Anda di halaman 1dari 66

TUGAS AKHIR

PENGGUNAAN RECLOSER DALAM MENGAMANKAN


GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI SALURAN UDARA
TEGANGAN MENENGAH ( SUTM )

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat


Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Disusun oleh :
Nama : Wedy Maidien
NIM : 41406110016
Jurusan : Teknik Elektro
Program Studi : Teknik Tenaga Listrik

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2008

i
LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Wedy Maidien

NIM : 4140611016

Jurusan : Teknik Elektro

Fakultas : Teknologi Industri

Judul Tugas Akhir : Penggunaan Recloser dalam mengamankan

gangguan hubung singkat di Saluran Udara

Tegangan Menengah ( SUTM )

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan Tugas Akhir yang telah saya

buat ini merupakan hasil karya sendiri dan benar keasliannya. Apabila ternyata di

kemudian hari hasil penulisan Tugas Akhir ini merupakan hasil plagiat atau

penjiplakan terhadap karya orang lain maka saya bersedia mempertanggungjawabkan

sekaligus bersedia menerima sanksi berdasarkan aturan tata tertib di Universitas

Mercu Buana.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksakan.

Penulis,

( Wedy Maidien )

ii
LEMBAR PENGESAHAN

PENGGUNAAN RECLOSER DALAM MENGAMANKAN


GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI SALURAN UDARA
TEGANGAN MENENGAH ( SUTM )

Disusun Oleh :
Nama : Wedy Maidien
NIM : 41406110016
Jurusan : Teknik Elektro

Pembimbing Koordinator Tugas Akhir

( Ir. Badaruddin ) ( Ir. Yudhi Gunardi, MT )

Ketua Jurusan Teknik Elektro

( Ir. Budi Yanto Husodo, Msc )

iii
ABSTRAK

Pada sistem pendistribusian tenaga listrik dari pembangkit ke konsumen

biasanya sering terdapat gangguan. Dalam hal ini gangguan yang akan dibahas di

sekitar Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) adalah gangguan hubung

singkat. Dikarenakan di daerah Sepatan, Tangerang sering terjadi gangguan di

Penyulang Cacing yang di suplai dari Gardu Induk Sepatan, oleh karena itu PT. PLN

Area Jaringan Tangerang menggunakan pengaman arus lebih pada SUTM yaitu

dengan menggunakan recloser yang diletakkan di wilayah yang rawan gangguan.

Sebelum recloser di pasang harus dilakukan perhitungan untuk perkiraan

terjadinya hubung singkat. Berdasarkan perhitungan hubung singkat satu fasa-tanah,

apabila terjadi gangguan di tengah penyulang atau jarak lokasi sekitar 50 % dari GI

adalah 253,42 amper. Sedangkan berdasarkan data gangguan dari box panel kontrol

recloser yaitu telah terjadi gangguan satu fasa di fasa R yang berada di tengah

penyulang sebesar 326 amper.Gangguan tersebut terjadi di antara gardu MA 14

dengan gardu MA 124 P yang sifatnya temporer/sementara sehingga dengan cepat

dapat dihilangkan dengan recloser sebelum sectionalizer membuka.

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur haruslah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Curahan

Rahmat dan Karuni-Nya yang selalu dilimpahkan kepada semua makhluk ciptaan-

Nya. Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa

rahmat untuk alam semesta, bagi kelurga, sahabat serta orang-orang yang

mengikutinya dengan istiqomah sampai akhir zaman.

Dengan mengucapkan Syukur kepada-Nya, akhirnya penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir ini yang merupakan persyaratan yang

ditentukan oleh Universitas Mercu Buana guna memperoleh Sarjana Teknik.

Terlaksananya penyusunan Tugas Akhir ini berkat bantuan, bimbingan dan

dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar besarnya kepada semua pihak terutama kepada :

1. Bapak Ir.Budi Yanto Husodo,Msc. selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro

PKSM Universitas Mercubuana

2. Bapak Ir.Yudhi Gunardi,MT. selaku Koordinator Tugas Akhir Jurusan Teknik

Elektro PKSM Universitas Mercubuana.

3. Bapak Ir. Badaruddin. selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan

waktu dan kesempatan untuk memberikan bimbingan kepada penulis.

v
4. Bapak Ir. Agus selaku Asisten Manager Administrasi dan SDM, serta Tim

Operator Pelayanan Gangguan di PT. PLN Area Jaringan Tangerang.

5. Kedua Orang Tua dan saudara-saudara di rumah and Fitri Wulandari (Ade)

yang memberi banyak dukungan.

6. Rekan-rekan kerja KONSUIL Area Tangerang dan Gambir yang banyak

memberi dorongan dan motivasi.

7. Rekan-rekan Elektro PKSM Universitas Mercubuana, Teman-teman Alumni

STT-PLN Jurusan D3 Elektro angkatan 2000, Sobat- sobat alumni SMU 109

Jakarta dan Anak Maninjau Depok yang telah banyak membantu baik secara

langsung maupun tidak langsung dalam Penyusunan Tugas Akhir ini.

Akhir kata penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir ini masih jauh

dari sempurna dan terbatasnya pengetahuan dan pengalaman penulis didalam

penyusunan Tugas Akhir ini, baik materi, pembahasan dan penyajian. Oleh karena itu

segala kritik dan saran untuk penyempurnaan Tugas Akhir ini akan penulis terima

dengan senang hati.

Jakarta, Agustus 2008

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul .. i

Halaman Pernyataan . ii

Halaman Pengesahan iii

Abstrak .. iv

Kata Pengantar .. v

Daftar Isi ... vii

Daftar Gambar ... xi

Daftar Tabel ... xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan Penulisan 2

1.3 Pembatasan Masalah .. 2

1.4 Metode Penelitian ... 3

1.5 Sistematika Penulisan . 3

vii
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Umum 5

2.2 Sistem Jaringan Tegangan Menengah ... 7

2.3 Gangguan pada Jaringan Tegangan Menengah . 8

2.4 Pengertian Recloser 9

2.4.1 Klasifikasi recloser 10

2.4.2 Urutan kerja recloser . 13

2.4.3 Waktu dan jumlah penutupan

kembali .. 16

2.4.4 Prinsip kerja recloser .. 17

2.5 Pengertian sectionalizer .. 19

2.5.1 Prinsip kerja sectionalizer 21

BAB III SISTEM PENGAMAN PADA JARINGAN DI SISI

TEGANGAN MENENGAH

3.1 Pengertian koordinasi peralatan pengaman arus lebih ... 22

3.2 Koordinasi antara recloser dengan sectionalizer 25

3.3 Penggunaan accessories/peralatan tambahan 27

3.4 Perhitungan arus hubung singkat .. 30

3.4.1 Hubung singkat 3 fasa .. 31

3.4.2 Hubung singkat 1 fasa-tanah 32

viii
3.5 Perhitungan impedansi sumber . 32

3.6 Perhitungan impedansi trafo tenaga .. 33

3.7 Perhitungan impedansi ekivalen jaringan . 33

BAB IV PERHITUNGAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN

PENGGUNAN RECLOSER DI SUTM

4.1 Studi kasus hubung singkat .. 35

4.2 Data peralatan .. 36

4.2.1 Data trafo tenaga di GI Sepatan .. 36

4.2.2 Data rele proteksi di GI Sepatan . 36

4.2.3 Data recloser di Penyulang Cacing dari

GI Sepatan ... 37

4.3 Langkah-langkah dalam menghitung arus gangguan 37

4.3.1 Menghitung impedansi sumber . 38

4.3.2 Menghitung impedansi trafo . 39

4.3.3 Menghitung impedansi jaringan 40

4.3.4 Menghitung impedansi ekivalen jaringan

urutan positif .. 41

4.3.5 Menghitung impedansi ekivalen jaringan

urutan nol 42

ix
4.4 Menghitung arus hubung singkat 42

4.4.1 Menghitung arus hubung singkat 3 fasa . 42

4.4.2 Menghitung arus hubung singkat 1 fasa-tanah 44

4.5 Analisa terjadinya gangguan hubung singkat . 47

4.6 Setting panel kontrol ... 49

4.7 Penjabaran dari box kontrol recloser .. 50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan . 53

5.2 Saran 54

DAFTAR PUSTAKA

x
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Diagram garis tunggal sistem tenaga listrik 6

