Anda di halaman 1dari 30

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usahatani adalah Pengorganisasian dari alam,Tenaga Kerja,Modal, yang

ditujukan pada produksi dibidang pertanian.Tenaga keja adalah salah satu unsur

penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung musim. Kelangkaan

tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh

padapertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.Tenaga kerja

merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga (family farms), khususnya

tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga petani yang

umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja

keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat di selesikan oleh tenaga kerja

keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar, yang berarti

menghemat biaya.sepenuhnya dapat di atasi dengan teknologi yang menghemat

tenaga (Teknologi mekanis). Hal ini dikarenakan selain mahal, juga ada hal-hal

tertentu yang memang tenaga kerja manusia yang tidak dapat digantikan.

Kegiatan produksi membutuhkan input-input yang disebut faktor produksi.

Meskipun tidak terdapat kesepakatan baku, tetapi faktor produksi biasanya terdiri

atas alam, modal, tenaga kerja dan kewirausahaan. Permasalahan pokok dalam

faktor produksi ini adalah: (1) bagaimana hubungan antar satu faktor produksi

1
dengan lainnya, termasuk menentukan apa yang lebih penting dan yang lebih

dahulu berperan dalam produksi, dan (2) bagaimana menentukan harga, yaitu

harga faktor produksi itu sendiri maupun kaitan antara faktor produksi dengan

harga output.

Bagian awal pada bab ini menyajikan prinsip dasar alokasi sumber daya

ekonomi untuk mewujudkan kegiatan produksi yang sesuai dengan ajaran Islam.

Selanjutnya dibahas masalah klasifikasi faktor produksi, baik dalam perspektif

ekonomi konvensional maupun perspektif para ekonom muslim. Bab ini juga

menyajikan kritik terhadap pendekatan produk marjinal yang biasa digunakan

sebagai pedoman pengelolaan faktor produksi dalam ekonomi konvensional. Pada

bagian akhir dibahas prinsip-prinsip penentuan harga faktor produksi. Prinsip

keadilan dan pertimbangan terhadap scarcity merupakan pedoman dasar dalam

factor pricing ini. Ketika kita membahas contoh pembuatan mobil, pesawat

terbang, dan senjata nuklir pada bagian pendahuluan, kita ketahui bahwa ketiga

barang tersebut memerlukan bahan-bahan berupa komponen, suku cadang, serta

tenaga ahli untuk mewujudkannya. Komponen, suku cadang dan tenaga ahli

adalah bagian dari faktor produksi. Seorang dokter ingin berpraktik pun perlu

memiliki ruangan, kursi, tempat tidur pasien, peralatan kedokteran, serta tenaga

asisten. Semua yang diperlukan dokter itupun termasuk kedalam faktor produksi.

Jelas bahwa kegiatan produksi dapat berlangsung jika tersedia faktor-faktor

produksi.

2
Indonesia yang merupakan negara agraris sebagian besar penduduknya

yang hidup di pedesaan bermata pencaharian sebagai petani. Pada mumnya

mereka memiliki keinginan untuk meningkatkan produksi pertaniannya tetapi

karena banyak masalah yang dihadapinya sehingga sulit untuk mencapai apa yang

diinginkannya. Masalah sempitnya lahan usahatani di Indonesia umumnya

melanda kalangan petani yang menjadi penyebab semakin menjalarnya

kemiskinan pada golongan petani kecil.Indonesia juga merupakan negara

pengimpor beras terbesar di dunia. Pada tahun 1986 Indonesia telah mampu

menjadi negara yang berswasembada pangan karena telah berhasil dalam

penemuan dan pemakaian bibit unggul. Namun demikian, produksi pertanian

Indonesia dari tahun ke tahun justru semakin manurun disebabkan oleh beberapa

faktor yang disebabkan penurunan ini diantaranya banyaknya terjadi alih fungsi

lahan yaitu lahan pertanian yang memiliki potensi produktivitas yang tinggi dialih

fungsikan kesektor pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan hidup apalagi

dengan adanya peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang

mendorong reklamasi pertanian yang baru dengan memanfaatkan lahan pertanian

yang telah berkurang maka usaha swasembada pangan akan mengalami

kemerosotan.

