Anda di halaman 1dari 26

MODEL DAN ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN

MENGGUNAKAN METODE BISHOP PADA WASTE DUMP


PENAMBANGAN BATUBARA

PROPOSAL TUGAS AKHIR


Dibuat untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Tugas Akhir
Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Nusa Cendana

OLEH :

INDAH REIS BANNESI

1206105001

U N I V E R S I T A S N U S A C E N D A N A
FAK U LTAS S AI N S D AN T E K N I K
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
KUPANG
2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Batubara merupakan salah satu sumber daya alam yang melimpah di

Indonesia. Pada saat ini sebagian besar penambangan batubara dilakukan dengan

metode tambang terbuka, terlebih lagi setelah digunakannya alat-alat besar yang

mempunyai kapasitas muat dan angkut yang besar untuk membuang lapisan tanah

penutup batubara. Selain itu prosentase batubara yang diambil jauh lebih besar

dibanding dengan batubara yang dapat diekstraksi dengan cara tambang dalam.

Dalam suatu operasi tambang terbuka (open pit mining), salah satu

kegiatan yang dilakukan yakni penggalian material yang berkadar rendah pada pit

guna memperoleh material berkadar tinggi. Setelah dilakukan penggalian, maka

material berkadar rendah ditimbun pada suatu area yang disebut waste dump.

Ketika proses konsolidasi (pemadatan) berlangsung, kekuatan geser tanah pun

turut meningkat sehingga dapat memungkinkan penambahan beban (Craig,

2004). Penambahan beban pada lereng waste dump yang berlebihan mendorong

lereng untuk mengalami pergerakan sehingga membuat kestabilan lereng

terganggu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng timbunan (waste

dump) antara lain geometri lereng, kondisi air permukaan dan air tanah,

selain kedua diatas, parameter material penyusun lereng yaitu sifat fisik dan

sifat mekanik dari material penyusunnya (Prasetyo dkk, 2011). Faktor lain yang

1
mempengaruhi stabilitas lereng waste dump adalah gaya-gaya dari luar yang

bekerja pada lereng waste dump. Gaya-gaya dari luar yang mempengaruhi

kestabilan lereng waste dump berupa getaran-getaran yang diakibatkan oleh

kegiatan peledakan dan dari alat-alat yang bekerja pada daerah tersebut.

Berbagai metode perhitungan faktor keamanan lereng telah banyak

dikemukakan. Metode irisan (Fellinius, Janbu, Bishop, Spencer) merupakan

metode yang paling sering digunakan dalam perhitungan faktor keamanan lereng.

Dalam penelitian ini akan digunakan metode Bishop yang disederhanakan.

Metode ini pada dasarnya memiliki prinsip yang sama dengan metode Fellinius,

namun metode ini memberikan hasil perhitungan lebih akurat dibanding metode

Fellinius. Metode Bishop sangat cocok digunakan untuk pencarian secara

otomatis bidang runtuh kritis yang berbentuk busur lingkaran untuk mencari

faktor keamanan minimum.

Apabila tidak adanya penanggulangan terhadap lereng area tersebut, maka

dapat menyebabkan bencana longsoran yang dapat merugikan perusahaan yakni

terhambatnya jalan angkut utama maupun instalasi penting yang berada di sekitar

waste dump serta korban jiwa (Silvia,2013). Untuk itu, perlu dilakukannya

perencanaan sebaik mungkin dalam merancang area waste dump agar timbunan

tanah tersebut berada dalam kondisi stabil. Untuk menganalisis dan merancang

lereng timbunan (waste dump), maka dilakukan perhitungan terhadap lereng yang

ada di daerah penelitian kemudian merancang lereng baru yang lebih aman dari

sebelumnya.

2
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan

beberapa permasalahan yang menjadi objek dalam penelitian ini, yaitu:


1. Bagaimana karakteristik fisik dan mekanik dari material penyusun lereng

pada area waste dump?


2. Bagaimana model rancangan geometri lereng yang sesuai agar waste dump

berada pada kondisi aman?


