Anda di halaman 1dari 6

Referat

MEKANISME PROSES PENGHIDU

Disusun Oleh :

Oleh :
INDIRA SULUH PARAMITA
NIM. 1508434434

Pembimbing :
Dr. ARIMAN SYUKRI. M, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2017
MEKANISME PROSES PENGHIDU

Hidung mempunyai berbagai macam fungsi, yaitu: sebagai lokasi epitel


olfaktorius, saluran udara menuju traktus respiratorius, sebagai organ yang
mempersiapkan udara inspirasi agar sesuai dengan permukaan paru, dan sebagai
organ yang mampu membersihkan dirinya sendiri.1 Bagian dari hidung yang
terlibat untuk penghidu antara lain neuroepitel olfaktorius, bulbus olfaktorius dan
korteks olfaktorius.2

Neuroepitel olfaktorius
I.

Gambar1. Neuroepitel Olfaktorius2


Sebagai organ penghidu, hidung memiliki epitel khusus yaitu epitel
olfaktorius berlapis semu yang berwarna kecoklatan yang mempunyai tiga macam
sel-sel syaraf yaitu sel penunjang, sel basal dan sel olfaktorius. 1 Neuroepitel
olfaktorius terdapat di atap rongga hidung, yaitu di konka superior, septum bagian
superior, konka media bagian superior atau di dasar lempeng kribriformis. Luas
area olfaktorius ini 5 cm2. Sel di neuroepitel olfaktorius ini terdiri dari sel
pendukung yang merupakan reseptor olfaktorius. Terdapat 20-30 miliar sel
reseptor. Pada ujung dari masing-masing dendrit terdapat olfactory rod dan
diujungnya terdapat silia. Silia menonjol pada permukaan mukus. Pada
neuroepitel ini terdapat sel penunjang atau sel sustentakuler. sel ini berfungsi
sebagai pembatas antara sel reseptor, mengatur komposisi ion lokal mukus dan

1
melindungi epitel olfaktorius dari kerusakan akibat benda asing. Mukus dihasilkan
oleh kelenjar Bowmans yang terdapat pada bagian basal sel. Melalui proses
inhalasi udara, odoran sampai di area olfaktorius, bersatu dengan mukus yang
terdapat di neuroepitel olfaktorius dan berikatan dengan reseptor protein G yang
terdapat pada silia. Ikatan protein G dengan reseptor olfaktorius akan
menyebabkan stimuli guanine nucleotide, yang akan mengaktifkan enzim adenilat
siklase untuk menghasilkan second messenger yaitu adenosin monofosfat. Ini
akan menyebabkan masuknya Na+ dan Ca2+ ke dalam sel dan menghasilkan
depolarisasi sel membran dan menghasilkan penjalaran impuls ke bulbus
olfaktorius.1,2

Gambar 2. Tranduksi sinyal di mukosa penghidu3

II. Bulbus olfaktorius

2
Gambar 3. Bulbus olfaktorius4
Bundel akson saraf penghidu (fila) berjalan dari rongga hidung dari
lempeng kribriformis diteruskan ke bulbus olfaktorius. Bulbus olfaktorius berada
di dasar fossa anterior dari lobus frontal. Di bulbus olfaktoius reseptor berakhir
diantara dendrit dendrit sel mitral membentuk sinaps globural kompleks yang
disebut glomerulus olfaktorius.2 Dalam masing-masing fila terdapat 50 sampai
200 akson reseptor penghidu pada usia muda, dan jumlah akan berkurang dengan
bertambahnya usia. Akson dari sel reseptor yang masuk akan bersinap dengan
dendrit dari neuron kedua dalam gromerulus.

III. Korteks olfaktorius


Terdapat 3 komponen korteks olfaktorius, yaitu pada korteks frontal
merupakan pusat persepsi terhadap penghidu. Pada area hipotalamus dan
amygdala merupakan pusat emosional terhadap odoran, dan area enthorinal
merupakan pusat memori dari odoran. Saraf yang berperan dalam sistem
penghidu adalah nervus olfaktorius (N I). Filamen saraf mengandung jutaan akson
dari jutaan sel-sel reseptor. Satu jenis odoran mempunyai satu reseptor tertentu,

3
dengan adanya nervus olfaktorius kita bisa mencium bau seperti bau strawberi,
apel, dan lain-lain.1
Saraf lain yang terdapat dihidung adalah saraf somatosensori trigeminus (N
V). Letak saraf ini tersebar diseluruh mukosa hidung dan kerjanya dipengaruhi
rangsangan kimia maupun nonkimia. Kerja saraf trigeminus tidak sebagai indera
penghidu tapi menyebabkan seseorang dapat merasakan stimuli iritasi, rasa
terbakar, rasa dingin, rasa geli dan dapat mendeteksi bau yang tajam dari amoniak
atau beberapa jenis asam. Ada anggapan bahwa nervus olfaktorius dan nervus
trigeminus berinteraksi secara fisiologis.2,5
Saraf lain yang terdapat dihidung yaitu sistem saraf terminal (N O) dan
organ vomeronasal (VMO). Sistem saraf terminal merupakan pleksus saraf
ganglion yang banyak terdapat di mukosa sebelum melintas ke lempeng
kribriformis. Fungsi saraf terminal pada manusia belum diketahui pasti. Organ
rudimeter vomeronasal disebut juga organ Jacobsons. Pada manusia saraf ini
tidak berfungsi dan tidak ada hubungan antara organ ini dengan otak. Pada
pengujian elektrofisiologik, tidak ditemukan adanya gelombang pada organ ini.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Ballenger J Jacob. Aplikasi klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung sinus


Paranasal. Dalam: Ballenger J Jacob, Penyakit Telinga Hidung dan

4
Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi ke 13. Jakarta. Binarupa Aksara;1994;
10-24.

2. Ganong WF. Penciuman dan Pengecapan.Dalam: Buku Ajar Fisiologi


Kedokteran. Edisi ke 17. San Francisco: Medical Publishing Division;1999.
179-83.

3. Smell. A tutorial on the sense of smell. Update : 23 Maret 2017. Available


from:
http://163.178.103.176/Fisiologia/neurofisiologia/Objetivo_2/olfact1.html
Accesed: 2016, December 25.

4. Sense. Pearson education. 2011 available from:


http://droualb.faculty.mjc.edu/Course%20Materials/Physiology
%20101/Chapter%20Notes/Fall%202011/chapter_10%20Fall%202011.htm.
Accesed: 2016, December 25.

5. Adams GL, Boeies LR, Hilger PA. Applied anatomy and Physiology of the
nose. Dalam: Fundamental of otolaryngology. 6 th edition. Philadelphia. 1989;
187-93.