Program pembangunan pertanian terutama bidang kecukupan dan

ketahanan pangan yang telah lama dilaksanakan di Indonesia sampai sekarang

3
masih sangat memprihatinkan. Kondisi pertanian pangan di Indonesia baik secara

kuantitas maupun kualitas ternyata belum mampu mencukupi kebutuhan pangan

sendiri bahkan akhir-akhir ini kita cenderung semakin tergantung pada impor

produk pangan dari luar negeri. Hasil yang diperoleh dari kinerja ekspor produk-

produk pertanian juga dinilai belum menggembirakan. Laju peningkatan impor

produk-produk pertanian cenderung lebih besar daripada laju peningkatan ekspor

sehingga semakin menyulitkan posisi Indonesia dalam era pasar global yang

penuh dengan persaingan. Sektor pertanian berperan penting terhadap

perekonomian nasional, sumbangannya terhadap pendapatan devisa negara di luar

minyak dan gas bumi serta dalam perekonomian rakyat tidak bisa di abaikan.

Sejalan dengan hal ini, kondisi pertanian yang mempunyai nilai ekonomi yang

tinggi dan memiliki pasar yang luas akan mendapat prioritas utama dalam

pengembangannya. Dengan demikian, penemuan terhadap kebutuhan pangan,

bahan baku industri, peningkatan lapangan kerja, peningkatan kesempatan

berusaha dan peningkatan ekspor komoditi pertanian diharapkan dapat terjamin

dan berkesinambungan.

Pertanian akan menjadi kekuatan besar jika dikelola dapat secara terpadu

dalam satu kesatuan sistem agribisnis. Membangun sistem dan usaha agribisnis

yang kokoh berarti pula membangun pertumbuhan sekaligus pemerataan sehingga

terjadi keseimbangan antar sektor. Ini juga berarti menciptakan meaningful

employment yaitu di luar sektor pertanian, sehingga beban pertanian yang terlalu

berat menampung tenaga kerja dapat teratasi.

4
5

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu tenaga kerja produksi?

2. Bagaimana karakter ristik tenaga kerja dalam usahatani?

3. Apa perbedaan tenaga kerja keluarga dan luar kelarga usahatani?

C. Tujuan penulisan

1. Untuk mengetahui tenaga kerja produksi

2. Untuk mengetahui karakteristik tenaga kerja produksi

3.Untuk mengetahui tenaga kerja keluarga dan luar keluarga ushatani


II. KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka

Kemajuan pertanian Indonesia telah dicapai melalui berbagai

kebijaksanaan, salah satunya adalah diversifikasi. Diversifikasi merupakan

kebijaksanaan yang terarah dari pemerintah, tetapi biasanya justru merupakan

tindakan spontan oleh petani sendiri dalam upaya menaikan atau mengurangi

resiko/kegagalan usahatani. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan dalam suatu

usahatani tanaman yang diusahakan tidaklah terbatas pada satu jenis tanaman

melainkan dapat terdiri dari berbagai macam tanaman pada satu macam tanaman

tertentu, tetapi begitu pula ternak yang dikombinasikan antara tanaman ternak

maupun pemeliharaan ikan.

1. Ilmu Usaha Tani.


Usahatani menurut Mosher (1985) adalah sebagai suatu tempat atau bagian

dipermukaan bumi dimana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu

apakah ia seorang pemilik, penyakap atau manajer yspang digaji. Usahatani

adalah himpunan sumber-sumber alam yang terdapat ditempat itu yang diperlukan

untuk produksi pertanian seperti: tubuh tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang

telah dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang di dirikan

di atas dan sebagainya. (Mubyarto, 1994).

6
2. Tenaga Kerja sebagai faktor produksi
Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung

maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga

kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi

tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh

tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan

kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya. Berdasarkan

kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja

terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih.

III. PEMBAHASAN
1. Tenaga kerja produksi

Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung

maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga

kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Tenaga keja adalah salah

satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung musim.

Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh

padapertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.Tenaga kerja

merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga (family farms), khususnya

tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga petani yang

umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja

keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat di selesikan oleh tenaga kerja

keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar, yang berarti

menghemat biaya.Berikut faktor-faktor produksi .

1. Faktor Produksi Alam

Alam merupakan salah atau faktor produksi yang sangat penting, bahkan

bersamaan dengan tenaga kerja seringkali dianggap paling penting. Alam telah

memberikan banyak faktor produksi, misalnya tanah dan segala zat yang ada

didalamnya maupun di permukaannya, udara dan segala yang ada di angkasa, dan

lain-lain.Tidaklah mengherankan kalau tokoh pemikir Barat pada abad ke 17, Sir
William Pretty, mengatakan bahwa tanah adalah ibu dari produksi, sementara

tenaga kerja adalah ayahnya (Samuelson, 1989, h. 235). Alam telah menyediakan

berbagai jenis barang atau zat yang secara langsung dapat dikonsumsi atau

kemudian diproses dalam produksi sebagai bahan baku.

Pada dasarnya alam merupakan faktor produksi yang bersifat asli, sebab

merupakan anugerah Allah yang secara alamiah diberikan kepada manusia. Ia ada

bukan karena dibuat oleh manusia, tetapi manusia sekedar mengeksplorasinya.

Alam juga merupakan faktor produksi asal, sebab dari alamlah kemudian segala

jenis kegiatan produksi berlangsung.

1. Tanah

Tanah antara lain digunakan untuk lahan pertanian, perkebunan, medirikan

pabrik atau perkantoran, jalan raya, dan keperluan lainnya. Tanah ada juga yang

9
digunakan sebagai bahan baku pembuatan benda tertentu. Misalnya, tanah dapat

digunakan sebagai bahan baku pabrik batu bata dan genteng.

2. Air

Air merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi umat

manusia. Selain untuk minum, mandi, atau memasak, air juga digunakan sebagai

alat pembangkit tenaga listrik, sebagai sarana angkutan air, dan usaha perikanan.

3. Sinar Matahari

Sinar matahari dibutuhkan untuk keberlangsungan tumbuh-tumbuhan dan

kehidupan manusia. Selain itu, sinar matahari juga digunakan sebagai sumber

tenaga listrik.

4. Udara

Udara digunakan untuk kincir angin, penyegar ruangan, sarana

perhubungan udara, dan menunjang kesuburan tanah.

5. Barang Tambang

Barang tambang seperti minyak, batubara, emas, intan, mineral, dan

barang tambang lainnya sangat berguna bagi kehidupan manusia.

10
2. Faktor Produksi Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung

maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga

kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi

tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh

tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan

kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.

1. Tenaga Kerja Menurut Kualitas Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Terdidik

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan

tertentu sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur,

akuntan, dan ahli hokum.

Tenaga Kerja Terampil

Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau

latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya.

Misalnya tukang listrik, montir, tukang las, dan sopir.

Tenaga Kerja Tidak Terdidik Dan Tidak Terlatih

Sementara itu, tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga

kerja yang tidak membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan

12
pekerjaannya. Misalnya tukang sapu, pemulung, dan lain-lain.

2. Tenaga Kerja Menurut Sifat Kerja

Tenaga Kerja Rohani

Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa,

dan karsa. Misalnya guru, editor, konsultan, dan pengacara.

Tenaga Kerja Jasmani

Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang

menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi. Misalnya tukang las,

pengayuh becak, dan sopir.

3. Faktor Produksi Modal

Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang

dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dapat digolongkan

berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan.

sifatnya.

1. Pembagian Modal Atas Dasar Sumber

Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri.

Misalnya setoran dari pemilik perusahaan.

13
2. Pembagian Modal Atas Dasar Bentuk

Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses

produksi. Misalnya mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan yang

dimaksud dengan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata,

tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak

merek.

3. Pembagian Modal Atas Dasar Pemilikan

Modal Individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya

menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contohnya adalah rumah pribadi

yang disewakan atau bunga tabungan di bank.

Sedangkan yang dimaksud dengan modal masyarakat adalah modal yang

dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses

produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan,

atau pelabuhan.

4. Pembagian Modal Menurut Sifat

Modal tetap adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang.

Misalnya mesin-mesin dan bangunan pabrik.

Sementara itu, yang dimaksud dengan modal lancar adalah modal yang habus

digunakan dalam satu kali proses produksi. Misalnya, bahan-bahan baku.

14
5. Faktor Produksi Keahlian

Faktor produksi terakhir yang tidak kalah penting adalah keahlian (skill)

atau faktor produksi kewirausahaan (entrepreneurship). Sebanyak dan sebagus

apapun faktor produksi alam, tenaga kerja dan modal yang dipergunakan dalam

proses produksi, jika dikelola dengan tidak baik, hasilnya tidak akan maksimal.

Jadi, faktor produksi keahlian adalah keahlian atau keterampilan yang digunakan

seseorang dalam mengkoordinir faktor-faktor produk untuk menghasilkan barang

dan jasa. Dari uraian sebelumnya kita dapat melihat bahwa benda produksi

merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor produksi.

Dari penggabungan berbagai faktor produksi yang biasa disebut juga sebagai

masukan (input), dihasilkan hasil produksi yang disebut keluaran (output). Kita

ambil contoh sekarung tepung. Tepung merupakan bahan baku yang manfaatnya

baru terasa bila telah diubah menjadi roti, usaha pembuatan tepung menjadi roti

merupakan kegiatan produksi. Tapi, tidaklah mudah mengubah bahan baku mejadi

barang siap konsumsi untuk dapat melakukan kegiatan produksi seorang produsen

membutuhkan faktor-faktor produksi.

Klasifikasi Faktor Produksi

Sebelumnya telas dijelaskan bahwa faktor produksi terdiri dari faktor

produksi alam, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan. Tetapi untuk tujuan

analisis proses produksi, faktor produksi (input) dapat dibedakan atas faktor

produksi tetap dan faktor produksi variabel. Faktor produksi tetap adalah faktor

produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya dalam waktu tertentu. Faktor

15
produksi ini dapat diubah, tetapi dengan biaya sangat besar dan biasanya dalam

jangka panjang. Contohnya gedung, mesin, dan kenderaan. Faktor produksi

variabel adalah faktor produksi yang dapat di ubah dengan cepat dalam jangka

yang pendek. Contohnya adalah tenaga kerja dan bahan baku.

Pada dasarnya tidak ada sebuah kesepakatan yang bulat tentang klasifikasi

faktor produksi, baik di kalangan ekonom konvensional maupun ahli ekonom

Islam. Perbedaan klasifikasi faktor produksi ini dilatarbelakangi oleh banyak

faktor, misalnya ketidaksamaan tentang definisi, karakteristik, maupun peran dari

masing-masing faktor produksi dalam menghasilkan output. Menurut Al Junaid

(1992, p.261) perbedaan ini juga timbul karena adanya perbedaan elastisitas

dalam penawaran faktor produksi, karakter intrinsiknya, serta bentuk harga atau

biaya atas suatu faktor produksi.

16
2. Karakteristik Tenaga Kerja Dalam Usaha Tani

A.Karakteristik Tenaga Kerja dalam Usahatani

Tenaga kerja dalam usaha tani memiliki karakteristik yang sangat berbeda

dengan tenaga kerja dalam bidang usaha lain yang bukan pertanian. Karakteristik

tenaga kerja bidang usahatani menurut Tohir (1983) adalah sebagai berikut.

1) Keperluan akan tenaga kerja alam usaha tani tidak kontinyu dan tidak

merata.
2) Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas.
3) Tidak mudah distandarkan, dirasionalkan, dan dispesialisasikan.
4) Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu

sama lain.

Karakteristik seperti yang dikemukakan oleh Tohir (1983) akan memerlukan

sistem-sistem menjerial tertentu yang harus dipahami sebagai usaha peningkatan

usahatani itu sendiri. Selama ini khususnya di Indonesia, sistem menejerial usaha

tani biasanya masih sangat sederhana.

17

3. Tenaga Kerja Keluarga dan Luar Keluarga


A.Tenaga Kerja Keluarga dan Luar Negeri

Peranan anggota keluarga yang lain adalah sebagai tenaga kerja di

samping juga tenaga luar yang diupah. Banyak sedikitnya tenaga kerja yang

dibutuhkan dalam usahatani berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman yang

diusahakan. Banyak sedikitnya tenag luar yang dipergunakan tergantug pada dana

yang tersedia untuk membiayai tenaga luar tersebut.

Ada beberapa hal yang membedakan antara tenaga kerja keluarga dan

tenaga kerja luar atara lain adalah komposisi menurut umur, jenis kelamin,

kualitas, dan kegiatan kerja (prestasi kerja). Kegiatan kerja tenaga luar sangat

dipengaruhi sistem upah, lamanya waktu kerja, kehidupan sehari-hari, kecakapan,

dan umur tenaga kerja.

1. Sistem upah

Sistem upah dibedakan menjadi 3 yaitu upah borongan, upah waktu, dan

upah premi. Masing-masing sistem tersebut akan mempengaruhi prestasi seorang

tenaga luar.

a) Upah borongan adalah upah yang diberikan sesuai dengan perjanjian antara

pemberi kerja dengan pekerja tanpa memperhatikan lamanya waktu kerja. Upah

borongan ini cederug membuat para pekerja untuk secepatya menyelesaikan

pekerjaanya agar segera dapat mengerjakan pekerjaan borongan lainya.

18
Contohnya borongan menggarap lahan sawah sebesar Rp. 150.000 per petak

sawah .

b) Upah waktu adalah upah yang diberikan berdasarkan lamanya waktu kerja.

Sistem upah waktu kerja ini cenderung membuat pekerja untuk memperlama

waktu kerja dengan harapan mendapat upah yang semakin besar. Contohnya upah

pekerja untuk menggarap sawah sebesar Rp. 25.000/HKO. Jika dia bekerja selam

lima hari maka upah yang diterima sebesar Rp. 125.000.

c) Upah premi adalah upah yang diberikan dengan memperhatikan

produktivitas dan prestasi kerja. Sebagai contoh, dalam satu hari pekerja

diharuskan menyelesaikan 10 unit pekerjaan. Jika dia bisa menyelesaikan lebih

dari 10 unit maka dia akan mendapatkan upah tambahan. Sistem upah premi

cenderung meningkatkan produksivitas pekerja.

2. Lamanya waktu kerja

Lamanya waktu kerja seseorang dipengaruhi oleh seseorang tersebut.

Seseorang yang tidak dalam keadaan cacat atau sakit secara normal mempunyai

kemampuan untuk bekerja. Selain itu, juga dipengaruhi oleh keadaan iklim suatu

tempat tertentu. Misalnya, wilayah tropis seperti Indonesia, untuk melakukan

aktivitas lapangan seperti petani tidak dapat bertahan lama karena cuaca panas.

3. Kehidupan seharihari

Kehidupan sehari-hari seorang tenaga kerja dapat dilihat pada keadaan

makanan/ menu dan gizi, perumahan, kesehatan, serta keadaan lingkunganya. Jika

19
keadaanya jelek dan tidak memenuhi persyaratan maka akan berpegaruh negatif

terhadap kinerja.

4. Kecakapan

Kecakapan seseorang menentukan kinerja seseorang, seseorang yang lebih

cakap tentu saja prestasinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang kurang

cakap, kecakapan ditentukan oleh pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman.

B. Umur tenaga kerja

Umur seorang menentukan prestasi kerja atau kinerja seorang tersebut.

Semakin berat pekerjaan secara fisik maka semakin tua tenaga kerja akan semakin

turun pula prastasi tenaga kerjanya. Namun dalam beberapa hal tanggung jawab

semakin tua umur tenaga kerja tidak akan berpengaruh karena justru semakin

berpengalaman. Semantara itu untuk tenaga kerja keluarga karena tidak diupah,

tingginya prestasi kerja dipengaruhi oleh yang paling utama yaitu besarnya

kebutuhan keluarga disamping faktor-faktor yang lain.

Besarnya prestasi kerja tenaga kelurga dipengaruhi oleh perbandingan

antara besarnya konsumen dalam keluarga dalam keluarga dengan jumlah tenaga

kerja yang tersedia. Hal tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut.