3. Berapa nilai FK yang aman untuk perancangan waste dump pada area

penambangan dengan menggunakan metode Bishop?


1.3. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Lokasi penelitian terletak pada area waste dump.


2. Analisis yang dilakukan tidak memperhitungkan faktor kegempaan.
3. Model longsoran yang digunakan yaitu longsoran busur (circular failure).
4. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode Bishop dengan bantuan

software Slide versi 6.0


5. Penelitian ini hanya memperhatikan segi teknis dan tidak memperhatikan

segi ekonomis
1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui karakteristik fisik dan mekanik dari material penyusun lereng

pada area waste dump.


2. Mengetahui model rancangan geometri lereng yang sesuai agar waste

dump berada pada kondisi aman.


3. Mengetahui nilai FK yang aman untuk perancangan waste dump pada area

penambangan terbuka.
1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari hasil penelitian yaitu:

1. Bagi Perusahaan

3
Sebagai informasi yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan waste

dump

2. Bagi Universitas

Sebagai bahan informasi atau referensi mengenai rancangan waste dump

dalam upaya pengendalian kestabilan lereng khususnya pada area

penelitian.

3. Bagi Peneliti
a. Sebagai bahan input bagi mahasiswa yang melakukan penelitian.
b. Sebagai bahan referensi bagi pembaca mengenai penanganan waste

dump untuk menentukan faktor keamanan lereng yang stabil.

4
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Lereng

Lereng adalah suatu permukaan tanah yang miring dan membentuk sudut

tertentu terhadap suatu bidang horisontal dan tidak terlindungi (Das 1985).

Menurut material pembentuknya, lereng dapat dibedakan atas lereng batuan dan

lereng tanah. Perbedaan dalam ciri-ciri kelongsoran pada batuan dan tanah, antara

lain:

1. Pada batuan, bidang ketidakmenerusan sangat mempengaruhi atau

menentukan bentuk longsoran, sedangkan pada tanah tidak ada.

2. Pada batuan, bidang longsoran atau bidang geser dari longsoran

umumnya mempunyai bentuk bidang lurus, sedangkan pada tanah umumnya

mempunyai bentuk longsoran busur.

Ditinjau dari cara terbentuknya dibedakan menjadi dua yaitu lereng alami

dan lereng buatan. Lereng alami terbentuk secara alamiah yang biasanya terdapat

di daerah perbukitan. Sedangkan lereng buatan terbentuk oleh manusia biasanya

untuk keperluan konstruksi (sipil maupun pertambangan). Lereng alami maupun

buatan masih dibagi lagi dalam dua jenis (Soepandji, 1995), yaitu :

1. lereng dengan panjang tak hingga (infinite slopes),

2. lereng dengan panjang hingga (finite slopes).

2.1.1. Lereng Alami

5
Lereng alami yang telah berada dalam kondisi yang stabil selama puluhan

atau bahkan ratusan tahun dapat tiba-tiba runtuh sebagai akibat dari adanya

perubahan kondisi lingkungan, antara lain seperti perubahan bentuk topografi,

kondisi air tanah, adanya gempa bumi maupun pelapukan. Kadang-kadang

keruntuhan tersebut juga dapat disebabkan oleh adanya aktivitas konstruksi

seperti pembuatan jalan raya, jalan kereta api, saluran air dan bendungan.

Sumber: Google images, 2011

Gambar 2.1. Lereng Alami

Terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi dalam analisis kestabilan

lereng alami karena beberapa hal sebagai berikut:

a. Kesulitan untuk mendapatkan data masukan, (seperti model geologi,

hubungan tegangan-regangan, distribusi tekanan air pori), yang memadai.


b. Tingginya tingkat ketidakpastian mengenai mekanisme longsoran

yang mungkin terjadi serta proses-proses penyebabnya.

Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan dalam analisis kestabilan

6
lereng alami antara lain yaitu menentukan apakah longsoran yang mungkin

terjadi merupakan longsoran yang pertama kali atau longsoran yang terjadi pada

bidang geser yang sudah ada serta kemungkinan terjadinya longsoran apabila

dibuat suatu pekerjaan konstruksi atau penggalian pada lereng.

2.1.2. Lereng Buatan

Lereng buatan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a. Lereng buatan tanah asli / lereng galian (Cut Slope)

Lereng ini dibuat dari tanah asli dengan memotong dengan

kemiringan tertentu. Untuk pembuatan jalan atau saliran air untuk

irigasi. Kestabilan pemotongan ditentukan oleh kondisi geologi, sifat

teknis tanah, tekanan air akibat rembesan, dan cara pemotongan.

Tujuan dari rancangan galian adalah untuk menentukan

tinggi dan sudut kemiringan lereng yang optimum sehingga

lereng tetap stabil dalam jangka waktu yang diinginkan.

Lamanya kondisi kestabilan lereng yang harus dipenuhi ditentukan

oleh apakah galian bersifat permanen atau sementara, pekerjaan

perawatan yang dirancang pada lereng serta pemantauan kondisi

kestabilan yang dipasang pada lereng.

Galian dapat dibuat dengan sudut kemiringan tunggal

atau menggunakan sudut kemiringan yang bervariasi sesuai

dengan tipe material yang digali. Misalnya untuk lereng yang

terdiri dari material tanah dan batuan, sudut kemiringan lereng

batuan dapat dibuat lebih terjal daripada lereng tanah. Penggalian

7
lereng juga dapat dilakukan secara berjenjang dengan

menggunakan berm untuk setiap interval ketinggian. Apabila

penggalian dilakukan secara berjenjang maka harus dilakukan

analisis untuk kestabilan lereng secara keseluruhan maupun lereng

tunggal pada setiap jenjang.

b. Lereng buatan tanah yang dipadatkan / lereng timbunan

(Embankment)

Tanah dipadatkan untuk tanggul-tanggul jalan raya,

bendungan, badan jalan kereta api. Sifat teknis tanah timbunan

dipengaruhi oleh cara penimbunan dan derajat kepadatan tanah.

Analisis kestabilan lereng timbunan biasanya lebih

mudah dari pada lereng alami dan galian. Hal ini disebabkan karena

material yang digunakan untuk timbunan dapat dipilih dan

dikontrol dengan baik. Untuk timbunan dari material yang tak

berkohesi seperti kerikil, pasir atau lanau, parameter yang

mempengaruhi kestabilan timbunan yaitu: sudut geser, berat satuan

tanah, tekanan air pori dan sudut kemiringan lereng. Longsoran

yang terjadi pada timbunan tipe ini biasanya merupakan

gelinciran translasional atau gelinciran rotasional yang dangkal.

Tekanan air pori yang diakibatkan oleh rembesan akan

mengurangi kestabilan timbunan, seringkali dalam analisis

diasumsikan muka air tanah berada pada permukaan lereng dan

8
rembesan sejajar dengan permukaan lereng. Kondisi ini biasanya

terjadi pada hujan yang sangat deras dan lama.

Kestabilan lereng timbunan dari material yang berkohesi

seperti lempung, pasir berlempung, tergantung pada beberapa

faktor sebagai berikut: sudut geser, kohesi, berat jenis tanah,

tekanan air pori dan geometri lereng.

Longsoran yang biasanya terjadi pada jenis timbunan ini

biasanya merupakan gelinciran yang dalam dengan permukaan

yang menyentuh bagian atas dari lapisan keras yang berada di

bawah timbunan.

Untuk timbunan di atas material yang mempunyai kekuatan

geser lemah, selain kekuatan geser material timbunan maka juga

harus dipertimbangkan kekuatan geser material pondasi.

Timbunan dapat mengalami retakan tarik pada permukaannya

apabila terjadi penurunan pada material pondasi yang diakibatkan

oleh penambahan beban. Penurunan juga dapat menyebabkan

keruntuhan sebagai akibat dari ketidak cocokan tegangan-

regangan diantara timbunan dengan pondasi di bawahnya.

Untuk menghindari hal ini dapat dibuat beberapa perkuatan pada

timbunan atau jika memungkinan dengan membuang material lunak

pada pondasi.

2.2. Waste Dump

9
Suatu kegiatan pertambangan umumnya memindahkan material berkadar

rendah untuk mengambil bahan galian yang berada di dalam bumi. Oleh karena

itu, diperlukan suatu area tertentu untuk membuang material berkadar rendah

tersebut sehingga tidak menutupi area yang masih mengandung bahan galian yang

ekonomis. Tempat penimbunan dapat dibagi menjadi dua, yaitu waste

dump/disposal dan stockpile. Waste dump/disposal adalah daerah pada suatu

operasi tambang terbuka yang dijadikan tempat membuang material kadar rendah

dan/atau material bukan bijih. Material tersebut perlu digali dari pit demi

memperoleh bijih/material kadar tinggi, sedangkan stockpile digunakan untuk

menyimpan material yang akan digunakan pada saat yang akan datang. Stockpile

juga dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan bijih kadar rendah yang dapat

diproses pada saat yang akan datang maupun tanah penutup atau tanah pucuk

yang dapat digunakan untuk reklamasi.

Rancangan waste dump sangat penting untuk perhitungan keekonomian.

Lokasi dan bentuk dari waste dump akan berpengaruh terhadap jumlah gilir truk,

biaya operasi dan jumlah truk dalam satu armada yang diperlukan. Pada umumnya

daerah yang diperlukan untuk waste dump luasnya berkisar antara 23 kali dari

daerah penambangan (pit). Hal ini berdasarkan pertimbangan diantaranya:

Material yang telah dibongkar (loose material) berkembang 30 45 %

dibandingkan dengan material in situ.

Sudut kemiringan untuk suatu dump umumnya lebih landai dari pit.

10
Material pada umumnya tidak dapat ditumpuk setinggi kedalaman

dari pit.

2.3. Kestabilan Lereng


Kestabilan lereng penambangan dipengaruhi oleh geometri lereng, struktur

batuan, sifat fisik dan mekanik batuan serta gaya luar yang bekerja pada lereng

tersebut seperti getaran akibat peledakan ataupun alat mekanis yang beroperasi

dan juga dari teknik penggalian yang digunakan dalam pembuatan lereng. Faktor

pengontrol ini jelas sangat berbeda untuk situasi penambangan yang berbeda dan

sangat penting untuk memberikan aturan yang umum untuk menentukan seberapa

tinggi atau seberapa landai suatu lereng untuk memastikan lereng itu akan tetap

stabil.

Suatu cara yang umum untuk menyatakan kestabilan suatu lereng

penambangan adalah dengan faktor keamanan. Faktor ini merupakan

perbandingan antara gaya penahan yang membuat lereng tetap stabil, dengan gaya

penggerak yang menyebabkan terjadinya longsor.

Suatu lereng akan longsor jika gaya penggeraknya lebih besar dari gaya

penahannya. Secara matematis, kestabilan suatu lereng dapat dinyatakan dalam

bentuk factor keamanan (Fk), dimana:

............... (2.1)

dengan, s merupakan kekuatan geser maksimum yang dimiliki tanah bidang

longsor yang diandaikan dan meupakan tahanan geser yang diperlukan untuk

11
keseimbangan. Secara teoritis tingkat nilai faktor keamanan :

Tabel 2.1. Tingkat nilai Fk Teoritis

Sumber : Octovian, 2014

2.4. Metode Bishop

Metode Bishop adalah metode yang diperkenalkan oleh A.W. Bishop

menggunakan cara potongan dimana gaya-gaya yang bekerja pada tiap

potongan. Metode Bishop dipakai untuk menganalisis permukaan gelincir

(slip surface) yang berbentuk lingkaran. Dalam metode ini diasumsikan

bahwa gaya-gaya normal total berada/bekerja dipusat alas potongan dan bisa

ditentukan dengan menguraikan gaya-gaya pada potongan secara vertikal

atau normal (Octovian, 2014). Persyaratan keseimbangan dipakai pada

potongan-potongan yang membentuk lereng tersebut. Metode Bishop

menganggap bahwa gaya-gaya yang bekerja pada irisan mempunyai resultan

nol pada arah vertikal (Bishop,1955).

