Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH SUHU KALSINASI DAN PERBANDINGAN MOL REAKTAN

PADA TRANSESTERIFIKASI BIODIESEL MINYAK JELANTAH DENGAN


KATALIS CaO DARI TULANG AYAM
Ricky Kurniawan, Gilang Ruhinda Putra, Luqman Buchori

Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,


Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Abstrak
Bahan bakar fossil seperti minyak bumi, gas alam, dan batubara merupakan sumber energi utama dunia
saat ini. Namun ketersediaan bahan bakar fossil semakin lama semakin menipis. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, saat ini banyak dikembangkan inovasi bahan bakar alternatif yang dapat
diperbaharui. Salah satu inovasi yang menjanjikan saat ini adalah biodiesel. Biodiesel dihasilkan melalui
reaksi transesterfikasi antara minyak dengan alkohol atau dengan esterifikasi asam lemak. Penelitian ini
bertujuan mensintesis dan menganalisa karakteristik biodiesel dari minyak goreng jelantah dengan
katalis CaO tulang ayam. Penelitian dilakukan dengan variabel suhu kalsinasi katalis CaO dan rasio mol
reaktan metanol terhadap minyak. Suhu kalsinasi divariasikan pada suhu 600 oC, 700 oC, 800 oC, dan
900 oC. Sedangkan rasio mol reaktan methanol terhadap minyak divariasikan pada perbandingan 6:1,
9:1, 12:1, dan 15:1. Bahan baku minyak goreng jelantah diadsorpsi terlebih dahulu dengan arang aktif
kulit salak untuk menurunkan kadar FFA. Kemudian dilakukan reaksi transesterifikasi pada suhu 60 oC
selama 120 menit dengan penambahan katalis CaO sebanyak 5% berat. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kondisi optimum tercapai pada suhu kalsinasi 900 oC dengan rasio mol metanol/minyak 15:1.
Pada kondisi reaksi tersebut diperoleh yield biodiesel sebesar 94,64%, nilai kalor yang sesuai dengan
SNI yakni 38.964 kJ/kg, dan yield FAME sebesar 25,3%.

Kata kunci: Biodiesel, Minyak Jelantah, Kulit salak, Transesterifikasi

Abstract
Fossil fuel such as petroleum oil, natural gas, and coal are becoming the main support system of world
energy demand nowadays. Unfortunately the availability of fossil fuel is limited due to its large demand
and in addition it is non-renewable. Many researchers work on this problem by inventing the new
alternative energy to substitute the use of fossil fuel as main energy source. One of the promising
inovation which has been developed dramatically is biodiesel. Biodiesel is an alternative energy source
derived from transesterification reaction of oil and alcohol or the esterification reaction of fatty acid. The
purpose of this research is to synthesize and analyze biodiesel derived from waste cooking oil with
chicken bone CaO catalyst. It is varied the calcination temperature at 600 oC, 700 oC, 800 oC, and 900 oC
with mol ratio of reactant of methanol to oil 6:1, 9:1, 12:1, and 15:1. The raw material, waste cooking oil
is firstly adsorbed by activated carbon derived from salacca peel to dwindle the percentage of FFA. It is
followed by the transesterification reaction operated at 60 oC in 120 minutes by adding 5% wt. CaO
catalyst . The result shows that the optimum condition fulfilled at 900 oC calcination with 15:1 mol ratio
of methanol to oil. In the optimum condition the yield of biodiesel is 94,64%, heat of combustion value at
38.964 kJ/kg (SNI acceptable), and yield of FAME is 25,3%.

