Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI BIOFISIKA

KEUNTUNGAN MEKANIK DAN KAITANNYA KERJA OTOT


PADA STRUKTUR RANGKA MANUSIA

Disusun Oleh :

Kelompok 2
Wahyu Ningsih Alifiah 1431224100
Iga Nur Azizah 14312241042
Asri Maharani 14312241051

Pendidikan IPA I 2014

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

A. Judul
Keuntungan Mekanik dan Kaitannya Kerja Otot pada Struktur Rangka Manusia

B. Tujuan
1. Mengetahui konsep dasar pesawat sederhana dan hubungannya dengan kerja otot
pada struktur rangka manusia.
2. Mengetahui nilai keuntungan mekanik pada tuas.

C. Dasar Teori
Dalam kehidupan ini benyak sekali alat yang di gunakan untuk mempermudah
melakukan pekerjaan. Alat-alat tersebut diciptakan manusia dari yang paling sederhana
sampai yang paling rumit. Alat-alat tersebut, yang digunakan untuk memudahkan
manusia melakukan pekerjaan atau kegiatan, disebut pesawat.
Ada dua jenis pesawat yaitu pesawat sederhana dan pesawat rumit. Pesawat rumit
adalah pesawat yang terdiri atas susunan beberapa pesawat rumit, contohnya pesawat
terbang, pesawat telepon, motor, televisi dan lainnya. Pesawat sederhana adalah alat
bantu kerja yang bentuknya sederhana, contohnya tuas, bidang miring dan katrol.
Pesawat sederhana merupakan segala jenis perangkat yang hanya membutuhkan satu
gaya untuk bekerja. Suatu gaya terjadi akan menyebabkan gerakan sepanjang suatu jarak
tertentu.
1 Tuas
Tuas merupakan salah satu dari berbagai macam bidang miring. Tuas adalah alat
yang digunakan untuk mempermudah mengungkit beban. Sistem kerja tuas ada tiga
yaitu, titik tumpu (fulktrum), kuasa dan beban. Titik tumpu adalah sebuah titik yang
tidak dapat berpindah dan menjadi tumpuan disebut sebagai fulktrum. Kuasa adalah
gaya yang diberikan untuk mendorong tuas. Beban adalah benda yang akan
dipindahkan. Perbandingan antara beban dan kuasa adalah sama dengan perbandingan
antara lengan kuasa dan lengan beban (Halliday, 1991).
Tuas yang digunakan orang untuk memindahkan suatu beban. Berat beban yang
akan diangkat disebut gaya beban (Fb) dan gaya yang digunakan untuk mengangkat
batu atau beban disebut gaya kuasa (Fk). Jarak antara penumpu dan beban disebut
lengan beban (lb) dan jarak antara penumpu dengan kuasa disebut lengan kuasa (lk).
Hubungan antara besaran-besaran tersebut menunjukkan bahwa perkalian gaya kuasa
dan lengan kuasa (Fklk) sama dengan gaya beban dikalikan dengan lengan beban
(Fblb). Artinya besar usaha yang dilakukan kuasa sama dengan besarnya usaha yang
dilakukan beban (Giancoli. 1998). Oleh sebab itu, pada tuas berlaku persamaan
sebagai berikut:
Fk . Lk=Fb . Lb (I)
Dengan:

= gaya kuasa (N) Fb = gaya beban (N)


= lengan kuasa (m) Lb = lengan beban (m)

Terdapat tiga macam Tuas berdasarkan letak ketiga sistem kerja tuas (titik tumpu,
beban, dan kuas). Kelas Pertama yaitu titik tumpu berada ditengah, diantara lengan
kuasa (Lk) dan lengan beban (Lb); kelas kedua Yaitu lengan beban berada diantara
titik tumpu dan lengan kuasa; kelas ketiga Yaitu lengan kuasa berada diantara lengan
beban dan titik tumpu.