Untuk lereng yang dibagi menjadi n buah slice (irisan).

Tabel Fk Keterangan 2.2. Persamaan yang


>1 Stabil
diketahui pada =1 Kritis Metode Bishop
<1 Labil
No Persamaan yang ada Jumlah
1 Keseimbangan normal N
2 Keseimbangan tangensial N

12
3 Keseimbangan momen N
Total 3n
Sumber : Octovian, 2014

Tabel 2.3. Persamaan yang tidak diketahui pada Metode Bishop

(Anderson dan Richards, 1987)

No Persamaan yang tidak diketahui Jumlah


1 Faktor Keamanan 1
2 Gaya-gaya normal total (P) pada dasar slice n
3 Posisi gaya P n
4 Gaya-gaya horisontal antar slice n-1
5 Gaya-gaya vertikal antar slice n-1
6 Tinggi gaya-gaya antar slice n-1
Total 5n-2
Sumber : Octovian, 2014

Maka diperlukan asumsi sebanyak (2n -2 ) agar masalah bisa diselesaikan

secara statis tertentu (tabel.2.4)

Tabel 2.4. Asumsi Umum Persamaan pada Metode Bishop

No Asumsi Umum Jumlah


1 Posisi gaya normal pada pusat slice N
2 Gaya antar slice vertikal adalah nol n-1
Total 2n-1

Sumber : Octovian, 2014

Secara umum ada tiga macam asumsi yang dapat dibuat :

1. Asumsi mengenai distribusi tegangan normal sepanjang permukaan gelincir

13
2. Asumsi mengenai inklinasi dari gaya-gaya antar potongan
3. Asumsi mengenai posisi garis resultan gaya-gaya antar potongan.

Pada sebagian besar metode analisis, gaya normal diasumsi bekerja

dipusat alas dari tiap potongan, sebab potongan tipis. Ini diterapkan pada

sejumlah asumsi. Metode Bishop ini menggunakan asumsi sebanyak (2n 1 ).

Prinsip dasarnya sebagai berikut:

Kekuatan geser didefinisikan dengan menggunakan hubungan linier Mohr

Coulomb
Menggunakan Keseimbangan normal
Menggunakan keseimbangan tangensial
Menggunakan keseimbangan momen

Rumus Metode Bishop

Sumber: Jurnal Sipil Statik Vol.2 No.3, 2014

Gambar 2.2. Gaya-gaya yang bekerja pada suatu potongan


Keterangan :
W : Berat total pada irisan

14
EL, ER : Gaya antar irisan yang bekerja secara horisontal pada penampang

kiri dan kanan


XL, XR : Gaya antar irisan yang bekerja secara vertikal pada penampang

kiri dan kanan


P : Gaya normal total pada irisan
T : Gaya geser pada dasar irisan
b : Lebar dari irisan
l : Panjang dari irisan
: Sudut Kemiringan lereng

Dengan memperhitungkan seluruh keseimbangan gaya maka rumus

untuk faktor keamanan Fk metode Bishop diperoleh sebagai berikut

(Anderson dan Richards, 1987):

............... (2.2)

2.5. Klasifikasi Kelongsoran

Menurut Hoek and Bray tahun 1981 (Mahendra, Arif 2012), kestabilan

lereng dapat dianalisis sesuai dengan jenis kelongsoran yang mungkin dapat

terjadi. Secara umum ada empat jenis longsoran yaitu:

2.5.1. Longsoran Bidang (Plane Failure)

Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi

sepanjang bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut dapat berupa

sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan batuan.

