Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki peluang ekonomi
untuk dibudidayakan. Budidaya ikan patin masih perlu diperluas lagi, karena
pemenuhan atas permintaan ikan patin masih sangat kurang. Rasa daging ikan
patin yang enak dan gurih konon memiliki rasa yang lebih dibandingkan ikan
lele. Ikan patin memiliki kandungan minyak dan lemak yang cukup banyak di
dalam dagingnya.

Teknik budidaya ikan patin sebenarnya relatif mudah, sehingga tidak perlu ragu
jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan
ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau
sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan
minat masyarakat, ikan patin mulai dibudidayakan di kolam, keramba maupun
bak dari semen. Permintaan ikan patin yang terus meningkat memberikan
peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di bidang budidaya ikan
patin ini. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas tidak mungkin
mengandalkan tangkapan alam, tetapi perlu budidaya ikan patin secara lebih
intensif.

Ada anggapan bahwa membudidayakan ikan patin masih dianggap sebagai


kegiatan yang kurang menguntungkan, mengingat di beberapa perairan
Sumatera dan Kalimantan ikan ini masih dengan mudah ditemukan. Anggapan
ini sungguh keliru karena keberadaan ikan yang terkenal lezat dagingnya tidak
selamanya bisa dipertahankan di alam. Hal ini tentu saja masuk akal karena
banyak pihak merasa berkepentingsn untuk memanfaatkan sumber daya alam,
termasuk menggunakan untuk hal-hal yang kontraprduktif, misalnya
memanfaatkan salah satu sumber daya alam dengan tidak memperhatikan
sumber daya alam yang lain. Dengan demikian, apabila suatu saat lingkungan
hidup patin terancam oleh pemanfaatan sumber daya alam yang kontraproduktif
maka pembudidayaan patin merupakan satu-satunya usaha untuk melestarikan
dan mengoptimalkan sumber daya ikan patin.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah disusun sebagai


berikut.
a. Apa saja yang termasuk sistematika dan ciri morfologi ikan patin?

b. Apa saja sifat-sifat biologis ikan patin?

c. Apa saja ikan yang termasuk kerabat ikan patin?

d. Apa saja persyaratan teknis pembenihan ikan patin?

e. Bagaimana ciri-ciri indukan ikan patin yang siap dipijahkan?

f. Bagaimana langkah-langkah pembenihan ikan patin?

g. Apa saja langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan


pengankutan benih ikan patin?

h. Apa yang harus dilakukan saat proses pembesaran ikan patin?

i. Apa saja hama dan penyakit yang dapat menyerang ikan patin?

j. Bagaimana cara mengobati ikan patin yang terserang penyakit?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul budidaya ikan patin
adalah untuk memperdalam pengetahuan tentang tekhnik budidaya ikan patin
itu sendiri. Jadi sangat memudahkan pembaca untuk memahaminya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistematika dan Ciri Morfologis Ikan Patin


Sistematika ikan Patin adalah sebagai berikut

Ordo : Ostariophysi

Sub-ordo : Siluroidea

Family : Pangasidae

Genus : Pangasius

Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.

Nama Inggris : Catfish

Nama lokal : ikan patin

Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan
punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm,
suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestic. Kepala
ikan patin relatif kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah
bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan Catfish. Pada sudut mulutnya
terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.

Sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang
bergerigi dan besar di sebelah belakangnya. Sementara itu, jari-jari lunak sirip
punggung terdapat enam atau tujuh buah. Pada punggungnya terdapat sirip
lemak yang berukuran kecil sekali. Adapun sirip ekornya berbentuk cagak dan
bentuknya simetris, ikan patin tidak memiliki sisik, sirip duburnya panjang, terdiri
dari 30-33 jari-jari lunak, sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak.
Sirip dada memiliki 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang berubah
menjadi senjata yang dikenal sebagai patil.

2.2 Sifat-Sifat Biologis Ikan Patin

Ikan patin bersifat nocturnal (melakukan aktivitas pada malam hari) sebagai
mana umumnya ikan Catfish lain nya. Selain itu patin suka bersembunyi di
dalam liang-liang di tepi sungai habitat nya hidup. Hal yang membedakan patin
dengan dengan Catfish pada umumnya yaitu sifat patin yang termasuk omnivora
atau golong ikan pemakan segala. Di alam makanan ikan ini antara lain ikan-ikan
kecil lainnya, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, udang-udang kecil, dan
molusca.

Ikan patin termasuk ikan dasar. Hal ini bisa dilihat dari bentuk mulutnya yang
agak ke bawah. Habitatnya di sungai-sungai besar yang tersebar di Indonesia,
India, dan Myanmar. Daging ikan patin sangat gurih dan lezat sehingga terkenal
dan sangat digemari oleh masyarakat. Di alam ikan ini dikumpulkan di tepi-tepi
sugai besar pada akhir musim penghujan atau sekitar bulan April sampai Mei.
Alat yang dipergunakan adalah seser yaitu semacam jala yang diperegang
dengan sepasang bilah bambu. Pengoperasiannya dengan cara mendorong atau
menyeserkan ke arah depan. Waktu penangkapannya menjelang fajar karena
pada saat itu anak-anak patin umumnya berenang bergerombol dan sesekali
muncul ke permukaan air untuk menghirup oksigen dari udara langsung.

