Anda di halaman 1dari 8

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEL LEYDIG DALAM

PEMBENTUKAN HORMON TESTOTERON

Disusun oleh :
Faza Haitami B1J013067
Gayatri Prastika Hening Permana B1J013204
Resti Triani Agustin B1J013208

MAKALAH FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

Spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa.


Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Peralihan dari bakal sel kelamin
yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam
perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis
berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan
testosterone.
Proses spermatogenesis sangat dipengaruhi oleh kerja berbagai hormon
yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior, juga oleh hormon lain yang
dihasilkan testes melalui mekanisme umpan balik negatif. Mula-mula,
hipotalamus mengeluarkan faktor pelepas yang menstimulasi kelenjar hipofisis
anterior untuk menyekresi FSH dan hormon lutein. Selanjutnya FSH merangsang
sel-sel Sertoli pada testis untuk menghasilkan androgen binding protein (ABP).
Adapun LH merangsang sel-sel Leydig untuk menyekresi hormon testosteron.
Testosteron dan FSH secara bersama-sama mengendalikan pembentukan sperma
selanjutnya.

Hypothalamus GnRH Pituitary LH Testis Testosterone


Untuk penjelasan lebih jelas, hormon-hormon yang berpengaruh dalam
proses pembentukan spermatozoa adalah sebagai berikut:
1. Testosteron
Testosteron adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap
pertumbuhan seks sekunder pria seperti pertumbuhan rambut di wajah (kumis
dan jenggot), pertambahan massa otot, dan perubahan suara. Hormon ini
diproduksi di testis, yaitu di sel Leydig. Produksinya dipengaruhi oleh
FSH (Follicle Stimulating Hormone), yang dihasilkan oleh hipofisis. Hormon
ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma,
terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder. Hormon
ini berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat embrio,
mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder serta
mendorong spermatogenesis.
2. Follicle Stimulating Hormone/FSH
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. FSH berfungsi
untuk merangsang sel Sertoli menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein)
yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis.
Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis.
Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2
hari.
3. Luteinizing Hormone/LH
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. Fungsi LH adalah
merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa
pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
Pada pria, awal pubertas antara usia 13 sampai 15 tahun terjadi peningkatan
tinggi dan berat badan yang relatif cepat bersamaan dengan pertambahan
lingkar bahu dan pertambahan panjang penis dan testis. Rambut pubis dan
kumis serta jenggot mulai tumbuh. Pada masa ini, pria akan mengalami mimpi
basah.
4. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel Sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel
Sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat
testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus
seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.
Testosteron adalah zat androgen utama yang disintesis dalam testis,
ovarium, dan anak ginjal. Testosteron (C19H28O2) adalah molekul yang dibentuk
dari atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Testosteron adalah hormon steroid
dari kelompok androgen. Penghasil utamanya adalah testis pada jantan. Sel-sel
Leydig dari testis distimulasi oleh LH untuk menghasilkan testosteron sbanyak
2,5-11 mg sehari. Produksi testosteron mencapai puncaknya sekitar usia 25 tahun,
lalu menurun drastic pada usia 40 tahun. DHEA (dehidro-epi-androsteron) dan
androstendion merupakan prekursor testosteron yang dibentuk oleh anak ginjal.
Testosteron dihasilkan oleh hormon LH yang dilepaskan kelenjar pituitari. Tetapi,
hormon LH dikendalikan oleh testosteron sebagaimana testosteron dikendalikan
oleh LH. Saat jumlahnya di dalam darah meningkat, molekul testosteron
melakukan tekanan pada kelenjar pituitari yang menyebabkan kelenjar itu
menghentikan produksi LH. Hanya ketika jumlah testosteron menurun produksi
LH dimulai lagi. LH yang dihasilkan mengaktifkan zakar dan memerintahkan
produksi tambahan agar menaikkan jumlah testosteron.
II. PEMBAHASAN