15
Sumber: Rock Slope Engineering Civil and Mining, 2004

Gambar 2.2. Bentuk longsoran bidang (Plane Failure)

Kondisi yang diperlukan untuk terjadinya longsoran bidang adalah sebagai

berikut:

1. Terdapatnya bidang luncur bebas (daylight) berarti kemiringan bidang

luncur harus lebih kecil dari pada kemiringan lereng.

2. Arah bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar dengan arah lereng

(maksimum berbeda 20).

3. Kemiringan bidang luncur lebih besar dari pada sudut geser dalam

batuannya.

4. Terdapatnya bidang bebas (tidak terdapatnya gaya penahan) pada kedua

sisi longsoran.

2.5.2. Longsoran Baji (Wedge Failure)

Longsoran ini hanya bisa terjadi pada batuan yang mempunyai lebih dari

satu bidang lemah yang saling berpotongan membentuk baji (Lihat Gambar 3.7.).

16
Dalam kondisi yang sangat sederhana longsoran baji terdapat pada sepanjang

garis potong kedua bidang lemah tersebut.

Sumber: Rock Slope Engineering Civil and Mining, 2004

Gambar 2.3. Bentuk longsoran baji (Wedge Failure)

Kondisi yang diperlukan untuk terjadinya longsoran baji adalah sebagai berikut:

1. Permukaan bidang lemah A dan bidang lemah B rata, tetapi kemiringan

bidang lemah B lebih besar daripada bidang lemah A.

2. Arah penunjaman garis potong harus lebih kecil daripada sudut

kemiringan lereng.

3. Bentuk longsoran dibatasi oleh muka lereng, bagian atas lereng dan kedua

bidang lemahnya.

2.5.3. Longsoran Busur (Circular Failure)

Longsoran busur merupakan longsoran yang paling umum terjadi di alam,

terutama pada tanah dan batuan yang telah mengalami pelapukan sehingga hampir

menyerupai tanah. Pada batuan yang keras longsoran busur hanya dapat terjadi

jika batuan tersebut sudah mengalami pelapukan dan mempunyai bidang-bidang

lemah (rekahan) dengan jarak yang sangat rapat kedudukannya.

17
Sumber: Rock Slope Engineering Civil and Mining, 2004

Gambar 2.4. Bentuk longsoran busur (Circular Failure)

Syarat terjadinya:

1. Memiliki bidang lemah yang banyak dan arah longsorannya bergerak

sepanjang bidang lemah yang berbentuk busur.

2. Kemiringan lereng lebih besar dari kemiringan bidang lemah dan

kemiringan bidang lemah lebih besar dari sudut geser dalam material.

2.5.4. Longsoran Guling (Toppling failure)

Longsoran guling terjadi pada lereng terjal untuk batuan yang keras

dengan bidang-bidang lemah tegak atau hamper tegak dan arahnya berlawanan

dengan arah kemiringan lereng. Kondisi untuk menggelincir atau mengguling

ditentukan oleh sudut geser dalam dan kemiringan sudut bidang gelincirnya, suatu

balok dengan tinggi yn dan lebar dasar balok x terletak pada bidang miring

dengan sudut kemiringan sebesar .

18
Sumber: Rock Slope Engineering Civil and Mining, 2004

Gambar 2.5. Bentuk longsoran guling (Toppling Failure)

19
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

BULAN
1 2 3
No Tahapan Penelitian
Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Studi Literatur

2 Pengambilan Data

Pengolahan dan
3
Analisis Data

4 Penyusunan Laporan

5 Seminar dan Perbaikan

3.1. Jadwal Penelitian

Penelitian akan dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan dengan jadwal

sebagai berikut :

3.2. Tahapan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan

lapangan dan analisa metode kesetimbangan batas yaitu metode Bishop untuk

mengetahui Faktor Keamanan (FK) lereng dan pengaruhnya terhadap kestabilan

lereng, serta menggunakan komparasi Software Slide versi 6.0. Tahapan penelitian

20
mencakupi beberapa hal, yaitu:

3.1.1 Studi Literatur

Studi literatur mencakup hal-hal yang berhubungan dengan

mekanika tanah seperti lereng, faktor yang mempengaruhi kestabilan

lereng, mekanisme dasar terjadinya kelongsoran, klasifikasi longsoran

khususnya longsoran busur (circular failure), metode Bishop, faktor

keamanan, serta studi-studi terdahulu seperti peta lokasi dan kesampaian

daerah penelitian, peta topografi dan curah hujan lokasi penelitian.

