Anda di halaman 1dari 14

1

PENGARUH TERAPI RELAKSASI MASSAGE TERHADAP


SKOR INSOMNIA PADA PASIEN GAGAL GINJAL
KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS
DI RS. PKU MUHAMMADIYAH I
YOGYAKARTA

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh:
SANTI VARISELLA
201210201137

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTASILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA
2016
2
3

PENGARUH TERAPI RELAKSASI MASSAGE TERHADAP SKOR


INSOMNIA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RS. PKU
MUHAMMADIYAH I
YOGYAKARTA
Santi Varisella1, Deasti Nurmaguphita2

INTISARI

Latar Belakang: Gangguan tidur dialami oleh sekitar 50 80 % pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis salah satunya adalah Insomnia. intervensi terapi
relaksasi massage menjelang tidur
Tujuan: mengetahui pengaruh terapi relaksasi massage terhadap skor insomnia pada
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah I
Yogyakarta.
Metode Penelitian: Desain penelitian Quasi Eksperimen Design dengan rancangan
Nonequivalent Control Group Design. Tehnik pengambilan sempel yaitu non
probability sampling dengan purposive sampling. Responden berjumlah 20 orang
dengan 10 eksperimen dan 10 kontrol.
Hasil penelitian: Analisis data dengan menggunakan paired t-test menunjukkan adanya
perubahan skor insomnia kearah positif pada kelompok eksperimen dengan p value
0,000 , = 0,05. Analisi data selanjutnya menggunakan Idependent t-test menunjukkan
perbedaan bermakna secara statistika antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dengan p value 0,000 , = 0,05.
Kesimpulan: Adanya perngaruh terapi relaksasi massage terhadap skor insomnia pada
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
Saran: Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan insomnia
dianjurkan untuk sering diberikan terapi relaksasi massage.

Kata Kunci : Terapi Relaksasi Massage, Insomnia, Gagal Ginjal Kronik,


Hemodialisis,
Daftar Pustaka : 10 buku : 2 Tesis, 2 skripsi, 9 Jurnal, 4 Internet
Jumlah Halaman : 14 halaman; 2 tabel

1. Judul Skripsi
2. Mahasiswa PSIK Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah Yogyakarta
3. Dosen PSIK Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah Yogyakarta
4

THE EFFECT OF RELAXATION THERAPY MASSAGE ON THE


INSOMNIA SCORE OF CHRONIC RENAL FAILURE PATIENTS
UNDERGOING HEMODIALYSIS AT PKU MUHAMMADIYAH
IHOSPITAL OF
YOGYAKARTA1

Santi Varisella2, Deasti Nurmaguphita3

ABSTRACT

Background:Sleeping disorder are experienced by about 50-80% of the chronic renal


failure patients undergoing hemodialysis; one of which is insomnia. The relaxation
therapy massage is one of the interventions that can be used to reduce insomnia.
Objective: To study amed at intervestigating the effect of the relaxation therapy
massage on the insomnia score of chronic renal failure patients undergoing
hemodialysisat PKU Muhammadiyah 1 Hopspital Yogyakarta.
Method: The study employed Quasi Experimental Designwith Nonequivalent Control
Group Design. The sampling technique was non probability sampling with purposive
sampling. The respondents were 20 people who were divided into 10 people of
experimental group and 10 people of control group.
Results: The data analysis with Paired t-test show that there was an effect of the
relaxation therapy massage on the insomnia score decrease with p=0.00, =0.05. the data
analysis, then used Independent t-test shows that there was a significant difference
statistically between the experiment group and thecontrolgropu with p value 0.00, =
0.05.
Conclusion: The was an effect of the therapy massage on the insomnia score of chronic
renal failure patients undergoing hemodialysis.
Suggestion:The chronic renal failure patients undergoing hemodislysis with insomnia
are suggested to be frequently given relaxation theraphy massage
Keys Word : Relaxation Massage Therapy, Insomnia, Chronic Renal
Failure, Hemodialysis,
Bibliography : 30 books: 12 postgraduate theses, 5 undergraduate, 21
Journals, 13 internet
Number of pages` : xiii; 81 pages; 5 tables; 2 figures; 19 appendixes

1. Title of the Thesis


2. Student of School of Nursing, Faculty of Health Sciences, University of Aisyiyah Yogyakarta
3. Lecture ofSchool of Nursing, Faculty of Health Sciences University of Aisyiyah Yogyakarta
5

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit gagal ginjal kronik uremia dibutuhkan terapi pengganti
merupakan masalah kesehatan di ginjal untuk mengambil alih fungsi
seluruh dunia yang berdampak pada ginjal dalam mengeliminasi toksin
masalah medis, ekonomi dan sosial tubuh sehingga tidak terjadi gejala
yang sangat besar bagi pasien dan yang lebih berat maka penderita gagal
keluarganya, baik di negara-negara ginjal kronik harus melakukan terapi
maju maupun di negara-negara hemodialisis untuk memperpanjang
berkembang (Syamsiah, 2011). usia harapan hidup (Cahyaningsih,
Penduduk dunia yang 2011).
meninggal akibat penyakit ginjal pada Pasien gagal ginjal kronik di
tahun 2015 diperkirakan terdapat 36 United States pada akhir tahun 2007
juta. Berdasarkan data Badan berjumlah 527.283 orang dan yang
Kesehatan Dunia atau World Health menjalani dialysis mencapai jumlah
Oreganization (WHO) memperlihatkan 368.544 orang (NKUDIC, 2010). Di
yang menderita gagal ginjal baik akut Amerika Serikat, kejadian dan
maupun kronik mencapai 50% prevalensi gagal ginjal meningkat, dan
sedangkan yang diketahui dan jumlah orang dengan gagal ginjal yang
mendapatkan pengobatan hanya 25% dirawat dengan dialisis dan
dan 12,5% yang terobati dengan baik. transplantasi diproyeksikan meningkat
Prevalensi gagal ginjal kronis dari 340.000 di tahun 1999 dan
berdasarkan pernah didiagnosis dokter 651.000 dalam tahun 2010 (Cinar,
di Indonesia sebesar 0,2% . (Riskesdas, 2009). Data menunjukkan bahwa setiap
2013). tahun 200.000 orang Amerika
Gagal ginjal kronik (GGK) menjalani hemodialisis karena
adalah suatu keadaan fungsi ginjal gangguan ginjal kronis artinya 1140
yang Ireversible (Sudoyo, 2007). The dalam satu juta orang Amerika adalah
Kidney Disease Outcome Initiative pasien dialisis (Shafipour, 2010).
(KDOQI) of the national kidney Sedangkan di Indonesia menurut
foundation (NKF) mendefinisikan PERNEFRI ( Perhimpunan Nefrologi
penyakit gagal ginjal kronik adalah Indonesia), pada tahun 2007 terdapat
kerusakan pada parenkim ginjal sekitar 70.000 orang penderita gagal
dengan penurunan glomerular ginjal kronik dan hanya 13.000 orang
filtration rate (GFR) kurang dari 60 yang menjalani hemodialisis. Data dari
mL/min/1,73 m3 selama atau lebih dari Depkes Provinsi D.I. Yogyakarta
3 bulan dan pada umumnya berakhir menyebutkan bahwa sepanjang tahun
dengan gagal ginjal (Varelli, 2006). 2009 terdapat 461 kasus baru penyakit
Gagal ginjal kronik berat yang mulai gagal ginjal yang terbagi atas
perlu dialysis adalah penyakit ginjal Kabupaten Jogja 175 kasus, Kabupaten
kronik yang mengalami penurunan Bantul 73 kasus, Kabupaten Kulon
fungsi ginjal dengan LFG < 15 Progo 45 kasus dan Kabupaten Sleman
mL/menit. Pada keadaan ini fungsi 168 kasus, serta pasien yang meninggal
ginjal sudah sangat menurun sehingga di Kabupaten Jogja 19 orang, Bantul 8
terjadi akumulasi toksik dalam tubuh orang, Kulon Progo 45 orang, Sleman
yang disebut uremia. Pada keadaan 23 orang.
6

Prevalensi penyakit gagal ginjal (PERMENKES RI) No


kronik semakin meningkat setiap tahun 812/MENEKS/PER/VII/ 2010 pasal 1
di Negara Berkembang termasuk di ayat 3 menjelaskan bahwa salah satu
Indonesia yang diperkirakan ada terapi penganti ginjal yang merupakan
sekitar 40 60 kasus per juta penduduk alat khusus dengan tujuan
setiap tahun. Di Indonesia, dari data di mengeluarkan toksik uremik dan
beberapa nefrologi (ilmu yang mengatur cairan. Berdasarkan studi
memeperlajari bagaian ginjal). pendahuluan yang dilakukan oleh
Diperkirakan insiden penyakit gagal peneliti pada tanggal 20 Januari 2016
ginjal berkisar 100-150 per 1 juta di Unit Hemodialisis di RS PKU
penduduk dan prevalensi mencapai Yogyakarta menerima pasien gagal
200-250 kasus per juta penduduk ginjal kronik dengan PBI dan Non PBI
(Firmansyah, 2010). Menurut data dari melalui Jaminan Kesehatan Nasional
Yayasan Peduli Ginjal (Yadugi) di yang sekarang diselenggarakan oleh
Indonesia kini terdapat sekitar 40.000 BPJS namun masih terdapat sekitar 1
penderita gagal ginjal kronik dan hanya pasien yang menggunakan jaminan
3.000 diantaranya yang memiliki akses kesehatan dengan Jamkesta dan 2
pengobatan. pasien dengan menggunakan jaminan
Prevalensi penyakit gagal ginjal kesehatan dari perusahaa tempat kerja.
kronis di Indonesia meningkat seiring Hemodialisis merupakan proses
dengan bertambahnya umur, penyaringan sampah metabolisme
meningkat tajam pada kelompok umur dengan menggunkana membrane semi-
35-44 tahun (0,3%), diikuti umur 45-54 permeabel yang berfungsi sebagai gijal
tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun buatan atau yang disebut dengan
(0,5%), tertinggi pada kelompok umur dyalizer (Thomas, 2002; Price &
75 tahun (0,6%). Prevalensi pada Wilson, 2003). Hemodialisis tidak
laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari dapat menyembuhkan atau
perempuan (0,2%), prevalensi lebih memulihkan penyakit ginjal dan tidak
tinggi pada masyarakat perdesaan mampu mengimbangi hilangnya
(0,3%), tidak bersekolah (0,4%), aktivitas metabolik atau endokrin yang
pekerjaan wiraswasta, dilaksanakann oleh ginjal, sehingga
petani/nelayan/buruh (0,3%), dan pasien akan tetap mengalami berbagai
kuintil indeks kepemilikan terbawah komplikasi baik dari penyakitnya
dan menengah bawah masing-masing maupun juga terapinya (Mollaoglu,
0,3 % (Riskesdas, 2013). 2009). Salah satu kompliksi yang
Kebijakan pemerintah yang sering dialami oleh pasien gagal gijal
mengatur tentang pelayanan dialysis di kronik yang menjalani hemodialisis
Rumah Sakit yaitu pasal 22 dan 23 adalah gangguan tidur (Rosdiana,
Peraturan Menteri Kesehatan Republik 2010).
Indonesia ( PERMENKES RI) Nomor Gangguan tidur dialami oleh
138/MENKES/PB/II/2009 tahun 2009 sekitar 50 80 % pasien gagal ginjal
yang isinya pelayanan hemodialisis kronik yang menjalani hemodialisis
merupakan pelayanan proses pencucian (Sabry, 2010). Gangguan tidur yang
darah dengan menggunakan mesin cuci umum dialami diantaranya Restless
darah dan saranan hemodialisis Leg Syndrome (RLS), Sleep Apnoea
lainnya. Selain itu, dalam peraturan (SA), Excessive Daytime Sleepiness
Menteri Kesehatan Republik Indonesia (EDS), narkolepsi, tidur berjalan, dan
7

mimpi buruk, periodic limb movement terjadinya insomnia pada pasien


disorder, serta insomnia yang disebut hemodialisis, diantaranya adalah faktor
memiliki prevalensi paling tinggi pada demografi, faktor gaya hidup,faktor
populasi pasien dialysis. Prevalensi biologis, faktor psikologis, faktor
insomnia pada pasien hemodialisis dyalisis. Faktor demografi meliputi
berkiasar antara 45 69.1% (Sabry, jenis kelamin, status perkawinan,
2010). Prevalensi insomnia dalam pekerjaan, dan tingkat pendidikan serta
berbagai penelitian sangat bervariasi faktor gaya hidup meliputi kebiasaan
karena adanya perbedaan definisi, merokok dan konsumsi kopi. Faktor
diagnosis, karakteristik populasi, dan biologis meliputi adekuasi nutrisi,
metodologi penelitian. anemia, keseimbangan kalsium dan
Insomnia didefinisikan sebagai fosfat serta untuk faktor psikologis
sensasi subjektif dari tidur yang pendek yaitu kecemasan. Faktor dyalisis
dan tidak puas (Sabbatini, 2002), meliputi shift dialysis, lama waktu
sedangkan menurut International menjalani dialysis, dan adekuasi
Classification of Sleep Disorder dialysis dinilai dengan KT/V
(ICSD-2) insomnia adalah kesulitan (Rosdiana, 2010).
untuk memulai tidur, bangun terlalu Penanganan insomnia pada
dini, sering terbangun dengan kesulitan umumnya seperti terapi farmakologi
untuk tidur kembali dan mengalami dan nonfarmakologi. Terapi
konsekuensi di siang hari akibat farmakologi biasanya menggunakan
kesulitan tidur di malam hari obat-obatan tetapi dikarenakan pada
(American Sleep Disorder Association, pasien gagal ginjal kronik penggunaan
1997). obat harus diawasi dikarenakan
Sulitnya mempertahankan tidur berhubungan dengan terganggunya
dan tidak dapat tidur secukupnya fungsi ginjal makan alternatif lainnya
mengakibatkan seorang pasien adalah pada terapi nonfarmakologi
terbangun sebelum dia mendapatkan yang meliputi memberbaiki umpan
tidur yang cukup. Sehingga dapat balik biologis, hygine tidur, terapi
menyebabkan pasien mengalami kognitif dan teknik relaksasi (Potter &
beberapa konsekuensi, diantaranya rasa Perry, 2005).
kantuk di siang hari, persaan depresi, Relaksasi adalah salah satu
kurang energi, gangguan kognitif, teknik di dalam terapi perilaku yang
gangguan memori, lekas marah, pertama kali dikenal oleh Jacobson,
disfungsi psikomotor dan penurunan seorang psikolog dari Chicago yang
kewaspadaan serta konsentrasi mengembangkan metode fisiologis
(Szentkiralyi, et al, 2009). Pada melawan ketegangan dan kecemasan.
akhirnya, pasien gagal ginjal kronik Teknik ini disebut relaksasi yaitu
yang mengalami insomnia dan teknik untuk mengurangi ketegangan
menjalani hemodialisis akan otot. Jacobson berpendapat bahwa
menyebabkan penurunan kualitas semua bentuk ketegangan termasuk
hidup pasien, sehingga perlu dilakukan ketegangan mental didasarkan pada
manajemen yang tepat sesuai faktor kontraksi otot (Purwanto, 2007).
yang mempengaruhinya (Elder, et al, Menurut pandangan ilmiah relaksasi
2008). merupakan perpanjangan serabut otot
Berbagai faktor yang mungkin skeletal, sedangkan ketegangan
memiliki hubungan signifikan dengan merupakan kontraksi terhadap
8