2.3 Kerabat Ikan Patin

Kerabar dekat ikan patin yang ada di Indonesia umumnya memiliki ciri-ciri
keluarga Pangasidae, yaitu bentuk badan sedikit memipih, tidak bersisik atau
sisiknya halus sekali. Mulutnya kecil dengan 2-4 pasang sungut peraba. Sirip
duburnya panjang dimulai dari belakang dubur hingga sampai pangkal ekor.

Konon, kerabat ikan patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya


Pangasius polyuranodon (ikan juaro), Pangasius macronema (ikan rios, riu,
lancing), Pangasius micronemus (wakal, riuscaring), Pangasius nasutus (pedado),
Pangasius nieuwenhuisii (lawang).

a. Pangasius polyuranodon

Ikan ini dikenal juga dengan sebutan ikan juaro. Tubuhnya berwarna putih
seperti mutiara dengan punggung kehitam-hitaman. Bentuk tubuh tinggi dengan
sirip punggung memiliki tujuh jari-jari lunak dan dua buah jari-jari kerans yang
salah satu diantaranya menjadi senjata yang sangat ampuh berupa patil yang
sangat kuat. Sirip lemak pada punggungnya kecil sekali, sementara sirip ekornya
bercagak simetris. Sirip duburnya panjang dan memiliki 35-40 jari-jari lunak. Sirip
perut memiliki enam buah jari-jari lunak, sedangkan sirip dadamemiliki 12-13
jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang sangat kuat yang juga berfungsi
sebagai patil.

Di dekat lubang hidungnya terdapat sungut peraba dari rahang atas yang
berpangkal sampai di pangkal sirip dada. Sungut peraba pada rahang bawah
pendek. Panjang tubuh dapat mencapai 50 cm, hidupnya di sungai-sungai.
Penyebarannya di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Thailand.

b. Pangasius macronema

Ikan ini memiliki sungut yang lebih panjang daripada kepala. Gigi
veromine terpisah-pisah, terdapat 37-45 sisir saring tipis pada lengkung insang
pertama. Garis di tengah badan dan pada perut jelas terpisah di awal sirip dada.
Penyebaran ikan ini meliputi daerah Jawa, Kalimantan, dan Indocina.

c. Pangasius micronemus

Ikan ini memiliki gigi veromine terpisah atau bertemu di satu titik,
matanya sangat besar (kira-kira seperempat panjang kepala), moncong
berbentuk segi, cuping rahang bawah memanjang daripada membulat, tonjolan
tuang lengan pada pangkal sirip dada sangat pendek. Sungut rahang atas
memanjang sampai pinggiran belakang mata atau melampauinya. Terdapat 13-
16 sisir saring pada lengkung insang pertama. Terdapat di Kepulauan Sunda dan
Thailand.

d. Pangasius nasutus

Moncong ikan ini berbentuk runcing tajam dan sangat mencolok.


Kumpulan gigi veromine lebarnya tiga kali panjangnya. Matanya sangat kecil
(enam kali lebih pendek daripada panjang kepala) dan terletak di atas garis
sudut mulut. Jumlah jari-jari sirip dubur relatif sedikit. Ketika mulutnya tertutup,
gigi-gigi rahang atas terlihat semua. Penyebaran ikan ini di Sumatera,
Kalimantan, dan Malaysia.

e. Pangasius niuwenhuisii

Gigi veromine dan palatine bersatu dalam bidang lebar. Tonjolan tulang
lengan pada pangkal sirip dada memanjang sampai dua per tiga atau tiga per
empat jaraknya dari ujung sirip dada. Moncongnya meruncing. Penyebaran ikan
ini di Kalimantan Timur.

2.4 Persyaratan Teknis Pembenihan

Dalam usaha budidaya ikan patin persyaratan lokasi yang harus dipenuhi untuk
mencapai produksi yang menguntungkan meliputi sumber air, kualitas air dan
tanah serta kuantitas air. Kriteria persyaratan tersebut berbeda tergantung dari
pada sistem budidaya yang digunakan. Sebelum menetapkan lokasi usaha,
selain harus memenuhi persyaratan tersebut perlu pula dipastikan kelayakan
lokasi budidaya ditinjau dari segi gangguan alam, gangguan pencemaran,
gangguan predator, gangguan keamanan dan gangguan lalu lintas angkutan air.
Uraian berikut adalah persyaratan lokasi yang perlu diperhatikan :

a. Sumber Air

Air yang dapat digunakan untuk kegiatan pembenihan dapat berasal dari air
tanah ataupun air irigasi yang bebas dari pencemaran. Pada proses penetasan
telur dan pendederan air yang digunakan harus menggunakan air sumur hal ini
untuk menghindari adanya pencemaran dan timbulnya serangan penyakit dan
jamur pada telur dan larva, sedangkan untuk perawatan induk dan pendederan
benih dapat menggunakan air irigasi. Perlakuan mutlak dilakukan baik untuk air
tanah maupun air irigasi dengan melakukan metoda pengendapan, filtrasi, dan
aerasi. Hal ini diperlukan untuk mengurangi plastic tanah maupun pasir serta
menambah kandungan oksigen kedalam air sebelum digunakan untuk media
pemeliharaan ikan.

Adapun kualitas air yang baik untuk budidaya ikan Patin yang baik adalah :

Kriteria
Nilai Batas

a.