Gambar 2.2 Recloser kontrol hidrolik satu fasa 12

Gambar 2.3 Recloser kontrol hidrolik tiga fasa 13

Gambar 2.4 Urutan operasi recloser untuk gangguan permanen 14

Gambar 2.5 Urutan operasi recloser untuk gangguan temporer 15

Gambar 2.6 Urutan kerja penutup balik 17

Gambar 2.7 Diagram blok recloser (panel kontrol) 18

Gambar 2.8 Sectionalizer kontrol hidrolik satu fasa dan tiga fasa 21

Gambar 3.1 Diagram satu garis sistem distribusi sederhana 22

Gambar 3.2 Waktu ingat tiga kali perhitungan untuk mengunci dari

sectionalizer ... 27

Gambar 3.3 Koordinasi recloser dengan sectionalizer untuk gangguan

temporer di sisi sectionalizer 29

Gambar 4.1 Lokasi gangguan pada jaringan distribusi 38

Gambar 4.2 Diagram satu garis Penyulang Cacing di GI Sepatan .. 46

Gambar 4.3 Fungsi dari blok diagram 4C 51

xi
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Perbedaan antara jaringan udara dengan bawah tanah .. 8

Tabel 4.1 Impedansi urutan positif dan nol penghantar AAAC 40

Tabel 4.2 Data gangguan yang tercatat pada box control recloser 48

Tabel 4.3 Setting gangguan pada panel kontrol 49

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mutu, keandalan, dan kontinuitas penyaluran daya listrik dari PT. PLN

merupakan tuntutan masyarakat yang sejalan dengan tingkat kebutuhan terhadap daya

listrik yang akan digunakan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana PT. PLN dapat

mendistribusikan tenaga listrik ini ke konsumen dengan baik, aman dan ekonomis.

Untuk itu perlu adanya perencanaan yang baik.

Pendistribusian tenaga listrik ke konsumen biasanya sering terdapat

gangguan. Gangguan pada sistem tenaga listrik antara lain disebabkan oleh gangguan

hubung singkat. Gangguan hubung singkat di SUTM (Saluran Udara Tegangan

Menengah) yang terbanyak merupakan gangguan satu fasa ke tanah yang sifatnya

temporer (sementara). Frekwensi pemadaman karena gangguan dapat diperkecil

dengan memakai sistem dan alat pengaman yang sesuai, baik dan memadai.

Dalam hal ini di karenakan di daerah Sepatan, Tangerang sering terjadi

gangguan di SUTM, oleh karena itu PT. PLN Area Jaringan Tangerang menggunakan

pengaman arus lebih pada sistem distribusi di sisi tegangan menengah yaitu dengan

menggunakan recloser yang diletakan di wilayah yang rawan terjadi gangguan.

1
Penggunaan recloser ini akan sangat membantu dalam meningkatkan keandalan

dalam sistem distribusi.

Tingkat keandalan dalam sistem distribusi dinyatakan dalam bentuk jumlah

rata-rata pemutusan akibat gangguan yang sering terjadi, juga ditentukan oleh

lamanya waktu pemutusan akibat gangguan tersebut dan pengembalian pelayanan

pada bagian yang tidak terganggu maupun bagian yang terganggu setelah terjadi

clearing ataupun setelah gangguan diisolir.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk menganalisa penggunaan

recloser dalam mengatasi gangguan hubung singkat di saluran udara tegangan

menengah.

1.3 Pembatasan Masalah

Pembahasan tentang recloser sangat luas, oleh karena itu perlu dibatasi ruang

lingkup masalah yang akan dibahas. Untuk itu penulis hanya akan membahas tentang

penggunaan recloser di salah satu penyulang yang di suplai dari gardu induk.

2
1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam menyelesaikan penulisan tugas akhir ini

adalah sebagai berikut :

a. Metode kajian pustaka

Pada dasarnya penelitian perpustakaan adalah suatu usaha untuk

memperoleh suatu pegangan atau bimbingan bagi penulis untuk memecahkan

suatu masalah yang mungkin dihadapi dalam proses penelitian ini. Cara yang di

lakukan antara lain dengan menggunakan buku buku literature, diktat diktat

kuliah, internet, dan sumber sumber pendukung lainnya dalam mencari landasan

teori yang berhubungan dengan pokok pembahasan tugas Akhir ini.

b. Observasi Lapangan

Merupakan tahap pengumpulan data yang diperoleh melalui pencarian

informasi yang ditinjau oleh penulis, sehingga penulis dapat memperoleh

gambaran yang jelas mengenai keadaan yang ada di lapangan

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan dalam perincian dan pemaparan tugas akhir ini,

maka penulis akan menguraikan dan menjelaskan secara singkat dan sederhana dalam

beberapa bab sebagai berikut :

3
BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang latar belakang, batasan masalah, tujuan

penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan tentang teori yang menunjang penulisan seperti

sistem jaringan tegangan menengah dan gangguannya, serta pengertian

dan prinsip kerja dari recloser dan sectionalizer.

BAB III SISTEM PENGAMAN PADA JARINGAN DI SISI TEGANGAN

MENENGAH

Bab ini akan membahas tentang koordinasi sistem pengaman arus lebih

pada saluran udara tegangan menengah.

BAB IV PERHITUNGAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN

PENGGUNAAN RECLOSER DI SUTM

Bab ini akan membahas tentang perbandingan antara perhitungan dengan

data gangguan terjadinya hubung singkat serta pengoperasian recloser

dalam mengatasi gangguan di saluran udara tegangan menengah.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran saran mengenai pembahasan dalam

Tugas akhir ini.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Umum

Sistem tenaga listrik adalah semua instalasi dan peralatan yang disediakan

untuk tujuan penyaluran dan pendistribusian tenaga listrik, dengan demikian sistem

distribusi termasuk salah satu sistem tenaga listrik.

Sedangakan pengertian dari distribusi tenaga listrik adalah semua bagian dari

sistem tenaga listrik yang terletak antara sumber tenaga listrik dengan konsumen.

Sumber tenaga listrik ini dapat berupa pembangkit tenaga listrik kecil ataupun gardu

induk yang diberi tenaga listrik dari jaringan transmisi/subtransmisi. Jadi fungsi

distribusi adalah menerima tenaga listrik dari sumber-sumber tenaga listrik dan

mendistribusikannya ke konsumen pada tegangan tertentu dan dengan kontinyu

sehingga dapat diterima oleh berbagai macam konsumen. Pada gambar 2.1. dapat

dilihat diagram garis tunggal sistem tenaga listrik

5
Gambar 2.1. Diagram garis tunggal sistem tenaga listrik

Jaringan tenaga listrik adalah sarana untuk menyalurkan tenaga listrik sampai

ke konsumen. Jaringan ini ada yang melalui udara yang biasa disebut penghantar

udara/saluran udara dan ada pula yang melalui saluran bawah tanah yang biasa

disebut penghantar kabel tanah.

Besarnya penampang penghantar berpengaruh terhadap parameter jaringan

antara lain : rugi tegangan, rugi daya dan lain sebagainya. Dalam penggunaan dan

macam dari penghantar mana yang dipilih tergantung dari biaya, lingkungan, estetika

dan lain-lain. Hal ini dikarenakan baik tidaknya jaringan tenaga listrik akan

menimbulkan permasalahan dalam keandalan kontinuitas penyaluran.

6
2.2 Sistem Jaringan Tegangan Menengah

Saluran tegangan menengah yaitu saluran yang dimulai dari sisi sekunder

trafo tenaga pada gardu induk sampai sisi primer trafo pada gardu distribusi.

Tegangan nominal yang dipakai umumnya : 6, 7, 12, 20 kV dan yang digunakan oleh

PT. PLN ialah tegangan 20 kV. Untuk sistem jaringan tegangan menengah di Jawa

Tengah digunakan sistem 3 fasa 4 kawat. Sedangkan untuk sistem yang dipakai di

PLN Distribusi Jaya dan Tangerang adalah sistem 3 fasa 3 kawat.

Hantaran yang digunakan pada Jaringan Tegangan Menengah dapat dibagi

menjadi dua macam, yaitu :

1. Jaringan hantaran udara yang dapat menggunakan kawat terbuka atau kabel

udara. Jaringan ini juga biasa disebut Saluran Udara Tegangan Menengah

(SUTM).