3.1.2 Kegiatan Lapangan

Pada tahapan ini, kegiatan yang dilakukan adalah melakukan

pengamatan secara langsung terhadap kondisi waste dump area

penambangan.

3.1.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data bertujuan untuk memberikan gambaran secara

rinci tentang permasalahan yang sedang terjadi pada daerah penelitian

sehingga dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Data yang diperoleh

hanya berupa data primer dilapngan maupun data sekunder dari

perusahaan berupa arsip-arsip perusahaan maupun data hasil penelitian

yang pernah dilakukan sebelumnya. Adapun data-data yang diperoleh

yaitu:

a. Data Primer
1. Pengambilan data geometri lereng
2. Pengambilan conto material penyusun lereng
b. Data Sekunder
1. Data curah hujan
2. Peta lokasi daerah penelitian

21
3. Data geologi dan stratigrafi daerah penelitian

DIAGRAM ALIR PENELITIAN

Mulai

Studi Literatur

Pengamatan lapangan

Data
Lapangan

Data Primer : Data Sekunder :


1.Pengambilan data 1.Data curah hujan
geometri lereng 2.Peta lokasi daerah
2.Pengambilan conto penelitian
material penyusun lereng 3.Data geologi dan
stratigrafi

22
A

Pengolahan dan Analisis Data

FK tidak
1,3

ya

Rekomendasi
Lereng

Selesai

Gambar 4.1. Diagram alir penelitian

23
DAFTAR PUSTAKA

Octovian, 2014, Jurnal Analisis Kestabilan Lereng dengan Metode Bishop, Studi
Kasus Kawasan Citraland sta.1000m, Univesritas Sam Ratulangi
Manado

Prasetyo dkk., 2011, Jurnal Studi Kasus Analisa Kestabilan Lereng Disposal di
Daerah Karuh, Kec. Kintap, Kab. Tanah Laut, Kalimantan Selatan,
UPN Veteran Yogyakarta

Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas
Mercu Buana, 2007, Stabilitas Lereng Modul, Jakarta, hal 1-2.

Silvia, 2013,Skripsi Analisis Kestabilan Lereng Disposal SWD2 West PT.


Jembayan Muaraba, Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang,
Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Universitas Nusa
Cendana Kupang

Pustaka Elektronik

1. (.....)http://www.slideshare.net/henyFTI/disposal-pertambangan ,diunduh tanggal 29


Februari 2016
2. (.....)http://e-journal.uajy.ac.id/62/3/2TS11926.pdf, diunduh tanggal 29 Februari
2016
3. (.....)https://dwikusumadpu.wordpress.com/2013/02/13/kestabilan-lereng-terhadap-
bahaya-longsor/, diunduh tanggal 3 Maret 2016
4. (.....)http://asrulsmile.blogspot.co.id/2010/11/metode-analisa-kestabilan-lereng.html ,
diunduh tanggal 3 Maret 2016
5. (.....)http://pertambangan-1994.blogspot.co.id/2011/12/metode-penambangan-secara-
tambang.html, diunduh tanggal 3 Maret 2016
6. (.....)http://www.slideshare.net/henyFTI/disposal-pertambangan ,diunduh tanggal 3
Maret 2016
7. (.....)https://wingmanarrows.wordpress.com/2012/10/05/kemantapan-lereng/ ,
diunduh tanggal 3 Maret 2016
8. (.....)http://www.iagi.or.id/paper/analisis-kestabilan-lereng-dan-usulan-desain-
timbunan-di-area-low-wall-untuk-optimalisasi-kapasitas-di-pit-4-7-
tambang-batubara-senakin-pt-arutmin-indonesia, diunduh tanggal 3 Maret
2016

24
25