Anda di halaman 1dari 3

TRIKIASIS

No. Dokumen :

No. Revisi :-
SPO Tanggal Terbit :
Januari 2016

Halaman : 1/1

dr. Juriadi Paddo, M.Kes.


PUSKESMAS
NIP.19660303 200212 1 006
POASIA

1. Pengertian Trikiasis adalah kondisi di mana bulu mata tumbuh mengarah ke


dalam, yaitu ke arah permukaan bola mata, sehingga dapat
menggores kornea atau konjungtiva dan menyebabkan berbagai
komplikasi, seperti nyeri, erosi, infeksi, dan ulkus kornea. Data
mengenai tingkat prevalensi penyakit ini di Indonesia tidak ada.
Dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama harus
memiliki kompetensi menangani kasus trikiasis karena pasien-
pasien yang mengalami tanda maupun komplikasi dari trikiasis
sangat mungkin mencari pertolongan di layanan tingkat pertama
terlebih dahulu.
2. Tujuan Penatalaksanaan kasus parotitis sesuai standar terapi.

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Nomor/..tentang Trikiasis


4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.
02.02 /Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinik bagi
Dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer.
5. Gambaran Keluhan
klinis Keluhan pasien dapat bermacam-macam, misalnya: mata
berair, rasa mengganjal, silau bila terpapar cahaya, atau
kelilipan. Penglihatan dapat terganggu bila sudah timbul
ulkus pada
kornea.
Keluhan dapat dialami pada satu atau kedua mata.
Bila telah terjadi inflamasi, dapat timbul keluhan mata
merah.
Terdapat riwayat penyakit yang berkaitan dengan faktor
predisposisi, misalnya: blefaritis, trakoma, trauma mekanik
atau kimiawi, herpes zoster oftalmik, dan berbagai kelainan
TRIKIASIS
No. Dokumen :

No. Revisi :-
SPO Tanggal Terbit :
Januari 2016

Halaman : 1/2

dr. Juriadi Paddo, M.Kes.


PUSKESMAS
NIP.19660303 200212 1 006
POASIA

yang menyebabkan timbulnya sikatriks dan entropion.


Keluhan dapat dialami oleh pasien dari semua kelompok
usia.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Beberapa atau seluruh bulu mata berkontak dengan
permukaan bola mata.
Dapat ditemukan entropion, yaitu terlipatnya margo
palpebra ke arah dalam.
Bila terdapat inflamasi atau infeksi, dapat ditemukan injeksi
konjungtival atau silier.
Kelainan pada kornea, misalnya: abrasi, ulkus, nebula /
makula / leukoma kornea.
Bila telah merusak kornea, dapat menyebabkan penurunan
visus.
Bila terdapat ulkus pada kornea, uji fluoresein akan memberi
hasil positif.
Pemeriksaan harus dilakukan pada kedua mata, terlepas
dari ada tidaknya keluhan.
6. Diagnosis Diagnosis trikiasis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan
fisik sebagaimana disebutkan sebelumnya. Tes fluoresens dapat
menunjukkan erosi atau ulkus kornea.
7. Penatalaksa Non-medikamentosa
naan Epilasi, yaitu pencabutan bulu mata dengan pinset. Hal ini
bertujuan mengurangi gejala dan mencegah komplikasi pada
bola mata. Namun, bulu mata akan tumbuh kembali dalam
waktu 4 6 minggu, sehingga epilasi perlu diulang kembali.
Medikamentosa
Pengobatan topikal diberikan sesuai indikasi, misalnya: salep
atau tetes mata antibiotik untuk mengatasi infeksi.
8. Output Tata laksana kasus trikiasis sesuai standar terapi Puskesmas.

9.Rekaman Historis Perubahan


NO Yang Dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan