Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN PEMELIHARAAN LARVA IKAN LELE (Clarias sp.

)
Sunendi

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : sunendi96@gmail.com

Abstrak

Ikan lele merupakan komoditas yang memiliki peluang pasar yang besar, sehingga banyak para
pembudidaya untuk meningkatkan produksi lele untuk memperoleh keuntungan. Tahap
pemeliharaan larva merupakan bagian yang paling sulit dalam proses produksi tersebut, sehingga
perlu pengetahuan yang lebih dalam mengenai manajemen pemeliharaan larva ikan lele.
Metodologi dalam penulisan tugas ini adalah kajian pustaka dari beberapa sumber jurnal. Larva
ikan lele sangat rentan mengalami kematian, baik karena parasit maupun kondisi lingkungan yang
tidak sesuai. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam manajemen pemeliharaan larva ikan lele
yaitu padat penebaran pemeliharaan larva, pengelolaan kualitas air dan pemberian pakan yang
benar. Selain itu, penambahan viterna dalam pakan alami larva lele dapat digunakan sebagai salah
satu alternatif untuk mendapatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva lele tanpa pemberian
pakan tambahan. Serta penambahan madu dalam pengenceran sperma untuk proses fertilisasi
memberikan pengaruh yang nyata terhadap sintasan larva ikan lele dan pertumbuhan panjang yang
lebih pada larva ikan tersebut.

Kata kunci : Larva Lele, Manajemen Pemeliharaan, Vieterna

PENDAHULUAN penyediaan benih yang memiliki kualitas dan


Lele merupakan salah satu komoditas kuantitas yang baik.
perikanan air tawar yang memiliki peluang Pemeliharaan larva juga merupakan
pasar yang cukup menjanjikan sebagai ikan faktor yang dapat mempengaruhi penyediaan
konsumsi. Disamping mudah dipelihara, harga kualitas dan kuantitas benih yang baik.
lele relatif terjangkau untuk semua kalangan Pemeliharaan larva sangat menentukan
masyarakat, sehingga mendorong para keberhasilan kegiatan pembenihan ikan. Hal
pembudidaya untuk meningkatkan produksi ini disebabkan larva merupakan salah satu
lele. Untuk memenuhi tingginya kebutuhan stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan
ikan lele di pasaran maka budidaya lele perlu (Effendi 2004). Tahap pemeliharaan larva
dilakukan secara intensif. Usaha seperti ini merupakan tahap yang sulit karena kematian
akan memaksimalkan kapasitas produksi yang sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor.
tersedia dengan padat pemeliharaan tinggi Faktor-faktor yang mempengaruhi
sehingga dapat meningkatkan tingkat perkembangan larva yaitu kuning telur serta
produksi. Namun, kegiatan budidaya lele kualitas air seperti suhu, pH, oksigen, salinitas
dengan sistem tersebut harus ditunjang oleh dan cahaya (Kamler 1992).

1
2

Melihat kondisi seperti yang disebutkan dilakukan setelah Daphnia spp. diperkaya
diatas, maka perlu diketahui dan dipahami dengan viterna sesuai dosis yang telah
bagaimana memelihara larva ikan lele melalui ditentukan. Pemberian Daphnia spp. yang
review beberapa jurnal yang membahas telah ditambah nutrisinya dengan viterna
mengenai manajemen pemeliharaan larva ikan diberikan terhadap larva ikan lele dumbo pada
lele yang baik dan benar. hari ketiga setelah menetas, dikarenakan pada
hari ketiga kuning telur akan habis (Maya
METODOLOGI 2006 dalam Mufidah dkk. 2009). Pakan alami
Metodologi yang dilakukan dalam berupa Daphnia spp. yang sudah diperkaya
penyusunan tugas ini yaitu studi pustaka diberikan sebanyak 70% dari berat biomassa
dengan mengacu kepada dua jurnal yang per hari (Sutanmuda 2007 dalam Mufidah dkk.
diperoleh diataranya adalah sebagai berikut: 2009). Pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pada
1. Metode eksperimental yang dirujuk dari pagi dan sore hari yaitu pada pukul 09.00 dan
jurnal Pengkayaan Daphnia spp. dengan 15.00. Hal tersebut dikarenakan, proses
Viterna Terhadap Kelangsungan Hidup metabolisme dalam tubuh ikan membutuhkan
dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo waktu 6 jam untuk mencerna makanan.
(Clarias gariepinus) Parameter yang diamati pada jurnal
2. Metode eksperimental yang dirujuk dari
pertama adalah kelangsungan hidup dan
jurnal Sintasan dan Pertumbuhan Larva
pertumbuhan ikan lele. Selain pemberian
Ikan Ikan Lele (Clarias sp.) Hasil
pakan tambahan pada saat fase larva,
Penetasan Telur Melalui Penambahan
penambahan madu pada saat pengenceran
Madu dalam Pengenceran Sperma.
sperma untuk proses fertilisasi ikan lele juga
bisa berpengaruh pada pertumbuhan larva ikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
lele, sehingga tingkat kelangsungan hidup dari
Berdasarkan jurnal pertama langkah
larva ikan tersebut cukup besar, seperti yang
awal dalam pemeliharaan larva ikan lele
dibahas pada jurnal kedua yaitu dapat
dumbo yaitu mempersiapkan bak
diketahui bahwa pada dasarnya pemberian
pemeliharaan dan persiapan air sebagai media
madu dalam pengenceran sperma dapat
pemeliharaan larva dengan diaerasi terlebih
memberikan pengaruh terhadap sintasan hidup
dahulu untuk mengurangi kadar klorin dalam
larva ikan lele.
air PAM. Langkah selanjutnya, memasukkan
Larva hasil penetasan telur melalui
larva ikan lele dumbo dengan kepadatan 100
penambahan madu dalam pengecaran sperma
ekor/L (Hecht dan Uys 1997 dalam Mufidah
0,7 ml madu dalam 99,3 ml NaCl fisiologis
dkk. 2009). Larva tersebut dipelihara selama
menunjukkan hasil yang terbaik. Tetapi ketika
40 hari. Pemberian pakan pada larva lele
dosis lebih rendah, bahkan sampai pada
3

perlakuann tanpa menggunakan madu bisa diterapkan dalam manajemen


memberikan hasil yang kurang berpengaruh pemeliharaan larva ikan.
lagi terhadap sintasan larva. Hal ini dapat Larva ikan lele merupakan salah satu
disebabkan karena ketidak cocokkan dosis stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan.
madu yang diberikan (Mambrasar dkk. 2015). Selain perlakuan dari beberapa penelitian
Fungsi utama dari madu adalah sebagai tersebut ada beberapa faktor yang harus
sumber energi bagi spermatozoa. Selanjutnya diperhatikan pada saat pemeliharaan. Beberapa
dinyatakan bahwa bahan utama yang dipakai faktor yang menyebabkan pemeliharaan larva
spermatozoa sebagai sumber energi di luar memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi
testis adalah fruktosa yang diubah menjadi dalam pembenihan ikan antara lain adalah:
asam laktat dan energi dengan enzim 1. larva memiliki tubuh dan bukaan mulut
fruktosilin. Penambahan madu dalam yang kecil, sehingga dalam pemberian
pengenceran sperma ikan dimaksudkan untuk pakan dan pengelolaan lingkungannya
memberikan energi dan nutrisi untuk relatif sulit;
2. larva membutuhkan pakan alami, sementara
spermatozoa ikan, agar energi yang berupa
itu kegiatan kultur pakan alami juga
ATP tersebut dapat meningkatkan atau
mengalami tingkat kesulitan yang cukup
memperpanjang waktu motilitas dan viabilitas
tinggi.
spermatozoa (Mambrasar dkk. 2015).
Oleh karena itu, perlu diperhatikan
Sama halnya dengan penelitian tingkat
faktor faktor yang mendukung dalam
fertilisasi, dan daya tetas telur demikian juga
keberhasilan pemeliharaan larva, seperti padat
nilai rata-rata persentase sintasan tertinggi
penebaran pemeliharaan larva, pengelolaan
berada pada perlakuan D (0,7 ml madu dalam
kualitas air dan pemberian pakan yang benar.
99,3 ml NaCl fisiologis). Sehingga dapat
Menurut Dardiani dan Sary (2010) larva
dikatakan bahwa energi yang ada dalam madu
yang telah menetas biasanya berwarna hijau
sangat bermanfaat atau sangat berpengaruh
dan berkumpul didasar bak penetasan. Untuk
mulai dari motilitas sperma sampai pada
menjaga kualitas air, maka sebaiknya selama
pertumbuhan larva.
pemeliharaan dilakukan pergantian air setiap
Pemberian vieterna pada Daphnia spp.
dua hari sekali sebanyak 50-70 %. Pergantian
pada saat fase larva maupun penambahan
air ini dimaksudkan untuk membuang kotoran,
madu pada saat pengenceraan sperma untuk
seperti sisa cangkang telur atau telur yang
proses fertilisasi ikan lele sangat berpengaruh
tidak menetas dan mati. Kotoran tersebut
pada tingkat kelangsungan hidup maupun
apabila tidak dibuang akan mengendap dan
pertumbuhan larva ikan tersebut, sehingga
membusuk di dasar perairan yang
perlakuan-perlakuan yang disebutkan diatas
menyebabkan timbulnya penyakit dan
4

menyerang larva. Pembuangan kotoran pada ikan lele sampai pada saat dimana lele
tersebut dilakukan secara hati-hati agar larva dalam kondisi kenyang dan tidak lagi makan
tidak stres atau tidak ikut terbuang bersama walaupun pakan disekitarnya masih ada)
kotoran. dengan frekuensi 5 kali dalam sehari dan agar
Larva ikan lele hasil penetasan memiliki tidak mengotori air pemeliharaan, maka
bobot minimal 0,05 gram dan panjang tubuh diusahakan tidak ada pakan yang tersisa
0,75 - 1 cm, serta belum memiliki bentuk (Dardiani dan Sary 2010).
morfologi yang definitif (seperti induknya).
Larva tersebut masih membawa cadangan KESIMPULAN
makanan dalam bentuk kuning telur dan butir Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
minyak. Cadangan makanan tersebut dalam manajemen pemeliharaan larva ikan lele
dimanfaatkan untuk proses perkembangan yaitu padat penebaran pemeliharaan larva,
organ tubuh, khususnya untuk keperluan pengelolaan kualitas air dan pemberian pakan
pemangsaan (feeding), seperti sirip, mulut, yang benar. Selain itu, penambahan viterna
mata dan saluran pencernaan. Kuning telur dalam pakan alami larva lele dapat digunakan
tersebut biasanya akan habis dalam waktu 3 sebagai salah satu alternatif untuk
hari, sejalan dengan proses perkembangan mendapatkan kelangsungan hidup dan
organ tubuh larva. Oleh karena itu, larva ikan pertumbuhan larva lele tanpa pemberian pakan
lele baru akan diberi pakan setelah umur 4 hari tambahan. Serta penambahan madu dalam
(saat cadangan makanan didalam tubuhnya pengenceran sperma untuk proses fertilisasi
habis). Pakan yang diberikan berupa pakan memberikan pengaruh yang nyata terhadap
yang memiliki ukuran yang sesuai dengan sintasan larva ikan lele dan pertumbuhan
bukaan mulut larva agar larva ikan lebih panjang yang lebih pada larva ikan tersebut.
mudah dalam mengkonsumsi pakan yang
diberikan, pakan ikan juga bergerak sehingga DAFTAR PUSTAKA
mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva, Dardiani dan I. R. Sary. 2010. Mata Diklat 4
Manajemen Penetasan Telur dan
mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang Pemeliharaan Larva. Pusat
tinggi (Dardiani dan Sary 2010). Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Salah satu contoh pakan yang diberikan Pertanian Direktorat Jenderal
pada saat larva ikan lele tersebut berumur 4 Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan. Departemen Pendidikan
hari adalah emulsi kuning telur. Pada saat lele Nasional.
berumur 6 hari, maka dapat diberikan pakan
Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur.
berupa Daphnia sp. (kutu air), Tubifex sp. Penebar Swadaya. Jakarta.
(cacing sutra) atau Artemia sp. Pakan tersebut
diberikan secara adlibitum (pemberian pakan
5

Kamler, E. 1992. Early Life History of Fish,


an Energetics Approach. Chapman and
Hall. London. 267 p.
Mambrasar, P., Monijung, R., Kalesaran, O.,
dan Watung, J. C. 2015. Sintasan dan
Pertumbuhan Larva Ikan Ikan Lele
(Clarias sp.) Hasil Penetasan Telur
Melalui Penambahan Madu dalam
Pengenceran Sperma. Jurnal Budidaya
Perairan Vol. 3 No. 1 Januari 2015.
Mufidah, N. B. W., Rahardja, B. S. dan
Satyantini, W. H. 2009. Pengkayaan
Daphnia spp. dengan Viterna Terhadap
Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan
Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias
gariepinus). Jurnal Ilmiah Perikanan
dan Kelautan Vol. 1 No. 1 April 2009.