Anda di halaman 1dari 42

8 Prinsip Etika Dalam Keperawatan

Gustinerz.com | Sebagai seorang perawat/calon perawat tentunya kita harus


mengetahui etika dan hukum dalam profesi kita sebagai landasan kita untuk
bekerja memberikan layanan keperawatan kepada masyarakat sehingga kita
dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.
Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu objek etika adalah
tingkah laku manusia (Wikipedia Indonesia)

Ada 8 prinsip etika keperawatan yang wajib diketahui oleh perawat dalam
memberikan layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga, dan
masyarakat.

1. Otonomi (Autonomi) prinsi otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa


individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.
Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu dan orang lain harus
menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yang tidak
memperhatikan otonomi adalah Memberitahukan klien bahwa keadaanya
baik,padahal terdapat gangguanatau penyimpangan

2. Beneficience (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat untuk


melakukan hal yan baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau
kejahatan. Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk
memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk
tidak dilakukan karena alasan resiko serangan jantung.

3. Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional ketika


perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Contoh ketika perawat dinas sendirian dan ketika itu ada klien baru masuk
serta ada juga klien rawat yang memerlukan bantuan perawat maka
perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam faktor tersebut
kemudian bertindak sesuai dengan asas keadilan.

4. Nonmaleficince (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak menimbulkan


bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh ketika ada klien
yang menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian
transfuse darah dan ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat
keadaan klien semakin memburuk dan dokter harus mengistrusikan
pemberian transfuse darah. akhirnya transfuse darah ridak diberikan
karena prinsi beneficence walaupun pada situasi ini juga terjadi
penyalahgunaan prinsi nonmaleficince.

5. Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat namun
harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk
menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien
mengerti. Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan
objektif. Kebenaran merupakan dasar membina hubungan saling percaya.
Klie memiliki otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi
yang ia ingin tahu. Contoh Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai
macam fraktur karena kecelakaan mobil, suaminya juga ada dalam
kecelakaan tersebut dan meninggal dunia. Ny. S selalu bertanya-tanya
tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawat
untuk belum memberitahukan kematian suaminya kepada klien perawat
tidak mengetahui alasan tersebut dari dokter dan kepala ruangan
menyampaikan intruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam hal ini
dihadapkan oleh konflik kejujuran.

6. Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat adalah


meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan
meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki
komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.

7. Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan adalah informasi tentang klien


harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien
hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan
klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.

8. Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar yang pasti


bahwa tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak
jelas atau tanda tekecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri
sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, dan masyarakat.
Jika perawat salah memberi dosis obat kepada klien perawat dapat digugat
oleh klien yang menerima obat, dokter yang memberi tugas delegatif, dan
masyarakat yang menuntut kemampuan professional.

http://gustinerz.com/?p=3719

PRINSIP-PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN

Etika merupakan kata yang berasal dari Yunani, yaitu Ethos, yang menurut
Araskar dan David (1978) berarti kebiasaan atau model prilaku, atau standar yang
diharapkan dan kriteria tertentu untuk sesuatu tindakan, dapat diartikan segala
sesuatu yang berhubungan dengan pertimbangan pembuatan keputusan, benar atau
tidaknya suatu perbuatan. Dalam Oxford Advanced Learners Dictionary of Curret
English, AS Hornby mengartikan etika sebagai sistem dari prinsip-prinsip moral
atau aturan-aturan prilaku. Menurut definisi AARN (1996), etika berfokus pada
yang seharusnya baik salah atau benar, atau hal baik atau buruk. Sedangkan
menurut Rowson, (1992).etik adalah Segala sesuatu yang berhubungan/alasan
tentang isu moral.
Moral adalah suatu kegiatan/prilaku yang mengarahkan manusia untuk
memilih tindakan baik dan buruk, dapat dikatakan etik merupakan kesadaran yang
sistematis terhadap prilaku yang dapat dipertanggung jawabkan (Degraf,
1988).Etika merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan dengan keputusan
moral menyangkut manusia (Spike lee, 1994). Menurut Websters The discipline
dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation, ethics
offers conceptual tools to evaluate and guide moral decision making
Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa etika merupakan pengetahuan
moral dan susila, falsafah hidup, kekuatan moral, sistem nilai, kesepakatan, serta
himpunan hal-hal yang diwajibkan, larangan untuk suatu kelompok/masyarakat
dan bukan merupakan hukum atau undang-undang. Dan hal ini menegaskan
bahwa moral merupakan bagian dari etik, dan etika merupakan ilmu tentang moral
sedangkan moral satu kesatuan nilai yang dipakai manusia sebagai dasar
prilakunnya. Maka etika keperawatan (nursing ethics) merupakan bentuk ekspresi
bagaimana perawat seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan
diatur dalam kode etik keperawatan.

Konsep Moral dalam praktek keperawatan


Praktek keperawatan menurut Henderson dalam bukunya tentang teori
keperawatan, yaitu segala sesuatu yang dilakukan perawat dalam mengatasi
masalah keperawatan dengan menggunakan metode ilmiah, bila membicarakan
praktek keperawatan tidak lepas dari fenomena keperawatan dan hubungan pasien
dan perawat.
Fenomena keperawatan merupakan penyimpangan/tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia (bio, psiko, social dan spiritual), mulai dari tingkat
individu untuk sampai pada tingkat masyarakat yang juga tercermin pada tingkat
system organ fungsional sampai subseluler (Henderson, 1978, lih, Ann Mariner,
2003). Asuhan keperawatan merupakan bentuk dari praktek keperawatan, dimana
asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktek
keperawatan yang diberikan pada pasein dengan menggunakan proses
keperawatan berpedoman pada standar keperawatan, dilandasi etika dan etiket
keperawatan(Kozier, 1991). Asuhan keperawatan ditujukan untuk memandirikan
pasien, (Orem, 1956,lih, Ann Mariner, 2003).
Keperawatan merupakan Bentuk asuhan keperawatan kepada individu, keluarga
dan masyarakat berdasarkan ilmu dan seni dan menpunyai hubungan perawat dan
pasien sebagai hubungan professional (Kozier, 1991). Hubungan professional
yang dimaksud adalah hubungan terapeutik antara perawat pasien yang dilandasi
oleh rasa percaya, empati, cinta, otonomi, dan didahulu adanya kontrak yang jelas
dengan tujuan membantu pasien dalam proses penyembuhan dari
sakit(Kozier,1991).
KONSEP ETIK

Perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya
didalam menghadapi masalah yang menyangkut etika. Seseorang harus berpikir
secara rasional, bukan emosional dalam membuat keputusan etis. Keputusan
tersebut membutuhkan ketrampilan berpikir secara sadar yang diperlukan untuk
menyelamatkan keputusan pasien dan memberikan asuhan.
Teori dasar/prinsip-prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat keputusan
etis praktik profesional. Teori-teori etik digunakan dalam pembuatan keputusan
bila terjadi konflik antara prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Para ahli falsafah
moral telah mengemukakan beberapa teori etik, yang secara garis besar dapat
diklasifikasikan menjadi teori teleologi dan deontologi.
1.Teleologi.
Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan ini
sering disebut dengan ungkapan the end fustifies the means atau makna dari suatu
tindakan ditentukan oleh hasil akhir yang terjadi. Teori ini menekankan pada
pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan ketidakbaikan sekecil mungkin
bagi manusia.Contoh penerapan teori ini misalnya bayi-bayi yang lahir cacat lebih
baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban di masyarakat.
2.Deontologi.
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti tugas. Teori ini
berprinsip pada aksi atau tindakan. Contoh penerapan deontologi adalah seorang
perawat yang yakin bahwa pasien harus diberitahu tentang apa yang sebenarnya
terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat menyakitkan. Contoh lain misalnya
seorang perawat menolak membantu pelaksanaan abortus karena keyakinan
agamanya yang melarang tindakan membunuh.
Penerapan teori ini perawat tidak menggunakan pertimbangan, misalnya seperti
tindakan abortus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena setiap
tindakan yang mengakhiri hidup (dalam hal ini calon bayi) merupakan tindakan
yang secara moral buruk. Prinsip etika keperawatan meliputi kemurahan hati
(beneficence).Inti dari prinsip kemurahan hati adalah tanggung jawab untuk
melakukan kebaikan yang menguntungkan pasien dan menghindari perbuatan
yang merugikan atau membahayakan pasien.
3.keadilan (justice)
Prinsip keadilan ini menyatakan bahwa mereka yang sederajat harus diperlakukan
sederajat, sedangkan yang tidak sederajat harus diperlakukan tidak sederajat
sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini berarti bahwa kebutuhan kesehatan dari
mereka yang sederajat harus menerima sumber pelayanan kesehatan dalam jumlah
sebanding. Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka
menurut prinsip ini ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar
pula.Keadilan berbicara tentang kejujuran dan pendistribusian barang dan jasa
secara merata. Fokus hukum adalah perlindungan masyarakat, sedangkan fokus
hukum kesehatan adalah perlindungan konsumen.
4.otonomi
Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan
menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih.
Permasalaan yang muncul dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi
kemampuan otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat
kesadaran, usia, penyakit, lingkungan rumah sakit, ekonomi, tersedianya
informasi dll.
5.kejujuran (veracity)
Prinsip kejujuran menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Kejujuran
harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan pasien. Kejujuran merupakan
dasar terbinanya hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Perawat
sering kali tidak memberitahukan kejadian sebenarnya kepada pasien yang sakit
parah. Kejujuran berarti perawat tidak boleh membocorkan informasi yang
diperoleh dari pasien dalam kapasitasnya sebagai seorang profesional tanpa
persetujuan pasien. Kecuali jika pasien merupakan korban atau subjek dari tindak
kejahatan, maka perbuatan tersebut dapat diajukan ke depan pengadilan dimana
perawat menjadi seorang saksi.
6.ketaatan (fidelity)
Prinsip ketaatan merupakan tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu
kesepakatan. Tanggung jawab dalam konteks hubungan perawat-pasien meliputi
tanggung jawab menjaga janji, mempertahankan konfidensi dan memberikan
perhatian/kepedulian. Peduli pada pasien merupakan salah satu aspek dari prinsip
ketaatan. Peduli kepada pasien merupakan komponen paling penting dari praktik
keperawatan, terutama pada pasien dalam kondisi terminal.

Prinsip Prinsip Etik Keperawatan


Prinsip bahwa etika adalah menghargai hak dan martabat manusia, tidak akan
pernah berubah. Prinsip ini juga diterapkan baik dalam bidang pendidikan
maupun pekerjaan. Juga dalam hak-haknya memperoleh pelayanan kesehatan.
Ketika mengambil keputusan klinis, perawat seringkali mengandalkan
pertimbangan mereka dengan menggunakan kedua konsekuensi dan prinsip dan
kewajiban moral yang universal. Hal yang paling fundamental dari prinsip ini
adalah penghargaan atas sesama.Empat prinsip dasar lainnya bermula dari prinsip
dasar ini yang menghargai otonomi kedermawanan maleficience dan keadilan
Macam-macam Prinsip etika keperawatan
Prinsip-prinsip etika keperawatan terdiri dari:

Autonomy (Otonomi )

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis
dan memutuskan. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan
membuat keputusan sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau
pilihan yang dihargai. Prinsip otonomi ini adalah bentuk respek terhadap
seseorang, juga dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak
secara rasional.Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu
yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesioanal merefleksikan otonomi saat
perawat menghargai hak hak pasien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.

Beneficience (Berbuat Baik)


Benefisiensi berarti hanya mengerjakan sesuatu yang baik. Kebaikan juga
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan
atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Kadang-kadang
dalam situasi pelayanan kesehatan kebaikan menjadi konflik dengan otonomi.

Justice (Keadilan)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan . Nilai ini
direfleksikan dalam praktek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang
benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh
kualitas pelayanan kesehatan .

Non Maleficience (tidak merugiakan)

Prinsip ini berarti segala tindakan yang dilakukan pada klien tidak menimbulkan
bahaya / cedera secara fisik dan psikologik.

Veracity (kejujuran)

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh
pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pasien
dan untuk meyakinkan bahwa pasien sangat mengerti. Prinsip veracity
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.

Fidelity (loyalty/ketaatan)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya


terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia pasien. Ketaatan, kesetiaan adalah kewajiban seseorang untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya.
Kesetiaan itu menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang
menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan
meminimalkan penderitaan.
Confidentiality (kerahasiaan)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan ini adalah bahwa informasi tentang klien harus
dijaga privasi-nya. Apa yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien
hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tak ada satu orangpun dapat
memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijin kan oleh klien dengan bukti
persetujuannya. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikannya
pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dicegah.

Akuntabilitas (accountability)

Prinsip ini berhubungan erat dengan fidelity yang berarti bahwa tanggung jawab
pasti pada setiap tindakan dan dapat digunakan untuk menilai orang lain.
Akuntabilitas merupakan standar pasti yang mana tindakan seorang professional
dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

Moral Right

a. Advokasi
Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak
hak pasien. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat dalam
mempraktekan keperawatan profesional
b. Responsibilitas ( tanggung jawab )
Eksekusi terhadap tugas tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari
perawat. Misalnya pada saat memberikan obat, perawat bertanggung jawab untuk
mengkaji kebutuhan klien dengan memberikannya dengan aman dan benar.
c. Loyalitas
Suatu konsep yang melewati simpati, peduli, dan hubungan timbal balik terhadap
pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat.

Nilai ( Value )
Keyakinan(beliefs) mengenai arti dari suatu ide, sikap, objek, perilaku, dll yang
menjadi standar dan mempengaruhi prilaku seseorang.
Nilai menggambarkan cita-cita dan harapan- harapan ideal dalam praktik
keperawatan
Nilai dalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh
seseorang.
Nilai yang sangat diperlukan bagi perawat adalah :
1. kejujuran
2. Lemah Lembut
3. Ketepatan
4. Menghargai Orang lain

SIKAP MELINDUNGI PASIEN (ADVOCACY)


Sikap melindungi pasien (advocacy) mempunyai pemahaman kemampuan
seseorang (perawat) untuk memberikan suatu pernyataan/pembelaan untuk
kepentingan pasien. Advocacy merupakan kamampuan untuk bisa melakukan
suatu kegiatan ataupun berbicara untuk kepentingan orang lain dengan tujuan
memberikan perlindungan hak pada orang tersebut .
Advocacy sering digunakan dalam konteks hukum yang berkaitan dengan
upaya melindungi hak-hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri.
Arti advocacy menurut Ikatan Perawat Amerika/ANA (1985) adalah melindungi
klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik
tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.
Perawat sebagai advokat pasien berfungsi sebagai penghubung antara klien
dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasien, membela
kepentingan pasien dan membantu pasien memahami semua informasi dan upaya
kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional
maupun profesional. Peran advocacy sekaligus mengharuskan perawat bertindak
sebagai nara sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap
upaya kesehatan yang harus dijalani oleh pasien. Perawat juga harus melindungi
dan memfasilitasi keluarga/masyarakat dalam pelayanan keperawatan
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIS
Kemampuan membuat keputusan masalah etis merupakan salah satu
persyaratan bagi perawat untuk menjalankan praktik keperawatan profesional.
Dalam membuat keputusan etis, ada beberapa unsur yang mempengaruhi seperti
nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan, konsep moral perawatan
dan prinsip- prinsip etik.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap seseorang dalam membuat
keputusan etis antara lain faktor agama dan adat istiadat, sosial, ilmu
pengetahuan/teknologi, legalisasi/keputusan juridis, dana/keuangan,
pekerjaan/posisi pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-hak
pasien.

1. Faktor agama dan adat istiadat.

Agama serta latar belakang adat-istiadat merupakan faktor utama dalam membuat
keputusan etis. Setiap perawat disarankan untuk memahami nilai-nilai yang
diyakini maupun kaidah agama yang dianutnya. Untuk memahami ini memang
diperlukan proses. Semakin tua dan semakin banyak pengalaman belajar,
seseorang akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-nilai yang dimilikinya.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk dengan
berbagai agama/kepercayaan dan adat istiadat. Setiap penduduk yang menjadi
warga negara Indonesia harus beragama/berkeyakinan. Ini sesuai dengan sila
pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana di Indonesia menjadikan
aspek ketuhanan sebagai dasar paling utama. Setiap warga negara diberi
kebebasan untuk memilih kepercayaan yang dianutnya.