Dimana:

K = kegiatan/ prestasi kerja

P = konsumen/ pemakai

T = tenaga kerja
20

Jika semakin tinggi P (kebutuhan kelurga) dengan T (tenaga kerja) tetap

maka keluarga tersebut harus bekerja lebih lama (K naik). Dalam kenyataan

(seperti terlihat dalam tabel 3.1) dengan adanya pertambahan tenaga kerja

keluarga, jumlah jam keluarga yang dicurahkan untuk bekerja justru menunjukkan

penurunan (kolom 5). Kecenderungan ini disebabkan keputusan keluarga untuk

bekerja, ditentukan oleh besarnya kebutuhan keluarga (kolom 6). Begitu jumlah

kebutuhan terpenuhi (ekuivalen 21 jam/ hari), meskipun dalam keluarga terjadi

pertambahan persediaan tenaga kerja (pada saat umur perkawinan 15 tahun),

jumlah tenaga per keluarga yang dicurahkan untuk bekerja besarnya

tetap.Dipandang dari segi kebijaksanaan makan dengan mendorong naik

kebutuhan keluarga diharapkan petani akan bersedia untuk bekerja lebih lama

sehingga tidak saja pendapatan keluarga akan meningkat tetapi juga produksi

secara keseluruhan akan naik.

Kebutuhan keluarga ekuivalen dengan 21 jam/hari/keluarga. Jika telah

terpenuhi makan lamanya kegiatan kerja akan menurun. Tambahan tenaga kerja

keluarga seharusnya disalurkan untuk intensifikasi maupun kegiatan-kegiatan

yang tidak berhubungan dengan pertanian (off farm activities) bila lahan

usahataninya terbatas. Dengan demikian, total pendapatan yang diperoleh

keluarga akan lebih tinggi daripada keadaan semula. Pada kenyataaan yang terjadi

di Indonesia, para petani tidak mempertahankan jam kerja yang tinggi. Semakin

banyak tenaga kerja keluarga semakin kecil jam kerja per tenaga per hati padahal

sebetulnya mampu lebih dari itu.


21

Dengan demikian maka timbul adanya pengangguran yang tidak kentara

(disquised unemployment).

TABEL 3.1. HUBUNGAN ANTARA JUMLAH KONSUMEN, TENAGA

KERJA, DENGAN KEGIATAN KERJA KELUARGA PETANI

No. Umur (th) P T K Lamanya Bekerja Lamanya Bekerja

(jam/hari/tenaga) (jam/hari/keluarga)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 0 2 2 1 3 6

2 3 3 2 1,50 4,5 9

3 6 4 2 2 6 12

4 9 5 2 2,50 7,5 15

5 12 6 2 3 9 18

6 15 7 2 3,50 10,5 21

7 18 7 2 2,30 7 21

8 21 7 2 1,75 5,25 21

9 24 7 2 1,40 4,2 21

10 27 7 2 1,16 3 21
11 30 7 2 1 3 21

Keterangan: P = pemakai/ konsumen dalam suatu keluarga

T = tenaga kerja dalam suatu keluarga

K = kegiatan/ prestasi kerja

Umur = umur perkawinan suatu keluarga

D. Kebutuhan dan Distribusi Tenaga Kerja

Kebutuhan tenaga kerja dapat diketahui dengan cara menghitung setiap

kegiatan masing-masing komoditas yang diusahakan, kemudian dijumlah untuk

seluruh usahatani. Kebutuhan tenaga kerja berdasarkan jumlah tenaga kerja

keluarga yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhannya. Berdasarkan

perhitungan maka jika terjadi kekurangan maka untuk memenuhinya dapat berasal

dari tenaga luar keluarganya.

Satuan yang sering dipakai dalam perhitungan kebutuhan tenaga kerja

adalah man days atau HKO (hari kerja orang) dan JKO (jam kerja orang).

Pemakaian HKO kelemahannya karena masing-masing daerah berlainan (1 HKO)

23

di daerah B belum tentu sama dengan 1 HKO di daerah A) bila dihitung jam

kerjanya. Sering kali dijumpai upah borongan yang sulit dihitung, baik HKO

maupun JKO-nya.
Banyaknya tenaga kerja yang diperlukan untuk mengusahakan satu jenis

komoditas per satuan luas dinamakan Intensitas Tenaga Kerja. Intensitas Tenaga

Kerja tergantung pada tingkat teknologi yang digunakan, tujuan dan sifat

usahataninya, topografi dan tanah, serta jenis komoditas yang diusahakan.