Gambar 1. Jenis Tuas


Sumber : Davidovits, Paul.2008. Physics in Biology and Medicine

2 Keuntungan Mekanik
Kerja yang terjadi pada pesawat sederhana terjadi sewaktu gaya diberikan dan
menyebabkan gerakan sepanjang suatu jarak tertentu. Kerja yang timbul adalah hasil
gaya dan jarak (II). Jumlah kerja yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu bersifat
konstan, walaupun demikian jumlah gaya yang dibutuhkan untuk mencapai hal ini
dapat dikurangi dengan menerapkan gaya yang lebih sedikit terhadap jarak yang lebih
jauh. Dengan kata lain, peningkatan jarak akan mengurangi gaya yang dibutuhkan.
Rasio antara keduanya disebut keuntungan mekanik atau dapat disebut sebagai besar
kemudahan yang diperoleh dalam menggunakan pesawat sederhana(Francis. 1998).

W =F . s (II)

Jarak sangat mempengaruhi besar keuntungan mekanik suatu tuas. Jika lengan
beban (Lb) lebih kecil dibandingkan dengan lengan kuasa (Lk) Lb < Lk, gaya
kuasa(F) yang dibutuhkan agar tuas menjadi setimbang lebih kecil dibandingkan berat
beban (W). Jika jarak beban dengan titik tumpu dekat, dengan Lb > Lk, maka gaya
kuasa akan semakin besar dari berat beban, menimbulkan keuntungan mekanik yang
besar. Sehingga keuntungan mekanik dari suatu tuas adalah(Davidovits, Paul.2008).;

W Lk (III)
M= =
F Lb

3 Pesawat Sederhana dan Kerja Otot


Pada tubuh manusia berlaku prinsip-prinsip kerja pesawat sederhana. Salah satu
prinsip kerja pesawat sederhana tuas jenis pertama pada tubuh manusia adalah kerja
pada lengan manusia. Pada gerak otot bisep dan trisep untuk memindahkan atau
mengangkat beban adalah menggunakan prinsip kerja pengungkit golongan pertama
(1) yaitu pengungkit yang memiliki susunan letak titik tumpunya berada diantara titik
tanggap gaya (titik kuasa) dan titik beban. Titik tumpu (tempat bertumpunya
pengungkit pada penyangga) berada pada sendi engsel, titik kuasa berada di bahu, dan
untuk titik beban adalah terletak di tangan.

Gambar 2. Tuas Jenis Pertama pada Lengan Manusia


Sumber : Davidovits, Paul.2008. Physics in Biology and Medicine
D. Metode Praktikum
1. Tempat dan Waktu Praktikum
a. Tempat: Laboratorium IPA 2
b. Hari, Tanggal : Selasa, 07 Maret 2017
c. Pukul : 11.10 12.50

2. Alat dan Bahan

1. Papan berlubang (tuas)


2. Statif
3. Penggaris
4. Bandul
5. Neraca pegas
3. Prosedur Percobaan

Menyiapkan Alat dan Bahan yang dibutuhkan

Meletakkan papan pada statif

Menentukan panjang lengan beban (Lb) yang digunakan

Menentukan panjang lengan kuasa (Lk)

Mengaitkan bandul pada papan (tuas)

Mengukur dengan menggunakan neraca pegas hingga sistem seimbang

Mengulangi percobaan dengan memvariasi panjang lengan kuasa (Lk)

E. Data Hasil Pengamatan


Tabel Analisis Keuntungan Mekanik

No Lb (m) Lk (m) W (N) F (N) Wb.Lb Fk.Lk KM1 KM2


1 0,08 0,26 2,8 0,7 0,224 0,182 4 3,25
2 0,11 0,23 2,8 1,2 0,308 0,276 2,33 2,09
3 0,14 0,20 2,8 1,5 0,392 0,30 1,867 1,428
4 0,14 0,20 1 0,6 0,14 0,12 1,67 1,42
5 0,14 0,20 1,5 0,9 0,21 0,18 1,67 1,42
6 0,14 0,20 2 1,2 0,28 0,24 1,67 1,42
Keterangan :