Keywords: Biodiesel, Waste Cooking Oil, Salacca Peel, Transesterification

1. Pendahuluan semakin lama semakin menipis. Hal ini disebabkan


Bahan bakar fossil seperti minyak bumi, gas alam, bahan bakar fossil merupakan sumber energi yang tidak
dan batubara terus digunakan hingga saat ini. Kebutuhan dapat diperbaharui karena substansi ini terbentuk dari
akan bahan bakar tersebut terus menerus meningkat batuan aktif dan unsur penting lainnya dan mengalami
setiap tahunnya. Namun ketersediaan bahan bakar fossil proses akumulasi selama jutaan tahun (Magoon, 1988).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saat ini banyak membuat biodiesel dari minyak jelantah dengan
dikembangkan inovasi bahan bakar alternatif yang dapat menggunakan katalis basa NaOH dan konversi yield
diperbaharui. Salah satu inovasi yang menjanjikan saat maksimum yang didapat sebesar 89.8%. Rashid dan
ini adalah biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar Anwar (2008) menggunakan katalis basa KOH dan
ramah lingkungan yang dihasilkan dari lemak, minyak didapat konversi yield maksimum sebesar 95-96%.
nabati maupaun lemak hewan (Vasudevan dan Briggs, Namun katalis basa homogen ini memiliki kekurangan
2008). yaitu dapat bereaksi dengan asam lemak membentuk
Biodiesel dihasilkan melalui reaksi transesterfikasi sabun, yang akan menurunkan yield yang dihasilkan dan
antara minyak dengan alkohol atau dengan esterifikasi menghambat proses pemisahan antara gliserol dan air
asam lemak. Kelebihan biodiesel daripada bahan bakar (Lam et al., 2010). Pembuatan biodiesel juga dapat
diesel/solar yaitu biodiesel merupakan bahan bakar yang menggunakan katalis homogen asam. Proses
dapat diperbaharui dan ramah lingkungan karena terbuat transesterifikasi dilakukan dengan menggunakan prinsip
dari minyak nabati atau lemak hewan, mengandung Bronsted Acid. Lee et al. (2009) melakukan
sangat sedikit sulfur dan senyawa polisiklik aromatik transesterifikasi dengan menggunakan katalis asam
hidrokarbon sehingga aman untuk kendaraan, dan dapat dapat menghasilkan konversi yield yang besar, namun
digunakan secara langsung tanpa melakukan perubahan membutuhkan waktu reaksi yang lama bila
mesin (Vasudevan dan Briggs, 2008). dibandingkan dengan katalis asam. Misalnya untuk
Biodiesel dapat dibuat dari berbagai jenis minyak, pembuatan biodiesel dari minyak kedelai dengan
seperti minyak kelapa sawit, minyak jarak, minyak menggunakan H2SO4 membutuhkan waktu lebih dari 50
kedelai, minyak jelantah dan minyak lainnya. Minyak jam untuk mencapai konversi sebesar 100% pada
jelantah (waste cooking oil) berpotensi untuk diolah temperatur 65oC dengan perbandingan rasio metanol :
menjadi biodiesel karena hingga saat ini minyak = 30:1. Selain membutuhkan waktu yang lama,
pemanfaatannya belum optimal. Di Indonesia, sebagian perbandingan metanol dan minyak yang digunakan
besar minyak jelantah masih digunakan berulang-ulang harus besar dan harus dilakukan pada suhu yang tinggi
untuk alasan penghematan, padahal minyak jelantah (Lee et al., 2009).
berbahaya bagi kesehatan karena mengandung senyawa- Karena banyak kekurangan dari penggunaan katalis
senyawa yang bersifat karsinogenik. Untuk homogen tersebut maka dikembangkan penggunaan
memaksimalkan pemanfaataan minyak jelantah, banyak katalis heterogen dalam pembuatan biodiesel. Katalis
dilakukan penelitian untuk membuat biodiesel dari heterogen yang umumnya digunakan yaitu katalis CaO.
minyak jelantah. Namun minyak jelantah masih Katalis CaO dapat dibuat dari proses kalsinasi CaCO3.
mengandung pengotor dan memiliki kadar asam lemak Studi menunjukkan bahwa katalis CaO kebanyakan
bebas yang tinggi (>1%) sehingga harus ditreatment dibuat dari cangkang telur. Wei et al. (2009) melakukan
terlebih daulu sebelum diolah menjadi biodiesel. pembuatan katalis CaO untuk pembuatan biodiesel
Treatment yang dapat dilakukan diantaranya dengan menggunakan cangkang telur ayam dan didapat
adsorpsi menggunakan arang aktif. Penelitian yang konversi yield sebesar 95%. Chen et al. (2014)
dilakukan oleh Triyanto (2013) mengenai pemurnian melakukan pembuatan katalis CaO untuk pembuatan
minyak jelantah dengan adsorpsi menggunakan arang biodiesel dengan menggunakan cangkang burung unta
aktif dari ampas tebu memberikan hasil kadar asam dan didapat konversi yield sebesar 92.7%.
lemak bebas minyak jelantah dari 0.6994 turun menjadi Dari banyaknya studi mengenai katalis CaO pada
0.3952 mg KOH/g minyak. Penelitian yang dilakukan pembuatan biodiesel, masih sedikit studi yang meneliti
oleh Yuliana dkk. (2005) mengenai penggunaan mengenai katalis CaO yang terbuat dari tulang. Tulang
adsorben untuk mengurangi kadar free fatty acid, merupakan salah satu sumber kalsium yang banyak.
peroxide value, dan warna minyak goreng bekas Farooq dan Ramli (2015) telah melakukan pembuatan
memberikan hasil dengan adsorben kalsium silikat 10% biodiesel dengan katalis tulang ayam. Namun konversi
kadar asam lemak bebas dari 1.28% turun menjadi yang dihasilkan masih rendah yaitu hanya 89.3%.
0.52%, dengan adsorben magnesium silikat nilai Penelitian ini bertujuan untuk membuat biodiesel
bilangan asam turun menjadi 0.89%, dengan adsorben dari minyak jelantah yang dimurnikan dengan arang
karbon aktif nilai bilangan asam turun menjadi 0.84%, aktif dari kulit salak dan dengan menggunakan katalis
dengan adsorben bentonit nilai bilangan asam turun CaO dari limbah tulang ayam. Dengan variasi waktu
menjadi 1%. kontak adsorpsi dan massa arang aktif yang digunakan
Pembuatan biodiesel dari minyak jelantah ini serta suhu reaksi transessterifikasi.
menggunakan reaksi transesterifikasi seperti pembuatan
biodiesel pada umumnya. Reaksi transesterifikasi 2. Metode Penelitian
dilakukan dengan katalis homogen, katalis heterogen, 2.1. Bahan yang digunakan
maupun katalis enzim. Katalis homogen ini dapat berupa Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini
katalis basa (NaOH, KOH, dll). Meng et al. (2008) adalah minyak jelantah yang diperoleh dari restoran
franchise OTI Fried Chicken Semarang, tulang ayam KOH 0,1 N sampai berwarna merah jambu. Kemudian
yang akan dikalsinasi menjadi katalis CaO dan kulit catat kebutuhan titran (b). FFA dihitung dengan rumus :
salak yang akan dibuat menjadi arang aktif untuk ()
(%) =
adsorpsi. Bahan kimia yang digunakan adalah KOH 10

teknis dengan wujud padatan, metanol 96% dengan 2.4. Proses Pembuatan Arang Aktif
wujud cair dan tidak berwarna, HCl dengan wujud cair Kulit salak dicuci bersih dengan menggunakan air
tidak berwarna dan aquadest yang diperoleh di toko dan kemudian di oven. Setelah itu kulit salak dihaluskan
bahan kimia Indrasari, Semarang. dengan mortar. Kulit salak yang telah dihaluskan
diprekarbonasi dengan cara difurnace pada suhu 600oC
2.2. Alat yang digunakan selama 1 jam. Setelah itu, arang dari kulit salak
Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu labu diimpregnasi dengan larutan KOH 20% dengan
leher tiga, penidngin balik, termometer, heater, magnetic perbandingan massa kulit salak : KOH 1:4. Campuran
stirrer, statif, waterbath, klem, buret, erlenmeyer, pompa kulit salak dan KOH dishaker selama 20 jam. Kulit salak
vakum, oven, dan furnace. kemudian disaring dan di keringkan didalam oven.
Berikut adalah rangkaian alat yang digunakan dalam Selanjutnya kulit salak diaktivasi dengan difurnace pada
penelitian ini : suhu 800oC selama 1 jam. Arang kulit salak kemudian di
Keterangan alat: cuci menggunakan air demin dan larutan HCl encer
1. Labu leher tiga hingga pH 6-7 dan kemudian dikeringkan di dalam
2. Pendingin balik oven.
3. Termometer
4. Heater 2.5. Proses Adsorpsi Minyak Jelantah
5. Magnetic stirrer Bahan baku minyak jelantah disaring menggunakan
6. Statif pompa vakum untuk menghilangkan pengotor. Minyak
7. Waterbath jelantah sebanyak 250 gram yang telah disaring,
dimasukkan ke dalam beaker glass dan dipanaskan
hingga mencapai suhu 80oC. Setelah tercapai suhu 80oC,
arang aktif sebanyak 10 gram dimasukkan ke dalam
Gambar 2.1. Rangkaian alat untuk proses minyak sambil dilakukan pengadukan 500 rpm selama
transesterifikasi 80 menit. Campuran minyak dan arang aktif kemudian
dipisahkan dengan cara filtrasi dengan menggunakan
pompa vacuum dan ambil filtratnya digunakan sebagai
bahan baku pembuatan biodiesel.
Keterangan alat:
1. Statif 2.6. Pembuatan Katalis CaO
2. Klem Tulang ayam dicuci bersih dengan air hangat dan
3. Buret dikeringkan. Kelebihan air dihilangkan dengan dioven
4. Erlenmeyer pada suhu 100oC selama 24 jam. Tulang ayam yang
telah kering, dihancurkan dengan mortar hingga menjadi
bubuk. Selanjutnya tulang ayam dikalsinasi dengan cara
difurnace pada suhu sesuai variabel selama 4 jam.
Setelah itu, simpan katalis dalam desikator.
Gambar 2.2. Rangkaian alat untuk proses titrasi 2.7. Proses Transesterifikasi
Menyiapkan minyak jelantah dan metanol sesuai
2.3. Analisa FFA dengan variabel perbandingan mol. Minyak jelantah
Tahap ini dilakukan untuk mengetahui kadar FFA yang telah di pretreatment dan kadar asam lemak
minyak jelantah sebelum dan setelah diadsorpsi oleh bebasnya rendah dipanaskan di dalam labu leher tiga
arang aktif dari kulit salak. Analisa FFA dilakukan hingga mencapai suhu 60oC. Metanol dan katalis CaO
dengan cara 30 ml metanol dimasukkan ke dalam yang telah dikalsinasi sebanyak 5% berat minyak
erlenmeyer dan kemudian ditambahkan 3 tetes indikator dipanaskan didalam beaker glass hingga mencapai suhu
PP. Larutan dititrasi dengan larutan KOH 0,1 N sampai 60oC. Setelah keduanya mencapai suhu 60oC, metanol
bewarna merah jambu. Kemudian catat kebutuhan titran dan katalis CaO yang sudah dipanaskan dicampurkan
(a). Kemudian sebanyak 2,5 gram minyak dimasukkan dengan minyak ke dalam labu leher tiga. Proses
ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan metanol 30 ml. transesterfikasi dilakukan pada suhu 60oC selama 120
Larutan diberi 3 tetes indikator PP dan dititrasi larutan menit dengan pengadukan 400 rpm. Pisahkan hasil
transesterifikasi dengan katalis menggunakan pompa
vakum. Pisahkan FAME hasil transesterifikasi (cair) 9:1 700 88.97 890 3.566
dengan gliserol menggunakan corong pemisah. 12:1 700 84.27 890 3.775
Kemudian biodiesel yang dihasilkan dianalisa dengan
metode ASTM untuk menentukan karakteristik sebagai 15:1 700 87.95 892 3.775
bahan bakar dan dianalisa untuk menentukan yield 6:1 800 81.14 894 5.449
biodiesel yang dihasilkan. Yield biodiesel dapat
9:1 800 90.26 895 4.716
diketahui dengan perhitungan dengan rumus:
massa produk tanpa metanol sisa 12:1 800 88.53 897 4.908
(%)= x 100%
massa minyak awal 15:1 800 89.13 896 4.425
Untuk menghitung yield FAME pada biodiesel,
6:1 900 88.46 893 3.791
dapat dihitung dengan rumus :
% x massa produk 9:1 900 88.53 890 3.758
(%)= x 100%
massa minyak awal (gr) 12:1 900 90.58 894 4.566

3. Hasil dan Pembahasan 15:1 900 94.64 892 4.458


Berdasarkan analisa awal minyak jelantah yang
diperoleh dari restoran franchise OTI Fried Chicken 3.1. Viskositas dan Densitas Biodiesel
Semarang didapatkan bilangan asam bebas (FFA) Berdasarkan syarat mutu biodiesel yang
sebesar 6,16 %. Sedangkan batas FFA sebelum dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional melalui
dilakukan proses tranesterifikasi adalah 2 % Standar Nasional Indonesia (SNI 7182:2012), massa
(Setiawan, 2010). Untuk menurunkan nilai FFA jenis biodiesel pada 40oC yang diijinkan antara 850-
digunakan metode penjerapan (adsorpsi) dengan arang 890 kg/m3 dan viskositas kinematik pada 40oC antara
aktif dari kulit salak. 2,3-6,0 mm2/s.
Setelah dilakukan proses penjerapan dengan arang Pada data hasil tranesterifikasi minyak jelantah,
aktif dari kulit salak, dilakukan analisa kembali untuk hasil pengukuran viskositas kinematis biodiesel yang
mengetahui seberapa besar nilai asam lemak bebas diperoleh sudah sesuai dengan SNI. Namun dalam
dalam minyak jelantah tersebut. Bilangan FFA yang pengukuran densitas, sebagian besar variabel memiliki
diperoleh setelah melakukan proses penjerapan sebesar densitas yang lebih besar dari syarat yang diijinkan
0,224%, dimana ini telah memenuhi syarat FFA yaitu 890 kg/m3. Hal ini dikarenakan dalam proses
sebelum transesterifikasi yaitu sebesar 2%. Oleh pemisahannya, biodiesel tidak terpisah dengan baik
karena itu, minyak siap digunakan untuk proses yang menyebabkan gliserol menempel pada biodiesel
transesterifikasi. sehingga massa biodiesel semakin besar. Biodiesel
Proses transesterifikasi merupakan proses dimana yang diperoleh menjadi tidak murni sehingga
minyak dan metanol direaksikan sehingga menjadi menyebabkan densitas tidak sesuai dengan SNI (Ayetor
biodiesel. Pada proses transesterifikasi variabel yang et al, 2015).
digunakan adalah rasio mol metanol terhadap minyak
sebesar 6:1 ; 9:1 ; 12:1 ; dan 15:1 serta variabel suhu 3.2. Pengaruh Variabel Suhu Kalsinasi dan
kalsinasi 600oC ; 700oC ; 800oC ; 900oC. Perbandingan Mol Reaktan Terhadap Yield
Hasil dari transesterifikasi berupa biodiesel dan Biodiesel
dilakukan uji densitas, viskositas, dan bilangan asam Salah satu parameter untuk mengetahui variabel
untuk mengetahui karakteristik dari biodiesel yang optimum dalam pembuatan biodiesel dilihat dari
dihasilkan. Data hasil biodiesel dapat dilihat pada tabel seberapa besar yield yang dihasilkan dari reaksi
3. tranesterifikasi. Penelitian dilakukan dengan variabel
Tabel 3. Yield, densitas dan viskositas biodiesel tetap yaitu suhu reaksi 60oC selama 2 jam dengan
setiap variabel katalis CaO tulang ayam. Yield biodiesel yang
Rasio dihasilkan dipengaruhi oleh suhu kalsinasi katalis dan
Suhu Yield Viskositas
mol
Kalsinasi Biodiesel
Densitas
Kinematis
rasio mol metanol dan minyak. Pengaruh suhu kalsinasi
Metanol (kg/m3) katalis dan rasio mol metanol dan minyak terhadap
(oC) (%) (mm2/s)
: Minyak
yield biodiesel yang dihasilkan dari minyak jelantah
6:1 600 79.03 893 3.655 disajikan pada gambar 3.1.
9:1 600 66.80 892 4.083
12:1 600 60.47 897 4.133
15:1 600 79.49 894 3.9