Fisika

- Suhu

20-30oC

- Total padatan terlarut Maksimum

2000 mg/l

- Kecerahan

Lebih dari 45 cm

b.

Kimia

- PH

6-9

- Oksigen terlarut
Maksimum 8 jam/hari, minimal 3 mg/l

- Karbondioksida bebas

Maksimum 15 mg/l

- Amoniak

Maksimum 0,016 mg/l

- Nitrit

Maksimum 0,2 mg/l

- Tembaga(Cu)

Maksimum 0,02 mg/l

- Seng (Zn)

Maksimum 0,02 mg/l

- Mercuri (Hg)

Maksimum 0,002 mg/l

- Timbal (Pb)
Maksimum 0,3 mg/l

- Klorin bebas (Cl2)

Maksimum 0,003 mg/l

- Fenol

Maksimum 0,001 mg/l

- Sulfida

Maksimum 0,002 mg/l

- Kadmium (Cd)

Maksimum 0,01 mg/l

- Fluorida

Maksimum 1,5 mg/l

- Arsenikum (As)

Maksimum 1 mg/l
- Selenium (Se)

Maksimum 0,05 mg/l

- Krom heksavalen (Cr + 6)

Maksimum 0,05 mg/l

- Sianida (Cn)

Maksimum 0,02 mg/l

- Minyak dan lemak

Maksimum 1 mg/l

b. Lokasi

Pemilihan lokasi untuk pembenian harus dilakukan. Hal ini terutama


berhubungan dengan ketersediaan dan kualitas air, baik air tanah maupun air
irigasi harus tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun. Selain itu,
lokasi unit pembenihan harus memiliki akses jalan yang baik untuk menunjang
operasional pembenihan dan pembesaran benih. Untuk menghindari musibah,
lokasi unit pembenihan harus bebas dari banjir dan tanah longsor.

c. Peralatan Yang Diperlukan

Peralatan Yang Diperlukan pada kegiatan pembenihan antara lain:

1. Hapa plastik 8. Sistem aerasi 15. Bak


pendederan

2. Hapa penampungan 9. Termometer 16. Alat


suntik

3. Bak penampungan induk 10. Akuarium dan rak 17. Cutter


4. Seser halus 11. Bak/kolam pendederan 18.
Timbangan

5. Pompa air 12. Alat suntik 19. Baskom

6. Handuk/sarung tangan 13. Corong penetasan telur 20. Water


heater

7. Bulu ayam 14. Corong penetasan artemia 21.


Peralatan lainya

d. Bahan Yang Diperlukan

Bahan yang diperlukan dalam kegiatan pembenihan antara lain:

1. Pakan induk 4. Obat-obatan 7.


Suspense tanah merah

2. Pakan benih 5. Artemia 8. Tissue

3. Hormone ovaprim 6. Sodium (NaCl 0,9 %) 9. Bahan


lainnya

2.5 Pemilihan Indukan Ikan Patin

Adapun ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap
dipijahkan adalah sebagai berikut.

a. Induk Betina :

1. Umur 3 tahun

2. Ukuran 1,5-2 kg

3. Perut membesar kearah anus

4. Perut terasa empuk dan halus bila diraba

5. Kloaka membengkan dan berwarna merah tua,

6. Kulit pada bagian perut lembek dan tipis

7. Kalau disekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang
bentuknya bundar dan besarnya seragam.

b. Induk Jantan :

1. Umur 2 tahun

2. Ukuran 1,5-2 kg

3. Kulit perut lembek dan tipis


4. Bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih

5. Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

2.6 Pemijahan Ikan Patin

a. Penyuntikan

Dalam proses penyuntikan, hormone yang digunakan adalah ovaprim, standar


dosis ovaprim yang diberikan untuk induk betina adalah 0,5 ml/kg sedangkan
untuk induk jantan adalah 0,2 ml/kg. penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali
pada bagian intramuscular di punggung atas kanan/kiri sudut penyuntikan 450,
dengan interval waktu penyuntikan pertama dan kedua sekitar 6-12 jam.
Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan sisanya 2/3
bagian diberikan pada penyuntikan kedua.

b. Striping

Media tempat penyuntikan indukan yang telah disuntik haruslah ideal, dalam arti
bak harus tertutup dan bak berbentuk bulat dengan ketinggian 1 m, bertujuan
induk yang telah disuntik tidak setres yang berakibat pada kualitas telur.
Biasanya setelah 6-12 jam setelah penyuntikan ke 2,ikan siap di setriping
telurnya untuk di aduk dengan sperma yang telah dicampur NaCl 0,9 %.

c. Inseminasi Buatan

Setelah diaduk secara merata dan telur terbungkus oleh sperma, langkah
selanjutnya adalah pencampuran larutan tanah merah yang berguna untuk
menghilangkan daya rekat telur kemudian diaduk sempurna hingga telur tidak
menempel satu sama lain untuk menghilangkan larutan tanah merah dilakukan
beberapa kali pembilasan menggunakan air bersih kemudian siap untuk
dimasukan dalam corong penetasan.

d. Penetasan Telur

Larva mulai menetas setelah kurang lebih 20 jam setelah inseminasi. Larva
menetas tidak bersamaan tetapi secara bertahap. Pemanenan larva dilakukan
24-28 jam setelah inseminasi. Larva yang menetas didalam corong penetasan
akan bergerak mengikuti aliran air kedalam bak penampungan larva kemudian
larva di panen dengan cara diambil dengan seser halus secara hati-hati dan
berlahan.

e. Pemeliharaan Larva dan Benih

Pemeliharaan larva dan benih ikan patin sebaiknya dilakukan di dalam ruangan
tertutup agar dapat dijaga suhu airnya serta menghindari kontaminasi yang
dapat masuk kedalam media pemeliharaan larva. Wadah pemeliharaan larva
dapat berupa akuarium, bak fiber, bak semen maupun bak kayu, hal terpenting
yang harus diperhatikan adalah kebersihan dan ukuran wadah. Padat tebar larva
sekitar 60-80 ekor/liter.