Wb
KM 1=
Fk
Lk
KM 2=
Lb

F. Analisis Data
1 Diketahui : Lb = 0,08 m 2 Diketahui : Lb = 0,11 m
Lk = 0,26 m Lk = 0,23 m
W = 2,8 N W = 2,8 N
F = 0,7 N F = 1,2 N
Ditanya : KM1 dan KM2 = ? Ditanya : KM1 dan KM2 = ?
Wb Wb
KM 1= KM 1=
Jawab : Fk Jawab : Fk
2,8 N 2,8 N
KM 1= KM 1=
0,7 N 1,2 N

KM 1=4 N KM 1=2,33 N

Lk Lk
KM 2= KM 2=
Lb Lb

0,26 N 0,23 N
KM 2= KM 2=
0,08 N 0,11 N

KM 2=3,25 KM 2=2,09

3 Diketahui : Lb = 0,14 m 4 Diketahui : Lb = 0,14 m


Lk = 0,20 m Lk = 0,20 m
W = 2,8 N W=1N
F = 1,5 N F = 0,6 N
Ditanya : KM1 dan KM2 = ? Ditanya : KM1 dan KM2 = ?
Wb Wb
KM 1= KM 1=
Jawab : Fk Jawab : Fk
2,8 N 1N
KM 1= KM 1=
1,5 N 0,6 N

KM 1=1,867 N KM 1=1,67 N

Lk Lk
KM 2= KM 2=
Lb Lb

0,20 N 0,20 N
KM 2= KM 2=
0,14 N 0,14 N

KM 2=1,428 KM 2=1,42
5 Diketahui : Lb = 0,14 m 6 Diketahui : Lb = 0,14 m
Lk = 0,20 m Lk = 0,20 m
W = 1,5 N W=2N
F = 0,9 N F = 1,2 N
Ditanya : KM1 dan KM2 = ? Ditanya : KM1 dan KM2 = ?
Wb Wb
KM 1= KM 1=
Jawab : Fk Jawab : Fk
1,5 N 2N
KM 1= KM 1=
0,9 N 1,2 N