perpindahan serabut otot. Salah satu meningkatkan sirkulasi darah,


teknik relaksasi adalah dengan mengendurkan otot-otot yang
melakukan massage. Relaksasi otot mengalami ketegangan, sekaligus
bertujuan untuk mengurangi merangsang otot yang lemah karena
ketegangan dan kecemasan dengan aktivitas sehingga dapat menjadikan
cara melemaskan otot-otot badan tubuh rileks yang bakan memberikan
dengan terapi relaksasi massage kenyamanan sebelum tidur sehingga
peredaran darah menjadi lancer, dan pasien gagal ginjal kronik yang
badan terasa lebih sehat (Dahono, mengalami insomnia akan memulai
2009). tidurnya lebih awal (Handoyo, 2008).
Berdasarkan studi pendahuluan Insomnia yang dialami pasien
yang dilakukan oleh peneliti di RS hemodialisis tersebut merupakan salah
PKU Muhammadiyah Yogyakarta satu masalah keperawatan yang perlu
tanggal 4 Januari 2016 diperoleh data ditangani secara akurat, karena itu
dari Kepala Unit Hemodialisis RS diperlukan peran perawat yang dapat
PKU Muhammadiyah I Yogyakarta mengelolah insomnia melalui
terdapat 155 pasien hemodialisis. pemberian intervensi pada asuhan
Kunjungan pasien rerata perhari keperawatan yaitu terapi relaksasi
mencapai 55 orang. Wawancara yang massage. Hasil dari studi pendahuluan
dilakukan oleh peneliti dalam studi jika ada sekitar 5 orang pasien yang
pendahuluan terhadap 15 pasien gagal sulit untuk tidur dilakukan massage
ginjal kronik yang sedang menjalani namum belum tepat karena keluarga
hemodialisis. Dari 15 pasien tersebut yang melakukan massage belum
didapatkan 12 pasien yang mengalami mendapatkan teori bagaimana
Insomnia. Didapatkan informasi bahwa melakukan massage yang tepat dan ada
3 pasien mengeluh mengalami 10 pasien yang belum pernah
gangguan tidur dimana sulit atau tidak dilakukan terapi relaksasi massage.
mampu memulai tidur. Terdapat 5 Berdasarkan latar belakang yang telah
pasien bangun lebih awal kemudian diuraikan, peneliti tertarik untuk
sulit untuk tidur kembali. Terdapat 4 melakukan penelitian lebih lanjut
pasien mengeluh jika gangguan tidur mengenai pengaruh terapi relaksasi
tersebut mengakibatkan mengalami massage terhadap perubahan skor
keletihan, tidak semangat untuk Insomnia pada pasien gagal ginjal
beraktivitas, mengantuk, pusing dan kronik yang menjalani hemodialisis di
merasa cemas karena kurang istirahat. RS PKU Muhammadiyah I
Kalau tidak segera diatasi maka akan Yogyakarta.
mengakibatkan penurunan kualitas B. Rumusan Masalah
hidup dan insomnia jangka panjang Apakah ada pengaruh antara
bahkan bisa mempengaruhi gaya hidup terapi relaksasi massage terhadap
dan emosi individu secara keseluruhan. perubahan skor insomnia pada pasien
Memberikan intervensi terapi gagal ginjal kronik yang menjalani
relaksasi massage menjelang tidur hemodialisis di RS PKU
malam akan memberikan manfaat bagi Muhammadiyah I Yogyakarta.
tubuh pasien gagal ginjal kronik yang C. Tujuan penelitian
mengalami insomnia. Ketika terapi Tujuan umum adalah
relaksasi massage dilakukan dapat diketahuinya pengaruh antara terapi
menekankan laju tekanan darah, relaksasi massage terhadap perubahan
9