1. Faktor sosial.

Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis. Faktor ini
antara lain meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi,
hukum, dan peraturan perundang-undangan.
Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem kesehatan
nasional. Pelayanan kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis
lambat laun menjadi pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan.
2. Faktor ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil mencapai tingkat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang belum dicapai manusia pada abad sebelumnya.
Kemajuan yang telah dicapai meliputi berbagai bidang.
Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup serta
memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik
kesehatan, cara prosedur baru dan bahan-bahan/obat-obatan baru. Misalnya pasien
dengan gangguan ginjal dapat diperpanjang usianya berkat adanya mesin
hemodialisa. Ibu-ibu yang mengalami kesulitan hamil dapat diganti dengan
berbagai inseminasi. Kemajuan-kemajuan ini menimbulkan pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan etika.
3. Faktor legislasi dan keputusan juridis.
Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap perubahan
sosial atau legislasi menyebabkan timbulnya tindakan yang merupakan reaksi
perubahan tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan menurut hukum
sehingga orang yang bertindak tidak sesuai hukum dapat menimbulkan konflik.
Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan juridis bagi permasalahan etika
kesehatan sedang menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum kesehatan telah
menjadi suatu bidang ilmu, dan perundang-undangan baru banyak disusun untuk
menyempurnakan perundang-undangan lama atau untuk mengantisipasi
perkembangan permasalahan hukum kesehatan.
4. Faktor dana/keuangan.
Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat menimbulkan
konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat, pemerintah telah
banyak berupaya dengan mengadakan berbagai program yang dibiayai
pemerintah.
5. Faktor pekerjaan.
Perawat perlu mempertimbangkan posisi pekerjaannya dalam pembuatan suatu
keputusan. Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan, namun
harus diselesaikan dengan keputusan/aturan tempat ia bekerja. Perawat yang
mengutamakan kepentingan pribadi sering mendapat sorotan sebagai perawat
pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi administrasi atau
mungkin kehilangan pekerjaan.
6. Kode etik keperawatan.
Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik
merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam
penentuan, pertahanan dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan
bahwa tanggung jawab kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi.
Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan yang tepat terhadap masalah
yang menyangkut etika, perawat harus banyak berlatih mencoba menganalisis
permasalahan-permasalahan etis.
7. Hak-hak pasien.
Hak-hak pasien pada dasarnya merupakan bagian dari konsep hak-hak manusia.
Hak merupakan suatu tuntutan rasional yang berasal dari interpretasi konsekuensi
dan kepraktisan suatu situasi.
Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-hak
hukum dan hak-hak moral. Hak-hak pasien yang secara luas dikenal menurut
Megan (1998) meliputi hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil
dan berkualitas, hak untuk diberi informasi, hak untuk dilibatkan dalam
pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan, hak untuk
diberi informed concent, hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan
yang menolong, hak untuk mempunyai pendapat kedua(secand opini), hak untuk
diperlakukan dengan hormat, hak untuk konfidensialitas (termasuk privacy), hak
untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal dan hak untuk
mempertahankan dignitas (kemuliaan) termasuk menghadapi kematian dengan
bangga.

Prinsip-prinsip moral dalam praktek keperawatan Menghargai


otonomi (facilitate autonomy)

Suatu bentuk hak individu dalam mengatur kegiatan/prilaku dan tujuan hidup
individu. Kebebasan dalam memilih atau menerima suatu tanggung jawab
terhadap pilihannya sendiri. Prinsip otonomi menegaskan bahwa seseorang
mempunyai kemerdekaan untuk menentukan keputusan dirinya menurut rencana
pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang didiperlukan dalam ide terhadap respect
terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah menerima pilihan individu tanpa
memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. (Curtin, 2002).
Permasalahan dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan
otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia,
penyakit, lingkungan Rumah SAkit, ekonomi, tersedianya informsi dan lain-lain
(Priharjo, 1995). Contoh: Kebebasan pasien untuk memilih pengobatan dan siapa
yang berhak mengobatinya sesuai dengan yang diinginkan .

Kebebasan (freedom)
Prilaku tanpa tekanan dari luar, memutuskan sesuatu tanpa tekanan atau
paksaan pihak lain (Facione et all, 1991). Bahwa siapapun bebas menentukan
pilihan yang menurut pandangannya sesuatu yang terbaik.
Contoh : Klien mempunyai hak untuk menerima atau menolak asuhan
keperawatan yang diberikan.

Kebenaran (Veracity) truth


Melakukan kegiatan/tindakan sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang
tidak bertentangan (tepat, lengkap). Prinsip kejujuran menurut Veatch dan Fry
(1987) didefinisikan sebagai menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong.
Suatu kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau untuk tidak
membohongi orang lain. Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam
membangun hubungan saling percaya dengan pasien. Perawat sering tidak
memberitahukan kejadian sebenarnya pada pasien yang memang sakit parah.
Namun dari hasil penelitian pada pasien dalam keadaan terminal menjelaskan
bahwa pasien ingin diberitahu tentang kondisinya secara jujur (Veatch, 1978).
Contoh : Tindakan pemasangan infus harus dilakukan sesuai dengan SOP yang
berlaku dimana klien dirawat.

Keadilan (Justice)
Hak setiap orang untuk diperlakukan sama (facione et all, 1991). Merupakan
suatu prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua individu. Artinya individu
mendapat tindakan yang sama mempunyai kontribusi yang relative sama untuk
kebaikan kehidupan seseorang. Prinsip dari keadilan menurut beauchamp dan
childress adalah mereka uang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan
yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan
mereka.
Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka menurut
prinsip ini harus mendapatkan sumber-sumber yang besar pula, sebagai contoh:
Tindakan keperawatan yang dilakukan seorang perawat baik dibangsal maupun di
ruang VIP harus sama dan sesuai SAK

Tidak Membahayakan (Nonmaleficence)


Tindakan/ prilaku yang tidak menyebabkan kecelakaan atau membahayakan
orang lain.(Aiken, 2003). Contoh : Bila ada klien dirawat dengan penurunan
kesadaran, maka harus dipasang side driil.

Kemurahan Hati (Benefiecence)


Menyeimbangkan hal-hal yang menguntungkan dan
merugikan/membahayakan dari tindakan yang dilakukan. Melakukan hal-hal yang
baik untuk orang lain. Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak
merugikan orang lain/pasien. Prinsip ini sering kali sulit diterapkan dalam praktek
keperawatan. Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang
merugikan pasien, serta tidak adanya kepastian yang jelas apakah perawat
bertanggung jawab atas semua cara yang menguntungkan pasien.Contoh: Setiap
perawat harus dapat merawat dan memperlakukan klien dengan baik dan benar.

Kesetiaan (fidelity)
Memenuhi kewajiban dan tugas dengan penuh kepercayaan dan tanggung
jawab, memenuhi janji-janji. Veatch dan Fry mendifinisikan sebagai tanggung
jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Tanggung jawab dalam konteks
hubungan perawat-pasien meliputi tanggung jawab menjaga janji,
mempertahankan konfidensi dan memberikan perhatian/kepedulian. Peduli kepada
pasien merupakan salah satu dari prinsip ketataatan. Peduli pada pasien
merupakan komponen paling penting dari praktek keperawatan, terutama pada
pasien dalam kondisi terminal (Fry, 1991). Rasa kepedulian perawat diwujudkan
dalam memberi asuhan keperawatan dengan pendekatan individual, bersikap baik,
memberikan kenyamanan dan menunjukan kemampuan profesional
Contoh: Bila perawat sudah berjanji untuk memberikan suatu tindakan, maka
tidak boleh mengingkari janji tersebut.

Kerahasiaan (Confidentiality)
Melindungi informasi yang bersifat pribadi, prinsip bahwwa perawat menghargai
semua informsi tentang pasien dan perawat menyadari bahwa pasien mempunyai
hak istimewa dan semua yang berhubungan dengan informasi pasien tidak untuk
disebarluaskan secara tidak tepat (Aiken, 2003). Contoh : Perawat tidak boleh
menceritakan rahasia klien pada orang lain, kecuali seijin klien atau seijin
keluarga demi kepentingan hukum.

Hak (Right)
Berprilaku sesuai dengan perjanjian hukum, peraturan-peraturan dan moralitas,
berhubungan dengan hukum legal.(Websters, 1998). Contoh : Klien berhak untuk
mengetahui informasi tentang penyakit dan segala sesuatu yang perlu
diketahuinya
Hak-hak perawat, menurut Claire dan Fagin (1975), bahwa perawat
berhak:
1. Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya
2. Mengembangkan diri melalui kemampuan kompetensinya sesuai dengan latar
pendidikannya
3. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan serta standard an kode etik profesi
4. Mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau keluaregannya tentang keluhan
kesehatan dan ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan
5. Mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan/kesehatan secara terus
menerus.
6. Diperlakukan secara adil dan jujur baik oleh institusi pelayanan maupun oleh
pasien
7. Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang dapat
menimbulkan bahaya baik secara fisik maupun emosional
8. Diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan
kesehatan.
9. Privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dan
atau keluargannya serta tenaga kesehatan lainnya.
10. Menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik melalui anjuran maupun
pengumuman tertulis karena diperlukan, untuk melakukan tindakan yang
bertentangan dengan standar profesi atau kode etik keperawatan atau aturan
perundang-undangan lainnya.
11. Mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas jasa profesi yang
diberikannya berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di institusi
pelayanan yang bersangkutan
12. Memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuai dengan bidang
profesinya.