Larva dipelihara selama 15 hari, hingga larva ikan akan mencapai ukuran 3/4
inchi. Larva ikandi berikan pakan neupli artemia dari umur 30 jam hingga 7 hari.
Adapun pada hari ke 8 hingga ke 15 larva diberi pakan cacing sutra. Suhu
optimal untuk pemeliharaan larva antara 29-30 C.

Selama pemeliharaan larva dilakukan penyiponan sisa pakan dan faeses secara
rutin, penambahan dan pergantian air dapat dilakuakn setelah 4 hari
pemeliharaan dan dilakukan secara rutin minimal setiap 2 hari sekali atau sesuai
dengan kebutuhan.

Larva akan berangsur menjadi benih pada umur sekitar 15 hari dan pada umur
tersebut benih kemudian dipanen dan didederkan pada wadah yang lebih besar
agar pertumbuhannya lebih optimal. Wadah pendederan dapat berupa bak
semen ataupun bak fiber hingga benih berukuran 2-3 inchi, seluruh kegiatan
pemeliharaan larva hingga benih harus dicatat dan terdokumentasi dengan baik,
hal ini untuk menghitung biaya produksi yang dikeluaran untuk memproduksi
benih patin. Selain itu bertujuan untuk memudahkan dalam evaluasi apabila
terjadi kendala dan masalah dalam proses pemeliharaan benih.

2.7 Pengangkutan Benih Ikan Patin

Keberhasilan transportasi benih ikan biasanya sangat erat kaitannya dengan


kondisi fisik maupun kimia air, terutama menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2,
pH, dan suhu air. Kepadatan ikan yang diangkut selama pengangkutan karena
semakin padat ikan yang diangkut akan semakin ketat pula persaingan
penggunaan ruang dan oksigen terlarut. Langkah-langkah yang harus dipenuhi
untuk keberhasilan pengangkutan benih ikan patin tersebut adalah sebagai
berikut.

a. Pemberokan

Untuk mengurangi kotoran yang akan dikeluarkan benih patin maka selama
perjalanan ikan diberok atau dipuasakan selama 18 jam. Jika kurang dari itu,
dikhawatirkan perut ikan belum kosong sama sekali. Sedangkan jika proses
puasa terlalu lama maka ikan sangat lapar sehingga akan saling memangsa
sesamanyadi perjalanan.

b. Air

Air yang digunakan adalah air sumur yang sudah diaerasi selama 24 jam yang
bertujuan untuk mengurangi pencemaran bahan beracun seperti pestisida dan
bahan kimia lainnya. Maksud aerasi adalah untuk membuang gas-gas yang
berbahaya di dalam air, seperti CO2 dan menambah kandungan O2.

c. Wadah

Untuk mengangkut benih patin gunakan kantong plastik kecil berkapasitas 5 liter.
Kantong plastik dibuat rangkap untuk menghindari kebocoran. Kemudian
kantong plastik tersebut dimasukkan ke kardus.

d. Oksigen

Untuk menjamin keselamatan benih ikan selama perjalanan, diperlukan oksigen


murni yang dijual di depot atau toko dalam sebuah tabung kedap udara.
Perbandingan oksigen dengan air adalah 2 : 1. Dalam sebuah kantong plastik
sebaiknya hanya diisi dengan 1 liter air sumur yang sudah diaerasi selama 24
jam, ikan, dan 2 liter oksigen murni dengan tekanan 100 kg/cm2.

e. Benih

Benih yang diangkut biasanya berumur 21 hari dengan bobot 0,025 g


sebanyak 400 ekor setiap kantong.

f. Pengemasan

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengemasan adalah sebagai berikut.

Disediakan kantong sebanyak yang diperlukan. Setiap kantong dibuat


rangkap untuk menghindari kebocoran. Disediakan pula karet gelang yang
dibuat simpul sederhana.

Masing-masing kantong diisi dengan air sumur yang telah diaerasi selama
24 jam. Disiapkan di tempat yang mudah dijangkau dan dihindarkan dari injakan
orang yang lalu-lalang. Jika kantong yang telah diisi air cukup banyak maka
sebaiknya ditempatkan dulu dalam ember plastik atau bak fiberglass.

Benih ikan yang sudah diberok ditangkap dengan serokan halus lalu
dimasukkan ke kantong plastik yang sudah disediakan.