skor insomnia pada pasien gagal ginjal HASIL DAN PEMBAHASAN


kronik yang menjalani hemodialisis di A. Hasil Penelitian
RS PKU Muhammadiyah I 1. Karakteristik Responden
Yogyakarta. Tujuan khusus adalah Berdasarkan hasil penelitian yang
diketahuinya skor insomnia sebelum telah dilakukan, maka didapatkan
dan sesudah dilakukan terapi relaksasi karakteristik responden.
massage, dan diketahuinya perbedaan
skor insomnia antara kelompok Table 1.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Gagal
eksperimen dan kelompok kontrol. Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis dengan
Insomnia
No Karakteristik F Presentase (%)
METODE PENELITIAN 1 Jenis Eksperimen Laki-Laki 3 15
Penelitian ini menggunakan desain Kelamin Perempuan 7 35
eksperimen semu (quasi experimental Kontrol Laki-Laki 5 25
Perempuan 5 25
design) dengan rancangan Nonequivalent Jumlah 20 100
Control Group Design. Populasi dalam 2 Usia Eksperimen 26-25 1 5
penelitian ini adalah seluruh pasien gagal 36-45 1 5
46-45 4 20
ginjal kronik yang di RS PKU 56-65 4 20
Muhammadiyah Unit I Yogyakarta
menjalani hemodialisis, pada bulan Kontrol 26-25 2 10
Januari 2016 yaitu sebanyak 155 36-45 3 15
46-45 3 15
responden. Pengambilan sampel dilakukan 56-65 2 20
secara non probability sampling dengan
purposive sampling yaitu mengambil Jumlah 20 100
sampel didasarkan atas ciri-ciri, sifat- sifat 3 Lama Eksperimen 12 1 5
atau karakteristik tertentu, yang merupakan HD 24 3 15
ciri-ciri pokok populasi (Arikunto, 2013). (Bulan) 36 2 10
50 1 5
Instrumen dalam penelitian ini 78 1 5
menggunakan kuesioner KSPBJ Insomnia 126 1 5
144 1 5
Rating Scale, dikembangkan oleh
Kelompok Studi Pusat Biologik Jakarta
(KSPBJ). Skala pengukuran insomnia ini
Kontrol 7 1 5
adalah interval yang tersusun dari 8 item 12 2 10
pertanyaan yang terdiri dari : lamanya 15 1 5
18 2 10
tidur, mimpi-mimpi, kualitas tidur, masuk 36 2 10
tidur, bangun malam hari, waktu untuk 47 1 5
48 1 5
tidur kembali setelah bangun malam hari, Jumlah 20 100
bangun dini hari dan perasaan segar Sumber :Data primer 2016
diwaktu bangun. Jumlah skor maksimal
Penelitian yang dilakukan
untuk ranting scale ini adalah 25.
menunjukkan jika berdasarkan
Seseorang dikatakan insomnia apabila
jenis kelamin pada pasien gagal
skornya 10. ginjal kronik dengan hemodialisis
Metode pengumpulan data yang mengalami insomnia lebih
dilakukan dengan cara melakukan pretest banyak laki-laki dari pada
dan posttest pada kelompok eskperimen perempuan yaitu 12:8. Dalam
dan kelompok kontrol setelah 1 minggu penelitian sebelumnya 45% dari
perlakuan. 311 jumlah pasien gagal ginjal
10

kronik yang mengalami insomnia dengan ginjal (Irianto, 2012). Hal


dimana 156 adalah laki-laki dan ini menyebabkan perubahan peran
155 adalah perempuan (Sabbatini, sehingga menyebabkan gangguan
2002). Laki-laki cenderung psikologis dengan efek yang timbul
melakukan lebih banyak aktivitas berupa insomnia (Videbeck, 2001).
dari pada wanita mengingat laki- Penelitian ini menunjukkan
laki adalah tulang punggung jika usia pada pasien gagal ginjal
keluarga sehingga oto-otot pada kronik dengan hemodialisis yang
laki-laki akan lebih sering mengalami insomnia terbanyak
mengalami kelelahan. adalah pada usia 46 sampai 65
Kelelahan otot merupakan yaitu berjumlah 13 orang
mekanisme pertahanan yang sedangkan 8 orang lainnya berumur
melindungi otot agar otot tidak 26 sampai 45. Berdasarkan
mencapai titik ketika ATP penelitian yang dilakukan oleh
(adenosine trifosfat) tidak lagi Merlino (2006) jika usia
dapat diprodukasi (Sherwood, merupakan prediktor independen
2014). Ketika otot banyak terhadap insomnia pada pasien
digunakan untuk aktvitas maka gagal ginjal kronik yang menjalani
akan terjadi timbunan asam laktat hemodialisis. Gangguan tidur pada
di dalam oto yang menyebabkan pasien gagal ginjal kronik yang
rasa letih (Irianto, 2012). Rasa letih menjalani hemodialisis signifikan
yang ditimbulkan akan terhadap semakin tua usia pasien
menyebabkan pasien gagal ginjal gagal ginjal kronik maka semakin
kronis mengalami insomnia dimana beresiko untuk terjadinya insomnia.
karena tubuh terasa tidak nyaman Fisiologis dan homeostasis
dan mengganggu dikarenakan tubuh manusia akan semakin
tubuh terasa pegal-pegal. mengalami kemunduran.
Pasien laki-laki dari Pertumbuhan sel-sel yang rusak
penyakit gagal ginjal kronik akan terjadi lebih banyak
memiliki komplikasi berupa dibandingkan sel-sel baru.
disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi Diperburuk dengan kondisi pasien
adalah ketidakmampuan seorang gagal ginjal kronik yang menjalani
laki-laki untuk mencapai atau hemodialisis yang termasuk dalam
memeprtahankan ereksi yang penyakit terminal. Produksi
diperlukan untuk melakukan hormon melatonin akan semakin
hubungan seksual dengan berkurang seiring bertambahnya
pasangannya. Diakibatkan oleh usia manusia. Hormone melatonin
gangguan siste endokrin yang akan mengalami penurunan pada
memeproduksi hormon testosteron saat pubertas.
untuk merangsang hasrat seksual. Hormon melatonin adalah
Secara emosional disebabkan oleh hormon yang berfungsi untuk
penderita gagal ginjal kronik menyesuaikan irama biologis tubuh
menderita perubahan emosi yang dengan petunjuk ekternal, bekerja
menguras energy (Rosdiana, 2010). sebagai antioksidan untuk radikal
Namun penyebab utama nya adalah bebas dan meningkatkan imunitas.
suplai darah yang tidak cukup ke Hormon melatonin diproduksi oleh
penis yang berhubungan langsung kelenjar pineal. Melatonin adalah
11

hormone kegelapan dimana sekresi Sesuai dengan penelitian


akan meningkat hingga 10 kali lipat yang dilakukan oleh Sabbatini
selama malam hari kemudian turun (2002) resiko tinggi untuk terjadi
ke kadar rendah selama siang hari insomnia pada pasien gagal ginjal
sehingga memungkinkan manusia kronik yang menjalani hemodialisis
untuk tidur lebih lama pada malam adalah pasien dengan lama
hari (Sherwood, 2014). hemodialisis > 12 bulan. Kejadian
Penelitian ini menujukkan insomnia pada pasien gagal ginjal
pasien gagal ginjal kronik yang kronik terjadi pada responden yang
menjalani hemodialisis mengalami sudah lama menjalani hemodialisis
insomnia 36 berjumlah 14 orang dimana rata-rata pasien dengan
dan >36 bulan berjumlah 6 orang. lama dyalisis 7 bulan dimana
Responden dalam penelitian ini ketika semakin lama menjalani
dengan waktu terpendek adalah 7 hemodialisis makan pasien gagal
bulan dan terpanjang adalah 144 ginjal konik tersebut akan semakin
bulan. Responden pada kelompok beresiko tinggi terhadap insomnia
eksperimen yang memiliki skor (Rosdiana, 2010).
insomnia tertinggi pada postest
adalah responden yang menjalani Tabel 2.2
Hasil Pretest dan Posttest Pada Kelompok
hemodialisis dengan jangka waktu Eksperimen dan Kelompok Kontrol
144 bulan dengan skor 18, 126 Jenis No Nilai Selisi
bulan dengan skor 19, 78 bulan Kelo s
dengan skor 22 dan 50 bulan mpok Pr Keterangan Pos Keterangan
dengan skor 16. Setelah ete test
dilakukan terapi relaksasi st
Kelo 1 13 Insomnia 6 Tidak Insomnia +7
massage dan dilakukan postest mpok 2 19 Insomnia 17 Insomnia +2
maka responden yang memiliki erime Eskp 3 18 Insomnia 15 Insomnia +3
4 16 Insomnia 7 Tidak Insomnia +9
waktu hemodialisis 144 bulan n 5 16 Insomnia 12 Insomnia +2
dengan skor 15, 126 bulan 6 13 Insomnia 5 Tidak Insomnia +8
7 22 Insomnia 5 Tidak Insomnia +17
dengan skor 17 dan 50 bulan 8 15 Insomnia 5 Tidak Insomnia +10
dengan skor 12. 9 17 Insomnia 10 Insomnia +7
10 11 Insomnia 5 Tidak Insomnia +6
Responden pada
kelompok esperimen dengan
lama hemodialisis rata-rata 12
bulan sampai 36 bulan memiliki Kelo 1 13 Insomnia 13 Insomnia 0
skor insomnia sebanyak 11 mpok 2 14 Insomnia 15 Insomnia -1
Kontr 3 18 Insomnia 19 Insomnia -1
sampai 16. Namun ketika ol 4 10 Insomnia 10 Insomnia 0
diberikan intervensi terapi 5 12 Insomnia 13 Insomnia -1
6 18 Insomnia 18 Insomnia 0
relaksasi massage skor 7 17 Insomnia 19 Insomnia -2
insomnia cenderung berkurang 8 13 Insomnia 13 Insomnia 0
9 12 Insomnia 15 Insomnia -3
secara signifikan yaitu 6 sampai 10 12 Insomnia 17 Insomnia -5
7. Artinya jika semakin lama
menjalani hemodialisis maka skor Berdasarkan Tabel 2.2 diketahui
insomnia nya semakin tinggi dan bahwa hasil pretes pada kedua
ketika diberikan terapi relaksasi kelompok terlihat mengalami
massage skor insomnia menurun. insomnia dengan skor > 9 . Setelah
12