1.Tingkat teknologi yang digunakan

Penerapan teknologi biologis dan kimia umumnya lebih banyak

dibutuhkan tenaga kerja untuk pemakaian bibit unggul disertai dengan

pemupukan dan pemberantasan hama penyakit. Sementara penerapan teknologi

mekanis, seperti pemakaian mesin-mesin dan traktor justru dapat lebih

menghemat kebutuhan tenaga kerja.

2.Tujuan dan sifat usahatani

Tujuan usahatani dan sifat usahatani juga sangat mempengaruhi jumlah

kebutuhan tenaga kerja. Contoh halnya, usaha tani komersial yang sudah

memperhatikan kualitas dan kuantitas dari segi ekonomi, akan membutuhkan

tenaga kerja yang lebih banyak dari pada usahatani subsistence.

24

3.Topografi dan tanah


Teknik pengolahan lahan di daaerah datar dengan jenis tanah ringan akan

memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit dibanding pengolahan tanah di daerah

miring dan berat.

4.Jenis komoditas yang diusahakan

Jenis komoditas juga menentukan jumlah tenaga kerja. Pada umumnya tanaman

semusim lebih banyak membutuhkan tenaga kerja daripada tanaman tahunan. Hal

ini tergantung pada intensitas pengolahan tanah dan saat tanam. Pada tanaman

semusim lebih banyak membutuhkan tenaga kerja bantuan sehingga sering kali

tidak dapat diselesaikan sendiri oleh tenaga kerja keluarga. Namun saat

pemeliharaan pada tanaman semusim cenderung membutuhkan sedikit tenaga

kerja. Bahkan sampai tenaga kerja keluarga yang tersedia tidak dapat

dimanfaatkan sepenuhnya karena memmang tidak adanya pekerjaaan sehingga

timbul pengangguran musiman. Pengangguran musiman sebenarnya masih dapat

diatasi dengan cara sebagai berikut:

1. Cropping system, untuk meningkatkan intensitas penggunaan tanah dan menyerap

tenaga kerja yang lebih banyak untuk merawat lebih dari satu tanaman dalam satu

lahan;

2. Menggunakan teknologi yang membutuhkan bantuan tenaga kerja;

3. Diversifikasi vertikal, melaksanakan sendiri semua proses produksi dan

pemasaran;

25

4. Off-farm activity; dan


5. Transmigrasi yang terarah pada diversifikasi tanaman pangan.

5.Efisiensi tenaga kerja

Efisiensi tenaga kerja atau produktivitas tenaga kerja dapat diukur dengan

memperhatikan jumlah produksi, penerimaan per hari, dan luas lahan atau luas

usaha.

1. Memperhitungkan produksi

Produktivitas yang berhubungan dengan tenaga kerja dapat dihitung

melalui jumlah produksi per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang

dicurahkan per hektar. Perhitungan produktivitas akan membandingkan antara

usaha yang dibantu dengan mesin traktor dengan usaha yang tanpa menggunakan

bantuan mesin traktor. Jika tidak menggunakan traktor maka jumlah tenaga kerja

yang dibutuhkan akan semakin banyak, sehingga pembaginya akan menjadi

semakin besar dan nilai produktivitas akan semakin kecil. Tetapi jika

memanfaatkan bantuan mesin traktor maka tenaga kerja yang dibutuhkan akan

semakin sedikit sehingga pembagi jumlah produksi per hektar akan semakin kecil

sehingga memperoleh nilai produktivitas yang lebih besar. Hal ini justru akan

semakin meningkatkan efisiensi tenaga kerja.

26

2. Memperhatikan penerimaan per hari kerja


Penerimaan per hari kerja dapat dihitung dengan formula, jumlah produksi fisik

dikali harga per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan per

hektar.

