Anda di halaman 1dari 6

ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN

PENGHISAPAN LENDIR
SUCTION

Disusun Oleh:
ARIS
113116008

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
Program Pendidikan Profesi Ners
STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
Tahun 2017

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN


PENGISAPAN LENDIR (SUCTION)
DI ICU RSUD BANYUMAS

Inisial Pasien : Tn. S


Diagnosa Medis : Tetanus
Tanggal Masuk : 12 Februari 2017

1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran


a. Diagnosa Keperawatan:
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus yang
berlebihan
Data Subyektif: -
Data Obyektif:
Klien terpasang ETT yang disambungkan dengan oksigen
Sekret pada ETT (+), reflek batuk (+)
GCS E4M5VETT
b. Dasar Pemikiran:
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin
kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot
secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus
otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka..

Klien dalam kasus ini mengalami tetanus dan mengalami


kekakuan mulut (trimus), sehingga harus mendapatkan bantuan napas
buatan serta dilakukan intubasi endotrakeal (ET). Klien yang terpasang
ET beresiko mengalami penumpukan pada jalan napas, sehingga
mengakibatkan ketidakefektifan jalan napas.

2. Tindakan keperawatan yang dilakukan


Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi diagnosa
keperawatan di atas adalah pengisapan lendir (suction), yaitu suatu

2
Program Pendidikan Profesi Ners
STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
Tahun 2017

tindakan untuk membersihkan jalan nafas dengan memakai kateter


penghisap. Tiga teknik pengisapan primer adalah pengisapan orofaring dan
pengisapan nasofaring, pengisapan orotrakea dan pengisapan nasotrakea,
dan pengisapan jalan napas buatan. Suction yang dilakukan pada klien
adalah jenis pengisapan pada orofaring atas pertimbangan/advis dari tim
medis.

3. Prinsip-prinsip tindakan
Prinsip dari tindakan suction adalah steril karena trakea dianggap steril.
Adapun mulut dianggap bersih, maka tindakan suction pada mulut
dilakukan setelah orofaring dan trakea dengan menggunakan kateter
suction yang berbeda. Keseluruhan prosedur dari memasukkan kateter
suction sampai mengeluarkannnya tidak boleh lebih dari lima belas detik
karena oksigen tidak dapat mencapai paru-paru selama pengisapan.
Sebelum melakukan suction, kebutuhan oksigenasi klien ditingkatkan
menjadi 100% pada ventilator atau dinaikkan 3 tingkat lebih tinggi pada
penggunaan O2 nasal kanul/masker non breathing. Kecuali pada distres
pernpasan, klien harus dibiarkan istirahat di antara pemasukan kateter
suction. Apabila klien menggunakan kanul atau masker oksigen, maka
harus dipasang kembali selama istirahat.

Prosedur tindakan suction :


a. Persiapan Alat
- Set penghisap sekresi atau suction portable lengkap dan siap pakai
- Kateter penghisap steril dengan ukuran 20 untuk dewasa
- Sarung tangan steril/bersih
- Masker
- Kassa steril/bersih
- Kom berisi air untuk membilas kateter suction
b. Prosedur
1) Cuci tangan
2) Memakai alat pelindung diri (sarung tangan steril/bersih dan
masker)

3
Program Pendidikan Profesi Ners
STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
Tahun 2017

3) Menghidupkan mesin penghisap sekresi dan atur regulator vakum


untuk menetapkan tekanan yang sesuai
4) Siapkan suction, lalu hubungkan satu ujung selang penghubung
suction dengan mesin penghisap dan tempatkan ujung yang lain di
tempat yang aman
5) Masukkan (insersi) suction di area mulut (orofaring),di daerah yang
terpasang ET
6) Pengisapan dilakukan sambil menarik kateter suction dengan
gerakan memutar. Jika ada rangsangan batuk, tarik sepanjang kira-
kira 2 cm untuk mencegah trauma pada carina
7) Jika jalan napas klien sudah bersih dari sekret, hentikan tindakan
8) Bilas suction dengan air bersih yang sudah disipakan dalam kom.
9) Matikan mesin pengisap, kemudian lepaskan selang penghubung
suction dengan mesin penghisap.
10) Letakkan suction di dekat klien
11) Lepas sarung tangan dan cuci tangan
12) Dokumentasikan tindakan dan monitor respon pasien pada lembar
catatan asuhan keperawatan pada meja pasien.

4. Analisa tindakan keperawatan


Prinsip yang digunakan dalam melakukan tindakan suction adalah bersih
karena hanya dilakukan di sekitar ET, bukan pada jalan napas.
Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktik adalah penggunaan
kateter suction yang seharusnya dispossible (sekali pakai), tetapi di IGD
digunakan berkali-kali.

5. Bahaya yang dapat terjadi


Komplikasi yang dapat terjadi akibat penghisapan sekret endotrakeal
sebagai berikut (Setianto, 2007):
a. Hipoksia / Hipoksemia
b. Kerusakan mukosa bronkial atau trakeal
c. Cardiac arest

4
Program Pendidikan Profesi Ners
STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
Tahun 2017

d. Aritmia
e. Atelektasis
f. Bronkokonstriksi / bronkospasme
g. Infeksi (pasien / petugas)
h. Pendarahan dari paru
i. Peningkatan tekanan intra kranial
j. Hipotensi
k. Hipertensi

6. Hasil yang didapat dan maknanya


Evaluasi dari hasil yang diharapkan setelah melakukan tindakan
penghisapan sekret endotrakeal adalah (Setianto, 2007):
S:-
O:
- klien terlihat nyaman
- ETT bebas dari sekret
- RR : 23 x/mnt
A: Masalah Teratasi
P: Anjurkan pasien untuk nafas dalam, batuk efektif

7. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi


diagnosa keperawatan di atas (mandiri dan kolaboratif)
a. Mandiri
1) Memonitor vital sign dan kepatenan jalan napas klien
2) Mempertahankan posisi semifowler/fowler

b. Kolaborasi
Medis :
1) Memberikan O2 sesuai kebutuhan
2) Memberikan terapi untuk mengurangi atau mengencerkan sekret
3) Melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui timbulnya
komplikasi lain akibat suction

8. Kepustakaan
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik Edisi IV. Jakarta : EGC
RSUP Kariadi. 2004. Protap RSUP Kariadi : Tindakan Suction. Semarang

5
Program Pendidikan Profesi Ners
STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
Tahun 2017

Setianto. 2007. Prinsip-prinsip Tindakan Suction. Jakarta : Salemba