dilakukan intervensi pada dan kelompok kontrol yang tidak


kelompok eksperimen kemudian diberikan terepi relaksasi massage.
dilakukan postes pada kedua
SIMPULAN DAN SARAN
kelompok tedapat perubahan hasi
A. Simpulan
postes yaitu pada kelompok Berdasarkan hasil penelitian
eksperimen yang mendapatkan yang dilakukan di RS PKU
Terapi relaksasi massage terdapat Muhammadiyah I Yogyakarta
perubahan skor yaitu berupa maka dapat disimpulkan bahwa
penurunan skor insomnia dimana terapi relaksasi massage sebelum
skor 0-9 dikatakan tidak insomnia tidur berpengaruh positif terhadap
penurunan skor insomnia dimana
sebanyak 6 orang (60%) dan skor >
artinya adalah jika terapi relaksasi
9 yang dikatakan masih insomnia massage efektif terhadap
sebanyak 4 orang (40%). penurunan skor insomnia pada
Sedangkan pada kelompok kontrol pasien gagal ginjal kronik yang
terjadi perubahan skor yaitu terjadi menjalani hemodialisis.
kenaikan pada skor insomnia B. Saran
sebanyak 6 orang (60%) dan skor Dapat digunakan oleh
pasien gagal ginjal kronik yang
tetap sebanyak 4 orang (40%).
menjalani hemodialisis dengan
Untuk mengetahui insomnia sebagai terapi alternatif
perbandingan antara pre dan pos nonfarmakologi untuk mengobati
test pada kelompok eksperimen insomnia. Perawat dapat
setelah dilakukan intervensi terapi menggunakan sebagai bahan untuk
relaksasi massage menggunakan uji edukasi kepada pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis
statistik parametrik paired t-test
dengan insomnia agar dapat
didapatkan hasil p=0,000 (p< 0,05), menerapkan terapi relaksasi
sehingga Ha diterima dan Ho massage secara berkala dirumah.
ditolak artinya Maka dapat
diartikan bahwa terdapat efektivitas DAFTAR PUSTAKA
terapi relaksasi massage terhadap Al-Jahdali, H, Khogeer, H.A., Al-Qadhi,
insomnia pada pasien gagal ginjal W.A., et al. (2010) Insomnia in
yang menjalani hemodialisis. Cronic Renal Patients on Dialysis
Untuk mengetahui in Saudi Arabia. Journal of
perbandingan antara kelompok Circadian Rhythms.
eksperimen dan kelompok kontrol 8:7doi:10.1186/1740-3391-8-7.
maka digunakan uji statistik Alviani, Puput. (2015). Pijat Refleksi, Pijat
parametrik independent t-test Tepat, Tubuh Sehat. Yogyakarta :
didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05), Pustaka Baru Press.
sehingga Ha diterima dan Ho
ditolak artinya terdapat perbedaan Ardiansyah.M (2012). Medikal Bedah
yang bermakna secara statistika Untuk Mahasiswa. Edisi 1. Diva
antara kelompok eksperimen yang Press Anggota IKAPI. Yogyakarta.
diberikan terapi relaksasi massage
13