2. Jaringan hantaran bawah tanah yang hanya menggunakan kabel yang biasa

disebut Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM).

Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) dipakai pada daerah pedesaan

dan pinggiran kota dengan gardu distribusi cantol, portal dan beton. Pada daerah

perkotaan dipakai sistem Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) dengan

menggunakan gardu distribusi beton, portal dan kios. Perbedaan antara kedua macam

jaringan tersebut dapat dilihat pada table 2.1. dibawah ini :

7
Tabel 2.1. Perbedaan antara jaringan udara dengan bawah tanah

Perihal Jaringan Jaringan


Udara Bawah tanah
1. Biaya investasi Murah Lebih mahal
2. Perluasan sistem Cepat, mudah Lebih sulit
3. Pengoperasian Mudah Lebih sulit
4. Pemeliharaan Mudah, tetapi harus Kabelnya sendiri praktis
sering diinfeksi tak perlu dipelihara
5. Perbaikan Mudah Lebih sulit
6. Gangguan Lebih banyak Sedikit
7. Dampak lingkungan Besar Kecil
8. Keamanan lingkungan Rawan Aman
9. Estetika Kurang baik Baik

2.3 Gangguan pada Jaringan Tegangan Menengah

Dalam sistem distribusi pada tegangan menengah, biasanya terdapat gangguan

yang bersumber dari dalam sistemnya sendiri dan gangguan dari luar.

Gangguan dari dalam antara lain :

- Tegangan lebih dan arus lebih

- Pemasangan tidak baik, diantaranya pada SKTM maupun SUTM

Gangguan dari luar ;

* Untuk SKTM antara lain :

- Gangguan mekanis karena pekerjaan galian saluran lain

- Kendaraan yang lewat di atasnya

- Deformasi tanah

8
* Untuk SUTM antara lain :

- Angin yang menyebabkan dahan/ranting pohon mengenai SUTM

- Kegagalan atau kerusakan peralatan pada saluran

- Cuaca (surja petir)

- Binatang dan benda-benda lain seperti benang layang-layang

Macam-macam gangguan pada SUTM dapat dibagi menjadi dua kelompok :

Gangguan yang bersifat temporer, yang dapat hilang dengan sendirinya atau

dengan memutuskan sesaat bagian yang terganggu dari sumber tegangannya

kemudian menutup balik secara manual ataupun secara otomatis, gangguan ini

tidak dapat menimbulkan kerusakan pada peralatan di SUTM. Gangguan yang

bersifat temporer jika tidak dapat diperbaiki dengan segera dapat berubah

menjadi gangguan yang bersifat permanen.

Gangguan yang bersifat permanen, dimana untuk membebaskan gangguan

diperlukan tindakan perbaikan atau menyingkirkan gangguan tersebut,

sehingga gangguan ini menyebabkan pemutusan tetap.

2.4 Pengertian Recloser

Recloser adalah suatu alat otomatis yang mempunyai kemampuan sebagai

pemutus arus bila terjadi gangguan hubung singkat yang di lengkapi dengan alat

pengindera arus gangguan dan merupakan peralatan pengatur kerja yang telah

ditentukan apabila gangguan itu bersifat temporer, maka pemutus arus tidak sampai

9
lockout (terkunci). Sedangkan bila terjadi gangguan yang bersifat permanen, maka

alat pemutus akan lockout (terkunci).

2.4.1 Klasifikasi Recloser

a. Berdasarkan jumlah fasanya :

Fasa Tunggal

Recloser fasa tunggal digunakan untuk mengamankan saluran fasa tunggal,

misalnya pada percabangan fasa tunggal dari sistem jaringan tiga fasa. Fasa

tunggal ini biasanya adalah line recloser yang dipasang pada tiang

Fasa Tiga

recloser tiga fasa umumnya mengamankan saluran tiga fasa terutama pada

saluran utamanya.

b. Berdasarkan media peredam busurnya :

Media minyak

Media hampa udara

c. Berdasarkan peralatan pengendalinya :

Recloser terkendali hidrolik

Recloser dengan pengaturan hidrolik, membuka dan menutup kontak-

kontaknya dilakukan dengan cara hidrolik (tekanan minyak). Arus gangguan

dideteksi melalui kumparan kerja (trip coil) yang dihubungkan seri dengan

beban. Bila arus yang mengalir melewati kumparan kerja yang melebihi arus

10
kerja minimum pengenalnya, maka akan tertarik ke bawah yang disebabkan

karena bekerjanya kumparan kerja sehingga membuka kontak-kontak dari

Recloser. Pengaturan kerja dan waktu yang dilakukan dengan pemompaan

minyak secara terpisah yang besar-kecilnya diatur dengan menyetel lubang

minyak.

Recloser terkendali elektronik

Recloser dengan pengaturan elektronik lebih mudah diatur dalam membuka

dan menutup kontak-kontaknya. Alat pengaturan elektronik mempunyai

kontak sendiri (kabinet) yang terpisah dari recloser. Pada pengaturan

elektronik ini, karakterisrik waktu-arus dapat diatur dengan mengubah tingkat

arus kerja kumparan serinya dan urutan kerja dari recloser tanpa harus

melepas recloser dari rangkaiannya dan mengeluarkannya dari tangki.

11
Gambar 2.2. Recloser kontrol hidrolik satu fasa

12
Gambar 2.3. Recloser kontrol hidrolik fasa tiga

2.4.2 Urutan kerja Recloser

Waktu membuka dan menutup recloser dapat diatur melalui kurva

karakteristiknya. Secara garis besar urutan kerja recloser diperlihatkan pada gambar

2.4 dan 2.5, dan pengoperasiannya dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Sebelum terjadi gangguan, arus mengalir normal (Ib)

2. Pada saat terjadi gangguan, (Ihs) arus yang mengalir melalui recloser sangat

besar dan menyebabkan kontak recloser bekerja dengan operasi fast.

13
3. Kontak recloser akan menutup kembali setelah melewati waktu beberapa

detik, sesuai seting yang telah dilakukan apabila ada gangguannya bersifat

temporer. Tujuan diberikan selang waktu beberapa detik ini memberikan

kesempatan kepada penyebab gangguan agar hilang dari sistem terutama

untuk gangguan yang sifatnya temporer.

4. Jika yang terjadi gangguan permanen maka recloser akan membuka dan

menutup balik sesuai seting yang telah ditentukan dan akan lock out.

5. Setelah ganguan permanen dibebaskan oleh petugas maka recloser dapat

dimasukan lagi ke sistem.

(1) (3) (5) (7)


Ihs
H
O
M (2) (4) (6) Lockout
E

Mt

Ib

Gambar 2.4. Urutan operasi recloser untuk gangguan permanen

14
(1) (3) (5)
Ihs
H
Auto Reset Time H
O
O
M (2) (4) M
E
E

IMt

Ib

Gambar 2.5. Urutan operasi recloser untuk gangguan temporer

Keterangan untuk gambar 2.4 dan 2.5 :

Ib : arus beban normal

IMt : arus trip minimum

Ihs : arus hubung singkat

1 : Waktu trip cepat pertama (TCC)

2 : Interval waktu reclose pertama

3 : Waktu trip cepat kedua

4 : Interval waktu reclose waktu kedua

5 : Waktu trip lambat pertama

6 : Interval waktu reclose waktu ketiga

7 : Waktu trip lambat kedua

15
Home adalah posisi saat recloser belum merasakan gangguan. Contoh pada

gambar 2.4 operasi untuk gangguan permanen setelah merasakan ganguan dua kali

maka recloser menghitung waktu trip kedua dan kontak dari recloser akan

mengunci/membuka tetapi tidak kembali ke posisi semula (home), sedangkan pada

gambar 2.5 untuk gangguan temporer pada saat terjadi gangguan hanya sekali maka

posisi dari kontak recloser tidak mengunci tetapi kembali lagi ke posisi semula

(home) arus kembali normal, tidak ada gangguan.

2.4.3 Waktu dan jumlah penutupan kembali

A. Beberapa pilihan waktu penutup balik dari recloser dapat dibuat, hal ini sangat

dipengaruhi oleh koordinasi pada peralatan lainnya.