Sel Leydig memiliki peran dalam sintesis testosterone. Sel Leydig akan
mensintesis testosterone dan mensekresikannya ke dalam aliran darah pada pria.
Pada sel Leydig ini jika diberi suatu rangsangan bahan kimia seperti pyrethroids
akan menyebabkan menurunan enzim testicular, yaitu 17-hydroxysteroid
dehydrogenase (17-HSD) dan glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Jika terjadi
penurunan kedua enzim ini dapat menyebabkan terganggunya sintesis testicular
testosterone. Rangsangan bahan kimia seperti pyrethroids dan cypermethrin dapat
menyebabkan penurunan produksi hormon testosterone.
Testosteron merangsang produksi sperma dengan bertindak pada
seminiferous tubulus. Oleh, penurunan testosteron mungkin juga memiliki efek
yang merugikan pada seminiferous tabung. Selain penurunan harian sperma
produksi testosteron berkurang juga mungkin bertanggung jawab untuk morfologi
kelainan testis dalam cypermethrintreated tikus dalam studi ini. Hasil yang sama
telah dilaporkan dari gangguan Sipermetrin pada sistem reproduksi laki-laki [31
33]. Dalam studi saat ini, struktur menangani kelainan termasuk atrophic dan
menyimpang tubulus seminiferous, reformasi dan acakan susunan sel germ,
berkurang sel germ, sel-sel Sertoli dan sel-sel Leydig, serta vacuolization dan
formasi multinucleated spermatids di cypermethrintreated.
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kadar testosteron male
menopause atau late-onset hypogonadism dialami 2% pria setengah baya. Pria
yang mengalami menopause biasanya mempunyai kadar testosteron rendah yang
dikaitkan dengan ereksi pagi yang buruk, gairah seks rendah dan disfungsi ereksi.
Hormon testosteron pria menurun sekitar 1-15 % per tahun, dimulai pada usia 45
tahun. Meski menopause pada pria bisa terjadi, menopause pada pria bisa dibilang
langka. Kadar testosteron rendah ini juga terkait dengan simptom lain seperti
depresi, lelah, dan tak bisa berhubungan intim. Selain itu juga terdapat simptom
yang tidak terkait dengan testosteron rendah. Simptom antara lain terdiri dari
gangguan pola tidur, konsentrasi buruk, merasa tidak berharga dan merasa sangat
cemas.
Salah satu gangguan yang terjadi pada organ reproduksi pria yaitu sindrom
andropause. Sindrom andropause merupakan sindrom penurunan kemampuan
fisik, seksual dan psikologi yang dihubungkan dengan berkurangnya hormone
testostern dalam darah, andropause terjadi pada pria diatas usia tengah baya yang
mempunyai kumpulan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause
pada wanita. Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana
produksi ovum, produksi hormone estrogen dan siklus haid yang akan berhenti.
Pada pria penurunan produksi spermatozoa, hormone testosterone dan hormone-
hormon lainnya terjadi secara perlahan dan bertahap.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi andropause yaitu:
1. Faktor internal
Dapat berasal dari genetic dan dari tubuhnya sendiri. Terjadi karena perubahan
hormonal/organic. Juga dapat terjadi karena mengidap penyakit tertentu
seperti hipertensi, hiperkolesterol, obesitas atau DM.
2. Faktor eksternal
Berasal dari factor lingkungan yang tidak lagi kondusif. dapat bersifat fisik
seperti kandungan bahan kimia bersifat estrogenic yang sering digunakan
dalam bidang pertanian, pabrik, dan rumah tangga. Juga dapat disebabkan
factor psikis yang berperan yaitu kebisingan dan perasaan tidak nyaman,
sering terpapar sinar matahari dan polusi yang dapat menyebabkan stress. Juga
dapat disebabkan karena kebiasaan merokok, mengkonsumsi alcohol, suka
begadang dan pola makan yang tak seimbang.
III.KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan:


1. Spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa.
2. Hormon testosterone dibentuk didalam sel Leydig.
3. Proses pembentukan sperma: hipotalamus mengeluarkan faktor pelepas yang
menstimulasi kelenjar hipofisis anterior untuk menyekresi FSH dan hormon
lutein, selanjutnya FSH merangsang sel-sel Sertoli pada testis untuk
menghasilkan androgen binding protein (ABP) dan LH merangsang sel-sel
Leydig untuk menyekresi hormon testosterone, kemudian testosteron dan FSH
secara bersama-sama mengendalikan pembentukan sperma.
4. Salah satu factor yang menyebabkan penurunan jumlah pembentukan
hormone testosterone adalah senyawa kimia yang terkandung dalam makanan
maupun dari alat-alat rumah tangga yang biasa dipakai dalam kehidupan
sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Baird, D.T. & A.F. Glasier. 1993. Hormonal Contraception. National England
Journal Medical 328-1543.

Bardin, W., R.S. Swerdlof & R.J. Santen. 1991. Androgens: Risks and Benefits.
Journal Clinic Endocrinology Metabolism, Vol. 73 (4).

Campbell, et al. 2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga.

Fang, L.Y., P. Chen, H.J. Xia, L. Jing & X.L. Chun. 2013. Effects of
Cypermethrin on Male Reproductive System in Adult Rats. Biomedical
Environment Science 26 (3) : 201-208.

Fried, H. George, et al. 2005. Schaums Outlines Biologi. Jakarta : Erlangga.

Ganong, W.F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Linda, J.H.& D.J. Schust.2008. At a Glance Sistem Reproduksi. Jakarta : EGC,

Pratiwi, D.A. 1996. Biologi 2. Jakarta. Erlangga.

Syahrum, H.M. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.

Syaifuddin. 2011. Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta : Salemba Medica.

Yatim, W. 1990. Biologi Modern Histologi. Bandung : Tarsito.

Beri Nilai