
implementasi sila-sila dalam Pancasila merupakan hal yang wajib dilakukan
bagi setiap warga negara Indonesia. Namun, dewasa ini implementasi
Pancasila hanya menjadi teori di sekolah, kampus, atau lembaga pendidikan
lainnya. Pancasila hanya dijadikan suatu simbol tanpa ada tindakan konkrit
bagi terwujudnya masyarakat yang berbangsa dan bernegara.
Sila pertama Pancasila sebagai dasar filsafat Negara adalah
Ketuhanan Yang Maha Esa . Oleh karena itu sebagai dasar negara maka sila
tersebut merupakan sumber nilai, dan sumber norma dalam setiap aspek
penyelenggaraan negara, baik yang bersifat material maupun spiritual.
Dengan kata lain bahwa segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai
dengan hakikat nilai-nilai yang berasal dari Tuhan baik material maupun
spiritual. Dengan dasar sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini, maka politik
Negara mendapat dasar moral yang kuat, dimana sila ke-1 menjadi dasar
yang memimpin kerohanian kearah jalan kebenaran, keadilan, kabaikan,
kejujuran dan persaudaraan ( Hatta, Panitia Lima, 1980). Kewajiban
beragama bagi warga negara Indonesia adalah tidak adanya paksaan, boleh
memilih sesuai hati nuraninya, karena dilindungi oleh UUD 1945.

1.2. Batasan Masalah

Dalam batasan Negara Yang Berketuhanan Yang Maha Esa, maka


penulisan makalah ini akan membahas beberapa hal berikut antara lain:

1. Perspektif Teoritis Hubungan Antara Agama Dengan Negara


2. Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
3. Konsekuensi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
4. Beberapa Persoalan Yang Relevan

1.3. Tujuan
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan terhadap pancasila terutama
pada sila ke-1.
Mengembangkan sikap saling menghargai, menghormati dan
bekerjasama antar umat beragama sesuai sila ke-1.

1.4. Metode Penulisan


Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah dengan metode studi pustaka, yaitu semua bahan penulisan yang
diuraikan dalam makalah ini bersumber dari referensi buku dan media
internet.
BAB II
ISI

2.1. Perspektif Teoritis Hubungan Antara Agama Dengan Negara


Menurut Mamun Murod Al-Brebesy (1994), antara agama dan negara
bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Negara dalam beberapa
bentuknya terkadang begitu bergantung dengan agama. Sebaliknya, agama juga
dalam berbagaii hal sangat membutuhkan topongan dari negara, hal inilah yang
sering disebut dengan hubungan simbiosis mutualisme. Sementara itu, menurut
Brotosemedi (2001), agama dan negara merupakan dua bentuk kehidupan
bersama manusia dengan karakteristiknya masing-masing yang saling berbeda
sehingga, kita dapat mengatakan bahwa masing-masing termasuk dalam kategori-
kategori yang berbeda. Karekteristik agama terletak didalam hal, bahwa agama
berpusat pada penghayatan hubungan dengan Allah yang diungkapkan dan
dinikmati lewat simbol-simbol. Sedangkan negara mempunyai karakteristik yang
terletak didalam hal bahwa negara berpusat pada pelaksanaan kekuasaan sehingga
seluruh peserta kehidupan bersama negarawi tunduk terhadap kekuasaan negara
supaya penyelenggaraan negara berjalan. Berdasarkan hal tersebut diketahui
bahwa antara agama dan negara memiliki perbedaan karakteristik, dan juga
memiliki hubungan yang saling memberi manfaat satu sama lain.
Menurut Yudi Latif (2014), agama yang ada di Indonesia dan dunia
berbeda satu sama lain, wajar jika masing-masing pemeluk agama secara
subyektif merasa bahwa agamanya paling baik. Heuken, dkk (1988) menyatakan
bahwa, secara teoritis terdapat empat kemungkinan model hubungan antara negara
dengan agama. Pertama, negara memperalat agama demi kepentingan politik atau
disebut dengan istilah Erastianisme. Kedua, agama menguasai masyarakat politik
(negara). Ketiga, agama dan negara dipisahkan. Keempat, pola pembedaan dan
kerjasama di antara negara dan agama/agama-agama.
Menurut Ubaidillah, dkk (2004), hubungan antara negara dengan agama
dibedakan menjadi 4 model. Pertama, hubungan agama dan negara menurut
paham teokrasi. Kedua, hubungan agama dan negara menurut paham sekuler.
Ketiga, hubungan agama dan negara menurut paham komunisme. Keempat,
hubungan agama dan negara menurut islam. Menurut Mamun (1999), ada 4
tipologi hubungan agama dengan negara. Pertama, tipe negara sekularistik atau
separasi mutlak. Kedua, tipe negara totaliter atau subordinasi agama oleh negara.
Ketiga, tipe negara agama atau subordinasi negara oleh agama. Keempat, tipe
negara sekular yang mementingkan agama atau negara di mana terjadi relasi
timbal balik antara agama dengan negara.

2.2. Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa


Makna utama sila Ketuhanan Yang Maha Esa ada tiga yaitu:
1. Negara Indonesia bukan Negara Agama
Negara agama adalah negara yang diatur menurut hukum salah satu
agama, sehingga mereka yang tidak memeluk agama tertentu akan merasa
menjadi warga negara kelas dua. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menolak
konsepsi negara agama. Penolakan tersebut terjadi bukan karena Indonesia
menganut paham sekularisme (acuh tak acuh terhadap agama). Prinsip sila
pertama walaupun mengakui adanya agama dan fungsi pentingnya bagi
masing-masing pemeluknya, namun menghendaki agar negara tidak
mencampuri hubungan masing-masing orang dalam kelompoknya sendiri
dengan Tuhan. Pada dasarnya, dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
negara Indonesia tidak berdasarkan agama tertentu atau negara agama.
2. Negara Indonesia bukan Negara Atheis
Sila pertama Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia percaya
dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Kemampuan bangsa Indonesia
untuk mendirikan negara Republik Indonesia diyakini sebagai salah satu
rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kepercayaan semacam ini tentunya
bertolak belakang dengan paham Atheisme yang tidak percaya akan
adanya Tuhan. Atheisme dapat dianut oleh pribadi manusia, namun dapat
juga menjadi ideologi negara, contonya negara-negara komunis.
3. Indonesia Menganut Pembedaan Fungsi dalam Semangat Kerja Sama
antara Negara dan Agama/Agama-Agama.

Pembedaan fungsi yang tegas dan kerjasama antara agama dan negara
mempunyai arti sebagai berikut:
1) Negara tidak memasukkan agama ke dalam dirinya, dan agama tidak
mencaplok negara menjadi wilayah bawahannya.
2) Negara menghormati agama dan karakteristiknya sendiri sehingga
tidak ada campur tangan negara terhadap agama sebagai agama, dan
sebaliknya agama menghormati negara dengan karakteristiknya
sendiri.
3) Hukum negara tidak diangkat dari atau dibuat berdasarkan hukum
agama.
4) Tidak ada agama yang diangkat menjadi agama negara, yaitu agama
satu-satunya yang harus dianut oleh seluruh rakyat.
5) Negara membantu rakyatnya dalam kehidupan beragama, berdasarkan
pandangan bahwa kehidupan beragama adalah suatu jalan bagi
manusia untuk memperoleh kebahagiaan religius, sedangkan
kebahagiaan religius merupakan suatu segi kesejahteraan yang
menjadi tujuan negara.

2.3. Konsekuensi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa


Prinsip Ketuhanan YME diatur dan ditentukan oleh pasal 29 UUD 1945
yang berbunyi: (1) Negara berdasar atas Ketuhana Yang Maha Esa, (2) Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan keparcayaan.
Pasal 28 I ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa hak beragama termasuk
dalam kategori hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun (non derogerable). Ketentuan itu menunjukkan bahwa hak kebebasan
beragama sebagaimana digariskan oleh sila 1 pancasila, telah dicoba dijamin
melalui konstitusi oleh bangsa ini.
Menurut Amin dan Gultom (1981), ada 4 tugas negara terhadap agama dan
penganutnya yaitu:
1. Mengakui dan menghormati, serta menjamin hak hidup agama-agama dan
kepercayaan.
2. Menjamin tiap-tiap penduduk menjalankan ibadatnya.
3. Memberikan perlindungan yang sama terhadap semua perkumpulan agama
dan kepercayaan.
4. Membina sikap positif warganegara terhadap agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan YME.
Lembaga keagamaan dan umat beragama mempunyai kewajiban tertentu
terhadap negara antara lain:
1. Mendoakan negara, pemerintah dan warganya agar mampu mewujudkan
kesejahteraan bersama.
2. Setia dan patuh kepada negara, dan hanya memilih ketidakpatuhan apabila
kepatuhan kepada negara itu bertentangan dengan perintah Tuhan.
3. Menjalin kerjasama dengan negara dalam meningkatkan kesejahteraan
warganegara, serta memberikan dukungan moral terhadap usaha negara
dalam menegakkan keadilan sejalan dengan kehendak Tuhan.
Baik negara maupun lembaga-lembaga keagamaan berkewajiban untuk
melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1. Mendorong pemahaman yang benar tantang sejarah Indonesia terutama
menyangkut pembentukan dasar negara Pancasila, UUD45, dan prinsip
pengelolaan kehidupan beragama dalam wadah NKRI.
2. Mendorong kerjasama antar lembaga keagamaan sehingga terjadi proses
saling memahami satu sama lain.
3. Mewaspadai dan menentang segala bentuk kegiatan yang bersifat
antitoleransi.