A.1. Penutup baik cepat

Penutup balik dinyatakan cepat bila waktu matinya hanya sebentar atau kurang dari

satu detik. Penutup balik cepat ini umumnya digunakan pada SUTT yang pada

SUTM pada penutupan pertama kali atau sampai kedua kali waktu minimum. Fungsi

dari penutup balik cepat adalah menghilangkan gangguan sementara.

A.2 Penutup balik lambat

Penutup balik lambat sering juga disebut sebagai longer-reclosing-interval, yang di

gunakan apabila pengaman cadangan (pemutus tenaga) dikontrol dengan rele arus

lebih. Hal ini untuk memungkinkan rele arus lebih mempunyai cukup waktu untuk

reset.

16
Gambar 2.6. Urutan kerja penutup balik

2.4.4 Prinsip kerja recloser

Cara kerja recloser ini tidak banyak berbeda (recloser terkendali hidrolik dan

elektronik), misalnya dalam mendeteksi gangguan keduanya menggunakan sensing

trafo arus dan pengaturan elektronik. Perlengkapan elektroniknya ditempatkan pada

sebuah kotak yang terpisah dari tangki recloser. Dalam melakukan perubahan

karakteristik, tingkat arus penjatuh minimum dan urutan operasi recloser dapat

dilakukan dengan mudah tanpa mengeluarkan dari recloser dari tangkinya. Pada

gambar 2.7. merupakan diagram blok recloser elektronik yang memperlihatkan urutan

kerja dalam mendeteksi gangguan. Arus pada saluran dideteksi oleh trafo arus yang

dipasang pada bushing recloser, kemudian arus sekundernya dialirkan ke elektronik

17
control box. Apabila arus itu melebihi batas nilai terendah dari arus penjatuh

minimum, maka level detektor dan timing circuit akan bekerja. Setelah mencapai

waktu tunda yang ditentukan oleh program karakteristik arus-waktu, maka rangkaian

trip (penjatuh) mengirimkan sinyal untuk menjatuhkan (melepaskan) kontak utama

recloser. Sementara itu rele urutan kerja akan bekerja mengatur waktu penutupan

kembali sesuai dengan urutan yang diinginkan.

Rele urutan kerja akan di reset oleh riset timing pada posisi semula untuk

mengatur penutupan kembali berikutnya. Apabila ternyata gangguan yang terjadi

belum hilang, maka pada pembukaan yang terakhir sesuai urutan kerja recloser akan

berada pada posisi lock out (terkunci).

Gambar 2.7. Diaram blok recloser (panel kontrol)

18
2.5 Pengertian Sectionalizer

Sectionalizer sering disebut SSO (Saklar Seksi Otomatis) adalah adalah

peralatan pemisah yang secara otomatis akan bekerja sendiri untuk membuka jaringan

setelah melakukan deteksi arus gangguan dan melakukan perhitungan operasi

pemutusan dari peralatan pengaman di sisi sumbernya, dan pembukaan dilakukan

pada saat peralatan di sisi sumber sedang dalam posisi terbuka.

Biasanya sectionalizer membuka setelah 2 atau 3 kali hitungan operasi dari

pengaman back-upnya, jadi sectionalizer tidak memutus arus gangguan. Misalkan

bila terjadi gangguan, maka alat pengaman back-upnya yang berada di sisi hulu akan

membuka sirkit, maka sectionalizer mulai menghitung. Sectionalizer tidak memutus

arus gangguan , tetapi dapat memutus arus normal beban penuh. Oleh sebab itu

sectionalizer dapat berfungsi sebagai saklar beban atau LBS (Load Break switch)

untuk memisah seksi-seksi saluran dalam operasi normal.

Sectionalizer tidak mempunyai karakteristik waktu arus, sehingga yang perlu

diperhatikan ialah pemilihan waktu mengingat (memory time) dan jumlah hitungan

operasi pemutusan yang dilakukan oleh pengaman back-upnya. Pada alat pengaman

sectionalizer dilengkapi dengan ;

a. Perlengkapan pembantu pengendali tegangan (voltage restrain accessory).

b. Perlengkapan pembantu pengendali arus inrush (current inrush restrain

accessory)

19
c. Perlengkapan pembantu pendeteksi arus gangguan ke tanah (ground fault

sensing accessory)

d. Perlengkapan pembantu penyetelan waktu (time riset accessory)

Fungsi dari perlengkapan tersebut di atas adalah untuk menyetel waktu

penutupan, waktu merasakan (detecting time), waktu tunda untuk mengatur operasi

penutupan pada waktu arus mengalir, membuka pada saat pengaman hulunya

membuka dan terkunci. Waktu penutupan dimulai dari diberinya energi pada

peralatan pengaman pengaturnya sampai sectionalizer menutup, biasanya 5 - 10 detik.

Waktu merasakan gangguan yang dimungkinkan untuk merasakan gangguan setelah

sectionalizer tertutup, biasanya 4 7 detik. Waktu tunda adalah waktu dari hilangnya

energi listrik dari sumber pada peralatan pengatur sampai terbukanya sectionalizer

secara sempurna, biasanya 0,5 2 detik.

Setelah ganguan dibebaskan, letak gangguan harus segera diketahui. Untuk

keperluan ini alat petunjuk gangguan yang dipasang pada gardu distribusi, biasanya

petunjuk gangguan ini berupa jarum yang berputar.

20
Gambar 2.8. Sectionalizer kontrol hidrolik satu fasa dan tiga fasa

2.5.1 Prinsip kerja sectionalizer

Setelah selang waktu penutupan tertentu, maka pengaman di sisi sumbernya

akan menutup kembali dan alat penghitung disisi sectionalizer akan kembali ke posisi

semula. Jika gangguannya bersifat sementara dan dapat dihilangkan sebelum

sectionalizer membuka, maka peralatan penghitung sectionalizer yang sudah bergerak

akan kembali ke posisi semula dan siap melakukan perhitungan dari awal. Sedangkan

bila gangguan sifatnya permanen maka penghitung akan berulang kembali sampai

jumlah yang telah diatur, dan sectionalizer akan membuka kontaknya pada saat

peralatan pengaman di sisi sumber melakukan penutupan kembali, maka sectionalizer

sudah mengisolir jaringan yang terganggu.

21
BAB III

SISTEM PENGAMAN PADA JARINGAN DI SISI TEGANGAN

MENENGAH

3.1 Pengertian koordinasi peralatan pengaman arus lebih

Koordinasi peralatan pengaman arus lebih termasuk juga pemilihan dan

penggunaannya, bertujuan agar gangguan sementara dapat dihilangkan dengan segera

dan gangguan permanen dapat dibatasi hanya bagian terkecil dari sistem.

Lokasi-lokasi dari peralatan pengaman dikenal sebagai titik koordinasi dan

biasanya titik koordinasi terdapat pada gardu induk sepanjang feeder (saluran), pada

cabang saluran, dan pada sisi trafo distribusi. Pada gambar diagram satu garis bentuk

sistem distribusi sederhana titik-titik A,B,C,D,E,F dan G adalah titik koordinasi.

Gambar 3.1. Diagram satu garis sistem distribusi sederhana

22
Semua peralatan pengaman yang ditempatkan pada titik-titik tersebut harus

diseleksi, sehingga dapat dialiri arus beban normal dan bekerja bila ada arus lebih.

Peralatan pengaman yang lebih terdekat dengan beban disebut peralatan pelindung

dan yang dekat dengan sumber disebut peralatan terlindung. Sedangkan A peralatan

terlindung terhadap C adalah peralatan pelindung. Bila gangguan permanen terjadi

pada cabang yang diamankan oleh peralatan pengaman D seperti pada gambar 3.1,

maka sebelum peralatan pengaman C bekerja, gangguan harus sudah dihilangkan

oleh pengaman D. Sehingga sesudah D bekerja dan cabang yang bersangkutan sudah

diisolir arus beban normal dapat tetap mengalir pada sistem selebihnya.

Untuk mendapatkan hasil kerja dari peralatan pengaman arus lebih secara

optimal sesuai dengan tujuan pengaman, maka perlu dilakukan langkah-langkah

koordinasi pengaman yang tepat.