Tanggung jawab/kewajiban perawat


Disamping beberapa hak perawat yang telah diuraikan diatas, dalam mencapai
keseimbangan hak perawat maka perawat juga harus mempunyai kewajibannya
sebagai bentuk tanggung jawab kepada penerima praktek keperawatan. (Claire
dan Fagin, 1975l,dalam Fundamental of nursing,Kozier 1991)
Kewajiban perawat, sebagai berikut:
1. Mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan
2. Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi
dan batas kemanfaatannya
3. Menghormati hak pasien
4. Merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai
keahlihan atau kemampuan yang lebih kompeten, bila yang bersangkutan tidak
dapat mengatasinya.
5. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berhubungan dengan
keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar profesi
yang ada.
6. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu pasien
yang lainnya.
7. Berkolaborasi dengan tenaga medis (dokter) atau tenaga kesehatan lainnya
dalam memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien
8. Memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang
diberikan kepada pasien dan atau keluargannya sesuai dengan batas
kemampuaannya
9. Mendokumentasikan asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
10. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dn tehnologi keperawatan atau
kesehatan secara terus menerus
11. Melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan batas
kewenangannya
12. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, kesuali jika
dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang.
13. Memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat
sebelumnya terhadap institusi tempat bekerja.
Hak-hak pasien
Disamping beberapa hak dan kewajiban perawat, perawat juga harus
mengenal hak-hak pasien sebagai obyek dalam praktek keperawatan. Sebagai hak
dasar sebagai manusia maka penerima asuhan keperawatan juga harus dilindungi
hak-haknya, sesuai perkembangan dan tuntutan dalam praktek keperawatan saat
ini pasien juga lebih meminta untuk menentukan sendiri dan mengontrol tubuh
mereka sendiri bila sakit; persetujuan, kerahasiaan, dan hak pasien untuk menolak
pengobatan merupakan aspek dari penentuan diri sendiri. Hal-hal inilah yang
perlu dihargai dan diperhatikan oleh profesi keperawat dalam menjalankan
kewajibannya.
Oleh karena itu sebagai perawat professional harus menganal hak-hak
pasien, menurut Annas dan Healy, 1974, hak-hak pasien adalah sebagai
berikut:
1. Hak untuk kebenaran secara menyeluruh
2. Hak untuk mendapatkan privasi dan martabat yang mandiri
3. Hak untuk memelihara penentuan diri dalam berpartisipasi dalam keputusan
sehubungan dengan kesehatan seseorang.
4. Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama maupun sesudah dirawat di
Rumah Sakit.
Sedangkan pernyataan hak pasien (Patients Bill of Right) yang diterbitkan
oleh The American Hospital Association 1973, meliputi beberapa hal, yang
dimaksudkan memberikan upaya peningkatan hak pasien yang dirawat dan dapat
menjelaskan kepada pasien sebelum pasien dirawat.
Adapun hak-hak pasien, adalah sebagai beriku, pasien mempunyai hak:
1.Mempertahankan dan mempertimbangkan serta mendapatkan asuhan keperawatan
dengan penuh perhatian
2.Memperoleh informasi terbaru, lengkap mengenai diagnosa, pengobatan dan
program rehabilitasi dari tim medis, dan informasi seharusnya dibuat untuk orang
yang tepat mewakili pasien, karena pasien mempunyai hak untuk mengetahui dari
yang bertanggung jawab dan mengkoordinir asuhan keperawatannya.
3.Menerima informasi penting untuk memberikan persetujuan sebelum memulai
sesuatu prosedur atau pengobatan kecuali dalam keadaan darurat, mencakup
beberapa hal penting, yaitu; lamanya ketidakmampuan, alternatif-alternatif
tindakan lain dan siapa yang akan melakukan tindakan
4.Menolak pengobatan sejauh yang diijinkan hukum dan diinformasikan tentang
kosekwensi dari tindakan tersebut.
5.Setiap melakukan tindakan selalu mempertimbangkan privasinya termasuk
asuhan keperawatan, pengobatan, diskusi kasus, pemeriksaan dan tindakan, dan
selalu dijaga kerahasiaannya dan dilakukan dengan hati-hati, siapapun yang tidak
terlibat langsung asuhan keperawatan dan pengobatan pasien harus mendapatkan
ijin dari pasien.
6.Mengharapkan bahwa semua komunikasi dan catatan mengenai asuhan
keperawatan dan pengobatannya harus diperlakukan secara rahasia.
7.Pasien mempunyai hak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain
yang lebih lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan
rujukan tersebut, dan Rumah Sakit yang ditunjuk dapat menerimannya.
8.Memperoleh informasi tentang hubungan Rumah Sakit dengan instansi lainnya,
seperti pendidikan dan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan
yang diterimannya, Contoh: hubungan individu yang merawatnya, nama perawat
dan sebaginnya.
9.Diberikan penasehat/pendamping apabila Rumah Sakit mengajukan untuk terlibat
atau berperan dalam eksperimen manusiawi yang mempengaruhi asuhan atau
pengobatannya. Pasien mempunyai hak untuk menolak berpartisipasi dalam
proyek riset/penelitian tersebut.
10. Mengharapkan asuhan berkelanjutan yang dapat diterima. Pasien
mempunyai hak untuk mengetahui lebih jauh waktu perjanjian dengan dokter
yang ada. Pasien mempunyai hak untuk mengharapkan Rumah Sakit menyediakan
mekanisme sehingga ia mendapat informasi dari dokter atau staff yang
didelegasikan oleh dokter tentang kesehatan pasien selanjutnya.
11. Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya
sebagai pasien

12. Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya.

Kode Etik Keperawatan Indonesia (PPNI,2000):

Tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat.


Perawatan dalam melaksanakan pengabdian senantiasa berpedoman pada
tanggungjawab yang pangkal tolaknya bersumber pada adanya kebutuhan
terhadap perawatan untuk individu, keluarga dan masyarakat,Perawatan dalam
melaksanakan pengabdian dalam bidang perawatan senantiasa memelihara situasi
lingkungan yang menghormati nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup
beragama dari individu, keluarga dan masyarakat.Perawatan dalam melaksanakan
kewajibannya bagi individu dan masyarakat senantiasa dilandasi dengan rasa tulus
ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.Perawatan
senantiasa menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan individu dan
masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan
khususnya serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas
kewajiban pada kepentingan masyarakat.

Tanggung jawab perawat terhadap tugas.


Perawatan senantiasa memelihara mutu pelayanan perawatan yang tinggi
disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
perawatan sesuai dengan kebutuhan individu dan atau klien, keluarga dan
masyarakat.Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.Perawatan tidak akan
menggunakan pengetahuan dan keterampilan perawatan untuk tujuan yang
bertentangan dengan norma perawatan.Perawatan dalam menunaikan tugas dan
kewajiban senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh
dengan pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan, warna kulit, umur, jenis
kelamin, aliran politik serta kedudukan sosial.Perawat senantiasa melakukan
perlindungan dan keselamatan pasien dalam melaksanakan tugas keperawatan
serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih
tugaskan tangungjawab yang ada hubungan dengan perawatan.

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan


lainnya.
Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan
dengan tenaga kesehatan lain, baik dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja ataupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
keseluruhan.Perawat senantiasa menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan
pengalamannya terhadap sesama perawat serta menerima pengetahuan dan
pengalaman dari profesi lain dalam rangka meningkatkan pengetahuan dalam
bidang perawatan.Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan.Perawat
senantiasa meningkatkan pengetahuan kemampuan profesional secara sendiri atau
bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan dan
pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan perawatan.Perawat selalu
menjungjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan
tingkahlaku dan kepribadian yang luhur.Perawat senatiasa berperan dalam
penentuan pembakuan pendidikan dan pelayanan perawatan serta menerapkan
dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan perawatan.Perawatan secara bersama-
sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawatan sebagai sarana
pengabdian.

Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.


Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan sebagai kebijaksanaan yang
digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.Perawatan
senantiasa berperan aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah
dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada
masyarakat.
http://gracefracilia.blogspot.co.id/2013/10/prinsip-prinsip-etika-keperawatan.html

2.4. Definisi Confidentiality dan Accountability


2.4.1 Confidentiality (Kerahasiaan)
Menurut Ismani(2001) aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi
tentang klien harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam
dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan
klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika
diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area
pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga
kesehatan lain harus dihindari.
Sedangkan menurut Aiken(2003) confidentiality yaitu melindungi informasi
yang bersifat pribadi, prinsip bahwwa perawat menghargai semua informsi
tentang pasien dan perawat menyadari bahwa pasien mempunyai hak istimewa
dan semua yang berhubungan dengan informasi pasien tidak untuk disebarluaskan
secara tidak tepat. Contoh: Perawat tidak boleh menceritakan rahasia klien pada
orang lain, kecuali seijin klien atau seijin keluarga demi kepentingan hukum.
2.4.2 Accountability (Akuntabilitas)
Menurut Ismani(2001) akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa
tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau
tanpa terkecuali. Contoh: perawat bertanggung jawab terhadap diri sendiri,
profesi, klien, sesame karyawan dan masyarakat. Jika salah member dosis obat
kepada klien perawat tersebut dapat digugat oleh klien yang menerima obat, oleh
dokter yang memberi tugas delegatif, dan masyarakat yang menuntut kemampuan
professional.
Sedangkan menurut Efendy(2009) accountability yaitu tanggung gugat
terhadap apa yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan
bertanggung jawab terhadap klien, diri sendiri, dan profesi serta mengambil
keputusan sesuai dengan asuhan. Jika perawat profesional dalam melakukan
tindakan atau praktik keperawatan tidak sesuai etik, maka kita dapat
menyelesaikannya dengan:
a. D= Define the problem
b. E= Ethical review
c. C= Consider the option
d. I= Investigate outcome
e. D= Decide on action
f. E= Evaluate result

Contoh Kasus Kasus Jari Bayi Tergunting

Seorang perawat tidak sengaja menggunting jari bayi. Dan konyolnya, perawat itu
tidak meminta pertolongan dokter tetapi membuang jari tersebut ke bak sampah.
Kejadian tersebut mungkin tidak akan segera diketahui jika tidak ada seorang staf
RS anak di Inggris salford yang melihat tangan bayi tersebut berdarah. Bayi
tersebut baru berusia tiga minggu. Pencarian masih tetap dilakukan dan beruntung
jari bayi tersebut masih ditemukan di bak sampah. (Keterangan juru bicara rumah
sakit Inggris Salford).

Cara penyelesaian:

a. Define the problem (memperjelas masalah) yaitu mengkaji prosedur keperawatan


yang seharusnya dilakukan, dokumentasi keperawatan, serta rekam medis.
b. Ethical review (identifikasi komponen etik) perawat harus mampu
menggambarkan komponen-komponen etik yang terlibat. Komponen etik dan
hukum dalam masalah ini berkaitan dengan kelalaian dan malpraktik
c. Identifikasi orang yang terlibat karena yang menjadi korban adalah bayi maka
yang berhak memberikan sanksi adalah orang tua bayi. Sedangkan yang terlibat
adalah perawat, staf rumah sakit dan dokter yang melihat tangan bayi tersebut
berdarah.
d. Identifikasi alternatif yang terlibat yaitu:

1. Menjelaskan dengan jalan damai dan kekeluargaan

2. Jika perawat tidak mau bertanggung jawab maka jalan terakhir adalah pengadilan
hukum.

e. Terapkan prinsip-prinsip etik yaitu nonmaleficence, beneficence, dan justice.


f. Memutuskan tindakan yaitu pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan
prinsip-prinsip etik.
http://etikakeperawatanstikesda.blogspot.co.id/2015/05/confidentiality-dan-
accountability.html

2.4. Definisi Confidentiality dan Accountability


2.4.1 Confidentiality (Kerahasiaan)
Menurut Ismani(2001) aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi
tentang klien harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam
dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan
klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika
diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area
pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga
kesehatan lain harus dihindari.
Sedangkan menurut Aiken(2003) confidentiality yaitu melindungi informasi
yang bersifat pribadi, prinsip bahwwa perawat menghargai semua informsi
tentang pasien dan perawat menyadari bahwa pasien mempunyai hak istimewa
dan semua yang berhubungan dengan informasi pasien tidak untuk disebarluaskan
secara tidak tepat. Contoh: Perawat tidak boleh menceritakan rahasia klien pada
orang lain, kecuali seijin klien atau seijin keluarga demi kepentingan hukum.

2.4.2 Accountability (Akuntabilitas)


Menurut Ismani(2001) akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa
tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau
tanpa terkecuali. Contoh: perawat bertanggung jawab terhadap diri sendiri,
profesi, klien, sesame karyawan dan masyarakat. Jika salah member dosis obat
kepada klien perawat tersebut dapat digugat oleh klien yang menerima obat, oleh
dokter yang memberi tugas delegatif, dan masyarakat yang menuntut kemampuan
professional.
Sedangkan menurut Efendy(2009) accountability yaitu tanggung gugat
terhadap apa yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan
bertanggung jawab terhadap klien, diri sendiri, dan profesi serta mengambil
keputusan sesuai dengan asuhan. Jika perawat profesional dalam melakukan
tindakan atau praktik keperawatan tidak sesuai etik, maka kita dapat
menyelesaikannya dengan:
a. D= Define the problem
b. E= Ethical review
c. C= Consider the option
d. I= Investigate outcome
e. D= Decide on action
f. E= Evaluate result

Contoh Kasus Kasus Jari Bayi Tergunting

Seorang perawat tidak sengaja menggunting jari bayi. Dan konyolnya, perawat itu
tidak meminta pertolongan dokter tetapi membuang jari tersebut ke bak sampah.
Kejadian tersebut mungkin tidak akan segera diketahui jika tidak ada seorang staf
RS anak di Inggris salford yang melihat tangan bayi tersebut berdarah. Bayi
tersebut baru berusia tiga minggu. Pencarian masih tetap dilakukan dan beruntung
jari bayi tersebut masih ditemukan di bak sampah. (Keterangan juru bicara rumah
sakit Inggris Salford).

Cara penyelesaian:

a. Define the problem (memperjelas masalah) yaitu mengkaji prosedur keperawatan


yang seharusnya dilakukan, dokumentasi keperawatan, serta rekam medis.
b. Ethical review (identifikasi komponen etik) perawat harus mampu
menggambarkan komponen-komponen etik yang terlibat. Komponen etik dan
hukum dalam masalah ini berkaitan dengan kelalaian dan malpraktik
c. Identifikasi orang yang terlibat karena yang menjadi korban adalah bayi maka
yang berhak memberikan sanksi adalah orang tua bayi. Sedangkan yang terlibat
adalah perawat, staf rumah sakit dan dokter yang melihat tangan bayi tersebut
berdarah.
d. Identifikasi alternatif yang terlibat yaitu:
1. Menjelaskan dengan jalan damai dan kekeluargaan

2. Jika perawat tidak mau bertanggung jawab maka jalan terakhir adalah pengadilan
hukum.

e. Terapkan prinsip-prinsip etik yaitu nonmaleficence, beneficence, dan justice.


f. Memutuskan tindakan yaitu pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan
prinsip-prinsip etik.

C. Prinsip Etik Keperawatan (Justice / Keadilan)


Prinsip keadilan berkaitan dengan kewajiban perawat untuk dapat

berlaku adil pada semua orang yaitu tidak memihak atau berat sebelah.

Persepsi keadilan bagi perawat dan klien sering berbeda, terutama yang

terkait dengan pemberian pelayanan. Perawat akan mendahulukan klien

yang situasi dan kondisinya memerlukan penanganan segera dan menunda

melayani klien lain yang kebutuhannya termasuk di bawah prioritas. Tidak

seluruh klien dapat memahami situasi ini, sehingga akan menimbulkan rasa

kurang nyaman bagi klien yang merasa dirinya kurang diperhatikan oleh

perawat.
Prinsip keadilan ini menyatakan bahwa mereka yang

sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan yang

tidak sederajat harus diperlakukan tidak sederajat sesuai

dengan kebutuhan mereka. Ini berarti bahwa kebutuhan

kesehatan dari mereka yang sederajat harus menerima

sumber pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding.

Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang

besar, maka menurut prinsip ini ia harus mendapatkan

sumber kesehatan yang besar pula.Keadilan berbicara

tentang kejujuran dan pendistribusian barang dan jasa


secara merata. Fokus hukum adalah perlindungan

masyarakat, sedangkan fokus hukum kesehatan adalah

perlindungan konsumen.
Hal setiap orang untuk diperlakukan sama merupakan

suatu prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua

individu. Artinya individu disini mendapatkan tindakan

yang sama yang mempunyai kontribusi yang relatif sama

untuk kebaikan hidup seseorang. Prinsip dari keadilan

menurut Beauchamp dan Childress adalah mereka yang

sederajat harus diperlakukan sederajat sedangkan

mereka yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak

sederajat. Ketika seseorang mempunyai kebutuhan yang

besar, maka menurut prinsip ini harus mendapatkan

sumber-sumber yang besar pula. Sebagai contoh:

tindakan yang dilakukan seorang perawat yang ada di

ruangan VIP harus sama dan sesuai dengan yang ada di

bangsal.
Tindakan yang sama tidak selalu identik, maksudnya

setiap pasien diberikan kontribusi yang relatif sama

untuk kebaikan hidupnya. Prinsip justice dilihat dari

alokasi sumber-sumber yang tersedia, tidak berarti harus

sama dalam jumlah dan jenis., tetapi dapat diartikan

bahwa setiap individu mempunyai kesempatan yang sama

dalam mendapatkannya sesuai dengan kebutuhan pasien.

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan


adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip

moral, legal dan kemampuan. Nilai ini direfleksikan dalam

praktek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi

yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan

untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.