Satu per satu kantong diisi oksigen murni dengan perbandingan air :
oksigen = 1 : 2. Kantong yang sudah diisi oksigen murni harus segera diikat
dengan karet gelang rangkap. Setelah itu, kantong plastik langsung dimasukkan
ke kardus. Banyaknya kantong plastik yang akan dimasukkan sangat tergantung
pada ukuran kardus.

g. Lama Pengangkutan

Dengan cara pengangkutan seperti pada contoh pengemasan di atas, benih


Ppatin bisa diangkut selama 10 jam dengan tingkat kelangsungan hidup
mencapai 98,67%. Jika jarak yang hendak ditempuh memerlukan waktu
perjalanan yang lebih lama maka satu-satunya cara untuk menjamin agar ikan
tersebut selamat adalah dengan mengurangi jumlah benih ikan di dalam setiap
kantong plastik. Berdasarkan penelitian terbukti bahwa benih patin masih aman
diangkut selam 14 jam dengan kepadatan 300 ekor/liter.

2.8 Pembesaran Ikan Patin

Hal-hal yang perlu disiapkan dan diperhatikan dalam proses pembesaran


adalah sebagai berikut.

a. Persiapan Kolam

Persiapan kolam pembesaran ikan patin di mulai dengan melakukan pengeringan


kolam. Kolam dikeringkan dan dibiarkan selama 3-7 hari sampai dasar kolam
menjadi retak supaya bibit penyakit dan parasit mati terbunuh. Untuk keamanan
selama pembesaran, kondisi pematang kolam harus diperhatikan dengan
cermat. Setiap ada kebocoran dan bagian-bagian tanggul yang kurang kuat
segera di perbaiki. Keadaan kamalir diusahakan tidak ad mengalami
pendangkalan. Pastikan juga pintu pengeluaran dan pemasukan sudah diberi
saringan yang kokoh.

b. Pengapuran dan Pemupukan

Pengapuran di perlukan untuk memperbaiki pH tanah dan mematikan bibit


penyakit maupun hama ikan. Pada umumnya, pH yang cocok berkisar antara
6,7-8,6. Pupuk yang diberikan tidak langsung digunakan oleh ikan. Penggunaan
pupuk ini untuk merangsang pakan alami patin seperti Rotifera dan organisme
air lainnya dapat tumbuh dikolam. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk
organic, pupuk anorganik maupun pupuk hijau.

c. Pengisian Air

Setelah pemupukan selesai, kolam diairi setinggi 20 cm dan biarkan selama


beberapa hari, tujuannya adalah untuk member kesempatan kepada
pitoplankton dan organism air lainnya agar tumbuh dengan baik. Di alam ikan
pati menyukai perairan yang agak dalam sehingga sebelum penebaran
kedalaman air kolam sebaiknya sudah mencapai 1,5 m. Pengisian air sampai
mencapai ukuran ini harus dilakukan secara bertahap agar beban pematang
tidak bertambah secara mendadak.

d. Penebaran Ikan

Penebaran ikan ke kolam baru dapat dilakukan bila kondisi air kolam diperkirakan
sudah stabil. Artinya, pengaruh pupuk sudah hilang dan makanan alami sudah
cukup tersedia. Kepadatan penebaran untuk ikan patin yang di besarkan di
dalam kolam secara monokultur adalah 1 ekor/m2 untuk benih berukuran 100
g/ekor. Kepadatan penebaran ini tergantung pada ukuran benih, semakin besar
benih yang ditebarkan maka semakin jarang kepadatan penebarannya, demikian
pula sebaliknya.
Penebaran ikan diusahakan ketika suhu air rendah yaitu sekitar 25 C. suhu ini
biasanya terjadi pada pagi hari dan sore hari. Agar, lebih aman dilakukan proses
aklimatisasi sebelum ikan ditebarkan sehingga ikan tidak kaget dan langsung
bias menyesuaikan diri dengan lingkungann yang baru. Cara mudah proses
aklimatisasi ini dengan membiarkan ikan patin keluar dengan sendirinya dari
wadah pengangkutan benih ke air kolam. Proses ini bias dipercepat dengan
mencampur secara perlahan-lahan air kolam dengan air di wadah pengangkutan.

e. Pemberian Pakan Tambahan

Pemberian pakan tambahan pada proses pembesaran ikan patin di kolam sangat
mutlak untuk memacu pertumbuhan. Pakan tambahan itu berupa pellet atau sisa
kegiatan dapur. Jumlah pakan tambahan biasanya 3-4 % dari bobot total
ikan/hari. Pellet ini ada yang dibuat sendiri (pellet lokal) dan ada pula pellet
buatan pabrik (pellet komersial). Pakan tambahan lainnya yang juga bisa
diberikan adalah limbah ikan, udang-udangan, molusca dan bekicot. Pemberian
pakan jenis ini sesuai dengan pakan ikan patin di alam.

Pemberian pakan buatan dilakukan 3 sampai 4 kali sehari (pagi, siang, sore dan
malam). Dalam pelaksanaan nya, pemberian pakan buatan ini baru dihentikan
setelah hampir 25% dari ikan yang ada telah meninggalkan tempat pemberian
pakan. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar ikan patin sudah mulai
kenyang. Jarak waktu antara pemberian pakan yang satu dengan pemberian
pakan yang berikutnya adalah 4 jam karena biasanya ikan kembali lapar setiap
3-4 jam setelah makan.

f. Panen

Pemanenan ikan patin yang dipelihara secara monokultur di kolam lebih mudah
dilakukan karena ikan tidak bercampur dengan ikan jenis lainnya. Pemanenan
dilakukan bila ikan sudah di pelihara di kolam selama enam bulan. Pada umur ini,
ikan patin biasanya sudah mencapai ukuran konsumsi. Semakin besar ukuran
benih yang ditebarkan semakin singkat masa pemeliharaannya.