KM 1=1,67 N KM 1=1,67 N

Lk Lk
KM 2= KM 2=
Lb Lb

0,20 N 0,20 N
KM 2= KM 2=
0,14 N 0,14 N

KM 2=1,42 KM 2=1,42

G. Pembahasan
Percobaan tentang Keuntungan Mekanik dan Kaitannya Kerja Otot pada Struktur
Rangka Otot ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 7 Maret 2017 di Laboratorium IPA
2 FMIPA UNY. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari konsep dasar
pesawat sederhana dan hubungannya dengan kerja otot pada struktur rangka otot
manusia, dan untuk menghitung nilai keuntungan mekanik pada tuas.
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah papan berlubang
sebagai tuas, statif dengan as, penggaris, piring timbangan, anak timbangan, dan neraca
pegas. Pada percobaan kali ini praktikan menggunakan 2 variabel dalam melakukan
percobaan, yaitu untuk percobaan pertama, praktikan menggunakan variabel bebas
berupa panjang lengan beban yang digunakan (Lb), dan pada percobaan kedua praktikan
menggunakan variabel bebas berupa berat dari beban yang digunakan (W).
Langkah kerja yang dilakukan oleh praktikan, yaitu menyiapkan alat dan bahan yang
diperlukan. Lalu pratikan mengambil sejumlah anak timbangan, untuk percobaan pertama
dengan variabel bebas berupa panjang lengan beban, praktikan menggunakan berat beban
(anak timbangan) yang sama, yaitu sebesar 280 gram. Langkah selanjutnya, praktikan
menentukan panjangnya lengan beban dari lubang as pada statif, dan meletakkan beban
di ujung lengan beban tersebut. Lalu, pada ujung lengan kuasa, praktikan mengaitkan
neraca pegas untuk mengukur besarnya gaya yang dibutuhkan agar sistem setimbang,
yaitu dengan menarik pegas ke bawah sehingga sistem menjadi setimbang. Praktikan
melakukan percobaan pertama ini dengan tiga perbedaan panjang lengan beban. Langkah
terakhir yang dilakukan adalah mencatat hasil percobaan pada tabel hasil percobaan.
Pada percobaan kedua, dengan menggunakan variabel bebas berupa berat beban,
praktikan menggunakan tiga variasi berat, yaitu 100 gram. 150 gram, dan 200 gram.
Langkah kerja yang dilakukan oleh praktikan adalah menyiapkan alat dan bahan yang
diperlukan. Lalu pratikan mengambil sejumlah anak timbangan, dan setelah praktikan
menentukan panjangnya lengan beban dari lubang as pada statif, praktikan meletakkan
beban di ujung lengan beban tersebut. Lalu, pada ujung lengan kuasa, praktikan
mengaitkan neraca pegas untuk mengukur besarnya gaya yang dibutuhkan agar sistem
setimbang, yaitu dengan menarik pegas ke bawah sehingga sistem menjadi setimbang.
Praktikan mengulangi percobaan ini dengan tiga perbedaan berat beban. Langkah terakhir
yang dilakukan adalah mencatat hasil percobaan pada tabel hasil percobaan.
Percobaan yang praktikan lakukan, menggunakan tuas jenis pertama, yaitu titik
tumpunya berada di antara titik kuasa dan titik beban. Hal ini terlihat dari skema
percobaan yang praktikan buat, sebagai berikut

Gambar 1. Skema Percobaan


Pada percobaan pertama, praktikan menyelidiki pengaruh antara lengan beban
dengan keuntungan mekanik. Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan nilai bahwa gaya
kuasa (Fk) berbanding lurus dengan nilai lengan beban (Lb), yaitu pada Lb = 0,08 m nilai
F yang diperoleh adalah 0,7 N, pada Lb = 0,11 m nilai F yang diperoleh adalah 1,2 N, dan
pada Lb = 0,14 m nilai F yang diperoleh adalah 1,5 N.
Dari data yang didapatkan, maka praktikan melakukan analisis untuk mendapatkan
keuntungan mekanik. Hasilnya didapatkan bahwa nilai lengan beban berbanding terbalik
dengan keuntungan mekanik. Semakin besar lengan beban, maka semakin kecil
keuntungan mekaniknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Science Skills for
Construction Trades: Mechanical Systems Simple Machines, & Mechanical Advantage
(2011 : 2-3) bahwa keuntungan mekanis tuas ini tergantung pada di mana kita
menempatkan titik tumpu. Jika titik tumpu lebih dekat ke beban, keuntungan mekanik
lebih tinggi.
Berdasarkan percobaan, praktikan melakukan analisis keuntungan mekanik, yiatu
keuntungan mekanik satu dimana keuntungan mekanik didapatkan dari berat beban
dibagi dengan gaya kuasa, dan keuntungan mekanik dua, yaitu lengan kuasa dibagi
dengan lengan beban. Besarnya nilai KM 1 dan KM2 yang didapatkan dari hasil analisis
tidaklah sama persi, tetapi tidak memiliki selisih yang jauh, dimana seharusnya baik KM 1
maupun KM2 besarnya nilai sama, yaitu untuk percobaan pertama dengan variabel bebas
Lb didapatkan KM1 adalah 4; 2,33 dan 1,867 sedangkan KM2 adalah 3,25; 2,09; 1,428.
Pada percobaan kedua dengan variabel bebas berat beban, didapatka besarnya nila KM 1
adalah 1,67 dan KM2 adalah 1,42. Hal ini dapat disebabkan karena banyak faktor, dimana
dalam melakukan percobaan akan selalu ada kendala yang dapat berupa ketelitian
pengmata yang kurang, alat yang digunakan yang kurang valid, dan sebagainya.