3. Memperhatikan luas usaha per lahan

Efisiensi tenaga kerja dapat juga dihitung melalui luas usahatani dibagi dengan

jumlah tenaga kerja yang dicurahkan perhari.

6.Efisiensi teknis, efisiensi perusahaan, dan efisiensi kemanusiaan

Selain efisiensi tenaga kerja, efisiensi teknis, perusahaan, dan kemanusiaan, juga

dapat diperhitungkan dengan cara mebandingkan tambahan produksi yang akan

diperoleh akibat dari tambahan faktor produksi yang diberikan untuk

menghasilkan.

1. Efisiensi teknis adalah mengukur besarnya produksi yang dapat dicapai atas

tingkat faktor produksi tertentu. Efisiensi teknis contohnya melalui penggunaan

pupuk urea untuk peningkatan produksi padi di lahan sawah dengan di lahan tegal

maka akan didapat hasil penggunaan pupuk urea yang lebih efisien di lahan sawah

dibandingkan di lahan tegal.

2. Efisiensi perusahaan adalah mengukur besarnya nilai produksi yang dapat dicapai

atas nilai faktor produksi tertentu. Contohnya dalam penggunaan pupuk urea 46%

N dan pupuk ZA 20% N. Akan terlihat efisiensi penggunaan pupuk dari tingkat

produksinya yaitu penggunaan pupuk urea 46% N lebih besar dibanding

27

penggunaan pupuk ZA 20% N.


3. Efisiensi kemanusiaan sulit diukur karena tambahan produksi yang dicapai diukur

dengan kepuasan seseorang.

7. Curahan tenaga kerja

Curahan tenaga kerja pada usahatani sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor,

yakni:

1. Faktor alam yang meliputi curah hujan, iklim, kesuburan tanah, dan topografi;

2. Faktor jenis lahan yang meliputi sawah, tegal, dan pekarangan;

3. Luas, petak, dan penyebaran.

Faktor-faktor tersebut menyebabkan adanya perbedaan kesibukan tenaga kerja,

misalnya yang terjadi pada usaha tani lahan kering yang benar-benar hanya

mengandalakan air hujan maka petani akan sangat sibuk hanya pada saat musim

penghujan. Sebaliknya, pada musim kemarau akan mempunyai waktu luang

sangat banyak karena lahannya tidak dapat ditanami (bero). Pada lahan sawah

beririgasi, petani akan sibuk sepanjang tahun karena air bukan merupakan kendala

bagi usahataninya.

28

8. Arti intensif dan ekstensif


Usahatani dikatakan intensif jika banyak menggunakan tenaga kerja dan

atau modal per satuan luas lahan. Contoh usahatani intensif adalah jika seorang

petani menggarap tanah sesuai dengan kebutuhan sampai siap untuk ditanami

jagung, menggunakan pupuk awal, bibit unggul, melakukan penyiangan dan

pemupukan periodik.

Tiga setengah bulan kemudian petani akan memperoleh hasil panen sekitar 12 kg

per satuan luas lahan.

Sedangkan suatu usahatani dikatakan ekstensif jika usahatani tersebut

tidak banyak menggunakan tenaga kerja dan atau modal per satuan luas lahan.

Sebagai contoh adalah, jika seseorang menggarap tanah ala kadarnya, lalu

menebar bibit, biji (untuk serealia). Setelah itu lahan dibiarkan aja. Tetapi tiga

setengah bulan, petani juga sambil menunggu mendapat seluruh hasil panen dan

diperoleh 2 kg per satuan luas lahan.

29

IV.KESIMPULAN DAN SARAN


A.Kesimpulan

Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung

maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga

kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Tenaga keja adalah salah

satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung musim.

Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh

padapertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.

Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga (family

farms), khususnya tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga

petani yang umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan

tenaga kerja keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat di selesikan oleh

tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar, yang

berarti menghemat biaya.

B.Saran

30

31
DAFTAR PUSAKA

Griffin R. 2006. Business. New Jersey: Pearson Education.

Feriyanto, Nur. 2014. Ekonomi Sumber Daya Manusia, dalam Perspektif

Indonesia. Yogyakarta: UPP STIM YKPN

Sukirno, Sadono. 2011. Mikroekonomi, Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali