Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut nasional kidney and urologic disease advisory board, sekitar 13 juta
individu di amerika serikat menderita inkontinensia urin dengan insiden tertinggi
terjadi pada lansia baik yang dirawat di panti werda maupun yang tidak. Insiden
inkontinensia pada lansia diketahui lebih besar dari 4% yang terdeteksi pada
populasi umum. Penelitian mendokumentasikan bahwa insiden inkontinensia pada
lansia mencapai 14% sampai 40%, dan insiden pada wanita dua kali lebih tinggi
dibandingkan pada pria. Dilaporkan bahwa 11% sampai 17% individu lansia yang
tinggal dirumah dan 40% sampai 60% individu lansia yang tinggal di panti wreda
di Amerika Serikat mengalami inkontinensia urin. Beberapa ahli menklaim bahwa
inkontinensia urin menyerang 15% sampai 39% lansia non penghuni panti wrda
dan sedikitnya setengah dari 1,5 juta penghuni panti wreda di Amerika Serikat
melaporkan prevelensi inkontinensia yang dilaporkan sendiri pada 37,7% wanita
dan 18,9% pria lansia yang tidak dirwat di panti wreda.

Inkontinensia merupakan masalah yang biasa terjadi, dengan sekitar sepertiga


individu penderita melaporkan episode mengompol setiap hari atau setiap minggu.
Keseriusan masalah tersebut bagi lansia ditekankan dengan temuan bahwa individu
lansia yang mengalami inkontinensia menderita masalah tersebut selama rata-rata 9
tahun. Diperkirakan bahwa penyedia layanan kesehatan mengetahui hanya setengah
kasus inkontinensia. Akibat keengganan pasien melaporkan masalah yang sangat
pribadi dan memalukan ini keapda dokter atau perawat dan karena tidak ada
penyediaan layanan yang menyenangkan tentang inkontensia. Lebih dari separuh
penduduk amerika serikat yang mengalami inkontinensia urin tidak menjalani
pemeriksaan ataupun mendapatkan terapi.

Kendati merupakan masalah yang umum terjadi pada lansia dan memiliki
dampak besar pada kualitas hidup mereka, inkontinensia bukan konsekuensi
penuaan yang tidak dapat dihindari atau ireversible. Oleh karena itu perawat pun
harus mengetahui konsep dan penatalaksanaan klien dengan inkontinensia

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu inkontinensia urin dan apa etiologinya?
2. Bagaimana patofisiologi dan manifestasi klinis dari inkontinensia urin?
3. Bagaimana penatalaksanaan inkontinensia urin?
4. Bagaimana asuhan keperawatan inkontinensia urin?
1.3 Tujuan
Tujuan dari uraian makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami:
1. Apa itu inkontinensia urin dan apa etiologinya?
2. Bagaimana patofisiologi dan manifestasi klinis dari inkontinensia urin?
3. Bagaimana penatalaksanaan inkontinensia urin?
4. Bagaimana asuhan keperawatan inkontinensia urin?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi inkontinensia urin

2
Inkontinensia urin (IU) adalah keluarnya kemih di luar kemauan tanpa dapat
dikendalikan dan ditahan (Syamsyuhidayat, 2005). Inkontinensia urin adalah
ketidaknyamanan untuk mengontrol pengosongan kandung yang bisa sementara
ataupun kronis dengan berbagai macam alasan baik itu kerusakkan biologis ataupun
psikologis (Vaughans, 2013). Dapat disimpulkan bahwa inkontinensia urin adalah
keluarnya kemih diluar kemauan dan keinginan yang diakibatkan oleh kerusakkan
bilogis dan psikologis.
2.2 Etiologi
IU Akut IU Kronis Penyebab pada Penyebab Faktor Resiko
Perempuan pada Lk-lk
1. Sembelit 1. Hiperaktif 1. Infeksi/iritasi 1. Radang 1. Kelebihan BB
2. Infeksi detrusor vagina prostat 2. Merokok
saluran 2. Obstruksi saluran 2. Kehamilan 2. BPH 3. Konsumsi
kemih kemih dan 3. Kanker alkohol/kafen
3. Alkohol 3. Stroke persalinan prostat 4. Lansia
4. Obat-obatan 4. Gangguan SSP 3. Ketidakseimb 5. Jenis kelamin:
5. Tumor otak angan perempuan
6. Cedera spinal hormon
cord 4. Histerektomi
7. Interstitial
cystitis (radang
kronis dinding
kandung kemih)
8. Diabetes

2.3 Klasifikasi
Berikut penyebab sekaligus tipe-tipe dari inkontinensia urin:
Tipe Deskripsi Penyebab
Fungsional Buang air kecil tidak fakulatif Kerusakkan kognitif dan sensori,
pada orang yang mempunyai kerusakkan motorik, disfungsi
kontrol kandung kemih dan SSP.
saluran perkemihan yang normal
Overflow Urin merembes dari kandung Kelenjar prostat membengkak,
kemih yang kelebihan isi prolaps urin, diabetes, luka sum
sum tulang belakang, dan
medikasi tertentu
Refleks Buang air kecil tidak fakultatif Disfungsi saraf (stroke, luka
dalam waktu dapat diprediksi sumsum tulang belakang, dan
disebabkan ketidakmampuan tumor)
seseorang merasakan bahwa

3
kandung kemih sudah penuh
Stress Kehilangan tidak fakultatif <50 Otot dasar pelviks lemah,
ml urin akibat peningkatan obesitas, estrogen menurun,
mendadak tekanan intraabdominal kehamilan dan trauma melahirkan
(misal batuk, tertawa, bersin)
Desakkan Sensasi kuat untuk buang air kecil Diuretik, minuman berkafein dan
tetapi orang tersebut tidak dapat alkohol, penyakit neurogen,
menunda BAK hingga sampai asupan cairan banyak, katerisasi
kamar mandi. Jumlah urin yang atau iritasi kandung kemih, dan
dikeluarkan bervariasi. hipertrofi prostat
Campuram Kombinasi tipe inkontinensia Tergantung tipe inkontinensia
yang dideskripsikan di atas yang dialami

2.4 Patofisiologi

2.5 Manifestasi Klinis


a. Inkontinensia stres : keluarnya urin selama batuk, mengedan, dan sebagainya.
Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stres.

4
b. Inkontinensia urgensi : ketidakmampuan menahan keluarnya urin dengan
gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih.
c. Enuresis nokturnal : 10% anak usia 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun
mengompol selama tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan
sesuatu yang abnormal dan menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak
stabil.
d. Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi (pancaran lemah,
menetes), trauma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdomino perineal),
fistula (menetes terus-menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus
besar) atau penyakit sistemik (misalnya diabetes) dapat menunjukkan penyakit
yang mendasari.
2.6 Komplikasi
1. Hipovolemia 5. Penurunan fungsi kognitif
2. Iritasi
6. Delirium
3. Infeksi
7. Postural hipotensi
4. Retensi urine

2.7 Penatalaksanaan
Perbahan Gaya Hidup Obat-obatan
1. Menurunkan berat badan 1. Antispasmodik termasuk obat-obatan
2. Menghindari minum berlebih dan antikolinergik dan relaksan otot polos
mengurangi konsumsi kafein untuk merelaksasi kandung kemih
3. Senam kagel 2. Antibiotik
4. Biofeedback 3. Terapi pengganti hormon estrogen
5. Bladder training bagi monopause
6. Manajemen cairan dan diet 4. Desmopressin merupakan anti-
7. Penjadwalan waktu BAK diuretik yang menghentikan produksi
urin saat tidur
Peralatan Medis Pembedahan
1. Urethral insert, tampon yang dapat 1. Pemasangan sfingter urin buatan
dimasukkan ke dalam uretra (katup pengontrol aliran urin dari
perempuan guna mencegeah kandung kemih) untuk pria
kebocoran urin 2. Suspensi kecacatan anatomi internal
2. Pessary, semacam cincin yang 3. Sacral nerve stimulation
dimasukkan ke dalam vagina untuk 4. Bulking material injection atau
mengatasi kandung kemih prolaps collagen injection (memperkuat
atau turun jarinangan disekitar uretra)
3. Penile compression device, klem 5. Prosedur sling (ditempatkan di bawah

5
penis pecegah kebocoran uretra)
4. Kateter

2.8 Asuhan Keperawatan


Pengkajian
1. Identitas klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia
(usia ke atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup
kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului
inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan,
usia/kondisi fisik, kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan
waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih
sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
b. Riwayat kesehatan masa lalu
Ppakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi
dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera
genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah
dirawat dirumah sakit.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan
klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit
ginjal bawaan/bukan bawaan.
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon
dari terjadinya inkontinensia

b. Pemeriksaan Sistem
a) B1 (breathing) : Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas,
sianosis karena suplai oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah
kelainan pada perkusi.
b) B2 (blood) : Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan
gelisah
c) B3 (brain) : Kesadaran biasanya sadar penuh
d) B4 (bladder) :

6
Inspeksi: periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat
karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih
serta disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran
daerah supra pubik lesi pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat
berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang
kateter sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti
rasa terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu
kencing.
Perkusi : Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.
e) B5 (bowel) : Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya
nyeri tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya
ketidaknormalan palpasi pada ginjal.
f) B6 (bone) : Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan
ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian.
4. Data penunjang
Urinalisis, Hematuria, Poliuria, Bakteriuria.
5. Pemeriksaan Radiografi
a. IVP (intravenous pyelographi), memprediksi lokasi ginjal dan ureter.
b. VCUG (Voiding Cystoufetherogram), mengkaji ukuran, bentuk, dan fungsi
VU, melihat adanya obstruksi (terutama obstruksi prostat), mengkaji PVR
(Post Voiding Residual).
6. Kultur Urine
Steril, Pertumbuhan tak bermakna ( 100.000 koloni / ml), Organisme

7
NANDA NOC NIC
DIAGNOSA NOC NIC
Inkontinensia Urgensi Kontinensia Urin: Pelatihan kandung kemih
Batasan karakteristik Indikator: Tindakan:
- Urgensi berkemuh - Waktu cukup untuk - Tentukan kemampuan untuk mengenali urgensi berkemih
- Sering berkemih dengan mencapa toilet antara - Tentukan pola berkemih
intervensi setiap kurang dari 2 urgensi dan urinasi - Tetapkan jadwal eliminasi berdasarkan pola berkemih
jam Status infeksi - Tingkatkan/kurangi interval eliminasi berdasarkan episode
- Kontraktur/ spasme kandung Indikator: inkontinensia
kemih - Peningkatan hitung sel Pelatihan kebiasaan berkemih
- Nokturia (> 2 kali per malam) darah putih Tindakan:
- Jumlah urin sedikit (>100ml) - Nyeri/nyeri tekan - Validasi ketidakmampuan kognitif untuk mengenali dan
- Ketidak mampuan mencapai bertindak terhadap urgensi
Pengetahuan: Prosedur
toilet tepat pada waktunya - Teteapkan jadwal eliminasi berdasarkan pola berkemih
terapi
Faktor yang berhubungan - Bantu ke toilet dan dorong untuk berkemih pada interval yang
Indikator:
- Kapasitas kandung kemih di programkan
- Deskripsi prosedur terapi
sedikit/overdistansi - Tekankan bersama staf pentingnya mematuhi jadwal eliminasi
- Pelaksanaan prosedur
- Asupan kafein/alkohol tinggi Latihan otot panggul
terapi
- Efek obat (antikoligenik, Tindakan
Pengetahuan: Medikasi
diuretik, narkotika, - Anjurkan pasien untuk mengencangkan, kemudian
Indikator:
betaadrenergik) merelaksasikan cincin otot, disekitar uretra dan anus
- Iritasi kandung kemih - Deskripsi efek samping
- Beri instruksi tertulis yang menjelaskan intervensu dan
- Infeksi obat
jumlah pengulangan yang dianjurkan
- Ketidak stabilan detrusor - Deskripsi teknik
- Informasikan pasien bahwa keefektifan latihan baru terlihat
- Hiperefleksia detrusor pemantauan mandiri
setelah 6-12 minggu
Manajemen cairan
Tindakan:
- Hindari kafein/alkohol
- Tingkatkan asupan cairan
- Buat catatan asupan dan keluaran yang akurat
Penyuluhan pasien
Tindakan:
- Beri informasi mengenai tujuan intervensi
- Ajarkan menahan mikturisi secara aktif
- Ajarkan tindakan/kewaspadaan terhadap medikasi

Inkontinensia Stress Kontinensia urin Latihan otot


Batasan karakteristik Indikator: Tindakan:
- Melaporkan atau tampak Tidak terjadi kebocoran urine - Anjurkan pasien untuk mengencangkan, kemudian
mengalami dribbling urin seiring peningkatan tekanan merelaksasikan cincin otot, disekitar uretra dan anus
- Urgensi bekemih abdomen - Beri instruksi tertulis yang menjelaskan intervensu dan
- Sering berkemih dengan jumlah pengulangan yang dianjurkan
intervensi setiap kurang dari 2 Perilaku kepatuhan: - Informasikan pasien bahwa keefektifan latihan baru terlihat
jam Indikator: setelah 6-12 minggu
Faktor yang berhubungan Laporan kepatuhan terhadap Biofeedback
- Otot panggul dan penopang program penanganan Tindakan:
struktural lemah - Hubungkan peralatan yang diperlukan ke pasien
- Tekanan intraabdomen tinggi - Bantu untuk belajar memodifikasi respon terhadapt petunjuk
(batuk kronik, obesitas.flatus) alat
- Arus kandung kemih tidak - Beri umpan balik terhadap program setelah setiap sesi
kompeten
- Distensi diantara waktu
Penyuluhan pasien:
perkemihan Tidakan:
- Vaginitis atrofik - Ajarkan tujuan intervensi
- Ajarkan untuk secara aktif menahan mikturisi
- Ajarakan tindakan/kewaspadaan terhadap obat
Inkontinensia overflow Kontinensia urin Kateterisasi urin: Intermiten
Batasan karakteristik Indikator: Tindakan:
- Dribbling urin yang sering Urin residu setelah bekemih - Tentukan jadwal katetrisasi berdasarkan pengkajian
- Gejala inkontinensia stress atau tidak lebih dari 100-200ml perkemihan yang komprehensif
urhensi - Sesuaikan frekuensi kateterisasi untuk mempertahankan
- Kandung kemih dapat dipalpasi keluaran 300ml atau kurang
- Urin residu setelah berkemih - Ajarkan pasien/keluarga tentang tujuan, suplei, metode, dari
>100-200 ml rencana kateterisasi intermiten
Faktor yang berhubungan Manajemen Cairan
- Obstruksi pintu kandung kemih Tindakan:
- Detrusor tidak aktif akibat - Pertahankan asupan 1000ml cairan perhari
faktor miogenik atau neurogenik - Buat catatan asupan dan keluaran yang akurat
- Faktor farmakologis yang
menggangu aktifitas detrusor
atau sfingter
Infoktinensia urin fungsional Kontinensia urin Manajemen lingkungan
Batasan karateristik Indikator: Tindakan:
- Merasakan kebutuhan untuk - Mampu berpakaian secara - Sediakan alat adaptif
berkemih mandiri - Sediakan toilet yang mudah dicarapi dan beri privasi, bantuan
Faktor yang berhubungan - Mampu menatalaksana dan pakaian
- Perubahan faktor lingkungan toilet secara mandiri
(toilet yang tidak familiar atau Perawatan diri eliminasi Pelatihan kebiasaan berkemih
tidak nyaman, kurang privasi, Indikator: Tindakan:
- Validasi ketidakmampuan kognitif untuk mengenali dan
tidak ada bantuan, pola pakaian - Melepaskan pakaian bertindak terhadap urgensi
yang menghambat) - Menuju dan kembali dari - Tetapkan jadwal eliminasi berdasarkan pola berkemih
- Defisit toilet - Bantu ke toilet dan dorong agar berkemih pada interval waktu
mobilitas/kofnitif/sensoris yang diprogramkan
(gangguan penglihatan, cara - Tekankan bersama staf pentingnya mematuhi jadwal eliminasi
berjalan/ keseimbangan,
keterampilam tangan, transfer,
kekakuan, ketahanan)
- Faktor psikologis
- Struktur penyokong/pinggul
yang lemah
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Inkontinensia adalah keluarnya kemih diluar kemauan dan keinginan yang diakibatkan
oleh kerusakkan bilogis dan psikologis. Macam-macam inkontinensia urin yaitu IU
stres, IU fisiologis, IU overflow, IU urgensi, IU campuran. Penatalaksanaan
keperawatan yang dapat diajarkan kepada klien IU adalah mengajarkan latihan otot
panggul, membantu klien membuat jadwal berkemih, memberi edukasi terkait tanda,
gejala, penyebab, serta cara mengatasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu bedah Ed. 2. Jakarta: EGC
Vaughans. 2013. Keperawatan Dasar. Editor: Dewibertha Hardjono.Jakarta: Katalog
Dalam Terbitan
Maas, et. al. Asuhan Keperawatan Geriatrik: Diagnosis, Kriteria Hasil NOC, &
Intervensi NIC. Editor: Nandan Suryana. Jakarta: Katalog Dalam Terbitan