2.4. Beberapa Persoalan Yang Relevan


1. Tentang kewajiban beragama dan ber-Tuhan
Pada hakekatnya tidak ada kehendak negara untuk mewajibkan secara
khusus (agar warga negara indonesia beragama atau berkepercayaan).
2. Mengenai hak berpindah agama
Sejalan dengan prinsip bahwa agama adalah merupakan urusan masing-
masing pribadi manusia dengan Tuhan yang diyakininya, maka mestinya
tindakan pindah agama dapat dimengerti sejauh memang kepindahan itu
dilakukan atas dasar pilihan bebas pribadi dewasa, tanpa paksaan atau bujuk
rayu pihak manapun.
3. Perlindungan hukum terhadap kehidupan beragama.
Hukum sebenarnya hanya kena mengena dengan tingkah laku menampak
manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Pasal 156 dalam KUH pidana
menentukan, ancaman hukuman penjara atau denda bagi barang siapa
dimuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau
penghinaan, terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia.
Dalam KUHP juga ada larangan (yang diancam pidana bagi yang
melanggarnya) membujuk atau mengajar orang lain untuk tidak menganut
agama apapun juga. Dengan demikian terkandung maksud untuk mencegah
atau menghalangi penyebaran faham atheisme yaitu suatu faham yang tidak
mengakui keberadaan TYME.
Menurut Magnis-Suseno (1986), ada beberapa bentuk dilema antara
agama dan negara, antara lain karena adanya rasa setia warga negara yang mendua
atas loyalitas kepada negara dan loyalitas kepada agama. Hal ini terjadi karena
beberapa alasan, yaitu
1. Adanya eksklusivitas agama.
Eksklusivisme itu memang suatu kemungkinan dan mempunyai
beberapa bentuk. Misalnya sekelompok penganut suatu agama hanya
memperhatikan diri sendri saja sehingga mereka menganggap bahwa
agama agama atau aliran aliran lain dianggap sepi.
2. Puritanisasi agama.
Puritanisasi agama berarti usaha untuk membersihakan kehidupan
beragama dari semua unsur yang tidak berasal dari dasar asliah agama itu
sendiri.
3. Dilema solidaritas.
Dilema solidaritas rasa persatuan sebagai umat beragama sedunia sangat
kuat sehingga dapat terjadi dilema loyaitas antara agama dan negara.
4. Dilema wewenang ideologis.
Dilema dimana kepatuhan antara agama dan negara dapat menjadi tajam
apabila negara diselanggarakan berdasarkan sebuah ideologi yang dimana
harus dianut oleh semua masyarakat. Dimana ideologi adalah kepatuhan
dan juga menuntut kepercayaan. Dan bisa diartikan kepercayaan adalah
wewenang khas agama.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Sila Ketuhanan mengajak bangsa Indonesia untuk mengembangkan
etika sosial dalam kehidupan publik-politik dengan memupuk rasa
kemanusiaan dan persatuan, mengembangkan hikmah
permusyawaratan dan keadilan sosial.
2. Dengan berpegang teguh pada nilai Ketuhanan, diharapkan bisa
memperkuat pembentukan karakter, melahirkan bangsa dengan etos
kerja yang positif, memiliki ketahanan serta kepercayaan diri untuk
mengembangkan potensi yang diberikan dalam rangka mewujudkan
kehidupan yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
DAFTAR PUSTAKA

Suharjana, Rahmat. 2013. Pancasila Yang Berketuhanan.


(http://rahmatsuharjana.blogspot.com/2013/03/makalah-pancasila-yang-
berketuhanan_4208.html). Diakses 28 Oktober 2014, pukul 15:25.

Prasetyo, Teguh at all. 2014. Pancasila Materi Pengayaan Matakuliah


Pancasila. Tisara Grafika. Salatiga.

Anda mungkin juga menyukai