Pemanenan ikan dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara perlahan-


lahan. Saluran pemasukan air ditutup, sedangkan saluran pengeluaran yang
terletak di dasar kolam dibuka. Dengan demikian permukaan air dalam kolam
akan menurun secara berlahan dan ikan secara naluriah akan berenang menuju
kebagian kolam yang masih mengandung air. Agar ikan tidak ada lolos maka
pada pintu pengeluaran diberi krei bamboo atau saringan.

Untuk menjaga agar ikan tidak setres, penurunan air hendaknya tidak dilakukan
secara tergesa-gesa.khusus pada kolam yang berukura besar, penutupan saluran
pemasukan air dan membukaan saluran pengeluaran air sebaiknya dilakukan
pada sore hari, yaitu sehari sebelum panen dilakukan. Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali ikan sudah berkumpul di sepanjang kemalir. Ikan ini kemudian
digiring untuk di kumpulkan di bak pengumpulan. Ikan-ikan yang sudah
terkumpul di dalam bak penampungan dapat segera ditangkap dengan alat-alat
penangkap ikan separti serok, waring, dan scoop net . demi keamanan ikan patin
sebaiknya tidak dilakukan secara langsung dengan tangan. Selanjutnya, ikan
hasil panen ditampung di tempat khusus yang ada aliran air nya agar kodisinya
tetap segar.

2.9 Hama dan Penyakit yang Dapat Menyerang Ikan Patin

Selama proses budidaya ikan patin, dari pembenihan sampai usia pembesaran
tidak luput dari gangguan hama dan penyakit. Hama pada pemeliharaan ikan
patin pada hakekatnya adalah predator,yakni makhluk hidup yang menyerang
dan memangsa ikan patin. Sementara penyakit adalah terganggunya kesehatan
ikan yang disebabkan oleh parasit atau nonparasit. Secara garis besar, penyakit
ikan patin dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit akibat infeksi dan penyakit
noninfeksi.

a. Hama

Hama bersifat sebagai predator yang memangsa. Pada budidaya ikan patin,
kemungkinan serangan hama lebih banyak dialami pada usaha pembesaran
sebab usaha pembesaran ikan patin semuanya berlangsung di alam terbuka.
Sementara kegiatan pembenihan dilakukan di kolam atau bak tertutup. Pada
pembesaran ikan patin di jala apung, hama yang mungkin menyerang antara
lain linsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Pada pembesaran ikan patin
di jala apung di Sungai Musi Palembang pernah dilaporkan adanya hama berupa
ikan buntal (Tetraodon sp. dari family Tetradontidae) yang merusak jala
kemudian menyusup ke dalam dan memangsa ikan.

Hama lainnya berupa ikan liar pemangsa, udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-
ikan kecil yang masuk ke dalam wadah budidaya juga akan mengganggu.
Meskipun bukan hama, tetapi ikan kecil-kecil itu menjadi pesaing bagi ikan patin
dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.

b. Penyakit

Penyakit Non-infeksi

Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya


gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi yang ditemukan
adalah keracunan dan kekurangan gizi. Keracunan disebabkan oleh banyak
faktor, mungkin karena pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau
karena pencemaran lingkungan perairan. Sumber pencemaran tersebut dapat
berasal dari limbah ternak yang berlebihan, tumpukan sampah yang membusuk,
atau limbah pertanian (pestisida) yang bermuara pada lokasi budidaya.
Sementara pada kasus kurang gizi, umumnya disebabkan oleh pemberian pakan
scara serampangan, kurang bermutu, dan kurang bergizi. Gejala keracunan pada
ikan memiliki ciri-ciri yaitu biasanya ikan terlihat lemah dan berenang megap-
megap di permukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang terbalik
kemudian mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan kepala terlihat
lebih besar , tidak seimbang dengan ukuran tubuh. Ikan juga akan terlihat
kurang lincah dan berkembang tidak normal.

Untuk mencegah terjadinya kasus keracunan pakan harus diberikan


secara selektif dan lingkungan dijaga agar tetap bersih. Bila tingkat keracunan
belum parah, ikan-ikan yang setengah mabuk tersebut harus segera diangkat
dan ditempatkan pada wadah yang berisi air bersih, segar, dan dilengkapi suplai
oksigen. Untuk mencegah kekurangan gizi, pemberian pakan harus terjadwal dan
dengan jumlah yang cukup. Pakan yang diberikan harus dipastikan mengandung
kadar protein tinggi yang dilengkapi lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu
kualitas air tetap dijaga agar selalu mengalir lancar dan parameter kimia
maupun biologisnya mencukupi standar budidaya.

Penyakit Akibat Infeksi

Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit,


jamur, bakteri, atau virus. Berikut adalah beberapa jenis penyakit akibat infeksi
pada ikan.

a. Penyakit Parasit

Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa
protozoa dari jenis Ichytyhopthirius multifiliis Foque atau yang biasa disebut
penghancur ikan. Biktinya, benih Patin berumur 1-2 bulan dapat habis dalam
waktu singkat karena terserang penyakit ini. Keganasan protozoa berukuran
mikro ini memang ganas. Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara
bergerombol sampai ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik
putih. Tempat yang paling disukainya yaitu dibawah selaput lendir sekaligus
merusak selaput lendir tersebut.