Pada dasarnya prinsip pokok suatu peralatan koordinasi pengaman arus lebih

sebagai berikut:

Peralatan pengaman pada sisi beban harus dapat menghilangakan gangguan

menetap atau gangguan sementara yang terjadi pada saluran. Sebelum

peralatan pengaman di sisi sumber beroperasi memutuskan saluran sesaat atau

beroperasi pada posisi terbuka terus.

Pemadaman yang terjadi akibat adanya gangguan menetap harus dibatasi

sampai pada seksi yang sekecil mungkin.

23
Pemilihan peralatan pengaman arus lebih selain ditentukan oleh koordinasi

peralatan, juga ditentukan oleh :

Tingkat keandalan yang diinginkan dalam sistem distribusi tersebut. Tingkat

keandalan yang menentukan jenis-jenis peralatan pengaman yang akan

dipergunakan.

Arus lebih maksimum yang mungkin dapat terjadi pada sistem. Arus lebih

pada sistem akan menentukan rating arus dari peralatan pengaman yang

dipergunakan.

Tegangan sistem menentukan rating tegangan dari peralatan pengaman yang

dipergunakan

Biaya yang tersedia

Prinsip pokok ini mempengaruhi pemilihan kurva arus waktu dan urutan kerja

dari peralatan pengaman disisi sumber dan disisi beban, juga penempatan peralatan

pengaman pada saluran distribusi tenaga listrik. Koordinasi peralatan pengaman pada

saluran udara tegangan menengah 20 kV sistem tiga fasa tiga kawat dapat dibagi

menjadi:

Koordinasi antara recloser dengan pemutus tenaga (PMT)

Koordinasi antara recloser dengan pengaman lebur

Koordinasi antara recloser dengan sectionalizer

Koordinasi antara recloser dengan fuse cut-out

24
Pada kesempatan ini hanya akan membahas koordinasi antara recloser dengan

sectionalizer.

3.2. Koordinasi antara recloser dengan sectionalizer

Sectionalizer adalah peralatan yang dirancang untuk mengisolir gangguan

pada sistem distribusi, sedangkan recloser adalah peralatan yang berfungsi untuk

membedakan gangguan permanen dengan gangguan temporer. Walaupun kedua

bentuknya sama tetapi sectionalizer tidak memutus arus gangguan, sehingga

sectionalizer harus menunggu sampai recloser membuka line dan kemudian

memotong/memisahkan line yang rusak ketika line masih terbuka dan tidak ada arus

mengalir.

Bila ganguan terjadi di belakang sectionalizer, recloser akan bekerja. Bila

terjadi gangguan permanen maka sectionalizer akan menghitung jumlah operasi

recloser dan trip serta menguncinya dirinya sendiri sesudah operasi yang telah

ditentukan, biasanya setelah operasi yang ketiga. recloser melanjutkan operasi yang

keempat dan memulihkan pelayanan sampai ke sectionalizer. Jadi sectionalizer harus

dibantu oleh recloser.

Prinsip-prinsip koordinasi dari pemakaian recloser di sisi sumber dengan

sectionalizer di sisi beban adalah sebagai berikut :

Pada sectionalizer pengaturan elektronis, arus penggerak minimumnya adalah

80 % x arus trip minimum dari recloser di sisi sumber. Sedangkan

25
sectionalizer pengaturan hidrolik, maka arus penggerak minimumnya adalah

160 % x rating coil dari recloser

Sectionalizer yang tidak dipasang dengan perlengkapan detector gangguan

tanah, harus dikoordinasikan dengan tingkatan trip minimum gangguan fasa

dari recloser. Pengaturan tingkatan arus penggerak dari sectionalizer dengan

tingkatan arus minimum untuk gangguan tanah dari recloser akan

menyebabkan kesalahan operasi pada waktu terjadi arus serbu.

Waktu untuk membuka dan menutup kembali dari recloser harus

dikoordinasikan dengan waktu penghitungan sectionalizer. Waktu untuk

menutup dan membuka kembali dari recloser ini harus lebih kecil dari waktu

ingatan sectionalizer. Apabila waktu ini ternyata lebih besar dari waktu

ingatan sectionalizer, maka sectionalizer tidak akan mengingat dari sebagian

jumlah operasi trip recloser, dapat dilhat pada gambar 3.2.

Sectionalizer dibatasi untuk berkoordinasi dengan pembukaan yang serentak

dari recloser. Jadi sectionalizer tiga fasa harus beroperasi dengan recloser tiga

fasa.

26
Gambar 3.2 Waktu ingat tiga kali perhitungan untuk mengunci dari

sectionalizer

3.3. Penggunaan accessories/peralatan tambahan

Dalam sectionalizer dengan kontrol elektronik standar waktu pengaturan

ulang (reset time) setelah waktu gangguan sementara tergantung waktu ingat yang

dipilih dan jumlah (angka) hitungan yang dipergunakan. Itu dapat berkisar dari 5

sampai 22 menit, waktu pengaturan ulang yang berhubungan dengan recloser dengan

kontrol elektronik adalah 10 sampai 180 detik. Rugi-rugi dari kesalahan koordinasi

tidak perlu menyebabkan terputusnya aliran listrik jika gangguan sementara

bertambah selama waktu sectionalizer diatur ulang (resetting). Perlengkapan reset

time (waktu reset) memberikan pemasangan kembali dengan cepat setelah memory

27
time berhasil menutup kembali dari peralatan/perlengkapan cadangan. Waktu yang

dipilih ini dapat disesuaikan antara 10 sampai 60 detik. Pedoman berikut ini

digunakan untuk accessories reset time (waktu reset).

1. Atur waktu ingat sectionalizer hingga 90 detik

2. Umumnya waktu reset (antara 10 sampai 60 detik) dipilh untuk

mengkoordinasi dengan waktu reset dari peralatan/perlengkapan cadangan

dengan pembatasan bahwa waktu reset harus melebihi waktu gangguan satu

fasa pada pemutusan minimum disisi recloser.

3. Pengaturan waktu reset hanya ditentukan oleh recloser seperti terlihat pada

gambar 3.10

28
Gambar 3.3. Koordinasi recloser dengan sectionalizer untuk gangguan temporer

di sisi sectionalizer

Aksesoris pembatasan tegangan menjaga sectionalizer dari hitungan arus

lebih, sectionalizer untuk disela sepanjang recloser atau fuse. Penggunaan aksesoris

ini pada sectionalizer lebih efektif waktu cepat, dua waktu tunda berurutan pada

perlengkapan/peralatan cadangan. Aksesoris ground fault sensing memperbolehkan

koordinasi secara lengkap dari sectionalizer dengan perlengkapan/peralatan

cadangan, dengan aksesoris ini sectionalizer menggabungkan sensing yang terpisah

29
dan karakteristik penggerakan untuk kedua fasa dan gangguan pembumian. Minimum

arus gangguan pembumian 80 % dari pengaturan arus gangguan pembumian untuk

disisi recloser. Pembatasan pemakaian pada pembumian sistem Y, minimum

gangguan pembumian dari arus penggerak harus diatur tidak lebih rendah dari arus

beban melalui sectionalizer. Jika lebih rendah maka sectionalizer menghitung dan

membuka untuk ganguan pada sisi sumber. Aksesoris ground fault sensing termasuk

pengendalian aliran fasa.

3.4. Perhitungan arus hubung singkat

Sebelum menggunakan alat pengaman yang akan dipasang dan menentukan

karakteristik dari peralatan pengaman, harus mengetahui dahulu besarnya arus

hubung singkat yang akan terjadi. Adapaun gangguan hubung singkat yang terjadi

dalam sistem distribusi adalah :

Gangguan hubung singkat 3 fasa

Ganguan hubung singkat 2 fasa

Gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah

30
Dari ketiga jenis gangguan hubung singkat dapat di hitung dengan menggunakan

hukum ohm :

V
I = .. (3.1)
Z

Dimana : I = Arus hubung singkat (Amper)

V = Tegangan sumber (Volt)

Z = Nilai eqivalen dari seluruh impedansi dari sumber sampai titik

gangguan (Ohm)

3.4.1. Hubung singkat 3 fasa

Untuk gangguan 3 fasa yaitu impedansi yang digunakan adalah urutan positif

dengan nilai ekivalen Z1 dan tegangannya adalah tegangan fasa-netral.