Sedangkan pada percobaan kedua, praktikan menyelidiki pengaruh berat beban


terhadap keuntungan mekanik. Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan nilai bahwa
berat beban (Wb) berbanding lurus dengan nilai gaya kuasa (Fk), dimana praktikan
menggunakan tiga variasi berat beban 100 gram, 150 gram, dan 200 gram denga besarnya
gaya yang didapatkan adalah 0,6 N, 0,9 N, dan 1,2 N. Berdasarkan hasil percobaan
diperoleh hubungan bahwa semakin bertambahnya beban maka gaya yang dibutuhkan
juga semakin besar hal ini sesuai dengan persamaan :

w lb = F lk

dengan : w = beban

lb = lengan beban

F = kuasa

lk = lengan kuasa.
Berdasarkan data yang didapatkan, maka praktikan melakukan analisis untuk
mendapatkan keuntungan mekanik. Hasilnya didapatkan keuntungan mekanik dengan
nilai yang sama untuk semua nilai beban yang digunakan oleh praktikan, yaitu untuk
KM1 = 1,67 dan KM2 = 1,42. Hal ini dikarenakan dalam pengambilan data parktikan
menggunakan panjang lengan kuasa yang sama, dimana seharusnya praktikan
menggunakan lengan kuasa yang divariasikan agar dapat diketahui hubungan antar berat
beban dengan keuntungan mekanik.
Pada tubuh manusia berlaku prinsip-prinsip kerja pesawat sederhana yang kemudian
ditiru dan dimodifikasi untuk mendesain berbagai macam peralatan yang memudahkan
kerja manusia. Pesawat sederhana adalah alat yang dipergunakan untuk mempermudah
manusia melakukan usaha. Pesawat sederhana berdasarkan prinsip kerjanya dibedakan
menjadi tuas/pengungkit, bidang miring, katrol dan roda berporos. Pesawat sederhana
mempunyai keuntungan mekanik yang didapatkan dari perbandingan antara gaya beban
dengan gaya kuasa sehingga memperingan kerja manusia.
Prinsip kerja pesawat sederhana pada otot dan rangka manusia adalah pada saat
manusia melakukan suatu aktivitas, maka otot, tulang dan sendi akan bekerja bersama-
sama. Prinsip kerja ketiganya seperti sebuah pengungkit, dimana tulang sebagai lengan,
sendi sebagai titik tumpu dan kontraksi dan relaksasi otot memberikan gaya untuk
menggerakkan bagian tubuh.
Prinsip kerja pesawat sederhana memiliki hubungan dengan kerja otot pada struktur
rangka manusia yaitu pada saat melakukan suatu aktivitas, otot, tulang, dan sendi akan
bekerja secara bersama-sama. Prinsip ketiganya merupakan sama seperti prinsip dari
pengungkit atau tuas, dimana tulang sebagai lengan beban, sendi sebagai titik tumpu, dan
kontraksi atau relaksasi otot memberikan gaya untuk menggerakan bagian tubuh.
Sistem tuas ini, ditemukan dalam sistem rangka tubuh manusia, contohnya ada pada
tulang tengkorak dan leher, tumit dan telapak kaki, serta lengan tangan. Pada masing-
masing contoh tersebut, memperlihatkan jenis tuas yang berbeda. Gaya gaya yang
bekerja pada sistem tuas ini, terdapat dua gaya, yaitu gaya gravitasi dan gaya otot. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Winter (1989 : 76) bahwa gaya-gaya yang bekerja pada sistem
organ gerak manusia dalam ilmu biomekanika antara lain gaya gravitasi, gaya reaksi, dan
gaya otot.
Contoh yang ada pada tulang leher dan tengkorak merupakan contoh jenis tuas
pertama dengan titik tumpuan diantara gaya berat dan gaya otot. Sesuai dengan
pernyataan Gabriel (1996: 8), ada 3 macam sistem pengumpil yang bekerja dalam tubuh
manusia, yaitu :
1 Titik tumpuan terletak di antara gaya berat dan gaya otot