Oleh karena jumlahnya banyak, serangannya bersifat mopolit sehingga


sangat berbahaya. Bila perairan mengalami perubahan suhu mendadak,
serangannya akan semakin meningkat. Pada tahap awal serangan, white spot
biasanya menyerang daerah pangkal sirip ikan. Bila keadaan mendukung, daerah
serangan akan semakin meluas hingga ke insang.

a. Penyakit Jamur

Penyakit lain yang dapat menyerang ikan patin adalah penyakit jamur. Penyakit
jamur biasanya terjadi akibat luka pada badan ikan, luka dapat berupa berupa
goresan maupun luka akibat serangan penyakit (penyakit lain). Penyebabnya
adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi perairan yang jelek,
kemungkinan patin terserang jamur lebih besar.

Cara mudah untuk mengetahui ikan patin yang terserang jamur adalah dengan
mengamati sekujur tubuhnya. Ikan patin yang terserang benyakit jamur, pada
bagian tubuhnya (terutama daerah kepala, tutup insang, sirip, dan bagian
punggung) tampak ditumbuhi benang-benang halus seperti kapas berwarna
putih hingga kecoklatan.
Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas agar
kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Agar tidak terluka, perlakuan
hati-hati pada saat penebaran ataupun sampling sangat diperlukan. Apabila
tidak, serangan penyakit jamur akan menyebabkan ikan kurus akhirnya mati
merana.

c. Penyakit Bakteri

Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit


bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu
Areomonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan yang terkena bakteri mengalami
pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal
sirip. Selaput lendir rusak dan lendir pada tubuh berkurang. Gejala ini dapat
diketahui bila ikan diraba tubuhnya akan terasa kasar. Ikan patin yang terserang
bakteri menjadi lemah dan sering muncul ke permukaan air.

2.10 Cara Mengobati Ikan Patin yang Terserang Penyakit

a. Penyakit Parasit (White Spot)

Cara yang sudah terbukti manjur untuk memberantas penyakit ini adalah
dengan menggunakan methilene blue atau metil biru yang tersedia di apotek
atau toko obat. Caranya, dibuat larutan metil biru dengan konsentrasi 1% (satu
gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan Patin yang sakit dimasukkan dalam bak
yang berisi air bersih. Kemudian ke dalamnya diberi larutan tersebut. Ikan
dibiarkan di dalam larutan selama 24 jam. Agar ikan yang sakit benar-benar
sembuh dan terbebas dari parasit, pengobatan dilakukan berulang-ulang selama
tiga kali dengan selang waktu sehari.

b. Penyakit Jamur

Obat yang biasanya digunakan adalah malachyt green oxalate sejumlah 2-3
g/m3 air (1 liter) selama 30 menit. Caranya, ikan patin yang sakit dimasukkan
dalam wadah yang telah diisi air bersih yang sudah dicampur dengan larutan
tadi. Pengobatan diulang sampai tiga hari berturut-turut.

c. Penyakit Bakteri

Karena penyakit ini mudah menular maka bila ada ikan patin yang sudah
terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan. Sementara
ikan yang terinfeksi, tetapi belum parah (permukaan tubuh masih cukup
berlendir) bisa dicoba beberapa cara pengobatan. Misalkan dengan merendam
ikan dengan larutan kalium permanganate (PK) 10-20 ppm selama 30-60 menit;
merendam ikan dalam larutan dalam larutan nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24
jam; atau merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
Cara lain yang lebih praktis dalam pengobatan penyakit bakteri adalah melalui
makanan. Makanan ikan patin yang akan diberikan dicampur dulu dengan
Chloromycetin 1-2 g untuk setiap 1 kg pellet. Hal yang harus diperhatikan adalah
tetap menjaga kualitas air agar selalu sesuai dengan kebutuhan hidup yang ideal
bagi ikan Patin.

BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan
punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm.
Kepala ikan patin relatif kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak di
sebelah bawah. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang
berfungsi sebagai peraba.

Ikan patin bersifat nocturnal (melakukan aktivitas pada malam hari) sebagai
mana umumnya ikan Catfish lain nya. Selain itu patin suka bersembunyi di
dalam liang-liang di tepi sungai habitatnya hidup. Di alam makanan ikan ini
antara lain ikan-ikan kecil lainnya, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, udang-
udang kecil, dan molusca.

Konon, kerabat ikan patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya


Pangasius polyuranodon (ikan juaro), Pangasius macronema (ikan rios, riu,
lancing), Pangasius micronemus (wakal, riuscaring), Pangasius nasutus (pedado),
Pangasius nieuwenhuisii (lawang).

Dalam usaha budidaya ikan patin persyaratan lokasi yang harus dipenuhi untuk
mencapai produksi yang menguntungkan meliputi sumber air, kualitas air dan
tanah serta kuantitas air. Sebelum menetapkan lokasi usaha, selain harus
memenuhi persyaratan tersebut perlu pula dipastikan kelayakan lokasi budidaya
ditinjau dari segi gangguan alam, gangguan pencemaran, gangguan predator,
gangguan keamanan dan gangguan lalu lintas angkutan air.

Adapun ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah
sebagai berikut.

Induk Betina :

Umur 3 tahun, ukuran 1,5-2 kg, perut membesar kearah anus, perut terasa
empuk dan halus bila diraba, kloaka membengkan dan berwarna merah tua, kulit
pada bagian perut lembek dan tipis, serta jika disekitar kloaka ditekan akan
keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.