6:1 700 84.65 890 3.558


yield biodiesel dari berbagai penelitian dengan
berbagai rasio reaktan tergantung dari preparasi sampel
dan jenis bahan baku yang digunakan dalam penelitian
tersebut (Ayetor et al., 2015).

3.3. Karakterisasi XRD Katalis CaO


Karakterisasi XRD bertujuan untuk menentukan
sistem kristal katalis CaO yang dibuat dari limbah tulang
ayam. Metode difraksi sinar-X dapat menerangkan
parameter kisi, jenis struktur, susunan atom yang
berbeda pada kristal, adanya ketidaksempurnaan pada
Gambar 3.1. Pengaruh suhu kalsinasi terhadap yield kristal, orientasi, butir-butir dan ukuran butir
biodiesel pada setiap variabel rasio mol (Smallman, 1991). Hasil karakterisasi katalis CaO yang
metanol/minyak dikalsinasi pada suhu 900 oC disajikan pada gambar 3.2

Pada gambar 3.1 yield biodiesel yang paling tinggi


terbentuk pada variabel rasio mol metanol/minyak 15:1
pada suhu kalsinasi 900 oC yakni sebesar 94,64 %.
Sedangkan yield terendah ditunjukkan pada variabel
rasio mol metanol/minyak 12:1 pada suhu kalsinasi 600
o
C yakni sebesar 60,47%. Hal ini sesuai dengan
penelitian Wei et al (2009) dengan menggunakan
katalis CaO dari cangkang telur dengan variabel suhu
kalsinasi 200oC 1000oC disimpulkan bahwa katalis
sangat aktif bekerja setelah dikalsinasi dengan suhu
800 oC 1000 oC yang menghasilkan yield sebesar
97%-99%. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Nisar
et al (2016) dengan menggunakan katalis CaO dari Gambar 3.2. Hasil uji XRD katalis CaO
limbah tulang hewan dengan variabel suhu kalsinasi Sampel yang diuji adalah katalis CaO dengan suhu
500oC 1100oC dimana disimpulkan bahwa katalis kalsinasi 900 oC. Tulang ayam terdekomposisi menjadi
bekerja optimal dalam mengkoversi minyak Jatropha CaO, CaCO3, dan fluorapatite. Pada Gambar 4.2
pada suhu kalsinasi 900oC dengan yield sebesar 91,6%. menunjukkan hanya sedikit kristalin CaO yang
Secara teoritis, katalis akan bekerja aktif jika terbentuk. Dilihat dari sudut sudut difraksi 2 tetha yang
dikalsinasi pada suhu optimumnya. Pada suhu kalsinasi paling banyak ditemukan adalah kristalin fluorapatite
optimum luas permukaan katalis semakin menurun dan dan CaCO3.
semakin banyak sisi aktif yang terbentuk sehingga
semakin mempercepat terjadinya reaksi (Alsalme et al, 3.4. Hasil Identifikasi FAME Biodiesel Minyak
2008). Pada penelitian ini didapat suhu optimumnya Jelantah
adalah 900 oC dibuktikan dengan yield biodiesel yang
paling tinggi yakni sebesar 94,64%.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh yield
biodiesel optimum pada rasio mol metanol/minyak
15:1 dengan suhu kalsinasi sebesar 900oC sebesar
94,64%. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil
penelitian Farooq et al (2014) dengan katalis CaO dari
tulang ayam pada variabel suhu kalsinasi 800-1000oC
dan variabel rasio metanol/minyak 6:1 21:1. Dalam
Gambar 4.3. Hasil analisa GCMS biodiesel
penelitian tersebut, yield biodiesel optimum pada rasio
metanol/minyak 15:1 dengan suhu kalsinasi 900oC
Analisa GC-MS menghasilkan puncak-puncak
