Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan
individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham
atau perilaku kacau/aneh (Maslim, 2001). Gangguan psikotik singkat/akut
didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang terjadi selama 1 hari sampai
kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat kembali ke tingkat
fungsional premorbid (Kaplan dan Sadock, 2003).

2.2 Epidemiologi
Menurut sebuah studi epidemiologi internasional, berbeda dengan
skizofrenia, kejadian nonaffective timbul psikosis akut 10 kali lipat lebih tinggi di
negara berkembang daripada di negara-negara industri. Beberapa dokter percaya
bahwa gangguan yang mungkin paling sering terjadi pada pasien dengan
sosioekonomi yang rendah, pasien dengan gangguan kepribadian yang sudah ada
sebelumnya (paling sering adalah gangguan kepribadian histrionik, narsistik,
paranoid, skizotipal, dan ambang), dan orang yang pernah mengalami perubahan
kultural yang besar (misalnya imigran).

2.3 Etiologi
Di dalam DSM III faktor psikososial bermakna dianggap menyebabkan
psikosis reaktif singkat, tetapi kriteria tersebut telah dihilangkan dari DSM IV.
Perubahan dalam DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik singkat di
dalam kategori yang sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya
yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk
gangguan yang heterogen (Kaplan dan Sadock, 2003).

3
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di jumpai
pada pasien dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan
biologis atau psikologis terhadap perkembangan gejala psikotik. Satu atau lebih
faktor stres berat, seperti peristiwa traumatis, konflik keluarga, masalah
pekerjaan, kecelakaan, sakit parah, kematian orang yang dicintai, dan status
imigrasi tidak pasti, dapat memicu psikosis reaktif singkat. Beberapa studi
mendukung kerentanan genetik untuk gangguan psikotik singkat (Kaplan dan
Sadock, 2003).

2.4 Patofisiologi
Hipotesis dopamine pada gangguan psikosis serupa dengan penderita
skizofrenia adalah yang paling berkembang dari berbagai hipotesis, dan
merupakan dasar dari banyak terapi obat yang rasional. Hipotesis ini menyatakan
bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik.
Beberapa bukti yang terkait hal tersebut yaitu: (1) kebanyakan obat-obat
antipsikosis menyekat reseptor D2 pascasinaps di dalam sistem saraf pusat,
terutama di sistem mesolimbik frontal; (2) obat-obat yang meningkatkan aktifitas
dopaminergik, seperti levodopa (suatu precursor), amphetamine (perilis
dopamine), atau apomorphine (suatu agonis reseptor dopamine langsung), baik
yang dapat mengakibatkan skizofrenia atau psikosis pada beberapa pasien; (3)
densitas reseptor dopamine telah terbukti, postmortem, meningkat diotak pasien
skizofrenia yang belum pernah dirawat dengan obat-obat antipsikosis; (4)
positron emission tomography (PET) menunjukkan peningkatan densitas reseptor
dopamine pada pasien skizofrenia yang dirawat atau yang tidak dirawat, saat
dibandingkan dengan hasil pemeriksaan PET pada orang yang tidak menderita
skizofrenia; dan (5) perawatan yang berhasil pada pasien skizofrenia telah
terbukti mengubah jumlah homovanilic acid (HVA), suatu metabolit dopamine,
di cairan serebrospinal, plasma, dan urine. Namun teori dasar tidak menyebutkan
hiperaktivitas dopaminergik apakah karena terlalu banyaknya pelepasan

4
dopaminergik, terlalu banyaknya reseptor dopaminergik atau kombinasi
mekanisme tersebut. Neuron dopaminergik di dalam jalur mesokortikal dan
mesolimbik berjalan dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif
di sistem limbik dan korteks serebral (Trimble, 2010).

2.5 Manifestasi Klinis


Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
1. Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya
2. Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal
3. Kebingungan atau disorientasi
4. Perubahan perilaku; menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri,
kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan,
bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul tanpa alasan (Kaplan dan
Sadock, 2003).
Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurang kurangnya
satu gejala psikosis utama, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak
selalu memasukkan keseluruhan pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia.
Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfusi dan gangguan
pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik
singkat daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan
psikotik singkat adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh,
berteriak teriak atau diam membisu dan gangguan daya ingat untuk peristiwa
yang belum lama terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada gangguan
yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan
organik yang lengkap, walaupun hasilnya mungkin negative (Maslim, 2001).
Pemeriksaan status mental biasanya hadir dengan agitasi psikotik parah
yang mungkin terkait dengan perilaku aneh, tidak kooperatif, agresif fisik atau
verbal, tidak teratur berbicara, berteriak atau kebisuan, suasana hati labil atau
depresi, bunuh diri, membunuh pikiran atau perilaku, kegelisahan, halusinasi,

5
delusi, disorientasi, perhatian terganggu, konsentrasi terganggu, gangguan
memori, dan wawasan miskin (Bora, 2009).
Seperti pada pasien psikiatrik akut, riwayat yang diperlukan untuk
membuat diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun
adanya gejala psikotik mungkin jelas, informasi mengenai gejala prodromal,
episode suatu gangguan mood sebelumnya, dan riwayat ingesti zat
psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara
klinis saja. Disamping itu, klinis mungkin tidak mampu memperoleh informasi
yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus. Contoh yang paling jelas
dari stresos pencetus adalah peristiwa kehidupan yang besar yang dapat
menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang. Peristiwa
tersebut adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang
berat. Beberapa klinis berpendapat bahwa keparahan peristiwa harus
dipertimbangkan di dalam hubungan dengan kehidupan pasien. Walaupun
pandangan tersebut memiliki alasan, tetapi mungkin memperluas definisi stressor
pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan episode
psikotik. Klinisi lain berpendapat bahwa stressor mungkin merupakan urutan
peristiwa yang menimbulkan stress sedang, bukannya peristiwa tunggal yang
menimbulakan stress dengan jelas. Tetapi penjumlahan derajat stress yang
disebabkan oleh urutan peristiwa memerlukan suatu derajat pertimbangan klinis
yang hampir tidak mungkin (Bora,2009).

2.6 Diagnosis Banding


Selain diagnosis pasti, ada diagnosis banding untuk psikotik akut ini
karena dimungkinkan adanya gangguan fisik yang bisa menimbulkan gejala
psikotik.
- Epilepsi
- Intoksikasi atau putus zat karena obat atau alkohol
- Febris karena infeksi

6
- Demensia dan delirium atau keduanya
- Jika gejala psikotik berulang atau kronik, kemungkinan skizofrenia dan
gangguan psikotik kronik lain
- Jika terlihat gejala mania (suasana perasaan meninggi, percepatan bicara atau
proses pikir, harga diri berlebihan), pasien mungkin sedang mengalami suatu
episode maniak
- Jika suasana perasaan menurun atau sedih, pasien mungkin sedang mengalami
depresi

2.7 Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis gejala pasti gangguan psikotik akut adalah
sebagai berikut :
1. Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan: misalnya,
mendengar suara yang tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak
ada bendanya).
2. Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima
oleh kelompok sosial pasien, misalnya pasien percaya bahwa mereka
diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari televisi, atau merasa
diamati/diawasi oleh orang lain).
3. Agitasi atau perilaku aneh (bizar)
4. Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi)
5. Keadaan emosional yang labil dan ekstrim (iritabel) (Maslim, 2001).
Berdasarkan DSM-IV diagnosisnya terutama atas lama gejala,
untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang satu
bulan dan yang tidak disertai dengan suatu gangguan mood, gangguan
berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis
umum, diagnosis gangguan psikotik singkat kemungkinan merupakan diagnosis
yang tepat. Untuk gejala psikotik yang berlangsung lebih dari satu hari, diagnosis
sesuai yang harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional (jika waham

7
adalah gejala psikotik yang utama), gangguan skizofreniform (jika gejala
berlangsung kurang dari 6 bulan), dan skizofrenia (jika gejala telah berlangsung
lebih dari 6 bulan) (Kaplan dan Sadock, 2003).
1. Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Psikotik Akut
Adanya satu (atau lebih) gejala berikut :
a. Waham
b. Halusinasi
c. Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi)
d. Perilaku terdisorganisasi jelas atau katatonik
Catatan: jangan masukan gejala jika pola respon yang diterima secara
kultural.
2. Lama suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu hari tetapi kurang
dari satu bulan, akhirnya kembali penuh kepada tingkat funsi pramorbid.
3. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu ganggan mood dengan ciri
psikotik, gangguan skizoafektif, atau skizofrenia dan bukan karena efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan) atau
suatu kondisi umum.
Sebutkan jika:
1. Dengan stresor nyata (psikosis singkat reaktif); jika gejala terjadi segera
setelah dan tampak sebagai respon dari suatu kejadian yang sendirian
atau bersama-sama akan menimbulkan stres yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.
2. Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah atau
terlihat bukan sebagai respon terhadap kejadian yang terjadi sendirian
atau bersama sama akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.

8
3. Dengan onset pasca persalinan: jika onset dalam waktu empat minggu
setelah persalinan.
4. Penegakan diagnosis gangguan psikotik singkat di Indonesia ditegakkan
melalui Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa Edisi ke III
(PPDGJ III).

Berikut kriteria diagnostik Gangguan Psikotik Akut berdasarkan PPDGJ


III (Kaplan dan Sadock, 2003).
1. F23.0 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa Gejala Skizofrenia
Suatu gangguan psikotik akut dimana jelas terdapat halusinasi, waham,
dan gangguan persepsi, tetapi bersifat sangat variasi dan berubah-ubah dari hari
ke hari atau bahkan dari jam ke jam. Emosional dengan berbagai perasaan senang
dan ekstasi atau ansietas serta iritabilitas juga sering ada. Gambaran klinis yang
polimorfik dan tidak stabil serta yang selalu berubah itu merupakan hal yang
bersifat khas walaupun kadang gejala afektif atau psikotik juga terdapat, kriteria
untuk episode manik (F30.-), episode depresif (F32.-) atau skizofrenia (F20,-)
tidak terpenuhi. Penyakit ini cenderung mempunyai onset yang mendadak (dalam
48 jam) dan gejala-gejalanya cepat mereda, pada sebagian besar kasus tidak
terdapat stres pencetus yang jelas. Apabila menetap sampai 3 bulan maka
diagnosis harus berubah. Gangguan waham menetap (F22,-) atau gangguan
psikotik non organic lainnya (F28.-) mungkin merupakan diagnosis yang paling
cocok.
Pedoman diagnostik untuk diagnostik pasti:
a. Onset harus akut (dari suatu keadaan nonpsikotik sampai keadaan psikotik
yang jelas dalam waktu 2 minggu atau kurang)
b. Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham, yang berubah dalam jenis
dan intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama
c. Harus ada keadaan emosional yang sama beranekaragamnya

9
d. Walaupun gejala beraneka ragam, tidak satu pun dari gejala itu ada secara
cukup konsisten, sehingga dapat memenuhi kriteria skizofrenia (F20.-) atau
episode manik (F30.-) (Maslim, 2001).

2. F23.1 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan Gejala Skizofrenia


Suatu gangguan psikotik akut yang memenuhi kriteria deskriptif untuk
gangguan psikotik polimorfik akut (F23.0) tetapi yang selalu disertai gejala
skizofrenia yang khas.
Pedoman diagnostik
Untuk diagnostik pasti, kriteria a, b, dan c, yang khas di atas untuk
gangguan psikotik polimorfik akut harus dipenuhi, sebagai tambahan, gejala-
gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia (F20.-) harus sudah ada untuk
sebagian besar waktu sejak muncul gambaran klinis psikotik itu secara jelas.
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap lebih dari sebulan maka diagnostic
berubah menjadi skizofrenia (F20.-) (Maslim, 2001).

3. F23.2 Gangguan Psikotik Lir-skizofrenia


Suatu gangguan psikotik akut dengan gejala gejala psikotik yang
secara komparatif bersifat cukup stabil dan memenuhi kriteria untuk skizofrenia
(F20.-) tetapi hanya berlangsung kurang dari 1 bulan lamanya. Suatu derajat
variasi dan instabilitas emosional mungkin ada, tetapi tidak separah seperti yang
diuraikan dalam psikosis polimorfik akut (F23.0)
Pedoman diagnostik untuk diagnostik pasti:
a. Onset gejala psikosis harus akut (dua minggu atau kurang dari suatu keadaan
non psikotik menjadi keadaan yang jelas psikotik)
b. Gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia (F20.-) harus sudah
ada untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran klinis yang
jelas psikotik.
c. Kriteria untuk psikotik polimorfik tidak terpenuhi

10
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk waktu yang lebih dari
satu bulan lamanya, maka diagnosis harus di ubah menjadi skizofrenia (F20.-)
Termasuk :
Skizofrenia akut (tak terinci)
Gangguan skizofreniform singkat
Psikosis skizofreniform singkat
Oneirofrenia
Reaksi skizofrenia
Tak termasuk:
Gangguan waham organic (lir-skizofrenia) (F06.2)
Gangguan skizofreniform YTT (F20.8)(Maslim, 2001).

4. F23.3 Gangguan Psikotik Akut Lainnya dengan Predominan Waham


Gangguan psikotik akut dengan waham dan halusinasi yang secara
komparatif stabil merupakan gambaran klinis utama, tetapi tidak memenuhi
kriteria untuk skizofrenia (F20.-). Waham kejaran atau waham rujukan biasa
terjadi dan halusinasi biasanya auditorik (suara yang berbicara langsung pada
pasien)
Pedoman diagnostik untuk diagnostik pasti:
a. Onset dari gejala psikotik harus akut (dua minggu atau kurang dari keadaan
non psikotik sampai jelas psikotik)
b. Waham dan halusinasi harus sudah ada dalam sebagian besar waktu sejak
berkembangnya keadaan psikotik yang jelas
c. Baik kriteria untuk skizofrenia (F20.-) maupun untuk ganguan psikotik
polimorfik akut (F23.0) tidak terpenuhi.
Kalau waham menetap selama lebih dari 3 bulan lamanya maka
diagnosis harus diubah menjadi gangguan waham menetap (F22.-) Apabila hanya

11
halusinasi yang menetap untuk lebih dari 3 bulan lamanya maka diagnosis harus
diubah menjadi psikosis nonorganik lainnya (F28)
Termasuk:
a. Reaksi paranoid
b. Psikosis paranoid psikogenik (Maslim, 2001).

5. F23.8 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara Lainnya


Gangguan psikotik akut lain yang tak dapat diklasifikasikan ke dalam
kategori manapun dalam F23 (seperti keadaan psikotik akut dengan waham dan
halusinasi jelas ada, tetapi menetap hanya untuk sebagian kecil waktu) harus
dimasukan dalam kode ini. Keadaan gaduh gelisah tak khas harus juga
dimasukan dalam kode ini kalau informasi yang lebih rinci tentang keadaan
mental pasien tidak dapat diperoleh, dengan syarat bahwa tidak terdapat tanda-
tanda suatu penyebab organic (Maslim, 2001).

6. F23.9 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara YTT

2.8 Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
Konseling pasien dan keluarga.
a. Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan
pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien, kewajiban dan tanggung
jawab keluarga dalam pengobatan pasien
b. Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak
dengan stressor
c. Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala
membaik

12
Informasi yang perlu untuk pasien dan keluarga
Pertama, saudara harus dapat memberikan informasi kepada pasien dan
keluarga tentang psikotik akut berikut hak dan kewajibannya. Untuk lebih
memahami dan memperjelas isi dan metode pemberian informasi yang akan
disampaikan saudara dapat dibaca lebih lengkap pada modul VI B tentang asuhan
keperawatan pasien halusinasi, waham, isolasi sosial. Beberapa informasi yang
perlu disampaikan pada pasien dan keluarga antara lain tentang:
- Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi lama
perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu
episode akut saja
- Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat,
memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang
aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan
dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa
serta keamanan setempat
- Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya:
a. Keluarga atau teman harus mendampingi pasien
b. Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum, eliminasi
dan kebersihan)
c. Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera

Medikamentosa
a. Obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik :
Haloperidol 2-5 mg, 1 sampai 3 kali sehari, atau Chlorpromazine 100-
200 mg, 1 sampai 3 kali sehari. Dosis harus diberikan serendah mungkin
untuk mengurangi efek samping, walaupun beberapa pasien mungkin
memerlukan dosis yang lebih tinggi (Levinson, 1999).

13
b. Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika
untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya: lorazepam 1-2 mg, 1
sampai 3 kali sehari)
c. Obat antipsikotik selama sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah gejala
hilang.
d. Apabila menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku di
bawah ini, lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya.
- Kekakuan otot (Distonia atau spasme akut), bisa ditanggulangi
dengan suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson.
- Kegelisahan motorik berat (Akatisia), bisa ditanggulangi dengan
pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker.
- Gejala parkinson (tremor/gemetar, akinesia), bisa ditanggulangi
dengan obat antiparkinson oral (misalnya, trihexyphenidil 2 mg 3 kali
sehari) (Lee, 2012., Magina, 2012).
Psikoterapi
Psikoterapi individual, keluarga dan kelompok diindikasikan untuk
memberikan terapi dari integrasi psikologis pengalaman.
Rujukan
Tindakan rujukan diperlukan bila terjadi kondisi-kondisi yang tidak dapat
diatasi melalui tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya khususnya pada :
- Kasus baru gangguan psikotik
- Kasus dengan efek samping motorik yang berat atau timbulnya demam,
kekakuan, hipertensi, hentikan obat antipsikotik lalu rujuk
(Lee, 2012., Magina, 2012).
Perawatan di Rumah Sakit
Untuk pasien psikotik akut, perawatan singkat di rumah sakit mungkin
diperlukan untuk pemeriksaan dan perlindungan pasien. Pemeriksaan pasien
membutuhkan monitoring ketat terhadap gejala dan pemeriksaan tingkat bahaya
pasien terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Di samping itu, lingkugan rumah
sakit yang tenang dan terstruktur dapat membantu pasien memproleh kembali rasa

14
realitasnya. Sambil klinisi menunggu lingkungan dan obat menunjukan efek,
pengurangan, pengikatan fisik, atau monitoring berhadap-hadapan dengan pasien
mungkin diperlukan.

2.9 Prognosis
Menurut definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik singkat
adalah kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan gangguan
psikiatrik bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada
pasien. Sejumlah pasien dengan persentasi yang tidak diketahui, yang pertama
kali di klasifikasikan menderita gangguan psikotik singkat selanjutnya
menunjukkan sindroma psikiatrik kronis, seperti skizofrenia dan gangguan mood.
Tetapi, pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki
prognosis yang baik, dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai
80 persen dari semua pasien tidak memilki masalah psikiatrik berat lebih lanjut
(Kumar, 2011).
Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari.
Kadang-kadang, gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri
adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik.
Sejumlah indikator telah dihubungkan dengan prognosis yang baik. Pasien
dengan ciri-ciri tersebut memiliki kemungkinan kecil untuk kemudian menderita
skizofrenia atau suatu gangguan mood (Lee, 2012).
Ciri prognosis yang baik untuk gangguan psikotik singkat
1. Penyesuaian premorbid yang baik
2. Sedikit trait schizoid pramorbid
3. Stressor pencetus yang berat
4. Onset gejala mendadak
5. Gejala afektif
6. Konfusi selama psikosis

15
7. Sedikit penumpulan afektif
8. Gejala singkat
9. Tidak ada saudara yang skizofrenik (Kaplan dan Saddcok, 2003).

16