Induk Jantan :

Umur 2 tahun, ukuran 1,5-2 kg, kulit perut lembek dan tipis, bila diurut akan
keluar cairan sperma berwarna putih, serta kelamin membengkak dan berwarna
merah tua.

Dalam proses pemijahan ikan patin, hormone yang digunakan adalah ovaprim,
dosis untuk induk betina adalah 0,5 ml/kg sedangkan untuk induk jantan adalah
0,2 ml/kg. Selanjutnya ikan siap di setriping telurnya untuk di aduk dengan
sperma yang telah dicampur NaCl 0,9 %. Kemudian pencampuran larutan tanah
merah yang berguna untuk menghilangkan daya rekat telur. Untuk
menghilangkan larutan tanah merah dilakukan beberapa kali pembilasan
menggunakan air bersih dan siap untuk dimasukan dalam corong penetasan.
Larva mulai menetas setelah kurang lebih 20 jam setelah inseminasi.
Pemanenan larva dilakukan 24-28 jam setelah inseminasi. Pemeliharaan larva
dan benih ikan patin sebaiknya dilakukan di dalam ruangan tertutup agar dapat
dijaga suhu airnya serta menghindari kontaminasi yang dapat masuk ke dalam
media pemeliharaan larva. Padat tebar larva sekitar 60-80 ekor/liter.

Dalam proses pembesaran ikan patin, persiapan kolam pembesaran ikan patin di
mulai dengan melakukan pengeringan kolam. Kolam dikeringkan dan dibiarkan
selama 3-7 hari sampai dasar kolam menjadi retak supaya bibit penyakit dan
parasit mati terbunuh. Pengapuran di perlukan untuk memperbaiki pH tanah dan
mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Kemudian proses pemupukan
untuk merangsang pakan alami patin seperti Rotifera dan organisme air lainnya
dapat tumbuh dikolam. Setelah pemupukan selesai, kolam diairi setinggi 20 cm
dan biarkan selama beberapa hari, tujuannya adalah untuk memberi
kesempatan kepada pitoplankton dan organisme air lainnya agar tumbuh dengan
baik. Pemberian pakan tambahan pada ikan patin berupa pellet atau sisa
kegiatan dapur. Pemberian pakan buatan dilakukan 3 sampai 4 kali sehari (pagi,
siang, sore dan malam). Pemanenan dilakukan bila ikan sudah di pelihara di
kolam selama enam bulan.

Hama pada pemeliharaan ikan patin adalah predator,yakni makhluk hidup yang
menyerang dan memangsa ikan patin. Sementara penyakit adalah terganggunya
kesehatan ikan yang disebabkan oleh parasit atau nonparasit. Penyakit ikan
patin dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit akibat infeksi dan penyakit
noninfeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya
gangguan faktor yang bukan pathogen, biasanya karena keracunan dan
kekurangan gizi. Sedangkan penyakit infeksi adalah penyakit yang timbul akibat
organisme pathogen, biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, atau virus.
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa
dari jenis Ichytyhopthirius multifiliis Foque atau yang biasa disebut penghancur
ikan. Penyakit jamur biasanya terjadi akibat luka pada badan ikan, luka dapat
berupa berupa goresan maupun luka akibat serangan penyakit (penyakit lain).
Penyebabnya adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. V Penyakit bakteri yang
mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa
menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Areomonas sp. dan
Pseudomonas sp.

Cara yang digunakan untuk mengobati penyakit white spot adalah dengan
menggunakan methilen blue. Buat larutan methilen blue dengan konsentrasi 1%
(1 gram methilen blue dalam 100cc air). Ikan yang sakit lalu dimasukkan ke
dalam bak berisi air bersih, lalu beri larutan yang telah dibuat tadi dan biarkan
selama 24 jam. Pengobatan dilakukan selama tiga kali dengan selang waktu
sehari. Cara untuk mengobati penyakit jamur adalah dengan menggunakan
malachite green oxalate sejumlah 2-3 g/m3 air (1 liter) selama 30 menit. Ikan
yang sakit dimasukkan dalam wadah berisi air bersih yang sudah dicampur
dengan larutan tersebut. Pengobatan dilakukan sampai tiga hari berturut-turut.
Sedangkan ada beberapa cara untuk mengobati penyakit bakteri yaitu dengan
merendam ikan dalam larutan kalium permanganate (PK) 10-20 ppm selama 30-
60 menit; merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam;
atau merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.

4.2 Saran

Sebaiknya, kegiatan pembudidayaan ikan patin ini dapat lebih di tingkatkan baik
itu di bidang pembenihan maupun pembesarannya agar produksi ikan patin ini
terus meningkat dan dapat memenuhi permintaan pasar lokal maupun
internasional. Selain itu juga sebagai cara untuk melestarikan populasi ikan patin
yang semakin hari semakin sedikit jumlahnya di alam bebas.
DAFTAR PUSTAKA

Susanto, heru dan khairul amri. 1996. Budidaya Ikan Patin. Jakarta: Penebar
swadaya.

http://www.jurus-tepat-budidaya-ikan-patin-keuntungan-besar-dari-si-mulut-
besar.com

http://www.budidaya-ikan-patin-pangasius-pangasius.com

http://www.budidayaikanpatinsecaraintensif.com

http://www.penebar-swadaya.com