menghasilkan yield biodiesel sebesar 82,5%. Dalam
spektra yang masing-masing menunjukkan jenis metil
penelitian tersebut disimpulkan bahwa semakin tinggi
ester yang spesifik. Berdasarkan data Gas
rasio mol metanol/minyak semakin besar pula yield
Chromatography, maka berbagai jenis metil ester yang
biodiesel yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan semakin
ada pada biodiesel dapat ditentukan. Analisa senyawa
tinggi kontak antara molekul metanol dan minyak
biodiesel dilakukan terhadap puncak-puncak
sehingga konsentrasi metil ester yang terbentuk dari
fragmentasi yang dapat diidentifikasikan sebagai
reaksi semakin meningkat. Namun perbedaan hasil
senyawa biodiesel berdasarkan pada kemiripan dengan Badan Standarisasi Nasional. 2006. SNI 7182:2006.
senyawa standar. Badan Standarisasi Nasional. 2012. SNI 7182:2012.
Berdasarkan peak hasil uji GCMS perbandingan mol Chen, G., Shan, R., Shi, J. and Yan, B. 2014. Ultrasonic-
metanol/minyak 15:1 suhu kalsinasi 900 oC, dapat assisted Production of Biodiesel from
dilihat kandungan senyawa biodiesel yang diuji. Transesterification of Palm Oil Over Ostrich
Senyawa tersebut terdiri dari 9-Octadecenoic acid (Z)-, Eggshell-Derived CaO Catalysts. Bioresource
methyl ester (CAS) sebesar 3,05 %, Hexadecanoic acid, Technology, 11, Volume 171, pp. 428-432.
2-hydroxy-1,3-propanediyl ester (CAS) sebesar Farooq, M., Ramli, A. and Naeem, A. (2014). Biodiesel
16,18%, dan Hexadecanoic acid, 2-hydroxy-1,3- Production from low FFA Waste Cooking Oil
propanediyl ester (CAS) 7,51%. Total area FAME using Heterogeneous Catalyst derived from
sebesar 26,74% dan nilai yield FAME yang didapat Chicken Bones. Renewable Energy. Vol 76
sebesar 25,3%. Yield FAME yang didapat ini tidak pp. 362-368.
memenuhi kriteria SNI dimana yield FAME SNI Farooq, M. and Ramli, A. 2015. Biodiesel production
sebesar 96,4%. FAME yang dihasilkan kecil from Low FFA Waste Cooking Oil using
dikarenakan dari hasil uji XRD, katalis tulang ayam Heterogeneous Catalyst Derived from
yang digunakan pada saat transesterifikasi lebih banyak Chicken Bones. Renewable Energy, 04,
mengandung fluorapatite dibandingkan kristalin CaO Volume 76, pp. 362-368.
sebagai katalis. Hal inilah yang menyebabkan metil ester Lam, M. K., Lee, K. T. and Mohamed, A. R. 2010.
yang terkonversi dari hasil reaksi hanya sedikit. Homogeneous, Heterogeneous and Enzymatic
Catalysis for Transesterification of High Free
3.5. Hasil Uji Kalor Fatty Acid Oil (Waste Cooking Oil) to
Berdasarkan analisa uji kalor pada hasil Biodiesel: A Review. Biotechnology
biodiesel, didapatkan hasil nilai kalor sebesar 38.964 Advances, 28(4), pp. 500-518.
kJ/kg. Nilai ini telah mencukupi spesifikasi minimum Lee, D.-W., Park, Y.-M. and Lee, K.-Y. 2009.
nilai kalor solar sebesar 36.767,23 kJ/kg (SNI-04-7182- Heterogenous Base Catalysts For
2006). Nilai kalor adalah suatu angka yg menyatakan Transesterification in Biodiesel Synthesis.
jumlah panas / kalor yg dihasilkan dari proses Catalysis Surveys from Asia, 06, 13(2), pp.
pembakaran sejumlah tertentu bahan bakar dengan udara 63-77.
/ oksigen. Semakin besar nilai kalor, jumlah bahan bakar Magoon, L.B. 1988. The Petroleum System-a
yang diperlukan agar dapat menghasilkan panas Classification Scheme for Research,
pembakaran tertentu semakin sedikit. Dengan demikian Exploration, and Resource Assessment. In:
semakin besar nilai kalor maka penggunaan bahan bakar Petroleum Systems of the United States.
akan semakin irit s.l.:USGS Bulletin, pp. 2-15.
Meng, X., Chen, G. and Wang, Y. 2008. Biodiesel
4. Kesimpulan Production From Waste Cooking Oil Via
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat Alkali Catalyst and Its Engine Test. Fuel
disimpulkan bahwa suhu kalsinasi CaO yang optimum Processing Technology, 89(9), pp. 851-857.
adalah 900 oC dan rasio mol metanol/minyak yang Nisar J., Rameez R., Muhammad F., Munawar I,
optimal adalah 15:1 yang menghasilkan yield biodiesel Rafaqat A. K., Murtaza S., Afzal S., and
sebesar 94,64%. Yield FAME dari biodiesel tersebut Inayat U. R. 2016. Enhanced biodiesel
sebesar 25,3% dimana tidak memenuhi standar SNI. production from Jatropha oil using calcined
Biodiesel yang dihasilkan memiliki nilai kalor yang waste animal bones as catalyst . Renewable
memenuhi standar SNI yakni 38.964 kJ/kg. Energy 101 (2017) 111-119
Rashid, U. and Anwar, F. 2008. Production of Biodiesel
Daftar Pustaka Through Optimized Alkaline-Catalyzed
Alsalme, A., Kozhevnikova, E.F., and Kozhevnikov, Transesterfication of Rapeseed Oil. Fuel,
I.V. 2008. Heteropoly acids as catalysts for 87(3), pp. 265-273.
liquid-phase esterfication and Setiawan, H., Puspitasari, A., Retnoningtyas, E.S., and
transesterification, Applied catalysis A: Antaresti., (2010), Pembuatan Biodiesel Dari
General 349, 170-176. Minyak Babi, WIDYA TEKNIK Vol. 9, No. 2,
Ayetor, G. K., Albert S., and Joseph P. 2015. Effect of Surabaya, pp. 111-120.
biodiesel production parameters on viscosity Smallman, R., & Bishop, R. 1999. Modern Physics
and yield of methyl esters: Jatropha curcas, Metallurgy and Materials Engineering.
Elaeis guineensis and Cocos nucifera. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Alexandria Engineering Journal 2015 XXX, Triyanto, A. 2013. Peningkatan Kualitas Minyak
XXX-XXX Goreng Bekas Menggunakan Arang Ampas
Tebu Teraktivasi Dan Penetralan Dengan
NaHSO3. Skripsi Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang: Semarang.
Vasudevan, P. T. and Briggs, M. 2008. Biodiesel
Production Current State of The Art and
Challenges. Journal of Industrial
Microbiology & Biotechnology, Volume 35,
pp. 421-430.
Wei, Z., Xu, C. and Li, B. 2009. Application of Waste
Eggshell as Low-cost Solid Catalyst for
Biodiesel Production. Bioresource
Technology, 100(11), pp. 2883-2885.
Yuliana, Veronica, J.S., Indraswati, N. dan Gunantara,
B. 2005. Penggunaan Adsorben Untuk
Mengurangi Kadar Free Fatty Acid, Peroxide
Value Dan Warna Minyak Goreng Bekas.
Jurnal Teknik Kimia Indonesia, Agustus,
Volume 4, pp. 212-218.