D. Contoh Kasus
1. Salah seorang perawat yang ditugaskan untuk menangani pasien yang

kurang mampu dan berada pada ruangan kelas III. Perawat ini awalnya

merawat pasien tersebut ini dengan baik. Namun, suatu hari keluarga dari

perawat ini dirawat di rumah sakit yang sama juga tapi di ruang VIP. Setiap

hari perawat ini selalu berkunjung ke ruangan keluarganya tersebut sampai-

sampai melupakan seorang pasien yang ada di kelas III yang sudah menjadi

tanggung jawab sepenuhnya untuk perawat itu. Ketika ditanya kenapa

perawat itu sering berkunjung ke ruangan pasien yang merupakan

keluarganya, perawat itu menjawab karena yang dirawat itu tantenya. Jadi

dia harus setiap saat mengecek keadaan tantenya itu dan melupakan

tanggung jawabnya yang terdahulu yaitu pasien di ruangan kelas III. Tentu

saja ini melanggar prinsip etik keperawatan justice / keadilan karena

perawat itu sudah membeda-bedakan perawatan pada kelurarganya dan

pasien yang sudah menjadi tanggung jawabnya dimana dia lebih sering

mengecek keadaan tantenya tersebut dan melupakan pasien yang berada di

ruangan kelas III tersebut.


2. Suatu hari Tn. Arif berobat ke rumah sakit karena anaknya demam tinggi

dan muntah-muntah dengan hanya mengandalkan kartu miskin yang

diterima dari kelurahan setempat. Pada saat yang bersamaan, ada juga

seorang anggota dewan yang berobat ke rumah sakit tersebut dengan


keluhan sakit di bagian kepala. Perawat ini kemudian hanya melayani

anggota dewan tersebut terlebih dahulu tanpa melihat pasien yang datang

lebih awal yang parah. Ketika Tn. Arif bertanya apakah anaknya bisa di

tolong, perawat itu menjawab, Maaf pak, bapak duduk di ruang tunggu

saja dulu. Saya akan menangani pasien ini dulu. Bapak biar nanti

belakangan. Kasus ini jelas sangat melanggar prinsip etik keperawatan

justice / keadilan karena membeda-bedakan mana yang miskin dan mana

yang kaya. Perawat seperti ini patut diberikan sanksi yang setimpal.

E. Penyelesaian Kasus
1. Untuk kasus yang pertama, pelanggaran yang telah dilakukan oleh

perawat tersebut adalah membeda-bedakan mana keluarganya dan mana

yang bukan. Sudah jelas bahwa dia melanggar prinsip etik keperawatan.

Seperti yang kita tahu sendiri bahwa pada prinsip etika keperawatan

justice / keadilan adalah dimana perawat tidak membeda-bedakan antara

pasien yang satu dengan pasien yang lainnya meskipun itu temannya atau

keluarganya sekalipun. Dalam prinsip etika keperawatan justice / keadilan

diperlukan perlakuan tindakan yang adil dan sama bagi setiap pasien yang

ada pada ruang lingkup rumah sakit itu sendiri. Artinya setiaop individu itu

memiliki kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidupnya. Untuk

perawatnya sendiri yang melanggar prinsip etika keperawat jenis ini bisa

dikenai hukuman atau sanksi sehubungan telah disahkannya Undang-

Undang Keperawatan.
2. Untuk kasus yang kedua, masih sama seperti kasus pertama yakni dimana

perawat membeda-bedakan pasien yang satu dengan yang lainnya. Tapi

dalam kasus kedua ini, bisa dikatakan sudah sangat kelewatan. Karena
perawat pada kasus kedua ini memilih-milih pasien yang bisa membayar

dengan lebih biaya pengobatannya daripada pasien yang hanya

mengandalkan kartu miskin untuk biaya pengobatannya. Tentu saja

perawat tersebut menginginkan tunjangannya agar bertambah. Perbuatan

perawat yang satu ini juga melanggar prinsip etik keperawatan justice /

keadilan, karena sudah memilij-milih pasien yang ekonominya tinggi

daripada yang ekonominya rendah. Disamping itu, pasien yang seharusnya

segera ditangani malah dibiarkan hanya karena ingin mendapatkan bayaran

lebih dari seorang anggiota dewan yang hanya mengeluh sakit kepala saja.
Intinya, kita sebagai seorang perawat janganlah membeda-bedakan

pasien dari segi apapun baik itu teman, keluarga, maupun anggota dewan

dan lainnya. Kita harus mengutamakan yang menjadi prioritas. Apalagi

untuk pasien yang keluhannya sangat memprihatinkan daripada pasien yang

hanya mengeluh sakit kepala.


DILEMA ETIK
Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan
mengenai perilaku yang layak harus di buat. (Arens dan Loebbecke, 1991: 77).
Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan untuk menghadapi dilema etika
tersebut. Enam pendekatan dapat dilakukan orang yang sedang menghadapi
dilema tersebut, yaitu:
1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan
2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta
3. Menentukan siap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi dilemma
4. Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema
5. Menentukan konsekwensi yang mungkin dari setiap alternative
6. Menetapkan tindakan yang tepat.
Dengan menerapkan enam pendekatan tersebut maka dapat meminimalisasi atau
menghindari rasionalisasi perilaku etis yang meliputi: (1) semua orang
melakukannya, (2) jika legal maka disana terdapat keetisan dan (3) kemungkinan
ketahuan dan konsekwensinya.
Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai
perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul
pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson
(1981 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada
alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau
tidak memuaskan sebanding. Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan
oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan /
Pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
1. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil
2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )
a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin meliputi :
1) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
2) Apa tindakan yang diusulkan
3) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
4) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan
3. Model Murphy dan Murphy
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan
informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.
4. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan
5. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

BAB III
KASUS DILEMA ETIK

Suatu hari ada seorang bapak-bapak dibawa oleh keluarganya ke salah satu
Rumah Sakit di kota Surakarta dengan gejala demam dan diare kurang lebih
selama 6 hari. Selain itu bapak-bapak tersebut (Tn. A) menderita sariawan sudah 3
bulan tidak sembuh-sembuh, dan berat badannya turun secara berangsur-angsur.
Semula Tn. A badannya gemuk tapi 3 bulan terakhir ini badannya kurus dan telah
turun 10 Kg dari berat badan semula. Tn. A ini merupakan seorang sopir truk yang
sering pergi keluar kota karena tuntutan kerjaan bahkan jarang pulang, kadang-
kadang 2 minggu sekali bahkan sebulan sekali.
Tn. A masuk UGD kemudian dari dokter untuk diopname di ruang
penyakit dalam karena kondisi Tn. A yang sudah sangat lemas. Keesokan harinya
dokter yang menangani Tn. A melakukan visit kepada Tn. A, dan memberikan
advice kepada perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan
mengambil sampel darahnya. Tn. A yang ingin tahu sekali tentang penyakitnya
meminta perawat tersebut untuk segera memberi tahu penyakitnya setelah
didapatkan hasil pemeriksaan. Sore harinya pukul 16.00 WIB hasil pemeriksaan
telah diterima oleh perawat tersebut dan telah dibaca oleh dokternya. Hasilnya
mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit HIV/AIDS. Kemudian
perawat tersebut memanggil keluarga Tn. A untuk menghadap dokter yang
menangani Tn. A. Bersama dokter dan seijin dokter tersebut, perawat menjelaskan
tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat kaget dan bingung.
Keluarga meminta kepada dokter terutama perawat untuk tidak memberitahukan
penyakitnya ini kepada Tn. A. Keluarga takut Tn. A akan frustasi, tidak mau
menerima kondisinya dan dikucilkan dari masyarakat.
Perawat tersebut mengalami dilema etik dimana satu sisi dia harus
memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain perawat tersebut harus
memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak
pasien untuk mendapatkan informasi.

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Kasus diatas menjadi suatu dilema etik bagi perawat dimana dilema etik
itu didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih )
landasan moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini
merupakan suatu kondisi dimana setiap alternatif tindakan memiliki landasan
moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau
salah dan dapat menimbulkan kebingungan pada tim medis yang dalam konteks
kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Menurut Thompson & Thompson (1981)
dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan
sebanding. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat harus bisa
berpikir rasional dan bukan emosional.
Perawat tersebut berusaha untuk memberikan pelayanan keperawatan yang
sesuai dengan etika dan legal yaitu dia menghargai keputusan yang dibuat oleh
pasien dan keluarga. Selain itu dia juga harus melaksanakan kewajibannya sebagai
perawat dalam memenuhi hak-hak pasien salah satunya adalah memberikan
informasi yang dibutuhkan pasien atau informasi tentang kondisi dan penyakitnya.
Hal ini sesuai dengan salah satu hak pasien dalam pelayanan kesehatan menurut
American Hospital Assosiation dalam Bill of Rights. Memberikan informasi
kepada pasien merupakan suatu bentuk interaksi antara pasien dan tenaga
kesehatan. Sifat hubungan ini penting karena merupakan faktor utama dalam
menentukan hasil pelayanan kesehatan. Keputusan keluarga pasien yang
berlawanan dengan keinginan pasien tersebut maka perawat harus memikirkan
alternatif-alternatif atau solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan
berbagai konsekuensi dari masing-masing alternatif tindakan.
Dalam pandangan Etika penting sekali memahami tugas perawat agar
mampu memahami tanggung jawabnya. Perawat perlu memahami konsep
kebutuhan dasar manusia dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan
dasar tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisiknya atau
psikologisnya saja, tetapi semua aspek menjadi tanggung jawab perawat. Etika
perawat melandasi perawat dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dalam
pandangan etika keperawatan, perawat memilki tanggung jawab (responsibility)
terhadap tugas-tugasnya.
Penyelesaian kasus dilema etik seperti ini diperlukan strategi untuk
mengatasinya karena tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan
pendapat antar tim medis yang terlibat termasuk dengan pihak keluarga pasien.
Jika perbedaan pendapat ini terus berlanjut maka akan timbul masalah komunikasi
dan kerjasama antar tim medis menjadi tidak optimal. Hal ini jelas akan
membawa dampak ketidaknyamanan pasien dalam mendapatkan pelayanan
keperawatan. Berbagai model pendekatan bisa digunakan untuk menyelesaikan
masalah dilema etik ini antara lain model dari Megan, Kozier dan Erb, model
Murphy dan Murphy, model Levine-ariff dan Gron, model Curtin, model Purtilo
dan Cassel, dan model Thompson dan thompson.
Berdasarkan pendekatan model Megan, maka kasus dilema etik perawat
yang merawat Tn. A ini dapat dibentuk kerangka penyelesaian sebagai berikut :
1. Mengkaji situasi
Dalam hal ini perawat harus bisa melihat situasi, mengidentifikasi masalah/situasi
dan menganalisa situasi. Dari kasus diatas dapat ditemukan permasalahan atau
situasi sebagai berikut :

Tn. A menggunakan haknya sebagai pasien untuk mengetahui


penyakit yang dideritanya sekarang sehingga Tn. A meminta perawat
tersebut memberikan informasi tentang hasil pemeriksaan kepadanya.

Rasa kasih sayang keluarga Tn. A terhadap Tn. A membuat


keluarganya berniat menyembunyikan informasi tentang hasil
pemeriksaan tersebut dan meminta perawat untuk tidak
menginformasikannya kepada Tn. A dengan pertimbangan keluarga
takut jika Tn. A akan frustasi tidak bisa menerima kondisinya sekarang

c. Perawat merasa bingung dan dilema dihadapkan pada dua pilihan


dimana dia harus memenuhi permintaan keluarga, tapi disisi lain dia
juga harus memenuhi haknya pasien untuk memperoleh informasi
tentang hasil pemeriksaan atau kondisinya.

2. Mendiagnosa Masalah Etik Moral


Berdasarkan kasus dan analisa situasi diatas maka bisa menimbulkan
permasalahan etik moral jika perawat tersebut tidak memberikan informasi kepada
Tn. A terkait dengan penyakitnya karena itu merupakan hak pasien untuk
mendapatkan informasi tentang kondisi pasien termasuk penyakitnya.

3. Membuat Tujuan dan Rencana Pemecahan


Alternatif-alternatif rencana harus dipikirkan dan direncanakan oleh perawat
bersama tim medis yang lain dalam mengatasi permasalahan dilema etik seperti
ini. Adapun alternatif rencana yang bisa dilakukan antara lain :
a. Perawat akan melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memberikan informasi hasil
pemeriksaan/penyakit Tn. A kepada Tn. A saat itu juga, tetapi memilih waktu yang
tepat ketika kondisi pasien dan situasinya mendukung.

Hal ini bertujuan supaya Tn. A tidak panic yang berlebihan ketika
mendapatkan informasi seperti itu karena sebelumnya telah dilakukan
pendekatan-pendekatan oleh perawat. Selain itu untuk alternatif rencana ini
diperlukan juga suatu bentuk motivasi/support sistem yang kuat dari keluarga.
Keluarga harus tetap menemani Tn. A tanpa ada sedikitpun perilaku dari keluarga
yang menunjukkan denial ataupun perilaku menghindar dari Tn. A. Dengan
demikian diharapkan secara perlahan, Tn. A akan merasa nyaman dengan support
yang ada sehingga perawat dan tim medis akan menginformasikan kondisi yang
sebenarnya.
Ketika jalannya proses sebelum diputuskan untuk memberitahu Tn. A
tentang kondisinya dan ternyata Tn. A menanyakan kondisinya ulang, maka
perawat tersebut bisa menjelaskan bahwa hasil pemeriksaannya masih dalam
proses tim medis.
Alternatif ini tetap memiliki kelemahan yaitu perawat tidak segera
memberikan informasi yang dibutuhkan Tn. A dan tidak jujur saat itu walaupun
pada akhirnya perawat tersebut akan menginformasikan yang sebenarnya jika
situasinya sudah tepat. Ketidakjujuran merupakan suatu bentuk pelanggaran kode
etik keperawatan.

b. Perawat akan melakukan tanggung jawabnya sebagai perawat dalam memenuhi


hak-hak pasien terutama hak Tn. A untuk mengetahui penyakitnya, sehingga
ketika hasil pemeriksaan sudah ada dan sudah didiskusikan dengan tim medis
maka perawat akan langsung menginformasikan kondisi Tn. A tersebut atas seijin
dokter.

Alternatif ini bertujuan supaya Tn. A merasa dihargai dan dihormati


haknya sebagai pasien serta perawat tetap tidak melanggar etika keperawatan. Hal
ini juga dapat berdampak pada psikologisnya dan proses penyembuhannya.
Misalnya ketika Tn. A secara lambat laun mengetahui penyakitnya sendiri atau
tahu dari anggota keluarga yang membocorkan informasi, maka Tn. A akan
beranggapan bahwa tim medis terutama perawat dan keluarganya sendiri
berbohong kepadanya. Dia bisa beranggapan merasa tidak dihargai lagi atau
berpikiran bahwa perawat dan keluarganya merahasiakannya karena ODHA
(Orang Dengan HIV/AIDS) merupakan aib yang dapat mempermalukan
keluarga dan Rumah Sakit. Kondisi seperti inilah yang mengguncangkan psikis
Tn. A nantinya yang akhirnya bisa memperburuk keadaan Tn. A. Sehingga
pemberian informasi secara langsung dan jujur kepada Tn. A perlu dilakukan
untuk menghindari hal tersebut.
Kendala-kendala yang mungkin timbul :
1) Keluarga tetap tidak setuju untuk memberikan informasi tersebut kepada Tn. A
Sebenarnya maksud dari keluarga tersebut adalah benar karena tidak ingin
Tn. A frustasi dengan kondisinya. Tetapi seperti yang diceritakan diatas bahwa
ketika Tn. A tahu dengan sendirinya justru akan mengguncang psikisnya dengan
anggapan-anggapan yang bersifat emosional dari Tn. A tersebut sehingga bisa
memperburuk kondisinya. Perawat tersebut harus mendekati keluarga Tn. A dan
menjelaskan tentang dampak-dampaknya jika tidak menginformasikan hal
tersebut. Jika keluarga tersebut tetap tidak mengijinkan, maka perawat dan tim
medis lain bisa menegaskan bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab atas
dampak yang terjadi nantinya. Selain itu sesuai dengan Kepmenkes 1239/2001
yang mengatakan bahwa perawat berhak menolak pihak lain yang memberikan
permintaan yang bertentangan dengan kode etik dan profesi keperawatan.
2) Keluarga telah mengijinkan tetapi Tn. A denial dengan informasi yang diberikan
perawat.
Denial atau penolakan adalah sesuatu yang wajar ketika seseorang sedang
mendapatkan permasalahan yang membuat dia tidak nyaman. Perawat harus tetap
melakukan pendekatan-pendekatan secara psikis untuk memotivasi Tn. A.
Perawat juga meminta keluarga untuk tetap memberikan support sistemnya dan
tidak menunjukkan perilaku mengucilkan Tn. A tersebut. Hal ini perlu proses
adaptasi sehingga lama kelamaan Tn. A diharapkan dapat menerima kondisinya
dan mempunyai semangat untuk sembuh.

4. Melaksanakan Rencana
Alternatif-alternatif rencana tersebut harus dipertimbangkan dan didiskusikan
dengan tim medis yang terlibat supaya tidak melanggar kode etik keperawatan.
Sehingga bisa diputuskan mana alternatif yang akan diambil. Dalam mengambil
keputusan pada pasien dengan dilema etik harus berdasar pada prinsip-prinsip
moral yang berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu tindakan
dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu ( John Stone, 1989 ),
yang meliputi :
a. Autonomy / Otonomi
Pada prinsip ini perawat harus menghargai apa yang menjadi keputusan
pasien dan keluarganya tapi ketika pasien menuntut haknya dan keluarganya tidak
setuju maka perawat harus mengutamakan hak Tn. A tersebut untuk mendapatkan
informasi tentang kondisinya.
b. Benefesience / Kemurahan Hati
Prinsip ini mendorong perawat untuk melakukan sesuatu hal atau tindakan
yang baik dan tidak merugikan Tn. A. Sehingga perawat bisa memilih diantara 2
alternatif diatas mana yang paling baik dan tepat untuk Tn. A dan sangat tidak
merugikan Tn. A
c. Justice / Keadilan
Perawat harus menerapkan prinsip moral adil dalam melayani pasien. Adil
berarti Tn. A mendapatkan haknya sebagaimana pasien yang lain juga
mendapatkan hak tersebut yaitu memperoleh informasi tentang penyakitnya
secara jelas sesuai dengan konteksnya/kondisinya.
d. Nonmaleficience / Tidak merugikan
Keputusan yang dibuat perawat tersebut nantinya tidak menimbulkan
kerugian pada Tn. A baik secara fisik ataupun psikis yang kronis nantinya.
e. Veracity / Kejujuran
Perawat harus bertindak jujur jangan menutup-nutupi atau membohongi
Tn. A tentang penyakitnya. Karena hal ini merupakan kewajiban dan tanggung
jawab perawat untuk memberikan informasi yang dibutuhkan Tn. A secara benar
dan jujur sehingga Tn. A akan merasa dihargai dan dipenuhi haknya.
f. Fedelity / Menepati Janji
Perawat harus menepati janji yang sudah disepakati dengan Tn. A sebelum
dilakukan pemeriksaan yang mengatakan bahwa perawat bersdia akan
menginformasikan hasil pemeriksaan kepada Tn. A jika hasil pemeriksaannya
sudah selesai. Janji tersebut harus tetap dipenuhi walaupun hasilnya pemeriksaan
tidak seperti yang diharapkan karena ini mempengaruhi tingkat kepercayaan Tn. A
terhadap perawat tersebut nantinya.
g. Confidentiality / Kerahasiaan
Perawat akan berpegang teguh dalam prinsip moral etik keperawatan yaitu
menghargai apa yang menjadi keputusan pasien dengan menjamin kerahasiaan
segala sesuatu yang telah dipercayakan pasien kepadanya kecuali seijin pasien.

Berdasarkan pertimbangan prinsip-prinsip moral tersebut keputusan yang


bisa diambil dari dua alternatif diatas lebih mendukung untuk alternatif ke-2 yaitu
secara langsung memberikan informasi tentang kondisi pasien setelah hasil
pemeriksaan selesai dan didiskusikan dengan semua yang terlibat. Mengingat
alternatif ini akan membuat pasien lebih dihargai dan dipenuhi haknya sebagai
pasien walaupun kedua alternatif tersebut memiliki kelemahan masing-masing.
Hasil keputusan tersebut kemudian dilaksanakan sesuai rencana dengan
pendekatan-pendekatan dan caring serta komunikasi terapeutik.

5. Mengevaluasi Hasil
Alternatif yang dilaksanakan kemudian dimonitoring dan dievaluasi sejauh mana
Tn. A beradaptasi tentang informasi yang sudah diberikan. Jika Tn. A masih denial
maka pendekatan-pendekatan tetap terus dilakukan dan support sistem tetap terus
diberikan yang pada intinya membuat pasien merasa ditemani, dihargai dan
disayangi tanpa ada rasa dikucilkan.
http://nersdody.blogspot.co.id/2012/03/etik-dilema-etik-dan-contoh-
kasus.html
Sebagai contoh anda sebagai perawat menemukan kasus Nn Y (14 tahun)
seorang siswi kelas 3 SMP S, saat ini sedang hamil usia 4 bulan keluar dari
sebuah klinik T yang terkenal dengan praktek aborsinya. Saat kembali pulang
ke rumah, ibunya menemukan Nn. Y sudah tidak sadarkan diri dan terkejut
dengan adanya pendarahan hebat keluar dari sekitar alat kelamin anaknya. Saat itu
juga, Nn Y dibawa ke RS D dan langsung ditangani serius oleh dokter dan
perawat meningat sudah terjadi syok Hipovolemik pada kondisi pasien. Setelah
sadar dan kondisi membaik, Nn. Y tampak terguncang mentalnya serta tidak dapat
mengontrol emosinya dan berharap pada perawat bisa memberikan tindakan
euthanasia pada dirinya. Seandainya diizinkan oleh keluarganya, Nn Y berharap
bisa memberikan ginjalnya bagi pasien yang membutuhkan organnya sebagai
bentuk penebus rasa bersalahnya.
1.2. Kata Kata Sulit, Definisi, Analisa dan Pengertian

No Kata Kata Sulit Definisi Analisa Pengertian

1 Autonomy Bergerak bebas, Bergerak bebas. Penentuan


kepercayaan diri. Pilihan.

2 Beneficence. Manfaat, Manfaat. Berbuat baik.


kebiasaan,
sesuatu yang
didapatkan.

3 Justice. Kenyamanan, hal Kenyamanan. Keadilan.


yang dirasakan,
keharmonisan,
kestabilan.

4 Hopovolemik. Beban yang Reaksi terhadap Keadaan tubuh


berlebihan, reaksi, masalah yang yang kekurangan
masalah yang berlebihan. cairan.
dialami,
kekurangan
oksigen,
kekurangan
cairan.

5 Devices. Simpanan, Penyimpanan. Perangkat.


pencarian,
kemasan.

6. Euthanasia. Suntik mati, Pemutusan hak Pemberian suntik


pemutusan hak hidup dengan cara mati.
hidup. suntik mati.

7 Neglected. Tepat waktu. Tepat waktu. Kelalaian.

8. Advokasi. Pembela. Pembela. Pembela.

9 Informed consent. Pusat informasi, Pusat pemberi Persetujuan


konsentrasi, informasi. tindakan
berita, kedokteran.
penyampaian
pesan.

10 Transplantasi organ. Pencangkokan Pencangkokan Pencangkokan


organ, donor, organ. organ.
pemindahan
organ.

11 Etis. Pantas, selaras, Pantas. Pantas.


tepat, sesuai.

12 Nonmaleficience. Tidak tepat Strandar Tidak merugikan.


waktu. kebersihan dalam
kesehatan.

13 Responsibilitas. Tanggapan, Kemampuan Tanggung jawab.


interaksi, reaksi. untuk
memberikan
tanggapan.

1.3. Daftar Pertanyaan


1. Pertanyaan : berdasarkan kasus diatas. Coba analisa oleh anda perlukah perawat
mempelajari prinsip prinsip legal dan etis dalam mengambil keputusan dalam
tindakan keperawatan! Bila ia, mengapa hal ini perlu dimiliki oleh seorang
perawat professional, serta bila dikaitkan denga kasus Nn. Y seberapa pentingkah
hal ini bisa mejawab tujuan dari proses keperawatan agar terlaksana dengan baik
sesuai dengan hokum dan norma yang berlaku. Berikan alasannnya!
Jawaban :
2. Pertanyaan : sebagai perawat yang sedang dihadapkan kasus pasien dengan
multikompleks permasalahannya seperti kasus di atas, tindakan apa yang
sebaiknya peraway lakukan saat mendengar pasien berharap tindakan euthanasia
dan berkeinginan memberikan ginjal setelah dirinya meninggal.! Coba analisa
oleh anda dengan menggunakan prinsip prinsip legal dan etis dalam mengambil
keputusan dalam tindakan keperawatan! Bagaimana aspek legal hukumnya
tentang euthanasia dan transplantasi organ di Negara kita!
Jawaban :
3. Pertanyaan : Apakah tindakan aborsi yang dilakukan oleh Nn. Y menurut sisi
medis bisa membahayakan jiwanya? Bagaimana menurut pandangan norma
hokum dan norma masyarakat mengenai kasus aborsi Nn. Y? bagaimana
seharusnya aparat hokum bertindak terhadap klinik T tersebut serta bagaimana
sikap anda jika ternyata pemilik klinik tersebut adalah teman sejawat anda sebagai
perawat.
Jawaban :

Prinsip Prinsip Legal dan Etis Dalam Mengambil Keputusan Terhadap


Tindakan Malpraktek.
1. Pertanyaan : Sebutkan isi dari prinsip etik dan legal dalam tindakan keperawatan!
Jawaban : Ada pada pembahasan.
2. Pertanyaan : Apa komponen komponen yang mendasari transplantasi?
Jawaban : Ada pada pembahasan.
3. Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan aborsi?
Jawaban : Ada pada pembahasan.
4. Pertanyaan : Apa yang menyebabkan seseorang diberikan tindakan euthanasia?
Jawaban : Ada pada pembahasan.
5. Sebutkan jenis jenis euthanasia!
Jawaban : Ada pada pembahasan.
http://ajjeljelly.blogspot.co.id/2012/11/prinsip-prinsip-legal-dan-etis-
dalam.html