Association, A.A.S.D (1997): NKUDIC. (2010). Kidney and Urologic


International Classification of Disease Statistics for the United
Sleep Disorder. Revised: States.
Diagnostic and Coding Manuals. http://kidney.niddk.nih.goy/kudisea
American Sleep Disorder seses/pubs/kustats/.
Association. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Cahyaningsih, N. 2008. Hemodialisis: Indonesia nomor
Panduan Praktis Perawatan Gagal 138/MENKES/PER/VII/2010
Ginjal. Mitra Cedekia Jogjakarta: tentang pelayanan hemodialisis
Yogyakarta. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Dahono. Manfaat Pijat, Pengobatan Indonesia nomor
Penyakit & Alternatif. 812/MENKES/PER/VII/2010 pasal
http://www.rileks.com/lifestyle/tren 1 ayat 3 tentang terapi penganti
dz/healthy-life/27570-manfaat- ginjal
terapi-pijat-bagi-segala-jenis- Pernefri (2003). Konsensus Dialisis
umur.html. Diakses tanggal 13 Perhimpunan Nefrologi Indonesia.
Desember 2015. Jakarta
Elder, S.J., Pisoni, R.L., Akizawa, T., Potter & Perry.(2005).Buku ajar
Fissell, R., et al. (2008) Sleep fundamental keperawatan: konsep,
Quality Predict Quality of Life and proses, dan praktik Volume 1 dan
Mortality risk in Hemodialysis 2.Jakarta:EGC
Patient; Results from the Dialysis Riskesdas. 2013. Laporan Nasional Badan
Outcomes and Practice Patterns Penelitian dan Pengembangan
Study (DOPPS). Nephrol Dial Kesehatan Departemen Kesehatan
Transplant; 23(3);998-1004 diakses tanggal 15 November 2015.
Firmansyah, M. A. 2010. Usaha Rosdiana (2010) Analisis faktor yang
Memperlambat Perburukan Berhubungan dengan Kejadian
Penyakit Ginjal Kronik ke Penyakit Insomnia pada Pasien Gagal
Stadium Akhir. CDK: Jakarta. Ginjal Kronik yang menjalani
Handoyo. Manfaat Pijat Relaksasi. Hemdialisis di Rumah Sakit Umum
http://www.medisiana.com/viewtop Daerah Kota Tasikmalaya dan
ic. Diakses tanggal 2 Desember Garut. Program Pasca sarjana
2015 Fakultas Ilmu Keperawatan
Irianto, Koes (2012). Anatomi dan Universitas Indonesia. Karya Tulis
Fisiologi. Bandung: Alfabeta Ilmia. Di Publikasikan
Kallenbach, J.Z., Gutch, C.F., Stoner, Rustina, (2012). Gambaran Tingkat Depresi
M.H., Corea, A.L. (2005) Review Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik
of Hemodilysis for Nurse and Yang Menjalani Hemodialisis Di Rsud
Dialysis Personel. St. Lous Dr. Soedarso Pontianak Tahun 2012.
Missouri : Mosby Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas
Mollaoglu, M (2009). Perceive Social Tanjungpura Pontianak 2012. Karya
Support, Anxiety, and Self-Care Tulis Ilmiah. Di Publikasikan
Among Patients Receiving Sabbatini, M., Minale, B., Crispo, A., et al
Hemodialysis. Clinical Perspective. (2002) Insomnia in Maintenance
Dyalisis & Transplantation. Hemodialysis Patiens. Nephrology
http://www. Interscience.wiley.com
14

Dialysis Transplantation 17: 852- Disorders; Impact on Daytime


856 Functioning and Quality of Life.
Sabry, A.A., Zenah, H.A., Wafa, E., Res; 9(1): 49-64
Mahmoud, K., et al (2010). Sleep Thomas, N (2002). Renal Nursing (2nd
Disorders in Hemodialysis Edition). London United Kingdom:
Patients, Study Journal of Kidney Elsevier Science
Disease and Transplantion. Vol. 21 Verelli, M. 2006. Chronic Renal Failure
(2): 300-305 dalam http://www.emedicine.com.
Sahid, Anggi Uraini (2012). Hubungan diakses tanggal 15 November 2015.
Lama Diabetes Melitus dengan Videback, Sheila L (2001). Buku Ajar
Terjadinya Gagal Ginjal Terminal Keperawatan Jiwa. EGC: Jakarta
di Rumah Sakit Dr. Moewardi
Surakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Naska Publikasi
Sherwood, Lauralee (2014). Fisiologis
Manusia: dari Sel ke Sistem. Alih
bahasa, Brahm U. Pendit ; editor
edisi bahasa Indonesia, Herman
Octavius Ong, Albertus Agung
Mahode, Dian Ramadhani. Edisi:8.
Jakarta: EGC
Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Buku Ajar
Ilmu penyakit Dalam. Edisi 4, Jilid
1. Jakarta : Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI.
Szentkiralyi, A., Madarasz, C.Z., and
Novak., M (2009) Sleep