Vf
I 3 = . (3.2)
Z1eq

Dimana : I 3 = Arus hubung singkat 3 fasa (Amper)

Vf = Tegangan fasa-netral (20 KV/3) (Volt)

Z1eq = Impedansi ekivalen jaringan urutan positif (ohm)

31
3.4.2. Hubung singkat 1 fasa-tanah

Untuk gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah yaitu impedansi yang

digunakan adalah jumlah impedansi urutan positif ditambah urutan negatif dan

ditambah urutan nol, nilai ekivalennya Z1 + Z2 + Z0 dimana Z1 = Z2 dan

tegangannya adalah tegangan fasa-fasa.

3Vf
I 1 = ... (3.3)

2 (Z1eq) + (Z0eq)

Dimana : I 1 = Arus hubung singkat 1 fasa-tanah (Amper)

3Vf = Tegangan fasa-fasa (3 x 20 KV/3) (Volt)

Z1eq = Impedansi ekivalen jaringan urutan positif (ohm)

Z0eq = Impedansi ekivalen jaringan urutan nol (ohm)

3.5 Perhitungan impedansi sumber

Untuk menghitung impedansi sumber adalah :

KV
Xs = .... (3.4)
MVA

Dimana : Xs = Impedansi sumber (ohm)

KV = Tegangan di Bus (KV)

MVA = Kapasitas hubung singkat di busbar (MVA)

32
3.6. Perhitungan impedansi trafo tenaga

Impedansi urutan positif (Xt) adalah impedansi bocor trafo. Besarnya

impedansi urutan negatif sama dengan besarnya impedansi urutan nol, tergantung

dari hubungan trafo dan impedansi pentanahannya.

KV
Xt1 = Xt2 = {Z(%)} x .. (3.5)
MVA

Xto = (Yy Xto) = 10 x Xt ..... (3.6)

Dimana : Xt1 dan Xt2 = Reaktansi urutan positip (ohm)

Xto = Reaktansi urutan negatif (ohm)

Yy = Hubungan bintang pada trafo

MVA = Kapasitas pada trafo tenaga (MVA)

KV = Tegangan di Bus (KVA)

3.7. Perhitungan impedansi ekivalen jaringan

Untuk menghitung impedansi ekivalen jaringan urutan positip adalah dengan

menjumlahkan impedansi sumber (Zs), impedansi trafo (Zt1) dan impedansi

jaringan urutan positip.

Z1eq = Z2eq = Zs + Zt1 + Z1 penyulang .. (3.7)

33
Untuk menghitung eqivalen jaringan urutan nol adalah dengan menjumlahkan

impedansi trafo (Zs), tahanan dalam (RN) yang terdapat dalam trafo tenaga

dan impedansi jaringan urutan nol.

Zoeq = Zto + 3RN + Zo penyulang .... (3.8)

34
BAB IV

PERHITUNGAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN

PENGGUNAAN RECLOSER DI SUTM

4.1. Studi kasus hubung singkat

Penggunaan alat proteksi merupakan urutan kerja sistem pengaman pada

suatu jaringan agar di dapat suatu unjuk kerja yang optimal dari pengaman sesuai

dengan setting dan letak gangguan.

Dalam hal ini di wilayah PT.PLN Area Pelayanan Sepatan sering terjadi

gangguan dan kurangnya alat pengaman untuk mengurangi gangguan. Daerah

Sepatan yang sering terjadi gangguan adalah Penyulang Cacing yang dipasok dari GI

Sepatan oleh trafo tenaga dengan kapasitas trafo 30 MVA, 70/20 KV, In 288 A

dengan impedansi 12 % dengan panjang penyulang 22 Kms (kilometer system).

Untuk itu perlu dipasang suatu alat pengaman yaitu recloser untuk mengatasi

gangguan yang terjadi serta dapat mengurangi tingkat pemadaman.

35
4.2 Data peralatan

4.2.1. Data trafo tenaga di GI Sepatan

- Merk Pabrik : Asea BDOR

- Daya : 30 MVA

- Ratio Tenaga : 70/20 KVA

- Arus Nominal : 85/288 A

- Impedansi : 12 %

- Vektor Group : Yn Yno

4.2.2. Data Rele Proteksi di GI Sepatan

- Rele untuk gangguan fasa-fasa

* Karakteristik : Invers

* Setting : In = 5 A

Is = 0,6 x In

t = 0,5 s

* Trafo Arus : 300/5 A

- Rele untuk gangguan fasa tanah

* Karakteristik : Invers

* Setting : In = 1 A

Is = 0,6 x In

t = 0,5 s

36
4.2.3. Data Recloser di Penyulang Cacing dari GI sepatan

- Merk pabrik : Cooper Power System

- Tipe : ME (elektronik)

- Arus Kontinyu : 200 A

- Arus trip min fasa fasa : 380 A

- Arus trip min fasa tanah : 20 A

- Arus pemutus maksimum : 6000 A

- Waktu membuka : 0,13 detik

- Waktu menutup kembali :2

Dalam hal ini recloser baru saja di pasang oleh PT. PLN Distribusi Area

Jaringan Tangerang pada awal juni 2008. Sebelum recloser di pasang harus dilakukan

perhitungan perkiraan terjadinya gangguan hubung singkat di Penyulang Cacing yang

disuplai dari trafo tenaga yang tertera di atas.

4.3 Langkah-langkah dalam menghitung arus gangguan

Untuk menghitung arus gangguan pada sistem distribusi, tahapan yang perlu

dilakukan adalah:

1. Gambarkan diagram satu garisnya

2. Pilihlah KVA/MVA untuk keseluruhan sistem

3. Gambarkan urutan positipnya, urutan negatif dan nolnya.

37
Gambar 4.1. Lokasi ganguan pada jaringan distribusi

Untuk menghitung arus gangguan hubung singkat, pertama yang dilakukan

adalah menghitung impedansi sumber, impedansi trafo tenaga dan impedansi

penyulang.

4.3.1. Menghitung impedansi sumber

Dengan menggunakan persamaan (3.4) di peroleh perhitungan impedansi

sumber, yaitu :

KV
Xs =
MVA

70
=
60

= 81.6

Dimana : KV = Tegangan di Bus 70 KV

MVA = Kapasitas hubung singkat di busbar 60 MVA

Karena gangguan terjadi di sisi 20 KV, maka impedansi dikonversikan di sisi 20 KV,

maka :

38
20
Xs = x 81.6
70

= 6.6

4.3.2. Menghitung impedansi trafo

Persentase pada trafo tenaga adalah 12 % berdasarkan name plate dengan

kapasitas trafo tenaga 30 MVA, maka dalam menghitung impedansi trafo tenaga

dengan menggunakan persamaan (3.5) di dapatkan reaktansi urutan positif pada sisi

20 KV, yaitu:

KV
Xt1 = Xt2 = {Z(%)} x
MVA

20
= 12 % x
30

= j 1,6

Sedangkan untuk menghitung reaktansi urutan negatifnya dengan

menggunakan persamaan (3.6), yaitu :

Xto = (Yy Xto) = 10 x Xt

= 10 x 1,6

= 16

39
4.3.3. Menghitung impedansi jaringan

Sebelum menghitung impedansi hantaran, harus diketahui dulu harga

impedansi jaringan yang telah ditentukan yang nilainya tergantung dari panjang

penyulang dan konfigurasi tiang.

Tabel 4.1 Impedansi urutan positif dan nol penghantar AAAC

Penampang jari-jari Jumlah GMR impedansi Impedansi


nominal (mm) urat (mm) urutan positif urutan nol
(mm) ( / km) ( / km)
16 2,2563 7 1,638 2,0161 + j0,4036 1,1641 + j1.6911
25 2,8203 7 2,0475 1,2903 + j0,3895 1,4384 + j1,6770
35 3,3371 7 2,4227 0,9217 + j0,3790 1,0697 + j1,6665
50 3,9886 7 2,8957 0,6452 + j0,3678 0,7932 + j1,6553
70 4,7193 7 3,4262 0,4608 + j0,3572 0,6088 + j1,6447
95 5,4979 19 4,1674 0,3396 + j0,3449 0,4876 + j1,6324
120 6,1791 19 4,6837 0,2688 + j0.3376 0,4618 + j1,6251
150 6,9084 19 5,2365 0,2162 + j0.3305 0,3441 + j1.6180
185 7,6722 19 5,8155 0,1744 + j0,3239 0,3224 + j1,6114
240 8,7386 19 6,6238 0,1344 + j0.3158 0,2824 + j1,6003

Pada Penyulang Cacing, kawat penghantar yang digunakan adalah kawat A3C

pada sistem distribusi 3 fasa 3 kawat.

Untuk kawat penghantar A3C 150 mm (jalur utama)

Z1 = Z2 = (0,2162 + j0,3305)

Zo = (0,3441 + j1,6180 )

Untuk kawat penghantar A3C 70 mm (percabangan)

Z1 = Z2 = (0,4608 + j0,3572)

Zo = (0,6088 + j1,6447)

40
Dengan demikian dapat menghitung impedansi hantaran dengan jarak lokasi

yang telah ditentukan pada gambar diatas dan panjang penyulang adalah 22 km.

Impedansi urutan positif :

25 % => 25 % x 22 (0,2162 + j0,3305) = 1,19 + j1,82

50 % = > 50 % x 22 (0,2162 + j0,3305) = 2,38 + j3,64

75 % = > 75 % x 22 (0,2162 + j0,3305) = 3,57 + j5,45

100 % => 100 % x 22 (0,2162 + j0,3305) = 4,76 + j7,27

Impedansi urutan nol

25 % => 25 % x 22 (0,3441 + j1,6180) = 1,89 + j8,89

50 % => 50 % x 22 (0,3441 + j1,6180) = 3,78 + j17,79

75 % => 75 % x 22 (0,3441 + j1,6180) = 5,68 + j26,69

100 % => 100 % x 22 (0,3441 + j1,6180) = 7,57 + j35,59

4.3.4. Menghitung impedansi ekivalen jaringan urutan positif

Untuk menghitung ini menggunakan persamaan (3.7), dimana dengan

menjumlahkan impedansi sumber, impedansi trafo dan impedansi jaringan urutan

positif.

Z1eq = Z2eq = Zs + Zt + Z1 penyulang

= j6,6 + j1,6 + Z1 penyulang

= j8,2 + Z1 penyulang

41
Karena telah ditentukan tempat titik-titik panjang penyulang

25 % => j8,2 + (1,19 + j1,82) = 1,19 + j10,02

50 % => j8,2 + (2,38 + j3,64) = 2,38 + j11,84

75 % => j8,2 + (3,57 + j5,45) = 3,57 + j13,65

100 % => j8,2 + (4,76 + j7,27) = 4,76 + j15,47

4.3.5. Menghitung impedansi ekivalen jaringan urutan nol

Untuk menghitung ini menggunakan persamaan (3.8) dengan cara

menjumlahkan impedansi trafo tenaga, tahanan dalam (RN) yang terdapat pada trafo

tenaga yaitu sebesar 38,5 ohm dan impedansi jaringan urutan nol.

Zoeq = Zto + 3 RN + Zo penyulang

= j16 + 3(38,5) + Zo penyulang

25 % => j16 +115,5 + (1,89 + j8,89) = 117,39 + j24,89

50 % => j16 + 115,5 + (3,78 + j17,79) = 119,28 + j33,79

75 % => j16 + 115,5 + (5,68 + j26,69) = 121,18 + j42,69

100 % => j16 + 115,5 + (7,57 + j35,59) = 123,07 + j51,59

4.4. Menghitung arus hubung singkat

4.4.1. Menghitung arus hubung singkat 3 fasa

Untuk menghitung arus hubung singkat 3 fasa yaitu dengan menggunakan

persamaan (3.2) seperti di bawah ini:

42
Vf 20.000/3 11547
I 3 = = = A
Z1eq Z1eq Z1eq

11547 11547
25 % => I = = = 1144,4 A
(1,19 + j10,02) 1,19 + 10,02

11547 11547
50 % => I = = = 955.87 A
(2,38 + j11,84) 2,38 + 11,84

11547 11547
75 % => I = = = 818,36 A
(3,57 + j13,65) 3,57 + 13,65

11547 11547
100 % => I = = = 713,66 A
(4,76 + j15,47) 4,76 + 15,47

Berdasarkan perhitungan di atas, apabila terjadi gangguan hubung singkat tiga

fasa, maka dapat diperkirakan/diketahui besarnya berdasarkan lokasi gangguan.

Apabila gangguan hubung singkat yang terjadi jaraknya 25 % atau lebih dekat dari GI

adalah 1144,4 amper, untuk jaraknya yang berada 50 % atau di tengah penyulang

adalah 955,87 amper. Sedangkan yang jaraknya 75 % dari GI adalah 818,36 amper

dan untuk lokasi gangguan yang terjadi di ujung penyulang atau jarak lokasi sekitar

100 % dari GI adalah 713,66 amper.

43
4.4.2. Menghitung arus hubung singkat 1 fasa-tanah

Untuk menghitung arus hubung singkat 1 fasa-tanah yaitu dengan

menggunakan persamaan (3.3) seperti di bawah ini:

3 x 20.000/3 34640
1 = = A
2 (Z1eq) + (Zoeq) 2 (Z1eq) + (Zoeq)

34640 34640
25 % => I = =
2(1,19 + j10,02) + (117,39 + j24,89) (119,77 + j34,93)

34640
= = 277,65 A
119,77 + 34,93

34640 34640
50 % => I = =
2(2,38 + j11,84) + (119,28 + j33,79) (124,04 + J57,44)

34640
= = 253,42 A
124,04 + 57,44

34640 34640
75 % => I = =
2(3,57 + j13,56) + (121,18 + j42,69) (128,32 + J69,99)

34640
= = 236,98 A
128,32 + 69,99

44
34640 34640
100 % => I = =
2(4,76 + j15,47) + (123,07 + j51,59) (132,59 + J82,53)

34640
= = 221,79 A
132,59 + 82,53

Berdasarkan perhitungan di atas, apabila terjadi gangguan hubung singkat satu

fasa-tanah, maka dapat diperkirakan/diketahui besarnya berdasarkan lokasi gangguan.

Apabila gangguan hubung singkat yang terjadi jaraknya 25 % atau lebih dekat dari GI

adalah 277,65 amper, untuk jaraknya yang berada 50 % atau di tengah penyulang

adalah 253,42 amper. Sedangkan yang jaraknya 75 % dari GI adalah 236,98 amper

dan untuk lokasi gangguan yang terjadi di ujung penyulang atau jarak lokasi sekitar

100 % dari GI adalah 221,79 amper.

45
Gambar 4.2. Diagram satu garis Penyulang Cacing di GI Sepatan

46
4.5 Analisa terjadinya gangguan hubung singkat

Pada gambar 4.2. diperlihatkan terjadi gangguan hubung singkat satu fasa

yang sifatnya sementara antara gardu MA 14 dengan MA 124 P, di mana recloser

langsung berkerja dan membuka line, kemudian memotong atau memisahkan line

yang rusak ketika line masih terbuka dan tidak ada arus yang mengalir. Pada saat itu

juga rele akan bekerja dan mentrip PMT, dengan mentripnya PMT suplai arus

terhenti dan busur api mati maka gangguan akan hilang. Setelah beberapa saat PMT

dimasukan kembali dan saluran dapat beroperasi secara normal. Karena gangguan ini

sifatnya sementara dan dapat dihilangkan sebelum sectionalizer membuka, maka

peralatan penghitung sectionalizer akan kembali ke posisi semula dan siap untuk

melakukan perhitungan dari awal.

Apabila terjadi gangguan yang sifatnya permanen, maka sectionalizer akan

menghitung jumlah operasi recloser dan trip serta mengunci dirinya sendiri sesudah

operasi yang telah ditentukan, biasanya setelah operasi ketiga. Recloser melanjutkan

operasi keempat dan memulihkan pelayanan sampai ke sectionalizer. Dengan itu

bagian saluran sesudah sectionalizer yang terkena gangguan akan dibebaskan dari

sistem sehingga tidak mengganggu saluran lain

Pada tabel 4.2. di bawah ini dapat di lihat data gangguan yang terjadi dan

tercatat di box kontrol recloser. Dalam hal ini telah terjadi gangguan hubung singkat

satu fasa-tanah di fasa R yaitu sebesar 326 amper, dan over current trip 219 amper.

47
Tabel 4.2. Data gangguan yang tercatat pada box kontrol recloser

IA IB IC
EVT DATE TIME TYPE (A) (A) (A)
1 17/06/08 16:07:29 no control alarm 0 0 0
2 17/06/08 08:03:40 CONTROL ALARMS 0 0 0
3 14/06/08 09:02:21 MANUAL/EXT CLOSE 0 0 0
4 14/06/08 09:01:11 HOT-LINE TAG OFF 0 0 0
5 14/06/08 09:56:51 HOT-LINE TAG ON 0 0 0 0
6 14/06/08 08:15:14 FAULT DATA (pri) 326 0 0
7 14/06/08 09:15:14 OVER CURRENT TRIP 219 0 0
8 14/06/08 09:49:14 CONTROL LOCK OUT 0 0 0
9 08/06/08 09:49:14 MANUAL/EXT CLOSE 0 0 0
10 08/06/08 09:49:14 HOT-LINE TAG OFF 0 0 0
11 08/06/08 09:49:07 HOT-LINE TAG ON 0 0 0
12 08/06/08 09:45:06 CONTROL LOCK OUT 0 0 0
13 08/06/08 09:45:05 NORMAL PROFILE 0 0 0
14 08/06/08 09:45:03 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
15 08/'06/08 09:44:24 ALT PROFILE #2 0 0 0
16 08/'06/08 09:43:28 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
17 08/'06/08 09:43:26 ALT PROFILE #1 0 0 0
18 08/'06/08 09:43:04 no control alarm 0 0 0
19 08/'06/08 09:42:45 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
20 08/'06/08 09:42:43 CONTROL ALARM 0 0 0
21 08/0'6/08 09:42:43 NORMAL PROFILE 0 0 0
22 08/'06/08 09:42:08 No control alarm 0 0 0
23 08/'06/08 09:42:08 CONTROL ALARM 0 0 0
24 08/'06/08 09:42:02 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
25 08/'06/08 09:41:50 ALT PROFILE #3 0 0 0
26 08/'06/08 09:41:48 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
27 08/'06/08 09:41:07 ALT PROFILE #2 0 0 0
28 08/'06/08 09:41:13 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
29 08/'06/08 09:40:11 ALT PROFILE #1 0 0 0
30 08/'06/08 09:37:58 CONTROL LOCKOUT 0 0 0
31 08/'06/08 09:23:23 HOT LINE TAG OFF 0 0 0
32 08/'06/08 09:22:03 HOT LINE TAG ON 0 0 0
33 08/'06/08 09:22:02 HOT LINE TAG OFF 0 0 0

48
4.6 Setting panel kontrol

Panel kontrol disetting terlebih dahulu sebelum recloser benar-benar

difungsikan, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menseting panel kontrol

yaitu berapa besar arus beban pada jaringan di sebelah recloser terpasang, berapa arus

fault atau arus maksimal yang masuk sampai recloser trip, berapa ratio CT

(trafo arus) yang dipasang pada recloser, dan berapa besar penampang kabel yang

digunakan.

Arus beban : dari arus beban keseluruhan

Arus fault : sesuai arus pada jaringan (Io)

Ratio CT : 300/5

Luas penampang kabel : 150 mm

Waktu selang : 1 (satu) menit 3 kali trip

Tabel 4.3. Setting gangguan pada panel kontrol

sett Gangguan Fasa - Fasa Gangguan Fasa -Tanah

Minimum Trip 100 Amp 20 Amp


Over Current Alarm 3200 Amp 1600 Amp
Alarm Time Delay 100 detik 100 detik
High Current Trip for MinTrip 3 x min trip 1,25 x min trip

49
4.7 Penjabaran dari box kontrol recloser

Elektronik kontrol box recloser adalah peralatan elektronik yang mengontrol

pemasukan/pelepasan PMT recloser. Dari dalam kontrol box ini setting recloser dapat

ditentukan.

Arus jaringan mengalir melalui recloser yang dirasakan oleh ketiga bushing

trafo arus yang terletak di dalam recloser, satu untuk tiap fasanya. Ketika arus fasa

atau rangkaian nol (ground/pembumian) arus melampaui harga minimum pemutusan

yang telah diprogram atau diatur. Kontrol kyle form 4C berinisiatif mengatur

rangkaian program dari trip/pemutusan recloser dan penutupan operasi. Jika terjadi

gangguan sementara (temporer), kontrol berhenti untuk memberikan perintah pada

operasi recloser setelah terjadi penutupan recloser yang baik/sukses, dan reset control

untuk memulai rangkaian opearasi setelah adanya waktu tunda. Jika terjadi gangguan

permanen, kontrol akan mengerjakan rangkaian program secara lengkap dari perintah

recloser untuk mengunci dan bersamaan itu dengan terbukanya recloser. Sekali

terkunci/terbukanya kontak dari recloser harus direset untuk memulai rangkaian

operasi.

Diagram block fungsional form 4C diperlihatkan pada gambar 4.3. Kondisi

arus jaringan dimonitor/diawasi secara terus-menerus oleh ketiga bushing CT yang

terletak di dalam recloser, satu untuk tiap fasanya. Keluaran dari trafo ini

menyalurkan arus ke kontrol bagian depan (kontrolfront end). Mikroprosesor control

50
mengambil data arus dan menghitung arus RMS (gangguan) untuk tiap fasanya dan

pembumian.

Data port
Trip Circuit Keyboard
Display

Recloser
mechanism Close Circuit

Microprosesor

A Control A/D Converter


Front
B
BCTs End
C Front Panel
GND Memory Control Switches

Gambar 4.3. Fungsi dari blok diagram 4C

Ketika arus yang ditentukan melebihi yang telah diprogramkan dari minimum

pemutusan, maka rangkaian akan menjadi two fast dan two delay operasi:

1. Sinyal arus lebih tergabung dengan waktu pada kurva yang terpilih untuk

operasi pada trip pertama untuk menghasilkan sinyal yang memberikan energi

ke rangkaian pemutusan.

2. Pemberian energi pada rangkaian pemutusan terhubung dengan bateray dan

kapasitor ke lilitan pemutusan untuk membuka recloser.

51
3. Secara serempak mikroprosesor memulai perhitungan jarak waktu tunda

untuk penutupan balik pertama.

4. Dengan berakhirnya interval/jarak waktu tunda dari penutupan ini, sinyal

penutupan dihasilkan dari kontrol menutup recloser dan memilih karakteristik

waktu arus untuk operasi pemutusan kedua.

5. Ketika reset tunda habis, kontrol direset untuk kembali ke keadaan awal dan

siap untuk rangkaian operasi yang terprogram yang lain.

6. Kesalahan akibat pemutusan pembumian di program terpisah dan termasuk

pemutusan minimum, operasi untuk mengunci/berhenti, jumlah dari operasi

pada kurva fast dan delay, penutupan dan jarak waktu reset adalah untuk

kesalahan operasi pada fasa dan ground.,

52
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat di ambil dari semua pembahasan adalah sebagai

berikut :

1. Berdasarkan perhitungan, apabila terjadi gangguan hubung singkat satu

fasa-tanah dengan jarak lokasi gangguan 50 % dari GI atau berada di tengah

penyulang adalah 253,42 amper.

2. Sedangkan berdasarkan data gangguan dari panel box kontrol recloser telah

terjadi gangguan hubung singkat satu fasa-tanah di fasa R sebesar 326 amper,

di mana letak gangguan berada di tengah penyulang.

3. Gangguan yang terjadi di antara gardu MA 14 dengan gardu MA 124 P pada

penyulang cacing yang di suplai dari GI Sepatan adalah gangguan hubung

singkat satu fasa-tanah yang sifatnya temporer/sementara sehingga dengan

cepat dapat dihilangkan oleh recloser sebelum sectionalizer membuka.

53
5.2. Saran

1. Untuk mengurangi gangguan-gangguan yang sering terjadi pada Saluran

Udara Tegangan Menengah, sebaiknya penggunaan pengaman arus lebih ini

dapat di optimalkan penggunaannya.

2. Untuk memperkecil tingkat pemadaman listrik dan memperbesar jam nyala

KWh, tingkat keandalan sebuah pengaman sangat mempengaruhi kualitas

pelayanan sampai ke pemakai energi listrik. Oleh karena itu tingkat keandalan

harus di tingkatkan sehingga mutu dan kualitas pelayanan menjadi semakin

baik.

54