Gambar 2. Gaya berat dan gaya otot pada tulang leher dan tengkorak

2 Gaya berat diantara titik tumpuan dan gaya otot, yaitu ada pada tumit dan telapak
kaki, termasuk ke dalam jenis kedua.

Gambar 3. Gaya berat dan gaya otot pada tumit dan telapak kaki

3 Gaya otot di antara titik tumpuan dan gaya berat, yaitu ada pada lengan tangan, dengan
titik tumpuan di siku termasuk jenis tuas ketiga

Gambar 4. Gaya berat dan gaya otot pada siku

Keuntungan mekanik berkaitan erat dengan sistem kerja otot pada rangka manusia,
jika keuntungan mekanik semakin besar maka gaya yang dibutuhkan juga semakin kecil
sehingga mengurangi gaya yang dibutuhkan otot untuk menggerakan rangka saat
membawa beban karena rangka memiliki sistem tuas yang sangat membantu fungsinya
dalam menjalankan aktivitas.

H. Kesimpulan
1. Pesawat sederhana adalah alat bantu kerja yang bentuknya sederhana, contohnya tuas,
bidang miring dan katrol. Prinsip kerja pesawat sederhana pada otot dan rangka
manusia adalah pada saat manusia melakukan suatu aktivitas, maka otot, tulang dan
sendi akan bekerja bersama-sama. Prinsip kerja ketiganya seperti sebuah pengungkit,
dimana tulang sebagai lengan, sendi sebagai titik tumpu dan kontraksi dan relaksasi
otot memberikan gaya untuk menggerakkan bagian tubuh.
2. Keuntungan mekanik berbanding terbalik dengan panjang lengan beban. Semakin
besar lengan beban, maka semakin kecil keuntungan mekaniknya. Semakin besar
lengan beban, maka semakin kecil keuntungan mekaniknya. Keuntungan mekanis
tuas ini tergantung pada di mana kita menempatkan titik tumpu. Jika titik tumpu lebih
dekat ke beban, keuntungan mekanik lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

______. 2011. Science Skills for Construction Trades: Mechanical Systems Simple Machines, &
Mechanical Advantage. Ontario : Workplace Support Services Branch Ontario Ministry of
Training, Colleges and Universities. Diunduh dari
http://www.georgiancollege.ca/coned09/wp-content/uploads/03CTM-S07-Simple-
Machines-and-Mechanical-Advantage.pdf pada tanggal 19 April 2016 pukul 22.13 WIB.

Davidovits, Paul. 2008. Physics in Biology and Medicine third edition. New York: Academic
Press.

Francis. 1998. Fisika jilid 2. Jakarta : Erlangga

Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC.

Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Hala, Yusminah. 2007.Biologi Umum 2. Makassar: UIN Alauddin Press.

Halliday dan Resnick. 1991. Fisika Jilid I (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Herman, Irving P. 2006. Physic of The Human Body. New York: Springer.

Winter, David A. 1989. Biomechanics of Normal and Pathological Gait: Implication for
Understanding Human Locomotor Control. Canada : John Wiley & Sons Inc.
Winter, David A. 2009. Biomechanics and Motor Control of Human Movement Fourth Edition.
Canada : John Wiley & Sons Inc.
LAMPIRAN

Gambar 1. Beban. Gambar 2. Neraca pegas.


Sumber : dokumentasi pribadi. Sumber : dokumentasi pribadi.

Gambar 4. Menggunakan neraca pegas untuk


Gambar 3. Statif dan lengan.
membuat lengan dalam kondisi setimbang.
Sumber : dokumentasi pribadi.
Sumber : dokumentasi pribadi.